Ini Gaya Hidup! Bukan Sekedar Berbagi

Seperti apa gaya hidup orang perkotaan? Sebesar apa hal itu mempengaruhi pengeluaran keuangan?. Bagi mereka yang terbiasa merencanakan keuangan rumah tangganya dengan teliti, pastinya akan bisa menjawab pertanyaan tadi dengan cepat.

Jika anda belum terbiasa merencanakan pengeluaran, cobalah mencatat pengeluaran anda setiap harinya, selama sebulan. Buat kolom terpisah antara pengeluaran rutin, seperti listrik, air, telepon, internet, asuransi, kursus anak, tabungan haji, dengan pengeluaran dapur, transportasi, rekreasi, dan lain-lain.

Catat hingga pengeluaran paling kecil sekalipun, seperti: beli sekaleng soft drink atau beli pulsa telepon selular.

Setelah genap sebulan, amati catatan pengeluaran anda selama sebulan itu dan temui seperti apa gaya hidup anda, dari pengeluaran tersebut.

Bagi mereka yang memilih gaya hidup sehat, cenderung membelanjakan lebih banyak uangnya untuk mendukung hal tersebut. Dalam sebulan bisa belanja bahan makanan organik, bayar fitness atau aerobik, beli sepeda, belanja minum saat perjalanan pulang jogging, beli suplemen, atau check up bulanan.

Tuk yang memilih gaya hidup sebagai pengejar ilmu, dalam sebulan kemungkinan menghabiskan uang dua kali lipat dari belanja dapur untuk beli buku, bayar seminar, kursus, transportasi bolak balik ke perpustakaan, atau bayar internet lebih besar dibandingkan orang kebanyakan.

Bisa dikatakan, setelah kebutuhan paling dasar, pangan dan sandang yang wajar, orang-orang cenderung membelanjakan lebih banyak uangnya untuk memenuhi kebutuhan gaya hidupnya.

Lalu, gaya hidup seperti apakah yang dipilih oleh orang-orang di depan saya, yang sedang mengunyah makanannya sambil mengamati anak-anaknya yang lari kecil berkeliling dan naik turun perosotan sambil tertawa ceria, tak jauh dari tempat duduk mereka?.

Memilih tidak menebak gaya hidup orang tersebut, saya kembali fokus membahas rencana kegiatan bersama teman-teman Relawan, yang siang itu sedang berkumpul bersama di McDonald.

McDonald merupakan tempat favorit teman-teman Relawan untuk rapat kecil santai membahas rencana kegiatan sosial kami. Setidaknya ada 2 gerai McD yang paling sering kami pilih sebagai tempat rapat di Makassar, yaitu di jalan Alauddin dan Mall Ratu Indah.

“Gaya banget, masak Relawan anak, memilih mcD untuk rapat?” demikian protes seorang teman saya di awal. Bagi saya, makan dan kumpul-kumpul di mcD, untuk ukuran warga kota besar seperti Makassar, masih wajar. Toh, harganya lebih murah daripada tempat lain dan masih cocok tuk kantong anak mahasiswa.

Beberapa teman menyatakan, mcD mudah dijangkau dari kampus dan kantor masing-masing (kami terdiri dari mahasiswa dan pegawai yang berasal dari kampus dan kantor berbeda-beda), ruangan ber-AC, suasananya santai, serta ada wifi dan colokan listrik untuk buka laptop. Alasan terakhir adalah yang paling kuat, karena terkadang saat rapat, harus buka beberapa file untuk mendukung pembahasan kami.

Hal lain yang membuat kami suka dari McD, karena McD sejalan dengan gaya hidup kami. Bukan gaya hidup perkotaan lho, melainkan gaya hidup berbagi.

Teman-teman menganggap budaya berbagi, tidak sekedar dipandang sebagai gerakan peduli atau karena anjuran agama.

Seperti saya ungkapkan di awal tulisan ini, bahwa orang-orang cenderung membelanjakan lebih banyak uangnya untuk memenuhi gaya hidupnya, maka tatkala “berbagi” menjadi gaya hidup, maka anda takkan segan dan berfikir panjang untuk mengeluarkan sejumlah uang tuk berbagi.

Lupa tepatnya, kapan mengenal RMHC dari kotak donasi yang diletakkan di depan meja kasir. Namun sejak bulan lalu, gara-gara penasaran dengan sticker di pintu masuk McD yang bergambar strip merah dan tidak dibuat lurus, lebih menyerupai tulisan tangan, saya bisa tahu bahwa RMHC punya program baru yang keren. Stripes for love, hope, joy, smile.

Sticker Stripes For Love di Pintu Masuk (Foto: Koleksi Pribadi)

Sticker Stripes For Love di Pintu Masuk (Foto: Koleksi Pribadi)

Menurut saya, ajakan membeli baju kaos atau payung yang bercorak Stripes for Love ini, lebih dari sekedar ajakan berbagi tuk anak-anak penderita kanker, melainkan turut memudahkan pelanggannya yang peduli, untuk menemukan cara berbagi yang lebih praktis.

Saya teringat pembicaraan dengan seorang teman kira-kira satu atau dua tahun lalu, yang kebetulan ikut rapat juga siang itu. “Bunga, andai setiap orang berlomba-lomba ingin memiliki barang-barang donasi, daripada barang branded yang harganya bisa 4 sampai 5 kali lebih mahal, mungkin banyak orang yang akan terbantu”.

Pembicaraan itu mengingatkan betapa bahagianya kami saat memakai kaos Relawan anak LemINA, atau kaos Penyala Makassar. Membayangkan teman-teman bukan lagi berlomba-lomba memakai barang branded, tetapi berkompetisi untuk memakai segala hal berbau donasi.

Cobalah anda membayangkan, saat menyetor uang untuk membayar makanan yang dipesan hari ini di sebuah restoran cepat saji, atau baju branded di mall, atau tiket untuk nonton bioskop, di luar sana, ada anak-anak Indonesia yang makan dengan lauk seadanya, ada yang sibuk mencuci seragam sekolahnya yang kusam, karena hanya warisan dari kakak-kakaknya, dan ada yang tak pernah menonton lagi karena harus terbaring di rumah sakit melawan kanker.

Jika anda tidak akan kekurangan uang karena memenuhi gaya hidup, maka percayalah anda pun takkan berkekurangan hanya karena menyisihkan uang untuk sekedar beli baju kaos donasi seharga 50 ribu tuk anak-anak kanker saat anda berkunjung ke McD, atau menyelipkan uang di kotak donasi, depan kasir, tiap beli satu baju baru, atau merelakan uang kembalian saat belanja di mart-mart.

Teliti kembali catatan pengeluaran anda bulan ini, berapa yang telah dihabiskan untuk belanja gaya hidup, yang tidak mendesak, dan berapa banyak yang dikeluarkan untuk berbagi kepada sesama.

Orang berani mengeluarkan lebih, untuk memenuhi gaya hidup guna menyenangkan hati dan membuat hidupnya lebih bahagia, maka cobalah menjadikan gaya hidup berbagi sebagai gaya hidup baru, yang menutrisi hati dan membuat hidup lebih indah.

Advertisements

1 Comment (+add yours?)

  1. novie @vierose22
    Oct 30, 2014 @ 07:09:09

    berbagi untuk sesama memang terapi sehat untuk jiwa dan sama sekali gak bikin miskin.apalagi berbagi di tempat seasyik McD.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: