Bukan Guru Tersayang

Karena sudah niatan akan mengunjungi seorang guru di tgl.25 Nopember, saya iseng melempar sebuah pertanyaan di group FB sekolah. Siapakah Guru yang Paling Berkesan saat masih sekolah?. Semua mengomentari, tetapi sudah dengan kriteria berbeda. Ada yang menyebut guru yang tersayang, guru yang paling berkesan baginya, bahkan ada yang menyebutkan guru yang paling menjengkelkan. Lucunya, teman-teman tidak sekedar menyebutkan nama-nama guruberdasarkan kriteria tersebut, tetapi lengkap dengan alasan panjang lebarnya.

Membaca komentar-komentar mereka di postingan pertanyaanku, seolah baru saja melewati sebuah lorong waktu menuju ke 20 tahun lalu, saat masih duduk di bangku SMA.  Teman-teman yang telat membaca postingan itupun, tak mau kalah, mereka laksana saling pamer guru kesayangan dan cerita dibalik pemberian gelar kesayangan tersebut.

Sesuai rencana awal, saya pun memilih siapa guru yang paling banyak disebutkan oleh teman-teman. Pak Dahlan, itu nama guru kami, yang paling sering disebut di deretan komentar-komentar pada postingan itu. Tapi jangan salah, nama beliau bukan disebut sebagai guru kesayangan, melainkan sebagai guru yang menjengkelkan dan paling banyak meninggalkan kesan karena selalu terkait dengan tingkah nakal kami saat sekolah dulu.

Tak semudah yang saya bayangkan untuk mengajak teman beramai-ramai ke rumah beliau. Sebagian besar teman-teman di FB menyatakan bahwa mereka tidak di Makassar lagi, ada pula yang masih sibuk hingga malam di kantor. Ya, kami semua telah bertebaran dimana-mana.

Seorang adik kelas saya dulu, Radhy, kadang masih berkomunikasi dengan Pak Dahlan hingga sekarang. “Beliau masih tinggal di rumah yang dulu, kanda. Saya punya nomor HP beliau. Ayo kita kunjungi sepulang dari kantor”, ajakan Radhy membuat saya kegirangan.

Pukul 17.15 saya dan Radhy akhirnya bisa menginjakkan kaki di rumah beliau. Senyum khas itu telah menanti kami di teras rumah. Ternyata Beliaupun baru saja pulang dari mengajar. Rupanya Pak Dahlan tidak mengajar lagi di sekolah kami ini, tetapi telah menjadi Pembantu Dekan III di Fak. Adab Universitas Islam Negeri Makassar.

Belum lagi kami duduk, saya sudah terharu saat berjabat tangan dengan beliau, “Andi Bunga, yah?”. Senangnya , Bapak masih mengenal saya setelah 20 tahun. Pasti beliau masih kenal saya, karena saya siswa yang lumayan banyak pelanggaran saat sekolah, batin saya. Ah, tidak juga, saya kan siswa berprestasi saat SMA dulu, Pak Dahlan saja yang terlalu kreatif mencari ide untuk mengomeli saya.

Bapak terlihat sehat, wajahnya masih berseri-seri dan tubuhnya masih tegap. Tapi pak Dahlan, masih tetap saja pak Dahlan yang dulu. Membuka obrolan, beliau sudah mulai dengan untaian kalimat mutiara penuh nasehat. Duh, bapak kan bukan guru BP lagi, sudah jadi dosen sekarang.

Ternyata, kami didahului oleh teman-teman yang tidak bisa hadir ke rumah beliau. Beliau menginformasikan bahwa sejak pagi, beliau tiba-tiba menerima banyak SMS ucapan selamat hari guru dari siswa-siswa yang dia sudah lupa seperti apa wajahnya.20131125_180745-1

Ceritapun mengalir dari kami bertiga. Saya tak pernah bisa menahan tawa saat beliau menceritakan bagaimana beliau menyusun skenario tiap saat akan mengomeli kami di sekolah dulu. “Saya kadang merasa bersalah, jika bereaksi keras dengan kalian. Sebenarnya itu bentuk kekecewaan saya, karena saya punya harapan yang tinggi kepada kalian”, beliau berkata masih dengan tekanan yang sama di 20 tahun lalu.

Bagai memutar sebuah film lama, Pak dahlan mengenang kembali kisah lama bersama kami sambil senyum-senyum. Tentang siapa-siapa yang sering dihukum di ruang BP, siapa yang paling sering nongkrong di kantin, siapa yang cara berpakaiannya tak pernah beres, hingga siapa yang paling sering kedapatan pacaran di jam sekolah.

“Stop Bapak! cukup mengenang teman-teman yang lain saja, jangan tentang saya yah”, harap saya dalam hati. Saya dulu pernah kena tegur karena potongan rambut yang terlalu pendek untuk seorang perempuan, menurut bapak. Pernah juga kena tegur karena sepayung berdua dengan kakak kelas laki-laki saat hujan. Yaah bapak, waktu itu kan kakak kelas yang numpang di payung saya. Saya kan takut menolak. Saya mengklarifikasi ke beliau setelah 20 tahun. Lagi-lagi, pak Dahlan tetap saja pak Dahlan yang dulu. Masih saja beliau merespon dengan berkata “ah masak?’.

Kisah pertemuan kami dengan Pak Dahlan, diposting oleh Radhy di group FB. Semuanya kemudian berkomentar menanyakan hal yang sama. Salam saya disampaikan, kan? Bapak cerita apa tentang saya?. Yang bertanya begitu, biasanya teman-teman yang paling sering diomeli saat sekolah.

Malam ini, group FB sekolah yang biasanya sepi oleh postingan dan komentar, berubah ramai hingga menjelang tengah malam. Kami bernostalgia dengan berbagi cerita tentang kisah kami bersama beliau saat di sekolah. Bahkan kakak-kakak kelas saya yang lulusan 1984 pun ikut nimbrung bercerita.

Apapun cerita di sekolah dulu, kami yang kini sudah menjadi orang, adalah hasil karya dari guru-guru kami. Terlepas, apakah beliau guru kesayangan atau guru yang paling menjengkelkan.

Advertisements

2 Comments (+add yours?)

  1. Mugniar
    Mar 16, 2014 @ 11:32:59

    Luar biasa pak Dahlan, banyaknya murid yang dihadapi tapi masih diingatnya Mudah2an beliau senantiasa sehat wal afiat ^__^

    Reply

  2. Sandhy @momzeny
    Nov 26, 2014 @ 01:41:38

    Senang sekali baca postingan ini. Saya juga jadi teringat guru bp saya yang super galak. Apakah beliau masih mengajar sampai sekarang… saya tidak tahu pasti. Ahh saya kangen masa SMA daya

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: