Categories
Jejak di 100 Sekolah Voluntary

Haruskah siswi madrasah berjilbab?

Seorang siswi sedang mengerjakan tugas
Seorang siswi sedang mengerjakan tugas

Sumpah! belum juga tiba di sana, saya sudah membayangkan akan bertemu siswi-siswi berjilbab dengan wajah lugu. Tapi saya tak menemui satu orangpun yang berjjilbab, kecuali guru-gurunya. Bukankah ini madrasah?

Harus melalui sebuah punggung tanggul penahan sisi muara sungai di Paotere, untuk berkunjung ke madrasah tersebut. Meski Sultan, teman relawan, menyatakan sudah melapor ke kepala madrasah, tapi saya berupaya menahan diri untuk tidak masuk, sebelum siswa-siswa Sekolah Alam Bosowa tiba di lokasi. Ssst, alasan lainnya adalah karena saya melihat Dede dari kejauhan, sudah berdiri di atas sebuah perahu sambil foto sana sini tak jelas. Ini alasan terbesar.

“Mari susul Dede” ajak hati kecilku.

Skip. Saya tidak akan menuliskan di sini tentang serunya berfoto di atas perahu yang sedang ditambat, sambil menikmati aktifitas warga sekitar, yang sibuk menaikkan air di jeregen-jeregen besar atau mengangkut tabung-tabung gas ukuran 3 kilogram ke atas perahu-perahu mereka. Kembali ke bahasan awal saya. Tentang siswi berjilbab.

Ini sekolah madrasah, lho. Bukan sekolah umum. Papan yang terpasang di atas pintu masuk madrasah ini, entah plang sekolah atau bukan, karena saya terganggu dengan tulisan “kantin kejujuran”, jelas menuliskan “MI Paotere”. MI singkatan dari Madrasah Ibtidaiyah.

 

Papan di atas pintu masuk madrasah
Papan di atas pintu masuk madrasah

Tunggu dulu. Ini beneran plang sekolah? Bukan plang kantin kan?

Ah sudahlah. Yang pasti, ini madrasah dan saya tidak menemukan siswi berjilbab. Madrasah ini terdiri atas 4 ruang kelas. 3 ruang kelasnya berada di lantai bawah dan 1 ruang kelas di lantai atas.

Di menit-menit awal kegiatan kunjungan berbagi siswa Sekolah Alam Bosowa yang didampingi oleh relawan Sobat LemINA, saya masih sabar untuk tidak mencari jawaban tentang keanehan itu. Kepala saya hanya iseng menerjemahkan kata “madrasah” dan kata “ibtidaiyah” ke dalam bahasa Indonesia.

المدرسة الابتدائية artinya sekolah dasar, bukan sekolah Islam, lho. Kebetulan saja berbahasa Arab. Lalu, mengapa saya harus heran jika siswi tidak berjilbab? Ah, pokoknya aneh.

Di Indonesia, tatkala menggunakan kata Madrasah, maka otomatis sekolah itu adalah sekolah Islam. Jadi idealnya siswi berjilbab. Otak saya mengingatkan “Bunga, jangan pulang membawa penasaran tak terjawab.”

Gak mungkin dong, saya bertanya ke gurunya. Saya menyadari sering salah memilih kalimat yang tepat untuk bertanya. Banyak teman yang sering tersinggung (padahal maksud saya baik) ke saya karena kelemahan saya itu. Cukuplah mereka yang tersinggung, jangan sampai bapak dan ibu guru madrasah yang baik menjadi korban saya.

Lalu cari jawaban dimana?

Kesibukan acara berkunjung dan berbagi, berlangsung di lantai bawah. Sementara siswa-siswi lantai atas, yang merupakan siswakelas 6, sejak tadi hanya berseliweran di tangga. Sesekali mereka curi ingin tahu sedang apa di bawah, namun guru-guru meminta mereka tetap di kelas. Ini kesempatan saya.

Ruang kelas 6
Ruang kelas 6

Tangga menuju ke lantai atas, sungguh tak ramah anak. Pantas saja jika dipilih ruang kelas 6 tuk lantai dua ini. Tiba di ujung atas tangga, rupanya langsung menuju ke balkon luar. Di seberang, ruang kelas 6 berada. Dari atas sini, saya bisa memandang perahu-perahu yang memenuhi muara sungai.

“Tidak ada uang beli jilbab” spontan pertanyaan saya dijawab tanpa berfikir.

Namun tak serentak dan tidak terlalu tegas. Mari mengejar mereka dengan pertanyaan berikut.

“Ah, masak tidak bisa beli jilbab” saya menggoda mereka.

“Itu bisa beli bakso” Rara, wartawan Tribun yang juga ikut ke kelas itu ikut menggoda siswa yang sedang melahap bakso tusuknya. Tapi apa hubungannya beli jilbab dan bakso? Bakso tidak lebih mahal daripada jilbab, kan? *Abaikan

Tatkala mereka sibuk berupaya menjawab dengan beberapa alasan, mata saya membaca judul buku sekolah yang sedang dibaca oleh seorang siswa. Al Quran dan Hadits. Nah kan, sekolah Islam. Mana ada sekolah umum yang mempelajari buku ini? Jadi semakin semangat mengorek informasi.

Siswi kelas 6 di jam istirahat
Siswi kelas 6 di jam istirahat

“Dulu to, ada ibunya temanku datang marah-marah. Gara-gara guru terlambat datang. Nabilang masih tinro kapang gurumu (katanya, mungkin gurumu masih tidur )”

“Lalu?” saya mengejar

“Itu ibu bilang, dia tidak bisa belikan anaknya jilbab. Jadi bu guru larang kita pake jilbab, supaya semua tidak pakai jilbab,” Bingungkan? Ini anak, maksudnya apa yah?

Waktu saya tanya kembali apakah benar alasannya karena guru melarang. Mereka kompak menyatakan tidak. Mereka boleh berjilbab. Malah beberapa mengaku sudah menyiapkan jilbab. Saat di kelas III dan IV, mereka masih berjilbab ke sekolah. Semenjak peristiwa ibu teman mereka, yang datang marah-marah, kebiasaan berjilbab terhenti. Teman yang mereka maksud, malah sudah tidak sekolah lagi di madrasah itu.

“Kalau mau pake jilbab sekarang, bisaji. Tidak marahji juga guru (Kalau mau pakai jilbab sekarang, bisa, kok. Tidak bakal dimarahi juga oleh guru)” mereka menjelaskan kembali.

Lalu mengapa tidak berjilbab ke sekolah, jika ternyata sudah punya jilbab dan tidak dilarang? Anak-anak kelas 6 ini tak bisa menjawab. Mereka hanya saling pandang. Entah apa alasan sebenarnya.

Ini merupakan pembelajaran bagi saya. Setidaknya saya bisa berkata pada diri saya, “Please Bunga, jangan pernah menjamin bahwa semua Madrasah menerapkan kewajiban berjilbab, sebelum kamu melakukan riset kecil-kecilan.”

Sesungguhnya, sayapun nyaris berkata dalam hati “Madrasah apaan ini? Siswi-siswinya tak satupun berjilbab.” maka marilah bersahabat wahai otak dan hati nurani. Buka mata dan telinga sebelum menjudge . Tadinya, karena sekolah yang sempit ini berhawa panas, sempat terfikir, jangan-jangan mereka kegerahan, jadi memilih tidak berjilbab ke sekolah.

Rupanya siswi-siswi di Madrasah ini punya alasan yang tak mampu mereka gambarkan dengan tepat ke saya, mengapa tidak berjilbab ke sekolah, dan itu bukanlah tentang peraturan sekolah. Mungkin karena mengakomodir kemarahan ibu dari seorang siswa yang diceritakan tadi atau karena hal lain. Entahlah.

0 replies on “Haruskah siswi madrasah berjilbab?”

Halo, Bunda. Semoga weekendnya menyenangkan 🙂
Langsung saja ya, hehe.

Huruf awal setiap kata pada judul menggunakan huruf kapital, kecuali preposisi dan konjungsi.

Kata selain bahasa Indonesia dicetak miring.

“Lalu?” saya mengejar. Huruf S kapital. Bunda masih belum konsisten dengan pemakaian huruf kapital/kecil setelah tanda kutip. Ada yang benar, ada yang salah. hehe

orangpun – orang pun
sayapun – saya pun
satupun – satu pun
dimana – di mana

Selebihnya, ada beberapa kata yang belum tepat dengan penulisan bakunya, seperti: aktifitas – aktivitas, berfikir – berpikir, dst.

Bisanya komentar di wakili. OH iya, Siswi di kelas 6 itu, sebagian besar mengaku sudah punya jilbab tuk ke sekolah. Jawaban pertama mereka saat kutanya, ngarangji. Mereka pertegas lagi saat kutanya kembali. Hanya 1 siswi yang ibunya marah-marah itu yang tidak memiliki jilbab.
Tapi ada baiknya Seragam tuk sobat di sana, yah. Biar mereka kembali berjilbab. Begitu diserahkan, langsung diminta memakainya. Nyindir pihak sekolah dengan halus

RT Komennya Kak Hajrah. Terwakili ma juga. Na ambil semua mi yang mau di komen hihihi.

Kalau saya waktu itu hanya terfikir soal belikanki jilbab itu anak-anak. Ndak sampai kepikiran kalau seragam tuk sobat bisa dilaksanakan di sana

Membantu menjawab pertanyaan Kak Ica,
“Jika pada kalimat akhir sebuah paragraf terdapat tanda tanya (?) Maka tak perlukah titik lagi?”
Tidak perlu mi Kak Ica.

Untuk saran-saran yang lain sudah terwakilkanmi dengan pertanyaannya Kak Hajra. ^^

Tulisan yang menarik ^^

Hmm. Mau koreksi apa lagi ya?

“Sumpah! belum juga…”
Setelah tanda baca seru, menggunakan huruf kapital.

Beberapa kata masih typo: berjjilbab, lho.

“Ah, masak tidak bisa beli jilbab”
Jika “masak” dalam kalimat tersebut merupakan ungkapan ketidakpercayaan, sebaiknya dituliskan tanpa “k” agar maknanya tidak ambigu.

Tanpa basa basi secara keseluruhan menurutku tulisan Bunda dari segi cerita sudah bagus dan sangat kritis. Sementara dari segi teknis penulisan sepertinya sudah dikoreksi semua sama teman-teman, misalnya saja soal typo atau salah pengetikan yang perlu lebih diperhatikan. Juga soal penggunaan kata asing seperti SKIP yang mestinya menggunakan huruf miring.

Terima kasih 🙂

Leave a Reply to Kotak Rindu Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *