Dimensi lain dan tantangan Gravitasi di Film Interstellar

Film terakhir yang bikin aku capek nonton adalah Inception, sekitar tahun 2010 atau 2011. Siang ini, aku terjebak, tak terencana, nonton film yang benar-benar buat capek lagi menontonnya, bersama Yusti, seorang Relawan Anak.

Karena alasan demo dan mengurus berkas bank LemINA, aku pulang siang dan tak balik lagi ke kantor. Jarak Bank dan Mall yang cuma puluhan meter, menggoda kami berdua tuk melangkah ke Bioskop, setelah urusan berkas di Bank selesai.

Yusti mengajak nonton Big Hero 6, tapi aku menolaknya, ah film animasi, film yang lain saja. Entah mengapa tak tertarik, padahal aku tergolong orang yang banyak menonton film animasi.

Lalu nonton apa? tanya Yusti kemudian. Searching sinopsis di website Cinema XXI. Menemukan judul Insterstellar.

Dari judulnya, bisa ditebak jika ini film luar angkasa. Jika baca sinopsis, lalu membayangkan luar angkasa, maka Aku langsung menghubungkan dengan film Star Trek atau Avatar atau Armageddon. Masih film yang agak ringanlah tuk ditonton, pikirku.

Saat waktu di Bumi akan berakhir, sebuah tim penjelajah melakukan sebuah misi paling penting dalam sejarah manusia. Perjalanan antar galaksi ditempuh oleh Cooper (Matthew McConaughey) dan Brand (Anne Hathaway) untuk mengetahui apakah umat manusia masih memiliki masa depan. Demikian isi sinopsis film Interstellar.

Saat itu, aku langsung menebak bahwa ini adalah film heroik yang melibatkan luar angkasa, hingga akhirnya kami berdua memutuskan untuk menontonnya dan menikmati ketak terdugaan film ini.

Baru di sepuluh menit pertama, Aku dan Yusti sudah menegakkan punggung, memasang tali pengaman dan melipat meja di depan kami. Eits..ini bukan di pesawat. Tapi betulan, lho. Kami berdua duduk tegak karena harus berfikir.

Ini film maunya apa? Kenapa jadi horor? Yusti berucap protes saat adegan anak perempuan Cooper yang selalu menemui hal-hal aneh dalam kamarnya.

Bukan horor lah, mungkin perbuatan alien. Aku mencoba menghubung-hubungkan dengan luar angkasa.

Rupanya film fiksi science. Ampun. Sepanjang film harus konsentrasi memahami setiap adegan dan percakapan. Capeknya tuh di sini (sambil tunjuk kepala).

Meski kami berdua berlatar belakang ilmu pasti, pernah belajar Fisika, dan suka ngegosip, tapi tokoh-tokoh Fisika dan teorinya bukanlah masuk dalam daftar orang yang kami gosipi.

Mengulas Gravitasi, Dimensi Waktu dan Black Hole yang misterius. Tiga hal ini sudah pernah kudengar, terasa akrab dengan gravitasi, namun tidak benar-benar mendalami ilmunya.

Film ini mengisahkan tentang seorang yang pernah bekerja di NASA, bernama Cooper, yang memiliki seorang anak perempuan. Anak perempuannya selalu melihat kejadian aneh di dalam kamarnya, yang diyakini sebagai ulah dari sebuah atau seorang makhluk. Entah makhluk apa.

Pertanian yang gagal dimana-mana menjadi salah satu indikasi terancamnya manusia akan kehidupan di dunia.

NASA kemudian merancang sebuah misi rahasia yang mengirimkan orang-orangnya ke luar angkasa, melalui Black Hole, menjawab sebuah formula fisika yang memasukkan notasi gravitasi di dalamnya, guna mencari planet lain yang bisa menjadi tempat hidup manusia.

Cooper diminta kembali oleh NASA untuk melakukan perjalanan luar angkasa tersebut. Sebuah tawaran yang diterimanya karena alasan ingin menyelamatkan anak-anaknya.

Rencananya, manusia akan dipindahkan ke planet baru, yang akan ditemukan tersebut. Agak gila, bukan?. Namun bukan menjadi ide gila, jika mendengar percakapan-percakapan ilmiah dari pemainnya.

Acung jempol tuk penulis skenarionya. Pasti butuh riset yang lama untuk menulisnya. Film ini, meski fiksi, tapi harus dibuat berdasarkan ilmu Fisika, agar masuk akal.

Sepanjang film, Aku dan Yusti seringkali berdiskusi. Kami bahas satuan Gravitasi, Dimensi Waktu, sampai mengaitkan dengan lama waktu di akhirat. Hingga sempat keluar pernyataan, Al Quran sesungguhnya telah memberi menjelaskan tentang hal ini. Setelah terpecahkan oleh akal dan berbentuk ilmu pengetahuan, barulah kita menyadarinya.

Film ini banyak menekankan kepada pengembangan teori gravitasi. Bagiku, seolah membandingkan gravitasi yang ada di Bumi dan gravitasi milik Black Hole. Lubang hitam di angkasa ini, mampu menarik semua yang ada di sekelilingnya. Termasuk menarik waktu?. Agak sulit aku menerjemahkan pesan ilmiah film ini.

Aku tak mungkin mengulas film ini secara ilmiah. Meski masih berkutat dengan rumus-rumus yang menggunakan angka gravitasi, tapi ilmu Fisika ku minim sekali, apalagi mau membahasnya dari sisi Al Qur’an? oh no! takut salah.

Minggu lalu, sempat nonton acara On the Spot di TV. Acara itu menampilkan 7 kejadian yang berkaitan dengan penjelajah waktu. Beberapa gambar menunjukkan kejadian berpuluh dan beratus tahun lalu. Sebuah foto, sempat menangkap gambar perempuan memakai handphone, padahal saat itu, handphone belum ditemukan. Benarkah penjelajah waktu itu ada?.

Kembali ke film Insterstellar. Film ini banyak mengulas dimensi keempat, yaitu waktu. Waktu penjelajahan mereka di angkasa luar terhitung pendek, namun waktu di bumi sudah berputar lebih lama.

Cooper yang meninggalkan puterinya yang usia belasan, setelah kembali ke bumi, si Puteri sudah lebih tua dibanding dirinya.

Satu jam perjalanan melintasi galaksi, sama lamanya dengan beberapa tahun di bumi. Itulah mengapa Yusti akhirnya bertanya, mengapa sama dengan konsep waktu di akhirat?. Apakah akhirat itu di luar angkasa?. Please, jangan tanya Aku, Yusti. Karena kisah dimensi waktu, seperti Isra’ Miraj dan Ashabul Kahfi pun, masih buat Aku bingung.

Akhir dari film ini, menunjukkan betapa dimensi keempat, yaitu waktu, bisa membuat seseorang menjadi penjelajah waktu. Makhluk tak nampak yang dirasakan kehadirannya oleh si puteri kecil Cooper adalah dirinya sendiri di masa akan datang, yang mengirimkan pesan ke anaknya.

Aku mencoba mengaitkan dengan hal yang sama kurasakan berpuluh tahun lalu. Dulu, terkadang aku merasa sudah pernah hadir di sebuah tempat, dengan setting ruangan yang persis sama, orang-orang yang yang sama, bahkan isi percakapan yang sama. Padahal kejadiannya baru hari itu.

Seorang teman pernah berkata, “Itu adalah bagian dari mimpi-mimpi yang terlupa. Terkadang kita tidur, merasa bermimpi, namun lupa apa mimpinya. Kemudian teringat, tatkala sudah terjadi”. Benarkah itu bagian dari mimpi yang hilang? atau Aku pernah menjelajah melintas waktu dalam tidur?. Entahlah.

Melihat barang elektronik seperti televisi dan handphone, mengaitkan dengan kecepatan suara dan kecepatan cahaya yang dibahas di film, menimbulkan penasaranku, “inikah bentuk dari pelibatan dimensi keempat ke kehidupan kita?”.

Ada begitu banyak tanya dari menonton film ini. Ingin merasakan sensasi penasarannya? silahkan nonton sendiri filmnya dan siap-siap mengerutkan kening sepanjang pemutarannya atau baca buku Fisika dulu sebelum nonton.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: