Social Media versus Market Place

Karena terlalu sering mengantarkan paket kiriman ke rumah, kurir dari salah satu perusahaan jasa pengiriman itu bercanda ke saya.

“Kenapa malas sekali ke toko? Semuanya barang dibeli online kah?”

Saya hanya tersenyum saat mendapat pertanyaan itu. Bisakah bapak itu membayangkan, berapa uang yang harus saya keluarkan untuk berkunjung ke Jogya, hanya untuk membeli handle tas atau kain batik tulis, yang semuanya tidak tersedia di Makassar?.

Bagi saya, belanja online itu, semacam mendekatkan toko yang jauh ke arah rumah kita. Ada beragam produk yang menawarkan harga yang lebih murah daripada membeli di Makassar, meski setelah ditambahkan ongkos kirim. Begitu pula dengan jasa transportasi. Dulu, untuk membeli tiket, kita harus ke agen perjalanan.  Saat ini sudah bisa mengecek sendiri penerbangan yang diinginkan, membandingkan beda harga tiket menurut waktu penerbangan, dan membayarnya tanpa tunai. Semua dilakukan secara online.

Ada dua pilihan tempat belanja online. Jejaring sosial dan market place. Belanja di jejaring sosial laksana belanja di sebuah toko, sementara belanja di market place ibarat belanja di sebuah mall besar.

Beberapa teman yang mengetahui bahwa saya sering belanja di kedua tempat online tersebut, menanyakan hal berbeda.

“Tidak pernah ditipu? Uang ditransfer tapi barang tidak datang”

“Ah, pasti barangnya tidak sama dengan gambar di Facebook”

Ya, ada beberapa teman yang pernah mendengar bahwa belanja online, rentan akan penipuan. Belum lagi keluhan bahwa sudah membayar mahal untuk sebuah barang, tapi begitu diterima di rumah, ternyata baju ataupun tas tidak sesuai dengan gambarnya. Parahnya, saat komplain ke penjual, mereka tidak menerima jawaban memuaskan dan tak bisa meminta ganti rugi atau penggantian.

Pernah seorang teman bertanya pula ke saya, tapi saya lupa siapa orangnya. Ia menanyakan yang manakah lebih baik dan aman, belanja di jejaring sosial seperti Facebook dan Instagram atau belanja di market place  seperti Tokopedia dan Bukalapak.

Saya ingin berbagi jawaban saya atas pertanyaan teman itu, kepada pembaca tulisan ini. Tapi jawaban ini hanya dari sudut pandang saya saja. Tiap orang mungkin punya pertimbangan berbeda saat memutuskan akan belanja dimana.

Alhamdulillah, selama ini saya belum pernah kena tipu. Barang yang saya beli, selalu saya terima dengan baik. Meski sebenarnya beberapa kali kesal karena harus menunggu agak lama. Tapi bukan karena kesalahan toko onlinenya, melainkan kesalahan jasa pengiriman. Pernah satu kali menerima barang yang nampak kualitasnya lebih rendah dari yang terlihat di gambar. Belakangan saya menyadari bahwa saya berbelanja berdasarkan gambar dan luput membaca keterangan produk. Sejak itu, saya jadi teliti dalam berbelanja.

Lalu, lebih baik baik dan aman yang mana, belanja di jejaring sosial atau market place?. Saya coba paparkan beberapa hal yang perlu diketahui tentang berbelanja di jejaring sosial dan market place sebagai bahan pertimbangan untuk Anda memutuskan.

Belanja di jejaring sosial

  • Untuk produk fashion, butuh ketelitian dalam membaca deskripsi produknya. Hindari membeli baju atau sepatu di toko yang tidak mencantumkan spesifikasi yang detil tentang produk tersebut. Diskusilah dengan pemilik akun jika Anda merasa perlu menanyakan sesuatu terkait kualitas produk.
  • Agar terhindar dari penipuan, pastikan akun Facebook atau Instagram tersebut adalah akun asli. Cobalah meneliti siapa saja yang sudah berbelanja serta komentar dari yang akan dan telah berbelanja. Tentunya ini butuh waktu yang sedikit lama. Lagipula belum tentu semua yang sudah berbelanja, akan mau berkomentar kembali di foto produk yang telah ia beli. Beberapa toko online mengunggah screen capture pesan singkat yang berisi testimoni pelanggannya. Namun testimony semacam itupun, masih bsia direkayasa.
  • Sebelum memutuskan membeli, pastikan tidak ada masalah terkait pembayaran atau masalah lain yang dihadapi pelanggan dengan toko online yang akan Anda tempati berbelanja. Caranya dengan membaca secara acak komentar-komentar yang ada. Cara ini tetap membutuhkan waktu.
  • Beberapa toko online tidak melayani pemesanan dan diskusi di Facebook atau Instagram. Biasanya mengarahkan diskusi ke percakapan Whatsapp, BBM atau Line. Anda bebas memutuskan, apakah hal itu rumit untuk dilakukan atau tetap nyaman melakukannya. Saya terkadang memutuskan tidak belanja produk tertentu jika prosedurnya terlalu berbelit-belit.

 

Belanja di market place

  • Market place yang sudah terkenal mensyaratkan kepada pelapaknya untuk mencantumkan detail produk yang dijual. Bahkan ada yang berani memberi jaminan 100% uang kembali jika ternyata Anda merasa ditipu dan komplain Anda masuk akal bagi pengelola market place.
  • Ada fasilitas diskusi dengan pemilik toko, jika Anda ingin tahu lebih banyak tentang produk yang akan dibeli. Diskusi tersebut bisa dibaca oleh calon pembeli lain.
  • Karena market place seperti sebuah mall, maka ada banyak pilihan barang yang serupa di banyak toko. Bahkan ada barang yang sama, dijual di beberapa toko dengan harga yang berbeda. Untuk membandingkan harga dari satu toko dengan toko lain, dapat dilakukan dengan mudah. Tidak sesulit di jejearing sosial.
  • Tersedia fasilitas peringkat dan review bagi pelanggan yang telah melakukan transaksi, sehingga memudahkan dan menghemat waktu calon pembeli untuk menelusuri keungggulan produk yang dijual.
  • Pengelola biasanya menetapkan denda atau penalty kepada toko yang salah mengirimkan barang atau mendapat banyak komplain keras dari pembeli. Hal ini membuat toko harus lebih jujur dalam berdagang.
  • Rekening bersama, di mana pembeli hanya melakukan pembayaran ke rekening market place, sehingga calon pembeli terjamin keamanannya dalam bertransaksi.

Selamat berbelanja dan siapkan diri Anda untuk diskon besar-besaran di Hari Belanja Online Nasional 1212 Desember nanti.

Tulisan ini untuk menjawab baku tantang blog dalam rangka 10 tahun Komunitas Blogger Angingmammiri

Advertisements

6 Comments (+add yours?)

  1. Liadjabir
    Nov 20, 2016 @ 16:50:17

    Memang yaa…belanja online itu seperti pilihan hidup. Ada org yg msh gak nyaman tp ada juga yg lbh nyaman belanja online

    Reply

  2. ndypada
    Dec 04, 2016 @ 03:59:21

    Saya juga pelaku online bisnis yang masih memanfaatkan telepon, sms dan media sosial dalam berdiskusi dgn konsumen. Biasanya memang konsumen ada yang lebih nyaman chat atau telepon langsung untuk memastikan produk yang ingin dibeli. Ini jauh lebih personal. Ketika ditanya siapa penjualnya, pembeli akan ingat merk dagang dan nama orang yang menjual. Bukan hanya alamat website-nya 🙂

    Reply

  3. Abby Onety
    Mar 25, 2017 @ 00:01:21

    Belanja online sdh jadi lifestyle bgi byk orang. Mudah bdk bikin rempong

    Reply

    • BungaTongeng
      Mar 25, 2017 @ 00:05:47

      Saya sudah merasakan rempong dan lebih mahalnya beli offline. Biasanya beli resliting online tuk buat dompet. Karena mau cepat, saya ke toko Harapan cari resliting meteran. Tak ada warna itu. Lalu pindah ke toko Sahabat. Tak ada juga. Lalu ke Singaraja, masih tidak ada. Akhirnya menemukan di toko Mewah. Banyak waktu dan rempongnya jalanan sekitar pasar sentral. Jatuhnya malah lebih mahal daripada beli resliting online.

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: