Relawan?

Relawan Anak

“Bisakah seseorang berhenti menjadi relawan? Saya kira, tidak,” demikian tanya yang dilontarkan ke saya oleh seorang Relawan, Ica. Waktu itu, kami bertemu di workshop perencanaan program komunitas Sobat LemINA.

Ia memang sering menanyakan hal yang tak terduga dan kadang memaksa saya berfikir sejenak sebelum menjawab.
Riri, seorang teman, sesama relawan juga, bantu menjawab “Seperti halnya kesabaran, ada batasannya, begitupun dengan kerelawanan. Tapi bukankah menjadi relawan adalah panggilan jiwa?”

Sesungguhnya ada beberapa macam relawan yang saya ketahui. Mungkin yang dimaksud oleh teman saya ini, adalah relawan event. Saya menebaknya, karena teringat bahwa ia barusaja menyelenggarakan sebuah event anak-anak bersama komunitas lain di Makassar.

Ada orang yang memilih menjadi relawan berdasarkan event tertentu. Tatkala event tersebut berakhir, maka secara otomatis perannya sebagai relawanpun berakhir. Ada juga relawan yang bergabung dalam sebuah komunitas sosial, yang bergerak dengan prinsip kerelawanan.

Seingat saya, dulu istilah relawan malah sering dikaitkan dengan partai politik tertentu. Orang-orang yang menjadi tim sukses dari calon anggota dewan atau kepala daerah tertentu, biasanya disebut relawan.

Relawan bisa didefenisikan sebagai seorang yang secara sukarela bekerja untuk orang lain, atau memfasilitasi orang lain. Bisa juga berarti bahwa seorang yang rela bekerja tanpa dibayar (dictionary.com).

Berangkat dari defenisi tersebut, maka tidaklah salah jika kemudian orang yang memilih bekerja sukarela tanpa dibayar, untuk sebuah event atau partai atau lembaga/institusi tertentu saja, disebut sebagai relawan.

Lalu bagaimana dengan pertanyaan Ica tadi?. Ya, seseorang bisa saja berhenti menjadi relawan apabila event telah usai atau jika ia sudah tidak nyaman dengan partai atau lembaga/institusi tempat ia bekerja tanpa bayar, atau bisa saja dengan alasan lain. Pindah tempat tinggal, misalnya.

Lho, katanya menjadi relawan adalah panggilan jiwa?

Bagi saya, seseorang bisa saja menyatakan berhenti sebagai relawan sebuah event atau partai politik atau komunitas atau institusi, tetapi seseorang yang menjadi relawan karena panggilan jiwa, maka jiwa kerelawanannya biasanya tak pernah hilang.

Tidak sedang menjadi relawan, tidak menjadikan seseorang serta merta terhapus pula jiwa kerelawanannya, meski tidak menutup kemungkinan, jiwa kerelawanan bisa saja terkikis.

Apakah harus menjadi anggota dari kepanitiaan sebuah event atau komunitas atau lembaga/institusi dulu, baru seseorang bisa disebut relawan? Tidak dong! Karena setiap orang punya peluang untuk bekerja seorang diri, untuk memfasilitasi atau membantu orang lain yang membutuhkan.

Sebaliknya, apakah seseorang yang bergabung sebagai panitia dalam sebuah event tertentu, atau bergabung sebagai anggota komunitas atau lembaga/institusi, sudah pasti adalah seorang relawan?

Tuk menjawab ini, saya bantu dengan dua pertanyaan berikut, yah.

Pertama. Jika nama Anda tercantum di susunan kepanitiaan sebuah event, dimana Anda tercatat sebagai relawan, benarkah anda seorang relawan jika tidak memberi kontribusi apa-apa ke event tersebut? Tidak hadir di rapat-rapatnya, atau sekedar menyumbang pemikiran, atau malah tidak bisa menjawab tanya tentang event tersebut, bila ada yang bertanya.

Kedua. Jika Anda terdaftar di sebuah komunitas sosial. Anda datang di beberapa kali pertemuannya, tapi anda hanya duduk diam mendengar. Syukur-syukur jika Anda menyimak dan bisa menangkap pokok pembahasan. Anda akan ikut sebuah kegiatan, jika teman/sahabat yang mengajak bergabung di komunitas itu, juga hadir. Jika sahabat Anda tidak hadir, otomatis Anda punya alasan untuk tidak hadir juga. Anda tidak memahami filosofi pergerakan komunitas tersebut dan hanya memandang kegiatannya sebagai event kumpul-kumpul dan bergembira yang terbalut kata “sosial,” Apakah Anda berani menyebut diri Anda sebagai relawan atau anggota komunitas?

Jika sudah bisa menjawab dua pertanyaan bantuan di atas. Silahkan kembali ke pertanyaan utamanya, apakah seseorang yang bergabung sebagai panitia dalam sebuah event tertentu, atau bergabung sebagai anggota komunitas atau lembaga/institusi, sudah pasti adalah seorang relawan?

Jika ada yang melontarkan pertanyaan, apa itu relawan dan bagaimana kriterianya, maka kemungkinan akan ada jawaban berbeda dari tiap orang. Tapi andai ada yang bertanya ke saya, maka akan saya jawab, bahwa relawan versi saya adalah mereka yang bekerja tanpa dibayar karena panggilan jiwa tuk berbagi ke sesama atau ke negara ini. Ia bisa bekerja sendiri atau bersama orang lain, baik dalam sebuah kelompok kecil ataupun komunitas yang besar. Tatkala ia harus berpindah daerah karena tuntutan sekolah, bekerja, menikah atau karena berpindah kediaman, maka ia akan membawa jiwa kerelawanannya kemana saja ia pergi. Ia selalu meninggalkan jejak kerelawanan dimanapun ia berada.

Saya teringat akan gerakan kelas inspirasi. Kelas Inspirasi bukanlah sebuah komunitas, namun begitu banyak Relawan yang bergerak di dalamnya dan semuanya mampu mengorganisir diri hingga hari inspirasi tiba. Bahkan pasca hari inspirasi, orang-orang yang terinspirasi, tetap melanjutkan apa yang mereka peroleh dari kerelawanan yang dirasakan di gerakan tersebut.

Saya ingin memberi contoh tentang bagaimana seseorang, bisa menjadi relawan meski Hari Inspirasi telah berlalu di belakang atau ia harus berpindah tempat dan tak mungkin lagi bergabung bersama teman-teman relawannya. Sengaja mengambil contoh kelas inspirasi, karena relawannya banyak sekali, jadi bisa menghindari ada satu satu atau dua orang yang bakal tersinggung dengan tulisan ini (jika mengambil contoh relawan sobat lemINA, saya bisa kena protes keras. bercanda, lho).

Beberapa orang relawan yang sebelumnya mengikuti kelas inspirasi di Makassar, setelah kembali ke daerahnya, atau berpindah tugas di daerah lain, banyak yang kemudian menginisiasi kembali pelaksanaan kelas inspirasi di kota atau kabupaten, tempat ia bertugas. Mereka berbincang dengan banyak orang, tuk mencari orang yang se-frekuensi dengannya. Menggerakkan orang banyak tuk ikut terlibat di kelas inspirasi yang belum pernah sekalipun dilaksanakan di lokasi tersebut.

Segelintir relawan kelas inspirasi, malah berhasil berjuang meyakinkan pimpinan kantor mereka untuk mengadopsi kelas inspirasi. Mari lihat contoh Bosowa menginspirasi atau pemberian penghargaan yang tidak diumumkan sebelumnya, bagi staff telkomsel yang terlibat kelas inspirasi.

Sebuah komunitas juga telah terbentuk sebagai akibat jiwa kerelawanan yang tercipta di kelas inspirasi. Salam hormat tuk Ibu Arnis dan komunitas Lentera Negerinya.

Satu persatu kabupaten di Sulawesi Barat, mulai melaksanakan kelas inspirasi, atas inisiatif Ibu Hikmah yang sebelumnya bergabung di Kelas Inspirasi Makassar.

Masih banyak contoh tentang bagaimana seorang relawan bisa meninggalkan jejak dimana-mana, meski ia tidak tergabung dalam sebuah komunitas, meski tidak lagi di event yang sama, atau bahkan sudah keluar dari sebuah komunitas tertentu.

Fathul, seorang Penyala di Makassar, tatkala berpindah ke Papua, menunjukkan betapa ia memiliki jiwa kerelawanan yang besar, dengan menggalang anak-anak muda di sana. Kelas Menulis Papua pun, terbentuk (semoga kali ini saya tidak salah nama).

Tidak lagi menjadi relawan untuk sebuah event atau tidak menjadi anggota komunitas sosial, tidak berarti  Anda bukan relawan. Karena relawan itu, tentang panggilan, bukan pelabelan.

Salam relawan.

Kita tak berbayar, bukan karena kita tak bernilai, tapi karena tak ternilai.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: