Categories
Diary

Warung Coto Setengah Abad

Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedua.

Coto bukanlah makanan kegemaran saya. Meski demikian, bukan berarti saya pantang untuk menikmati makanan khas Makassar yang berkuah kental ini. Bukan orang Makassar jika tak pernah makan Coto Makassar.

Saya tak pernah merasa khawatir untuk menyantap jeroan yang berada di balik bawang goreng yang mengapung di permukaan kuahnya yang asem karena perasan jeruk nipis.

Karena bukan favorit saya, maka ketika ada teman dari kota lain yang kebetulan berkunjung  ke Makassar dan bertanya ke saya dimana warung Coto terbaik, maka saya butuh waktu sedikit agak lama untuk berfikir. Payah.

Sebelum menulis ini, saya coba mengingat-ingat, pernah makan Coto dimana saja yah?. Niat awalnya, mau menulis tentang warung-warung Coto yang ada di Makassar, ternyata saya kekurangan referensi.

Sebenarnya saya bisa dengan gampang mencarinya di Google, tapi tulisan saya bakal tidak hidup jika saya tak pernah merasakan makan Coto di warung tersebut. Dari semua warung Coto yang berhasil saya ingat, rupanya semuanya berada di jalur perjalanan ke kantor atau sekitar rumah Ibu atau dekat kantor Almarhum Bapak.

Coto Paraikatte di jl. Pettarani, terakhir ke sana mungkin sekitar 8 tahun yang lalu, saat mampir makan bersama Ibu. Coto Palleko di Takalar, tempat mampir sarapan saat menuju kantor, jika tak sempat sarapan di rumah. Coto Dewi  di jalan Sunu, beberapa kali mampir saat bertugas di Kel. Tallo. Coto Ranggong di Jl. Ranggong, cuma dua kali seumur hidup, saat masih Sekolah Dasar,  jika harus ikut Bapak ke kantornya. Satu lagi, warung Coto di jalan Bulukunyi. Saya menyebutnya Coto otak, karena warung ini menawarkan otak sapi, selain jeroan dan daging.

Beberapa bulan lalu, saya lupa tepatnya bulan apa. Saya dan Ibu mampir membeli kue di toko Adijaya Sungguminasa.  Ketika memilih kue, saya baru menyadari bahwa Ibu tidak ikut masuk ke dalam toko. Mengapa Ibu menunggu di luar? Di luar kan sedang terik matahari.

Seusai membeli kue, saya celingak celinguk mencari Ibu. Mata saya akhirnya menangkap sosoknya sedang sibuk ngobrol sambil berdiri dengan seorang Perempuan berumur 50an, di depan kasir warung Coto. Ibu pasti beli Coto lagi.

Ibuku yang berusia 70 tahun adalah penggemar Coto. Tekanan darah beliau sama sekali tak pernah tinggi. Kolesterolnya pun masih di angka yang aman. Asam uratnya tergolong normal juga. Ibu tergolong rajin check up ke dokter. Satu-satunya keluhan Ibu adalah telapak tangannya yang sering keram di pagi hari.

Mungkin karena tak pernah punya banyak masalah dengan kesehatan, beliau menjadi penggemar Coto. Saat ini, beliau sudah agak mengurangi makan Coto dengan alasan mencegah, sebelum terkena kolesterol.

Kali ini tebakan saya salah. Ibu tidak membeli Coto. Beliau benar-benar hanya ngobrol dengan  perempuan yang dibalut gamis dan berjilbab pink, yang ternyata pemilik warung itu. Dia bertugas sebagai kasir, sementara dua orang laki-laki, yang sepertinya adalah anaknya, duduk di belakang meja yang dipenuhi jeroan. Bersiap jika ada pelanggan yang datang.

Sepanjang perjalanan pulang dengan motor Scoopy-ku. Ibu tak pernah berhenti berceloteh tentang warung Coto yang bernama Coto Sunggu itu. “Nama pemiliknya Haji Imang. Dulu pemiliknya bernama Daeng Bantang” ibu memulai kisahnya tentang warung itu.

Sudah 8 tahun saya tinggal di Tamarunang Kab.Gowa, bersama suami dan dua orang jagoan kami. Namun tak pernah sekalipun saya makan Coto di warung Coto sunggu itu. Jalur perjalanan saya dari Tamarunang ke Takalar, memang tidak mengharuskan saya melalui warung itu. Jika ingin ke Makassar, saya pun tidak melaluinya, karena memilih lewat Hertasning Baru.

Warung Coto Sunggu, yang Sudah Setengah Abad

“Itu warung terkenal. Namanya dari dulu memang Coto Sunggu. Saya dulu sering makan disitu saat sekolah SPG” beliau tetap semangat bercerita dari belakang punggugku, meski suaranya kadang terbawa angin. Apa? Sering makan saat masih SPG?. Saya jadi tertarik dengan obrolan Ibu. “Tahun berapa?” saya penasaran. “tahun 50an tapi sudah mau masuk tahun 60an”. Mungkin maksud Ibu sekitar tahun 1958 atau 1959, saya menerka sendiri.

Sesampai di rumah. Ibu masih kembali bernostalgia dengan tetap bercerita tentang Coto Sunggu-nya. Beliau mulai menyebut nama-nama temannya saat  SPG, yang sering menemani beliau makan Coto di warung itu. Eits, ada yang aneh. Bukankah Ibu dulu tinggal di rumah tantenya, nenek sepupu saya, yang letaknya bukan di Gowa?.

Saat saya menanyakan hal itu, Ibu membenarkan bahwa beliau tinggalnya di jalan Balang Caddi dan sengaja ke kab.Gowa untuk makan Coto Sunggu. Kata Ibu Lagi, Jalan A.P.Pettarani dulunya masih termasuk kabupaten Gowa. Sedemikian jauhnya hanya untuk makan Coto?.

Ibu hanya menyayangkan, mengapa saat beliau mampir tadi, warungnya terlihat agak sepi dan suasana warung biasa-biasa saja. Tidak dibuat lebih luas atau di desain lebih Indah, seperti warung-warung Coto lain. Padahal dulunya, banyak orang yang berdomisili di Makassar, yang sengaja datang untuk makan Coto Sunggu, saking terkenalnya Coto itu di jaman lalu.

Mungkin saja Coto Sunggu masih terkenal hingga saat ini, tapi karena saya bukan penggemar Coto, maka saya yang tak pernah tahu dan tak pernah mampir. Meski sebenarnya, saya kerap kali belanja di toko kue Adijaya, yang berada di sebelahnya.

Jika mengingat usia Ibu yang sudah 70 tahun, maka bisa diperkirakan bahwa Coto Sunggu sudah ada sejak setengah Abad yang lalu. Meski tidak seramai dulu, seperti cerita Ibu, namun saya bisa merasakan betapa pemiliknya saat ini masih bertahan meneruskan bisnis orangtua mereka dulu.

0 replies on “Warung Coto Setengah Abad”

wah, lamanyami ini warcot, tapi sayang sudah agak sepi, mungkin karena banyak pesaingnya… eh, saya suka conus (coto nusantara, jalan nusantara) dan coto maros… 🙂

Coto adalah ikon kuliner kota Makassar. Semoga warung-warung coto terus eksis, mempertahankan keorisinilan rasanya. Dan tidak memodifikasinya dengan bumbu-bumbu instan lainnya. Saya paling suka, warung coto di ujung Abdesir.Hehehe

Wow…kereeen abis tulisannya, apalagi di bagian cerita ttg Ibunya kak Bunga yg sdh separuh abad makan coto dan daya ingatnya msh kuat. jangan2 krn suka makan coto ya. Oya, tlg ditanyakan dong, berapa harga coto waktu jaman dulu, dan gmn cita rasanya dibanding coto zaman sekarang…oke!

ehm…kl coto makasar bedanya apa ya dg soto lamongan, soto betawi? pingin bedain berbagai masakan dg nama “soto/coto”…
btw, sy kepingin bs berkunjung ke Makasar. Ada temen kuliah yg asli Makasar,tp skrg sdh kehilangan jejaknya 🙁

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *