Ini Baru Pilar Kebangsaan

Membaca dari hati

Menulis dari hati

Pasti akan diterima oleh setiap hati

Para blogger akan menulis dari hati

~Ma’ruf Cahyono~

Telunjuk mbak Rosy Pasaribu bergerak lincah di layar androidnya. Duduk se-meja dengannya, membuat saya belajar hal baru, yang sebenarnya bukan sesuatu yang baru bagi banyak orang.

“Biar saya tidak salah, saya buka saja Undang-undangnya, ya” demikian ia menjawab tanya saya atas tugas MPR selain melantik presiden dan menetapkan Undang-undang. Perempuan ramah ini adalah salah seorang yang bertugas di Sekretariat Jenderal MPR RI. Beliau langsung menyapa dan menjulurkan tangannya tuk berkenalan, begitu saya duduk di kursi sebelahnya.

Berhasil menemukan Undang-undang no.17 tahun 2014, mbak Rosy menunjukkan pasal 4 dan 5 yang mengatur tugas dan wewenang MPR. Entah mulai kapan saya tak menaruh perhatian pada tatanegara. Saya tak bisa membedakan mana wewenang MPR dan mana tugasnya. Usai membaca tugas MPR dari smartphone mbak Rosy, saya baru tahu jika melantik presiden dan wakil presiden, serta menetapkan Undang-undang adalah wewenang MPR. Sementara tugas MPR adalah memasyarakatkan ketetapan MPR dan 4 pilar MPR, mengkaji sistem ketatanegaraan dan UUD 1945, serta meyerap aspirasi masyarakat terkait pelaksanaan UUD 1945.

Duh. Sungguh saya malu pada diri sendiri, karena selain sulit membedakan wewenang dan tugas saja, saya juga bahkan tak tahu tentang berubahnya MPR, dari lembaga tertinggi menjadi lembaga tinggi negara. Baru tahu tentang itu lewat acara gathering ini. Mbak Rosy yang sabar melayani kecerewatan saya, menjelaskan mengapa ada perubahan itu. Istilah “tertinggi” menyebabkan adanya persepsi bahwa MPR memiliki kewenangan yang besar dalam merubah Undang-undang ataupun GBHN.

Mbak Rosy dan saya bertemu di sebuah event yang diselenggarakan oleh Sekretariat Jenderal MPR RI, yaitu gathering netizen, Ngobrol Bareng MPR RI. Berlangsung pada tanggal 29 Oktober 2016 dan dihadiri oleh blogger dan netizen se kota Makassar, gathering ini bertujuan untuk mensosialisasikan 4 pilar MPR dan memperkenalkan slogan Ini Baru Indonesia.

Nitizen Gathering, Ngobrol Bareng MPR RI

Netizen Gathering, Ngobrol Bareng MPR RI

MPR sebagai rumah kebangsaan, memang terlihat kurang populer diperbincangkan di media sosial maupun media lain. Mungkin itu pula sebabnya seorang peserta gathering menanyakan bagaimana eksistensi MPR, jika dibandingkan dengan DPR yang kerap diobrolkan. Bapak Ma’ruf Cahyono, Sekretaris Jenderal MPR RI menjawab pertanyaan tersebut dengan menyatakan bahwa eksistensi sebuah lembaga tinggi tidak dilihat dari seberapa sering ia diperbincangkan, melainkan seberapa besar kontribusinya dan bagaimana menjalankan fungsinya.

Istilah 4 pilar MPR, adalah barang baru bagi saya. Telat tiba di tempat acara, karena salah ingat jadwal dan waktu tempuh yang lumayan jauh dari rumah, memaksa saya harus segera mampu cari tahu tentang 4 pilar yang dimaksud oleh Pak Ma’ruf , yang menjadi pembicara tunggal pada acara ini.

Empat pilar yang dimaksud tak lain adalah bagian dari pasal 4 UU no.17 tahun 2014, yaitu Pancasila, UUD 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Bhinneka Tunggal Ika. Pak Ma’ruf mengungkapkan alasan mengapa ada kegiatan gathering netizen. Beliau menyatakan 4 pilar MPR tersebut bisa tersosialisasi lebih luas melalui netizen, tentunya melalui media sosial masing-masing. Blogger sebagai sebuah profesi, menurut beliau, diharapkan mampu menuliskan tentang 4 pilar dengan gaya menulis masing-masing, yang lebih mudah diterima oleh orang banyak, yang tidak terkesan kaku.

Terima kasih tuk MPR RI yang telah menggelar acara ini. Saya jadi tertantang tuk tahu lebih banyak tentang Undang-undang. Kali ini bukan dengan tujuan lulus ujian atau mengejar nilai tinggi, tapi tuk lebih meng-Indonesiakan diri sendiri.

Kita adalah bagian dari lembaran tenun kebangsaan. Tiap helaian benangnya harus ditenun rapat tuk menghasilkan selembar tenun yang kuat, sekuat rasa kebangsaan kita. Warna yang satu harus mampu berpadu serasi dengan warna-warna lain, sebagai motif yang memikat, laksana indahnya kebhinnekaan kita. Sehelai benang yang putus, akan memicu benang lain tuk terlepas dari simpul tenunnya. Jika itu terjadi, segeralah menyambungnya kembali, serupa dengan semangat toleransi kita.

Pancasila bukanlah sekadar bacaan wajib saat upacara bendera ataupun susunan kalimat penghias dinding kantor dan sekolah, melainkan benar-benar menjadi pandangan hidup dalam berbangsa. UUD 1945 benar-benar menjadi pedoman bagi penyelenggara negara, NKRI adalah tujuan kita bersama, dan meminjam kalimat sakti dari Kang Maman, notulen Indonesia Lawak Club, bahwa “Jika tidak bhinneka, bukan Indonesia.”

Layar di depan kami tak berhenti menayangkan beberapa slide, yang isinya tentang nilai-nilai yang seharusnya dikembangkan oleh kita semua. Saya sempat mencatat isi dari beberapa slide, yang semuanya didahului dengan kata “berhenti.”

Berhenti menyakiti, mulailah menghargai

Berhenti silang pendapat, mulailah musyawarah

Berhenti memaki, mulailah memakai hati

Berhenti merendahkan, mulailah menghormati

Berhenti diskriminasi, mulailah toleransi

Berhenti berseteru, mulailah bersatu

Bersama Mbak Rosy Pasaribu

Bersama Mbak Rosy Pasaribu

Acara ditutup dengan sesi tanya jawab. Sebelumnya, Pak Ma’ruf Cahyono menutup presentasinya dengan membacakan sebuah puisi yang telah beliau hapal.

Setelah sekian banyak jatuh bangun

Setelah sekian banyak tertimpa dan tertempa

Setelah sekian banyak terbentur dan terbentuk

Masihkah kita meletakkan harapan diatas kekecewaan

Persatuan diatas perselisihan

Kejujuran diatas kepentingan

Dan Musyawarah diatas…

Ataukah ke Indonesiaan kita telah pudar dan hanya tinggal slogan dan gambar

 

Tidak!

Karena mulai kini, nilai-nilai itu telah kita hadirkan kembali

Kita bunyikan dan kita bumikan

Dalam setiap jiwa dan raga manusia Indonesia

Dari sabang sampai Merauke

Kita akan melihat lebih banyak lagi senyum ramah dan tegur sapa

Gotong royong dan tolong menolong

Kesantunan bukan anjuran, tetapi kebiasaan

Kepedulian menjadi dorongan

 

Dari terbit hingga terbenamnya matahari

Kita akan melihat orang-orang berpeluh tanpa mengeluh

Berkeringat karena semangat dan kerja keras menjadi Ibadah

Ketaatan menjadi kesadaran dan kejujuran menjadi harga diri dan kehormatan

Wajah mereka adalah wajah Indonesia yang sebenarnya

Tangan mereka adalah tangan Indonesia yang sejati

Dan keluhuran budi mereka adalah keluhuran Indonesia sesungguhnya

Mulai hari ini mari kita gemakan INI BARU INDONESIA

Advertisements

8 Comments (+add yours?)

  1. zilqiah angraini
    Oct 30, 2016 @ 05:54:03

    terharu saya sama semua penjelasan pak Ma’ruf Cahyono,, eksistensi MPR mmg kian hilang dimata masyarakatnya, tapi besar sekali tanggung jawab MPR. jaya terus Blogger Indonesia 😀

    Reply

  2. Ifah
    Oct 30, 2016 @ 06:34:34

    Berasa kembali ke kelas pendidikan kewarganegaraan. Tulisannya kerenn kak 😊

    Reply

    • BungaTongeng
      Oct 30, 2016 @ 08:42:08

      Terima kasih. Ya, berasa ke kelas kewarganegaraan. Bedanya, dulu dianggap sebagai mata pelajaran saja, saat ini dianggap sebagai kebutuhan. Karena Indonesia yang sesungguhnya adalah kita

      Reply

  3. Inar
    Oct 30, 2016 @ 14:33:24

    Ah… Bagus puisinya. Sayangnya tidak ikut disini, memilih untuk bawa Eci main di event satunya.

    Reply

  4. ndygirly
    Oct 31, 2016 @ 03:45:55

    Instansi pemerintah, termasuk MPR semakin melirik eksistensi blogger sebagai penyampai informasi. Makin semangat ngeblog, semangat menyebarkan informasi dari hati 🙂

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: