Perempuan 70 thn itu adalah Pembina Pramuka UNM

Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu ketiga.

Di awal-awal persiapan Kelas Inspirasi Makassar, sebuah gerakan yang saya ikut bergabung di dalamnya sebagai relawan, seorang adik Penyala mengirim pesan singkat ke saya. Bagaimana caranya supaya tetap fit, seperti Kakak? Saya baru 3 hari mengurus KI, selalu tepar jika sudah sampai di rumah.

Kejadian tersebut terulang lagi di minggu berikutnya, saat saya bersama seorang Penyala lain yang bernama Wiyah, mendampingi relawan pengajar. Wiyah bertanya ke saya “minum apa, supaya bisa kuat seperti  Kakak? Bisa naik motor kesana kemari, tanpa terlihat lelah”. Glek. Tanpa terlihat lelah?

Saya sama sekali tak menyangka jika saya terlihat selalu fit dan tak lelah. Padahal jika saya sudah tiba di rumah setelah seharian di luar, saya merasakan lelah yang luar biasa. Hingga kemudian saya menjawab pada diri saya sendiri, bahwa mungkin karena saya selalu bersemangat, sehingga rasa lelah itu tak terlukis di wajah saya saat bertemu orang.

Semangat Seorang Pramuka

Semangat yang besar setiap melakukan sebuah aktivitas, sebenarnya tidak datang begitu saja. Seorang perempuan yang berusia 70 tahun telah menginspirasi saya selama bertahun-tahun. Yah, saya mencontek semangatnya yang selalu membara. Beliau adalah pembina Pramuka Gudep Puteri UNM. Silahkan membayangkan, bagaimana beliau yang berumur 70 tahun diantara para Mahasiswa  yang ikut kegiatan Pramuka. Setiap mendengar kata Pramuka, maka saya membayangkan gerakan yang enerjik dan disiplin yang tinggi.

Sejak dulu, para Mahasiswa sering bertandang ke rumahnya dan berdiskusi panjang dengan beliau. Tentu saja masih tetap tentang Pramuka. Tetapi selain aktif sebagai Pembina, beliau juga aktif ikut di kegiatan majelis Taklim dan arisan-arisan.

 

Pemotongan Kue Ultah Pramuka UNM thn 2012 oleh Bunda Supiah (sumber: http://scoutnewspramukaunm.blogspot.com)

Sedekah dan Zakat itu Berbeda

Bukan hanya semangat dan motivasi tingginya yang menginspirasi saya. Hal lain yang membuat saya sangat terinspirasi adalah kebiasaan sedekahnya. Jika banyak orang terinspirasi dengan mukjizat sedekah-nya Yusuf Mansyur, maka saya terinspirasi dengan beliau. Beliau selalu berpesan ke saya untuk tidak selalu mengurungkan niat tuk bersedekah hanya karena mencurigai orang.

Saya diminta membuang jauh-jauh pikiran negatif ketika melihat orang meminta-minta di jalan, atau datang membawa selembar kertas di depan pagar rumah. Menurut beliau, meskipun orang-orang tersebut menipu atau terorganisir atau terkesan malas, akan tetapi pastilah mereka orang tidak mampu. Beliau jugalah yang mengingatkan kepada saya, betapa ada perbedaan yang nyata antara zakat penghasilan dan sedekah.

Menurut beliau, terkadang ada orang yang sudah merasa cukup dengan mengeluarkan zakat harta, zakat penghasilan. Padahal menurut beliau, itu belum termasuk kategori berbaik hati, karena zakat itu wajib alias mau tidak mau harus dikeluarkan. Jika ingin berbaik hati ke orang lain, maka keluarkan sedekah selain zakat. Beliau mengibaratkan zakat itu adalah sholat wajib 5 waktu, dan sedekah itu ibarat sholat Tahajjud dan sholat sunnat lainnya.

Tidak Percaya Tahyul

Nenek dengan tiga cucu ini, meski sudah berumur 70 tahun, tapi sama sekali tidak percaya tahyul dan amat menghindari adat kebiasaan yang terkesan ritual agama, tapi nyerempet syirik. Meski tidak ditanya, beliau akan selalu berkicau mengingatkan anak-anaknya untuk berhati-hati dalam melaksanakan suatu hal. “Awas syirik” begitu pesannya.

Tidak Tergantung Kepada Orang Lain  

Karena seorang Pramuka, beliau sepertinya memegang teguh prinsip untuk tidak bergantung kepada orang lain. Jika ingin bepergian, beliau tidak akan memesan khusus untuk diantar oleh anak-anaknya dan memilih naik angkutan umum. Beliau hanya akan meminta diantar jika kebetulan anaknya  sedang ada rencana keluar rumah juga dan kebetulan melalui jalur yang akan beliau lalui.

Jika ditawari untuk menunggu beberapa saat agar bisa diantar, beliau akan menolak jika anaknya harus menempuh jarak jauh dan berlawanan dengan arah tujuan anaknya. Alasannya, terlalu repot jika harus sengaja menempuh jarak jauh mengantarnya, sementara beliau bisa bepergian dengan duduk manis di dalam Pete-pete. Praktis nenek satu ini, tak pernah merepotkan anak-anaknya.

Tukang becak yang mangkal dekat rumah beliau, amat senang jika bisa mengantar beliau. Soalnya, meski sempat menawar saat mau menggunakan jasa tukang becak, beliau tetap saja membayar lebih jika sudah turun. “Dilebihkan sebagai  sedekah” kata beliau.  Kadang juga, tukang becak tersebut tiba-tiba diberikan beras, baju bekas atau uang, meski beliau tidak sedang menggunakan jasanya.

Jasa Kredit

Hal lain yang patut saya contohi adalah beliau juga tidak tergantung secara finansial kepada orang lain. Amat sangat menghindari berutang kepada orang lain karena prinsipnya adalah orang kaya adalah orang yang tidak punya hutang. Berutang hanya ketika benar-benar mendesak dan secepat mungkin dibayar kembali.

Karena jarang berhutang, maka beliau menjadi tempat  meminjam uang bagi anak-anaknya yang sudah berkeluarga. Asyiknya berhutang ke beliau adalah jangka waktu pengembalian tidak terhingga, tanpa bunga dan kadang diputihkan, meski jumlahnya cukup besar.

Selain anak-anaknya, para adik sepupu beliau pun sering menjadikan beliau sebagai tempat meminjam uang dan tetap saja tanpa jangka waktu pengembalian tertentu , tanpa bunga dan kadang jika sudah kasihan, sebagain dari utang adik-adik sepupunya, diputihkan juga.

Di awal tahun 2013, nenek yang amat rajin membaca Al Quran dan jarang sakit ini, akhirnya mengundurkan diri sebagai Pembina Pramuka di UNM melalui sebuah musyawarah. Bukankah  begitu banyak orang-orang muda yang bisa menggantinya. Meski demikian, beliau tetap saja sibuk, sibuk ngaji, sibuk arisan, sibuk berkunjung ke rumah-rumah keluarganya dan sibuk mengajari  cucu-cucunya banyak hal.

Perempuan 70 tahun yang pernah menjadi pembina pramuka di UNM (dulu IKIP) sejak tahun 1978 hingga awal tahun ini, kupanggil IBU.

Ibuku dan Ketiga Cucunya

Ibuku dan Ketiga Cucunya

Advertisements

9 Comments (+add yours?)

  1. imam safrullah
    Apr 27, 2013 @ 17:07:45

    Betul2 wanita yang menginspirasi yah,,
    salam saya yah,,, salam pramukaaaa,,,, 🙂
    jangan lupa mampir dimari yah hehehe

    Reply

  2. ucha15
    May 08, 2013 @ 07:13:51

    Suka sekali dengan postingan ini..

    Reply

  3. Mugniar
    Jun 15, 2014 @ 01:00:05

    Aaah jadi ngefans sama ibunya Bunga, mudah2an bisa berkenalan dengan beliau dan ngobrol. Tapi … Tamarunang jauh sekali. Kapan beliau ke Rappocini?

    Reply

  4. Nur Syamsi
    Jun 24, 2014 @ 03:33:52

    BUNDA, menetes air mata ini saat membaca tulisan tentang beliau. Ya… dialah bunda kami di Pramuka. Bunda yang selalu sabar membimbing kami yang masih belajar. Meluangkan waktunya bersama kami bahkan sampai ke luar kota Makassar pun beliau bersedia. Bunda yang selalu mengajarkan arti semangat, selalu mendampingi agar tetap maju. Bunda yang selalu mengingatkan agar kami senantiasa memperbaiki ibadah kami. Sungguh, saya sangat merindukan beliau. Semoga Allah selalu memberkahi beliau.

    Reply

  5. basri
    Jun 24, 2014 @ 04:05:49

    Kangen bunda….
    Lama tak berjumpa…

    Reply

  6. bungatongeng
    Oct 20, 2014 @ 05:08:21

    waktu sy nge kost jg di rumah rappocini, beliau lah yg jd ortu waktu itu..

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: