Manik-manik dan syal dari Tanah leluhur

Wisata makam, ya? Demikian candaan yang sering kulontarkan, jika ada teman yang akan ke Tana Toraja. Sebagian besar objek wisata di sana, memang berupa lokasi pemakaman tua yang tidak lazim.

Februari lalu, aku melakukan perjalanan kerja ke sana. Ini adalah keempat kalinya aku mengunjungi Toraja, kabupaten yang memiliki budaya amat berbeda dari kabupaten-kabupaten lain di Sulawesi Selatan.

Dibanding upacara pernikahan, suku Toraja lebih menjunjung tinggi tradisi kematian dan pemakaman. Ini salah satu penyebab mengapa objek wisata di sana lebih dominan berupa pekuburan yang berada di tebing-tebing, diantara celah dan curukan tebing tersebut. Meski demikian, kita masih bisa menikmati objek lain berupa pemandangan pegunungan yang indah, situs megalitikum dan kerajinan khas dari tanah leluhur ini.

Lebih dikenal dengan wisata pekuburannya, tidak kemudian menjadikan Toraja menjadi tempat yang kental dengan hal mistis. Peristiwa seperti kerasukan, mendadak sakit dan yang aneh-aneh, kala mengunjungi pemakaman leluhur, nyaris tak pernah ditemui oleh wisatawan.

Sebagian besar waktuku di Toraja kali ini untuk berdiskusi dengan teman-teman Pemerintah, sehingga pilihan jalan-jalannya lebih mengarah ke pusat belanja oleh-oleh.

Tenun Toraja. Sempat kaget tatkala belanja syal dari kain tenun. Aku beli beberapa syal bermotif garis-garis di pasar tradisional, hanya Rp.20..000 perlembarnya. Tatkala pindah tempat ke salah satu toko oleh-oleh, aku menemukan begitu banyak motif, bukan hanya berupa garis-garis, seperti yang umum dijual di pasar ataupun kios-kios yang ada di sekitar objek wisata, namun dengan harga yang jauh lebih mahal. Ratusan hingga jutaan rupiah. Wow.

Penasaran, akupun menanyakan ke Anna, seorang teman yang bekerja di Toraja. Menurutnya, ada beberapa jenis tenunan di Toraja. Yang banyak dijual dan mudah diperoleh, biasanya bermotif lurik-lurik. Menjadi amat murah, selain karena motifnya yang sederhana, juga karena merupakan produksi pabrik dengan benang sintetis.

Pengrajin tenun tradisional (foto: koleksi pribadi)

Pengrajin tenun tradisional (foto: koleksi pribadi)

Syal yang ditenun secara tradisional, bukan pabrikan, namun tetap menggunakan benang sintetis, harganya sedikit lebih mahal. Lalu yang jutaan? ternyata ada bermacam-macam jenis tenunan di sini. Kain yang ditenun dengan alat tenun bukan mesin, ada yang menggunakan benang dari bahan alami, yaitu serat tanaman atau batang pohon tertentu.

Benang dari seratpun, masih terbagi dua lagi. Ada yang menggunakan pewarna sintetis, ada yang masih tetap menggunakan pewarna organik dari cabe,sabuk kepala atau lainnya. Jenis terakhir inilah yang harganya bisa mencapai jutaan.

Benang dengan pewarna organik (foto: koleksi pribadi)

Benang dengan pewarna organik (foto: koleksi pribadi)

Bagi yang ingin belanja tenunan, boleh memperoleh di Pasar Tradisional di kota Rantepao. Untuk tenun organik, bisa jalan-jalan ke toko oleh-oleh yang terkenal di Toraja Utara, toko Todi namanya.

Jika ingin benar-benar melihat proses menenun, bisa ke pusat kerajinan tenun di Sa’dan, Toraja Utara. Di sana, harga tenunnya jauh lebih murah.

Selain tenun, Toraja memiliki kerajinan lain, seperti miniatur rumah Tongkonan, tau-tau dan aksesoris manik-manik.

Aksesoris ini merupakan pelengkap pakaian adat Toraja, yang dikenakan oleh perempuan. Biasanya dikenakan sebagai pengikat kepala, hiasan bahu dan dada, serta sebagai ikat pinggang. Bagian bawah aksesoris tersebut, dibuat menjuntai hingga ke pinggang dan ke lutut.

Tak hanya untuk aksesoris, manik-manik juga dibuat menjadi hiasan rumah. Biasanya berupa corong, mirip kap lampu, yang tepinya dihiasi lagi dengan manik-manik yang menjuntai. Menurut temanku, ada mitos mistis tentang kerajinan ini.

Belanja manik-manik di Kete'kesu (foto: koleksi pribadi)

Belanja manik-manik di Kete’kesu (foto: koleksi pribadi)

Saat ini, manik-manik tidak hanya dibuat sebagai aksesoris pelengkap baju adat, namun juga sudah dibuat sebagai aksesoris sehari-hari, yang bisa dijadikan oleh-oleh para wisatawan.

Berbagai macam gelang, kalung, ikat pinggang, bahkan gantungan kunci yang terbuat dari manik-manik, bisa didapatkan dengan mudah di Toraja. Harganya amat terjangkau untuk dibeli dalam jumlah banyak sebagai oleh-oleh. Dengan Rp.5.000 sudah bisa membawa pulang gelang.

Gelang Toraja di pasar tradisional (foto: koleksi pribadi)

Gelang Toraja di pasar tradisional (foto: koleksi pribadi)

Bagi yang suka mengoleksi manik-aksesoris manik, pasti bisa melihat perbedaan motif manik-manik Toraja dengan punya daerah lain di Indonesia. Motif yang mereka gunakan, masih mempertahankan motif dari leluhur. Pilihan warnanya pun, masih tetap warna Toraja, ini istilah yang kugunakan untuk mengenali warna aksesorisnya.

Gelang khas Toraja (foto: koleksi pribadi)

Gelang khas Toraja (foto: koleksi pribadi)

Rantai etnik Toraja (foto: koleksi pribadi)

Rantai etnik Toraja (foto: koleksi pribadi)

Jangan pernah mencari akseseoris manik-manik berwarna pink, ungu atau tosca di sana. Bakalan tidak pernah menemukan, karena warna khas aksesoris di sana, didominasi oleh kuning, orange, merah, hitam, coklat dan emas. Hal ini menjadikan akseseoris manik-manik Toraja, menjadi berbeda, sekaligus amat mudah dikenali.

Rantai dengan motif khas Toraja (foto: koleksi pribadi)

Rantai dengan motif khas Toraja (foto: koleksi pribadi)

Belanja oleh-oleh ku di kunjungan kali ini, beberapa lembar syal biasa, gelang manik dan sebuah syal yang terbuat dari benang organik.

Syal dari kain tenun toraja

Syal dari kain tenun Toraja

Tak ada yang bisa memelihara tradisi serta budaya negeri kita, selain kita sendiri. Bagiku, memakai barang-barang etnik, khususnya tenun ikat dan aksesoris, menjadkan kita terlihat tampil berbeda dibanding yang lain.

Pamer gelang Toraja bersama buku 101 Travel writing

Pamer gelang Toraja bersama buku 101 Travel writing

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: