Al Qur’an Pink, Bikin Galau

Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu keempat.

Saya adalah penyuka warna Merah dan Biru, tapi bukan fanatik. Kadang saya senyum-senyum jika ingat bagaimana seorang teman membatalkan membeli sebuah benda, hanya karena tidak tersedia warna favoritnya. Saya bukan tipe seperti itu. Meski masih menjadikan warna sebagai dasar pertimbangan memutuskan membeli sebuah barang, namun warna bukanlah alasan utama. Saya masih lebih mempertimbangkan kegunaan barang tersebut.

Mungkin banyak orang lain seperti saya, tidak terlalu mempermasalahkan warna jika membeli sebuah benda atau peralatan. Tapi bagaimana dengan benda yang bernama pakaian? Nah, untuk hal yang satu ini, bagi saya warna adalah pertimbangan berikutnya setelah harga.

Suka Merah dan Biru, tidak menjadikan saya untuk mengharuskan diri membeli baju atau rok yang warna Merah atau Biru saja. Jika membuka lemari pakaian, baju-baju saya bermacam-macam warnanya. Bahkan orang yang melihatnya akan sulit menebak apa warna favorit saya. Saya memakai semua warna.

Jika mengingat betapa saya tidak menjadikan warna sebagai dasar dalam membeli sesuatu, maka 16 April 2013 yang lalu, saya tidak semestinya berdiri berlama-lama di toko buku Gramedia hanya gara-gara warna Pink.

Di rumah, kami memiliki beberapa Al Qur’an yang ukurannya umum. Beberapa tahun lalu, saat kantor sering menugaskan saya untuk bepergian ke kabupaten lain atau mengikuti pelatihan, saya memutuskan membeli sebuah Al Quran yang berukuran kecil. Saya amat nyaman dengan Al Quran yang satu ini, karena meski ukurannya kecil tetapi hurufnya tidak sampai membuat lensa mata saya bekerja dua kali lipat untuk berusaha membacanya.

Kenyamanan saya menggunakan Al Qur’an ini mulai terganggu saat anak-anak saya menyadari bahwa ibu mereka memiliki sebuah Al Qur’an yang bisa dibawa ke sekolah, tanpa harus membuat berat ransel mereka. Biasanya mereka membawa Al Qur’an yang tebal. Akhirnya saya dan dua jagoan kecil saya secara bergantian menggunakan Al Qur’an ini.

Repotnya, ketika saya harus ke kabupaten lain, saya harus membujuk mereka untuk merelakan Al Quran saya dan meminta mereka membawa Al Quran yang biasa saat pelajaran Agama. Mengapa tidak beli yang baru? Aha! Ini dia yang membuat saya jadi menghabiskan waktu lama untuk mengutak-atik tumpukan Al Qur’an di semua toko buku yang saya kunjungi.

Sejak tahun lalu, Al Qur’an seperti yang saya miliki, seolah lenyap dari toko buku. Tumpukan Al Qur’an yang biasanya diletakkan khusus dan terdiri atas berbagai ukuran dan desain, sudah saya obok-obok di beberapa tempat, tapi belum menemukan yang tepat.

Trend desain Al Qur’an berukuran kecil, sudah bergeser. Saat ini, Al Qur’an yang saya namai sendiri sebagai Al Qur’an for travel itu, dibuat lengkap dengan terjemahannya. Karena memerlukan space khusus untuk terjemahan, maka huruf Al Qur’an diperkecil. Masih bisa terbaca oleh mata saya, namun saya ingin menjaga mata saya dengan tidak memaksanya bekerja keras membaca deretan huruf-huruf yang demikian kecilnya. Bisa-bisa dalam berapa bulan, sudah pakai kacamata.

Setelah berbulan-bulan, dengan sisa-sisa semangat yang bercampur keputusasa-an, saya masih setia mengobok-obok tumpukan Al Qur’an setiap ke toko buku. Hore! Desain lama telah hadir kembali. Al Qur’an berukuran kecil yang isinya tanpa terjemahan dengan huruf yang nyaman tuk dibaca telah tersedia. Senang berlipat-lipat, namun tiba-tiba galau melihat warnanya.

Al Qur’an warna pink?. Ini kali pertama, saya butuh setengah jam tuk berfikir karena alasan warna. Norak ah, masak Al Qur’an warna pink, pikir saya. Karena kebutuhan yang mendesak, saya mengangkat naik satu persatu model itu, hingga tumpukan paling bawah, sambil menengok kanan kiri. Khawatir ada yang memperhatikan ulah aneh saya.

“Saya harus dapat model seperti ini yang warnanya bukan pink” saya menyemangati diri. O iya, saya tidak datang sendiri ke Gramedia. Saya bersama sahabat saya saat masih SMA dulu. Dia ikut membantu mengangkat tumpukan satu persatu untuk mencari Al Qur’an yang saya maksud.

Al Qur'an Pink Fanta

Al Qur’an Pink Fanta

“Apa salahnya pakai warna pink?” protes teman saya yang sudah terlihat bosan membongkar sana sini. “Cari saja dulu, kalau tidak dapat, kita cari di tempat lain. Ini model baru, berarti di toko lain sudah ada juga dan siapa tahu ada warna lain” saya masih ngotot. “semua Al Quran yang ukuran segitu, kayaknya sengaja diproduksi dengan warna-warna cerah” teman saya menunjuk ke model-model yang lain.

Astaga, saya baru nyadar betapa warna warninya Al Qur’an di depan saya. Selama ini saya lebih fokus mencari yang didesain tanpa terjemahan tanpa memperhatikan warnanya. Tapi masak sih, tak ada warna hitam?

Atas bujuk rayu teman saya yang rupanya sudah capek berdiri, saya pun akhirnya membeli Al Qur’an itu. “Nah, kalo warna pink fanta menyala kayak begini, gampang ditemukan kalo tercecer atau terselip. Lagipula anak-anakmu laki-laki, pasti mereka tidak akan pinjam, karena warnanya terlalu perempuan”, teman saya masih tetap berargumen saat saya membayar di kasir.

Ini adalah satu-satunya benda milik saya yang warnanya pink fanta menyala, bukan pink biasa atau baby pink, dan lucunya, benda itu adalah Al Qur’an.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: