Categories
Diary Inspiration

Perempuan 70 thn itu adalah Pembina Pramuka UNM

Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu ketiga.

Di awal-awal persiapan Kelas Inspirasi Makassar, sebuah gerakan yang saya ikut bergabung di dalamnya sebagai relawan, seorang adik Penyala mengirim pesan singkat ke saya. Bagaimana caranya supaya tetap fit, seperti Kakak? Saya baru 3 hari mengurus KI, selalu tepar jika sudah sampai di rumah.

Kejadian tersebut terulang lagi di minggu berikutnya, saat saya bersama seorang Penyala lain yang bernama Wiyah, mendampingi relawan pengajar. Wiyah bertanya ke saya “minum apa, supaya bisa kuat seperti  Kakak? Bisa naik motor kesana kemari, tanpa terlihat lelah”. Glek. Tanpa terlihat lelah?

Saya sama sekali tak menyangka jika saya terlihat selalu fit dan tak lelah. Padahal jika saya sudah tiba di rumah setelah seharian di luar, saya merasakan lelah yang luar biasa. Hingga kemudian saya menjawab pada diri saya sendiri, bahwa mungkin karena saya selalu bersemangat, sehingga rasa lelah itu tak terlukis di wajah saya saat bertemu orang.

Semangat Seorang Pramuka

Semangat yang besar setiap melakukan sebuah aktivitas, sebenarnya tidak datang begitu saja. Seorang perempuan yang berusia 70 tahun telah menginspirasi saya selama bertahun-tahun. Yah, saya mencontek semangatnya yang selalu membara. Beliau adalah pembina Pramuka Gudep Puteri UNM. Silahkan membayangkan, bagaimana beliau yang berumur 70 tahun diantara para Mahasiswa  yang ikut kegiatan Pramuka. Setiap mendengar kata Pramuka, maka saya membayangkan gerakan yang enerjik dan disiplin yang tinggi.

Sejak dulu, para Mahasiswa sering bertandang ke rumahnya dan berdiskusi panjang dengan beliau. Tentu saja masih tetap tentang Pramuka. Tetapi selain aktif sebagai Pembina, beliau juga aktif ikut di kegiatan majelis Taklim dan arisan-arisan.

 

Pemotongan Kue Ultah Pramuka UNM thn 2012 oleh Bunda Supiah (sumber: http://scoutnewspramukaunm.blogspot.com)

Sedekah dan Zakat itu Berbeda

Bukan hanya semangat dan motivasi tingginya yang menginspirasi saya. Hal lain yang membuat saya sangat terinspirasi adalah kebiasaan sedekahnya. Jika banyak orang terinspirasi dengan mukjizat sedekah-nya Yusuf Mansyur, maka saya terinspirasi dengan beliau. Beliau selalu berpesan ke saya untuk tidak selalu mengurungkan niat tuk bersedekah hanya karena mencurigai orang.

Saya diminta membuang jauh-jauh pikiran negatif ketika melihat orang meminta-minta di jalan, atau datang membawa selembar kertas di depan pagar rumah. Menurut beliau, meskipun orang-orang tersebut menipu atau terorganisir atau terkesan malas, akan tetapi pastilah mereka orang tidak mampu. Beliau jugalah yang mengingatkan kepada saya, betapa ada perbedaan yang nyata antara zakat penghasilan dan sedekah.

Menurut beliau, terkadang ada orang yang sudah merasa cukup dengan mengeluarkan zakat harta, zakat penghasilan. Padahal menurut beliau, itu belum termasuk kategori berbaik hati, karena zakat itu wajib alias mau tidak mau harus dikeluarkan. Jika ingin berbaik hati ke orang lain, maka keluarkan sedekah selain zakat. Beliau mengibaratkan zakat itu adalah sholat wajib 5 waktu, dan sedekah itu ibarat sholat Tahajjud dan sholat sunnat lainnya.

Tidak Percaya Tahyul

Nenek dengan tiga cucu ini, meski sudah berumur 70 tahun, tapi sama sekali tidak percaya tahyul dan amat menghindari adat kebiasaan yang terkesan ritual agama, tapi nyerempet syirik. Meski tidak ditanya, beliau akan selalu berkicau mengingatkan anak-anaknya untuk berhati-hati dalam melaksanakan suatu hal. “Awas syirik” begitu pesannya.

Tidak Tergantung Kepada Orang Lain  

Karena seorang Pramuka, beliau sepertinya memegang teguh prinsip untuk tidak bergantung kepada orang lain. Jika ingin bepergian, beliau tidak akan memesan khusus untuk diantar oleh anak-anaknya dan memilih naik angkutan umum. Beliau hanya akan meminta diantar jika kebetulan anaknya  sedang ada rencana keluar rumah juga dan kebetulan melalui jalur yang akan beliau lalui.

Jika ditawari untuk menunggu beberapa saat agar bisa diantar, beliau akan menolak jika anaknya harus menempuh jarak jauh dan berlawanan dengan arah tujuan anaknya. Alasannya, terlalu repot jika harus sengaja menempuh jarak jauh mengantarnya, sementara beliau bisa bepergian dengan duduk manis di dalam Pete-pete. Praktis nenek satu ini, tak pernah merepotkan anak-anaknya.

Tukang becak yang mangkal dekat rumah beliau, amat senang jika bisa mengantar beliau. Soalnya, meski sempat menawar saat mau menggunakan jasa tukang becak, beliau tetap saja membayar lebih jika sudah turun. “Dilebihkan sebagai  sedekah” kata beliau.  Kadang juga, tukang becak tersebut tiba-tiba diberikan beras, baju bekas atau uang, meski beliau tidak sedang menggunakan jasanya.

Jasa Kredit

Hal lain yang patut saya contohi adalah beliau juga tidak tergantung secara finansial kepada orang lain. Amat sangat menghindari berutang kepada orang lain karena prinsipnya adalah orang kaya adalah orang yang tidak punya hutang. Berutang hanya ketika benar-benar mendesak dan secepat mungkin dibayar kembali.

Karena jarang berhutang, maka beliau menjadi tempat  meminjam uang bagi anak-anaknya yang sudah berkeluarga. Asyiknya berhutang ke beliau adalah jangka waktu pengembalian tidak terhingga, tanpa bunga dan kadang diputihkan, meski jumlahnya cukup besar.

Selain anak-anaknya, para adik sepupu beliau pun sering menjadikan beliau sebagai tempat meminjam uang dan tetap saja tanpa jangka waktu pengembalian tertentu , tanpa bunga dan kadang jika sudah kasihan, sebagain dari utang adik-adik sepupunya, diputihkan juga.

Di awal tahun 2013, nenek yang amat rajin membaca Al Quran dan jarang sakit ini, akhirnya mengundurkan diri sebagai Pembina Pramuka di UNM melalui sebuah musyawarah. Bukankah  begitu banyak orang-orang muda yang bisa menggantinya. Meski demikian, beliau tetap saja sibuk, sibuk ngaji, sibuk arisan, sibuk berkunjung ke rumah-rumah keluarganya dan sibuk mengajari  cucu-cucunya banyak hal.

Perempuan 70 tahun yang pernah menjadi pembina pramuka di UNM (dulu IKIP) sejak tahun 1978 hingga awal tahun ini, kupanggil IBU.

Ibuku dan Ketiga Cucunya
Ibuku dan Ketiga Cucunya
Categories
Inspiration Learning

Geng Motor iMuT tuk Indonesia

Mendengar kata “Geng Motor”, mengingatkan saya pada sekelompok laki-laki dengan jenis motor tertentu berkonvoi keliling kota di malam hari. Kesalahan saya adalah karena tak pernah cari tahu apa tujuan mereka melakukan itu dan memilih untuk menebak sendiri. Pasti tuk pamer atau memicu orang lain tuk gabung, itu yang ada di kepala saya.

Sempat beberapa kali mendengar bahwa ada geng motor yang melakukan kegiatan bakti sosial ke masyarakat atau membuat perayaan yang bersifat terbuka tuk umum, namun menurut saya, kegiatan mereka jarang yang memiliki dampak jangka panjang dan cenderung temporary serta hasilnya tak terukur. Hal ini berbeda dengan apa yang dilakukan oleh sebuah geng motor yang menamakan diri mereka dengan sebutan Geng Motor iMuT. Siapakah mereka dan apa yang telah mereka lakukan?

Sebuah email undangan diskusi inspirasi dari BaKTI tentang Insiatif Geng Motor iMuT, mendorong  saya berkendara di malam hari dalam hujan yang deras. Biasanya, saya akan menolak hadir pada event yang dilakukan pada malam hari.

Ah, inilah akibat sibuk dengan pekerjaan dan sibuk dengan diri sendiri. Geng Motor iMuT yang rupanya sudah menerima beberapa penghargaan di sana sini ini, sama sekali tak pernah saya dengar sebelumnya.

Dengan alasan itu pula lah, saya memaksakan diri untuk duduk bersama undangan lain di malam 19 April 2013 yang dingin karena hujan deras yang belum berhenti sejak siang tadi. Sempat bingung saat registrasi di security, saya ini mewakili Kelas Inspirasi Makassar atau mewakili WASH UNICEF.

Seperti biasanya, jika acara belum mulai, mata saya akan menjelajah kemana-mana untuk menikmati ruangan. Salut tuk BaKTI yang telah menyulap ruangan ini menjadi berbeda. Panggung dengan property sederhana yang dibalut kertas koran bekas,  kurungan ayam yang berbungkus kertas putih dan burung-burung kertas yang juga berwarna putih, membuatnya tidak biasa. Sebuah motor yang juga dibalut kertas koran dan dihiasi balon gas, yang berada di sebelah kanan panggung, serta lampu sorot yang ditempatkan di atas pintu masuk, membuat saya menebak bahwa diskusi kali ini pasti asyik.

Mentang-mentang ngomong tentang Geng Motor, Kak Luna Vidya yang menjadi MC malam ini, muncul dengan gaya funky. Pamer jaket kulit, kacamata, ikat di kepala, dia membuka acara dengan gaya yang santai. “Liat dong sepatu saya” kata Kak Luna sambil menunjukkan sepatunya. Membahas Geng Motor dengan MC yang funky.

MC Funky, gaya anak geng motor
MC Funky, gaya anak geng motor

Ini dia segmen yang saya suka, penampilan pembuka diskusi oleh Rizcky de  Keizer, bassist Makassar yang band-nya berhasil menjadi band pembuka pada konser NOAH. Rizcky tampil dengan lagu Anak Jalanan-nya. Keren!.

Rizcky de Keizer
Rizcky de Keizer

Noverius Nggili, koordinator Geng Motor iMuT adalah narasumber pada diskusi inspirasi malam ini. Pria dengan potongan rambut pendek dan berjanggut ini, bercerita bagaimana Geng motor iMuT bertualang ke desa-desa untuk berbagi ilmu.

Geng Motor  iMuT yang merupakan kelompok alumni muda dari fakultas Peternakan Universitas Nusa Cendana NTT ini, awalnya hanyalah kelompok diskusi. Mereka berkelana ke desa-desa dan menemukan kenyataan bahwa kondisi peternak dan petani di desa masih jauh dari sejahtera.

Dengan keyakinan yang berjudul agama appreciative Inquiry, mereka terdorong untuk mewujudkan hasil dari diskusi-diskusi panjang mereka, dengan bertumpu pada kekuatan yang ada. “modal uang bukanlah kendala bagi kami. Kami berangkat dengan dasar kekuatan dari kami, bukan dari masalah yang ada” demikian penegasan Bung Frist, panggilan akrab Noverius.

Bung Frist, koordinator Geng Motor iMuT yang tidak imut
Bung Frist, koordinator Geng Motor iMuT yang tidak imut

Di awal mereka hanya urus ternak, dengan melakukan pengolahan limbah ternak, yang kemudian menghasilkan Digester Portable Biogas. Teknologi biogas ini sebenarnya telah banyak dikenal orang, namun masih kurang dikembangkan. Melalui bengkel inovasi iMuT, mereka menciptakan Digester Portable Biogas dari bahan sederhana yang memanfaatkan bahan yang ada, yaitu drum dan ban dalam bekas.

Geng Motor iMuT juga berhasil menciptakan kompor sederhana sebagai komponen dari Digester Portable Biogas mereka. Kompor ini kemudian dinamakan dengan DePoBiMuT S-001 dan DePoBimuT-S-002. “Setiap inovasi baru yang kami lakukan, kami beri nama berbeda. Gunanya untuk mengingatkan dan menandai perbedaan dari produk-produk inovasi kami” kata Bung Frits.

Selain menghasilkan 25 unit digester portable biogas yang telah dipasang dan aktif digunakan pada 25 kabupaten dan 1 kota, Geng iMuT juga membuat desalinator untuk membantu masyarakat di pesisir, guna memperoleh air tawar dengan sistem penguapan air asin. Desalinator ini setiap harinya mampu menghasilkan 4 liter air tawar dari 70 liter air asin. Produk lain yang saat ini sedang diupayakan bersama masyarakat adalah pembuatan briket arang.

Hadir sebagai geng yang kini telah mengantongi penghargaan dimana-mana atas inovasinya bersama masyarakat, antara lain masuk ke dalam 50 tokoh pemecah kebuntuan Indoensia versi majalah Intisari, penghargaan sebagai Pahlawan Tuk Indonesia dari MNC TV dan lain-lain, Bung Frits mengaku tak pernah memiliki tujuan awal tuk memperoleh penghargaan tersebut. Semuanya diawali dengan tekad tuk saling berbagi ilmu. “Berbagi Ilmu sebelum Ajal” Ucap Bung Frits.

Menurut Bung Frist, komunitas Geng Motor iMuT adalah komunitas yang informal. Mereka menghindari hal-hal yang berbau formal dan ikut aturan birokrasi. Hal inilah yang menjadi kunci hingga geng motor tetap eksis dengan inovasi-inovasinya hingga kini.

Dengan pembagian tugas dan penamaan yang unik, mereka membagi-bagi divisi mereka dengan Rider Kandang dan Pucuk, Rider Inova, Rider Corond dan Prend, Rider Lapak, Rider Spionase, dan Rider Celengan.  Hal menarik lainnya adalah setiap tempat yang mereka kunjungi, harus dimulai dari visioning dan pelatihan-pelatihan peningkatan kapasitas.

Jika diawal mereka hanya terdiri atas alumni muda fakultas peternakan, maka kini tercatat 100 orang volunteer yang bergabung dalam komunitas Geng Motor iMuT, yang juga memiliki 700an konektor, 1 bengkel kayu dan 2 bengkel las. Mereka pun telah melakukan 58 petualangan di 37 Desa/Kel, 31 Kecamatan, 9 Kab/Kota, 10 Pulau di Propinsi NTT. Tak hanya di NTT, geng ini pun telah bertualang hingga ke 4 propinsi lain, dengan jumlah pemanfaat seluruhnya adalah 36.000 warga.

Pada tgl. 23-24 Februari 2013, Geng ini melakukan revisioning komunitas mereka dan dengan pertimbangan bahwa saat ini mereka telah berasal dari berbagai latar belakang serta tidak sekedar mengurusi ternak saja, maka mereka sepakat untuk mengganti nama Geng Motor iMuT yang dulunya adalah Aliansi Masyarakat Peduli Ternak menjadi Inovasi Mobilisasi Untuk Transformasi.

Presentasi Bung Frits tentang inisiatif Geng Motor iMuT diakhiri dengan tanya jawab peserta diskusi. Dan diskusi insiatif BaKTI malam ini pun ditutup dengan penampilan yang selalu apik dan interaktif dari Rizkcy de keizer dengan lagu The Way You Are-nya Bruno Mars dan Bento-nya Iwan Fals.

Peserta Diskusi Inspirasi BaKTI
Peserta Diskusi Inspirasi BaKTI
Categories
Diary

Warung Coto Setengah Abad

Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedua.

Coto bukanlah makanan kegemaran saya. Meski demikian, bukan berarti saya pantang untuk menikmati makanan khas Makassar yang berkuah kental ini. Bukan orang Makassar jika tak pernah makan Coto Makassar.

Saya tak pernah merasa khawatir untuk menyantap jeroan yang berada di balik bawang goreng yang mengapung di permukaan kuahnya yang asem karena perasan jeruk nipis.

Karena bukan favorit saya, maka ketika ada teman dari kota lain yang kebetulan berkunjung  ke Makassar dan bertanya ke saya dimana warung Coto terbaik, maka saya butuh waktu sedikit agak lama untuk berfikir. Payah.

Sebelum menulis ini, saya coba mengingat-ingat, pernah makan Coto dimana saja yah?. Niat awalnya, mau menulis tentang warung-warung Coto yang ada di Makassar, ternyata saya kekurangan referensi.

Sebenarnya saya bisa dengan gampang mencarinya di Google, tapi tulisan saya bakal tidak hidup jika saya tak pernah merasakan makan Coto di warung tersebut. Dari semua warung Coto yang berhasil saya ingat, rupanya semuanya berada di jalur perjalanan ke kantor atau sekitar rumah Ibu atau dekat kantor Almarhum Bapak.

Coto Paraikatte di jl. Pettarani, terakhir ke sana mungkin sekitar 8 tahun yang lalu, saat mampir makan bersama Ibu. Coto Palleko di Takalar, tempat mampir sarapan saat menuju kantor, jika tak sempat sarapan di rumah. Coto Dewi  di jalan Sunu, beberapa kali mampir saat bertugas di Kel. Tallo. Coto Ranggong di Jl. Ranggong, cuma dua kali seumur hidup, saat masih Sekolah Dasar,  jika harus ikut Bapak ke kantornya. Satu lagi, warung Coto di jalan Bulukunyi. Saya menyebutnya Coto otak, karena warung ini menawarkan otak sapi, selain jeroan dan daging.

Beberapa bulan lalu, saya lupa tepatnya bulan apa. Saya dan Ibu mampir membeli kue di toko Adijaya Sungguminasa.  Ketika memilih kue, saya baru menyadari bahwa Ibu tidak ikut masuk ke dalam toko. Mengapa Ibu menunggu di luar? Di luar kan sedang terik matahari.

Seusai membeli kue, saya celingak celinguk mencari Ibu. Mata saya akhirnya menangkap sosoknya sedang sibuk ngobrol sambil berdiri dengan seorang Perempuan berumur 50an, di depan kasir warung Coto. Ibu pasti beli Coto lagi.

Ibuku yang berusia 70 tahun adalah penggemar Coto. Tekanan darah beliau sama sekali tak pernah tinggi. Kolesterolnya pun masih di angka yang aman. Asam uratnya tergolong normal juga. Ibu tergolong rajin check up ke dokter. Satu-satunya keluhan Ibu adalah telapak tangannya yang sering keram di pagi hari.

Mungkin karena tak pernah punya banyak masalah dengan kesehatan, beliau menjadi penggemar Coto. Saat ini, beliau sudah agak mengurangi makan Coto dengan alasan mencegah, sebelum terkena kolesterol.

Kali ini tebakan saya salah. Ibu tidak membeli Coto. Beliau benar-benar hanya ngobrol dengan  perempuan yang dibalut gamis dan berjilbab pink, yang ternyata pemilik warung itu. Dia bertugas sebagai kasir, sementara dua orang laki-laki, yang sepertinya adalah anaknya, duduk di belakang meja yang dipenuhi jeroan. Bersiap jika ada pelanggan yang datang.

Sepanjang perjalanan pulang dengan motor Scoopy-ku. Ibu tak pernah berhenti berceloteh tentang warung Coto yang bernama Coto Sunggu itu. “Nama pemiliknya Haji Imang. Dulu pemiliknya bernama Daeng Bantang” ibu memulai kisahnya tentang warung itu.

Sudah 8 tahun saya tinggal di Tamarunang Kab.Gowa, bersama suami dan dua orang jagoan kami. Namun tak pernah sekalipun saya makan Coto di warung Coto sunggu itu. Jalur perjalanan saya dari Tamarunang ke Takalar, memang tidak mengharuskan saya melalui warung itu. Jika ingin ke Makassar, saya pun tidak melaluinya, karena memilih lewat Hertasning Baru.

Warung Coto Sunggu, yang Sudah Setengah Abad

“Itu warung terkenal. Namanya dari dulu memang Coto Sunggu. Saya dulu sering makan disitu saat sekolah SPG” beliau tetap semangat bercerita dari belakang punggugku, meski suaranya kadang terbawa angin. Apa? Sering makan saat masih SPG?. Saya jadi tertarik dengan obrolan Ibu. “Tahun berapa?” saya penasaran. “tahun 50an tapi sudah mau masuk tahun 60an”. Mungkin maksud Ibu sekitar tahun 1958 atau 1959, saya menerka sendiri.

Sesampai di rumah. Ibu masih kembali bernostalgia dengan tetap bercerita tentang Coto Sunggu-nya. Beliau mulai menyebut nama-nama temannya saat  SPG, yang sering menemani beliau makan Coto di warung itu. Eits, ada yang aneh. Bukankah Ibu dulu tinggal di rumah tantenya, nenek sepupu saya, yang letaknya bukan di Gowa?.

Saat saya menanyakan hal itu, Ibu membenarkan bahwa beliau tinggalnya di jalan Balang Caddi dan sengaja ke kab.Gowa untuk makan Coto Sunggu. Kata Ibu Lagi, Jalan A.P.Pettarani dulunya masih termasuk kabupaten Gowa. Sedemikian jauhnya hanya untuk makan Coto?.

Ibu hanya menyayangkan, mengapa saat beliau mampir tadi, warungnya terlihat agak sepi dan suasana warung biasa-biasa saja. Tidak dibuat lebih luas atau di desain lebih Indah, seperti warung-warung Coto lain. Padahal dulunya, banyak orang yang berdomisili di Makassar, yang sengaja datang untuk makan Coto Sunggu, saking terkenalnya Coto itu di jaman lalu.

Mungkin saja Coto Sunggu masih terkenal hingga saat ini, tapi karena saya bukan penggemar Coto, maka saya yang tak pernah tahu dan tak pernah mampir. Meski sebenarnya, saya kerap kali belanja di toko kue Adijaya, yang berada di sebelahnya.

Jika mengingat usia Ibu yang sudah 70 tahun, maka bisa diperkirakan bahwa Coto Sunggu sudah ada sejak setengah Abad yang lalu. Meski tidak seramai dulu, seperti cerita Ibu, namun saya bisa merasakan betapa pemiliknya saat ini masih bertahan meneruskan bisnis orangtua mereka dulu.

Categories
Diary

Bocah-Bocah di Arisan RT

Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu pertama

Kemarin sore, di akhir Pekan, saya mendapat giliran menjadi tuan rumah arisan RT. Sebagai emak-emak, saya merasa wajib untuk ikut arisan RT.

Arisan adalah ajang silaturrahmi bagi saya yang jarang sekali jalan-jalan ke rumah tetangga, kecuali untuk arisan atau silaturrahmi lebaran. Kami tak punya asisten di rumah, jadi sepulang kantor, saya lebih banyak menghabiskan waktu dalam rumah untuk mengurusi rumah dan mendampingi anak-anak.

Namanya saja arisan RT, tentu pesertanya para ibu-ibu dalam RT kami. Arisan ini sudah berlangsung selama setahun lebih. Ibu RT yang baru adalah seorang yang ramah dan suka bersosialisasi, makanya beliau mendorong untuk mengaktifkan kembali arisan RT yang pernah berhenti selama bertahun-tahun.

Kegiatan arisan kami, bukan hanya sekedar mengumpulkan uang dan mengundinya. Kami juga lelang perlengkapan rumah tangga yang murah, seperti mangkuk, toples, mug cantik, yang harganya sekitar  Rp.5.000-Rp.15.000.

Lelang ini untuk meningkatkan tabungan kami. Hasil tabungan akan digunakan untuk kegiatan sosial, misalnya bantuan untuk yang sakit atau yang berduka.

Selain lelang perlengkapan rumah tangga, kami pun melaksanakan Yasin-an setiap pelaksanaan arisan dan ada ceramah agama setiap 2 bulan sekali.

Sebagai tuan rumah arisan RT, tentunya menjadi kehebohan tersendiri bagi saya. Jadwal mencuci nasional jadi bergeser, yang biasanya di hari Sabtu pagi, pindah ke Ahad pagi. Saya yang jarang menginjakkan kaki di pasar tradisonal, karena lebih memilih menunggui penjual ikan dan sayur yang berkeliling di kompleks, kini di pagi-pagi buta sudah harus ngebolang di Pasar Tradisonal Sungguminasa.

Rumah kami yang mungilpun, mengharuskan kami mengosongkan ruang tamu dan tengah, untuk digelari karpet. Alhasil, kursi-kursi harus disingkirkan ke teras rumah. Karena hari Sabtu, anak-anak masih harus diantar jemput ke sekolah. Sulung masuk pagi, Bungsu masuk siang. Artinya,  pagi harus mengantar si Sulung, siang harus menjemput si Sulung dan mengantar di Bungsu, sorenya menjemput si Bungsu.

Karena suami saya kuliah non reguler (Sabtu-Ahad), maka saya yang harus memastikan semua persiapan arisan tanpa bantuan dia. Benar-benar heboh arisan kali ini bagi saya.

Untungnya, tanpa diminta, beberapa ibu tetangga datang ke rumah untuk bantu saya menyiapkan hidangan arisan. Duh, senangnya. Makasih banyak ya, ibu-ibu. Sempat tidak enak hati, karena saya jarang bantu mereka masak, saat mereka yang punya acara di rumah mereka.

Alhamdulillah arisan berjalan lancar. Senang bisa menjamu ibu-ibu tetangga dan ngobrol singkat dengan mereka. Bukan hanya ibu-ibu saja yang bisa menikmati jamuan arisan, anak-anak di RT kamipun ikut menikmati jamuan di rumah.

Meski mereka datang ke rumah tidak bersama dengan ibu mereka, tapi mereka sudah paham benar bahwa jika rumah kami melaksanakan arisan, baik arisan RT maupun arisan keluarga, mereka boleh datang untuk mencicipi makanan.

Jika para ibu arisan sudah mulai satu persatu pamit pulang, maka anak-anak tetangga sudah memunculkan kepalanya di pintu samping rumah kami. Lucu melihat ekspresi mereka. Meski tidak ngomong, tapi ucapan salam mereka seolah bertanya “apakah kami sudah bisa ikut menikmati santapan arisan?”.

Anak-anak ini rupanya juga taMakan yuukhu bahwa mereka bukanlah tamu utama, jadi datangnya setelah acara arisan usai dan pilihan duduknya pun tidak seperti ibu-ibu tamu arisan. Meski beberapa kali kuminta duduk di ruang tengah, mereka lebih memilih duduk di tangga.

Lucunya lagi, mereka datangnya berganti-ganti. Kadang datang berlima, kemudian setelah yang lima orang pamit, masuk lagi rombongan berikutnya yang terdiri atas tiga orang. Kemarin sore itu, ada anak perempuan tetangga, malah datang sendirian setelah semua teman-temannya pamit.

Selepas magrib, bocah-bocah arisan ini masih saja ada yang datang. Saya sengaja menyiapkan hidangan agak berlebih untuk mengantisipasi kedatangan  mereka.

Setelah semua tamu-tamu, termasuk anak-anak tetangga sudah tak ada lagi yang bertamu, saya kembali menjadi tidak enak hati. Beberapa ibu-ibu tetangga kembali ke rumah tanpa diminta dan membantu cuci piring. Duh, terima kasih banyak dan maaf kan saya yang selalu merepotkan.

Categories
Diary

Lampu Jalan RT.13

Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu pertama.

Seorang anak tetangga melompat kecil, untuk menggapai saklar lampu jalan di depan rumahku. Saklarnya menempel di tiang listrik dan posisinya agak tinggi. Saat berbalik ke arahku, yang sedang mendorong sepeda motor keluar dari rumah, dia berkata “Harus cepat dimatikan, supaya tidak cepat rusak, tante”.

Lampu jalan di sekitar rumahku, yang terletak di RT.13 RW.05 sebuah kompleks perumahan kecil di Kab. Gowa, memang punya cerita sendiri. Di RT.13, terdapat sekitar 9 lampu jalan. Dua tahun lalu, bola lampu untuk lampu jalan yang berada di persimpangan dan beberapa di blok sebelah, padam karena sudah berumur. Hal itu berlangsung beberapa bulan dan tidak ada yang tergerak untuk menggantinya.

DSC09151Beberapa warga yang tinggal di sekitar lampu jalan yang mati itu beralasan bahwa mereka tak mau mengganti, jika beberapa tetangga lain tidak ikut urunan duit. Bukankah lampu jalanan itu dinikmati oleh beberapa rumah di sekitarnya dan orang-orang yang lalu lalang?. Namun tak satupun yang berinisiatif untuk mengkoordinir pengumpulan uang. Semuanya saling berharap.

Lampu jalan adalah salah satu pelengkap jalan yang memang peranan sebagai penerangan di malam hari. Meskipun lampu jalan yang saya maksud, hanya merupakan lampu jalan sebuah komplek perumahan, dan bukan di jalan raya yang memiliki frekuensi lalu lintas yang padat, tetapi jika lampu tersebut mati, maka akan menyulitkan bagi pengendara dan pejalan kaki yang akan melaluinya.

Terbengkalainya lampu jalan selama berbulan-bulan, menyebabkan RT.13 terlihat gelap, terkesan sepi dan agak menyeramkan. Saya kadang iri jika melewati RT lain yang terang benderang di malam hari.

Seorang tetangga pernah nyeletuk “beginilah jika kita tidak punya Ketua RT. Lampu jalanpun tidak terurus. Tidak ada yang menggerakkan warga. Masak harus tunggu pemerintah yang ganti?”. Yah, saat itu, sudah setahun lebih RT.13 tanpa ketua yang menyatukan kami.

Meski telah beberapa kali dilaksanakan musyawarah RT dan memilih seorang warga sebagai Ketua. Namun orang yang terpilih selalu mengundurkan diri atau menolak. Kata suamiku, jabatan ketua RT itu tanpa gaji tapi besar tanggungjawabnya. Ada masalah sedikit saja dengan warga, pak RT yang harus turun tangan. Jika ada perselisihan sesama warga,  pak RT yang harus mendamaikan. Makanya jarang yang mau menerima jabatan tersebut.

Untunglah hal tersebut hanya berlangsung selama dua tahun. Dua tahun bukanlah waktu yang singkat, bukan?. Sebuah keluarga baru datang dan memilih berdiam di RT.13. Setelah beberapa bulan bersosialisasi dengan warga RT.13, keluarga baru yang rupanya kepala keluarganya adalah seorang Polisi tersebut, cukup mengundang simpati bapak-bapak di RT kami. Beberapa kepala keluarga kemudian merancang skenario untuk menjadikan bapak tersebut sebagai Ketua RT.

Digelarlah sebuah rapat tingkat RT yang diupayakan menghadirkan warga sebanyak-banyaknya. Rapat kemudian menetapkan bapak penghuni baru tersebut sebagai Ketua RT.13. Skenario telah berhasil dijalankan, tanpa bapak penghuni baru itu mengetahui bahwa hal tersebut telah dirancang sebelumnya.

Dan Alhamdulillah, bapak tersebut menyatakan kesediannya menjadi Ketua untuk RT.13 kompleks kami. Hingga saat ini, saya tak pernah mengingat, siapa nama bapak itu. Saya hanya menyebutnya dengan panggilan Pak RT. Saya yakin, ibu-ibu lain di RT kamipun tidak banyak yang tahu, siapa nama Pak RT.

Ketua RT yang baru, langsung menjalankan tugas setelah terpilih. Rapat awal dilaksanakan di rumah beliau dan masalah lampu jalanpun muncul sebagai pokok pembahasan prioritas pada rapat. Dari rapat tersebut, disepakati untuk membayar iuran sebesar Rp.5.000 untuk tiap KK setiap bulannya. Iuran tersebut, nantinya bukan hanya untuk mengganti bola lampu yang sudah mati, tetapi akan digunakan pula untuk kepentingan yang lain.

Sekitar 3 bulan setelah masing-masing rumah tangga membayar iuran RT, bola lampu jalan di RT kami sudah mulai diganti. Di sore hari, saat para bapak sudah pulang kantor, mereka gotong royong mengangkat tangga untuk mengganti bola lampu yang letaknya kap nya lumayan tinggi. Kegiatan mengganti  bola lampu ini menjadi tontonan sore bagi ibu-ibu dan anak-anak.

Akhirnya kegiatan tersebut jadi ajang silaturrahmi. Banyak ibu-ibu yang setiap harinya bekerja, salah satunya adalah saya, baru kenalan pertama kali dengan Pak RT dan Ibu RT kami. Sesama ibu-ibu di RT.13 pun, saling ngobrol sambil menonton para Bapak yang juga heboh bercanda sambil mengganti bola lampu satu persatu.

Magrib itu, jalan-jalan di RT.13 menjadi terang dan terasa lapang.  Kesan menyeramkan dan sepi pun lenyap. Selepas jam makan malam, banyak warga yang kembali keluar rumah dan saling ngobrol di depan pagar mereka dengan tetangga sebelahnya. Beberapa anak muda, nongkrong di bawah tianglampu jalan dan anak-anak kecilpun sudah  ada yang berani keluar bermain.

Anakku sendiri, tak lagi harus berlari kencang tiap pulang mengaji. Biasanya, karena takut dengan jalan yang gelap, saat pulang dari mengaji, setelah Isya, dia memilih berlari dari tempat mengajinya menuju rumah. Takut berlama-lama di jalan, katanya.

Beberapa lampu jalan yang lain di bulan-bulan lalu, berturut-turut pula menjadi tua dan kemudian butuh penggantian.  Dengan dipimpin oleh Pak RT dan menggunakan iuran RT, bola-bola lampu tersebut dengan segera dapat diganti, seperti lampu-lampu sebelumnya.

Hingga saat ini, jalan-jalan di RT kami sudah tak pernah gelap dan sepi lagi seperti dulu. Namun kejadian rusaknya lampu dalam jangka waktu lama yang terjadi di 2 tahun lalu, nampaknya masih meninggalkan kesan. Warga di RT kami, termasuk anak tetangga yang tadi, sangat rajin mengawasi kapan lampu harus dinyalakan dan dimatikan, agar bola lampunya awet.

Categories
Diary

Sekolah Pagi Perdana dan Alarm Ketawa

Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu pertama.

Senin pagi yang tak biasa. Entah karena terlalu fokus bekerja atau karena saya kurang perhatian pada hal detil, sampai lupa sudah berapa minggu hujan tak pernah turun, hingga kali ini saya menemui kembali pagi yang basah dan dingin. Sebenarnya, hujannya sudah dimulai sejak malam tadi.

Namun Senin pagi ini, bukan menjadi tidak biasa karena hujan dan hawa dingin yang menusuk, melainkan karena tingkah tak biasa dari kedua jagoanku.

Semangat Pagi Fauzan

Sulungku, Fauzan (13 tahun) duduk di kelas 7, SMPN 1 Sungguminasa. Jumlah siswa yang lumayan banyak, tak mampu ditampung oleh ruang-ruang kelas jika semua masuk kelas pagi. Konsekuensinya, siswa-siswi kelas 7 harus masuk siang.

Pagi ini, saya sempat dikagetkan ketika Sulungku itu berlari turun tangga, dari kamarnya di lantai 2, sudah dengan berseragam sekolah. “Antar ka’,bu” katanya ketika sudah sampai di bawah. Saat sata tanya, mengapa masuk pagi. Dia menjelaskan bahwa siswa kelas 9 sedang libur karena telah ujian sekolah, jadi siswa kelas 7 diminta masuk pagi.

Setelah sarapan, Sulungku mendesak untuk segera diantar ke sekolah. Tapi sekarang ini masih pukul 5.30 dan di luar masih gerimis. Sepertinya dia sangat bersemangat dengan sekolah pagi pertamanya.

Sehari-harinya, dibanding adeknya, Sulungku ini paling susah dibangunkan sholat Subuh. Alasannya masih mengantuk atau dingin kena air. Apalagi dia sekolahnya siang. “Yang penting sholat Subuh, bu” selalu seperti itu jawabannya jika kutegur mengapa sholat pukul 7 atau 8 pagi.

Senang juga mendapati dia bersemangat sekolah pagi, tanpa harus susah payah dibangunkan, dipaksa sholat dan didorong-dorong untuk mandi. Padahal saya sudah pernah membayangkan, bagaimana repotnya saya untuk menyiapkan dia untuk segera berangkat sekolah, jika tahun depan dia harus masuk pagi.

Meski semangat, tapi kayaknya terlalu pagi juga jika harus berangkat pukul 5.30. Bukankah jarak tempuh rumah ke sekolah, cuma 10 menit. Setelah kujelaskan, dia akhirnya memutuskan nonton TV sambil menunggu pukul 6.30 tiba.

Pembagian Peran

Untuk urusan antar jemput anak ke sekolah dan kursus, saya dan suami sudah sepakat untuk berbagi tugas. Meski suami saya berkantor pagi, tapi berangkatnya pukul 8 pagi, sehingga saya yang bertugas untuk mengantar anak-anak di pagihari.

Si Sulung setiap harinya masuk sekolah siang, sementara adiknya masuknya bergantian, seminggu masuk pagi, minggu berikutnya masuk siang. Kami menyewakan ojek untuk mengantar Sulung tiap siang dan menjemput di sore hari.

Karena kedua jagoanku kursus bahasa Inggris di hari berbeda, maka mulai Senin hingga Jumat, saya dan suami secara bergantian mengantar dan menjemput mereka di tempat kursus. Tergantung, siapa yang cepat pulang kantor, maka dia yang berkewajiban mengantar ke tempat kursus. Tapi suamiku yang lebih sering mengantar ke kursus dibanding saya.

Bukan Weker Tapi Ayam

Kembali membahas Senin pagi yang tidak biasa. Pagi ini Bungsuku, Furqan (11 tahun) bertingkah sebaliknya dari kakaknya. Jika biasanya dia yang paling rajin bangun Subuh untuk sholat, meski masuk sekolah siang, pagi ini dia telat bangun. Bahkan sepulang mengantar Kakaknya dari sekolah, saya mendapati dia masih tidur.

“Alarmnya tidak bunyi, bu” jawabnya, ketika kutanya mengapa telat bangun. Saya tidak membangunkannya, karena dia sudah terbiasa bangun Subuh dan sholat, tanpa diingatkan lagi.

“Masak tidak bunyi?” saya bertanya curiga. “Siapa tau ayamnya kedinginan. Hujanki to”. Iyya juga yah, pikirku. Lagipula subuh tadi, hujan sangat deras, sehingga mungkin suaranya tak terdengar.

Alarm bangun subuh Bungsuku adalah seekor ayam ketawa, milik ayahnya. Ayam itu ditempatkan di lantai 2 rumah kami. Kandangnya berjarak kira-kira hanya 5 meter dari jendela kamar bungsuku. Karena jaraknya yang dekat, suara ketawa ayam itu mampu membangunkan bungsuku setiap pagi.

Mungkin Subuh tadi, ayam itu tidak tertawa karena kedinginan akibat hujan sejak semalam. Atau mungkin saja tetap tertawa, namun suaranya tenggelam diantara derasnya hujan.

Yang pasti, pagi ini saya menemui Senin yang tidak biasa bersama dua jagoanku yang melakukan hal yang tidak biasa.

Categories
Diary Voluntary

“Membuat Repot Itu Indah”: Di Balik Seleksi Relawan Kelas Inspirasi Makassar

Tak percaya,  jika akhirnya akan seperti ini. Kok jadi seperti kalimat sedih yah? Padahal sebaliknya.

Tertarikkah Para Profesional Makassar?

Saat awal-awal membahas rencana Kelas Inspirasi, saya bisa membaca raut wajah yang dipaksakan optimis dari teman-teman yang hadir saat itu di tribun Karebosi. Bagaimana cara menarik orang tuk mau ikut kelas inspirasi? Tertarikkah profesional  Makassar? Banyak tanya yang muncul saat itu.

“Kita ajak orang yang punya pengaruh. Biar yang lain tertarik ikut,” saran salah seorang dari kami. Entah siapa yang mengusulkan waktu itu. Yang pasti, nama-nama seperti Pak Jusuf Kalla, Pak Abraham Samad, hingga Pak Nurdin yang merupakan Bupati Bantaeng, disebut-sebut sebagai tokoh profesional yang bisa menggerakkan profesional lain tuk berminat gabung kelas inspirasi Makassar.

Rencanapun disusun. Siapa yang bertanggungjawab untuk menghubungi 3 tokoh itupun sudah ditetapkan.

Namun kenyataannya, hingga Hari Inspirasi tgl 28 Maret 2013, ketiga tokoh tersebut tidak hadir. Lalu..apakah kemudian peminat kelas inspirasi Makassar hanya terdiri dari segelintir orang saja?

Hari-H Inspirasi dan Repotnya Berburu Jusuf Kalla

Target utama kami adalah Bapak Jusuf Kalla. Dan PIC utama tuk memastikan beliau bersedia hadir di hari inspirasi adalah Ina Sabrina. Dia menawarkan diri, karena dia adalah salah seorang penggiat PMI di Makassar. Aksesnya melalui PMI, pastinya.

Ternyata bukan hanya Ina yang sibuk berburu info di PMI, Early pun ikutan sibuk mencari informasi, siapa orang terdekat beliau yang bisa dihubungi untuk bisa sekedar audience. Baik Ina, maupun Early, menyatakan hal yang sama, “Hubungi Pak Yadi, dia adalah sekretaris pribadi Pak JK.”

Perburuan yang sebenarnya pun dimulai. Early direpotkan dengan telponan dan sms-an dengan pak Yadi. Saya repot kirim email ke Pak JK via Pak Yadi. Ikes repot cek apakah pak Yadi sudah buka peluang tuk audience. Dan kamipun semua menjadi  repot.

Tetapi yang paling membuat repot adalah ketika suatu siang, saat kami sedang kopdar membahas event Say It With Books dan Kelas Inspirasi di Kantor BaKTI. Ina menerima telpon dari seorang temannya, menginfokan bahwa Pak JK sedang di Makassar.

Spontan kopdar jadi berubah materi pembahasan. Buat rencana dadakan tuk mengunjungi  kediaman beliau, saat istirahat sore beliau.

Mulai repot dan merepotkan. Dengan senyum yang dibuat semanis mungkin, saya membujuk mbak Marni BaKTI tuk mencetak prinsip Kelas Inspirasi. Untungnya mbak Marni baik dan tidak banyak tanya. #Peluk mbak Marni.

Setelah makan siang di pukul 15.30 (makan siang atau makan sore kah?), kami pun bergerak ke rumah Pak JK. Di gerbang depan, harus ngobrol dengan bapak security yang ramah, namun penuh misteri. “Bapak sedang istirahat. Tidak bisa ditemui”.  Langkah berikutnya, telpon pak Yadi. Tidak diangkat. Mungkin nomor HP ku tak dikenali. Biar cepat, saya meminta Early tuk menelpon Pak Yadi. Yeee…tidak diangkat juga.

Saat menunggu Early dengan upaya kerasnya menghubungi pak Yadi. Empat orang yang tadinya duduk di pos jaga rumah pak JK, beranjak pergi dengan mobil. Tiba-tiba Evi berbisik, “jangan-jangan diantara mereka itu, ada yang bernama pak Yadi”.

Benar dugaan Evi. Saat kami bertanya ke security ramah yang misterius itu, dia dengan senyum-senyum tidak manisnya menjawab, “tadi itu, pak Yadi”. Kenapa tidak bilang dari tadi? Duasaaaar.

Dan kamipun pulang dengan sebuah lirik pilu dari Sheila on 7 “Aku pulaaaaaaang…tanpa pesaaaaan”.

Haruskah kita menunda menetapkan tanggal hari-H Inspirasi?. Maju kawaaan. Kita terlalu lama menunda tuk mengumumkan hari-H Inspirasi, gara-gara menunggu beliau. Segera tetapkan tanggalnya. Mulai ajak orang banyak tuk bergabung.  Jangan tunggu pak JK.

Repotnya Gentayangan di Dunia Maya

Adakah yang belum gabung di social media dunia maya saat ini? Sebagian besar dari profesional mengenal social media. Maka marilah kita menyerbu social media dengan virus yang bernama “Kelas Inspirasi”.

Kami yang awalnya tercatat hanya beberapa orang saja, kemudian bertambah dari hari ke hari. Dan masing-masing dari kami, kompakan memakai foto profil kelas inspirasi. Maaf yah teman-teman, karena saya memaksa beberapa orang tuk ganti foto profil. hehe

Serangan teman-teman membuahkan hasil. Bukan hanya serangan dunia maya. Serangan street campaign pun ikut menghasilkan sebuah kerepotan tuk mengecek website kelas inspirasi setiap harinya.

Di luar dugaan. Jumlah pendaftar  sebanyak 212 orang. Nah looo. Sementara kami, yang sengaja menekan optimisme, hanya berani menyiapkan 15 sekolah.

Merepotkan KFC Pettarani

Hari seleksi relawan pengajar, fotografer dan videografer pun tiba. Mau ngumpul dimana yah?. Arya sudah beri sinyal bahwa untuk sementara, sekretariat Penyala sedang renovasi. Jadi kami tak bisa ngumpul di sana tuk melakukan seleksi.

Maka dipilihlah KFC Pettarani. Sebuah tempat yang adem, ada makanannya dan bisa diskusi lama.

Untuk kepentingan seleksi, penggunaan kertas plano menjadi wajib. Tapi mau pasang dimana?. Di sekitar tempat kami duduk, hanya dinding kaca. Tapi…bukan Evi kalau tidak Pede Over Dosis.

Dengan gaya seolah manajer KFC, dia dengan santainya memasang kertas plano dengan bantuan sticker penyala makassarku, sebagai ganti dari isolasi kertas yang lupa dibawa nya. Eviiiiii, itu sticker ku satu-satunya. Sense of belonging yang tidak pada tempatnya. Terlalu!

Ulah kita yang menyeleksi pengajar dengan suara lumayan heboh dengan kertas plano menempel cantik di dinding kaca, rupanya memicu manajer KFC yang asli tuk menegur. “maaf yah. Tidak boleh pasang kertas di dinding, “ sapanya dengan datar.

Evi yang manajer gadungan, malah dengan santai berkata “tidak mengotoriji, cuma ditempel pake stickerji ini pak”.  “Harus minta ijin ke atasan dulu”. “Atasannya dimana?,” ya elaaah Evi masih ngotot mau pasang.

Dengan ekspresi yang tak tak terlukiskan, saking jeleknya, Evi pun mencabut kertas planonya. “NgapamiE, ucapnya dengan bibir mencong tak beraturan.

 

Merepotkan BaKTI

Menyeleksi para relawan pengajar, fotografer dan videografer, tentunya tak cukup jika cuma sehari. Lalu..kemanakah akan melaksanakan seleksi di esok hari? Yang bisa pasang plano, yang bisa ribut, yang bisa nongkrong agak lama. Pilihanpun jatuh pada Kantor BaKTI di Jl.Mappanyukki.

Merepotkan adalah sebuah hobby baru tuk Penyala Makassar. Setelah merepotkan di KFC, kami merepotkan orang-orang BaKTI . Pelakunya utamanya, masih tetap Evi dooong. Yang lain cuma latah saja. Hehe

Memilih menyeleksi di halaman kantor BaKTI yang lumayan lapang, kami duduk di meja bundar. Jarak colokan lumayan jauh. Itupun cuma tersedia 2 colokan. “Pinjam ke security,” saranku.

Ikes dengan keberanian yang dipaksakan mendekati security dan mulai serangan mautnya. Pak Security memang baik deh. Tanpa banyak tanya dan tanpa merasa direpotkan, dia menyodorkan sebuah kabel roll.

Lain Ikes, lain pula Evi. Seperti biasanya, Evi pastilah datangnya telat. Dan kali ini, dia datang dengan se-kantong ubi goreng, lengkap dengan saus sambel khas-nya. Tapi, saus sambelnya mau dituang kemana?

Susah amat, kan bisa merepotkan orang. Maka dengan cara ngomong yang dibuat se-imut mungkin, Evi meminta kesediaan guard-nya BaKTI, tuk sudi meminjamkan dua buah piring dari Dapur. Ampuuun. Dari urusan kabel  sampai saus sambel, harus merepotkan orang.

Eits, tidak berhenti sampai disitu saja. Saat ingin membagi-bagi tim relawan pengajar, fotografer, dan videografer, kertas plano harus dipasang. Biar semua bisa melihat langsung pembagiannya.

Simsalabiiim…Dinding luar gedung BaKTI pun dihiasi dengan kertas plano. Papan pengumuman yang terbuat dari kaca (tiba-tiba teringat dinding kaca-nya KFC), juga dijadikan sebagai tempat menempel plano.

Kami benar-benar merepotkan. Bahkan seorang mbak Sherly pun, harus mengalah untuk kami. Padahal ini kan kantornya dia. Hehe. Mbak Sherly hanya bisa berkata dengan ekspresi bingung, “ini terpasang sampai jam berapa yah? Saya harus menuliskan pengumuman. Tapi nantilah, setelah kalian tidak memakai papan pengumuman.”

Sungguh semua kerepotan ini, adalah bukti bahwa masih banyak orang-orang di Makassar yang peduli kepada Pendidikan Anak Bangsa.

Pinjam papan pengumuman dan dindingnya yah
Pinjam papan pengumuman dan dindingnya yah