Komunitas Untuk Senyum Anak Indonesia

Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedelapan.

Tiap orang memiliki alasan-alasan berbeda ketika memutuskan bergabung dalam sebuah komunitas. Beberapa orang memiliki alasan bergabung karena memiliki visi dan tujuan yang sama, atau karena komunitas tersebut telah memiliki anggota banyak, atau telah memiliki kegiatan rutin, atau justru karena komunitas tersebut amat terkenal.

Namun pengalamanku berbeda. Saya justru ikut membentuk sebuah komunitas di awal, mengajak teman sekitar membantu kami tanpa harus bergabung dan memastikannya tetap berjalan hingga kini.

Semua diawali ketika saya dan keempat teman yang berbeda kantor, berbeda latar belakang pendidikan, bahkan berbeda kabupaten, ngobrol santai tentang kegiatan kami masing-masing. Lalu kemudian kami menyadari bahwa kami berlima memiliki kesamaan dan punya satu tanya yang sama pula, yang akhirnya menjadi alasan utama kami membentuk sebuah komunitas kecil.

Kami berlima bekerja untuk program pemberdayaan masyarakat. Meski beda program, beda lokasi kerja, tapi kesamaan kami adalah kami bekerja untuk masyarakat, memastikan masyarakat berdaya tanpa bergantung penuh kepada masyarakat dan menggalang swadaya dari masyarakat untuk membangun kampung halamannya.

Entah bagaimana, tiba-tiba muncul pertanyaan diantara kami berlima, apakah kami bisa bekerja untuk masyarakat tanpa digaji, tanpa bantuan dari sebuah lembaga besar dan pemerintah?.  Sebuah tanya yang membuat kami memulai diskusi-diskusi panjang. “Kita memiliki beban moril kepada bangsa. Bisakah kita bekerja tanpa digaji ?” seorang teman melayangkan pernyataan tersebut.

Lalu kita mau melakukan apa? Kita berlima bukanlah pengusaha yang berpendapatan tinggi dan belum berlebih. “Apakah harus jadi orang kaya dulu?” tanya itusempat muncul pula.

Kamipun memutuskan melakukan sesuatu dengan berbasis dari kekuatan yang masing-masing kami miliki. Hingga kemudian diputuskan membentuk sebuah komunitas yang bertujuan mempersiapkan generasi akan datang yang lebih baik. Ya, sebuah komunitas yang bertujuan agar Senyum Anak Indonesia selalu terkembang.

Tanpa bermimpi tinggi, kami mencoba melakukan sesuatu yang sederhana, mudah dilaksanakan, tanpa biaya besar tapi tetap memiliki manfaat  bagi anak-anak Indonesia. Khususnya mereka yang marginal, kurang mampu, dan belum tersentuh oleh Pemerintah atau pihak lain.

Salah satu kegiatan andalan kami adalah Seragam Tuk Sobatku. Kami selalu berfikir bahwa meskipun pendidikan telah gratis, namun seragam sekolah dan perlengkapannya, tentu saja tidak.

Ketika komunitas lain menyelenggarakan pendidikan dan sekolah alternatif bagi anak-anak jalan atau pekerja anak. Kami memandang bahwa anak-anak yang memiliki orangtua dengan pendapatan rendah, tetapi berpendapatan rendah dan tetap bertahan untuk bersekolah, beresiko terancam memilih untuk putus sekolah dan bekerja di jalan.

Jika komunitas lain mendorong anak-anak jalan untuk bersekolah, maka penting bagi kami untuk melakukan pencegahan agar jumlah anak jalan bertambah, dengan jalan membantu seragam dan perlengkapan bagi mereka yang kurang mampu.

"Ayo Bermain Puzzle" di Hari Anak Nasional bersama sobat-sobat Pemulung

“Ayo Bermain Puzzle” di Hari Anak Nasional bersama sobat-sobat Pemulung

Setiap tahunnya di tgl. 23 Juli, kami memperingati Hari Anak Nasional dengan mengajak anak-anak bermain. Hanya bermain saja. Mengapa bermain? Karena salah satu dari hak anak adalah bermain.

Selama ini, anak panti asuhan lebih sering diajak ikut buka puasa bersama, makan bersama, pemberian bantuan, dan lain-lain. Kami coba melakukan hal lain. Tanpa memberi bantuan apa-apa, tapi kami mengajak mereka ke lapangan, hanya untuk bermain bersama. Bukankah mereka jarang diundang untuk bermain bersama?.

Hingga saat ini, kami telah bermain bersama anak-anak panti asuhan dan anak-anak pemulung di sekitar TPA Tamangapa.

Terik Matahari pun Masih Betah Bermain

Terik Matahari pun Masih Betah Bermain

Kami juga memasuki wilayah kesehatan. Bukan pengobatan gratis, bukan bagi-bagi obat, bukan pula penyuluhan yang membosankan. Lalu apa dong?. Sebuah pesan dari rekan sejawat, biasanya lebih mengena dan lebih termonitoring, maka kamipun memilik mengajak anak-anak sekolah dasar untuk berlomba Story Telling.

Isinya bukan dongeng biasa, tapi dongeng yang mengandung pesan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat. Kami menyediakan buku yang harus dibaca, yang kemudian mereka harus ceritakan ulang. Tokoh ceritanya binatang, sehingga alur cerita nya menarik dan lucu serta ringan untuk didengar oleh anak-anak. Dengan story telling, anak-anak lah yang menyampaikan pesan kesehatan kepada teman-teman mereka.

Lalu siapa yang mendanai kegiatan-kegiatan ini?. Sumber dana kami dari teman-teman relawan sendiri dan segelintir teman-teman yang peduli. Agak sulit mengajak orang untuk peduli di saat ini. Meski kami beberapa kali share di facebook atau melalui pesan singkat, tapi jumlah yang peduli masih amat bisa dihitung jari.

Kembali lagi, mungkin karena komunitas kami tidak se-terkenal yang lain. Tapi kami selalu berprinsip, tujuan kami bukan untuk dikenal, bukan untuk menjadi besar, tetapi untuk membuat anak-anak Indonesia selalu tersenyum.

Meski kegiatan kami belum setiap bulan, tapi saya menganggap kami telah memberikan yang terbaik dari kami. Mengingat kami cuma berenam dan menetap berbeda lokasi, yaitu di Makassar, Gowa, Bantaeng dan Luwu Utara. Sebuah pengorbanan besar, ketika teman-teman yang jauh dari Makassar, datang untuk berbagi bersama sobat-sobat kecil.

Satu hal yang saya suka dari komunitasku yang kemudian diberi nama Lemina ini, adalah kami menjunjung tinggi transparansi. Baik dalam hal pelaksanaan kegiatan maupun keuangan. Untuk menjaga transparansi dan kepercayaan teman-teman yang berdonasi, maka kami memutuskan harus memiliki rekening sendiri, bukan lagi rekening pribadi anggota.

Membuka rekening atas nama komunitas tidak segampang yang dibayangkan. Harus ada akte pendirian, ada NPWP, ada stempel dan lain-lain. Akhirnya komunitas kamipun dibuatkan akte pendirian. Aneh juga rasanya, sebuah komunitas memiliki akte pendirian melalui notaris.

Biar mudah, akhirnya komunitas ini berbentuk lembaga swadaya masyarakat, meskipun dalam pengelolaannya, kami amat berbeda jauh dengan sebuah LSM. Semua semata hanya untuk pembukaan rekening saja. Kami adalah komunitas relawan. Relawan yang mengeluarkan duit dan tenaga untuk anak-anak.

Membahas anak, khususnya Balita, maka peran Ibu amat penting. Kamipun memutuskan untuk menyentuh para ibu yang memiliki Balita. Hingga kini, baru satu kegiatan kami yang pemanfaatnya adalah ibu-ibu.

Hingga kini, kami masih berusaha mengajak teman-teman untuk berdonasi. Syukur-syukur jika mereka mau bergabung sebagai relawan di Lemina, dengan mengorbankan waktu dan tenaga mereka untuk senyum anak Indonesia. Kami melembagakan komunitas kami dengan nama Lembaga Mitra Ibu dan Anak (LEmina).

Bermain bersama Sobat-Sobat Kecil Kel. RomangLompoa Gowa

Bermain bersama Sobat-Sobat Kecil Kel. RomangLompoa Gowa

Advertisements

2 Comments (+add yours?)

  1. ay
    Jun 15, 2013 @ 05:13:07

    Waduh , jadinya bingung entah apa yang aku harus lakukan dan katakan.

    Tapi yang terpenting .

    Sebneranya saya mendukung komunitas anda untuk .. Ehm kayak tuh , membantu anak-anak dan ibu-ibu.

    Komunitas anda senyum anak indonesia.

    Saya dukung .

    Tapi gak tau gimana caranya dukung :D. Saat ini , saya hanya bisa bilang kalau ikut mendukung 😀 🙂 .

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: