Categories
Diary

Ini Gaya Hidup! Bukan Sekedar Berbagi

Seperti apa gaya hidup orang perkotaan? Sebesar apa hal itu mempengaruhi pengeluaran keuangan?. Bagi mereka yang terbiasa merencanakan keuangan rumah tangganya dengan teliti, pastinya akan bisa menjawab pertanyaan tadi dengan cepat.

Jika anda belum terbiasa merencanakan pengeluaran, cobalah mencatat pengeluaran anda setiap harinya, selama sebulan. Buat kolom terpisah antara pengeluaran rutin, seperti listrik, air, telepon, internet, asuransi, kursus anak, tabungan haji, dengan pengeluaran dapur, transportasi, rekreasi, dan lain-lain.

Catat hingga pengeluaran paling kecil sekalipun, seperti: beli sekaleng soft drink atau beli pulsa telepon selular.

Setelah genap sebulan, amati catatan pengeluaran anda selama sebulan itu dan temui seperti apa gaya hidup anda, dari pengeluaran tersebut.

Bagi mereka yang memilih gaya hidup sehat, cenderung membelanjakan lebih banyak uangnya untuk mendukung hal tersebut. Dalam sebulan bisa belanja bahan makanan organik, bayar fitness atau aerobik, beli sepeda, belanja minum saat perjalanan pulang jogging, beli suplemen, atau check up bulanan.

Tuk yang memilih gaya hidup sebagai pengejar ilmu, dalam sebulan kemungkinan menghabiskan uang dua kali lipat dari belanja dapur untuk beli buku, bayar seminar, kursus, transportasi bolak balik ke perpustakaan, atau bayar internet lebih besar dibandingkan orang kebanyakan.

Bisa dikatakan, setelah kebutuhan paling dasar, pangan dan sandang yang wajar, orang-orang cenderung membelanjakan lebih banyak uangnya untuk memenuhi kebutuhan gaya hidupnya.

Lalu, gaya hidup seperti apakah yang dipilih oleh orang-orang di depan saya, yang sedang mengunyah makanannya sambil mengamati anak-anaknya yang lari kecil berkeliling dan naik turun perosotan sambil tertawa ceria, tak jauh dari tempat duduk mereka?.

Memilih tidak menebak gaya hidup orang tersebut, saya kembali fokus membahas rencana kegiatan bersama teman-teman Relawan, yang siang itu sedang berkumpul bersama di McDonald.

McDonald merupakan tempat favorit teman-teman Relawan untuk rapat kecil santai membahas rencana kegiatan sosial kami. Setidaknya ada 2 gerai McD yang paling sering kami pilih sebagai tempat rapat di Makassar, yaitu di jalan Alauddin dan Mall Ratu Indah.

“Gaya banget, masak Relawan anak, memilih mcD untuk rapat?” demikian protes seorang teman saya di awal. Bagi saya, makan dan kumpul-kumpul di mcD, untuk ukuran warga kota besar seperti Makassar, masih wajar. Toh, harganya lebih murah daripada tempat lain dan masih cocok tuk kantong anak mahasiswa.

Beberapa teman menyatakan, mcD mudah dijangkau dari kampus dan kantor masing-masing (kami terdiri dari mahasiswa dan pegawai yang berasal dari kampus dan kantor berbeda-beda), ruangan ber-AC, suasananya santai, serta ada wifi dan colokan listrik untuk buka laptop. Alasan terakhir adalah yang paling kuat, karena terkadang saat rapat, harus buka beberapa file untuk mendukung pembahasan kami.

Hal lain yang membuat kami suka dari McD, karena McD sejalan dengan gaya hidup kami. Bukan gaya hidup perkotaan lho, melainkan gaya hidup berbagi.

Teman-teman menganggap budaya berbagi, tidak sekedar dipandang sebagai gerakan peduli atau karena anjuran agama.

Seperti saya ungkapkan di awal tulisan ini, bahwa orang-orang cenderung membelanjakan lebih banyak uangnya untuk memenuhi gaya hidupnya, maka tatkala “berbagi” menjadi gaya hidup, maka anda takkan segan dan berfikir panjang untuk mengeluarkan sejumlah uang tuk berbagi.

Lupa tepatnya, kapan mengenal RMHC dari kotak donasi yang diletakkan di depan meja kasir. Namun sejak bulan lalu, gara-gara penasaran dengan sticker di pintu masuk McD yang bergambar strip merah dan tidak dibuat lurus, lebih menyerupai tulisan tangan, saya bisa tahu bahwa RMHC punya program baru yang keren. Stripes for love, hope, joy, smile.

Sticker Stripes For Love di Pintu Masuk (Foto: Koleksi Pribadi)
Sticker Stripes For Love di Pintu Masuk (Foto: Koleksi Pribadi)

Menurut saya, ajakan membeli baju kaos atau payung yang bercorak Stripes for Love ini, lebih dari sekedar ajakan berbagi tuk anak-anak penderita kanker, melainkan turut memudahkan pelanggannya yang peduli, untuk menemukan cara berbagi yang lebih praktis.

Saya teringat pembicaraan dengan seorang teman kira-kira satu atau dua tahun lalu, yang kebetulan ikut rapat juga siang itu. “Bunga, andai setiap orang berlomba-lomba ingin memiliki barang-barang donasi, daripada barang branded yang harganya bisa 4 sampai 5 kali lebih mahal, mungkin banyak orang yang akan terbantu”.

Pembicaraan itu mengingatkan betapa bahagianya kami saat memakai kaos Relawan anak LemINA, atau kaos Penyala Makassar. Membayangkan teman-teman bukan lagi berlomba-lomba memakai barang branded, tetapi berkompetisi untuk memakai segala hal berbau donasi.

Cobalah anda membayangkan, saat menyetor uang untuk membayar makanan yang dipesan hari ini di sebuah restoran cepat saji, atau baju branded di mall, atau tiket untuk nonton bioskop, di luar sana, ada anak-anak Indonesia yang makan dengan lauk seadanya, ada yang sibuk mencuci seragam sekolahnya yang kusam, karena hanya warisan dari kakak-kakaknya, dan ada yang tak pernah menonton lagi karena harus terbaring di rumah sakit melawan kanker.

Jika anda tidak akan kekurangan uang karena memenuhi gaya hidup, maka percayalah anda pun takkan berkekurangan hanya karena menyisihkan uang untuk sekedar beli baju kaos donasi seharga 50 ribu tuk anak-anak kanker saat anda berkunjung ke McD, atau menyelipkan uang di kotak donasi, depan kasir, tiap beli satu baju baru, atau merelakan uang kembalian saat belanja di mart-mart.

Teliti kembali catatan pengeluaran anda bulan ini, berapa yang telah dihabiskan untuk belanja gaya hidup, yang tidak mendesak, dan berapa banyak yang dikeluarkan untuk berbagi kepada sesama.

Orang berani mengeluarkan lebih, untuk memenuhi gaya hidup guna menyenangkan hati dan membuat hidupnya lebih bahagia, maka cobalah menjadikan gaya hidup berbagi sebagai gaya hidup baru, yang menutrisi hati dan membuat hidup lebih indah.

Categories
Travel

Selamat Sore, Kupang

Aku menyalahkan workshop yang kuikuti di Pare-pare, yang jaraknya hanya berselang 1 hari dengan jadwal berangkat ke Kupang. Fokus memfasilitasi workshop tersebut membuatku tak punya cukup waktu atau lebih tepatnya lupa, untuk mencari referensi titik-titik penting yang harus kukunjungi di Kupang.

Seperti perjalanan-perjalanan sebelumnya, ke Kupang pun tetap masih untuk urusan pekerjaan. Aku dan 3 orang teman di Sulawesi Selatan, diharuskan menghadiri meeting bersama teman-teman lain dari Pusat dan 2 Propinsi lainnya.

Biasanya, sebelum berangkat ke sebuah kota, aku mencari tahu terlebih dahulu, landmark kota tersebut, lokasi masjid agungnya, kuliner khasnya, hingga pusat ole-ole nya. Dari situ, akan lebih mudah merencanakan mau kemana saja di kota tersebut.

Bagiku, perencanaan itu penting, mengingat waktu untuk berjalan-jalan di sebuah kota yang kudatangi untuk urusan pekerjaan, pastilah amat singkat.

Di April lalu, saat ke Palembang, aku benar-benar memanfaatkan 5 jam waktu luangku untuk berkunjung ke Stadion Sriwijaya, Masjid Ceng Ho, Jembatan Ampera, Musem Sultan Mahmud Badaruddin II, Titik Nol Palembang, Masjid Agung Palembang, Warung Empek-empek terkenal, hingga berburu ole-ole. Semua tempat itu kutempuh dengan naik angkot dan berjalan kaki. Perencanaan yang baik, itu kuncinya.

Ingin mengulang hal tersebut, aku memanfaatkan waktu luang di perjalanan menuju bandara dan saat di ruang tunggu keberangkatan di bandara Hasanuddin untuk browsing tentang kupang.

Angkot ajib-ajib

Waktu mepet. Teledor. Terlupa booking hotel sejak di Makassar. Hotel On the Rock, tempat meeting kami, rupanya sudah full, sehingga harus menginap di hotel lain, yang jaraknya sekitar 10-15 menit perjalanan dengan angkot.

Angkot di Kupang merupakan satu hal yang paling banyak mengundang komentar dan candaan dari teman-teman Makassar. Sepertinya angkot di sini tidak mengijinkan penumpangnya untuk ngobrol. Musik hingar bingar menghentak, laksana diskotik berjalan, membuatku memberinya nama “Angkot ajib-ajib”. Orang sini tidak terganggukah dengan musik yang sedemikian ributnya?.

20141029_091507
Angkot ajib-ajib. Musik keras. Full pernak pernik. Kaca jendela penuh dengan sticker.

Seorang teman dari Papua, pak Adiyoga, bercanda “Mbak Bunga belum pernah dengar cerita tentang bemo (istilah untuk angkot Kupang) di sini yah? Pernah ada seorang teman menunggu bemo sampai lama. Tiap bemo yang singgah, dia tidak mau naik. Begitu ditanya, kenapa tidak naik-naik? Teman itu menjawab bahwa dia menunggu bemo yang full music”. Candaan pak Adiyoga membuat kami tertawa membenarkan.

Pada malam terakhir di Kupang, saat ingin balik dari mengejar ole-ole di Pasar inpres menuju hotel, aku dan teman-teman Makassar berdebat kecil, gara-gara istilah lampu 1 dan lampu 2.

Penjaga toko tempat kami bertanya, memberi info bahwa jika ingin menuju ke arah Kota lama, harus naik lampu dua. Saat menunggu angkot, ada beberapa angkot yang di kaca depannya menempel satu lampu neon sekitar 20 cm, dengan posisi vertikal. Semua yang lewat, masih dengan satu lampu neon, sementara kami menunggu yang berlampu dua.

Saat sebuah angkot melintas dengan dua lampu neon di kaca depannya, seorang teman mengajak kita agar buru-buru naik. Namun seorang bapak yang berdiri dekat dari kami menegur “Itu bukan lampu dua”.

Ya ampun, rupanya yang dimaksud dengan lampu dua, bukan jumlah lampunya yang dua, tapi nomor angkot yang terpasang di bagian depan atas. Plangnya tidak jelas terlihat di malam hari. Dua hari sebelumnya, kami hanya menggunakan angkot satu arah dengan tempat menginap, jadi tidak paham dengan penomoran lampu.

20141027_081634
Harus mengetuk pipa besi memanjang di bagian atap angkot, dengan menggunakan koin atau benda keras, jika ingin turun. Ketukannya harus mengalahkan suara musik.

 

Taxi Kupang

Selain angkot, taxi Kupang juga agak berbeda dengan taxi di Makassar. Jika biasanya taxi menggunakan mobil sedan, di sini menggunakan mobil keluarga seperti Avansa dan sejenisnya, serta memuat maksimal 4 orang penumpang, meski masih ada kursi baris paling belakang.

Tarifnya tergolong mahal. Harus pintar menawar sebelum menggunakan jasa taxi, karena mereka tidak menggunakan argo meter.

Sekali angkut ke sebuah tempat, tarifnya sekitar 60.000-70.000-an. Ada juga yang sistem pembayarannya berdasarkan waktu, 1 jam dikenakan tarif 60.000 dan bisa ke beberapa tempat.

Kelebihannya, taxi tidak memasang musik keras seperti angkot, sehingga jauh lebih nyaman. Namun, jika ingin bepergian hanya ke satu tempat saja, meskipun terdiri atas 4 orang, masih jauh lebih murah menggunakan angkot. Apalagi lalu intas Kupang lumayan lancar, tidak sepadat Makassar.

Kampung Solor, mana makanan khasnya?

Meeting kami lebih panjang dari jadwal yang sudah ditentukan. Mungkin karena baru kali ini semua Fasilitator dan PO UNICEF dari 3 Propinsi duduk bersama Sekretariat WASH & WASH section UNICEF Jakarta, sehingga pembahasan menjadi sangat panjang, melewati waktu magrib.

Padatnya jadwal pertemuan di Kupang, menyebabkan aku tidak bisa merealisasikan rencana ke tempat-tempat tertentu. Patung Sonbai, Pantai Lasiana,dan daging asap bu Soekiran, ketiganya tak berhasil kukunjungi. Kecewa.

Lebih kecewa lagi, setelah dua kali berturut-turut ke tempat ole-ole di daerah kota lama, tokonya sudah tutup.

Untunglah, dekat dari tempat ole-ole kota lama, ada pusat kuliner di malam hari yang cukup ramai pengunjung, namanya Kampung Solor.

Seorang teman menginformasikan bahwa Kampung Solor adalah salah satu tempat favorit wisatawan lokal ketika berkunjung ke Kupang.

Solor adalah nama Kelurahan, tempat pusat kuliner ini berada. Kelurahan Solor sendiri disebut sebagai Kota Lama Kupang. Pembangunan membuat berpindahnya keramaian ke pusat pemerintahan dan pertokoan yang lebih besar, yang berada di sisi lain kota Kupang.

Bagian depan Kampung Solor, kita akan disambut oleh dua booth jualan VCD dan DVD, yang memutar musik dengan suara keras. Orang sini, kayaknya memang hobby dengan musik hingar bingar, aku menyimpulkan sendiri.

Bagian depan Kampung Solor
Bagian depan Kampung Solor

Gerobak-gerobak sederhana, berjejer rapi dan tidak terkesan berdesak-desakan. Sebagian besar menjual se food, dan sisanya adalah gerobak nasi goreng, gado-gado, tempe tahu penyek dan tahu tek.

Di Makassar, jika ke Paotere, Lae-lae dan Istana laut, kita kadang harus mengubek-ubek box pendingin ikan untuk memilih ikan. Di sini, ikan sudah dijejer dengan rapi di atas box atau tempat khusus, dan dialasi dengan es batu, serta dipajang di depan gerobak. Memudahkan pembeli tuk memilih.

20141026_21285220141027_20484820141026_220303

Tak hanya ikan, kita juga bisa menemukan udang, cumi-cumi dan kerang di Kampung Solor. Bisa memilih, mau digoreng atau dibakar. Satu ekor ikan, dihargai bervariasi, dari Rp. 25.000 sampai 50.000an, dan dimakan bersama nasi putih dan sayur.

Meski sama segarnya, bagiku masakan laut Makassar masih lebih enak dibanding di sini. Kurang di sambelnya.

Biasanya, makan ikan dengan 2 atau 3 jenis sambel, dabu-dabu, sambel tumis, dan sambel mentah, bahkan kadang ada juga sambel kacang dan cacahan mangga muda. Tiga malam makan ikan bakar di sini, tak menemukan hal itu.

20141027_210756
Ikan bakar dengan sambel tumis seadanya
20141027_210808
Cumi Bakar, dengan sedikit lalapan

 

Bagi yang jalan-jalan ke Kupang dan punya rencana makan di Kampung Solor, aku rekomendasikan untuk makan seafood saja, karena tempe tahu penyet nya tidak seenak di Makassar dan Jawa. Lagi-lagi kurang mantap disambel. Tahu tek nya pun, kurang nendang di lidah.

Meski semua terasa kurang klik di lidahku, namun ada satu hal yang lumayan mengobati, yaitu juice buahnya. Juice buah di sini, selain kental dan segar, juga murah. Cuma 10.000-15.000an saja, sudah bisa menikmati juice buah. Di Makassar bisa sampai 17.000-20.000an, lho. Masih membandingkan dengan Makassar.

20141026_213833
Juice buah Naga. Murah tapi enak.
20141026_213208
Penjual juice yang ramah dan sabar melayani pertanyaanku

 

Sayangnya, aku dan teman-teman tak ada kesempatan untuk menikmati kuliner di bagian lain kota Kupang. Tiga malam berturut-turut, hanya makan di Kampung Solor saja.

Saat jam menunjukkan pukul 20.00, Kota Lama Kupang sudah tertidur. Hanya Kampung Solor dan tanggul sepanjang pantai Timur yang masih terbangun. Mencari angkotpun sudah agak susah.

Berjalan kaki dari tempat makan menuju hotel, memakan waktu 15 menit tuk tiba. Kami menelusuri toko-toko yang sudah tertutup rapat, sambil berharap di hari terakhir kami di Kupang, bisa menikmati bagian lain kota di Timur Indonesia ini.

Categories
Travel

Ini Indonesia Sebelah Mana?

Nyaris semua perjalananku ke luar kota adalah untuk urusan pekerjaan. Artinya, amat mudah mengingat bahwa dalam 5 tahun terakhir, hanya dua kali aku bepergian untuk wisata. Awal 2011 ke Kota Malang dan tahun lalu ke Singapura-Malaysia.

Baru dua malam aku tiba dari Pare-pare, satu-satunya kotamadya di Sulawesi Selatan, yang merupakan kota pelabuhan, guna memfasilitasi Workshop WASH in School. Pagi ini, harus berangkat lagi dan kali ini ke sebuah Kota di Indonesia Timur, yang sama sekali tak terbayangkan sebelumnya, akan bisa ke sana.

Kupang. Ibukota Nusa Tenggara Timur ini, merupakan salah satu kota di Timur Indonesia yang sering disebut-sebut oleh teman-teman, setelah Papua. Beberapa teman sudah sering ke sana, juga karena urusan pekerjaan.

Saat harus transit di sebuah bandara kecil, aku tersadar, bahwa sebenarnya aku belum mengenali Indonesia, bahkan sekedar menghapal nama-nama daerah yang ada.

Dari Makassar ke Kupang, pesawat kami harus transit di Denpasar. Tahun lalu, aku beruntung karena bisa mengendarai motor melalui jalan tol baru, yang belum diresmikan oleh Presiden, dari Kuta ke Nusa Dua. Gratis pula.

Jika di tahun lalu bandara I Ngurah Rai masih dalam proses rehabilitasi berat, maka hari ini aku harus ngos-ngosan karena melangkah cepat menyusuri bandara baru yang nyaman dan lebih megah, yang jaraknya lumayan jauh, untuk melapor ke petugas dan langsung menuju pesawat berikutnya yang akan membawaku dan 4 teman lainnya ke Kupang.

20141029_153648          Bandara Baru I NGurah Rai

Detail Tiang, berukir motif Toraja di Bandara Baru I NGurah Rai

Antri di pintu 1C, telingaku sudah mendengar nama aneh. “Kita tidak salah pesawat kan?” tanyaku ke Darwis, teman satu tim ku dari SulSel. Darwis mengiyakan, setelah kembali dari memperlihatkan boarding pass-nya ke petugas. Sekilas kulihat Pak Robby, bos kami di kantor, juga ikut menyodorkan boarding pass-nya ke petugas. Nampaknya beliaupun ragu.

“Dalam beberapa menit, kita akan mendarat di Tambolaka” demikian pengumuman petugas setelah sekitar 1 jam perjalanan di udara, yang membuat kami bertiga, yang duduk segaris, saling pandang. Pengumuman selanjutnya menyatakan bahwa kami akan transit 20 menit dan diminta tidak meninggalkan pesawat.

Tambolaka itu, dimana yah? Sudah di NTT kah kita? Aku bertanya dalam hati sambil mengaktifkan HP, ingin segera searching dimana letak Tambolaka. Evi, seorang temanku yang duduk di seat belakang, berdiri dan teriak “Sejak jaman sekolah, tidak pernah dengar nama Tambolaka. Ini dimana?”.

Bagaimana mungkin aku tidak pernah mendengar nama Tambolaka? padahal Garuda, maskapai penerbangan terbesar di negeri ini, sudah menjadikannya sebagai tujuan penerbangan.

Yaah, tidak ada sinyal internet di HP ku. Semakin penasaran dengan Tambolaka. Namun kepo-nya Evi membuatnya mendapat jawaban lebih cepat dari pramugara. “Sumba Timur Daya” teriak Evi dari belakang.

Teman Tim SulSel yang duduk di seberangku (foto: Dokumen Pribadi)
Teman Tim SulSel yang duduk di seberangku (foto: Dokumen Pribadi)

Di seberang kursiku, Darwis terlihat sibuk ambil kondisi sekitar bandara kecil ini, yang hanya terdiri dari 1 bangunan terminal penumpang.

Perjalanan panjang Makassar-Kupang yang ditempuh 6 jam, akhirnya berakhir di bandara El-Tari. Penasaran itu masih bertengger di kepala. Sampai hotel, aku harus searching tentang kamu, Tambolaka.

Bagian depan bandara El-Tari
Bagian depan bandara El-Tari
20141029_121433
Food Court di area bandara El Tari
Pajangan jualan majalah dan koran
Pajangan jualan majalah dan koran

20141029_132400

 

Categories
Jejak di 100 Sekolah

Kemanakah Guru Akan Curhat?

“Kami, guru, tidak selamanya bisa mengajar dengan tenang. Senantiasa begini-begini, “ demikian curhat Wali kelas IV, sambil kelima jarinya dikuncupkan, lalu dibuka, lalu dikucupkan dan dibuka lagi, berulang-ulang. Isyarat bahwa beliau senantiasa was-was.

Tak pernah berencana sebelumnya akan hadir di SDN Sungguminasa IV pada sabtu, 18 Oktober 2014 ini. Namun karena butuh seseorang untuk membawa beberapa perlengkapan stand Warung Sosial ke monumen Mandala, maka Relawan terdekat yang bisa dimintai tolong adalah Tim C dan D. Kebetulan mereka sedang mendampingi Nulis Bareng Sobat di sekolah yang jaraknya Cuma 500an meter dari rumah.

Aturan di kelas, guru ataupun Relawan yang bertindak sebagai pendamping, tidak boleh memakai sendal. Saya pun meminta salah seorang teman Relawan, Atifah, untuk mengambil perlengkapan di halaman sekolah, tempat motor saya di parkir.

Afli, seorang Relawan lain, ikut keluar kelas, karena saya menjanjikan sebuah gelang karet kepadanya. Hari ini ada 6 atau 7 orang Relawan yang sedang bertugas (Saya lupa jumlah tepatnya karena hanya melihat sekilas ke arah dalam kelas).

Saya terburu-buru pulang, tatkala Wali Kelas IV yang berdiri di depan pintu ruang Kepala Sekolah, melambaikan tangan ke arah Atifah. Dipanggil Ibu Kepala Sekolah, ujar beliau ke Atifah.

Terlihat agak ragu, Atifah yang berjalan menuju ruang Kepsek, membalikkan badan dan melambaikan tangan mengajak saya ikut. Karena terburu-buru, saya meminta Afli, yang berdiri dekat saya, untuk menemani Atifah bertemu ibu Kepsek.

Namun beberapa detik kemudian, Atifah kembali memanggil saya. Sepertinya saya sudah harus menemui ibu Kepsek, batin saya.

Saya menahan diri untuk tidak masuk ke ruangan tersebut, dan hanya berdiri di depan pintu sambil berusaha menunjukkan ekspresi siap mendengar penuturan ibu Kepsek. Hmm.. kenapa juga saya pake sendal ke sini. Jadi tidak enak hati.

Saya kemarin dipanggil oleh Bapak Sekretaris Dinas, itupun setelah harus kesana kemari, Ibu Kepsek membuka pembicaraan.

Awalnya saya diinformasikan bahwa saya dipanggil ke UPTD, lalu orang di UPTD menyatakan bahwa saya justru dipanggil oleh Kepegawaian di Dinas (Dinas Pendidikan), tapi ternyata bukan Kepegawaian yang memanggil, melainkan Pak Sekretaris Dinas, Ibu Kepsek melanjutkan.

Menit berikutnya, ibu Kepsek bercerita bagaimana Sekretaris Dinas Pendidikan banyak bertanya tentang kegiatan Nulis Bareng Sobat, yang ternyata sudah dimulai di minggu lalu, sebelum surat ijin dari Dinas keluar untuk LemINA.

Sekretaris Dinas rupanya menaruh curiga, atau lebih halusnya, waspada dengan kegiatan Nulis Bareng Sobat. Pertanyaan-pertanyaan umum, seperti apakah menggangu jam belajar, apakah ada pungutan ke siswa, apa manfaatnya bagi siswa, apa yang ditulis, dilontarkan kepada ibu Kepsek.

Untunglah ibu Kepsek dapat menjawab cerdas. Khususnya menginformasikan kepada Bapak Sekretaris Dinas bahwa kegiatan tersebut telah berlangsung sejak semester lalu dan dampaknya sudah kelihatan, meski belum signifikan untuk semua siswa.

Wali Kelas IV yang ikut mengobrol dengan kami, menambahkan pula bahwa siswa kelas V sekarang, yang semester lalu masih duduk di kelas IV dan mengikuti kelas Nulis Bareng Sobat, masih menuntut ingin belajar menulis. Beberapa dari mereka kadang ikut masuk ke kelas IV secara diam-diam untuk ikut kelas menulis, meski sudah dilarang dan diminta kembali ke kelasnya.

Pembicaraan yang awalnya tentang ijin dari Dinas, beralih menjadi curhat Kepsek dan Wali Kelas. Kepsek meminta kami untuk bisa memahami proses birokrasi di Dinas yang terkadang terkesan menghambat. Beliau bercerita bagaimana ia sering dipanggil ke Dinas karena laporan-laporan dari pihak lain atau justru dari orangtua siswa, yang tidak memahami persoalan dan malas untuk mengkomunikasikannya dengan Kepsek sebelum melapor ke Dinas.

IMG-20141002-WA0000

“Padahal saya hampir setiap saat, ada di kantor dan bisa ditemui untuk diskusi, jika ada yang punya keluhan, baik orangtua, komite maupun pihak luar. Mereka lebih suka berprasangka dan melaporkan saya, sebelum tahu fakta di balik kebijakan yang kami ambil di sekolah,” Ibu Kepsek menjelaskan dengan ekspresi kecewa.

Sabtu itu, menurut Kepsek, di saat proses belajar berlangsung di kelas, Kepsek di ruang lain sedang memimpin Rapat Komite Sekolah. Di Rapat tersebut beliau menjelaskan kepada komite sekolah yang terdiri atas orang tua siswa, agar tidak khawatir dengan adanya program Nulis Bareng Sobat di kelas IV. Selain tidak mengganggu proses belajar di kelas, karena menyesuaikan dengan jadwal dan telah didiskusikan dengan wali kelas, juga dijamin tidak akan ada pungutan untuk kegiatan tersebut.

Selama ini, Kepsek berharap bahwa Dinas dan Komite sekolah bisa menjadi wadah baginya untuk menyampaikan dan mendapat solusi atas keluhan-keluhannya. Namun kenyataannya, justru lebih sering beliau bingung, mau mengeluh ke siapa.

Baru-baru ini, beliau ditegur lagi oleh Dinas karena laporan orangtua siswa atas kejadian yang sudah setahun lalu terjadinya. Persoalannya tentang pembelian air isi ulang untuk dispenser di kelas.

Siswa-siswa di kelas berinisiatif dan sepakat untuk mengumpulkan uang jajan mereka di hari itu, agar bisa membeli air isi ulang seharga sekitar 3000-4000 rupiah, karena dispenser belum diisi oleh sekolah. Inisiatif murni dari siswa tersebut, rupanya ditanggapi dengan kecurigaan oleh salah seorang orang tua siswa.

Untuk menghindari munculnya lagi masalah yang sama, akhirnya dispenser dikeluarkan dari kelas. Siswa tak lagi bisa minum air dalam kelas.

Wali kelas punya kisah lain lagi. Menurutnya, anak-anak sebaiknya belajar tidak terbatas dengan buku pegangan saja. Suatu ketika, ada bahan bacaan baru yang dibawa nya ke kelas, yang berupa beberapa lembaran.

Dengan harapan siswanya bisa mengetahui tentang bahan tersebut, Wali Kelas pun menawarkan kepada siswanya untuk menggandakan sendiri dengan jalan foto copy. Biayanya mungkin hanya 500 rupiah, tapi karena ada siswa yang menyampaikan ke orangtuanya bahwa uang jajannya digunakan untuk fotocopy, maka orang tua yang tidak memahami hal tersebut, serta merta protes keras dan menuduh guru melakukan pungutan uang.

Saya hanya bisa mengangguk-angguk mendengar penuturan kedua pejuang Pendidikan di depan saya. Sepatutnya, ada aturan yang jelas tentang batasan pungutan di sekolah. Jika pun sudah ada, mungkin sebaiknya disosialisasikan ke semua pihak, agar menghindarkan kesalahpahaman.

Hanya sekitar 7 menit ngobrol dengan Kepsek dan Wali Kelas, sudah banyak keluhan yang terdengar dari keduanya. Impian beliau berdua untuk memajukan siswa-siswanya, tidak selamanya didukung oleh pihak-pihak yang justru diharapkan bisa membantu mereka.

“Selalu saja kami, guru dan sekolah, yang disalahkan,” demikian kalimat terakhir yang kudengar, sebelum buru-buru berpamitan.