Bocah-Bocah di Arisan RT

Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu pertama

Kemarin sore, di akhir Pekan, saya mendapat giliran menjadi tuan rumah arisan RT. Sebagai emak-emak, saya merasa wajib untuk ikut arisan RT.

Arisan adalah ajang silaturrahmi bagi saya yang jarang sekali jalan-jalan ke rumah tetangga, kecuali untuk arisan atau silaturrahmi lebaran. Kami tak punya asisten di rumah, jadi sepulang kantor, saya lebih banyak menghabiskan waktu dalam rumah untuk mengurusi rumah dan mendampingi anak-anak.

Namanya saja arisan RT, tentu pesertanya para ibu-ibu dalam RT kami. Arisan ini sudah berlangsung selama setahun lebih. Ibu RT yang baru adalah seorang yang ramah dan suka bersosialisasi, makanya beliau mendorong untuk mengaktifkan kembali arisan RT yang pernah berhenti selama bertahun-tahun.

Kegiatan arisan kami, bukan hanya sekedar mengumpulkan uang dan mengundinya. Kami juga lelang perlengkapan rumah tangga yang murah, seperti mangkuk, toples, mug cantik, yang harganya sekitar  Rp.5.000-Rp.15.000.

Lelang ini untuk meningkatkan tabungan kami. Hasil tabungan akan digunakan untuk kegiatan sosial, misalnya bantuan untuk yang sakit atau yang berduka.

Selain lelang perlengkapan rumah tangga, kami pun melaksanakan Yasin-an setiap pelaksanaan arisan dan ada ceramah agama setiap 2 bulan sekali.

Sebagai tuan rumah arisan RT, tentunya menjadi kehebohan tersendiri bagi saya. Jadwal mencuci nasional jadi bergeser, yang biasanya di hari Sabtu pagi, pindah ke Ahad pagi. Saya yang jarang menginjakkan kaki di pasar tradisonal, karena lebih memilih menunggui penjual ikan dan sayur yang berkeliling di kompleks, kini di pagi-pagi buta sudah harus ngebolang di Pasar Tradisonal Sungguminasa.

Rumah kami yang mungilpun, mengharuskan kami mengosongkan ruang tamu dan tengah, untuk digelari karpet. Alhasil, kursi-kursi harus disingkirkan ke teras rumah. Karena hari Sabtu, anak-anak masih harus diantar jemput ke sekolah. Sulung masuk pagi, Bungsu masuk siang. Artinya,  pagi harus mengantar si Sulung, siang harus menjemput si Sulung dan mengantar di Bungsu, sorenya menjemput si Bungsu.

Karena suami saya kuliah non reguler (Sabtu-Ahad), maka saya yang harus memastikan semua persiapan arisan tanpa bantuan dia. Benar-benar heboh arisan kali ini bagi saya.

Untungnya, tanpa diminta, beberapa ibu tetangga datang ke rumah untuk bantu saya menyiapkan hidangan arisan. Duh, senangnya. Makasih banyak ya, ibu-ibu. Sempat tidak enak hati, karena saya jarang bantu mereka masak, saat mereka yang punya acara di rumah mereka.

Alhamdulillah arisan berjalan lancar. Senang bisa menjamu ibu-ibu tetangga dan ngobrol singkat dengan mereka. Bukan hanya ibu-ibu saja yang bisa menikmati jamuan arisan, anak-anak di RT kamipun ikut menikmati jamuan di rumah.

Meski mereka datang ke rumah tidak bersama dengan ibu mereka, tapi mereka sudah paham benar bahwa jika rumah kami melaksanakan arisan, baik arisan RT maupun arisan keluarga, mereka boleh datang untuk mencicipi makanan.

Jika para ibu arisan sudah mulai satu persatu pamit pulang, maka anak-anak tetangga sudah memunculkan kepalanya di pintu samping rumah kami. Lucu melihat ekspresi mereka. Meski tidak ngomong, tapi ucapan salam mereka seolah bertanya “apakah kami sudah bisa ikut menikmati santapan arisan?”.

Anak-anak ini rupanya juga taMakan yuukhu bahwa mereka bukanlah tamu utama, jadi datangnya setelah acara arisan usai dan pilihan duduknya pun tidak seperti ibu-ibu tamu arisan. Meski beberapa kali kuminta duduk di ruang tengah, mereka lebih memilih duduk di tangga.

Lucunya lagi, mereka datangnya berganti-ganti. Kadang datang berlima, kemudian setelah yang lima orang pamit, masuk lagi rombongan berikutnya yang terdiri atas tiga orang. Kemarin sore itu, ada anak perempuan tetangga, malah datang sendirian setelah semua teman-temannya pamit.

Selepas magrib, bocah-bocah arisan ini masih saja ada yang datang. Saya sengaja menyiapkan hidangan agak berlebih untuk mengantisipasi kedatangan  mereka.

Setelah semua tamu-tamu, termasuk anak-anak tetangga sudah tak ada lagi yang bertamu, saya kembali menjadi tidak enak hati. Beberapa ibu-ibu tetangga kembali ke rumah tanpa diminta dan membantu cuci piring. Duh, terima kasih banyak dan maaf kan saya yang selalu merepotkan.

Advertisements

8 Comments (+add yours?)

  1. Helda
    Apr 14, 2013 @ 13:01:20

    Salam kenal, Alhamdulillah arisan telah berjalan lancar ya 🙂 Mau tanya, Kak. Ungatongeng itu artinya apakah?

    Reply

  2. Adrianto Hidayat (@adyayat)
    Apr 14, 2013 @ 15:29:49

    wah ternyata bunda ikutan 8 minggu ngeblog yah…
    kerenn… bunda nulis 3 postingan…..

    Reply

    • bungatongeng
      Apr 14, 2013 @ 16:36:32

      Iyya nih. saya tergolong org yang malas menulis. Mempergunakan ajang 8 minggu ngeblog tuk latihan menulis konsisten. Gara2 arisan ini nih, saya kemarin tidak ikut Kopdar di Al Markaz.

      Reply

  3. Renee
    Apr 14, 2013 @ 23:51:15

    Anak-anaknya tertib sekali yah, budaya mengantri nya patut diacungin jempol deh.. 😀

    Reply

  4. Kirman
    Apr 17, 2013 @ 05:14:12

    Acara apapun tanpa keriuhan bocah-bocah serasa kurang lengkap ya… 🙂

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: