Orkes Kawinan Yang Sepi Penonton

Acara kawinan tetangga kompleks ini, lebih diramaikan oleh kehadiran penjual daripada penonton orkes. Dari penjual kacang rebus, jagung, bakso gerobak, hingga semangka, sudah ramai di ujung lorong si tuan rumah yang sedang menyelenggarakan hajatan pesta kawinan anak pertamanya.

Tepat setelah barisan penjual-penjual yang rata-rata menggunakan sepeda tersebut, kecuali penjual bakso, berdiri sebuah panggung dengan ukuran yang standar. Seperti ukuran panggung orkes pesta kawinan biasanya. Saya masih sempat melirik ke samping, saat melalui panggung. Pemain alatnya sedang sibuk menyetel semua peralatan, termasuk mikrofon.

Masih jam 19.00 tepat, masih sepi tamu. Tapi biasanya, kalau ada acara kawinan di kompleks kami, yang berdekatan dengan penduduk asli setempat ini, meski tamu masih kurang, penonton orkes sudah siap siaga di depan panggung. Bukan karena saya seorang penikmat orkes dangdutan di acara kawinan, cuma aneh saja jika terlihat sepi.

Sambil menikmati makanan yang disiapkan, saya melihat tetangga-tetangga lain dari blok sekitar, sudah mulai berdatangan. Iseng, saya melirik ke arah depan panggung. Sudah ada beberapa penonton yang berdiri. Tapi masih tergolong sepi, menurut saya. Benar-benar penasaran. Padahal cuaca malam ini lumayan cerah.

Tak beberapa menit kemudian, suara musik sudah mulai terdengar. Eits…ada yang berbeda. Padatnya tamu yang memenuhi  baris di belakang, memaksa saya tuk menyengaja berdiri tuk melihat penyanyinya di kejauhan. Saya senyum-senyum tatkala menyadari bahwa kedua penyanyinya memakai jilbab dan gamis panjang. Rupanya orkes qasidah modern.

Tamu semakin banyak, mungkin ini karena kali pertama Pak Haris, tetangga kompleks saya, menyelenggarakan hajatan kawinan. Saya bersama beberapa ibu tetangga beranjak dari duduk. Saat melewati panggung orkes qasidahan, saya masih merasakan ada yang berbeda.

Yup! Masih saja sunyi penonton. Penjual yang berdiri di pinggiran jalan sekitar panggung, terlihat santai dan tidak disibukkan oleh pembeli. Apakah karena hiburannya cuma orkes Qasidahan dengan lagu bertema Islami, bukan orkes dangdutan yang penuh goyangan maut?, yang kalau dihubung-hubungkan secara paksa pun, masih tetap tidak ada hubungannya dengan tarian daerah Bugis Makassar.  Entahlah.

Orkes Qasidah (Diambil dgn kamera HP seadanya)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: