Film Kartini: Berjuang dengan Tulisan dan Bakti

Film Kartini (sumber: liputan 6.com)

“Pikiran lebih perkasa dibandingkan tubuh. Dia mampu membongkar penjara yang menjerat tubuh hingga jadi serpihan pasir” – KARTINI

Kerap membaca status di media sosial, mengapa ada Hari Kartini? Mengapa Kartini lebih dikenal dari pada Cut Nyak Dien? Mengapa hari kelahirannya diabadikan sebagai hari nasional?.

Jika kumpulan surat kartini tak mampu menjawabnya, maka saya sarankan untuk menonton Film Kartini, yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo. Sosok cerdas dan wajah sendu Dian Satro mampu menghadirkan sosok Kartini dengan sangat baik.

Angkat jempol kembali tuk Hanung. Jika sebelumnya saya meneteskan air mata saat adegan proklamasi, yang dikemas dalam aransemen musik Jay Subiyakto yang super keren, pada film Soekarno, maka kali ini air mata saya kembali menetes di adegan-adegan akhir film Kartini. Indonesia harus punya film-film dengan latar belakang sejarah seperti ini. Kartini didukung oleh pemain-pemain terbaik Indonesia. Selain Dian Sastro, ada Christine Hakim, Acha Septriasa, Ayushita, Dedi Sutomo, Reza Rahardian, Adinia Wirasti, Djenar Maesa Ayu dan Dwi Sasono.

Usaha keras para pemain tergambar dari dialog film yang didominasi bahasa Jawa dan Belanda. Dian Sastro bersama dua adiknya, Ayushita (Kardinah) dan Acha (Rukmini), nyaris sepanjang film berdialog dalam bahasa Jawa, membuat penonton terbawa ke suasana Jawa jaman dulu. Hanung memastikan kentalnya tradisi Jawa sejak di awal film, yang menyuguhkan adegan Dian Satro harus berjalan jongkok tuk menghadap sang ayah.

Film berlatar belakang Jepara tahun 1800an ini bercerita tentang perjuangan Kartini dan sosok perempuan di jaman itu. Kedua ibu dari Kartini, yaitu Ngasirah, ibu kandungnya, dan Raden Ajeng Woerjan, digambarkan sebagai perempuan Jawa yang berjuang agar anak-anak mereka memiliki derajat yang tinggi, dengan menyandang gelar Raden Ayu.

Saat perempuan mulai haid pertama, mereka harus dipingit dalam rumah hingga ada yang datang melamar. Mereka yang berasal dari kalangan bangsawan, akan memiliki nama depan Raden Ajeng, yang kemudian berubah menjadi Raden Ayu, saat mereka telah menikah. Tradisi untuk mencapai gelar Raden Ayu inilah yang menjadi fokus film ini, menurut saya. Bukan sekadar pingitan fisik, namun pingitan dari belajar, berfikir luas dan mengecap pendidikan.

Bagi saya, film ini menunjukkan bahwa tiap perempuan memiliki perjuangannya sendiri-sendiri. Ada Cut Nyak Dien yang memiliki kesempatan besar, terjun langsung angkat senjata tuk berjuang demi kemerdekaan negerinya. Namun ada pula sosok perempuan Indonesia seperti Kartini, yang berjuang dengan air mata tuk bebas dari kukungan. Bukan berjuang demi dirinya saja, tapi juga perempuan-perempuan sekitarnya, agar bisa bersekolah. Sebagai seorang anak Bupati, ia memiliki kesempatan untuk belajar, bisa mengakses buku dan jurnal, serta bisa untuk mengajar perempuan-perempuan Jepara agar bisa baca tulis.

Beberapa adegan menarik dalam film ini adalah:
1. Upaya besar Kartini agar tulisannya dimuat di jurnal kerajaan Belanda
2. Perdebatan sang Ayah dan para Bupati yang cemas jika Kartini, perempuan dan orang miskin mulai cerdas, kekhawatiran mereka jika perempuan suatu saat bisa menduduki posisi Bupati.
3. Pilunya pernikahan Kardinah
4. Dialog pendek Kartini dan Kiyai Soleh Darat. Saya baru tahu jika Kartini membantu beliau mencetak dan menyebarkan terjemahan Qur’an dalam bahasa Jawa
5. Konflik pengajuan beasiswa dan rengekan Roekmini agar diberi ijin sekolah seperti kakaknya
6. Dialog Kartini dan ibu kandungnya setelah datangnya pinangan Bupati Rembang
7. Pengajuan syarat Kartini untuk menerima pinangan

Masih ada banyak adegan haru biru dalam film ini. Saya tak akan menuliskan semua tentang isi film Kartini. Silahkan Anda menontonnya sendiri. Temukan bagaimana Kartini berjuang dengan menulis. Bagaimana ia mengajukan pembangunan sekolah perempuan sebagai syarat untuk menerima pinangan Bupati Rembang, dalam pengambilan gambar dan tata suara yang apik, dari film tersebut.

Selamat Hari Kartini. Tiap perempuan punya perjuangannya sendiri.

Advertisements

13 Comments (+add yours?)

  1. Eryvia Maronie
    Apr 21, 2017 @ 01:16:54

    Pengennya segera nonton film ini!
    I love history

    Reply

    • BungaTongeng
      Apr 21, 2017 @ 01:19:07

      Nonton maki segera. Sinematografinya keren dan pemainnya total. Filnya pake sub title karena berbahasa Jawa dan Belanda. Dikit-dikit ada juga dialog Indonesia

      Reply

  2. Abby Onety
    Apr 21, 2017 @ 01:20:39

    Kerenn tulisannya unga. Sy jadi penasaran sm film ini. Mau nonton ahh..

    Reply

  3. Nurfitriana, A.M
    Apr 21, 2017 @ 01:25:03

    Selamat hari Kartini, Kak Bunga.
    Semoga semangatnya selalu ada dalam jiwa perempuan-perempuan Indonesia.

    Reply

  4. Kotak Rindu
    Apr 21, 2017 @ 01:32:11

    Tak lengkap rasanya memahami sosok kartini sebelum menonton filmnya. Tulisan ini telah mengganggu fikiran saya, apakah semenarik itu film ini. Apakah betul Kartini berperan dalam pencetakan dan penyebaran Al Quran dalam bahasa Jawa.
    Oiya, saya sebenarnya ingin tahu, seperti apa penerimaan Kartini terhadap pernikahannya?

    Reply

    • BungaTongeng
      Apr 21, 2017 @ 01:35:53

      Tidak spesifik dalam film menggambarkan penyebaran terjemahan Quran dalam bahasa Jawa. Tapi adegan seperti apa proses penerimaan pernikahannya, lumayan durasinya. Kartini tetap perempuan jawa. Nontonlah

      Reply

  5. Zilqiah angraini
    Apr 21, 2017 @ 02:21:39

    Pintarnya kak unga mereview film ganggg apikkk banged bacanya jadi bikin pengen langsung segera nonton !! Wajib inii

    Reply

  6. Ifa
    Apr 21, 2017 @ 02:22:02

    Jiahhh baruki mau diajak nonton. Yassudahlah πŸ˜›πŸ˜›πŸ˜›

    Reply

  7. Fillyawie
    Apr 25, 2017 @ 10:14:57

    Saya belim sempat menonton film Kartini, setelah baca tulisan Ka Unga jadi merasa wajib menonton film ini. Semoga masih sempat.

    Reply

    • BungaTongeng
      Apr 25, 2017 @ 10:20:55

      Tontonlah sebelum turun tayang. Menurutku…ada sisi inspiratif yang jarang tersampaikan selama ini. Menurutku, pesan emansipasinya, bukanlah mengejar karir setinggi-tingginya. Bahkan Kartini melepas beasiswanya ke Belanda dan beliau adalah ibu rumah tangga

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: