Makassar in Cinema 2; nonton karya anak Makassar

Aku harus jadi penonton pertama, batinku. Maka kupilih sesi pertama untuk menonton. Karena mendengar cerita dari orang lain, sebelum aku nonton, sungguh tak enak.

Dari semua teman-teman yang sudah membeli tiket, sepertinya hanya aku seorang yang memilih sesi pertama di hari pertama, yang putar di pukul 15.30 sore, 23 April 2015. Pemutaran film pendek ini, sebenarnya berlangsung selama 3 hari, dimana setiap harinya terdiri atas 4 sesi. Setiap sesinya, akan diputar 4 film pendek.

Keempat film pendek yang ditayangkan merupakan karya dari peserta workshop Makassar in cinema 2, yang berlangsung selama 4 bulan. Total waktu untuk menonton keempatnya adalah kurang lebih 60 menit.

Pukul 15.25 wita sudah tiba di Gedung Kesenian SulSel, Societeit de Harmonie, bersama 3 orang teman yang berhasil kujebak di hari pertama ini.

Bagian depan ruang pemutaran film, terpajang poster keempat film dan sebuah banner event, Meditatif, Makassar in Cinema.

Sebagai orang awam dan tidak terlalu paham tentang film, cuma suka nonton, belum sampai tahap hobby berat, aku mencoba mengulas kesan menonton keempat film pendek tersebut.

 

Dasar Gelap

Di poster film Dasar Gelap, sebuah kalimat bertuliskan “Di bawah sana ada jawaban”, disertai beberapa gambar adegan, yang salah satunya gambar seorang laki-laki yang sedang menengok ke dasar sebuah sumur.

Pasti sumur itu, yang dimaksud dengan dasar gelap, tebakku.

Bertanya-tanya, saat adegan-adegan awal, 3 buah pot di shoot agak lama. 2 buah pot Anggrek yang tidak subur dan 1 pot Mawar yang sedang berbunga.

Seolah sengaja memberi penegasan atau clue, anak muda yang jadi pemeran utama, memutar pot bunga mawar, yang kelopak merahnya sedang mekar sempurna. Menurutku, pastilah mahkotanya sengaja diletakkan membelakangi penonton, sehingga akan ada adegan memutar pot hingga kelopaknya menghadap ke penonton.

Adegan itu membuatku lebih fokus kepada mawar merah daripada aksi pembunuhan dan penceburan mayat ke sumur di pekarangan rumah. Berusaha menebak-nebak keterkaitan mawar dan sumur berdasar gelap.

Poster film dasar gelap

Poster film dasar gelap

Film ini menggambarkan sang tokoh utama yang membunuh laki-laki yang bertamu ke rumahnya, setiap setelah menyajikan secangkir kopi. Disuguhi kopi, berarti tamu kan? aku menebak.

Nyaris tak ada dialog dalam fim ini, hingga tamu ketiga datang. Ia masuk begitu saja ke ruang tamu dan membuka pembicaraan. Ini adalah dialog pertama dalam film dasar gelap.

“Apa kabar? Ibumu dimana? Ada kopi?”

Duh, ini ayahnya yang pulang kantor atau pamannya atau tamunya? Seperti dua tamu sebelumnya, laki-laki itupun diceburkan ke dalam sumur setelah dibunuh.

Ibu. Ada seorang ibu di rumah tersebut. Apa saja yang dilakukan oleh sang Ibu, hingga tak menyadari pembunuhan dalam rumahnya?

Adegan berikutnya, menjawab. Tokoh utama yang tak kutahu namanya ini, terbangun di pagi hari dan tiba-tiba duduk tercengang menatap bunga Mawar di atas meja kamarnya.

Detik berikutnya, ia melangkah keluar kamar. Matanya mencari-cari pintu kamar mana yang akan dibuka. Terlihat sutradara ingin menggambarkan kebingungan si pemeran utama.

Sebuah pintu kamar dibukanya dan nampak seorang perempuan yang sedang duduk bersolek. Perempuan itu berbalik dan melempar senyum menyapa.

Ibunya! Kali ini aku bukan menebak, tapi benar-benar yakin. Hmm, Mawar merah dan bibir sang Ibu yang berlipstik merah.

Korban terakhir adalah Ibu.

Di adegan kedua dari terakhir, pemeran utama kembali memegang pot berisi Mawar di teras rumahnya. Apakah Mawar yang sama dengan di meja kamar? Film ini membuatku menerka-nerka. Aku tahu, Ifa yang duduk di sebelahku pun pastilah berupaya keras menerka-nerka.

Aku terlalu sibuk menghubung-hubungkan antara Mawar, tamu laki-laki, kopi, pembunuhan, sumur dan Ibu. Hingga lupa menangkap keanehan dan bertanya, mengapa hanya mayat sang Ibu yang mengapung?

Kesimpulanku, sang Ibu adalah seorang yang sering didatangi tamu laki-laki dan si anak bertugas membuatkan kopi, tamu-tamu ibunya. Kupikir, si anak mulai muak dengan ulah ibu dan tamu –tamunya, hingga membunuh mereka satu persatu.

Ternyata aku salah.

Seperti kata Emi, ada banyak versi untuk mengulas film Dasar Gelap. Ya, film ini memberi kata kuncinya, namun tetap membuat penonton menerka-nerka.

Ifa yang masih bingung dengan cerita yang ingin disampaikan film ini, bertanya ke Riri. Film ini rupanya bercerita tentang seorang anak psikopat, yang membuang mayat-mayatnya korbannya ke sumur. Mayat itu tak pernah terlihat lagi di sumur, karena sang Ibu yang menyingkirkannya. Saat ibu yang menjadi korban, tak ada lagi yang melakukan itu, sehingga mayatnya nampak terapung di dalam sumur.

The Last Thread

Nah, ini dia yang paling kutunggu. Ada Riri Indah Febriany, relawan nulis bareng sobat LemINA yang turut campur tangan di film ini. Selain bertindak sebagai art direction, Riri juga ternyata menjadi producer. Ada kak Luna Vidya juga yang menjadi pemeran utama.

Karena Ia sudah menjelaskan bahwa tugasnya adalah memastikan semua property, termasuk property detil sekalipun, aku jadinya fokus memperhatikan hal tersebut sepanjang penanyangan.

Tirai jendelanya lucu. Besi gantungannya bukan dipasang di atas bingkai jendela, tapi malah melintang di bagian tengah. Menarik perhatianku karena ada adegan pemeran utama menarik tirainya. Aku harus protes ke Riri tentang tirai itu.

Kritik langsung kulemparkan saat chatting di whatsapp group di malam hari. Rupanya bukan disengaja, namun karena memang dibuat seperti itu oleh pemilik rumah.

Seperti film sebelumnya, film the last thread pun minim dialog. Satu-satunya kalimat yang bisa tertangkap oleh telingaku, yang diucapkan oleh seorang pelanggan jasa menjahit si pemeran utama, adalah kalimat

“Banyak jahitan ta’ di’, bu? Seperti anak ta,”

Jahitannya banyak ya, bu. Seperti anak, ibu.

Bagiku film ini menggambarkan tentang seorang Ibu yang mengembalikan anaknya yang hilang. Terlepas benar tidaknya cara yang ia pilih.

Foto bareng dengan Ibu tukang jahit di film the last thread

Foto bareng dengan Ibu tukang jahit di film the last thread

Seperti apakah tatkala seorang Ibu tinggal serumah dengan anak satu-satunya, namun seolah anak itu tak pernah ada? Sebagai seorang yang suka ber-monolog, kak Luna memang lihai dalam mengungkapkan rasa dalam akting tanpa perlu mengeluarkan sepatah katapun. Nontonlah! Tuk melihat bagaimana cara ia menyampaikan emosinya ke penonton.

Siapa sutradaranya? Ingin bertanya, mengapa ada adegan si Ibu memegang pisau sambil menangis? Itupun setelah sebelumnya, batal mengambil pisau yang lainnya. Seolah sedang memilih pisau yang tepat.

Jujur, adegan itu membuatku tak sabar, ingin melihat seperti apa Kak Luna akan berakting menikam anaknya sendiri. Apakah karena anaknya seorang transgender, sehingga cerita ini dibuat, tuk menunjukkan betapa tak semua ibu bisa bersabar dan menerima anaknya, hingga mampu menghujamkan pisau?

Ah, tertipu. Saat menunggu adegan pembunuhan sadis, yang ada malah sang anak meninggal saat sarapan.

Meninggalnya pun, menyebabkan aku terlibat debat kecil dengan Ifa.

“Ternyata diracuni yah?”

“Tidak kak, menelan jarum dalam minumannya. Kan last thread. Jarum terakhir”

Sempat berfikir, apakah kata thread dalam bahasa Inggris adalah jarum? Tapi karena Ifa adalah lulusan sastra Inggris, aku berhenti mencari tahu jawabnya.

Mayat kaku yang terbaring dengan mengenakan jas rapi, serta didandani layaknya laki-laki, seolah menunjukkan bahwa sang pemeran utama berhasil menemukan kembali anaknya, meski tanpa nyawa lagi.

Penasaran dengan tokoh sang anak. Suara batuknya, perempuan banget, meski saat sarapan dengan baju tidur, terlihat jelas dadanya, bagai papan.

Belakangan baru tahu, jika namaya Abdul Rahim, anak UIN Alauddin dan memang lumayan gemulai di keseharian. Duh!

Di group chatting, Riri meluruskan bahwa the last thread yang dimaksud adalah benang terakhir yang sudah berupa jas, yang dibuatkan sang Ibu untuk anak lelaki satu-satunya.

Ifa, bukan jarum, tapi benang.

Pantaslah, ada adegan kak Luna menatap lama ke jas hitam yang tergantung di dinding. Kupikir, jas milik suaminya yang telah tiada.

 

Pencuri Mangga

Mereka bilang mangga itu manis. Ya, film ini menggambarkan bagaimana pencuri mangga tidak menikmati manisnya mangga. Tapi justru pahitnya menerima hukuman berat.

Poster film pencuri mangga

Poster film pencuri mangga

Jika di film the last thread, ada Riri yang ikut ambil bagian dalam pembuatannya, di Pencuri mangga, ada Sultan. Teman Kelas Inspirasi Gowa, yang bergabung di komunitas kamera lubang jarum, yang pernah ikut membantu saat kegiatan LemINA di pulau Sarappo.

Kata Riri, film pencuri mangga bergenre Surialisme. Sarkasme yang berbungkus komedi. Tapi sayangnya, aku jarang tertawa. Cuma senyum sesekali.

Film ini nampaknya sebagai bentuk sindiran kepada peran tokoh-tokohnya. Dandanan anehnya, menggambarkan komedi.

Pak Hakim yang memakai headset, penggambaran tuk hakim yang tak bersedia mendengar apapun dari para terdakwa atau saksi. Yang ada, hanya melempar tanya, tanpa mau tahu jawabannya.

Hakim anggotanya ada dua orang. Satu memakai penutup mata dan satunya lagi mengenakan masker mulut dari uang. Menyindir oknum penegak hukum yang menutup mata dengan fakta sebenarnya dan bisu karena mulutnya yang disumbat uang.

Jaksa penuntut, pengacara, petugas keamanan, hingga pengunjung sidang, semua didandani bak badut. Mereka yang memerankan profesi mereka laksana badut yang lucu dan palsu, ikut tersindir.

Aku tidak terlalu suka dengan genre satu ini. Tapi menurutku, tak mudah membuat film bergenre seperti ini. Semua yang terlibat dalam pembuatannya harus berfikir keras untuk menggelitik rasa dari penonton. Berbungkus komedi, namun bukan film komedi, menurutku.

 

Burassingang (Bersin)

Aku tak tahu seperti apa penentuan urutan pemutaran keempat film Cinema in Makassar ini. Apakah diurut berdasarkan kualitas filmnya atau cepat lambatnya film tersebut selesai dikerjakan atau diundi sebelumnya. Yang pasti, film terakhir ini yang kufavoritkan.

Saat melihat posternya, di luar tadi, aku sama sekali tidak merasa tertarik atau penasaran. Burassingang (bersin), apa yang menarik dari kata itu? Bahkan tagline “menanti kematian yang tak diinginkan” juga sama sekali tak menarik bagiku.

Harus menontonnya terlebih dahulu, tuk tahu bahwa film ini menarik.

Mitos. Banyak film yang dibuat dengan mengangkat mitos tertentu.

Karena tidak terlalu percaya mitos, aku jadi tak pernah tahu bahwa ada mitos tentang bersin yang dikaitkan dengan kematian.

Tahu bahwa film ini bercerita tentang sebuah mitos pun, setelah ada adegan pemeran utama bersin di depan mayat dan kemudian ditegur oleh seorang nenek dalam bahasa Makassar “jangan bersin di depan mayat, nanti kamu mati”

Lha, semua orang bakal mati. Namun bagaimana seseorang merespon sebuah mitos yang terkait dengan kematian? Tentu saja berbeda-beda. Ada yang sepenuhnya menyerahkan kepada Allah, ada yang seolah menyerahkan ke Allah namun masih tetap was-was, dan ada pula yang seperti pemeran utama film ini, menanti mitos itu benar-benar terjadi pada dirinya. Tentunya karena ia meyakini benar bahwa mitos tersebut bukanlah sekedar mitos.

Justru setelah di akhir film, aku baru mencoba mencerna adegan awal, yang tadinya membuatku berbisik ke Ifa “perpindahan adegannya lambat sekali”. Kebiasaan nonton film action, kayaknya.

Adegan pertama adalah seorang anak muda yang terbangun di pagi hari atau mungkin malah siang. Karena aku menangkapnya sebagai anak muda yang malas. Matanya susah dibuka, menguap berkali-kali, sesekali mengucek-ucek wajahnya dengan tangan, malah memukul-mukul pipi, seakan berusaha keras untuk benar-benar terbangun.

Belakangan, aku bertanya sendiri dalam hati, tadi itu adegan memaksa diri bangun atau memastikan bahwa dirinya masih hidup dan bukan meninggal?

Lihat trailer film sebelum penayangan, benar-benar mengecohku. Kupikir film ini tentang geng motor atau anak muda yang suka tawuran, karena sibuk mengumpulkan semua benda tajam dalam rumahnya.

Pemeran utama digambarkan sebagai anak muda yang mengurung dirinya dalam rumah, hanya berkegiatan hanya dalam rumah, sambil menanti kematian menjemputnya. Hal itu terjadi setelah ia ikut melayat.

Saat sedang membaca Al Quran di depan mayat. Ia tiba-tiba bersin dan ditegur dengan pernyataan bahwa ia akan mati karena bersin di depan mayat. Mitos itulah yang membuat film ini jadi menarik.

Biasanya, film terkait mitos akan mengarah ke horor. Tapi film satu ini, berbeda.

Bagi yang sudah nonton, pasti akan mengingat bagaimana adegan mengumpulkan semua senjata tajam dan meletakkan dalam sebuah laci, bukanlah adegan mengerikan tapi justru menjadi lucu.

Pemeran seakan percaya bahwa mitos itu bisa membuat benda tajam mampu membunuhnya, dengan cara yang mungkin tak ia duga.

Saat adegan pemeran utama naik ke atas kursi untuk membetulkan kipas anginnya yang rusak dan kemudian terjatuh tak bergerak. Aku spontan berkata dalam hati, Ah, rupanya meninggalnya bukan karena senjata tajam, melainkan jatuh dari kursi.

Menit berikutnya, weker berbunyi, tangan pemeran utama muncul di layar, mematikan alarm. Yaah, batal meninggal lagi.

Sampai kapan ia akan mengurung diri dalam rumah dan menanti kematiannya? Nonton yuk!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: