Komunitas Yang Ramah Kepada Ibu Pekerja

Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedelapan.

Jika ada yang bertanya ke saya, komunitas yang bagaimanakah yang ideal menurut saya, maka akan saya jawab bahwa komunitas yang ramah kepada ibu pekerja.

Jika ada yang pernah membaca salah satu tulisan saya di blog ini, maka akan tahu bahwa saya adalah seorang ibu rumah tangga yang juga bekerja di luar rumah. Meski demikian, saya tanpa asisten di rumah. Jadi begitu pulang kantor, spontan saya harus menjalankan tugas rumah.

Beberapa teman saya yang ikut bergabung di komunitas, biasanya rajin ikut kopdar, diskusi, seminar, dan lain-lain. Sebagai seorang perempuan yang suka belajar dan berbagi, saya pun ingin seperti  mereka. Bahkan ada beberapa teman saya, malah aktif di partai. Untuk yang satu ini, saya amat tidak tertarik.

Saat ini, saya bergabung di tiga komunitas, dan menurut saya, ketiganya belum benar-benar ideal versi saya, karena belum ramah kepada ibu pekerja. Tapi lumayanlah, karena sudah agak-agak mendekati ideal.  Lalu seperti apa komunitas yang ramah kepada ibu pekerja, versi saya?

Punya Visi Yang Sama

Seperti halnya orang lain, saya pun berpendapat bahwa komunitas ideal adalah komunitas yang memiliki visi yang sama dengan visi saya. Saya bergabung di komunitas Lemina dan Penyala Makassar, dengan visi untuk ambil bagian mendukung anak-anak bangsa. Saya bergabung di komunitas IIDN, dengan visi supaya bisa belajar bagaimana menulis yang benar, bisa termotivasi menulis  dengan teratur dan belajar hal lain yang terkait dengan dunia ibu-ibu.

Kopdar Penyala Makassar. Untungnya di sore hari, di hari kerja

Mayoritas Kegiatan Bukan di Malam Hari

Selalu ada rasa bersalah ketika saya harus keluar malam lagi setelah seharian telah bekerja di luar. Kadang teman yang mengajak berkata “ajak suami dan anak-anak  juga kalau kegiatan malam”. Tapi anak-anak tentu saja tidak tertarik dengan kegiatan saya.

Saya kadang keluar malam hanya untuk acara keluarga saja, dimana suami dan anak-anak saya ikut serta.

Bagaimanapun juga, saya mewajibkan diri saya untuk pulang paling lambat di petang hari dan tidak mengikuti kegiatan lain di malam hari, kecuali untuk kondisi yang mendesak atau memang mengharuskan saya keluar malam. Malam hari adalah waktu buat keluarga bagi saya.

Karena itu, ketika saya memutuskan untuk bergabung dalam sebuah komunitas, maka saya akan cari tahu dulu, apakah mayoritas kegiatannya di malam hari atau tidak.

Tidak Merenggut Weekend

Salah satu indkator komunitas ramah ibu pekerja, versi saya, adalah tidak mengadakan kegiatan di weekend. Nah, ini yang sulit. Karena sebagian besar komunitas malah berkegiatan di weekend.

Untuk orang seperti saya, selain sebagai hari untuk keluarga, weekend jug amerupakan hari mencuci nasional dan hari kebersihan rumah, yang kuperingati di setiap minggu nya. Cukuplah Senin sampai Jumat di luar rumah.

Kadang ada yang bertanya, jika tidak di malam hari, tidak pula di weekend, lalu kapan komunitasnya berkegiatan?. Sambil nyengir sayapun menjawab “di jam istirahat makan siang atau di sore hari sepulang kerja, tapi maksimal sampai jam 6 saja yah”.

Advertisements

Serunya Postingan Pertama di Kompasiana

Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu ketujuh.

Sabtu. Saatnya belajar menulis lagi, mumpung ajang motivasi ngeblog 8 minggu belum usai. Saya suka sekali dengan tema minggu ini. Seandainya saya tidak ngeblog. Mengapa? Seperti yang telah saya tulis sebelumnya, sebagai blogger pemula, yang baru memiliki 25 postingan, saya justru menerima kejutan di postingan pertama saya. Dan Pagi ini, saya kembali dikejutkan oleh postingan saya. Bukan di blog ini, tapi di blog kompasiana.

Dua hari ini, 23-24 Mei 2013, saya ikut duduk manis dan menyimak di Festival Jurnalisme Warga 2013. Di kegiatan ini, saya bertemu mas Pepih Nugraha, pengelola Kompasiana. Rencananya Sabtu ini, saya mau menulis bahwa seandainya saya tidak ngeblog, mungkin saya tak pernah bertemu Pepih Nugraha. Tapi karena nama mas Pepih akrab dengan kompasiana,  maka saya iseng-iseng mengunjungi kembali blog kompasiana saya, yang sejak posting pertama dan satu-satunya, sudah jarang saya kunjungi. Pernah berkunjung, hanya untuk balas comment.

Sebelum bercerita bagaimana serunya postingan pertamaku di kompasiana,  saya ingin bercerita dulu bagaimana sampai saya bisa buat blog di kompasiana.

PeDe Gabung Komunitas

Untunglah saya ngeblog, karena akhirnya saya bisa gabung sebuah komunitas yang isinya perempuan semua dan sebagian besar adalah emak-emak seperti saya. Kata orang, jika bergaul dengan pencuri, maka bakal ikut jadi pencuri. Jika bergaul dengan orang-orang yang doyan nulis, semoga saya juga jadi doyan ikut nulis. Amin.

Bisa dibilang bahwa saya ini tergolong orang yang PeDe over dosis waktu itu. Dengan modal hanya 11 postingan di blog yang baru saya buat, saya dengan PeDenya gabung komunitas Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN). Syukurnya, karena ibu Korwil yang tarik masuk saya ke group FB IIDN. Kami kenalan di acara TEDx waktu itu, saya lupa bulan berapa. Yang jelas, setelah saya cek group, rupanya saya gabung komunitas tersebut di 5 bulan lalu. Tak terasa.

Ingin gabung AngingMammiri, tapi postingan belum banyak dan belum bisa memenuhi salah satu syarat, yaitu pernah hadir kopdar. Kopdarnya sering di malam hari, sih. Saya seorang ibu bekerja yang tidak rela melepas waktu bersama keluarga saya di malam hari, untuk keluar kopdar. Lagipula, lokasinya jauh.

Kembali ke group IIDN. Di Group inilah saya sempat berdiskusi singkat dengan seorang Ibu yang rupanya sangat rajin menulis di blog kompasiana nya. Saya bertanya ke ibu tersebut, bagaimana cara membuat blog di kompasiana, apa bedanya dengan blog di tempat lain dan apa keuntungannya.

Buat Blog dan Menelantarkan

Teman IIDN yang saya belum pernah bertemu muka langsung itupun menjelaskan dengan telaten, melalui kolom komentar di salah satu status di group IIDN. Dan dalam waktu singkat, jadilah blog kompasiana saya. Saya pasang foto profil, mulai meminta pertemanan dan kemudian saya telantarkan, karena tak saya isi dengan tulisan sama sekali.

Saat membuka kompasiana tadi, sempat lihat bahwa saya gabung jadi kompasianer di 20 Januari 2013. Dan tiga bulan kemudian, di tgl. 21 April 2013, saya berhasil mengisinya dengan sebuah tulisan.

Waktu itu, saya berfikir bahwa tulisan saya yang berjudul “Geng Imut Untuk Indonesia” patut dibaca oleh banyak orang. Bukan karena kualitas menulisnya yah, karena saya baru saja belajar menulis. Tetapi karena pesan yang ada di dalamnya. Saya berharap bisa menginspirasi banyak orang untuk membangun Indonesia menuju negeri besar yang lebih baik. Dan setahu saya, pembaca kompasiana sangat banyak.

Blogger Pemula Yang Beruntung

Harus saya akui bahwa saya benar-benar terinspirasi oleh Bung Frist dari Geng iMuT, yang malam itu share pengalamannya di kantor BaKTI. Tak mau kehilangan memori dari momen inspiratif itu, saya tergerak untuk menuliskannya. Mungkin inilah gunanya menulis, merekam jejak, termasuk jejak-jejak inspiratif. Saya baru menyadarinya saat itu.

Tulisan tentang Geng iMuT saya posting di blog ini, dan juga saya posting di Kompasiana, bukan dengan harapan jadi highlight, tapi sekedar agar ada orang lain membaca dan terinspirasi.

Share Postinganku oleh BaKTI

Share Postinganku oleh BaKTI

Senang sekali ketika tahu bahwa postingan pertama saya di kompasiana, diapresiasi oleh teman-teman BaKTI. Pun, tahunya dari seorang teman yang menyapa di whatsapp “Kak Bunga, menulis di Kompasiana yah?”. Kok tahu?

Karena masih belum 100% PeDe dengan tulisan-tulisan saya, saya jarang sekali menautkan blog ke facebook ataupun twitter milik saya. Rupanya teman membacanya di page BaKTI. Berbunga-bunga rasanya ketika tahu bahwa orang lain share tulisan saya.

Serunya lagi, saya baru menyadari satu hal di pagi ini, ketika berkunjung ke blog kompasiana saya. Postingan pertama saya dibaca oleh 400 orang lebih, diberi 45 jempol di FB, 8 di Twitter dan 1 orang yang tak kukenal, menyatakan bermanfaat. Andai saya tidak ngeblog, saya takkan memperoleh surprise seperti ini.

Untuk ukuran seorang yang baru belajar menulis, saya berkata ke diri saya bahwa saya adalah blogger pemula yang beruntung. Salam Blogger.

Sisi Kiri Postingan adalah Surprise Untukku

Sisi Kiri Postingan adalah Surprise Untukku

Postingan Pertama Dimuat di Newsletter

Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu ketujuh.

Berapa jumlah postingan di blog mu saat ini?. Bagi yang telah memiliki blog selama bertahun-tahun, pastinya telah memiliki ratusan lebih postingan atau justru sudah tak terhitung lagi.

Saya adalah salah seorang blogger pemula, yang sengaja ikut 8 minggu ngeblog untuk memotivasi diri saya sendiri untuk menulis. Sebenarnya saya pernah membuat blog di tahun 2010, tapi bukannya mengisi blog itu dengan tulisan, saya hanya sibuk mempercantik, merubah-rubah themesnya dan cukup mengisinya dengan foto-foto narsis, tanpa ada narasi yang menjelaskan sejarah foto-foto tersebut. Benar-benar malas menulis saya ini.

Setelah beberapa kali tidak berhasil mengikuti pelatihan ngeblog, akhirnya saya dapat menghadiri sebuah pelatihan super singkat di awal Nopember 2012. Di hari itulah saya mulai membuat blog baru dan mengisinya dengan tulisan, bukan sekedar jadi album foto.

Meski sempat berjanji untuk mulai rajin menulis, tapi memasuki usia enam bulan blog yang kunamakan setangkai Matahari itu, baru berhasil memamerkan 24 postingan. Sebuah prestasi yang hebat bagi seorang yang selalu punya alasan klasik, tidak ada waktu tuk tidak menulis.

Jika dikaitkan dengan tema 8 minggu ngeblog minggu ini, seandainya saya tidak ngeblog, maka saya akan meneruskan kalimat itu dengan berkata, mungkin saya tidak akan jadi blogger pemula yang pernah jingkrak-jingkrak senang karena postingan pertama saya di blog, dimuat di sebuah newsletter yang pembacanya adalah pelaku-pelaku pembangunan di KTI. Wuiiih.

BaKTINwes Edisi 84

BaKTINwes Edisi 84

Postingan Pertamaku di BaKTINews

Postingan Pertamaku dimuat di BaKTINews

ngeblog2Pengalaman ngeblog yang takkan pernah saya lupakan. Bisa dibayangkan tentunya, bagaimana seorang blogger pemula seperti saya, membuka sebuah newsletter yang memuat artikel tentang pelatihan blog yang pernah saya ikuti, yang kemudian dilengkapi dengan postingan pertama saya.

Mungkin bagi orang lain, sudah menjadi hal biasa tulisan mereka di blog dimuat di newsletter atau majalah atau media cetak lainnya, tapi untuk sebuah postingan pertama, tentulah berbeda. Apakah ada yang masih ingat postingan pertamanya di blog? Apakah ada yang postingan pertamanya dimuat di sebuah media? Hanya sedikit orang yang memiliki pengalaman itu, dan saya adalah satunya. Alhamdulillah.

Dimuatnya postingan pertama saya itu, membuat saya semakin semangat mengisi blog. Tapi kalau dilihat dari beberapa minggu lalu, tulisan saya ditulis hanya untuk tujuan ikut 8 minggu ngeblog. Duh, dasar malas. Saya selalu butuh motivasi dari pihak lain untuk mendorong saya menulis. Mungkin saya harus selalu ikut lomba, bukan untuk mengejar hadiah, tapi untuk menjadikan saya terbiasa menulis.

Eits, satu hal lagi, seandainya saya tidak ngeblog, mungkin saya tidak pernah tertarik mengenal blogger angingmammiri dan tak pernah mengunjungi web nya.

Kelak, jika ada yang bertanya ke saya tentang blog, maka saya akan bercerita ke mereka tentang postingan pertama saya yang dimuat di sebuah newsletter dan bagaimana kejadian tersebut bisa memicu saya untuk selalu menulis.

Subsidi Vs Pemicuan

Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu keenam.

Meski banyak menemui dua sisi berbeda dalam kehidupan sehari-hari, namun lumayan tidak mudah untuk menentukan mau menuliskan apa. Sepertinya hal yang terdekat saat ini adalah tentang apa yang saya lakukan dalam pekerjaan saya sehari-hari.

Dengan latar belakang pendidikan teknik sipil, sebagian teman agak heran jika mendengar bahwa saya bekerja dalam bidang yang berhubungan dengan sanitasi. “kayak orang kesehatan masyarakat saja” begitu kata teman saya yang memilih serius menggeluti proyek-proyek teknik sipil.

Namun, bukan dua sisi berbeda itu yang akan saya bahas, karena menurut saya, masih tetap ada hubungannya antara teknik sipil dan sanitasi. Bukankah bicara sanitasi berarti bicara tentang sarana atau bangunan sanitasi?

Ketergantungan Pada Subsidi Sanitasi

Seperti kita ketahui bahwa di dekade akhir ini, banyak proyek atau program ke masyarakat yang memicu capaian peningkatan kesehatan masyarakat. Hal paling utama yang ramai disentuh oleh proyek dalam bidang sanitasi adalah pemenuhan sanitasi dasar berupa jamban. Baik jamban keluarga maupun MCK.

Tahun 2015 semakin dekat dan Indonesia harus mengejar angka target akses sanitasi Millenium Development Goals (MDGs). Namun hal tersebut kemudian membuat saya resah dengan dua pendekatan yang amat berbeda di jaman dulu dan sekarang.

Awalnya, sebelum kesepakatan MDGs, dan sebelum ada pendekatan CLTS (Community Led Total Sanitation), pemenuhan sanitasi dasar masyarakat berupa proyek subsidi dari pemerintah. Baik melalui Dinas Pekerjaan Umum maupun Dinas Kesehatan. Subsidi pemerintah dengan pendekatan bagi-bagi jambannya tersebut, ternyata berimbas hingga kini dan sedikit membuat saya dan teman-teman putar otak untuk mencari cara lain untuk menghapus mengurangi dampak dari pendekatan lalu itu.

Menurut saya, proyek atau program apapun yang pernah ada dan berlanjut hingga sekarang, membuat  masyarakat kita mulai memiliki ketergantungan pada subsidi. Meski ada sebagian teman berdalih bahwa masyarakat tetap berswadaya, namun swadayanya amat kecil dan terkesan hanya di atas kertas atau sekedar untuk memenuhi syarat agar bantuan yang lebih jauh lebih besar, bisa mereka peroleh.

Sekian tahun lamanya pemerintah menyalurkan subsidi jamban, tapi mengapa akses terhadap jamban masih rendah?.

Hasil diskusi dan observasi langsung di beberapa desa yang berada di beberapa kabupaten menunjukkan bahwa banyak MCK dan jamban keluarga yang dulu dibangun, tidak dimanfaatkan lagi. Bahkan ada sebuah proyek yang hanya membagi klosetnya saja beberapa tahun lalu, hingga kini belum dipasang dan hanya diletakkan di sudut halaman rumah. Saat ditanya, alasan mereka adalah menunggu bantuan berikutnya untuk memasangkan kloset tersebut menjadi sebuah jamban siap pakai. Untuk MCK-MCK yang rusak, merekapun masih menunggu ada program lain yang akan datang untuk memperbaikinya. Sambil menunggu subsidi, mereka kembali BAB sembarangan.

Pemicuan Sanitasi Di Tengah Ketergantungan Subsidi

Inilah saya, yang hadir di salah satu program yang bernama Sanitasi Total Berbasis Masyarakat, dimana prinsip program ini adalah tanpa subsidi, tanpa promosikan jamban serta masyarakat merupakan pemimpin. Sebuah program yang pendekatannya sangat berbeda dengan program-program sebelumnya.

Sebuah tantangan berat bagi saya untuk melakukan pemicuan bersama teman-teman kepada masyarakat yang sudah terbuai bertahun-tahun oleh subsidi. Saat memicu rasa jijik mereka, mereka akan berkata “wah..kotor sekali kampung kita, harus bangun jamban kalau begitu, adakah bantuan?”.

Ketika kami memicu harga diri mereka, mereka banyak yang berujar “segera bangun jamban, jadi kapan kami dibangunkan?”.

Saat kami memicu rasa takut akan dosa, mereka dengan pelan berkata “andai pemerintah tahu bahwa kami ini berdosa jika menyebarkan penyakit ke banyak orang karena BAB sembarangan, pasti pemerintah sudah buatkan jamban”.

Pemicuan yang harusnya menimbulkan rasa jijik masyarakat yang BAB sembarangan, menimbulkan rasa takut dosa dan mengusik harga diri mereka, justru berujung dengan harapan tinggi untuk segera mendapatkan bantuan. Padahal inti dari pemicuan adalah bagaimana setelah rasa tersebut timbul, mereka langsung memutuskan bahwa bangun jamban adalah hal prioritas. Lalu karena hal tersebut adalah prioritas, maka mereka akan bangun sendiri tanpa menunggu subsidi.

Demikianlah gambaran pemicuan di tengah-tengah masyarakat yang telah terbiasa dengan subsidi. Benarkah masyarakat kita telah berdaya?.

Masih teringat cerita nenek, bagaimana sebuah jembatan kayu dibangun sendiri oleh masyarakat, dengan bahan yang berasal dari masyarakat sendiri, tanpa menunggu pemerintah.

Bagaimana sebuah masjid bisa berdiri dengan dana dan tenaga dari masyarakat sendiri tanpa subsidi. Lalu mengapa untuk sebuah jamban, masyarakat susah bergotong royong di saat sekarang ini?

Pemicuan CLTS. Petakan rumah. Petakan kebiasaan BAB secara partisipatif.

Pemicuan CLTS. Petakan rumah. Petakan kebiasaan BAB secara partisipatif.

Pemicuan CLTS. Ayo susun diagram, bagaimana tinja bisa sampai ke mulut?

Pemicuan CLTS. Ayo susun diagram, bagaimana tinja bisa sampai ke mulut?

Al Qur’an Pink, Bikin Galau

Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu keempat.

Saya adalah penyuka warna Merah dan Biru, tapi bukan fanatik. Kadang saya senyum-senyum jika ingat bagaimana seorang teman membatalkan membeli sebuah benda, hanya karena tidak tersedia warna favoritnya. Saya bukan tipe seperti itu. Meski masih menjadikan warna sebagai dasar pertimbangan memutuskan membeli sebuah barang, namun warna bukanlah alasan utama. Saya masih lebih mempertimbangkan kegunaan barang tersebut.

Mungkin banyak orang lain seperti saya, tidak terlalu mempermasalahkan warna jika membeli sebuah benda atau peralatan. Tapi bagaimana dengan benda yang bernama pakaian? Nah, untuk hal yang satu ini, bagi saya warna adalah pertimbangan berikutnya setelah harga.

Suka Merah dan Biru, tidak menjadikan saya untuk mengharuskan diri membeli baju atau rok yang warna Merah atau Biru saja. Jika membuka lemari pakaian, baju-baju saya bermacam-macam warnanya. Bahkan orang yang melihatnya akan sulit menebak apa warna favorit saya. Saya memakai semua warna.

Jika mengingat betapa saya tidak menjadikan warna sebagai dasar dalam membeli sesuatu, maka 16 April 2013 yang lalu, saya tidak semestinya berdiri berlama-lama di toko buku Gramedia hanya gara-gara warna Pink.

Di rumah, kami memiliki beberapa Al Qur’an yang ukurannya umum. Beberapa tahun lalu, saat kantor sering menugaskan saya untuk bepergian ke kabupaten lain atau mengikuti pelatihan, saya memutuskan membeli sebuah Al Quran yang berukuran kecil. Saya amat nyaman dengan Al Quran yang satu ini, karena meski ukurannya kecil tetapi hurufnya tidak sampai membuat lensa mata saya bekerja dua kali lipat untuk berusaha membacanya.

Kenyamanan saya menggunakan Al Qur’an ini mulai terganggu saat anak-anak saya menyadari bahwa ibu mereka memiliki sebuah Al Qur’an yang bisa dibawa ke sekolah, tanpa harus membuat berat ransel mereka. Biasanya mereka membawa Al Qur’an yang tebal. Akhirnya saya dan dua jagoan kecil saya secara bergantian menggunakan Al Qur’an ini.

Repotnya, ketika saya harus ke kabupaten lain, saya harus membujuk mereka untuk merelakan Al Quran saya dan meminta mereka membawa Al Quran yang biasa saat pelajaran Agama. Mengapa tidak beli yang baru? Aha! Ini dia yang membuat saya jadi menghabiskan waktu lama untuk mengutak-atik tumpukan Al Qur’an di semua toko buku yang saya kunjungi.

Sejak tahun lalu, Al Qur’an seperti yang saya miliki, seolah lenyap dari toko buku. Tumpukan Al Qur’an yang biasanya diletakkan khusus dan terdiri atas berbagai ukuran dan desain, sudah saya obok-obok di beberapa tempat, tapi belum menemukan yang tepat.

Trend desain Al Qur’an berukuran kecil, sudah bergeser. Saat ini, Al Qur’an yang saya namai sendiri sebagai Al Qur’an for travel itu, dibuat lengkap dengan terjemahannya. Karena memerlukan space khusus untuk terjemahan, maka huruf Al Qur’an diperkecil. Masih bisa terbaca oleh mata saya, namun saya ingin menjaga mata saya dengan tidak memaksanya bekerja keras membaca deretan huruf-huruf yang demikian kecilnya. Bisa-bisa dalam berapa bulan, sudah pakai kacamata.

Setelah berbulan-bulan, dengan sisa-sisa semangat yang bercampur keputusasa-an, saya masih setia mengobok-obok tumpukan Al Qur’an setiap ke toko buku. Hore! Desain lama telah hadir kembali. Al Qur’an berukuran kecil yang isinya tanpa terjemahan dengan huruf yang nyaman tuk dibaca telah tersedia. Senang berlipat-lipat, namun tiba-tiba galau melihat warnanya.

Al Qur’an warna pink?. Ini kali pertama, saya butuh setengah jam tuk berfikir karena alasan warna. Norak ah, masak Al Qur’an warna pink, pikir saya. Karena kebutuhan yang mendesak, saya mengangkat naik satu persatu model itu, hingga tumpukan paling bawah, sambil menengok kanan kiri. Khawatir ada yang memperhatikan ulah aneh saya.

“Saya harus dapat model seperti ini yang warnanya bukan pink” saya menyemangati diri. O iya, saya tidak datang sendiri ke Gramedia. Saya bersama sahabat saya saat masih SMA dulu. Dia ikut membantu mengangkat tumpukan satu persatu untuk mencari Al Qur’an yang saya maksud.

Al Qur'an Pink Fanta

Al Qur’an Pink Fanta

“Apa salahnya pakai warna pink?” protes teman saya yang sudah terlihat bosan membongkar sana sini. “Cari saja dulu, kalau tidak dapat, kita cari di tempat lain. Ini model baru, berarti di toko lain sudah ada juga dan siapa tahu ada warna lain” saya masih ngotot. “semua Al Quran yang ukuran segitu, kayaknya sengaja diproduksi dengan warna-warna cerah” teman saya menunjuk ke model-model yang lain.

Astaga, saya baru nyadar betapa warna warninya Al Qur’an di depan saya. Selama ini saya lebih fokus mencari yang didesain tanpa terjemahan tanpa memperhatikan warnanya. Tapi masak sih, tak ada warna hitam?

Atas bujuk rayu teman saya yang rupanya sudah capek berdiri, saya pun akhirnya membeli Al Qur’an itu. “Nah, kalo warna pink fanta menyala kayak begini, gampang ditemukan kalo tercecer atau terselip. Lagipula anak-anakmu laki-laki, pasti mereka tidak akan pinjam, karena warnanya terlalu perempuan”, teman saya masih tetap berargumen saat saya membayar di kasir.

Ini adalah satu-satunya benda milik saya yang warnanya pink fanta menyala, bukan pink biasa atau baby pink, dan lucunya, benda itu adalah Al Qur’an.

Perempuan 70 thn itu adalah Pembina Pramuka UNM

Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu ketiga.

Di awal-awal persiapan Kelas Inspirasi Makassar, sebuah gerakan yang saya ikut bergabung di dalamnya sebagai relawan, seorang adik Penyala mengirim pesan singkat ke saya. Bagaimana caranya supaya tetap fit, seperti Kakak? Saya baru 3 hari mengurus KI, selalu tepar jika sudah sampai di rumah.

Kejadian tersebut terulang lagi di minggu berikutnya, saat saya bersama seorang Penyala lain yang bernama Wiyah, mendampingi relawan pengajar. Wiyah bertanya ke saya “minum apa, supaya bisa kuat seperti  Kakak? Bisa naik motor kesana kemari, tanpa terlihat lelah”. Glek. Tanpa terlihat lelah?

Saya sama sekali tak menyangka jika saya terlihat selalu fit dan tak lelah. Padahal jika saya sudah tiba di rumah setelah seharian di luar, saya merasakan lelah yang luar biasa. Hingga kemudian saya menjawab pada diri saya sendiri, bahwa mungkin karena saya selalu bersemangat, sehingga rasa lelah itu tak terlukis di wajah saya saat bertemu orang.

Semangat Seorang Pramuka

Semangat yang besar setiap melakukan sebuah aktivitas, sebenarnya tidak datang begitu saja. Seorang perempuan yang berusia 70 tahun telah menginspirasi saya selama bertahun-tahun. Yah, saya mencontek semangatnya yang selalu membara. Beliau adalah pembina Pramuka Gudep Puteri UNM. Silahkan membayangkan, bagaimana beliau yang berumur 70 tahun diantara para Mahasiswa  yang ikut kegiatan Pramuka. Setiap mendengar kata Pramuka, maka saya membayangkan gerakan yang enerjik dan disiplin yang tinggi.

Sejak dulu, para Mahasiswa sering bertandang ke rumahnya dan berdiskusi panjang dengan beliau. Tentu saja masih tetap tentang Pramuka. Tetapi selain aktif sebagai Pembina, beliau juga aktif ikut di kegiatan majelis Taklim dan arisan-arisan.

 

Pemotongan Kue Ultah Pramuka UNM thn 2012 oleh Bunda Supiah (sumber: http://scoutnewspramukaunm.blogspot.com)

Sedekah dan Zakat itu Berbeda

Bukan hanya semangat dan motivasi tingginya yang menginspirasi saya. Hal lain yang membuat saya sangat terinspirasi adalah kebiasaan sedekahnya. Jika banyak orang terinspirasi dengan mukjizat sedekah-nya Yusuf Mansyur, maka saya terinspirasi dengan beliau. Beliau selalu berpesan ke saya untuk tidak selalu mengurungkan niat tuk bersedekah hanya karena mencurigai orang.

Saya diminta membuang jauh-jauh pikiran negatif ketika melihat orang meminta-minta di jalan, atau datang membawa selembar kertas di depan pagar rumah. Menurut beliau, meskipun orang-orang tersebut menipu atau terorganisir atau terkesan malas, akan tetapi pastilah mereka orang tidak mampu. Beliau jugalah yang mengingatkan kepada saya, betapa ada perbedaan yang nyata antara zakat penghasilan dan sedekah.

