Atambua 39 Derajat Celcius Vs Skyfall-nya James Bond

“Tidak semua produser dan sutradara membuat film untuk kepentingan komersial semata”, hal itu yang saya ucapkan beberapa waktu lalu kepada teman lama saya, yang kurang suka menonton tapi banyak bertanya. Semoga dia tidak kebingungan kalau nonton film Riri Riza terbaru ini.

Minggu ini, ketika orang-orang di bioskop berlomba-lomba menonton Skyfall, serial baru dari James Bond, saya memilih menonton Atambua 39o  Celcius. Teringat dengan seorang teman yang pernah bertanya ke saya, “Kamu tidak suka dengan film Indonesia yah?”. Hehehe.

Entah mengapa dia bertanya seperti itu. Padahal seingat saya, karya-karya sutradara terbaik negeri ini, sering saya tonton. Atau mungkin karena teman saya itu, tidak pernah mendengar saya bercerita tentang film ‘Suster Ngesot, Nenek Gayung, Sumpah Pocong’, dan semacamnya?. Glek

Saya sempat mengajak beberapa teman yang juga gemar nonton. “Sorry Bunga, lagi kejar setoran, sudah dekat pemilihan gubernur”. Padahal biasanya teman saya ini paling sering bolos kalau hari Jumat. “Aduuuh, saya sedang ikut pelatihan, malam saja yaah”. Ealaah mana bisa ibu rumah tangga seperti saya ngelayap malam-malam. Kayak tidak kenal saya saja. Ajak yang satunya lagi, malah dapat jawaban, “Perjalanan pulang  kampung, kodong. Sms yah seperti apa ceritanya. Kita nonton James Bond saja minggu depan”.  Plooook. Alhasil, nonton sendiri.

Atambua 39o Celcius di sutradarai oleh Riri Riza. Nama itu selalu mengingatkan saya dengan Laskar Pelangi. Menurutku, itu film terbaik dari Riri Riza. Apakah film satu ini, juga menyajikan hal yang sama. “Tentu saja, iya”, pikirku. Makanya kuputuskan menonton film ini daripada Skyfall. Si James Bond bisa menunggu kok.

Dari judulnya, saya iseng menebak kalau saya akan menonton kondisi Atambua yang panas atau kondisi yang memanas, atau film ini justru akan menggambarkan detik-detik berpisahnya Timor Timur dari Indonesia.

Menonton 5 menit pertama, saya mulai mencari-cari, mana tokoh utamanya?. Terlalu banyak pemain yang nongol di awal dan mukanya mirip semua. Hitam dan agak keriting. Mulai dari keriting kecil-kecil, berombak, hingga nyaris lurus. Kok jadi bahas keriting yah? Hehehe.

Memasuki 15 menit pertama, mulut saya spontan ngomong, “siapa sih penata musiknya? Gersang amat”.  Lima menit pertama, kayak film dokumenter. Disusul perkenalan tokoh-tokohnya, tapi kurang greget. Apakah karena musiknya telat masuk atau karena pemainnya yang asli orang Atambua, belum terasah berakting?. Sok tau, dapat info dari mana kalau mereka orang asli Atambua? Saya Cuma menebak dari kulit dan rambutnya saja.

Di 15 menit pertama inipun, saya baru sadar bahwa saya sedang nonton film dengan bahasa pengantar-nya adalah bahasa daerah. Serasa nonton film Barat, saya disibukkan baca terjemahan. Hihihi.

Menurut saya, kekuatan sebuah film terletak pada perpaduan kuatnya karakter peran yang dilakonkan oleh pemain, ceritanya sendiri, pengambilan gambar dan musik latarnya. Film ini lemah di karakter pemainnya serta kurang maksimal di musik latarnya. Musik baru masuk setelah antara menit ke 16 hingga 17. Malah memperkenalkan suara Sasando Rote nya, telat sekali. Sudah begitu, suaranya terdengar, tapi alat Sasando Rote nya tidak nongol-nongol. Mungkin Riri Riza tidak menemukan pemain alat itu di sana, yah?.  Kalau ketemu, saya coba tanya dia deh. (Kapan juga bisa ketemu dengan dia. Hehehe)

Pengambilan gambarnya film ini tidak seheboh film laskar pelangi deh. Satu-satunya yang menarik perhatian saya adalah suasana di sekitar pekuburan kakek Mathius. Saya kurang paham tentang pengambilan gambar, tapi dari nonton banyak film, khususnya film Riri Riza, kok film kali ini perpindahan dari satu adegan ke adegan berikutnya agak tidak smooth yah?

Kembali  mengulang kalimat awal di tulisan ini, “Tidak semua produser dan sutradara membuat film untuk kepentingan komersial semata”.  Keberanian Riri Riza mengajak pemain-pemain lokal yang masih minim kemampuan akting, membuat saya menangkap bahwa Riri Riza tidak berorientasi komersil. Riri Riza lebih ingin mengajak penonton mengenal Atambua dan kondisinya pasca berpisahnya Timor Timur.

Saya yakin penonton amat bisa menangkap tujuan Riri Riza itu. Cuma…, jangan berharap nonton film ini, senyaman nonton Kuldesak atau Laskar Pelangi yaaah. Untungnya Riri Riza pandai memanipulasi kekurangan pemainnya dengan mengurangi adegan yang mengharuskan dialog, dan lebih banyak ke acting. Smart.

Dominasi pemeran Johanes, bapaknya si Joao, cukup bisa mengimbangi kekurangan pemain lainnya. Jujur, meski sedikit kecewa menonton film ini, karena pengambilan gambar dan suara nya, saya masih terobati dengan kejutan-kejutan dari alur cerita dan pesan-pesan yang ingin disampaikan, yang dibalut kisah cinta sepasang remaja yang tidak seperti biasanya.

Bukan Riri Riza kalau tidak menyimpan kesan seusai nonton. Setidaknya itu menurut saya. Dari sederetan kekecewaan, saya lumayan terkesima dengan serentetan adegan upacara dengan budaya kristiani yang kental, yang ditampilkan film ini. Pasti lumayan susah menyiapkan yang satu ini. Hehehe.

Atambua sebagai kabupaten di perbatasan, digambarkan memiliki warga yang terdiri dari pengungsi-pengungsi. Banyak diantara mereka yang terpisah atau melepas anaknya pergi. Film ini lebih menggambarkan bagaimana tingkat frustasi sebagian pengungsi tersebut.

Sulitnya mencari nafkah, trauma, kesedihan yang berkepanjangan karena kehilangan orangtua, semua tergambar. Bahkan tokoh utama, digambarkan sebagai seorang yang mengenali sosok ibu hanya lewat suara tape recorder, yang diputarnya berulang-ulang dengan menggunakan baterai yang harus dipanaskan di atas atap rumahnya.

Belum lagi, sosok bapak Joao yang digambarkan sebagai orang yang memegang teguh sumpahnya. Meski asli Timor, dia menolak untuk pulang karena telanjur mencintai Indonesia.  Negeri yang tidak menjanjikan kesejahteraan apa-apa buatnya.

Lumayan berfikir keras juga, saya mencoba menebak-nebak pesan yang ingin disamipaikan oleh film ini. Inti dari semuanya, ada di 10 menit terakhir film ini. Ketiga tokoh utama film ini, Joao, Nikia dan Bapak Joao mulai bertutur lewat adegan-adegan akhir, hingga film usai. Sebuah kisah cinta yang tak sampai akibat trauma pengungsian.

Ada tiga kalimat yang menggugah di film ini. Pertama, “rumah, jadi tak ada artinya bagi saya”. Kedua, “jadi semua ini dipertahankan, hanya karena kata kemerdekaan dan merah putih?”. Ketiga, “Tak ada bangsa atau negara manapun yang bisa mencabut asal usul seseorang. Dan saya orang Timor, tempat saya di Timor”.

Penasaran bagaimana kisah frustasi sebagian pengungsi dan seperti apa kisah cinta Joao dan Nikia yang rumit karena trauma-trauma yang mereka miliki ? Silahkan nonton sendiri film nya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: