Lampu Jalan RT.13

Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu pertama.

Seorang anak tetangga melompat kecil, untuk menggapai saklar lampu jalan di depan rumahku. Saklarnya menempel di tiang listrik dan posisinya agak tinggi. Saat berbalik ke arahku, yang sedang mendorong sepeda motor keluar dari rumah, dia berkata “Harus cepat dimatikan, supaya tidak cepat rusak, tante”.

Lampu jalan di sekitar rumahku, yang terletak di RT.13 RW.05 sebuah kompleks perumahan kecil di Kab. Gowa, memang punya cerita sendiri. Di RT.13, terdapat sekitar 9 lampu jalan. Dua tahun lalu, bola lampu untuk lampu jalan yang berada di persimpangan dan beberapa di blok sebelah, padam karena sudah berumur. Hal itu berlangsung beberapa bulan dan tidak ada yang tergerak untuk menggantinya.

DSC09151Beberapa warga yang tinggal di sekitar lampu jalan yang mati itu beralasan bahwa mereka tak mau mengganti, jika beberapa tetangga lain tidak ikut urunan duit. Bukankah lampu jalanan itu dinikmati oleh beberapa rumah di sekitarnya dan orang-orang yang lalu lalang?. Namun tak satupun yang berinisiatif untuk mengkoordinir pengumpulan uang. Semuanya saling berharap.

Lampu jalan adalah salah satu pelengkap jalan yang memang peranan sebagai penerangan di malam hari. Meskipun lampu jalan yang saya maksud, hanya merupakan lampu jalan sebuah komplek perumahan, dan bukan di jalan raya yang memiliki frekuensi lalu lintas yang padat, tetapi jika lampu tersebut mati, maka akan menyulitkan bagi pengendara dan pejalan kaki yang akan melaluinya.

Terbengkalainya lampu jalan selama berbulan-bulan, menyebabkan RT.13 terlihat gelap, terkesan sepi dan agak menyeramkan. Saya kadang iri jika melewati RT lain yang terang benderang di malam hari.

Seorang tetangga pernah nyeletuk “beginilah jika kita tidak punya Ketua RT. Lampu jalanpun tidak terurus. Tidak ada yang menggerakkan warga. Masak harus tunggu pemerintah yang ganti?”. Yah, saat itu, sudah setahun lebih RT.13 tanpa ketua yang menyatukan kami.

Meski telah beberapa kali dilaksanakan musyawarah RT dan memilih seorang warga sebagai Ketua. Namun orang yang terpilih selalu mengundurkan diri atau menolak. Kata suamiku, jabatan ketua RT itu tanpa gaji tapi besar tanggungjawabnya. Ada masalah sedikit saja dengan warga, pak RT yang harus turun tangan. Jika ada perselisihan sesama warga,  pak RT yang harus mendamaikan. Makanya jarang yang mau menerima jabatan tersebut.

Untunglah hal tersebut hanya berlangsung selama dua tahun. Dua tahun bukanlah waktu yang singkat, bukan?. Sebuah keluarga baru datang dan memilih berdiam di RT.13. Setelah beberapa bulan bersosialisasi dengan warga RT.13, keluarga baru yang rupanya kepala keluarganya adalah seorang Polisi tersebut, cukup mengundang simpati bapak-bapak di RT kami. Beberapa kepala keluarga kemudian merancang skenario untuk menjadikan bapak tersebut sebagai Ketua RT.

Digelarlah sebuah rapat tingkat RT yang diupayakan menghadirkan warga sebanyak-banyaknya. Rapat kemudian menetapkan bapak penghuni baru tersebut sebagai Ketua RT.13. Skenario telah berhasil dijalankan, tanpa bapak penghuni baru itu mengetahui bahwa hal tersebut telah dirancang sebelumnya.

Dan Alhamdulillah, bapak tersebut menyatakan kesediannya menjadi Ketua untuk RT.13 kompleks kami. Hingga saat ini, saya tak pernah mengingat, siapa nama bapak itu. Saya hanya menyebutnya dengan panggilan Pak RT. Saya yakin, ibu-ibu lain di RT kamipun tidak banyak yang tahu, siapa nama Pak RT.

Ketua RT yang baru, langsung menjalankan tugas setelah terpilih. Rapat awal dilaksanakan di rumah beliau dan masalah lampu jalanpun muncul sebagai pokok pembahasan prioritas pada rapat. Dari rapat tersebut, disepakati untuk membayar iuran sebesar Rp.5.000 untuk tiap KK setiap bulannya. Iuran tersebut, nantinya bukan hanya untuk mengganti bola lampu yang sudah mati, tetapi akan digunakan pula untuk kepentingan yang lain.

Sekitar 3 bulan setelah masing-masing rumah tangga membayar iuran RT, bola lampu jalan di RT kami sudah mulai diganti. Di sore hari, saat para bapak sudah pulang kantor, mereka gotong royong mengangkat tangga untuk mengganti bola lampu yang letaknya kap nya lumayan tinggi. Kegiatan mengganti  bola lampu ini menjadi tontonan sore bagi ibu-ibu dan anak-anak.

Akhirnya kegiatan tersebut jadi ajang silaturrahmi. Banyak ibu-ibu yang setiap harinya bekerja, salah satunya adalah saya, baru kenalan pertama kali dengan Pak RT dan Ibu RT kami. Sesama ibu-ibu di RT.13 pun, saling ngobrol sambil menonton para Bapak yang juga heboh bercanda sambil mengganti bola lampu satu persatu.

Magrib itu, jalan-jalan di RT.13 menjadi terang dan terasa lapang.  Kesan menyeramkan dan sepi pun lenyap. Selepas jam makan malam, banyak warga yang kembali keluar rumah dan saling ngobrol di depan pagar mereka dengan tetangga sebelahnya. Beberapa anak muda, nongkrong di bawah tianglampu jalan dan anak-anak kecilpun sudah  ada yang berani keluar bermain.

Anakku sendiri, tak lagi harus berlari kencang tiap pulang mengaji. Biasanya, karena takut dengan jalan yang gelap, saat pulang dari mengaji, setelah Isya, dia memilih berlari dari tempat mengajinya menuju rumah. Takut berlama-lama di jalan, katanya.

Beberapa lampu jalan yang lain di bulan-bulan lalu, berturut-turut pula menjadi tua dan kemudian butuh penggantian.  Dengan dipimpin oleh Pak RT dan menggunakan iuran RT, bola-bola lampu tersebut dengan segera dapat diganti, seperti lampu-lampu sebelumnya.

Hingga saat ini, jalan-jalan di RT kami sudah tak pernah gelap dan sepi lagi seperti dulu. Namun kejadian rusaknya lampu dalam jangka waktu lama yang terjadi di 2 tahun lalu, nampaknya masih meninggalkan kesan. Warga di RT kami, termasuk anak tetangga yang tadi, sangat rajin mengawasi kapan lampu harus dinyalakan dan dimatikan, agar bola lampunya awet.

Advertisements

2 Comments (+add yours?)

  1. KatalisHati (@Bee0sweet)
    Apr 13, 2013 @ 07:07:26

    hidup lampu jalaaaaan!!! eh, hidup bagi orang-orang yang mau peduli lingkungan sekitaranya!!!!! :). (memikirkan keselamatan diri yang perempuan dan suka pulang malam sendirian)…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: