Satu Jam Jaga Stamina Bersama Anies Baswedan

“Senang sekali bisa bertemu dengan teman-teman” ucapnya begitu bergabung dengan teman-teman yang sudah menunggu di lobby Hotel Aryaduta Makassar. Karena terkesima, teman-teman agak telat ambil posisi duduk masing-masing. Dan saya amat senang bisa mendapat posisi strategis duduk berhadapan dengan tokoh yang selalu menghiasi wajahnya dengan senyum ini.

Karena tepat berhadapan dengan saya, maka seolah beliau hanya ngobrol dengan saya. Meski kenyataannya tidak seperti itu. Menyenangkan diri sendiri , boleh kan?

Ekspresi wajah pak Anies Baswedan persis sama ketika bertemu saya dan mbak Jowvy di auditorium Unismuh dua jam lalu. Masih antusias dan penuh perhatian ke kami. Mungkin beliau terkesan karena di Timur Indonesia pun, kita mulai bergerak.

Memulai pembicaraan dengan mengenalkan teman-teman yang hadir, dari relawan pengajar Kelas Inspirasi hingga ke adik-adik penyala Makassar.

Beliau membuka dengan sebuah tanya “bagaimana kelas inspirasi kemarin?”.  Lalu kamipun bercerita singkat tentang pengalaman kami terlibat di dalamnya.

Begitu banyak hal yang beliau sampaikan, yang membuat tangan saya ingin menyelinap ke ransel tuk mengambil buku dan pulpen. Tapi saya khawatir ketinggalan pembicaraan.

Satu jam bersama Pak Anies Baswedan

Satu jam bersama Pak Anies Baswedan

Ketulusan itu Menular

Kelas Inspirasi, yang dulunya hanya dilaksanakan di Jakarta, kini sudah mulai dilaksanakan di banyak kota. Salah satunya Makassar. Pak Anies menuturkan bahwa gerakan-gerakan kecil yang kita lakukan, jika dituliskan, disebarkan, maka akan menjadi pemantik bagi yang lain untuk ikut bergerak.

“Ketulusan itu menular”, ucap beliau.

Ucapan beliau mengingatkan saya ke awal-awal kelas inspirasi digagas di Makassar. Kita agak khawatir apakah para profesional akan tertarik tuk turun ke sekolah-sekolah dasar?. Ini Makassar, bukan Jakarta, yang sudah melaksanakan Kelas Inspirasi untuk kedua kalinya.

Tetapi ketulusan rupanya benar-benar menular. Bukan hanya di Kelas Inspirasi 28 Maret 2013, tapi juga bahkan setelah hari tersebut, banyak dari kita mulai bergerak. Kegiatan Pack Your Spirit Penyala Makassar adalah salah satu bukti bagaimana ketulusan itu menular. Kita menggerakkan lebih dari 100 orang tuk berdonasi buku.

Bahkan perusahaan Bosowa pun memulai kerjasama dengan kita dengan bantuan buku serta biaya pengiriman ke lokasi-lokasi sasaran Penyala Makassar.

Mengajar Itu Addictive

Masih tentang kelas inspirasi, kami semua yang duduk bersama pak Anies kembali tertawa kecil, ketika beliau bercerita kisah unik tentang  sebuah BUMN yang meniru kelas inspirasi.

Ada seorang direktur BUMN, diharuskan untuk berdiri di depan kelas, dimana dia dulunya bersekolah. Adalah merupakan kerepotan luar biasa bagi dirinya, ketika harus naik kereta, atau naik bus tuk menempuh perjalanan menuju sekolahnya.

Pak Anies memaparkan bahwa ternyata di sekolah bapak tersebut, bapak itu adalah kebanggaan. Orang sekampungnya bangga bapak itu menjadi direktur BUMN dan lucunya, bapak itu tak pernah menyadarinya.

“Dua minggu setelah itu, bapak yang awalnya tidak semangat mengajar di sekolahnya itu, datang ke kantor Indonesia Mengajar, hanya sekedar untuk mengatakan bahwa ia akan kembali lagi mengajar” Pak Anies bercerita dengan memberikan penekanan.  “Memang mengajar itu addictive” beliau berucap setengah menggumam sambil menganggguk-angguk. Sayapun ikut mengangguk-angguk.

Mengajar memang menyenangkan, bagi mereka yang memiliki ketulusan. Masih selalu terbayang, bagaimana teman-teman profesional begitu bersemangat saat mengajar di depan adik-adik sekolah dasar, yang kemudian membuat kamipun (relawan penyelenggara) menjadi lebih bersemangat menyiapkan briefing dan refleksi bagi teman-teman relawan.

Yang penting adalah mengajarnya, bukan sarananya. “Kita mungkin sudah lupa, apakah dulu kita belajar pakai kapur atau spidol, black board atau white board. Yang selalu kita ingat adalah siapa yg mengajar kita” ucap Pak Anies.

Kembali ke bulan Maret lalu, satu hal yang sempat membuat saya kesulitan saat harus menarik kesimpulan dari hasil diskusi di refleksi Kelas Inspirasi Makassar adalah ketika harus menyimpulkan hasil identifikasi teman-teman relawan. Saya khawatir jika kemudian kelas inspirasi lah yang diminta untuk menyelesaikan masalah-masalah yang diidentifikasi tersebut. Duh, mengapa harus identifikasi masalah yah? Bukan identifikasi potensi?

Seperti kata Pak Anies di siang ini “Kita-kita ini, sering berharap orang lain yang menyelesaikan masalah yang kita identifikasi”. Mungkinkah kita yang menyelesaikan masalah yang kita identifikasi sendiri? Jawabnya ada pada masing-masing teman.

Repot Itu Baik

Sumpah! Tak bosan mendengar tutur tokoh inspiratifku ini. Meski sesekali kami menjawab pertanyaan beliau atau bercerita pengalaman gerakan teman-teman di Makassar, tapi kami lebih memilih mendengar beliau bertutur.

Seorang  teman Penyala, Dimas, menyampaikan ke beliau tentang pengalaman mengantarkan buku ke lokasi Pengajar Muda di Majene. Beliau kemudian menimpali dengan berbagi pengalaman seorang pelajar Indonesia di London yang ingin mengirimkan buku untuk anak-anak di lokasi terpencil.

Pelajar tersebut menghubungi Indonesia Mengajar untuk membantunya mengirimkan buku-buku yang akan ia sumbangkan. Tapi Indonesia mengajar tidak bisa membantu untuk mengirimkan buku itu. Ia hanya dibantu untuk dihubungkan dengan guru di sebuah desa.

“Mereka kita ajak repot. Dia yang berkomunikasi dengan guru di Indonesia, dia pula yang mengirimkannya sendiri. Repot kan? Sama seperti teman-teman yang repot-repot mengirim buku ke Majene” ucap Pak Anies.

“Repot-repot itu baik, jadi harus didorong repot-repot itu, jangan mau yang gampang aja” Pak Anies menegaskan disusul anggukan teman-teman.

Relawan itu Bukan Pekerjaan

Pak Anies menyambung ucapannya “ Ketika teman-teman repot-repot, orang di sana yang melihat, akan berkata, org itu tidak punya kerjaan lain kah? Sampai pada bawa buku kesini?”.

Kemudian beliau tiba-tiba bertanya ke Mbak Jowvy “anda bekerja dimana?” kemudian bertanya ke saya pula “kalau anda bekerja dimana?”.  Usai kami berdua menjawab, beliau lalu berkata “Nah, kita semua memiliki profesi, kita bekerja, tapi kita adalah relawan”.

Kembali, Pak Anies bercerita pengalaman seorang direktur yang menjadi relawan kelas inspirasi. Ketika sang direktur yang berperan sebagai relawan tersebut mengajak seseorang untuk ikut turun tangan, Sang direktur diminta oleh untuk ke kantor orang yang ia ajak tersebut.

Tatkala tukaran kartu nama, orang yang diajak tersebut spontan bertanya “Indonesi a Mengajarnya mana?”. Dan lebih kaget lagi ketika mengetahui bahwa yang dihadapannya adalah seorang direktur. Orang itu mengira bahwa sang direktur bekerja untuk mengajak orang-orang jadi relawan untuk Indonesia Mengajar.

“Kita adalah relawan, tapi pekerjaan kita bukan relawan, kita punya pekerjaan sendiri” beliau menutup cerita tentang sang direktur.

Jaga Stamina

Satu hal yang dipesankan oleh Pak Anies di silaturrahmi beliau bersama teman-teman relawan KI dan Penyala Makassar adalah bahwa kita semua harus jaga stamina. “Jaga staminanya dengan cara kita sering kumpul-kumpul. Karena kita akan bisa bergerak jika bersama”. Stamina yang dimaksud tentunya stamina kerelawanan dan ketulusan kita.

Saya lupa, di bagian mana beliau berucap tentang bekerja di pelosok, yang masih tertangkap di memeori saya adalah ketika beliau menyatakan bahwa ada yang pernah bertanya ke beliau, mengapa harus membantu yang jauh, sementara ada yang dekat untuk dibantu.

Beliau lalu menjawab “Jarak kita ke Indonesia semua sama. Dimanapun tempatnya. Tidaklah adil jika menghitung jarak dari kita berdiri ke tempat lain di sana”

Buku Makassar Menyala

Pak Mahmud Ghaznawie, Dekan Fakultas Kedokteran Unismuh mendekati kami dan mengangguk tersenyum, seolah beri kode bahwa sudah waktunya beliau meminta Pak Anies bergabung di acara mereka.

Jam sudah menunjukkan pukul 14.05 Wita. Pak Anies harus beranjak dari kami. Buku Makassar Menyala kami sodorkan ke beliau. Tanya dari beliau kemudian terlontar “Ada penulisnya hadir di sini? Tolong tandatangani”. Wuiih senangnya bisa beri ole-ole buku sederhana dengan tandatangan kepada orang yang menjadi inspirator bagi kami semua.

Kami mengantongi dua tawaran menarik dari beliau, ikut di festival Indonesia Mengajar di Oktober nanti dan menyelenggarakan Kelas Inspirasi Makassar di September, dan beliau akan hadir saat briefing. Hayo, mau menerima tawaran beliau?

Satu jam yang menyuntikkan energi luar biasa bagi kami, telah usai. Terima kasih atas kesediaannya bersilaturrahmi dengan kami.

Yang takkan lepas dari kepalaku adalah pernyataan beliau “Ingat teman-teman, kita sedang merancang masa depan, pendidikan adalah alatnya, bukan tujuan akhirnya”.

Sebuah pesan singkat di handphone saya terima dari beliau di malam hari, saat beliau landing di Jakarta, Let’s get it rolls bigger, stronger and wider for our nation.

Salam Inspirasi!

Bersama Pak Anies Baswedan

Bersama Pak Anies Baswedan

Pak Anies bersama Relawan Kelas Inspirasi dan Penyala Makassar

Pak Anies bersama Relawan Kelas Inspirasi dan Penyala Makassar

Advertisements

1 Comment (+add yours?)

  1. Rahman Ramlan
    Jun 23, 2013 @ 15:11:22

    Saya bisa bayangkan bagaimana ekspresi kawan-kawan yg berada dekat dgn pak Anis.
    Sy kira pertemuan itu adl Moment yg indah bagi kawan2 Relawan KI. Selamat ya…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: