Categories
Diary

Sekolah Pagi Perdana dan Alarm Ketawa

Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu pertama.

Senin pagi yang tak biasa. Entah karena terlalu fokus bekerja atau karena saya kurang perhatian pada hal detil, sampai lupa sudah berapa minggu hujan tak pernah turun, hingga kali ini saya menemui kembali pagi yang basah dan dingin. Sebenarnya, hujannya sudah dimulai sejak malam tadi.

Namun Senin pagi ini, bukan menjadi tidak biasa karena hujan dan hawa dingin yang menusuk, melainkan karena tingkah tak biasa dari kedua jagoanku.

Semangat Pagi Fauzan

Sulungku, Fauzan (13 tahun) duduk di kelas 7, SMPN 1 Sungguminasa. Jumlah siswa yang lumayan banyak, tak mampu ditampung oleh ruang-ruang kelas jika semua masuk kelas pagi. Konsekuensinya, siswa-siswi kelas 7 harus masuk siang.

Pagi ini, saya sempat dikagetkan ketika Sulungku itu berlari turun tangga, dari kamarnya di lantai 2, sudah dengan berseragam sekolah. “Antar ka’,bu” katanya ketika sudah sampai di bawah. Saat sata tanya, mengapa masuk pagi. Dia menjelaskan bahwa siswa kelas 9 sedang libur karena telah ujian sekolah, jadi siswa kelas 7 diminta masuk pagi.

Setelah sarapan, Sulungku mendesak untuk segera diantar ke sekolah. Tapi sekarang ini masih pukul 5.30 dan di luar masih gerimis. Sepertinya dia sangat bersemangat dengan sekolah pagi pertamanya.

Sehari-harinya, dibanding adeknya, Sulungku ini paling susah dibangunkan sholat Subuh. Alasannya masih mengantuk atau dingin kena air. Apalagi dia sekolahnya siang. “Yang penting sholat Subuh, bu” selalu seperti itu jawabannya jika kutegur mengapa sholat pukul 7 atau 8 pagi.

Senang juga mendapati dia bersemangat sekolah pagi, tanpa harus susah payah dibangunkan, dipaksa sholat dan didorong-dorong untuk mandi. Padahal saya sudah pernah membayangkan, bagaimana repotnya saya untuk menyiapkan dia untuk segera berangkat sekolah, jika tahun depan dia harus masuk pagi.

Meski semangat, tapi kayaknya terlalu pagi juga jika harus berangkat pukul 5.30. Bukankah jarak tempuh rumah ke sekolah, cuma 10 menit. Setelah kujelaskan, dia akhirnya memutuskan nonton TV sambil menunggu pukul 6.30 tiba.

Pembagian Peran

Untuk urusan antar jemput anak ke sekolah dan kursus, saya dan suami sudah sepakat untuk berbagi tugas. Meski suami saya berkantor pagi, tapi berangkatnya pukul 8 pagi, sehingga saya yang bertugas untuk mengantar anak-anak di pagihari.

Si Sulung setiap harinya masuk sekolah siang, sementara adiknya masuknya bergantian, seminggu masuk pagi, minggu berikutnya masuk siang. Kami menyewakan ojek untuk mengantar Sulung tiap siang dan menjemput di sore hari.

Karena kedua jagoanku kursus bahasa Inggris di hari berbeda, maka mulai Senin hingga Jumat, saya dan suami secara bergantian mengantar dan menjemput mereka di tempat kursus. Tergantung, siapa yang cepat pulang kantor, maka dia yang berkewajiban mengantar ke tempat kursus. Tapi suamiku yang lebih sering mengantar ke kursus dibanding saya.

Bukan Weker Tapi Ayam

Kembali membahas Senin pagi yang tidak biasa. Pagi ini Bungsuku, Furqan (11 tahun) bertingkah sebaliknya dari kakaknya. Jika biasanya dia yang paling rajin bangun Subuh untuk sholat, meski masuk sekolah siang, pagi ini dia telat bangun. Bahkan sepulang mengantar Kakaknya dari sekolah, saya mendapati dia masih tidur.

“Alarmnya tidak bunyi, bu” jawabnya, ketika kutanya mengapa telat bangun. Saya tidak membangunkannya, karena dia sudah terbiasa bangun Subuh dan sholat, tanpa diingatkan lagi.

“Masak tidak bunyi?” saya bertanya curiga. “Siapa tau ayamnya kedinginan. Hujanki to”. Iyya juga yah, pikirku. Lagipula subuh tadi, hujan sangat deras, sehingga mungkin suaranya tak terdengar.

Alarm bangun subuh Bungsuku adalah seekor ayam ketawa, milik ayahnya. Ayam itu ditempatkan di lantai 2 rumah kami. Kandangnya berjarak kira-kira hanya 5 meter dari jendela kamar bungsuku. Karena jaraknya yang dekat, suara ketawa ayam itu mampu membangunkan bungsuku setiap pagi.

Mungkin Subuh tadi, ayam itu tidak tertawa karena kedinginan akibat hujan sejak semalam. Atau mungkin saja tetap tertawa, namun suaranya tenggelam diantara derasnya hujan.

Yang pasti, pagi ini saya menemui Senin yang tidak biasa bersama dua jagoanku yang melakukan hal yang tidak biasa.

0 replies on “Sekolah Pagi Perdana dan Alarm Ketawa”

Hingga 3 paragraf terakhir Saya sempat berpikir bahwa hari senin yang dilalui kali ini cukup berbeda, dan memang benar karena tulisan diakhiri dengan paragraf >> “Yang pasti, pagi ini saya menemui Senin yang tidak biasa bersama dua jagoanku yang melakukan hal yang tidak biasa.”
Cukup mewakili isi pikiran Saya ketika membaca tulisan ini. 😀

Si sulung terlalu rajin mau berangkat ke sekolah jam 5.30 pagi, bisa-bisa sampai sekolah, satpam sekolah pun belum datang. Kalau biasanya tidak serajin ini, mungkin mau menemui seseorang di sekolahnya hehe.
Suka cerita si bungsu dan ayam ketawanya.

Sejak sekolah di SMP, Ini PERTAMA KALI dia merasakan masuk pagi. Berbulan2 lamanya, masuk siang terus. karena kelas 9 sudah ujian sekolah, kelas-kelasnya kosong di pagi hari, jadi anak kelas 7 sudah bisa masuk pagi.

Pintar yah anakya, bisa bangun dengan suara ayam. Anakku sudah kuliah, setiap subuh dibangunkan oleh suara alarm yang sangat keras, tapi tetap susah sekali bangunnya. Mungkin harus memelihara ayam juga sepertinya, hehe…

oalaaaah, ayam toh? hihi. pinter banget si kecil bisa bangun sendiri. kalau alarm saya hapeee :p
dulu saat masih kecil, saya juga selalu bangun karena ayam. sebab abi piara banyak ayam di belakang rumaH dan kamar saya nempel dengan sang kandang :p Bau sih, tapi lama-lama jadi biasa. karena ayamnya jg baik, suka berkokok pagi2 dan bikin gak telat sekolah, saya jadi sayang sama sang ayam :p

asyik ya sang suami bisa diajak kompromi. ada banyak loh lelaki yang hanya menggantungkan urusan anak pada sang istri. salut!

Oiya, kunjungi kisah saya juga ya 🙂 http://argalitha.blogspot.com/2013/04/sekitar-rumah-ada-banyak-jasa.html
saya tunggu loh. Kalau bisa diberi kritik saran juga. Terima kasih banyak ^^

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *