Tiap 45 menit Orang-orang di Kota itu berubah profesi

Beberapa hari yang lalu, Adekku memposting di Facebook, foto-foto Putri, anaknya. Foto itu diambil saat putri beserta teman-teman sekolahnya sedang berkunjung ke Kid Zania Pasifik Place. Saya berkomentar di album fotonya bahwa mirip Kid Zone, Kalau di Makassar. Adek malah balik bertanya, “emang ada di Makassar?”. Glek

Terinspirasi oleh komentar kami berdua di album itu, saya teringat kembali jalan-jalan 27 November 2011 yang lalu. Bagi yang punya anak, ponakan, sodara, anak teman atau anak tetangga, rugi kalau belum ajak mereka jalan-jalan ke KID ZONE Tanjung. Tidak harus ke Jakarta kan?.

Kira-kira seperti inilah cerita jalan-jalan saya, Fauza, Furqan dan Wandi:

KOTA DI DALAM MALL

Begitu melalui pintu masuk ke kota ini, ada yang aneh. “Mengapa kota ini terasa lengang yah?”, batin saya. Saya masih celingak celinguk berusaha mempelajari kondisi sekitar dengan cepat, namun tiga orang yang bersamaan masuk ke kota ini dengan saya, sudah nyelonong masuk ke BNI. Saya bergegas menyusul.

Kantor BNI ini layaknya kantor mini. Meja kasir, kursi tunggu, meja slip pengisian, semua nya berbentuk mini, kecuali Komputernya. Dua orang teller menyapa dengan ramah ketiga orang di depannya. “Mau mencairkan cek ya, Pak?. Silahkan”, sambil tangannya meminta kertas cek. Salah seorang dari mereka langsung protes, “masak saya dipanggil bapak?”. Petugas teller hanya tersenyum dan berkata, “semua yang masuk kota ini, dipanggil bapak dan ibu”. Spontan mereka bertiga tertawa-tawa geli.

Ketiganya kemudian antri menunggu buku tabungan dicetak. Cek mereka masing-masing berjumlah 1000 KZ. Mereka diberikan uang tunai 500 KZ dan sisanya 500 KZ ditabung. Petugas menyerahkan buku tabungan BNI beserta tas kecil selempang untuk menyimpan buku tabungan.

Berselang 5 menit kemudian mereka meninggalkan BNI dengan berlari-lari kecil, menuju ke dalam kota. Saya berusaha mengejar dengan melangkah panjang dan cepat, sambil mengamati bangunan-bangunan di sekitarnya. Jalan raya kota ini terbilang mulus dilengkapi garis batas punggung jalan. Sisi jalan dilengkapi pula dengan lampu penerangan. Ada bangunan khusus untuk photografi yang menyediakan jasa cetak foto wisuda, ada pula beauty house lengkap dengan pakaian pengantinnya. Tapi  masih saja terlihat sepi dari pengunjung.

Jarak 100 meter ke depan, saya baru menemukan sebuah bangunan yang memiliki pengunjung. Dari kaca jendela depan, sy dapat melihat ke dalam, ada empat orang yang sibuk dengan kertas dan crayon nya. Salah seorang diantara mereka menjelaskan sesuatu ke orang yang lain sambil mengamati kertas-kertas mereka.

Saya rupanya tertinggal jauh dari ketiga orang yang saya temani tadi. Saya memaksakan diri berlari kecil untuk menyusul. Di ujung jalan, saya melihat ada mobil yang digunakan sebagai statiun radio swasta. Berbelok ke kiri dengan cepat, ujung mata saya masih bisa menangkap sebuah panggung di kanan jalan dengan spanduk background bergambar orang-orang mengenakan toga. Beberapa alat musik juga ditempatkan di atas panggung beserta sound system nya. Sepertinya ini panggung untuk wisuda sarjana.

Setelah melewati sebuah toko kue yang peralatan pembuat kue nya dapat terlihat dari luar, saya pun sampai ke sebuah pertigaan. Eits, pertigaan ini begitu hiruk pikuk. Mobil ambulance, mobil patroli polisi dan pemadam kebakaran hilir mudik dengan sirene nya yang cukup mengganggu telinga. Sangat kontras dengan bagian kota yang pertama kali saya temui.

Huuffh…keringat mulai bercucuran. Saya berhasil menemukan ketiga orang tadi sedang antri di dalam  gedung first aid. Mereka menjalani pemeriksaan kesehatan. Petugasnya sangat cekatan. Dalam beberapa menit, ketiga orang tadi sudah menerima surat keterangan sehat setelah membayar 100 KZ.

Ketiga orang tadi kemudian berlari ke gedung driving license yang terletak salah satu pojok pertigaan. “Kenapa meraka harus berlari yah”, saya bertanya dalam hati sambil menyeka keringat. Saya menengok ke dalam melalui jendela. Seseorang sedang berdiri di samping TV 29 inchi sambil menunjuk ke arah layar. Enam orang di depannya menyimak dengan seksama layar yang sedang menayangkan pengenalan tentang SIM dan beberapa rambu lalu lintas.

Setelah sekitar 30 menit di gedung driving license, ketiga orang tadi beranjak keluar sambil masing-masing memegang kartu SIM setelah membayar 100 KZ. Mereka ke seberang jalan raya dan kali ini saya tidak ngotot mengekori mereka. Saya memilih berdiri di samping gedung driving license untuk mengamati kesibukan di pertigaan, sambil sesekali mata saya membuntuti langkah mereka.

Empat orang polisi sedang mengawasi lalu lintas di traffic light. Tak berapa lama, salah seorang menahan sebuah truk bangunan dan meminta sopirnya untuk memperlihatkan SIM. Lucu, untuk memastikan SIM saja, sampai harus dilakukan 4 orang polisi. “keroyokan nih yee”, saya hanya tersenyum dalam hati.

Setelah sepuluh menit mengamati aktifitas di pertigaan, saya langsung menuju Army X command 10. Bangunannya terbuat dari konstruksi kayu. Rumah panggung dengan tetap menyediakan ruangan-ruangan khusus di bawahnya. “Ini seperti barak latihan tentara”, saya celingak celinguk dari jendela ke jendela. Sepi. Tak ada seorangpun, hanya tumpukan ban bekas dan drum dimana-mana.

Di sisi kiri luar bangunan, saya menemukan tangga kayu menuju lantai atas. Spontan kaki saya melangkah cepat ke atas, namun terhenti di depan pintu masuk. Begitu menengok ke dalam, beberapa orang tentara baru sedang latihan berbaris. Semuanya berseragam lengkap. Penasaran, saya pun masuk. Seorang pelatih menahan saya, sambil tersenyum dia menyilahkan saya menunggu di luar.

Dengan sedikit kecewa saya menuruni tangga. Bangku panjang di depan bangunan tersebut menjadi pilihan saya untuk duduk. Sekitar 20 meter di depan saya, sebuah kantor polisi sedang dipadati oleh orang-orang. Bagian depan kantor polisi hanya berdinding setinggi 1 meter dari lantai, sehingga dengan mudah mata saya mencari tahu dari tempat saya duduk.

Nampaknya ada seseorang yang sedang diintegorasi oleh dua orang polisi karena tidak memiliki SIM, sementara beberapa orang dari luar kantor mengamati ke dalam proses integorasinya. Saya tidak terlalu tertarik dengan momen itu.

Pandangan saya beralih ke depan kantor polisi. “Pasti polisi baru”, pikir saya sambil mengamati mereka latihan baris berbaris. Latihannya Cuma 10 menit. Seorang polisi senior maju dan memperkenalkan jenjang kepangkatan di kepolisian dengan cara yang ramah bagai sedang berbicara dengan pengunjung pameran.

Saya mulai gelisah. Khawatir jika ketiga orang tadi sudah meninggalkan tempat dan saya tak sempat melihatnya. Telinga mencoba menangkap suara dari lantai atas bangunan army X command 10. Ketiga orang tadi sepertinya masih di atas. Suara gemuruh lantai kayu karena kaki-kaki yang berlarian terdengar samar-samar. Bisa ditebak bahwa mereka sedang latihan. “Mereka latihan seperti apa yah?”, saya penasaran.

Tak cukup 10 menit, ketiga orang tersebut akhirnya berlarian menuruni tangga. Begitu bertemu saya, mereka rebutan ngomong. “Kita tadi pake seragam”. “Banyak jenis senjatanya, ada AK 47, ada roket, rompi anti peluru”. “Ada Bazooka”, yang satunya teriak tak mau kalah. “Kita tadi pake masker”, tetap semangat bercerita.

Banyak hal yang mereka bertiga nikmati di kota KID ZONE. Rental mobil dengan membayar 100 KZ, beli bensin seharga 20 KZ di pompa bensin yang benar-benar mirip aslinya. Dan memperlihatkan sim ke polisi di jalan.

Fauzan, Furqan dan Wandi benar-benar menikmati berganti-ganti profesi tiap 45 menit. Anak-anak yang lain juga turut memenuhi kota ini, terlihat bersemangat. Mereka mengenali dan merasakan langsung bagaimana ketika berperan profesi tertentu.

Tentunya bukan hanya menjadi tentara dan mengurus SIM saja yang bisa dilakukan di kota ini. KID ZONE Makassar juga menawarkan wahana lain. Untuk anak-anak yang mau belajar menjadi penyiar, mereka diharuskan memakai seragam, diajari membaca konsep berita, lengkap dengan kode kapan harus jeda membaca untuk pemutaran gambar berita, sampai dengan bagaimana menyorot kamera ke pembaca berita. Tingkah mereka bisa ditonton langsung di TV oleh orangtua yang menunggu di wahana.

Ada Fire department alias departemen pemadam kebakaran. Di sini, anak-anak menggunakan seragam khusus juga. Sebelumnya, tentunya selalu diberi pengarahan dan pengenalan tentang semua alat-alat yang fungsi seragam yang ada di departemen tersebut. Bahkan naik mobil pemadam kebakaran keliling kota, lho. Suara alarmnya dijamin menyita perhatian semua penghuni kota KZ.

Selain wahana profesi, ada juga wahana universitas. Di wahana ini, anak-anak dianggap sebagia mahasiswa. Melalui video, mereka diberi pengenalan sekitar dunia universitas. Pilihan fakultas dan jurusan yang ada. Selesai dari wahana ini, mereka dapat sertifikat lulus perguruan tinggi. hehehe

Salah satu wahana yang banyak digemari anak-anak, hingga harus ngantri, adalah wahana dokter. Yang menarik di wahana ini, mereka lagi-lagi diajak berkeliling kota, tapi kali ini pakai mobil ambulance. Seru sekali. Jalan-jalan di Kota jadi hingar bingar oleh suara ambulance.

Masih banyak pilihan wahana di KID ZONE. Datang sendiri dan nikmati semuanya bersama anak-anak. Ada wahana fotografer bagi yang suka foto. Bagi perempuan, ada wahana salon kecantikan yang dilengkapi dengan pilihan baju-baju pengantin ukuran anak-anak. Wahana untuk pelukis ada juga.

Bagi yang mau jadi pembalap, boleh mencoba wahana formula 1. Ini termasuk salah satu wahana yang panjang antriannya. Anak-anak harus menggunakan pakaian pembalap, menggunakan helm, melewati lintasan dengan berlomba dengan anak lainnya. Pemenangnya akan berdiri di sebuah stage khusus, persis kayak pembalap-pembalap betulan. Mereka bisa foto sambil pegang piala. Seru kan?

Hampir lupa, wahana apotik dan minimarket ada juga lho. DI wahana apotik, akan diajari bahan dasar daripembuat obat dan cara melayani resep dokter. Sementara di wahana minimarket, anak-anak diajari bagaimana melayani pembeli, menghitung uang di kasir, hingga mencatat semuanya.

Meski masih jarang sekali anak-anak yang bercita-cita jadi anggota MPR DPR, tapi kota Kid Zone menyediakan wahana MPR DPR, lengkap dengan seragam dan ruang sidang miniatur. Anak-anak bisa simulasi pelaksaaan sidang lho.

Butuh sekitar 5-6 jam untuk bermain dengan puas di Kid Zone. Sesi pertama selesai di pukul 15.00 sore. Jika belum semua wahana dikunjungi, maka silahkan membayar kembali atau datang lagi di waktu akan datang. Ada yang berminat merasakan banyak profesi?

Advertisements

6 Comments (+add yours?)

  1. Mugniar
    Dec 19, 2012 @ 23:02:26

    Waah ada pale’ blog ta’. Bergabung maki’ dengan Anging Mammiri dan Bloof, juga Bloofer Makassar biar jaringan ta’ tambah luas.

    Anak2ku belum ke sini *malu* 😀
    Nanti, saya bisa balik sini untuk memperhatikan lagi semua kegiatan di dalam 🙂

    Reply

    • bungatongeng
      Dec 20, 2012 @ 13:39:38

      Hehehe. Baru juga blajar buat blog. Lagipula, sy agak kedodoran tuk menulis secara konsisten. Pas tidak capek dan tidak sibuk saja. hehehe. Nantlah, kalo sudah banyak postingan di blog, baru gabung ke komunitas Blogger. maish malu2in isi blognya. hehehe

      Reply

      • Mugniar
        Dec 20, 2012 @ 18:02:50

        Ndak apa, banyak juga koq yang belum konsisten nulis blognya. Ada yang berbulan2 baru update 🙂 Gabung saja. Siapa tahu ada kegiatan yang bisa diselenggarakan LEMINA bareng teman2 di komunitas blogger 🙂

  2. bungatongeng
    Dec 21, 2012 @ 13:48:02

    Caranya..??

    Reply

  3. 4delima
    Dec 25, 2012 @ 09:32:57

    Reply

  4. bungatongeng
    Dec 25, 2012 @ 11:23:41

    Makasih yah, apresiasinya.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: