Mengapa Ada Hari Belanja Online Nasional?

harbolnas
Yang ber-sosial media, pasti pernah lihat iklan #1212sale. Tahukah anda, jika tanggal 10-12 Desember 2015 adalah Hari belanja online nasional (Harbolnas)? dan bukan kali pertama dilaksanakan. Harbolnas telah menjadi event tahunan sejak tahun 2012. Namun tahun ini, jumlah e-commerce yang bergabung sudah lebih dari 130. Jumlah yang tergolong besar untuk membuat kita bisa bebas memlilih diskon terbesar atau harga termurah.
Diskon di Harbolnas lumayan besar, semua toko menawarkan dari 50% hingga 90%, ditambah lagi promo diskon dari bank atau provider telekomunikasi.

Saya adalah salah seorang dari sekian banyak yang suka belanja online. -baca selanjutnya->

Pencipta Kemiskinan

Mungkin semua orang pernah membaca ayat yang satu ini. Beberapa mungkin sudah berkali-kali membaca artinya, atau bahkan kita sering mendengarnya diulas berulang-ulang oleh Udztas atau Penceramah yang berbeda.

Ayat ini kemudian menjadi berbeda bagiku, entah oleh orang-orang yang hadir pada peluncuran buku 99 Mutiara Hijabers Kang Maman di toko buku Gramedia Mall Ratu Indah sore itu, 21 Agustus 2015 yang lalu.

Mengapa berbeda? Karena diam-diam aku membandingkannya dengan cara para Penceramah Agama atau pak Udztas yang pernah kudengar memaparkan ayat ini.

Peluncuran 99 Mutiara Hijabers

Peluncuran 99 Mutiara Hijabers

Kang Maman Suherman yang sore itu didampingi Astri Husain, seorang Ilustrator perempuan, yang mempercantik buku terbarunya dengan lukisan tangan miliknya, tiba-tiba melempar pertanyaan usai Ia bercerita tentang bagaimana Ia hanya diberi jatah Lima Puluh Ribu per bulan untuk kuliah di Jakarta.

“Allah sesungguhnya menciptakan sesuatu itu berpasang-pasangan, coba jawab pertanyaan saya” ujarnya saat itu. “Allah menjadikan tertawa dan ?, Mematikan dan ? Perempuan dan?” lanjutnya. Setiap kali melempar satu Tanya, pengunjung hampir serentak menjawab, berturut-turut, menangis, menghidupkan, dan perempuan. Lalu Kang Maman secepat mungkin menyusul dengan pertanyaan keempat, “Allah memberikan kekayaan dan?.”

…baca selanjutnya

Kartu Lebaran dari Anies Baswedan

Ada yang pernah berburu kartu lebaran di toko buku, saat bulan Ramadhan? Entah kapan terakhir kali saya mengirim ataupun menerima kartu ucapan ldul Fitri. Benda bernama perangko pun, rasanya sudah lama sekali tak membelinya. Pemandangan halaman kantor pos yang biasa dipadati penjual kaki lima yang jualan kartu ucapan beraneka desainpun, sudah tak pernah lagi kutemui.

Kala telpon genggam tidak lagi menjadi barang mewah, ucapan selamat Idul Fitri lebih banyak disampaikan melalui pesan singkat ataupun saling menelpon dengan kerabat dan sahabat.

Semakin murahnya berinternet, juga semakin membuat kartu lebaran bukan lagi pilihan untuk mengucapkan selamat Idul Fitri kepada siapapun. Cukup dengan pesan obrolan melalui aplikasi messenger BBM, Wahtsapp, Line, Facebook dan lain-lain, ucapan maaf lahir batin dapat terkirim dengan cepat.

Sebuah kartu ucapan Idul Fitri tiba di rumah, diantar oleh petugas Pos. Kartu dengan desain sampulnya bukan lukisan masjid, kaligrafi, bunga ataupun pemandangan alam, melainkan foto keluarga mas Anies Baswedan. Baca selanjutnya

Manik-manik dan syal dari Tanah leluhur

Wisata makam, ya? Demikian candaan yang sering kulontarkan, jika ada teman yang akan ke Tana Toraja. Sebagian besar objek wisata di sana, memang berupa lokasi pemakaman tua yang tidak lazim.

Februari lalu, aku melakukan perjalanan kerja ke sana. Ini adalah keempat kalinya aku mengunjungi Toraja, kabupaten yang memiliki budaya amat berbeda dari kabupaten-kabupaten lain di Sulawesi Selatan.

Dibanding upacara pernikahan, suku Toraja lebih menjunjung tinggi tradisi kematian dan pemakaman. Ini salah satu penyebab mengapa objek wisata di sana lebih dominan berupa pekuburan yang berada di tebing-tebing, diantara celah dan curukan tebing tersebut. Meski demikian, kita masih bisa menikmati objek lain berupa pemandangan pegunungan yang indah, situs megalitikum dan kerajinan khas dari tanah leluhur ini.

Lebih dikenal dengan wisata pekuburannya, tidak kemudian menjadikan Toraja menjadi tempat yang kental dengan hal mistis. Peristiwa seperti kerasukan, mendadak sakit dan yang aneh-aneh, kala mengunjungi pemakaman leluhur, nyaris tak pernah ditemui oleh wisatawan.

Sebagian besar waktuku di Toraja kali ini untuk berdiskusi dengan teman-teman Pemerintah, sehingga pilihan jalan-jalannya lebih mengarah ke pusat belanja oleh-oleh.

Tenun Toraja. Sempat kaget tatkala belanja syal dari kain tenun. Aku beli beberapa syal bermotif garis-garis di pasar tradisional, hanya Rp.20..000 perlembarnya. Tatkala pindah tempat ke salah satu toko oleh-oleh, aku menemukan begitu banyak motif, bukan hanya berupa garis-garis, seperti yang umum dijual di pasar ataupun kios-kios yang ada di sekitar objek wisata, namun dengan harga yang jauh lebih mahal. Ratusan hingga jutaan rupiah. Wow.

Penasaran, akupun menanyakan ke Anna, seorang teman yang bekerja di Toraja. Menurutnya, ada beberapa jenis tenunan di Toraja. Yang banyak dijual dan mudah diperoleh, biasanya bermotif lurik-lurik. Menjadi amat murah, selain karena motifnya yang sederhana, juga karena merupakan produksi pabrik dengan benang sintetis.

Pengrajin tenun tradisional (foto: koleksi pribadi)

Pengrajin tenun tradisional (foto: koleksi pribadi)

Syal yang ditenun secara tradisional, bukan pabrikan, namun tetap menggunakan benang sintetis, harganya sedikit lebih mahal. Lalu yang jutaan? ternyata ada bermacam-macam jenis tenunan di sini. Kain yang ditenun dengan alat tenun bukan mesin, ada yang menggunakan benang dari bahan alami, yaitu serat tanaman atau batang pohon tertentu.

Benang dari seratpun, masih terbagi dua lagi. Ada yang menggunakan pewarna sintetis, ada yang masih tetap menggunakan pewarna organik dari cabe,sabuk kepala atau lainnya. Jenis terakhir inilah yang harganya bisa mencapai jutaan.

Benang dengan pewarna organik (foto: koleksi pribadi)

Benang dengan pewarna organik (foto: koleksi pribadi)

Bagi yang ingin belanja tenunan, boleh memperoleh di Pasar Tradisional di kota Rantepao. Untuk tenun organik, bisa jalan-jalan ke toko oleh-oleh yang terkenal di Toraja Utara, toko Todi namanya.

Jika ingin benar-benar melihat proses menenun, bisa ke pusat kerajinan tenun di Sa’dan, Toraja Utara. Di sana, harga tenunnya jauh lebih murah.

Selain tenun, Toraja memiliki kerajinan lain, seperti miniatur rumah Tongkonan, tau-tau dan aksesoris manik-manik.

Aksesoris ini merupakan pelengkap pakaian adat Toraja, yang dikenakan oleh perempuan. Biasanya dikenakan sebagai pengikat kepala, hiasan bahu dan dada, serta sebagai ikat pinggang. Bagian bawah aksesoris tersebut, dibuat menjuntai hingga ke pinggang dan ke lutut.

Tak hanya untuk aksesoris, manik-manik juga dibuat menjadi hiasan rumah. Biasanya berupa corong, mirip kap lampu, yang tepinya dihiasi lagi dengan manik-manik yang menjuntai. Menurut temanku, ada mitos mistis tentang kerajinan ini.

Belanja manik-manik di Kete'kesu (foto: koleksi pribadi)

Belanja manik-manik di Kete’kesu (foto: koleksi pribadi)

Saat ini, manik-manik tidak hanya dibuat sebagai aksesoris pelengkap baju adat, namun juga sudah dibuat sebagai aksesoris sehari-hari, yang bisa dijadikan oleh-oleh para wisatawan.

Berbagai macam gelang, kalung, ikat pinggang, bahkan gantungan kunci yang terbuat dari manik-manik, bisa didapatkan dengan mudah di Toraja. Harganya amat terjangkau untuk dibeli dalam jumlah banyak sebagai oleh-oleh. Dengan Rp.5.000 sudah bisa membawa pulang gelang.

Gelang Toraja di pasar tradisional (foto: koleksi pribadi)

Gelang Toraja di pasar tradisional (foto: koleksi pribadi)

Bagi yang suka mengoleksi manik-aksesoris manik, pasti bisa melihat perbedaan motif manik-manik Toraja dengan punya daerah lain di Indonesia. Motif yang mereka gunakan, masih mempertahankan motif dari leluhur. Pilihan warnanya pun, masih tetap warna Toraja, ini istilah yang kugunakan untuk mengenali warna aksesorisnya.

Gelang khas Toraja (foto: koleksi pribadi)

Gelang khas Toraja (foto: koleksi pribadi)

Rantai etnik Toraja (foto: koleksi pribadi)

Rantai etnik Toraja (foto: koleksi pribadi)

Jangan pernah mencari akseseoris manik-manik berwarna pink, ungu atau tosca di sana. Bakalan tidak pernah menemukan, karena warna khas aksesoris di sana, didominasi oleh kuning, orange, merah, hitam, coklat dan emas. Hal ini menjadikan akseseoris manik-manik Toraja, menjadi berbeda, sekaligus amat mudah dikenali.

Rantai dengan motif khas Toraja (foto: koleksi pribadi)

Rantai dengan motif khas Toraja (foto: koleksi pribadi)

Belanja oleh-oleh ku di kunjungan kali ini, beberapa lembar syal biasa, gelang manik dan sebuah syal yang terbuat dari benang organik.

Syal dari kain tenun toraja

Syal dari kain tenun Toraja

Tak ada yang bisa memelihara tradisi serta budaya negeri kita, selain kita sendiri. Bagiku, memakai barang-barang etnik, khususnya tenun ikat dan aksesoris, menjadkan kita terlihat tampil berbeda dibanding yang lain.

Pamer gelang Toraja bersama buku 101 Travel writing

Pamer gelang Toraja bersama buku 101 Travel writing

Ini Gaya Hidup! Bukan Sekedar Berbagi

Seperti apa gaya hidup orang perkotaan? Sebesar apa hal itu mempengaruhi pengeluaran keuangan?. Bagi mereka yang terbiasa merencanakan keuangan rumah tangganya dengan teliti, pastinya akan bisa menjawab pertanyaan tadi dengan cepat.

Jika anda belum terbiasa merencanakan pengeluaran, cobalah mencatat pengeluaran anda setiap harinya, selama sebulan. Buat kolom terpisah antara pengeluaran rutin, seperti listrik, air, telepon, internet, asuransi, kursus anak, tabungan haji, dengan pengeluaran dapur, transportasi, rekreasi, dan lain-lain.

Catat hingga pengeluaran paling kecil sekalipun, seperti: beli sekaleng soft drink atau beli pulsa telepon selular.

Setelah genap sebulan, amati catatan pengeluaran anda selama sebulan itu dan temui seperti apa gaya hidup anda, dari pengeluaran tersebut.

Bagi mereka yang memilih gaya hidup sehat, cenderung membelanjakan lebih banyak uangnya untuk mendukung hal tersebut. Dalam sebulan bisa belanja bahan makanan organik, bayar fitness atau aerobik, beli sepeda, belanja minum saat perjalanan pulang jogging, beli suplemen, atau check up bulanan.

Tuk yang memilih gaya hidup sebagai pengejar ilmu, dalam sebulan kemungkinan menghabiskan uang dua kali lipat dari belanja dapur untuk beli buku, bayar seminar, kursus, transportasi bolak balik ke perpustakaan, atau bayar internet lebih besar dibandingkan orang kebanyakan.

Bisa dikatakan, setelah kebutuhan paling dasar, pangan dan sandang yang wajar, orang-orang cenderung membelanjakan lebih banyak uangnya untuk memenuhi kebutuhan gaya hidupnya.

Lalu, gaya hidup seperti apakah yang dipilih oleh orang-orang di depan saya, yang sedang mengunyah makanannya sambil mengamati anak-anaknya yang lari kecil berkeliling dan naik turun perosotan sambil tertawa ceria, tak jauh dari tempat duduk mereka?.

Memilih tidak menebak gaya hidup orang tersebut, saya kembali fokus membahas rencana kegiatan bersama teman-teman Relawan, yang siang itu sedang berkumpul bersama di McDonald.

McDonald merupakan tempat favorit teman-teman Relawan untuk rapat kecil santai membahas rencana kegiatan sosial kami. Setidaknya ada 2 gerai McD yang paling sering kami pilih sebagai tempat rapat di Makassar, yaitu di jalan Alauddin dan Mall Ratu Indah.

“Gaya banget, masak Relawan anak, memilih mcD untuk rapat?” demikian protes seorang teman saya di awal. Bagi saya, makan dan kumpul-kumpul di mcD, untuk ukuran warga kota besar seperti Makassar, masih wajar. Toh, harganya lebih murah daripada tempat lain dan masih cocok tuk kantong anak mahasiswa.

Beberapa teman menyatakan, mcD mudah dijangkau dari kampus dan kantor masing-masing (kami terdiri dari mahasiswa dan pegawai yang berasal dari kampus dan kantor berbeda-beda), ruangan ber-AC, suasananya santai, serta ada wifi dan colokan listrik untuk buka laptop. Alasan terakhir adalah yang paling kuat, karena terkadang saat rapat, harus buka beberapa file untuk mendukung pembahasan kami.

Hal lain yang membuat kami suka dari McD, karena McD sejalan dengan gaya hidup kami. Bukan gaya hidup perkotaan lho, melainkan gaya hidup berbagi.

Teman-teman menganggap budaya berbagi, tidak sekedar dipandang sebagai gerakan peduli atau karena anjuran agama.

Seperti saya ungkapkan di awal tulisan ini, bahwa orang-orang cenderung membelanjakan lebih banyak uangnya untuk memenuhi gaya hidupnya, maka tatkala “berbagi” menjadi gaya hidup, maka anda takkan segan dan berfikir panjang untuk mengeluarkan sejumlah uang tuk berbagi.

Lupa tepatnya, kapan mengenal RMHC dari kotak donasi yang diletakkan di depan meja kasir. Namun sejak bulan lalu, gara-gara penasaran dengan sticker di pintu masuk McD yang bergambar strip merah dan tidak dibuat lurus, lebih menyerupai tulisan tangan, saya bisa tahu bahwa RMHC punya program baru yang keren. Stripes for love, hope, joy, smile.

Sticker Stripes For Love di Pintu Masuk (Foto: Koleksi Pribadi)

Sticker Stripes For Love di Pintu Masuk (Foto: Koleksi Pribadi)

Menurut saya, ajakan membeli baju kaos atau payung yang bercorak Stripes for Love ini, lebih dari sekedar ajakan berbagi tuk anak-anak penderita kanker, melainkan turut memudahkan pelanggannya yang peduli, untuk menemukan cara berbagi yang lebih praktis.

Saya teringat pembicaraan dengan seorang teman kira-kira satu atau dua tahun lalu, yang kebetulan ikut rapat juga siang itu. “Bunga, andai setiap orang berlomba-lomba ingin memiliki barang-barang donasi, daripada barang branded yang harganya bisa 4 sampai 5 kali lebih mahal, mungkin banyak orang yang akan terbantu”.

Pembicaraan itu mengingatkan betapa bahagianya kami saat memakai kaos Relawan anak LemINA, atau kaos Penyala Makassar. Membayangkan teman-teman bukan lagi berlomba-lomba memakai barang branded, tetapi berkompetisi untuk memakai segala hal berbau donasi.

Cobalah anda membayangkan, saat menyetor uang untuk membayar makanan yang dipesan hari ini di sebuah restoran cepat saji, atau baju branded di mall, atau tiket untuk nonton bioskop, di luar sana, ada anak-anak Indonesia yang makan dengan lauk seadanya, ada yang sibuk mencuci seragam sekolahnya yang kusam, karena hanya warisan dari kakak-kakaknya, dan ada yang tak pernah menonton lagi karena harus terbaring di rumah sakit melawan kanker.

Jika anda tidak akan kekurangan uang karena memenuhi gaya hidup, maka percayalah anda pun takkan berkekurangan hanya karena menyisihkan uang untuk sekedar beli baju kaos donasi seharga 50 ribu tuk anak-anak kanker saat anda berkunjung ke McD, atau menyelipkan uang di kotak donasi, depan kasir, tiap beli satu baju baru, atau merelakan uang kembalian saat belanja di mart-mart.

Teliti kembali catatan pengeluaran anda bulan ini, berapa yang telah dihabiskan untuk belanja gaya hidup, yang tidak mendesak, dan berapa banyak yang dikeluarkan untuk berbagi kepada sesama.

Orang berani mengeluarkan lebih, untuk memenuhi gaya hidup guna menyenangkan hati dan membuat hidupnya lebih bahagia, maka cobalah menjadikan gaya hidup berbagi sebagai gaya hidup baru, yang menutrisi hati dan membuat hidup lebih indah.

Bukan Guru Tersayang

Karena sudah niatan akan mengunjungi seorang guru di tgl.25 Nopember, saya iseng melempar sebuah pertanyaan di group FB sekolah. Siapakah Guru yang Paling Berkesan saat masih sekolah?. Semua mengomentari, tetapi sudah dengan kriteria berbeda. Ada yang menyebut guru yang tersayang, guru yang paling berkesan baginya, bahkan ada yang menyebutkan guru yang paling menjengkelkan. Lucunya, teman-teman tidak sekedar menyebutkan nama-nama guruberdasarkan kriteria tersebut, tetapi lengkap dengan alasan panjang lebarnya.

Membaca komentar-komentar mereka di postingan pertanyaanku, seolah baru saja melewati sebuah lorong waktu menuju ke 20 tahun lalu, saat masih duduk di bangku SMA.  Teman-teman yang telat membaca postingan itupun, tak mau kalah, mereka laksana saling pamer guru kesayangan dan cerita dibalik pemberian gelar kesayangan tersebut.

Sesuai rencana awal, saya pun memilih siapa guru yang paling banyak disebutkan oleh teman-teman. Pak Dahlan, itu nama guru kami, yang paling sering disebut di deretan komentar-komentar pada postingan itu. Tapi jangan salah, nama beliau bukan disebut sebagai guru kesayangan, melainkan sebagai guru yang menjengkelkan dan paling banyak meninggalkan kesan karena selalu terkait dengan tingkah nakal kami saat sekolah dulu.

Tak semudah yang saya bayangkan untuk mengajak teman beramai-ramai ke rumah beliau. Sebagian besar teman-teman di FB menyatakan bahwa mereka tidak di Makassar lagi, ada pula yang masih sibuk hingga malam di kantor. Ya, kami semua telah bertebaran dimana-mana.

Seorang adik kelas saya dulu, Radhy, kadang masih berkomunikasi dengan Pak Dahlan hingga sekarang. “Beliau masih tinggal di rumah yang dulu, kanda. Saya punya nomor HP beliau. Ayo kita kunjungi sepulang dari kantor”, ajakan Radhy membuat saya kegirangan.

Pukul 17.15 saya dan Radhy akhirnya bisa menginjakkan kaki di rumah beliau. Senyum khas itu telah menanti kami di teras rumah. Ternyata Beliaupun baru saja pulang dari mengajar. Rupanya Pak Dahlan tidak mengajar lagi di sekolah kami ini, tetapi telah menjadi Pembantu Dekan III di Fak. Adab Universitas Islam Negeri Makassar.

Belum lagi kami duduk, saya sudah terharu saat berjabat tangan dengan beliau, “Andi Bunga, yah?”. Senangnya , Bapak masih mengenal saya setelah 20 tahun. Pasti beliau masih kenal saya, karena saya siswa yang lumayan banyak pelanggaran saat sekolah, batin saya. Ah, tidak juga, saya kan siswa berprestasi saat SMA dulu, Pak Dahlan saja yang terlalu kreatif mencari ide untuk mengomeli saya.

Bapak terlihat sehat, wajahnya masih berseri-seri dan tubuhnya masih tegap. Tapi pak Dahlan, masih tetap saja pak Dahlan yang dulu. Membuka obrolan, beliau sudah mulai dengan untaian kalimat mutiara penuh nasehat. Duh, bapak kan bukan guru BP lagi, sudah jadi dosen sekarang.

Ternyata, kami didahului oleh teman-teman yang tidak bisa hadir ke rumah beliau. Beliau menginformasikan bahwa sejak pagi, beliau tiba-tiba menerima banyak SMS ucapan selamat hari guru dari siswa-siswa yang dia sudah lupa seperti apa wajahnya.20131125_180745-1

Ceritapun mengalir dari kami bertiga. Saya tak pernah bisa menahan tawa saat beliau menceritakan bagaimana beliau menyusun skenario tiap saat akan mengomeli kami di sekolah dulu. “Saya kadang merasa bersalah, jika bereaksi keras dengan kalian. Sebenarnya itu bentuk kekecewaan saya, karena saya punya harapan yang tinggi kepada kalian”, beliau berkata masih dengan tekanan yang sama di 20 tahun lalu.

Bagai memutar sebuah film lama, Pak dahlan mengenang kembali kisah lama bersama kami sambil senyum-senyum. Tentang siapa-siapa yang sering dihukum di ruang BP, siapa yang paling sering nongkrong di kantin, siapa yang cara berpakaiannya tak pernah beres, hingga siapa yang paling sering kedapatan pacaran di jam sekolah.

“Stop Bapak! cukup mengenang teman-teman yang lain saja, jangan tentang saya yah”, harap saya dalam hati. Saya dulu pernah kena tegur karena potongan rambut yang terlalu pendek untuk seorang perempuan, menurut bapak. Pernah juga kena tegur karena sepayung berdua dengan kakak kelas laki-laki saat hujan. Yaah bapak, waktu itu kan kakak kelas yang numpang di payung saya. Saya kan takut menolak. Saya mengklarifikasi ke beliau setelah 20 tahun. Lagi-lagi, pak Dahlan tetap saja pak Dahlan yang dulu. Masih saja beliau merespon dengan berkata “ah masak?’.

Kisah pertemuan kami dengan Pak Dahlan, diposting oleh Radhy di group FB. Semuanya kemudian berkomentar menanyakan hal yang sama. Salam saya disampaikan, kan? Bapak cerita apa tentang saya?. Yang bertanya begitu, biasanya teman-teman yang paling sering diomeli saat sekolah.

Malam ini, group FB sekolah yang biasanya sepi oleh postingan dan komentar, berubah ramai hingga menjelang tengah malam. Kami bernostalgia dengan berbagi cerita tentang kisah kami bersama beliau saat di sekolah. Bahkan kakak-kakak kelas saya yang lulusan 1984 pun ikut nimbrung bercerita.

Apapun cerita di sekolah dulu, kami yang kini sudah menjadi orang, adalah hasil karya dari guru-guru kami. Terlepas, apakah beliau guru kesayangan atau guru yang paling menjengkelkan.

Satu Jam Jaga Stamina Bersama Anies Baswedan

“Senang sekali bisa bertemu dengan teman-teman” ucapnya begitu bergabung dengan teman-teman yang sudah menunggu di lobby Hotel Aryaduta Makassar. Karena terkesima, teman-teman agak telat ambil posisi duduk masing-masing. Dan saya amat senang bisa mendapat posisi strategis duduk berhadapan dengan tokoh yang selalu menghiasi wajahnya dengan senyum ini.

Karena tepat berhadapan dengan saya, maka seolah beliau hanya ngobrol dengan saya. Meski kenyataannya tidak seperti itu. Menyenangkan diri sendiri , boleh kan?

Ekspresi wajah pak Anies Baswedan persis sama ketika bertemu saya dan mbak Jowvy di auditorium Unismuh dua jam lalu. Masih antusias dan penuh perhatian ke kami. Mungkin beliau terkesan karena di Timur Indonesia pun, kita mulai bergerak.

Memulai pembicaraan dengan mengenalkan teman-teman yang hadir, dari relawan pengajar Kelas Inspirasi hingga ke adik-adik penyala Makassar.

Beliau membuka dengan sebuah tanya “bagaimana kelas inspirasi kemarin?”.  Lalu kamipun bercerita singkat tentang pengalaman kami terlibat di dalamnya.

Begitu banyak hal yang beliau sampaikan, yang membuat tangan saya ingin menyelinap ke ransel tuk mengambil buku dan pulpen. Tapi saya khawatir ketinggalan pembicaraan.

Satu jam bersama Pak Anies Baswedan

Satu jam bersama Pak Anies Baswedan

Ketulusan itu Menular

Kelas Inspirasi, yang dulunya hanya dilaksanakan di Jakarta, kini sudah mulai dilaksanakan di banyak kota. Salah satunya Makassar. Pak Anies menuturkan bahwa gerakan-gerakan kecil yang kita lakukan, jika dituliskan, disebarkan, maka akan menjadi pemantik bagi yang lain untuk ikut bergerak.

“Ketulusan itu menular”, ucap beliau.

Ucapan beliau mengingatkan saya ke awal-awal kelas inspirasi digagas di Makassar. Kita agak khawatir apakah para profesional akan tertarik tuk turun ke sekolah-sekolah dasar?. Ini Makassar, bukan Jakarta, yang sudah melaksanakan Kelas Inspirasi untuk kedua kalinya.

Tetapi ketulusan rupanya benar-benar menular. Bukan hanya di Kelas Inspirasi 28 Maret 2013, tapi juga bahkan setelah hari tersebut, banyak dari kita mulai bergerak. Kegiatan Pack Your Spirit Penyala Makassar adalah salah satu bukti bagaimana ketulusan itu menular. Kita menggerakkan lebih dari 100 orang tuk berdonasi buku.

Bahkan perusahaan Bosowa pun memulai kerjasama dengan kita dengan bantuan buku serta biaya pengiriman ke lokasi-lokasi sasaran Penyala Makassar.

Mengajar Itu Addictive

Masih tentang kelas inspirasi, kami semua yang duduk bersama pak Anies kembali tertawa kecil, ketika beliau bercerita kisah unik tentang  sebuah BUMN yang meniru kelas inspirasi.

Ada seorang direktur BUMN, diharuskan untuk berdiri di depan kelas, dimana dia dulunya bersekolah. Adalah merupakan kerepotan luar biasa bagi dirinya, ketika harus naik kereta, atau naik bus tuk menempuh perjalanan menuju sekolahnya.

Pak Anies memaparkan bahwa ternyata di sekolah bapak tersebut, bapak itu adalah kebanggaan. Orang sekampungnya bangga bapak itu menjadi direktur BUMN dan lucunya, bapak itu tak pernah menyadarinya.

“Dua minggu setelah itu, bapak yang awalnya tidak semangat mengajar di sekolahnya itu, datang ke kantor Indonesia Mengajar, hanya sekedar untuk mengatakan bahwa ia akan kembali lagi mengajar” Pak Anies bercerita dengan memberikan penekanan.  “Memang mengajar itu addictive” beliau berucap setengah menggumam sambil menganggguk-angguk. Sayapun ikut mengangguk-angguk.

Mengajar memang menyenangkan, bagi mereka yang memiliki ketulusan. Masih selalu terbayang, bagaimana teman-teman profesional begitu bersemangat saat mengajar di depan adik-adik sekolah dasar, yang kemudian membuat kamipun (relawan penyelenggara) menjadi lebih bersemangat menyiapkan briefing dan refleksi bagi teman-teman relawan.

Yang penting adalah mengajarnya, bukan sarananya. “Kita mungkin sudah lupa, apakah dulu kita belajar pakai kapur atau spidol, black board atau white board. Yang selalu kita ingat adalah siapa yg mengajar kita” ucap Pak Anies.

Kembali ke bulan Maret lalu, satu hal yang sempat membuat saya kesulitan saat harus menarik kesimpulan dari hasil diskusi di refleksi Kelas Inspirasi Makassar adalah ketika harus menyimpulkan hasil identifikasi teman-teman relawan. Saya khawatir jika kemudian kelas inspirasi lah yang diminta untuk menyelesaikan masalah-masalah yang diidentifikasi tersebut. Duh, mengapa harus identifikasi masalah yah? Bukan identifikasi potensi?

Seperti kata Pak Anies di siang ini “Kita-kita ini, sering berharap orang lain yang menyelesaikan masalah yang kita identifikasi”. Mungkinkah kita yang menyelesaikan masalah yang kita identifikasi sendiri? Jawabnya ada pada masing-masing teman.

Repot Itu Baik

Sumpah! Tak bosan mendengar tutur tokoh inspiratifku ini. Meski sesekali kami menjawab pertanyaan beliau atau bercerita pengalaman gerakan teman-teman di Makassar, tapi kami lebih memilih mendengar beliau bertutur.

Seorang  teman Penyala, Dimas, menyampaikan ke beliau tentang pengalaman mengantarkan buku ke lokasi Pengajar Muda di Majene. Beliau kemudian menimpali dengan berbagi pengalaman seorang pelajar Indonesia di London yang ingin mengirimkan buku untuk anak-anak di lokasi terpencil.

Pelajar tersebut menghubungi Indonesia Mengajar untuk membantunya mengirimkan buku-buku yang akan ia sumbangkan. Tapi Indonesia mengajar tidak bisa membantu untuk mengirimkan buku itu. Ia hanya dibantu untuk dihubungkan dengan guru di sebuah desa.

“Mereka kita ajak repot. Dia yang berkomunikasi dengan guru di Indonesia, dia pula yang mengirimkannya sendiri. Repot kan? Sama seperti teman-teman yang repot-repot mengirim buku ke Majene” ucap Pak Anies.

“Repot-repot itu baik, jadi harus didorong repot-repot itu, jangan mau yang gampang aja” Pak Anies menegaskan disusul anggukan teman-teman.

Relawan itu Bukan Pekerjaan

Pak Anies menyambung ucapannya “ Ketika teman-teman repot-repot, orang di sana yang melihat, akan berkata, org itu tidak punya kerjaan lain kah? Sampai pada bawa buku kesini?”.

Kemudian beliau tiba-tiba bertanya ke Mbak Jowvy “anda bekerja dimana?” kemudian bertanya ke saya pula “kalau anda bekerja dimana?”.  Usai kami berdua menjawab, beliau lalu berkata “Nah, kita semua memiliki profesi, kita bekerja, tapi kita adalah relawan”.

Kembali, Pak Anies bercerita pengalaman seorang direktur yang menjadi relawan kelas inspirasi. Ketika sang direktur yang berperan sebagai relawan tersebut mengajak seseorang untuk ikut turun tangan, Sang direktur diminta oleh untuk ke kantor orang yang ia ajak tersebut.

Tatkala tukaran kartu nama, orang yang diajak tersebut spontan bertanya “Indonesi a Mengajarnya mana?”. Dan lebih kaget lagi ketika mengetahui bahwa yang dihadapannya adalah seorang direktur. Orang itu mengira bahwa sang direktur bekerja untuk mengajak orang-orang jadi relawan untuk Indonesia Mengajar.

“Kita adalah relawan, tapi pekerjaan kita bukan relawan, kita punya pekerjaan sendiri” beliau menutup cerita tentang sang direktur.

Jaga Stamina

Satu hal yang dipesankan oleh Pak Anies di silaturrahmi beliau bersama teman-teman relawan KI dan Penyala Makassar adalah bahwa kita semua harus jaga stamina. “Jaga staminanya dengan cara kita sering kumpul-kumpul. Karena kita akan bisa bergerak jika bersama”. Stamina yang dimaksud tentunya stamina kerelawanan dan ketulusan kita.

Saya lupa, di bagian mana beliau berucap tentang bekerja di pelosok, yang masih tertangkap di memeori saya adalah ketika beliau menyatakan bahwa ada yang pernah bertanya ke beliau, mengapa harus membantu yang jauh, sementara ada yang dekat untuk dibantu.

Beliau lalu menjawab “Jarak kita ke Indonesia semua sama. Dimanapun tempatnya. Tidaklah adil jika menghitung jarak dari kita berdiri ke tempat lain di sana”

Buku Makassar Menyala

Pak Mahmud Ghaznawie, Dekan Fakultas Kedokteran Unismuh mendekati kami dan mengangguk tersenyum, seolah beri kode bahwa sudah waktunya beliau meminta Pak Anies bergabung di acara mereka.

Jam sudah menunjukkan pukul 14.05 Wita. Pak Anies harus beranjak dari kami. Buku Makassar Menyala kami sodorkan ke beliau. Tanya dari beliau kemudian terlontar “Ada penulisnya hadir di sini? Tolong tandatangani”. Wuiih senangnya bisa beri ole-ole buku sederhana dengan tandatangan kepada orang yang menjadi inspirator bagi kami semua.

Kami mengantongi dua tawaran menarik dari beliau, ikut di festival Indonesia Mengajar di Oktober nanti dan menyelenggarakan Kelas Inspirasi Makassar di September, dan beliau akan hadir saat briefing. Hayo, mau menerima tawaran beliau?

Satu jam yang menyuntikkan energi luar biasa bagi kami, telah usai. Terima kasih atas kesediaannya bersilaturrahmi dengan kami.

Yang takkan lepas dari kepalaku adalah pernyataan beliau “Ingat teman-teman, kita sedang merancang masa depan, pendidikan adalah alatnya, bukan tujuan akhirnya”.

Sebuah pesan singkat di handphone saya terima dari beliau di malam hari, saat beliau landing di Jakarta, Let’s get it rolls bigger, stronger and wider for our nation.

Salam Inspirasi!

Bersama Pak Anies Baswedan

Bersama Pak Anies Baswedan

Pak Anies bersama Relawan Kelas Inspirasi dan Penyala Makassar

Pak Anies bersama Relawan Kelas Inspirasi dan Penyala Makassar

Previous Older Entries