Merambah Kesibukan lalu Lintas Pagi di Bumi Sriwijaya

Sejak kemarin sudah janjian dengan Febri, fasilitator Tim 5 serta mas Fendi dan Mas Bisma, Relawan Pengajar, untuk observasi ke lokasi Kelas Inspirasi di SD Muhammadiyah 17 Palembang.

Sepakat bersama untuk tiba jam 9 di sekolah. Saya dengan sombongnya menyanggupinya. Seolah saya mengenal dengan baik lokasi sekolahnya. Hingga kemudian chat mas Fendi di group terbaca resah, tatkala saya mulai bertanya tentang lokasi dan ketersediaan kendaraan umum/taxi menuju perempatan Charitas, tempat mas Bisma menunggu untuk bareng-bareng ke sekolah.

“Biar saya saja yang jemput mbak Bunga,” demikian tawaran mas Fendi di group Whatsapp. “Tapi jemput naik motor yah. Ntar terserah mbak Bunga, mau dibonceng hingga sekolah atau ikut mobil mas Bisma di Charitas, “ lanjut mas Fendi.

Satu jam lebih beberapa menit perjalanan dari Grand Malaka ke SD Muhammadiyah 17. Sekolahnya di daerah Plaju, di ulu, mbak. Sementara kita sekarang di ilir, mas Fendi menjelaskan saat motor agak melambat di perempatan.

Mas Fendi, yang bernama lengkap Efendi A. Waluyo ini, adalah orang pertama yang kutemui tuk beraktivitas di Palembang. Seminggu ini kami hanya intens berkomunikasi di group Whatsapp, Meski demikian, kami yang tergabung di group, serasa sudah saling kenal baik, meski belum saling bertemu.

Perjalanan menuju sekolah adalah perjalanan menikmati daerah ilir dan ulu kota Palembang. Menebak bahwa kata ilir berasal dari kata hilir, dan Ulu untuk kata hulu, atau sebaliknya? Bahasa Indonesia mengadopsi dari bahasa Palembang, yang masih kental dengan pengaruh bahasa Melayu? Hingga pulang, saya lupa menanyakan ke teman-teman di sini.

Kembali ke perjalanan menuju sekolah di pagi itu, ketika mendatangi sebuah kota, maka secara spontan saya akan membandingkan kota tersebut dengan Makassar. Lalu menyusul membandingkannya dengan kota lain yang pernah saya kunjungi. Hal itulah yang saya lakukan sepanjang jalan. Mengamati sekeliling sambil berusaha menahan diri untuk tidak cerewet bertanya banyak hal ke mas Fendi. Khawatir dia sulit membedakan, apakah saya relawan pengajar atau turis domestik.

Palembang tergolong kota yang besar dan berlalu lintas padat di pagi hari. Di pukul 08.00 pagi ini, beberapa ruas jalan agak macet. Untung naik motor. Kami bisa menyelip di sisi kiri, di antara mobil-mobil.

Lalu Lintas di Titik Nol (Foto: Koleksi Pribadi)

Lalu Lintas di Titik Nol (Foto: Koleksi Pribadi)

Sebelum ke sini, saya sudah bertualang di google map, untuk mengenali jalan-jalan utama di Palembang. Dan pagi ini, saya iseng mencocokkannya dengan plang-plang toko dan gedung yang kami lewati. Pasar Cinde sebelah mana yah? Pasar 16 ilir? Masjid Sultan Mahmud? Waah tidak melewati itu sama sekali.

Jalan-jalan protokol di Palembang, lumayan lebar. Ada dua jalan raya yang nampak sedang dalam proses dilengkapi pemisah jalan, berupa taman.

Aha, akhirnya tiba di mulut jembatan Ampera. Jembatan yang kuketahui dari buku pelajaran saat sekolah dulu atau dari TV. Arus lalu lintas agak padat dan berkecepatan tinggi. Saya mengurungkan niat untuk mengeluarkan HP dan mengambil gambar tiang jembatan, yang bertuliskan AMPERA. Besok saja, kalau naik mobil, baru ambil gambarnya. Kan besok harus lewat sini lagi.

Seberang jembatan Ampera, merupakan daerah Ulu. Saat melihat papan nama di salah satu gedung, baru tau jika kata “ulu” digunakan juga sebagai nama Kecamatan.

Di Ulu, sempat agak melambat lagi karena rupanya ada pembangunan fly over. Palembang benar-benar kota sibuk. Mirip ramenya dengan Makassar, meski Makassar masih jauh lebih rame. Wajar jika Palembang dijuluki sebagai kota terbesar di Sumatera setelah Medan.

Melintas di depan Universitas Muhammadiyah Palembang, saya jadi terfikir untuk jalan-jalan ke Universitas Sriwijaya. Kata mas Fendi, Unsri tidak berada dekat-dekat situ. Siang nantilah, pikirku, sambil membayangkan akan mengajak Agung, Koordinator Penyala Sriwijaya.

Usai melalui jalan-jalan protokol Palembang, akhirnya motor mas Fendi berbelok ke arah kanan, memasuki sebuah jalan yang lebarnya sekitar 3 meter.

Sekitar 200 meter ke depan, kami berpapasan dengan ramainya pasar tradisional. Mata saya menyapu semua pajangan jualan yang dijajakan. Hei, ada empek-empek. Selebihnya, tak ada jualan istimewa lagi. Ini kan hanya pasar tradisional, tak mungkinlah jualan songket di sini.

Motor masih harus berbelok sebanyak dua kali, memasuki jalan yang lebih kecil lagi, lalu kemudian berhenti di depan sebuah bangunan berdinding hijau dan berhalaman luas, dengan pagar tembok putih setinggi pinggang. Pintu pagar terbuat dari besi, yang di cat berwarna hijau juga. Inilah SD Muhammadiyah 17 Palembang.

Petualangan di jalan pagi ini adalah aktivitas pertamaku di Palembang. Selamat Pagi Bumi Sriwijaya Kito Galo.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: