Sarjana Komunitas

Foto: Kak Ifa

Ini hanyalah gelar candaan dari teman-teman di group line Gowa Menyala, sebuah gerakan dampingan literasi untuk anak sekolah dasar di Gowa. Ini gerakan yah, bukan komunitas, lho. Saat sedang mempersiapkan kegiatan, beberapa teman silih berganti menyebut nama Accul, yang jarang muncul di group, padahal sedang dibutuhkan kehadirannya. Teman-teman bisa memahami kesibukan Accul, yang saat ini sedang melanjutkan kuliah S2-nya. Apalagi beberapa teman yang aktif berisik di group, juga sedang dalam tahap penyusunan skripsi dan ujian akhir.

Seharian menunggu, muncullah Yani di group line dengan istilah barunya, Sarjana Komunitas. Jadi ceritanya begini, Yani tanpa disengaja bertemu dengan Accul di rapat awal persiapan Pesta Komunitas Makassar. Saya lupa kapan tepatnya. Yani dan Accul sama-sama tergabung dengan Makassar Berkebun, sehingga mereka sudah saling kenal, sebelum bergabung di gerakan Gowa Menyala. Malam itu di group, seorang membuka percakapan dengan menanyakan apakah Accul sudah muncul di group. Dia biasanya nongol setelah pukul 11 malam.

“Belum,” jawab seorang teman saat itu.
“Begitu memang kalo S.Kom,” kata Yani.

Spontan semua yang sudah bergabung di percakapan group malam itu, menanyakan gelar S.Kom tersebut. Setahu kami, Accul melanjutkan kuliah di Teknik Unhas. Bagaimana mungkin dia bisa lolos jika jenjang sebelumnya dari komunikasi. Rupanya S.Kom yang dimaksud bukan gelar untuk sarjana komunikasi, melainkan sarjana komunitas.

“Banyak komunitasnya. Kalau ada acara komunitas, adami sedeng mukanya,” demikian Yani menjelaskan gelar baru yang dia berikan ke Accul.

Entah benar atau tidak, tapi yang saya tahu Accul hanya aktif di Sahabat Berbagi (SiGi) dan Makassar Berkebun. Beberapa teman pernah bercerita, meski bergabung di beberapa komunitas, dia tergolong setia berkontribusi di komunitas yang dia ikuti. Saya sendiri pertama kali berkenalan dengannya di gerakan Kelas Inspirasi. Saya suka gerakan sosial ini, karena menyatukan banyak orang yang berasal dari berbagai komunitas, bahkan orang yang tak berkomunitas sama sekali. Bergerak bersama-sama tanpa membawa nama komunitas atau instansi masing-masing.

Tulisan ini sebenarnya terinsipiasi dari Pesta Komunitas Makassar (PKM) 2017 yang berlangsung di 19-20 Agustus 2017. Ulasan tentang gelar sarjana komunitas, yang cuma candaan di group percakapan itu, sudah cukup yah. Tak perlu panjang-panjang. Mari berpindah ke latar belakang munculnya gelar itu tuk Accul, yaitu karena bergabung di beberapa komunitas.

Bukan hanya Accul yang terlibat di lebih dari satu komunitas. Beberapa orang yang saya kenal, pun memilih menjadi anggota dua atau tiga komunitas. Duh, mengapa harus menyebut orang lain? Saya juga seperti itu. Ngaca, Unga!

Dua hari lalu, saat makan siang dengan Dede, Relawan Sobat LemINA yang bergabung pula di SiGi (Nah kan, gabung di dua komunitas juga), pembicaraan mengarah ke hal yang sama. Dia menyatakan bahwa tak mau terlibat ke banyak komunitas. Selain karena alasan bekerja, Dede pun menyatakan sudah merasa nyaman dan menemukan tujuan bergabung di komunitas yang ia miliki sekarang. “Oke, itu alasan kamu,” ucap saya dalam hati.

Ini anak mau cerita tentang gaya berkomunitasnya atau mau nyindir saya yang gabung di komunitas ini itu? Stop baper jika ada yang berbeda pilihan dengan kamu, Unga. Bukankah lebih baik menyampaikan argumentasi tuk jadi bahan tukar pikiran, daripada diam lalu disusul dengan baper berkepanjangan.

Sambil berusaha mengingat sudah bergabung jadi anggota di komunitas apa saja (seolah banyak komunitas, padahal memori yang agak lemah), saya kemukakan argumen ke Dede jika keputusan saya bergabung ke beberapa komunitas adalah untuk memperluas jaringan pertemanan dan ingin belajar beragam hal dari orang-orang baru. Untuk komunitas sosial dan edukasi, saya memilih bergabung di Sobat LemINA dan Penyala Makassar. Meski jenisnya sama, tapi beda area sasarannya. Yang satu lebih ke pendampingan anak-anak, satunya ke penyediaan buku bermutu bagi anak-anak. Dua tahun terakhir agak kurang aktif di Penyala. Sempat pula berupaya bergabung aktif di Sedekah Awal Bulan, tapi susah atur waktu. Teman-teman di Sedekah Awal Bulan masih rajin mengundang tiap milad mereka. Maafkan saya yang memiliki keterbatasan waktu.

Untuk pengembangan diri, saya bergabung di Ibu-ibu Doyan Nulis (IIDN) chapter Makassar. Yeaaay, ini komunitas yang paling menyenangkan bagi saya. Dari perempuan bercadar hingga belum atau tidak menutup kepala, semuanya ada. Di sini saya belajar menulis dan terinspirasi dengan perempuan-perempuan yang doyan menulis. Bergabung dengan harapan terjangkiti kebiasaan menulis dan syukur tiada henti, jika bisa menelorkan satu buku solo. Beberapa dari saudaraku di IIDN sudah menerbitkan buku. Hebat!

Gabung di mana lagi yah? Zukaa Craft. Ini adalah komunitas kecil yang suka craft. Kami berdua belas, punya brand untuk produk craft masing-masing. Meski sudah jarang bertemu akhir-akhir ini, tapi tetap saling menyemangati. Entah ini komunitas atau cuma kelompok crafter saja. Intinya saya bahagia bisa menjadi bagian darinya. Sebenarnya awal terbentuknya, karena kami semua tergabung di Kompakers Makassar (KM). Komunitas posting foto kompakan yang just for fun, tapi tidak asal. Anggotanya dominan gadis cantik dan emak-emak muda yang manis. Saya emak manis? Abaikan.

Saya nyaris baper di komunitas ini. Penyebabnya? Ini bagian yang belum kuceritakan ke Dede di makan siang kami. Biar kutulis di sini saja. Gara-gara sebuah opini di sebuah blog yang menyatakan bahwa Kompakers (KM) adalah komunitas yang membingungkan baginya. Kalo bingung, bertanya dong. Penulisnya memang bertanya dalam tulisannya. Dia menanyakan apalah esensi, faedah dari kegiatan kompak meng-upload foto sesuai tema mingguan terhadap pemerataan pendidikan dan pemberantasan kemiskinan?

Untungnya dibaca oleh Ibu Lurah, sebutan kami tuk ketua Kompakers. Kemudian ramai dibahas di group line. Saya jadi baper mengetahui ada opini seperti itu. Peristiwanya sudah lama, satu atau dua tahun lalu. Saya tak yakin. Kalau tak salah, ada yang berniat untuk menjawab pertanyaan tersebut dalam bentuk tulisan juga, tapi kemudian diurungkan. Teman-teman sampai pada keputusan bahwa itu hanyalah opini yang tak perlu dijawab.

Malam 20 Agustus 2017 ini, PKM 2017 yang mengusung tema “Merdeka Dengan Berkarya” sudah ditutup. Berharap event ini punya konsep berbeda setiap tahunnya. Bila ada tanya, apakah semua komunitas yang bertemu dan berbagi di pesta tersebut memiliki kegiatan yang berfaedah terhadap pemerataan pendidikan dan pemberantasan kemiskinan? maka silahkan masing-masing beropini. Walau sudah 7 tahun menjadi relawan anak di Sobat LemINA, masih tak berani menjawab bahwa kegiatan kami berkontribusi bagi pemerataan pendidikan, apalagi pemberantasan kemiskinan.

Bersyukur ada PKM, dari sanalah saya tahu bahwa tak semua komunitas adalah komunitas sosial dan edukasi. Ada komunitas hobby dan komunitas kreatif juga. Ada yang namanya lucu, seperti komunitas Fotografer Jomblo. Cobalah lempar pertanyaan serupa pada anggota komunitas pencinta reptil atau komunitas pengangum band jepang. Saya tak bisa membayangkan jawaban mereka.

Sesungguhnya tiap komunitas bergerak berbeda. Meski ada yang jenis atau bidang kegiatannya sama, tetap saja masih bisa ditemukan perbedaannya. Jika tertarik bergabung dalam sebuah komunitas, saya menyarankan kepada pembaca tuk memastikan diri mengenali apa tujuan bergabung, biar bisa betah di dalamnya.

Menutup tulisan ini, saya berterima kasih kepada teman Komunitas Blogger Anging Mammiri (AM), yang selalu setia membaca komentar sindiran saya tentang tidak ramahnya kegiatan AM kepada emak-emak. Akhirnya tahun ini bisa bergabung di komunitas AM lewat Kelas Makkunrainya. Love You, MAM

#bukanIdealis
#cumaRelawan

Advertisements

11 Comments (+add yours?)

  1. indhylicious
    Aug 20, 2017 @ 23:43:38

    😙😙 wah, dalamnyaa…

    Salah satu faedah berkomunitas, dapat jodoh .. suueerrr 😂 #pengalaman
    Salah duanya.. belajar banyak menjadi manusia manusia kuat.. 😊😊

    Reply

  2. Inar
    Aug 21, 2017 @ 00:17:15

    Dulu saya mau menjawab tulisan di revius itu. Tapi urung, lupa karena apa. Membaca ini jadi pengen jawab lagi.
    Btw, saya juga termasuk yang bergabung di banyak komunitas. Tujuan utamanya ingin belajar dan menemukan banyak hal baru yang membuat hidup lebih dinamis.

    Reply

    • BungaTongeng
      Aug 20, 2017 @ 16:24:11

      Ya. Beberapa orang bergabung di banyak komunitas karena tiap komunitas menawarkan hal berbeda tuk dipelajari. Adakah komunitas pencinta kaktus dan sululen? Mauka juga gabung

      Reply

    • BungaTongeng
      Aug 20, 2017 @ 16:25:48

      Inar..waktu itu kita semua obrolkan di group bahwa si penulis opini tak paham bahwa kita bukan komunitas sosial, meski ada tonji kegiatan sosialnya di Ramadhan.

      Reply

  3. Samri
    Aug 21, 2017 @ 11:55:17

    Ulasannya, mantep mbak unga.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: