Jika Saya Penulis Assalamu Alaikum Beijing

Jangan baca bukunya, sebelum nonton filmnya. Nanti kecewa. Demikian nasehat seorang teman tentang novel “Assalamu Alaikum Beijing”. Tapi saya telanjur sudah membacanya, meski filmnya belum diputar di bioskop saat itu.

Minggu lalu, baru tahu jika film ini sudah tayang, saat seorang teman teriak di group Whatsapp tuk ajak nonton bareng.

Lalu seorang teman chat personal ke saya karena tak enak menuliskannya di group.

Saya sudah nonton kemarin, kak. Not recomended. Teman saya meyakinkan saya untuk tidak memenuhi ajakan teman yang lain.

Ternyata tak bisa menghindari menonton film yang diangkat dari novel Asma Nadia tersebut. Sahabat SMA saya, Suarni, berkunjung ke Makassar untuk urusan pekerjaan. Di hari terakhir ia di Makassar, saya dipaksa menemani nonton film itu.

Tak menyangka, jika sahabat saya pun sudah pernah baca novelnya. Sepanjang film, tak henti-hentinya ia mengeluh kecewa. Ada apa dengan film ini?

 

Fungsi kontrol Penulis atas film

Meski alur ceritanya hampir sama meski tak serupa dengan novelnya, Suarni tetap tak puas. Banyak bagian yang diprotesnya.

Berbeda dengan Suarni, saya bisa memahami, tatkala Zhongwen mendadak bisa berbahasa Indonesia di Film ini. Meski menurut saya, film ini takkan berkurang nilai ceritanya jika Morgan menggunakan bahasa Inggris. Penonton pasti akan bisa mengikuti.

Kan mereka sudah biasa nonton film asing dengan bantuan teks.

Jika saya menjadi Penulis novel ini, saya akan menjadi sedikit agak berkeras di bagian-bagian tertentu. Mengapa? Karena saya ingin pesan yang ditangkap oleh pembaca novel, juga dapat tercermin dalam film.

 

Perjalanan seorang muslimah dan sejarah Islam

Film ini mampu menggambarkan dua hal tersebut dengan jelas. Walau sahabat saya tidak nyaman dengan adegan mengejutkan di masjid Niujie. Hah? Jadi pemandu pengganti? Haruskah?

Saya mencoba menebak-nebak penyebab Zhongwen dijadikan pemandu pengganti oleh penulis skenario.

Tak menemukan hubungannya, kecuali Zhongwen kemudian menemani Asmara kemana-mana dan kemudian memaksakan munculnya konflik tak terbuka antara Zhongwen dan Dewa.

Sebuah alur cerita yang membuat sahabat yang duduk di sebelah saya, menjadi geram.

 

Foto: koleksi pribadi

Foto: koleksi pribadi

 

Rasa suka yang tak terucap

Cara bertutur Morgan, pemeran Zhongwen, serta bahasa tubuhnya, jelas-jelas menunjukkan rasa sukanya pada Asma. Penonton yang belum pernah baca novelnya, pasti sudah menebak di awal film bahwa mereka berdua pastinya akan berjodoh.

Kemana rasa penasaran Zhongwen dan Asma akan hubungan pertemanan mereka, seperti dalam novel? Mengapa Zhongwen yang disulap sebagai pemandu pengganti itu, mendadak begitu mudah ngomong dengan banyak kalimat puitis? Mengapa bukan seadanya saja?

 

Lokasi

Tak terhitung berapa kali sahabatku berujar protes. Ih! Kenapa pula ikut-ikutan ke Beijing?, nada suaranya meninggi saat adegan Dewa berkunjung ke apartemen Asma.

Seolah semua dibawa ke Beijing. Sekar dan suaminya, serta Dewa, semua di Beijing. Bahkan kantor Asma pun punya cabang di Beijing

Menurut saya, bagian Dewa mencari Asmara hingga ke Beijing adalah bagian yang tidak penting. Khususnya adegan jalan bertiga Asmara, Zhongwen dan Dewa.

Jika ingin memperkuat gambaran Dewa yang masih mengejar-ngejar Asmara untuk kembali dan menikah dengannya, setelah menyakiti, tidak harus dengan cara tersebut.

Untuk memberi kesan ceriwisnya Sekarpun, tidak harus memboyong Sekar ke Beijing. Bukankah novel menggambarkan, bagaimana mereka hanya saling bercerita seru melalui telpon?.

 

Kesan yang hilang

Jujur. Saya kehilangan penggambaran sosok Zhongwen yang takjub akan etika Islam, yang tergambar dari laku Asma, yang enggan bersalaman dan bersentuhan.

Zhongwen yang saya kenal sebagai laki-laki yang tenang dan sabar untuk urusan cinta, tak kutemui dalam film.

Film inipun sama sekali tak mengggambarkan perjuangan Zhongwen, laki-laki China yang tidak begitu romantis, mengikuti kata hatinya tuk mencari-cari Asma? Mengapa begitu mudahnya mereka bertemu?. Benarkah murni karena alasan durasi semata?.

Saya sungguh membayangkan ada adegan Zhongwen dengan wajah nyaris putus asa, saat mencari Asma kemana-mana.

Lalu, perjuangan Zhongwen melawan batin dan keluarga besarnya, sebelum memutuskan memeluk Islam pun, kurang tajam. Penonton lebih menanti Ia dan Asma-nya bertemu kembali. Menunggu akhir yang bahagia.

Bagaimana dengan sosok Asmara, yang dipanggil Ashima oleh Zhongwen?

Sebagai muslimah yang memegang etika bergaul dalam Islam, saya bayangkan sutradara mengarahkan Revalina untuk berakting dengan gestur gerak tubuh dan gaya ngomong yang berbda dengan di film ini, khususnya saat jalan berdua dengan Zhongwen.

Masak baca buku berdua, dengan jarak bergitu dekat? protes Suarni.

Satu-satunya sosok hilang yang bisa kupahami di film ini adalah Sekar. Ia digambarkan sebagai sahabat Asma, bertubuh besar dan berkerudung panjang. Meski Laudya Chintya Bella tak berpostur dan berpenampilan seperti itu, namun dengan mempertahankan karakternya yang ceriwis, membuat sosok Sekar tak beanr-benar berbeda di film ini.

 

Menanti adegan romantis

Mungkin saya menaruh harapan tinggi kepada Sutradara, tuk mampu menerjemahkan novel dengan baik, atau justru kepada Asma Nadia, yang bagi saya, kurang ketat dalam mengawal cerita film yang diangkat dari novelnya.

Novel “Assalamu alaikum Beijing”, menggelitik hati kecil pembaca, bahwa romantisme dari kisah cinta di buku ini, justru tatkala tak banyaknya kalimat-kalimat puitis yang terucap, namun terganti dengan sederet tingkah laku dan pengambilan keputusan oleh dua tokoh utamanya, yang lebih romantis dibanding 1000 puisi cinta.

Sungguh saya berharap, ada adegan saat-saat long distance relationship, dimana Revalina menampakkan akting penasarannya dan mencoba menebak-nebak perasaan Zhongwen ke dirinya, melalui email dan pesan singkat di telepon selularnya.

Kemana semua itu? Yang ada, seolah Asma dan Zhongwe sudah saling memahami perasaan suka mereka sejak di Beijing.

Satu lagi, Suarni dan saya tak berhenti membahas hingga berpisah, adalah mengapa Zhongwen ke Jakarta karena email balasan dari Sekar, yang memintanya menemui Asma di Indonesia?.

Mengapa bukan karena keinginan ia sendiri, akibat dari panggilan tak terbendung dari dalam hatinya?

Bukankah cinta yang seharusnya mengantarkan? Bukan karena diundang.

Kemana kisah romantisme yang tidak biasa, yang dilukiskan oleh Asma Nadia dalam bukunya?

Salahkah jika seorang Penulis ngotot kepada Sutradara atas film yang diangkat dari karyanya?

Advertisements

3 Comments (+add yours?)

  1. Mugniar
    Jan 09, 2015 @ 07:34:05

    Waaaah ini bedah film.

    Memang ya rata2 film .. kalo sudah baca bukunya, filmnya jadi terasa hambar …

    Yah .. begitulah industri film kita ….

    Reply

    • bungatongeng
      Jan 09, 2015 @ 13:52:06

      Tapi yang ini, benar2 melenceng. Dua tokoh yg tidak bisa bhs Indonesia, tiba2 bisa bhs Indonesia. Lbh parh lagi, semua tokoh utama seolah dipaskakan semua ke Beijing. Padahal sebenarnya, di novel, hanya 1 tokoh utama yg ke Beijing, jadinya malah berlima di film. Aneh. Maksa banget. hihihi

      Reply

    • bungatongeng
      Jan 09, 2015 @ 13:54:36

      Penulis novel, Asma Nadia, sebenarnya menitipkan pesan bgm ada sekat antara laki2 dan perempuan dalam bergaul. Termasuk tdk berjabat tgn. Bahkan sejarah kebesaran Islam di Beijing, menjadi titik utama dari novel. Karena tokoh perempuan, Asma, adalah reporter.

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: