8 Pesan Parenting untuk Para Bapak dari Super Didi

Didi berupaya melahap secepat kilat isi buku yang dititip sang istri untuknya. “Banyak juga, yah?,” ucapnya setelah melewatkan lembar pertama tentang jadwal kegiatan kedua anak mereka. Itu adalah salah satu adegan yang bisa ditonton dalam film Super Didi, karya sutradara Hadrah Daeng Ratu dan Adis Kayi Yurahmah.

Beruntung bisa menonton film ini dengan gratis bersama beberapa teman yang lain. Saat membaca judul dan sinopsisnya, saya sudah menerka-nerka seperti apa adegan per adegan film ini. Ini pasti tentang rempongnya seorang ayah dalam mengurus anaknya, tebak saya. Lalu sayapun membayangkan sederet adegan interaksi ayah dan anak yang terlibat komunikasi tidak nyambung, atau stress-nya seorang ayah mengurusi anak-anaknya.

Pesan apa yang ingin disampaikan oleh film ini? Mari menebaknya dari sub judul filmnya, “karena jadi ayah itu, seru!.”

Ya, film ini nampaknya ingin menyampaikan ke para ayah atau calon ayah bahwa menjadi seorang ayah itu sebenarnya seru, apalagi saat harus mengurusi anaknya sendiri tanpa kehadiran ibu, yang pergi sementara waktu. Pesan ini kemudian dikemas dengan memilih genre film drama komedi, yang menghadirkan 3 orang pemeran pembantu sebagai 3 orang ayah lainnya, yang bergabung dalam geng Pembajak, singkatan dari Persatuan Bapak-bapak Penjaga Anak.

Menonton Super Didi, Anda jangan berharap menemukan kisah haru biru yang sedemikian menyentuh tentang cinta ayah dan anak, seperti dalam film Pursuit of Happyness-nya Will Smith. Saya bisa memahami penulis cerita atau skenarionya, bahwa kisah cinta seorang ayah yang sibuk bekerja, bisa ia tuangkan dalam sebuah kisah drama komedi yang menyisipkan pesan tersebut. Bukankah tidak semua orang menyukai sebuah film yang berat?.

Tuntas menonton keseluruhan film, saya menarik kesimpulan bahwa Super Didi tidak sekedar  ingin menunjukkan bahwa jadi ayah itu seru, atau keluarga di atas segala-galanya. Ada 9 pesan parenting yang patut dicatat untuk para ayah dari film ini. Apakah itu?

Pertama, ungkapan cinta selalu penting. Didi tak pernah tahu seperti apa mengucapkan sampai jumpa dengan rasa sayang, saat akan berpisah di sekolah dengan putri-putri cantiknya. Hmm…Para Ayah sekalian, ayo mulai membiasakan ungkapan rasa sayang. Caranya bisa saja berbeda dengan si Didi, tapi mengulang-ulang menunjukkan cinta, membuat anak menyimpan hal itu dalam memori jangka panjangnya.

Kedua, amati sebesar apa anak Anda bertumbuh. Sudah biasa, laki-laki selalu menolak atau mengiyakan, tapi disusul dengan kebingungan saat membeli baju tuk anak mereka. “Tidak tahu ukurannya dengan pasti, ibunya lebih tahu,” selalu saja kalimat itu muncul saat seorang ayah menanyakan ukuran ke penjual atau petugas toko. Didi pun digambarkan dalam film ini kebingungan membedakan, mana baju tuk putri sulungnya, mana tuk putri bungsunya. Adegan sederhana dengan pesan yang tidak sederhana, bagi saya.

Ketiga, wajib kepo dengan kesukaan dan tontonan anak.  Ini salah satu pesan penting. Saking pentingnya, film ini menyajikan 3 adegan di waktu yang berbeda, untuk menyentil urusan kepang rambut. Didi harus menuruti permintaan puterinya untuk kepang rambut kayak Elsa. Hayo, siapa Elsa? Jaman sekarang, anak perempuan mana yang tak tahu Frozen? Kalau ada yang tidak tahu tontonan anak satu ini, segeralah cari tahu. Saya saja, yang tak punya anak perempuan, tahu tentang Frozen, lho.

Adegan kedua tentang kepang Elsa ini adalah saat Didi harus belajar keras membuat kepang dari salah seorang anggota geng pembajaknya. Terakhir, saat Didi dengan bangga mengandeng sang putri masuk sekolah dengan kepang Elsa karyanya. Masih tentang Elsa, Didi tiba-tiba menjadi melankolis, ikut emosi dan menangis saat tak sengaja ikut nonton film animasi Frozen.

Nonton bareng anak-anak kita, yuk.

Keempat, kenali teman-temannya. Bukan sekedar tahu nama, yah. Terlebih jika anak Anda semakin besar dan mulai bermain di luar rumah dengan temannya. Adegan si Kakak yang bertengkar di sekolah karena rebutan peran Timun Mas, tidak diciptakan begitu saja oleh penulis skenario. Konflik itu  kemudian disusul dengan saran nenek Mayang dan opa untuk Didi, agar mengenali teman-teman anaknya. Adegan Didi berupaya berinteraksi dengan teman-teman putrinya pun menjadi bagian dari film ini.

Kelima, kenali pantangan buah hati Anda. Didi harus memboyong si kecil ke dokter gara-gara makan siomay. Para Ayah, mulai cari tahu tentang alergi anak-anak Anda. Karena kita tak pernah tahu kapan harus bersama mereka tanpa ibu atau harus bantu istri .

Keenam, hindari mengeluh dan membentak di depan mereka. Salut dengan peran Didi. Meski gemes dan stress, namun upaya tuk selalu tersenyum dan pura-pura tenang, selalu dinampakkan di depan kedua puterinya. Wina, istri Didi yang sedang di Hongkong, sempat menegur suaminya lewat video call saat tahu bahwa si Bungsu menangis karena gertakan ayahnya. Ada kesepakatan suami istri, yang tidak ditampilkan dalam adegan manapun dalam film ini, namun tersirat, bahwa kedua orangtua wajib mendiskusikan cara mereka dalam membesarkan dan mendidik anak-anaknya. Pendidikan dasar untuk membentuk karakter, justru lebih banyak diadopsi oleh anak-anak dalam keluarga, daripada sekolah.

Ketujuh, orangtuamu dan asisten rumah tangga bukanlah pengasuh. Ada yang masih tinggal serumah dengan orangtua atau mertua? Film Super Didi menggambarkan tentang pasangan muda yang sukses dan hidup berpisah dari orangtua. Seorang asisten, yang dipanggil Mbak Ami, ikut membantu mereka dalam rumah. Meski dalam dialog yang lucu, tapi bagi saya, bisa ditangkap dengan baik pesan yang ingin disampaikan kepada seluruh orangtua yang menonton film ini.

“Saya kan cuma disuruh bantu-bantu urus rumah sama ibu, yang urus anak-anak harus bapak. Itu kata ibu, lho, “ demikian penolakan sekaligus cara mbak Ami mengingatkan tentang siapa yang bertanggungjawab atas pengasuhan.

Tak hanya dialog asisten rumah tangga dan Didi saja yang mempertegas sampai beberapa kali tentang tanggungjawab urus rumah dan pengasuhan. Nenek kakek pun digambarkan sebagai dua sosok yang menempatkan diri mereka, bukan sebagai tempat penitipan anak.

“Maaf, Mayang dan Opa tak bisa jaga mereka, kami sibuk Tango…Tango…,” demikian kira-kira dialognya. Maaf jika saya lupa tepatnya.

Kedelapan, apresiasi mereka. Konflik inti dari film ini, bukanlah saat si Bungsu harus dirawat di rumah sakit karena terjatuh di sekolah, yang menyebabkan Didi harus memilih antara pekerjaan atau anaknya. Alur yang terlalu biasa. Gampang ditebak bahwa Didi akan lebih memilih anaknya yang sakit daripada proyek 20 trilyun kantornya. Konflik inti berada di akhir film, yaitu tatkala telah tiba saat kedua puteri pentas drama Timun Mas.

Seberapa penting sebuah panggung bagi anak-anak? hingga dari beberapa film yang pernah saya tonton, adegan anak-anak akan pentas, selalu dijadikan sebagai konflik penting film tersebut. Sebut saja film Despicable Me. Ketahuan deh kalau saya penikmat film animasi.

Namun ketegangan detik-detik menghadiri pentas dengan segala hambatannya, selalu dibuat berbeda-beda oleh tiap film. Harus saya akui, Super Didi memberi saya kejutan tak terduga di adegan ini. Wina berupaya keras menyelesaikan masalah sahabatnya di Hongkong hari itu juga, tuk pulang ke Indonesia, demi pentas anaknya.  Awalnya saya membayangkan adegan Wina dalam ekspresi gelisah dalam pesawat dan terburu-buru mengejar taksi untuk hadir depan panggung anaknya. Tereeeeet…istri Didi ini rupanya ditakdirkan terjatuh pingsan kelelahan akibat emosi dan benar-benar tak bisa hadir. Oh sedihnya.

Ada yang lupa saya jelaskan di bagian atas tulisan ini. Didi itu bukan nama orang, yah. Didi adalah panggilan ayah, mungkin plesetan dari Daddy dari kedua puterinya. Dalam film ini, Vino G Bastian sebenarnya berperan sebagai Arka, seorang arsitek dari sebuah proyek property.

Balik ke konflik pentas kedua putri Arka tadi. Di hari yang sama dengan pentas anak-anaknya, Arka harus membawakan presentasi di depan pemilik proyek, yang secara mendadak memajukan jadwal meeting sehari lebih cepat. Terkesan dipaksakan? Tidak juga, karena hal itu sering saya alami dalam kehidupan sehari-hari. Saat sebuah meeting harus diundur atau malah dimajukan sehari.

Pentas sedang berlangsung saat ia sedang presentasi juga. Namun menit-menit terakhir pentas, berupaya dikejar oleh Arka. Ketegangan menghadiri pentas, dibuat memuncak dengan acting Karina Nadila, sebagai Ibu, yang sedang cemas dan penuh penyesalan di Hongkong. Sejak awal film, sudah diciptakan adegan-adegan komunikasi jarak jauh via video call oleh Sutradara, sehingga ada alasan kuat saat Wina menunggu video call penampilan anaknya dii panggung dari suami.

Pemeran kedua putri pasangan Arka dan Wina ini, bukanlah artis cilik yang mahir berakting. Namun setting panggung dan adegan saat drama Timun Mas membuat saya harus mengakui upaya sutradaranya. Dibuat senatural mungkin. Anak-anak pentas dengan lugu dan panggung dibuat sederhana. Bukan pertunjukan besar dalam sebuah gedung besar, melainkan panggung sebuah taman kanak-kanak, yang dihadiri oleh orangtua saja.

Adegan klimaks pentas, ditemukan saat kakak terjatuh dan enggan bangkit. Nenek, kakek dan geng pembajak yang hadir, menyemangati tuk segera berdiri, namun si kecil hanya duduk menatap penonton. Ayahpun akhirnya bisa hadir dengan HP di tangan tuk mengambil gambar Timun Mas di panggung. Nun jauh di sana, ibu berkaca-kaca melihat kedua puterinya sedang pentas dari HP miliknya. Sebuah penyelesaian konflik yang mengharukan.

Sudah siapkah Anda jadi ayah yang baik? Mari belajar dari Super Didi.

Advertisements

6 Comments (+add yours?)

  1. Inart
    Apr 26, 2016 @ 02:28:11

    Suka reviewnya keren…

    Reply

  2. Eryvia Maronie
    Apr 26, 2016 @ 02:28:35

    Aih..suka banget ulasannya yg lengkap dan semua diambil hikmah postiifnya.
    Ini baru namanya penonton yg cerdas!

    Reply

  3. samtongili
    Nov 14, 2016 @ 10:57:12

    Mantap…ijin sedot ya..

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: