Categories
Movies

8 Pesan Parenting untuk Para Bapak dari Super Didi

www.movie.co.id
www.movie.co.id

Didi berupaya melahap secepat kilat isi buku yang dititip sang istri untuknya. “Banyak juga, yah?,” ucapnya setelah melewatkan lembar pertama tentang jadwal kegiatan kedua anak mereka. Itu adalah salah satu adegan yang bisa ditonton dalam film Super Didi, karya sutradara Hadrah Daeng Ratu dan Adis Kayi Yurahmah.

Beruntung bisa menonton film ini dengan gratis bersama beberapa teman yang lain. Saat membaca judul dan sinopsisnya, saya sudah menerka-nerka seperti apa adegan per adegan film ini. Ini pasti tentang rempongnya seorang ayah dalam mengurus anaknya, tebak saya. Lalu sayapun membayangkan sederet

Categories
Voluntary

Dari 50 menuju 500

Beranda Blog Uchi
Beranda Blog Uchi

Dapat tugas review blog teman sesama peserta program Nulis Bareng Sobat. Karena pemilihan blognya berdasarkan urutan peserta, maka otomatis saya dapat bagian kepo-in blognya Uchi.

Tiap berkunjung ke sebuah blog, perhatian pertama saya akan jatuh pada desain blognya. Begitu mengklik link rahmanfauziah.blogspot.co.id, saya disambut dengan theme sederhana dan wiget comel bergambar kelinci lucu.

Categories
Diary

Ini Gaya Hidup! Bukan Sekedar Berbagi

Seperti apa gaya hidup orang perkotaan? Sebesar apa hal itu mempengaruhi pengeluaran keuangan?. Bagi mereka yang terbiasa merencanakan keuangan rumah tangganya dengan teliti, pastinya akan bisa menjawab pertanyaan tadi dengan cepat.

Jika anda belum terbiasa merencanakan pengeluaran, cobalah mencatat pengeluaran anda setiap harinya, selama sebulan. Buat kolom terpisah antara pengeluaran rutin, seperti listrik, air, telepon, internet, asuransi, kursus anak, tabungan haji, dengan pengeluaran dapur, transportasi, rekreasi, dan lain-lain.

Catat hingga pengeluaran paling kecil sekalipun, seperti: beli sekaleng soft drink atau beli pulsa telepon selular.

Setelah genap sebulan, amati catatan pengeluaran anda selama sebulan itu dan temui seperti apa gaya hidup anda, dari pengeluaran tersebut.

Bagi mereka yang memilih gaya hidup sehat, cenderung membelanjakan lebih banyak uangnya untuk mendukung hal tersebut. Dalam sebulan bisa belanja bahan makanan organik, bayar fitness atau aerobik, beli sepeda, belanja minum saat perjalanan pulang jogging, beli suplemen, atau check up bulanan.

Tuk yang memilih gaya hidup sebagai pengejar ilmu, dalam sebulan kemungkinan menghabiskan uang dua kali lipat dari belanja dapur untuk beli buku, bayar seminar, kursus, transportasi bolak balik ke perpustakaan, atau bayar internet lebih besar dibandingkan orang kebanyakan.

Bisa dikatakan, setelah kebutuhan paling dasar, pangan dan sandang yang wajar, orang-orang cenderung membelanjakan lebih banyak uangnya untuk memenuhi kebutuhan gaya hidupnya.

Lalu, gaya hidup seperti apakah yang dipilih oleh orang-orang di depan saya, yang sedang mengunyah makanannya sambil mengamati anak-anaknya yang lari kecil berkeliling dan naik turun perosotan sambil tertawa ceria, tak jauh dari tempat duduk mereka?.

Memilih tidak menebak gaya hidup orang tersebut, saya kembali fokus membahas rencana kegiatan bersama teman-teman Relawan, yang siang itu sedang berkumpul bersama di McDonald.

McDonald merupakan tempat favorit teman-teman Relawan untuk rapat kecil santai membahas rencana kegiatan sosial kami. Setidaknya ada 2 gerai McD yang paling sering kami pilih sebagai tempat rapat di Makassar, yaitu di jalan Alauddin dan Mall Ratu Indah.

“Gaya banget, masak Relawan anak, memilih mcD untuk rapat?” demikian protes seorang teman saya di awal. Bagi saya, makan dan kumpul-kumpul di mcD, untuk ukuran warga kota besar seperti Makassar, masih wajar. Toh, harganya lebih murah daripada tempat lain dan masih cocok tuk kantong anak mahasiswa.

Beberapa teman menyatakan, mcD mudah dijangkau dari kampus dan kantor masing-masing (kami terdiri dari mahasiswa dan pegawai yang berasal dari kampus dan kantor berbeda-beda), ruangan ber-AC, suasananya santai, serta ada wifi dan colokan listrik untuk buka laptop. Alasan terakhir adalah yang paling kuat, karena terkadang saat rapat, harus buka beberapa file untuk mendukung pembahasan kami.

Hal lain yang membuat kami suka dari McD, karena McD sejalan dengan gaya hidup kami. Bukan gaya hidup perkotaan lho, melainkan gaya hidup berbagi.

Teman-teman menganggap budaya berbagi, tidak sekedar dipandang sebagai gerakan peduli atau karena anjuran agama.

Seperti saya ungkapkan di awal tulisan ini, bahwa orang-orang cenderung membelanjakan lebih banyak uangnya untuk memenuhi gaya hidupnya, maka tatkala “berbagi” menjadi gaya hidup, maka anda takkan segan dan berfikir panjang untuk mengeluarkan sejumlah uang tuk berbagi.

Lupa tepatnya, kapan mengenal RMHC dari kotak donasi yang diletakkan di depan meja kasir. Namun sejak bulan lalu, gara-gara penasaran dengan sticker di pintu masuk McD yang bergambar strip merah dan tidak dibuat lurus, lebih menyerupai tulisan tangan, saya bisa tahu bahwa RMHC punya program baru yang keren. Stripes for love, hope, joy, smile.

Sticker Stripes For Love di Pintu Masuk (Foto: Koleksi Pribadi)
Sticker Stripes For Love di Pintu Masuk (Foto: Koleksi Pribadi)

Menurut saya, ajakan membeli baju kaos atau payung yang bercorak Stripes for Love ini, lebih dari sekedar ajakan berbagi tuk anak-anak penderita kanker, melainkan turut memudahkan pelanggannya yang peduli, untuk menemukan cara berbagi yang lebih praktis.

Saya teringat pembicaraan dengan seorang teman kira-kira satu atau dua tahun lalu, yang kebetulan ikut rapat juga siang itu. “Bunga, andai setiap orang berlomba-lomba ingin memiliki barang-barang donasi, daripada barang branded yang harganya bisa 4 sampai 5 kali lebih mahal, mungkin banyak orang yang akan terbantu”.

Pembicaraan itu mengingatkan betapa bahagianya kami saat memakai kaos Relawan anak LemINA, atau kaos Penyala Makassar. Membayangkan teman-teman bukan lagi berlomba-lomba memakai barang branded, tetapi berkompetisi untuk memakai segala hal berbau donasi.

Cobalah anda membayangkan, saat menyetor uang untuk membayar makanan yang dipesan hari ini di sebuah restoran cepat saji, atau baju branded di mall, atau tiket untuk nonton bioskop, di luar sana, ada anak-anak Indonesia yang makan dengan lauk seadanya, ada yang sibuk mencuci seragam sekolahnya yang kusam, karena hanya warisan dari kakak-kakaknya, dan ada yang tak pernah menonton lagi karena harus terbaring di rumah sakit melawan kanker.

Jika anda tidak akan kekurangan uang karena memenuhi gaya hidup, maka percayalah anda pun takkan berkekurangan hanya karena menyisihkan uang untuk sekedar beli baju kaos donasi seharga 50 ribu tuk anak-anak kanker saat anda berkunjung ke McD, atau menyelipkan uang di kotak donasi, depan kasir, tiap beli satu baju baru, atau merelakan uang kembalian saat belanja di mart-mart.

Teliti kembali catatan pengeluaran anda bulan ini, berapa yang telah dihabiskan untuk belanja gaya hidup, yang tidak mendesak, dan berapa banyak yang dikeluarkan untuk berbagi kepada sesama.

Orang berani mengeluarkan lebih, untuk memenuhi gaya hidup guna menyenangkan hati dan membuat hidupnya lebih bahagia, maka cobalah menjadikan gaya hidup berbagi sebagai gaya hidup baru, yang menutrisi hati dan membuat hidup lebih indah.

Categories
Travel

Selamat Sore, Kupang

Aku menyalahkan workshop yang kuikuti di Pare-pare, yang jaraknya hanya berselang 1 hari dengan jadwal berangkat ke Kupang. Fokus memfasilitasi workshop tersebut membuatku tak punya cukup waktu atau lebih tepatnya lupa, untuk mencari referensi titik-titik penting yang harus kukunjungi di Kupang.

Seperti perjalanan-perjalanan sebelumnya, ke Kupang pun tetap masih untuk urusan pekerjaan. Aku dan 3 orang teman di Sulawesi Selatan, diharuskan menghadiri meeting bersama teman-teman lain dari Pusat dan 2 Propinsi lainnya.

Biasanya, sebelum berangkat ke sebuah kota, aku mencari tahu terlebih dahulu, landmark kota tersebut, lokasi masjid agungnya, kuliner khasnya, hingga pusat ole-ole nya. Dari situ, akan lebih mudah merencanakan mau kemana saja di kota tersebut.

Bagiku, perencanaan itu penting, mengingat waktu untuk berjalan-jalan di sebuah kota yang kudatangi untuk urusan pekerjaan, pastilah amat singkat.

Di April lalu, saat ke Palembang, aku benar-benar memanfaatkan 5 jam waktu luangku untuk berkunjung ke Stadion Sriwijaya, Masjid Ceng Ho, Jembatan Ampera, Musem Sultan Mahmud Badaruddin II, Titik Nol Palembang, Masjid Agung Palembang, Warung Empek-empek terkenal, hingga berburu ole-ole. Semua tempat itu kutempuh dengan naik angkot dan berjalan kaki. Perencanaan yang baik, itu kuncinya.

Ingin mengulang hal tersebut, aku memanfaatkan waktu luang di perjalanan menuju bandara dan saat di ruang tunggu keberangkatan di bandara Hasanuddin untuk browsing tentang kupang.

Angkot ajib-ajib

Waktu mepet. Teledor. Terlupa booking hotel sejak di Makassar. Hotel On the Rock, tempat meeting kami, rupanya sudah full, sehingga harus menginap di hotel lain, yang jaraknya sekitar 10-15 menit perjalanan dengan angkot.

Angkot di Kupang merupakan satu hal yang paling banyak mengundang komentar dan candaan dari teman-teman Makassar. Sepertinya angkot di sini tidak mengijinkan penumpangnya untuk ngobrol. Musik hingar bingar menghentak, laksana diskotik berjalan, membuatku memberinya nama “Angkot ajib-ajib”. Orang sini tidak terganggukah dengan musik yang sedemikian ributnya?.

20141029_091507
Angkot ajib-ajib. Musik keras. Full pernak pernik. Kaca jendela penuh dengan sticker.

Seorang teman dari Papua, pak Adiyoga, bercanda “Mbak Bunga belum pernah dengar cerita tentang bemo (istilah untuk angkot Kupang) di sini yah? Pernah ada seorang teman menunggu bemo sampai lama. Tiap bemo yang singgah, dia tidak mau naik. Begitu ditanya, kenapa tidak naik-naik? Teman itu menjawab bahwa dia menunggu bemo yang full music”. Candaan pak Adiyoga membuat kami tertawa membenarkan.

Pada malam terakhir di Kupang, saat ingin balik dari mengejar ole-ole di Pasar inpres menuju hotel, aku dan teman-teman Makassar berdebat kecil, gara-gara istilah lampu 1 dan lampu 2.

Penjaga toko tempat kami bertanya, memberi info bahwa jika ingin menuju ke arah Kota lama, harus naik lampu dua. Saat menunggu angkot, ada beberapa angkot yang di kaca depannya menempel satu lampu neon sekitar 20 cm, dengan posisi vertikal. Semua yang lewat, masih dengan satu lampu neon, sementara kami menunggu yang berlampu dua.

Saat sebuah angkot melintas dengan dua lampu neon di kaca depannya, seorang teman mengajak kita agar buru-buru naik. Namun seorang bapak yang berdiri dekat dari kami menegur “Itu bukan lampu dua”.

Ya ampun, rupanya yang dimaksud dengan lampu dua, bukan jumlah lampunya yang dua, tapi nomor angkot yang terpasang di bagian depan atas. Plangnya tidak jelas terlihat di malam hari. Dua hari sebelumnya, kami hanya menggunakan angkot satu arah dengan tempat menginap, jadi tidak paham dengan penomoran lampu.

20141027_081634
Harus mengetuk pipa besi memanjang di bagian atap angkot, dengan menggunakan koin atau benda keras, jika ingin turun. Ketukannya harus mengalahkan suara musik.

 

Taxi Kupang

Selain angkot, taxi Kupang juga agak berbeda dengan taxi di Makassar. Jika biasanya taxi menggunakan mobil sedan, di sini menggunakan mobil keluarga seperti Avansa dan sejenisnya, serta memuat maksimal 4 orang penumpang, meski masih ada kursi baris paling belakang.

Tarifnya tergolong mahal. Harus pintar menawar sebelum menggunakan jasa taxi, karena mereka tidak menggunakan argo meter.

Sekali angkut ke sebuah tempat, tarifnya sekitar 60.000-70.000-an. Ada juga yang sistem pembayarannya berdasarkan waktu, 1 jam dikenakan tarif 60.000 dan bisa ke beberapa tempat.

Kelebihannya, taxi tidak memasang musik keras seperti angkot, sehingga jauh lebih nyaman. Namun, jika ingin bepergian hanya ke satu tempat saja, meskipun terdiri atas 4 orang, masih jauh lebih murah menggunakan angkot. Apalagi lalu intas Kupang lumayan lancar, tidak sepadat Makassar.

Kampung Solor, mana makanan khasnya?

Meeting kami lebih panjang dari jadwal yang sudah ditentukan. Mungkin karena baru kali ini semua Fasilitator dan PO UNICEF dari 3 Propinsi duduk bersama Sekretariat WASH & WASH section UNICEF Jakarta, sehingga pembahasan menjadi sangat panjang, melewati waktu magrib.

Padatnya jadwal pertemuan di Kupang, menyebabkan aku tidak bisa merealisasikan rencana ke tempat-tempat tertentu. Patung Sonbai, Pantai Lasiana,dan daging asap bu Soekiran, ketiganya tak berhasil kukunjungi. Kecewa.

Lebih kecewa lagi, setelah dua kali berturut-turut ke tempat ole-ole di daerah kota lama, tokonya sudah tutup.

Untunglah, dekat dari tempat ole-ole kota lama, ada pusat kuliner di malam hari yang cukup ramai pengunjung, namanya Kampung Solor.

Seorang teman menginformasikan bahwa Kampung Solor adalah salah satu tempat favorit wisatawan lokal ketika berkunjung ke Kupang.

Solor adalah nama Kelurahan, tempat pusat kuliner ini berada. Kelurahan Solor sendiri disebut sebagai Kota Lama Kupang. Pembangunan membuat berpindahnya keramaian ke pusat pemerintahan dan pertokoan yang lebih besar, yang berada di sisi lain kota Kupang.

Bagian depan Kampung Solor, kita akan disambut oleh dua booth jualan VCD dan DVD, yang memutar musik dengan suara keras. Orang sini, kayaknya memang hobby dengan musik hingar bingar, aku menyimpulkan sendiri.

Bagian depan Kampung Solor
Bagian depan Kampung Solor

Gerobak-gerobak sederhana, berjejer rapi dan tidak terkesan berdesak-desakan. Sebagian besar menjual se food, dan sisanya adalah gerobak nasi goreng, gado-gado, tempe tahu penyek dan tahu tek.

Di Makassar, jika ke Paotere, Lae-lae dan Istana laut, kita kadang harus mengubek-ubek box pendingin ikan untuk memilih ikan. Di sini, ikan sudah dijejer dengan rapi di atas box atau tempat khusus, dan dialasi dengan es batu, serta dipajang di depan gerobak. Memudahkan pembeli tuk memilih.

20141026_21285220141027_20484820141026_220303

Tak hanya ikan, kita juga bisa menemukan udang, cumi-cumi dan kerang di Kampung Solor. Bisa memilih, mau digoreng atau dibakar. Satu ekor ikan, dihargai bervariasi, dari Rp. 25.000 sampai 50.000an, dan dimakan bersama nasi putih dan sayur.

Meski sama segarnya, bagiku masakan laut Makassar masih lebih enak dibanding di sini. Kurang di sambelnya.

Biasanya, makan ikan dengan 2 atau 3 jenis sambel, dabu-dabu, sambel tumis, dan sambel mentah, bahkan kadang ada juga sambel kacang dan cacahan mangga muda. Tiga malam makan ikan bakar di sini, tak menemukan hal itu.

20141027_210756
Ikan bakar dengan sambel tumis seadanya
20141027_210808
Cumi Bakar, dengan sedikit lalapan

 

Bagi yang jalan-jalan ke Kupang dan punya rencana makan di Kampung Solor, aku rekomendasikan untuk makan seafood saja, karena tempe tahu penyet nya tidak seenak di Makassar dan Jawa. Lagi-lagi kurang mantap disambel. Tahu tek nya pun, kurang nendang di lidah.

Meski semua terasa kurang klik di lidahku, namun ada satu hal yang lumayan mengobati, yaitu juice buahnya. Juice buah di sini, selain kental dan segar, juga murah. Cuma 10.000-15.000an saja, sudah bisa menikmati juice buah. Di Makassar bisa sampai 17.000-20.000an, lho. Masih membandingkan dengan Makassar.

20141026_213833
Juice buah Naga. Murah tapi enak.
20141026_213208
Penjual juice yang ramah dan sabar melayani pertanyaanku

 

Sayangnya, aku dan teman-teman tak ada kesempatan untuk menikmati kuliner di bagian lain kota Kupang. Tiga malam berturut-turut, hanya makan di Kampung Solor saja.

Saat jam menunjukkan pukul 20.00, Kota Lama Kupang sudah tertidur. Hanya Kampung Solor dan tanggul sepanjang pantai Timur yang masih terbangun. Mencari angkotpun sudah agak susah.

Berjalan kaki dari tempat makan menuju hotel, memakan waktu 15 menit tuk tiba. Kami menelusuri toko-toko yang sudah tertutup rapat, sambil berharap di hari terakhir kami di Kupang, bisa menikmati bagian lain kota di Timur Indonesia ini.

Categories
Travel

Ini Indonesia Sebelah Mana?

Nyaris semua perjalananku ke luar kota adalah untuk urusan pekerjaan. Artinya, amat mudah mengingat bahwa dalam 5 tahun terakhir, hanya dua kali aku bepergian untuk wisata. Awal 2011 ke Kota Malang dan tahun lalu ke Singapura-Malaysia.

Baru dua malam aku tiba dari Pare-pare, satu-satunya kotamadya di Sulawesi Selatan, yang merupakan kota pelabuhan, guna memfasilitasi Workshop WASH in School. Pagi ini, harus berangkat lagi dan kali ini ke sebuah Kota di Indonesia Timur, yang sama sekali tak terbayangkan sebelumnya, akan bisa ke sana.

Kupang. Ibukota Nusa Tenggara Timur ini, merupakan salah satu kota di Timur Indonesia yang sering disebut-sebut oleh teman-teman, setelah Papua. Beberapa teman sudah sering ke sana, juga karena urusan pekerjaan.

Saat harus transit di sebuah bandara kecil, aku tersadar, bahwa sebenarnya aku belum mengenali Indonesia, bahkan sekedar menghapal nama-nama daerah yang ada.

Dari Makassar ke Kupang, pesawat kami harus transit di Denpasar. Tahun lalu, aku beruntung karena bisa mengendarai motor melalui jalan tol baru, yang belum diresmikan oleh Presiden, dari Kuta ke Nusa Dua. Gratis pula.

Jika di tahun lalu bandara I Ngurah Rai masih dalam proses rehabilitasi berat, maka hari ini aku harus ngos-ngosan karena melangkah cepat menyusuri bandara baru yang nyaman dan lebih megah, yang jaraknya lumayan jauh, untuk melapor ke petugas dan langsung menuju pesawat berikutnya yang akan membawaku dan 4 teman lainnya ke Kupang.

20141029_153648          Bandara Baru I NGurah Rai

Detail Tiang, berukir motif Toraja di Bandara Baru I NGurah Rai

Antri di pintu 1C, telingaku sudah mendengar nama aneh. “Kita tidak salah pesawat kan?” tanyaku ke Darwis, teman satu tim ku dari SulSel. Darwis mengiyakan, setelah kembali dari memperlihatkan boarding pass-nya ke petugas. Sekilas kulihat Pak Robby, bos kami di kantor, juga ikut menyodorkan boarding pass-nya ke petugas. Nampaknya beliaupun ragu.

“Dalam beberapa menit, kita akan mendarat di Tambolaka” demikian pengumuman petugas setelah sekitar 1 jam perjalanan di udara, yang membuat kami bertiga, yang duduk segaris, saling pandang. Pengumuman selanjutnya menyatakan bahwa kami akan transit 20 menit dan diminta tidak meninggalkan pesawat.

Tambolaka itu, dimana yah? Sudah di NTT kah kita? Aku bertanya dalam hati sambil mengaktifkan HP, ingin segera searching dimana letak Tambolaka. Evi, seorang temanku yang duduk di seat belakang, berdiri dan teriak “Sejak jaman sekolah, tidak pernah dengar nama Tambolaka. Ini dimana?”.

Bagaimana mungkin aku tidak pernah mendengar nama Tambolaka? padahal Garuda, maskapai penerbangan terbesar di negeri ini, sudah menjadikannya sebagai tujuan penerbangan.

Yaah, tidak ada sinyal internet di HP ku. Semakin penasaran dengan Tambolaka. Namun kepo-nya Evi membuatnya mendapat jawaban lebih cepat dari pramugara. “Sumba Timur Daya” teriak Evi dari belakang.

Teman Tim SulSel yang duduk di seberangku (foto: Dokumen Pribadi)
Teman Tim SulSel yang duduk di seberangku (foto: Dokumen Pribadi)

Di seberang kursiku, Darwis terlihat sibuk ambil kondisi sekitar bandara kecil ini, yang hanya terdiri dari 1 bangunan terminal penumpang.

Perjalanan panjang Makassar-Kupang yang ditempuh 6 jam, akhirnya berakhir di bandara El-Tari. Penasaran itu masih bertengger di kepala. Sampai hotel, aku harus searching tentang kamu, Tambolaka.

Bagian depan bandara El-Tari
Bagian depan bandara El-Tari
20141029_121433
Food Court di area bandara El Tari
Pajangan jualan majalah dan koran
Pajangan jualan majalah dan koran

20141029_132400

 

Categories
Jejak di 100 Sekolah

Kemanakah Guru Akan Curhat?

“Kami, guru, tidak selamanya bisa mengajar dengan tenang. Senantiasa begini-begini, “ demikian curhat Wali kelas IV, sambil kelima jarinya dikuncupkan, lalu dibuka, lalu dikucupkan dan dibuka lagi, berulang-ulang. Isyarat bahwa beliau senantiasa was-was.

Tak pernah berencana sebelumnya akan hadir di SDN Sungguminasa IV pada sabtu, 18 Oktober 2014 ini. Namun karena butuh seseorang untuk membawa beberapa perlengkapan stand Warung Sosial ke monumen Mandala, maka Relawan terdekat yang bisa dimintai tolong adalah Tim C dan D. Kebetulan mereka sedang mendampingi Nulis Bareng Sobat di sekolah yang jaraknya Cuma 500an meter dari rumah.

Aturan di kelas, guru ataupun Relawan yang bertindak sebagai pendamping, tidak boleh memakai sendal. Saya pun meminta salah seorang teman Relawan, Atifah, untuk mengambil perlengkapan di halaman sekolah, tempat motor saya di parkir.

Afli, seorang Relawan lain, ikut keluar kelas, karena saya menjanjikan sebuah gelang karet kepadanya. Hari ini ada 6 atau 7 orang Relawan yang sedang bertugas (Saya lupa jumlah tepatnya karena hanya melihat sekilas ke arah dalam kelas).

Saya terburu-buru pulang, tatkala Wali Kelas IV yang berdiri di depan pintu ruang Kepala Sekolah, melambaikan tangan ke arah Atifah. Dipanggil Ibu Kepala Sekolah, ujar beliau ke Atifah.

Terlihat agak ragu, Atifah yang berjalan menuju ruang Kepsek, membalikkan badan dan melambaikan tangan mengajak saya ikut. Karena terburu-buru, saya meminta Afli, yang berdiri dekat saya, untuk menemani Atifah bertemu ibu Kepsek.

Namun beberapa detik kemudian, Atifah kembali memanggil saya. Sepertinya saya sudah harus menemui ibu Kepsek, batin saya.

Saya menahan diri untuk tidak masuk ke ruangan tersebut, dan hanya berdiri di depan pintu sambil berusaha menunjukkan ekspresi siap mendengar penuturan ibu Kepsek. Hmm.. kenapa juga saya pake sendal ke sini. Jadi tidak enak hati.

Saya kemarin dipanggil oleh Bapak Sekretaris Dinas, itupun setelah harus kesana kemari, Ibu Kepsek membuka pembicaraan.

Awalnya saya diinformasikan bahwa saya dipanggil ke UPTD, lalu orang di UPTD menyatakan bahwa saya justru dipanggil oleh Kepegawaian di Dinas (Dinas Pendidikan), tapi ternyata bukan Kepegawaian yang memanggil, melainkan Pak Sekretaris Dinas, Ibu Kepsek melanjutkan.

Menit berikutnya, ibu Kepsek bercerita bagaimana Sekretaris Dinas Pendidikan banyak bertanya tentang kegiatan Nulis Bareng Sobat, yang ternyata sudah dimulai di minggu lalu, sebelum surat ijin dari Dinas keluar untuk LemINA.

Sekretaris Dinas rupanya menaruh curiga, atau lebih halusnya, waspada dengan kegiatan Nulis Bareng Sobat. Pertanyaan-pertanyaan umum, seperti apakah menggangu jam belajar, apakah ada pungutan ke siswa, apa manfaatnya bagi siswa, apa yang ditulis, dilontarkan kepada ibu Kepsek.

Untunglah ibu Kepsek dapat menjawab cerdas. Khususnya menginformasikan kepada Bapak Sekretaris Dinas bahwa kegiatan tersebut telah berlangsung sejak semester lalu dan dampaknya sudah kelihatan, meski belum signifikan untuk semua siswa.

Wali Kelas IV yang ikut mengobrol dengan kami, menambahkan pula bahwa siswa kelas V sekarang, yang semester lalu masih duduk di kelas IV dan mengikuti kelas Nulis Bareng Sobat, masih menuntut ingin belajar menulis. Beberapa dari mereka kadang ikut masuk ke kelas IV secara diam-diam untuk ikut kelas menulis, meski sudah dilarang dan diminta kembali ke kelasnya.

Pembicaraan yang awalnya tentang ijin dari Dinas, beralih menjadi curhat Kepsek dan Wali Kelas. Kepsek meminta kami untuk bisa memahami proses birokrasi di Dinas yang terkadang terkesan menghambat. Beliau bercerita bagaimana ia sering dipanggil ke Dinas karena laporan-laporan dari pihak lain atau justru dari orangtua siswa, yang tidak memahami persoalan dan malas untuk mengkomunikasikannya dengan Kepsek sebelum melapor ke Dinas.

IMG-20141002-WA0000

“Padahal saya hampir setiap saat, ada di kantor dan bisa ditemui untuk diskusi, jika ada yang punya keluhan, baik orangtua, komite maupun pihak luar. Mereka lebih suka berprasangka dan melaporkan saya, sebelum tahu fakta di balik kebijakan yang kami ambil di sekolah,” Ibu Kepsek menjelaskan dengan ekspresi kecewa.

Sabtu itu, menurut Kepsek, di saat proses belajar berlangsung di kelas, Kepsek di ruang lain sedang memimpin Rapat Komite Sekolah. Di Rapat tersebut beliau menjelaskan kepada komite sekolah yang terdiri atas orang tua siswa, agar tidak khawatir dengan adanya program Nulis Bareng Sobat di kelas IV. Selain tidak mengganggu proses belajar di kelas, karena menyesuaikan dengan jadwal dan telah didiskusikan dengan wali kelas, juga dijamin tidak akan ada pungutan untuk kegiatan tersebut.

Selama ini, Kepsek berharap bahwa Dinas dan Komite sekolah bisa menjadi wadah baginya untuk menyampaikan dan mendapat solusi atas keluhan-keluhannya. Namun kenyataannya, justru lebih sering beliau bingung, mau mengeluh ke siapa.

Baru-baru ini, beliau ditegur lagi oleh Dinas karena laporan orangtua siswa atas kejadian yang sudah setahun lalu terjadinya. Persoalannya tentang pembelian air isi ulang untuk dispenser di kelas.

Siswa-siswa di kelas berinisiatif dan sepakat untuk mengumpulkan uang jajan mereka di hari itu, agar bisa membeli air isi ulang seharga sekitar 3000-4000 rupiah, karena dispenser belum diisi oleh sekolah. Inisiatif murni dari siswa tersebut, rupanya ditanggapi dengan kecurigaan oleh salah seorang orang tua siswa.

Untuk menghindari munculnya lagi masalah yang sama, akhirnya dispenser dikeluarkan dari kelas. Siswa tak lagi bisa minum air dalam kelas.

Wali kelas punya kisah lain lagi. Menurutnya, anak-anak sebaiknya belajar tidak terbatas dengan buku pegangan saja. Suatu ketika, ada bahan bacaan baru yang dibawa nya ke kelas, yang berupa beberapa lembaran.

Dengan harapan siswanya bisa mengetahui tentang bahan tersebut, Wali Kelas pun menawarkan kepada siswanya untuk menggandakan sendiri dengan jalan foto copy. Biayanya mungkin hanya 500 rupiah, tapi karena ada siswa yang menyampaikan ke orangtuanya bahwa uang jajannya digunakan untuk fotocopy, maka orang tua yang tidak memahami hal tersebut, serta merta protes keras dan menuduh guru melakukan pungutan uang.

Saya hanya bisa mengangguk-angguk mendengar penuturan kedua pejuang Pendidikan di depan saya. Sepatutnya, ada aturan yang jelas tentang batasan pungutan di sekolah. Jika pun sudah ada, mungkin sebaiknya disosialisasikan ke semua pihak, agar menghindarkan kesalahpahaman.

Hanya sekitar 7 menit ngobrol dengan Kepsek dan Wali Kelas, sudah banyak keluhan yang terdengar dari keduanya. Impian beliau berdua untuk memajukan siswa-siswanya, tidak selamanya didukung oleh pihak-pihak yang justru diharapkan bisa membantu mereka.

“Selalu saja kami, guru dan sekolah, yang disalahkan,” demikian kalimat terakhir yang kudengar, sebelum buru-buru berpamitan.

Categories
Uncategorized Voluntary

Ajarkan Konsekuensi, Bukan Hanya Memarahi

Sabtu ini, saya menjadi Relawan Pengganti karena Atifah, Mutiah, Hendra dan Dilla, tak satupun yang bisa datang. Sebelum menuju sekolah, saya sudah dapat info dari Atifah jika hari ini kelas IVA bergabung dengan kelas IVB, belajar dalam ruangan yang sama.

Waduh, terlintas bagaimana rusuhnya kelas hari ini.

Sebelumnya, saya sudah pernah mendampingi sobat-sobat kecil di SDN Sungguminasa IV ini. Namun belum menghapal nama-nama mereka, apalagi kemajuan mereka dalam menulis.

“Saya harus mohon ijin dulu ke Guru Wali sebelum masuk kelas,” batin saya. Meski Atifah sudah menginformasikan ke Ibu Guru bahwa yang akan hadir hari ini adalah saya dan Samsir, namun penting bagi saya tuk memperkenalkan diri.

Saya tiba tepat di jam istirahat. Butuh sekitar 10 menit untuk bertanya dan menemukan ibu Guru Wali kelas IVB. Tatkala bertemu beliau di kantin sekolah, saya dikenalkan dengan wali kelas IVA. Ya, hari ini kedua kelas tersebut bergabung dalam satu ruangan. Mendadak galau saat teringat hal itu lagi.

Sangat menghargai tamu. Itu gambaran saya tentang Ibu Wali Kelas IVB yang dengan ramah menyapa saya, bahkan sampai mengantar ke ruang kelas nya. Anak-anak masih istirahat, mereka akan masuk lagi di jam 11.30, Ibu Wali menjelaskan sambil mempersilahkan duduk.

Sebenarnya saya sudah berencana berbasa basi dengan menanyakan mengapa kelas IVB digabung dengan kelas IVA, namun Ibu Wali sudah mendahului. Hari ini anak-anak dari dua kelas digabung jadi satu, karena minggu ini banyak tanggal merahnya. Saya hanya mengangguk sambil senyum dan berkata “oh begitu ya, bu”.

Mencoba bertanya dalam hati, menjurus ke protes, apa hubungannya yah antara banyak tanggal merah dan menggabungkan dua kelas menjadi satu? Tapi sudahlah. Toh, anak-anak ini sudah menatap penuh tanya ke saya, ketika saya mulai duduk di depan, di meja guru.

Ibu mau mengajar di sini?” seorang siswi maju ke depan dan bertanya. Saya mengiyakan dan mencoba mengenali wajahnya. Ah, pasti siswa kelas IVA. Seingatku, belum pernah melihat wajahnya sebelumnya.

Kak, mana temanta’ ?, sendirian jaki’ mengajar?” seorang siswi lain berlari dari luar kelas menuju ke saya. Nah, kalau yang ini, pastilah siswa kelas IVB. Salah satu yang membuatku betah ke Sekolah Dasar, baik di Takalar maupun di Gowa, kecuali sekolah anakku, adalah karena anak-anak ini memangglku dengan panggilan kakak, padahal mungkin ibu mereka seumuran dengan saya. Huu, gede rasa.

Samsir datang beberapa menit setelah saya memulai kelas. Sungguh padat kelas kami. Beberapa kali saya menegur dua orang siswa yang duduk di atas bangku. Ternyata mereka tidak kebagian kursi, jadi memilih duduk di atas bangku. Duh, pelajaran menulis hari ini, pastilah tidak maksimal.

Agar mereka fokus ke saya, saya memulai dengan menginformasikan bahwa saya akan membacakan sebuah tulisan singkat yang berjudul SAHABAT. Mereka harus menyimak dan nantinya harus menjawab pertanyaan yang akan saya ajukan.

Sepertinya cara ini berhasil karena mereka fokus mendengarkan, meski beberapa diantaranya banyak yang nyeletuk bercanda. Tingkah mereka mengingatkan saya dengan ulah saya di pelatihan-pelatihan, yang juga kadang nyeletuk tuk memancing tawa, biar suasana belajar tidak kaku. Mungkinkah siswa-siswa inipun bertujuan seperti saya?

Menghadapi siswa sekitar 40-50 orang ini, lumayan menguras energi dan membuat kerongkongan kering. Kenapa juga harus digabung. Saya masih protes dalam hati.

Samsir pun terlihat stress meski masih senyum-senyum. Sesekali ia berteriak “perhatikan”, “jangan ribut”, “kenapa pukul temannya?”. Malah sempat nada bicaranya sudah mulai dibuat meninggi karena anak-anak ini sudah mulai keterlaluan. Saya mencoba menahan diri untuk tidak menampakkan kemarahan. Padahal sumpah, sudah emosi.

Proses tanya jawab berdasarkan cerita singkat yang saya bacakan, dijawab dengan baik oleh anak-anak. Jawaban mereka saya tuliskan di papan untuk memudahkan mereka mengingat point-point apa saja yang diceritakan dalam tulisan tadi.

Untuk meminimalkan gaduhnya kelas dan ulah iseng beberapa siswa, saya menyegerakan meminta mereka menulis tentang sahabatnya masing-masing.

Saat membagikan kertas, anak-anak seperti sebelumnya, rebutan. Jika yang lalu rebutan bukunya cuma sekitar 20-30 siswa, hari ini sekitar 40-50an siswa yang rebutan kertas dari tangan saya. Ya ampun. Yang sabar yah, Bunga.

Bisa panjang sekali tulisan ini, jika saya harus menuliskan detil satu persatu suasana dan ulah anak-anak saat menulis cerita.

 

Memilih Menulis di Lantai
Memilih Menulis di Lantai

Andai saja ada yang merekam peristiwa di kelas hari ini, pasti akan bisa menonton video bagaimana Samsir dan saya secara bergantian memasang wajah kesal, lalu tersenyum kecut, lalu kemudian tertawa tuk mengobati kedongkolan.

Siswa paling tinggi di kelas IVB ini, takkan pernah bisa duduk tenang di bangkunya. Saat siswi yang diganggunya berteriak, saya coba mendekatinya dan bertanya, mengapa ganggu temannya. Si tinggi ini cuma menjawab cuek “tidakji”.

Menghindari memperpanjang, sayapun menanyakan siapa sahabatnya. “Ian, eh Udo”. Duh, anak ini asli galau. “Ayo,tulis tentang sahabatmu itu, yang lain menulismi tawwa” saya berusaha mengajak dengan nada seriang mungkin. Benar saja, anak ini mulai duduk dan menulis. Namun tidak berlangsung lama. Beberapa menit kemudian dia mulai lagi bangkit dan menuju bangku teman-teman perempuannya.

Bros flanel berbentuk pita milik teman-temannya diambil paksa dan ia kenakan di seragam pramukanya. Sudahlah. Saya skip saja. Mending fokus ke siswa yang serius belajar menulis.

Si Tinggi dan Bros Pita Rampasannya
Si Tinggi dan Bros Pita Rampasannya

Seorang siswa bernama Sahrul, yang duduk paling depan, kemudian menyita perhatian saya. Ia dan teman sebangkunya, Akbar, nampaknya tidak peduli dengan teman-temannya di belakang yang sibuk bermain, saling ganggu dan teriak-teriak.

Sahrul dan Akbar menulis dan sesekali ngobrol, lalu menulis lagi. Setelah tulisan mereka berdua selesai, mereka tukaran tulisan dan membacanya bersama. Syukurlah, masih ada yang serius menulis di kelas yang sesak dengan siswa di hari ini.

Syahrul dan Akbar
Syahrul dan Akbar

Pukul 12.15. Beberapa siswa sudah mulai mengumpulkan tulisan mereka. Anak bertubuh gendut yang beberapa minggu lalu, rajin mengumpulkan tandatangan semua relawan, hari ini duduk paling belakang dan matanya mulai jelalatan mengamati temannya. Saya sengaja menunggu aksi apa yang direncanakannya.

Seperti perkiraan saya, karena ia duduknya di sebelah Si Tinggi, pastilah ia tidak menulis hari ini. Tapi, anak ini maju ke saya dan membawa sebuah tulisan. “ini punyaku” katanya sambil menyerahkan tulisan ke saya. Mencurigakan. Saya langsung meneliti kertas yang ia serahkan. Hei, ini tulisan temanmu, nama perempuan. Dia berbalik sebentar sambil tertawa dan berlari menuju bangkunya. Iseng benar anak ini.

Saat beberapa anak rebutan menyetor tulisan, Si anak bertubuh gendut itu, muncul lagi dan menyerahkan kembali selembar kertas. Duh, kali ini masih tetap saja kertas temannya yang ia setor.

Belum seberapalah tingkah iseng Si Gendut dan Si Tinggi. Terpaksa memanggilnya demikian, karena saya lalai untuk menanyakan nama keduanya.

Di barisan siswa kelas IVA tiba-tiba rusuh. Mereka memukul-mukul bangku dan menyusul keributan dengan saling lempar bola kertas ke arah teman-teman perempuan dari kelas IVB. Tak mau kalah, teman-teman perempuannya pun balas melempar. Rusuh…rusuh.

Samsir mulai melarang dengan nada tinggi, tapi anak-anak ini tak mau berhenti. “Biarkan saja. Kita tunggu sampai mereka puas” kataku ke Samsir.

Saya hanya berdiri terdiam di depan sambil mengamati mereka saling lempar. Hingga ada yang menyadari dan berteriak meminta temannya menyudahi.

Lempar melempar berhenti total ketika Ibu Wali masuk ke kelas. Mereka duduk manis, meski masih tertawa-tawa kecil. “Masih ada yang mau lempar-lempar bola kertas?” saya menanyakan dengan suara keras. Ayo, sekarang lempar-lemparan dan tidak usah pulang. Saya menantang mereka, tapi tak ada yang bergeming.

Sebelum menutup pelajaran dan meminta mereka pulang, saya memamerkan 5 lembar sticker ke mereka. Semua spontan teriak, meminta sticker saya.

Sticker ini hanya untuk 5 orang yang menulis, yang duduk di kursi bukan meja, yang tidak mengganggu temannya, dan tidak lempar-lempar kertas” saya menegaskan dengan suara super keras.

Saya memilih 5 orang anak untuk mendapatkan sticker ukuran 10x10cm dari saya.

Bagi saya, mengajarkan mereka konsekuensi dari perbuatan, masih lebih penting daripada menghabiskan suara tuk teriak-teriak memarahi mereka saat ribut dan berbuat nakal di kelas. Anak-anak sebenarnya sudah pandai untuk diajak berfikir.

Mereka pasti menyadari bahwa karena perbuatannya yang tidak seharusnya, mereka tidak bisa memperoleh sticker seperti temannya yang lain. Hal ini terbukti dari seorang anak yang tidak berhenti mengekori kami saat keluar kelas hingga menuju ke motor.

Ia tak berhenti mengeluh karena tak dapat sticker. Saya sarankan untuk menulis di dua minggu depan. Meski terlihat belum puas, namun ia sepertinya bisa menerima dan kemudian berlari melalui pagar besi pekarangan sekolah.

Satu hal yang kami syukuri, karena penggabungan dua kelas ini, hanya di hari ini saja. Maka bersyukurlah sobat-sobat Relawan yang bertugas di dua minggu depan karena tidak harus berhadapan dengan begitu banyak anak.

Categories
Inspiration Voluntary

9 Kab/Kota Di SulSel Tertular Virus KI

Setelah pelaksanaan pertama kali di Makassar pada tahun lalu, laksana virus, Kelas Inspirasi Makassar menular ke 8 Kab/Kota lainnya di Sulawesi Selatan, yakni Kabupaten Gowa, Takalar, Bantaeng, Pinrang, Pangkep, Palopo, Enrekang dan Maros.

Pada rapat pertama di Desember 2013, untuk pelaksanaan Kelas Inspirasi SulSel yang dilaksanakan di warung Pisang Nugget, sebenarnya ada beberapa teman merasa kurang yakin untuk melaksanakan Kelas Inspirasi dalam skala SulSel. “Baru 3 atau 4 kabupaten yang menyatakan siap melaksanakan, apa tidak aneh jika kita menyebut sebagai Kelas Inspirasi SulSel dengan jumlah sedikit seperti itu?” Demikian pertanyaan seorang relawan panitia yang hadir.

Pertanyaan itu kemudian dijawab dengan optimisme oleh teman-teman yang lain. Kami semua yakin bahwa Kelas Inspirasi selalu mengandung keajaiban dalam proses persiapannya. Rapat hari itupun memutuskan pelaksanaan Kelas Inspirasi untuk tahun ini, diberi nama Kelas Inspirasi Sulawesi Selatan.

Pertemuan berikutnya untuk sosialisasi dan penyusunan relawan panitia dilaksanakan 3 hari setelah rapat pertama. Rentang waktu tiga hari sebelum rapat tersebut, ternyata teman-teman telah menebarkan virus Inspirasi ke orang-orang, baik secara langsung maupun melalui media sosial. Hasilnya, pada rapat akhri Desember 2013 di kantor BaKTI tersebut, telah ada 9 kab/kota yang menyatakan siap menyelenggarakan Kelas Inspirasi. Alhamdulillah, ketulusan itu menular hanya dalam 3 hari saja.

Di pagi hari 5 Maret 2014, sebanyak 551 orang Relawan Profesional secara serentak di 9 kab/kota SulSel menuju ke Sekolah-sekolah Dasar untuk mengajar di kelas. Mereka menemui ribuan anak-anak di ratusan kelas di SulSel. Mereka datang sebagai relawan, tanpa dilayani, membawa peralatan sendiri untuk mengajar, membawa makanan sendiri, tanpa uang transportasi, tanpa uang saku, bahkan tanpa sertifikat sekalipun.

Anak-anak itu terinspirasi oleh para profesional yang menjadi guru sehari mereka, Guru-guru terinspirasi dari para Profesional dan para Profesional pun terinspirasi oleh anak-anak yang mereka temui. Kita semua saling menginspirasi dan terinspirasi secara bersamaan.

Memindahkan Bilik Siaran ke SD~Kelas Inspirasi Bantaeng
Memindahkan Bilik Siaran ke SD~Kelas Inspirasi Bantaeng
Dari Gunung menjadi Bubuk Semen~Kelas Inspirasi Pangkep
Dari Gunung menjadi Bubuk Semen~Kelas Inspirasi Pangkep
Dokter Bedah Menginspirasi~Kelas Inspirasi Gowa
Dokter Bedah Menginspirasi~Kelas Inspirasi Gowa

Kelas Inspirasi memperkuat rasa percaya kita semua bahwa masih begitu banyak orang yang peduli kepada Pendidikan. Banyak orang yang peduli, banyak pula yang tergerak, namun tak semua bergerak untuk ambil bagian.

Berminat tuk bergabung. Ayo cek pendaftaran di Kota lain melalui www.kelasinspirasi.org

Langkah jadi Panutan, Ujar Jadi Pengetahuan, Pengalaman Jadi Inspirasi

Categories
Inspiration Voluntary

Briefing Kelas Inspirasi Gowa-Takalar

Kelas Inspirasi untuk pertama kali akan diselenggarakan di Kab. Gowa dan Takalar. Sejak awal penyiapan Kelas Inspirasi di Januari lalu, teman-teman Relawan Panitia selalu optimis bisa mengajak para profesional untuk cuti sehari dan hadir di Sekolah-sekolah Dasar untuk bercerita tentang profesi mereka, guna menginspirasi anak-anak bercita-cita tinggi.

Kami percaya bahwa masih begitu banyak orang-orang yang peduli pada pendidikan Indonesia. Harapannya, anak-anak dapat terinspirasi dari cerita para Profesional yang turun langsung ke Sekolah-sekolah Dasar tersebut dan para Profesional pun dapat melihat langsung kondisi pendidikan dasar kita dan merasakan bagaimana menjadi guru sehari.

Hingga penutupan pendaftaran, tercatat sebanyak 67 orang relawan profesional, 12 orang relawan fotografer dan 4 orang relawan videografer yang mendaftar untuk kabupaten Gowa melalui website Kelas Inspirasi. Hasil seleksi kemudian meloloskan 64 orang Relawan Pengajar, 12 Fotografer dan 4 Videografer.

Hari Inspirasi jatuh pada 5 Maret 2014, serentak di 9 kabupaten/kota di Sulawesi Selatan. Untuk Gowa sendiri, akan diselenggarakan pada 10 Sekolah Dasar dan untuk Takalar di 5 Sekolah Dasar Kab. Takalar.

Guna persiapan hari inspirasi tersebut, kami menyelenggarakan Briefing Kelas Inspirasi pada tgl. 1 Maret 2014 . Seluruh Relawan diundang untuk menyiapkan Hari Inspirasi melalui briefing ini. Briefing ini bertujuan agar semua Relawan kembali diingatkan tentang nilai-nilai dasar yang kita jalankan dalam Kelas Inspirasi, pembagian penempatan tim pengajar berdasarkan sekolah dan diskusi menyusun rencana mengajar bersama dalam tim.

Briefing Relawan Pengajar & Dokumenter
Briefing Relawan Pengajar & Dokumenter

Lokasi briefing kami di Aula PKG SDN Limbung Puteri. Aula baru yang belum diresmikan ini, cukup luas untuk menampung semua Relawan yang hadir dari Gowa dan Takalar. Pemilihan tempat ini setelah mempertimbangkan jumlah orang yang akan hadir dan karena berada di tengah-tengah, antara Gowa dan Takalar.

Ibu Kepala SDN Limbung Puteri, sempat khawatir dan merasa serba salah ketika menyadari aula hanya dilengkapi dengan dua buah kipas angin saja. Seorang Relawan Panitia kemudian membisikkan kepada beliau bahwa para Relawan Profesional dan Dokumenter yang hadir, adalah orang-orang yang sudah terbiasa duduk dalam ruangan ber-AC. Saatnya mengajak mereka merasakan langsung ruangan yang digunakan oleh guru-guru Sekolah Dasar untuk berdiskusi merencanakan pembelajaran bagi tunas-tunas bangsa.

Pukul 09.00 wita tepat, Briefing dimulai dengan menyanyikan bersama Lagu Indonesia Raya.  Sungguh sebuah momen yang langka dan mengharukan, berdiri diantara lebih dari Seratus Relawan dari berbagai profesi, di dalam sebuah ruangan, menyanyikan Lagu Kebangsaan.

Mendidik adalah tugas orang terdidik. Para profesional yang merupakan orang-orang terdidik, nampak sangat antusias menyaksikan video pelaksanaan Kelas Inspirasi di daerah lain, yang diputar saat briefing. Video-video tersebut menggambarkan bahwa tak susah untuk ambil bagian pada pendidikan. Kita semua bisa menginspirasi anak-anak dengan bercerita tentang profesi dan mendorong mereka untuk mandiri, jujur, disiplin dan bekerja keras penuh semangat untuk menggapai cita-cita.

Relawan Panitia Kelas Inspirasi Gowa-Takalar
Relawan Panitia Kelas Inspirasi Gowa-Takalar

Hal yang menarik dari pelaksanaan Briefing Kelas Inspirasi ini adalah ketika beberapa orang Dokter Gigi datang ke lokasi briefing dan meminta didafftar sebagai Relawan Pengajar. Meski pendaftaran telah ditutup, tim pengajar telah disusun dan briefing sedang berlangsung, kami menyambut niat baik dan tulus mereka dengan mempersilahkan untuk registrasi dan ikut dalam diskusi kelompok.

Briefing ditutup pada pukul 12.00 siang,  setelah semua lesson plan dan jadwal observasi ditetapkan oleh masing-masing Tim sekolah.

Selamat menginspirasi rekan-rekan Relawan. Anak-anak di sekolah telah menanti para guru sehari mereka.

Think Big, Start Small, Act Now. Salam Inspirasi!

Categories
Diary Inspiration

Bukan Guru Tersayang

Karena sudah niatan akan mengunjungi seorang guru di tgl.25 Nopember, saya iseng melempar sebuah pertanyaan di group FB sekolah. Siapakah Guru yang Paling Berkesan saat masih sekolah?. Semua mengomentari, tetapi sudah dengan kriteria berbeda. Ada yang menyebut guru yang tersayang, guru yang paling berkesan baginya, bahkan ada yang menyebutkan guru yang paling menjengkelkan. Lucunya, teman-teman tidak sekedar menyebutkan nama-nama guruberdasarkan kriteria tersebut, tetapi lengkap dengan alasan panjang lebarnya.

Membaca komentar-komentar mereka di postingan pertanyaanku, seolah baru saja melewati sebuah lorong waktu menuju ke 20 tahun lalu, saat masih duduk di bangku SMA.  Teman-teman yang telat membaca postingan itupun, tak mau kalah, mereka laksana saling pamer guru kesayangan dan cerita dibalik pemberian gelar kesayangan tersebut.

Sesuai rencana awal, saya pun memilih siapa guru yang paling banyak disebutkan oleh teman-teman. Pak Dahlan, itu nama guru kami, yang paling sering disebut di deretan komentar-komentar pada postingan itu. Tapi jangan salah, nama beliau bukan disebut sebagai guru kesayangan, melainkan sebagai guru yang menjengkelkan dan paling banyak meninggalkan kesan karena selalu terkait dengan tingkah nakal kami saat sekolah dulu.

Tak semudah yang saya bayangkan untuk mengajak teman beramai-ramai ke rumah beliau. Sebagian besar teman-teman di FB menyatakan bahwa mereka tidak di Makassar lagi, ada pula yang masih sibuk hingga malam di kantor. Ya, kami semua telah bertebaran dimana-mana.

Seorang adik kelas saya dulu, Radhy, kadang masih berkomunikasi dengan Pak Dahlan hingga sekarang. “Beliau masih tinggal di rumah yang dulu, kanda. Saya punya nomor HP beliau. Ayo kita kunjungi sepulang dari kantor”, ajakan Radhy membuat saya kegirangan.

Pukul 17.15 saya dan Radhy akhirnya bisa menginjakkan kaki di rumah beliau. Senyum khas itu telah menanti kami di teras rumah. Ternyata Beliaupun baru saja pulang dari mengajar. Rupanya Pak Dahlan tidak mengajar lagi di sekolah kami ini, tetapi telah menjadi Pembantu Dekan III di Fak. Adab Universitas Islam Negeri Makassar.

Belum lagi kami duduk, saya sudah terharu saat berjabat tangan dengan beliau, “Andi Bunga, yah?”. Senangnya , Bapak masih mengenal saya setelah 20 tahun. Pasti beliau masih kenal saya, karena saya siswa yang lumayan banyak pelanggaran saat sekolah, batin saya. Ah, tidak juga, saya kan siswa berprestasi saat SMA dulu, Pak Dahlan saja yang terlalu kreatif mencari ide untuk mengomeli saya.

Bapak terlihat sehat, wajahnya masih berseri-seri dan tubuhnya masih tegap. Tapi pak Dahlan, masih tetap saja pak Dahlan yang dulu. Membuka obrolan, beliau sudah mulai dengan untaian kalimat mutiara penuh nasehat. Duh, bapak kan bukan guru BP lagi, sudah jadi dosen sekarang.

Ternyata, kami didahului oleh teman-teman yang tidak bisa hadir ke rumah beliau. Beliau menginformasikan bahwa sejak pagi, beliau tiba-tiba menerima banyak SMS ucapan selamat hari guru dari siswa-siswa yang dia sudah lupa seperti apa wajahnya.20131125_180745-1

Ceritapun mengalir dari kami bertiga. Saya tak pernah bisa menahan tawa saat beliau menceritakan bagaimana beliau menyusun skenario tiap saat akan mengomeli kami di sekolah dulu. “Saya kadang merasa bersalah, jika bereaksi keras dengan kalian. Sebenarnya itu bentuk kekecewaan saya, karena saya punya harapan yang tinggi kepada kalian”, beliau berkata masih dengan tekanan yang sama di 20 tahun lalu.

Bagai memutar sebuah film lama, Pak dahlan mengenang kembali kisah lama bersama kami sambil senyum-senyum. Tentang siapa-siapa yang sering dihukum di ruang BP, siapa yang paling sering nongkrong di kantin, siapa yang cara berpakaiannya tak pernah beres, hingga siapa yang paling sering kedapatan pacaran di jam sekolah.

“Stop Bapak! cukup mengenang teman-teman yang lain saja, jangan tentang saya yah”, harap saya dalam hati. Saya dulu pernah kena tegur karena potongan rambut yang terlalu pendek untuk seorang perempuan, menurut bapak. Pernah juga kena tegur karena sepayung berdua dengan kakak kelas laki-laki saat hujan. Yaah bapak, waktu itu kan kakak kelas yang numpang di payung saya. Saya kan takut menolak. Saya mengklarifikasi ke beliau setelah 20 tahun. Lagi-lagi, pak Dahlan tetap saja pak Dahlan yang dulu. Masih saja beliau merespon dengan berkata “ah masak?’.

Kisah pertemuan kami dengan Pak Dahlan, diposting oleh Radhy di group FB. Semuanya kemudian berkomentar menanyakan hal yang sama. Salam saya disampaikan, kan? Bapak cerita apa tentang saya?. Yang bertanya begitu, biasanya teman-teman yang paling sering diomeli saat sekolah.

Malam ini, group FB sekolah yang biasanya sepi oleh postingan dan komentar, berubah ramai hingga menjelang tengah malam. Kami bernostalgia dengan berbagi cerita tentang kisah kami bersama beliau saat di sekolah. Bahkan kakak-kakak kelas saya yang lulusan 1984 pun ikut nimbrung bercerita.

Apapun cerita di sekolah dulu, kami yang kini sudah menjadi orang, adalah hasil karya dari guru-guru kami. Terlepas, apakah beliau guru kesayangan atau guru yang paling menjengkelkan.