Etalase Sepi

Coklat Chalodo (foto: koleksi pribadi)

Coklat Chalodo (foto: koleksi pribadi)

Ada sepi, di balik kaca bening yang berjarak 2 meter di belakang saya. Sepertinya habis diborong oleh pembeli, tebakku. Terakhir kali ke sini, beberapa bulan lalu, lemari etalase itu berisi aneka pilihan olahan coklat.

Ini kali kelima saya ke Masamba, ibukota Kabupaten Luwu Utara. Banyak yang mengenal kabupaten ini sebagai penghasil biji coklat atau kakao, sejak tahun 90an. Namun masih kurang yang tahu bahwa kini Masamba memiliki produk lokal yang bisa dinikmati oleh semua orang, berupa coklat bubuk, coklat batangan dan permen, yang merupakan olahan dari biji kakao. Bukankah coklat siap makan, lebih cocok dijadikan cemilan atau oleh-oleh daripada biji coklat?. 

Mataku menunjuk ke arah lemari jualan. “Sisa itu saja yang dijual,” ucapku pada Kak Nurtang, menunjukkan keengganan tuk beranjak menuju etalase. Ia langsung membalas engganku dengan menjelaskan bahwa sejak bulan lalu, produk yang dijual, sudah minim. Berbeda dengan saat terakhir kami ke sini, di bulan September 2015 lalu. Kata pemiliknya, mesin pembuatnya rusak dan belum diperbaiki. Mendengar penjellasan itu, saya bangkit dari duduk tuk melihat isi etalase. Benar-benar tak ada pilihan. Sisa dua jenis permen, coklat sayang dan coklat milk. Itupun tersedia dalam jumlah yang sedikit. Saya memutuskan membeli coklat milk, dengan pertimbangan, sisa jenis itu yang belum saya coba sebelumnya.

Kampung Coklat

Kampung Coklat

Kampung Coklat. Demikian pemilik menamakan toko sekaligus cafe ini, nampak sudah berbeda dengan sejak saya datang pertama kali di Agustus 2014 bersama teman-teman program dari Jakarta. Malam itu, ada beberapa anak muda yang nongkrong sambil menikmati segelas coklat dan membuka laptop. Ya, kampung coklat ini dilengkapi dengan wifi, jadi pengunjung bisa menggunakan fasilitas internet.

Kini, penataan ruangan mulai berbeda. Bagian dalam bangunan nampak agak berantakan. Dulunya lemari etalase yang panjang, diletakkan di sana. Sejak 2015 lemarinya berubah menjadi lebih pendek dan berpindah ke bagian depan, sehingga produk yang dipajang dengan mudah terlihat dari jalan raya.

Meski masih tetap mempertahankan merek Chalodo, logo mereka sudah berubah. Kini jauh lebih menarik dilihat. Saat datang dulu, kulihat hanya berupa tulisan Chalodo dengan gambar latar buah kakao. Sekarang sudah dengan logo kartun, seorang laki-laki berkumis dan berjanggut, yang menggunakan peci putih, dengan buah kakao di tangan.

September lalu, saat ditanya oleh seorang petugas toko tentang coklat apa yang ingin saya beli,, saya spontan menjawab “coklat batangan, dek.” Ia lalu menyodorkan coklat batangan kecil, yang ukurannya sekitar 4x10cm. Saya jelaskan kembali pesanan saya, coklat batangan berat 1 kg.

Rupanya jenis itu tak diproduksi lagi. Kecewa. Haruskah memborong banyak coklat batangan kecil, biar cukup sekilo? Beda dong. Dibanding tahun lalu, Chalodo telah melakukan diversifikasi produk. Tahun 2015 sudah mulai diproduksi permen rasa baru yaitu dark, dark kopi, milk, coklat bubuk 100%, coklat bubuk sayang, coklat batangan sayang, milk. Baik coklat bubuk maupun permen dan batangan, semuanyadiproduksi dengan beberapa pilihan persentase kandungan coklat.

Aneka olahan coklat merek Chalodo

Aneka olahan coklat merek Chalodo (foto: koleksi pribadi)

 

Coklat Bubuk 100% dan Permen Coklat Sayang

Coklat Bubuk 100% dan Permen Coklat Sayang

 

Permen Dark 100%

Permen Dark 100% (Foto: koleksi pribadi)

Menurut Kak Mukri, seorang teman yang bertugas di Masamba, biji kakao baru mulai diolah menjadi coklat siap konsumsi, sekitar tahun 2000an. Pengolahan tersebut dilakukan oleh beberapa kelompok tani. Namun hanya satu atau dua kelompok tani yang masih bertahan, salah satunya adalah kelompok yang membawa brand Chalodo.

Sebagian besar petani, memilih kembali ke kebiassaan semula. Mereka bertahun-tahun menjual biji kakao langsung ke pengumpul, tanpa melakukan fermentasi. Sementara untuk mengolah menjadi coklat langsung konsumsi, harus menggunakan biji kakao fermentasi. Mereka ingin segera memegang duit, setelah panen, tanpa peduli dengan kualitasnya, atau sedikit menunggu hasil yang lebih besar dengan mengolahnya menjadi coklat siap makan.

Saya menatap kembali isi etalase kaca yang sepi produk ini. Sebagai brand yang memonopoli coklat olahan di Luwu Utara, apakah Chalodo akan berhenti dalam waktu lama, hanya karena mesin rusak? Lalu stok biji kakao akan menumpuk. Perputaran kas melambat dan akhirnya mereka akan menolak menambah stok dari petani. Membayangkan petani-petani di desa akan kembali menjual biji mereka ke pabrik-pabrik besar tanpa fermentasi, dengan keuntungan yang sangat kecil. Duh.

Menayakan hal tersebut ke Kak Mukri, ia hanya menjawab “Mungkin karena terlalu lama didampingi oleh donor-donor besar, jadinya manja. Mesin rusak berbulan-bulan, seolah tak ada upaya memperbaiki. Apakah menunggu bantuan program lagi?.” Ini sebuah tanya yang entah harus dijawab oleh pemilik Kampung Coklat, atau oleh pelaksana program yang mendampingi, atau pemerintah.  Yang namanya proyek, pastilah ada akhirnya. Saat tiba di masa itu, siapkah kelompok dampingan tuk mempertahankan kesinambungan?, atau semua yang datang ke sini, akan tetap menemui etalase semakin sepi.

Advertisements

2 Comments (+add yours?)

  1. Ifah
    Feb 11, 2016 @ 10:54:45

    Saya juga mau menulis tentang chalodo deh 🙂

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: