Categories
Travel

Lokasi Strategis yang Minim Sentuhan

 

Kupa Beach Restaurant

Tak menjamin bahwa ramainya sebuah tempat, karena terletak di lokasi yang strategis. Hal itu terbukti pada tempat yang kusinggahi ini.

Tidak sulit menemukan KUPA beach. Terletak di perbatasan antara Kab.Barru dan Pare-pare. Namun Kupa beach yang saya tuliskan di sini, bukanlah tentang pantai, melainkan sebuah restoran yang letaknya tepat di bibir pantai Kupa, kabupaten Barru.

Categories
Inspiration

Fotografi Syar’i

Foto terbaruku tuk Upload Kompakan
Foto terbaruku tuk Upload Kompakan

Jangan membayangkan akan menemukan foto perempuan-perempuan berhijab syar’i, yah. Fotografi Syar’i hanyalah istilah saya saja. Sebenarnya ini adalah kegiatan mengambil gambar oleh sekelompok orang yang menjadi follower dari sebuah akun instagram, Upload Kompakan.

Mengapa saya menyebutnya fotografi syar’i?

Categories
Travel

Etalase Sepi

Coklat Chalodo (foto: koleksi pribadi)
Coklat Chalodo (foto: koleksi pribadi)

Ada sepi, di balik kaca bening yang berjarak 2 meter di belakang saya. Sepertinya habis diborong oleh pembeli, tebakku. Terakhir kali ke sini, beberapa bulan lalu, lemari etalase itu berisi aneka pilihan olahan coklat.

Ini kali kelima saya ke Masamba, ibukota Kabupaten Luwu Utara. Banyak yang mengenal kabupaten ini sebagai penghasil biji coklat atau kakao, sejak tahun 90an. Namun masih kurang yang tahu bahwa kini Masamba memiliki produk lokal yang bisa dinikmati oleh semua orang, berupa coklat bubuk, coklat batangan dan permen, yang merupakan olahan dari biji kakao. Bukankah coklat siap makan, lebih cocok dijadikan cemilan atau oleh-oleh daripada biji coklat?. 

Categories
Jejak di 100 Sekolah Voluntary

Haruskah siswi madrasah berjilbab?

Seorang siswi sedang mengerjakan tugas
Seorang siswi sedang mengerjakan tugas

Sumpah! belum juga tiba di sana, saya sudah membayangkan akan bertemu siswi-siswi berjilbab dengan wajah lugu. Tapi saya tak menemui satu orangpun yang berjjilbab, kecuali guru-gurunya. Bukankah ini madrasah?

Harus melalui sebuah punggung tanggul penahan sisi muara sungai di Paotere, untuk berkunjung ke madrasah tersebut. Meski Sultan, teman relawan, menyatakan sudah melapor ke kepala madrasah, tapi saya berupaya menahan diri untuk tidak masuk, sebelum siswa-siswa Sekolah Alam Bosowa tiba di lokasi. Ssst, alasan lainnya adalah karena saya melihat Dede dari kejauhan,

Categories
Inspiration Voluntary

Relawan?

Relawan Anak

“Bisakah seseorang berhenti menjadi relawan? Saya kira, tidak,” demikian tanya yang dilontarkan ke saya oleh seorang Relawan, Ica. Waktu itu, kami bertemu di workshop perencanaan program komunitas Sobat LemINA.

Ia memang sering menanyakan hal yang tak terduga dan kadang memaksa saya berfikir sejenak sebelum menjawab.
Riri, seorang teman, sesama relawan juga, bantu menjawab “Seperti halnya kesabaran, ada batasannya, begitupun dengan kerelawanan. Tapi bukankah menjadi relawan adalah panggilan jiwa?”

Sesungguhnya ada beberapa macam relawan yang saya ketahui. Mungkin yang dimaksud oleh teman saya ini, adalah relawan event.

Categories
Diary Inspiration

Mengapa Ada Hari Belanja Online Nasional?

harbolnas
Yang ber-sosial media, pasti pernah lihat iklan #1212sale. Tahukah anda, jika tanggal 10-12 Desember 2015 adalah Hari belanja online nasional (Harbolnas)? dan bukan kali pertama dilaksanakan. Harbolnas telah menjadi event tahunan sejak tahun 2012. Namun tahun ini, jumlah e-commerce yang bergabung sudah lebih dari 130. Jumlah yang tergolong besar untuk membuat kita bisa bebas memlilih diskon terbesar atau harga termurah.
Diskon di Harbolnas lumayan besar, semua toko menawarkan dari 50% hingga 90%, ditambah lagi promo diskon dari bank atau provider telekomunikasi.

Saya adalah salah seorang dari sekian banyak yang suka belanja online.

Categories
Crafting

My Fabric Pot

Sebenarnya, saya tidak mahir menjahit. Namun sejak nyemplung bebas di group Zukaacraft, tempat perempuan-perempuan suka crafting ngumpul, saya jadi ikut terpengaruh ngecraft barang-barang sederhana.

Sukulen adalah salah satu jenis tanaman kesukaan saya, akhir-akhir ini. Jaman dulu suka Kaktus. Lalu Kaktusnya mati semua. Lama tak memelihara jenis kaktus lagi, tiba-tiba kenalan dengan Sukulen yang lucu-lucu. Alasan suka Sukulen, tetap saja terkait dengan alasan sibuk dan malas (malas dan sibuk, beda tipis ya?). Sukulen disiramnya cuma seminggu sekali. Asyik kan?.

Meski masih sekeluarga dengan Kaktus, Sukulen memiliki keunggulan lain,

Categories
Diary

Pencipta Kemiskinan

Mungkin semua orang pernah membaca ayat yang satu ini. Beberapa mungkin sudah berkali-kali membaca artinya, atau bahkan kita sering mendengarnya diulas berulang-ulang oleh Udztas atau Penceramah yang berbeda.

Ayat ini kemudian menjadi berbeda bagiku, entah oleh orang-orang yang hadir pada peluncuran buku 99 Mutiara Hijabers Kang Maman di toko buku Gramedia Mall Ratu Indah sore itu, 21 Agustus 2015 yang lalu.

Mengapa berbeda? Karena diam-diam aku membandingkannya dengan cara para Penceramah Agama atau pak Udztas yang pernah kudengar memaparkan ayat ini.

Peluncuran 99 Mutiara Hijabers
Peluncuran 99 Mutiara Hijabers

Kang Maman Suherman yang sore itu didampingi Astri Husain, seorang Ilustrator perempuan, yang mempercantik buku terbarunya dengan lukisan tangan miliknya, tiba-tiba melempar pertanyaan usai Ia bercerita tentang bagaimana Ia hanya diberi jatah Lima Puluh Ribu per bulan untuk kuliah di Jakarta.

“Allah sesungguhnya menciptakan sesuatu itu berpasang-pasangan, coba jawab pertanyaan saya” ujarnya saat itu. “Allah menjadikan tertawa dan ?, Mematikan dan ? Perempuan dan?” lanjutnya. Setiap kali melempar satu Tanya, pengunjung hampir serentak menjawab, berturut-turut, menangis, menghidupkan, dan perempuan. Lalu Kang Maman secepat mungkin menyusul dengan pertanyaan keempat, “Allah memberikan kekayaan dan?.”

Categories
Diary Inspiration

Kartu Lebaran dari Anies Baswedan

Ada yang pernah berburu kartu lebaran di toko buku, saat bulan Ramadhan? Entah kapan terakhir kali saya mengirim ataupun menerima kartu ucapan ldul Fitri. Benda bernama perangko pun, rasanya sudah lama sekali tak membelinya. Pemandangan halaman kantor pos yang biasa dipadati penjual kaki lima yang jualan kartu ucapan beraneka desainpun, sudah tak pernah lagi kutemui.

Kala telpon genggam tidak lagi menjadi barang mewah, ucapan selamat Idul Fitri lebih banyak disampaikan melalui pesan singkat ataupun saling menelpon dengan kerabat dan sahabat.

Semakin murahnya berinternet, juga semakin membuat kartu lebaran bukan lagi pilihan untuk mengucapkan selamat Idul Fitri kepada siapapun. Cukup dengan pesan obrolan melalui aplikasi messenger BBM, Wahtsapp, Line, Facebook dan lain-lain, ucapan maaf lahir batin dapat terkirim dengan cepat.

Sebuah kartu ucapan Idul Fitri tiba di rumah, diantar oleh petugas Pos. Kartu dengan desain sampulnya bukan lukisan masjid, kaligrafi, bunga ataupun pemandangan alam, melainkan foto keluarga mas Anies Baswedan.

Categories
Diary Travel

Manik-manik dan syal dari Tanah leluhur

Wisata makam, ya? Demikian candaan yang sering kulontarkan, jika ada teman yang akan ke Tana Toraja. Sebagian besar objek wisata di sana, memang berupa lokasi pemakaman tua yang tidak lazim.

Februari lalu, aku melakukan perjalanan kerja ke sana. Ini adalah keempat kalinya aku mengunjungi Toraja, kabupaten yang memiliki budaya amat berbeda dari kabupaten-kabupaten lain di Sulawesi Selatan.

Dibanding upacara pernikahan, suku Toraja lebih menjunjung tinggi tradisi kematian dan pemakaman. Ini salah satu penyebab mengapa objek wisata di sana lebih dominan berupa pekuburan yang berada di tebing-tebing, diantara celah dan curukan tebing tersebut. Meski demikian, kita masih bisa menikmati objek lain berupa pemandangan pegunungan yang indah, situs megalitikum dan kerajinan khas dari tanah leluhur ini.

Lebih dikenal dengan wisata pekuburannya, tidak kemudian menjadikan Toraja menjadi tempat yang kental dengan hal mistis. Peristiwa seperti kerasukan, mendadak sakit dan yang aneh-aneh, kala mengunjungi pemakaman leluhur, nyaris tak pernah ditemui oleh wisatawan.

Sebagian besar waktuku di Toraja kali ini untuk berdiskusi dengan teman-teman Pemerintah, sehingga pilihan jalan-jalannya lebih mengarah ke pusat belanja oleh-oleh.

Tenun Toraja. Sempat kaget tatkala belanja syal dari kain tenun. Aku beli beberapa syal bermotif garis-garis di pasar tradisional, hanya Rp.20..000 perlembarnya. Tatkala pindah tempat ke salah satu toko oleh-oleh, aku menemukan begitu banyak motif, bukan hanya berupa garis-garis, seperti yang umum dijual di pasar ataupun kios-kios yang ada di sekitar objek wisata, namun dengan harga yang jauh lebih mahal. Ratusan hingga jutaan rupiah. Wow.

Penasaran, akupun menanyakan ke Anna, seorang teman yang bekerja di Toraja. Menurutnya, ada beberapa jenis tenunan di Toraja. Yang banyak dijual dan mudah diperoleh, biasanya bermotif lurik-lurik. Menjadi amat murah, selain karena motifnya yang sederhana, juga karena merupakan produksi pabrik dengan benang sintetis.

Pengrajin tenun tradisional (foto: koleksi pribadi)
Pengrajin tenun tradisional (foto: koleksi pribadi)

Syal yang ditenun secara tradisional, bukan pabrikan, namun tetap menggunakan benang sintetis, harganya sedikit lebih mahal. Lalu yang jutaan? ternyata ada bermacam-macam jenis tenunan di sini. Kain yang ditenun dengan alat tenun bukan mesin, ada yang menggunakan benang dari bahan alami, yaitu serat tanaman atau batang pohon tertentu.

Benang dari seratpun, masih terbagi dua lagi. Ada yang menggunakan pewarna sintetis, ada yang masih tetap menggunakan pewarna organik dari cabe,sabuk kepala atau lainnya. Jenis terakhir inilah yang harganya bisa mencapai jutaan.

Benang dengan pewarna organik (foto: koleksi pribadi)
Benang dengan pewarna organik (foto: koleksi pribadi)

Bagi yang ingin belanja tenunan, boleh memperoleh di Pasar Tradisional di kota Rantepao. Untuk tenun organik, bisa jalan-jalan ke toko oleh-oleh yang terkenal di Toraja Utara, toko Todi namanya.

Jika ingin benar-benar melihat proses menenun, bisa ke pusat kerajinan tenun di Sa’dan, Toraja Utara. Di sana, harga tenunnya jauh lebih murah.

Selain tenun, Toraja memiliki kerajinan lain, seperti miniatur rumah Tongkonan, tau-tau dan aksesoris manik-manik.

Aksesoris ini merupakan pelengkap pakaian adat Toraja, yang dikenakan oleh perempuan. Biasanya dikenakan sebagai pengikat kepala, hiasan bahu dan dada, serta sebagai ikat pinggang. Bagian bawah aksesoris tersebut, dibuat menjuntai hingga ke pinggang dan ke lutut.

Tak hanya untuk aksesoris, manik-manik juga dibuat menjadi hiasan rumah. Biasanya berupa corong, mirip kap lampu, yang tepinya dihiasi lagi dengan manik-manik yang menjuntai. Menurut temanku, ada mitos mistis tentang kerajinan ini.

Belanja manik-manik di Kete'kesu (foto: koleksi pribadi)
Belanja manik-manik di Kete’kesu (foto: koleksi pribadi)

Saat ini, manik-manik tidak hanya dibuat sebagai aksesoris pelengkap baju adat, namun juga sudah dibuat sebagai aksesoris sehari-hari, yang bisa dijadikan oleh-oleh para wisatawan.

Berbagai macam gelang, kalung, ikat pinggang, bahkan gantungan kunci yang terbuat dari manik-manik, bisa didapatkan dengan mudah di Toraja. Harganya amat terjangkau untuk dibeli dalam jumlah banyak sebagai oleh-oleh. Dengan Rp.5.000 sudah bisa membawa pulang gelang.

Gelang Toraja di pasar tradisional (foto: koleksi pribadi)
Gelang Toraja di pasar tradisional (foto: koleksi pribadi)

Bagi yang suka mengoleksi manik-aksesoris manik, pasti bisa melihat perbedaan motif manik-manik Toraja dengan punya daerah lain di Indonesia. Motif yang mereka gunakan, masih mempertahankan motif dari leluhur. Pilihan warnanya pun, masih tetap warna Toraja, ini istilah yang kugunakan untuk mengenali warna aksesorisnya.

Gelang khas Toraja (foto: koleksi pribadi)
Gelang khas Toraja (foto: koleksi pribadi)
Rantai etnik Toraja (foto: koleksi pribadi)
Rantai etnik Toraja (foto: koleksi pribadi)

Jangan pernah mencari akseseoris manik-manik berwarna pink, ungu atau tosca di sana. Bakalan tidak pernah menemukan, karena warna khas aksesoris di sana, didominasi oleh kuning, orange, merah, hitam, coklat dan emas. Hal ini menjadikan akseseoris manik-manik Toraja, menjadi berbeda, sekaligus amat mudah dikenali.

Rantai dengan motif khas Toraja (foto: koleksi pribadi)
Rantai dengan motif khas Toraja (foto: koleksi pribadi)

Belanja oleh-oleh ku di kunjungan kali ini, beberapa lembar syal biasa, gelang manik dan sebuah syal yang terbuat dari benang organik.

Syal dari kain tenun toraja
Syal dari kain tenun Toraja

Tak ada yang bisa memelihara tradisi serta budaya negeri kita, selain kita sendiri. Bagiku, memakai barang-barang etnik, khususnya tenun ikat dan aksesoris, menjadkan kita terlihat tampil berbeda dibanding yang lain.

Pamer gelang Toraja bersama buku 101 Travel writing
Pamer gelang Toraja bersama buku 101 Travel writing