Lokasi Strategis yang Minim Sentuhan

 

Kupa Beach Restaurant

Tak menjamin bahwa ramainya sebuah tempat, karena terletak di lokasi yang strategis. Hal itu terbukti pada tempat yang kusinggahi ini.

Tidak sulit menemukan KUPA beach. Terletak di perbatasan antara Kab.Barru dan Pare-pare. Namun Kupa beach yang saya tuliskan di sini, bukanlah tentang pantai, melainkan sebuah restoran yang letaknya tepat di bibir pantai Kupa, kabupaten Barru.

Karena berada di jalan poros, kupa beach menjadi restoran yang strategis untuk disinggahi. Tak terhitung berapa kali saya melintas di depannya, namun belum sekalipun menyempatkan diri tuk mampir. Menurut Pak Maskur, driver yang mengantar kami menuju Masamba, restoran ini telah lama dibangun. Dulunya, sangat ramai dikunjungi oleh orang-orang yang melintas di Kupa, baik pengendara, atapun wisatawan lokal dan asing. Namun, dua tahun terakhir, restoran ini mulai agak sepi.

Bangunan utama restoran berada di tengah lahan yang cukup luas. Ada space yang lapang di depan restoran untuk memarkir kendaraan pengunjung. Untuk mencapai bangunan restoran, harus berjalan kaki sekitar 40 meter, melewati halaman depan yang asri. Beberapa pohon dan tanaman hias ditemui di sepanjang halaman menuju restoran.

Tampak depan Kupa Beach Restoran

Tampak depan Kupa Beach Restoran

Segelas welcome drink disodorkan seorang pelayan perempuan berjilbab, saat kami memasuki restoran. Gelasnya sangat kecil, hanya memuat kira-kira 30ml juice sirsak. Boleh minum 3 gelas kah? Saya bertanya iseng dalam hati.
Ada satu bagian restoran yang dibangun memanjang sejajar tepi laut. Berlantai panggung setinggi kurang lebih 1 meter dari tanah sekelilingnya. Beratap genteng dan tanpa dinding, serta hanya dibatasi oleh pilar2 kayu yang disusun agak rapat, setinggi panggul orang dewasa. Desain seperti itu, membuat pengunjung dapat dengan nyaman menikmati keindahan pantai sambil menikmati sajian makan siang.

Payung dan Topi Selamat Datang

Payung dan Topi Selamat Datang

Sebuah meja bulat besar, yang berdiamater lebih dari 2 meter, diletakkan tepat di bagian tengah bangunan utama. Sekeliling meja, tersusun rapi kursi-kursi kayu. Anggrek ungu sengaja ditempatkan di tengah meja tersebut. Amat mencuri perhatian.

Musholla dan toilet berada di bagian terpisah dari bangunan utama restoran. Sebuah sudut kerajinan tangan, bisa dijumpai juga di bagian depan restoran utama. Kerajinan yang dipajang dalam dua buah lemari besar tersebut, semuanya merupakan khas Sulawesi Selatan.

Meja Bulat di Tengah Ruangan

Meja Bulat di Tengah Ruangan

Hiasan Lamming di Plafond

Hiasan Lamming di Plafond

Jika meneliti interior dan furniture yang digunakan oleh restoran ini, gampang ditangkap maksud pemiliknya, untuk memperkenalkan Sulawesi Selatan kepada pengunjung. Meja bulat besar di tengah ruangan, keliling tepinya dihiasi kain tenun ikat Sengkang. Tiang-tiangpun dibalut dengan kain tenun.

Saat menengok ke atas, langit-langit yang tanpa plafon, dihiasi dengan hiasan lamming (pelaminan) merah, khas Bugis Makassar. Lamming hanya dipasang di bagian tengah, tepat di atas meja bulat besar. Bagian ini memang disiapkan sebagai titik tangkap mata pengunjung.

Lalu mengapa restoran ini menjadi sepi? Seperti kata pak Maskur, tour travel dulunya sering mengantar wisatawan asing mereka ke restoran ini. Kini, masih ada wisatawan asing yang mampir, seperti yang kami temui saat mampir di sana, tapi frekuensinya sudah amat kecil. Lokasi strategis, landscape menarik, view pantai, suasana tenang dan nyaman, mengapa bisa kurang diminati lagi? Kurang promosikah?

Satu jam menunggu hingga makananku disajikan. Waktu yang amat lama tuk perut yang super lapar, kan?. Waktu selama itu, saya gunakan tuk berkeliling dan mencari tahu apa-apa saja yang ada di sana, sekaligus yang bisa menjawab pertanyaan mengapa restoran ini tidak seramai dulu.

Rak Pajang dan Bola Takraw

Rak Pajang dan Bola Takraw

 

Toilet di Bagian Bangunan Lain

Toilet di Bagian Bangunan Lain

Rak Tools yang Menarik

Rak Tools yang Menarik

Saya dan kak Nurtang memilih duduk di meja yang paling dekat dengan pintu masuk. Di kanan kami, ada sebuah rak yang berupa sekat-sekat bujursangkar, selain berfungsi sebagai dinding restoran, juga menjadi rak pajangan berbagai jenis kulit kerang serta potongan karang tanaman laut yang sudah mati.

Mataku berhenti di bagian atas, depan rak pajangan. Tiga buah bola takraw, digantung dengan mempertimbangkan keindahan proporsinya. Artistik, batinku. Resto ini memperkenalkan salah satu olahraga SulSel. Sayangnya, mengapa bolanya tidak diplitur, biar agak mengkilap? Jika alasannya tuk mempertahankan keasliannya, setidaknya bola yang terbuat dari rotan itu, dibersihkan berkala dari debu. Dari tempatku duduk saja, yang berjarak 3 meter, debu yang melekat dapat terlihat jelas.

Tenun Sengkang yang Lusuh

Tenun Sengkang yang Lusuh

Tiang Berbalut Tenun Sengkang

Tiang Berbalut Tenun Sengkang

Melempar pandangan ke meja bulat besar. Ya ampun, saya terlambat menyadari jika kain tenun ikat Sengkang yang dipasang sebagai penghias meja, sekaligus memperkenalkan tenun SulSel, rupanya sudah lusuh, warnanya buram dan seolah lama tak dicuci. Hal itu membuatku spontan berdiri dan mencoba membandingkan dengan kain tenun yang dipasang di beberapa tiang resto. Sama saja. Semuanya Nampak lusuh. Bahkan hiasan pelaminan di gording atap, bisa dipastikan jarang diganti ataupun dicuci. Duh!

Sebagian besar tiang gording menyilang atap, diselimuti debu dan mempertontonkan benang putih, sarang laba ataupun serangga lainnya. Entahlah. Saklarnya pun, ada yang sudah dilengkapi dengan sarang laba-laba. Apa saja yang dikerjakan oleh pegawai resto ini?

Pertanyaan itu kembali kutanyakan dengan kesal ke kak Nurtang. Dan ia hanya menjawab dengan tawa. Sudah sejam kami menunggu. Waktu berusaha dibunuh dengan berjalan-jalan keliling. Namun tak ada tanda-tanda ikan bakar dan cah kangkung pesanan, diantar dari dapur.

Rak Pajang Kerajinan Tangan

Rak Pajang Kerajinan Tangan

Baru kali ini menyambut makanan tanpa senyum atau rasa lega. Capek menunggu dalam kelaparan. Nasi dan ikan bakar tersaji. Tapi…kurang cah kangkung. Apa harus menunggu lagi? Kami tak tahan lagi. Sudahlah, langsung menyantap ikan saja tanpa sayur. Sekitar 10 menit kemudian, cah kangkung akhirnya duduk manis di meja kami.
Setelah semuanya ludes, saya kembali terkejut. Lagi-lagi telat menyadari sesuatu. Serbetnya pun lusuh. Selusuh kain tenun yang dijadikan hiasan tiang dan taplak pinggir meja. Ini warna merah atau pink, atau merah lusur, merah kusam? Kami bermain tebak-tebakan. Saya dan kak Nur hanya bisa tertawa.

ikan bakar lama

Ikan Bakar Kupa

Pelayanan super lama, interior yang dihiasi sarang laba-laba, kain tenun dan serbet lusuh, makanan yang diolah sampai 1 jam, kasir yang lama dinanti, mungkin itu semua adalah jawaban dari mengapa Kupa Beach Restoran tak seramai dulu.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: