Menulis untuk Buku Makassar Menyala

Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu ketujuh.

Menerbitkan sebuah buku? Oh No! Bagaimana mungkin?. Saya menggelari diri sebagai seorang blogger pemula yang pasif, karena menulis di blog saja, sudah terseok-seok. Dengan gelar seperti itu, saya hanya berangan-angan, bisa menulis dengan teratur di blog saya. Bukan ikut menyantolkan tulisan saya dalam sebuah buku.

Tidak ah! Kali ini, saya tidak bisa ikut rencana teman-teman untuk menulis bersama. Malu-maluin saja kalau tulisan saya ikut menghias sebuah buku. “Saya kan baru saja belajar menulis,” saya beralibi.

Seorang teman saya, Fathul Qorib. Seorang backpacker, blogger aktif yang sudah menggunakan domain berbayar, dan telah menerbitkan sebuah buku yang berjudul Perempuan Pejalan Kaki. Dia memaksa semua teman untuk menyetor tulisan kepadanya.

Dia punya rencana besar menerbitkan sebuah buku. Buku yang kemudian disepakati oleh teman-teman, akan diberi judul Makassar Menyala. Buku tersebut, niatnya adalah sebuah buku antologi tulisan para Penyala Makassar.

Buku Makassar Menyala.

Buku Makassar Menyala.

Saya adalah salah seorang dari sekian puluh Penyala Makassar. Penyala Makassar adalah sebutan bagi orang yang menyalakan Makassar dengan buku-buku bermutu untuk anak-anak. Mengapa menyala? Karena anak-anak yang berakal budi disebabkan membaca buku bermutu, bagaikan ribuan bahkan jutaaan lampu yang menyalakan Makassar.

Kegemaran Penyala-penyala berceloteh panjang lebar di group atau ngobrol hingga larut malam di chat room Penyala, rupanya menarik perhatian Fathul untuk membuat sebuah buku. Keinginannya itu disampaikan di group dan spontan menyebabkan dia dilempari banyak pertanyaan.

Berbagai pertanyaan muncul, mulai dari menanyakan tema apa yang harus ditulis, apakah harus mengikuti tata bahasa yang baik, apakah boleh menulis dengan gaya santai, hingga minta tolong untuk dieditkan. Dan Fathul pun dengan sabar menjawab semuanya, sambil tentunya memberi motivasi super tinggi ke teman-teman, bahwa kami semua pasti mampu menulis.

Fathul, yang akhirnya menjadi editor untuk buku Makassar Menyala, meminta teman-teman untuk menulis, seperti ketika kami semua berkomentar tentang sebuah kegiatan di Penyala, peristiwa-peristiwa lucu di kopdar, hingga gosip yang dipaksa-paksakan hangat di chat room Penyala.

Beberapa minggu setelah Fathul menyampaikan permintaan tulisan di group, baru 1-2 orang yang menyetor. Fathul sampai berteriak-teriak minta semua segera menulis. “Baru berapa halaman niiih. Belum bisa dijadikan buku” seperti itu komplain Fathul di group.

Teman-temanpun mulai memasukkan tulisan satu persatu. Fathul mengeditnya dan sekaligus rajin share hasil editannya di group. Sepertinya sengaja dishare tuk memanas-manasi teman lain yang belum setor tulisan. Termasuk saya tentunya.

Membaca tulisan teman-teman di group, saya jadi membayangkan seperti apa nantinya buku tersebut. Sepertinya ada yang kurang. Nah lho, saya mulai tergelitik. “Makanya menulis dong, ” Saya menegur diri sendiri.

Dengan modal latihan menulis di blog, saya pun memaksakan diri menulis untuk ikut meramaikan buku Makassar Menyala, yang akan segera naik cetak di Februari 2013. Pikir saya, buku itu harus dilengkapi  dengan ulasan tentang sejarah awal hadirnya gerakan Makassar Menyala. Biar yang membacanya tidak bertanya-tanya.

Ngeblog ternyata melatih saya untuk menuangkan isi kepala saya ke dalam tulisan. Meski waktu itu, saya baru 3 bulan ngeblog dengan jumlah tulisan belum cukup 20, tapi saya rupanya mampu berkontribusi 2 tulisan untuk buku Makassar Menyala dan sebuah ulasan pendek tentang apa itu Makassar Menyala dan Penyala Makassar.

My First Inspiring Book About Blog

Menginspirasi & Memotivasi

Siapa itu Ollie, saya sama sekali tak pernah mendengar namanya. Dia adalah penulis dari buku yang amat menginspirasi saya di minggu ini.

Membeli buku ini pun adalah benar-benar kebetulan. Tak pernah terlintas untuk membeli sebuah buku tentang blogging, meski 2 hari yang lalu, saya baru saja ikut pelatihan nge-blog gratis di kantor BaKTI (Bursa Pertukaran Pengetahuan Kawasan Timur Indonesia) Makassar.  Tak ada yang mau melewatkan hal yang gratis kan? Hehehe.

Buku ini mungkin sudah diresensi oleh banyak orang. Jadi saya tak perlu lagi meresensinya dengan detil, karena saya yakin orang lain meresensinya lebih bagus dari cara saya. Saya hanya ingin bercerita bagaimana proses hingga buku ini bisa saya miliki.

Alkisah,  (ceile…kayak mendongeng saja), saya sedang bingung mengerjakan tugas sekolah yang tertunda sampai 3 minggu. Ini indikasi malas atau sibuk kerja kah?. Hehehe. Tugas matematika rekayasa yang sudah menjurus ke fluida dinamis.

Sudah browsing sana sini, tapi belum puas juga, maka saya mengharuskan diri membeli buku mekanika fluida. Biar bisa kerja tugas, tentunya.

Biasanya saya membeli buku di Gramedia, tapi kali ini tidak. Untuk menghemat waktu dan menghindari godaan shopping alias belanja barang-barang yang belum mendesak, saya memutuskan beli buku di toko buku Dunia ilmu yang letaknya di Jalan Bulukunyi, Makassar.

“Rak baris ketiga, belok kanan”, ujar petugas dengan tidak ramah, saat saya tanyakan tentang buku mekanika fluida. Menurut saya, toko buku ini amat tidak nyaman. Begitu sampai di ujung barisan rak ketiga, kaki saya urung melangkah belok kanan. Sebuah buku kecil dengan ukuran A5, yang kata “Blog” pada sampulnya dibuat berwarna kuning, menyita perhatian saya.

Nah kan, saya memang gampang tergoda hal lain. Belum juga menemukan buku yang saya cari, saya sudah iseng meraih buku Creative Blog Writing yang ditulis oleh Ollie. Mungkin karena baru saja ikut pelatihan nge-blog, saya jadinya tertarik sekedar melihat-lihat buku itu. Sekedar melihat-lihat yah, belum berniat membeli.

Sebenarnya saya agak kecewa karena bukunya masih disegel dan saya tidak leluasa mengenali isi buku dari sekedar membaca daftar isi nya. Namun saya akhirnya tetap membeli buku ini, tapi bukan karena saya doyan shopping. Hehehe.

Ada dua alasan mengapa saya memutuskan membeli buku ini. Pertama, karena ukurannya A5 dan agak tipis, berarti saya tak harus menghabiskan banyak waktu untuk membacanya. Mengingat ada mekanika fluida yang siap menunggu dibaca.

Kedua, sinopsis singkat dan curriculum vitae penulis di bagian belakang buku, yang ditulis dengan menarik. Hmmm, seperti ini rupanya promosi diri dengan curriculum vitae singkat. Eits, rupanya bukan Cuma dua, ada alasan lain, harganya murah, cuma  Rp. 24.000. hehehe..dasar perhitungan.

Tidak butuh lama, dalam semalam saja, saya tuntaskan membaca buku ini. Amat menginspirasi serta memotivasi bagi saya yang baru saja tahu bagaimana cara nge-blog. Sebagai seorang ibu rumah tangga (baca: tanpa pembantu), pekerja dan sedang bersekolah, saya selalu merasa terlalu sibuk dan nyaris tak ada waktu untuk menulis. Buku ini menghapus semua anggapan saya bahwa menulis itu butuh waktu khusus.

Buat kamu yang sudah punya blog tapi masih belum bisa konsisten untuk menulis. Carilah inspirasi dan jadilah blogger yang kreatif dengan membaca buku ini.