Menurut beliau, terkadang ada orang yang sudah merasa cukup dengan mengeluarkan zakat harta, zakat penghasilan. Padahal menurut beliau, itu belum termasuk kategori berbaik hati, karena zakat itu wajib alias mau tidak mau harus dikeluarkan. Jika ingin berbaik hati ke orang lain, maka keluarkan sedekah selain zakat. Beliau mengibaratkan zakat itu adalah sholat wajib 5 waktu, dan sedekah itu ibarat sholat Tahajjud dan sholat sunnat lainnya.

Tidak Percaya Tahyul

Nenek dengan tiga cucu ini, meski sudah berumur 70 tahun, tapi sama sekali tidak percaya tahyul dan amat menghindari adat kebiasaan yang terkesan ritual agama, tapi nyerempet syirik. Meski tidak ditanya, beliau akan selalu berkicau mengingatkan anak-anaknya untuk berhati-hati dalam melaksanakan suatu hal. “Awas syirik” begitu pesannya.

Tidak Tergantung Kepada Orang Lain  

Karena seorang Pramuka, beliau sepertinya memegang teguh prinsip untuk tidak bergantung kepada orang lain. Jika ingin bepergian, beliau tidak akan memesan khusus untuk diantar oleh anak-anaknya dan memilih naik angkutan umum. Beliau hanya akan meminta diantar jika kebetulan anaknya  sedang ada rencana keluar rumah juga dan kebetulan melalui jalur yang akan beliau lalui.

Jika ditawari untuk menunggu beberapa saat agar bisa diantar, beliau akan menolak jika anaknya harus menempuh jarak jauh dan berlawanan dengan arah tujuan anaknya. Alasannya, terlalu repot jika harus sengaja menempuh jarak jauh mengantarnya, sementara beliau bisa bepergian dengan duduk manis di dalam Pete-pete. Praktis nenek satu ini, tak pernah merepotkan anak-anaknya.

Tukang becak yang mangkal dekat rumah beliau, amat senang jika bisa mengantar beliau. Soalnya, meski sempat menawar saat mau menggunakan jasa tukang becak, beliau tetap saja membayar lebih jika sudah turun. “Dilebihkan sebagai  sedekah” kata beliau.  Kadang juga, tukang becak tersebut tiba-tiba diberikan beras, baju bekas atau uang, meski beliau tidak sedang menggunakan jasanya.

Jasa Kredit

Hal lain yang patut saya contohi adalah beliau juga tidak tergantung secara finansial kepada orang lain. Amat sangat menghindari berutang kepada orang lain karena prinsipnya adalah orang kaya adalah orang yang tidak punya hutang. Berutang hanya ketika benar-benar mendesak dan secepat mungkin dibayar kembali.

Karena jarang berhutang, maka beliau menjadi tempat  meminjam uang bagi anak-anaknya yang sudah berkeluarga. Asyiknya berhutang ke beliau adalah jangka waktu pengembalian tidak terhingga, tanpa bunga dan kadang diputihkan, meski jumlahnya cukup besar.

Selain anak-anaknya, para adik sepupu beliau pun sering menjadikan beliau sebagai tempat meminjam uang dan tetap saja tanpa jangka waktu pengembalian tertentu , tanpa bunga dan kadang jika sudah kasihan, sebagain dari utang adik-adik sepupunya, diputihkan juga.

Di awal tahun 2013, nenek yang amat rajin membaca Al Quran dan jarang sakit ini, akhirnya mengundurkan diri sebagai Pembina Pramuka di UNM melalui sebuah musyawarah. Bukankah  begitu banyak orang-orang muda yang bisa menggantinya. Meski demikian, beliau tetap saja sibuk, sibuk ngaji, sibuk arisan, sibuk berkunjung ke rumah-rumah keluarganya dan sibuk mengajari  cucu-cucunya banyak hal.

Perempuan 70 tahun yang pernah menjadi pembina pramuka di UNM (dulu IKIP) sejak tahun 1978 hingga awal tahun ini, kupanggil IBU.

Ibuku dan Ketiga Cucunya

Ibuku dan Ketiga Cucunya

Warung Coto Setengah Abad

Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedua.

Coto bukanlah makanan kegemaran saya. Meski demikian, bukan berarti saya pantang untuk menikmati makanan khas Makassar yang berkuah kental ini. Bukan orang Makassar jika tak pernah makan Coto Makassar.

Saya tak pernah merasa khawatir untuk menyantap jeroan yang berada di balik bawang goreng yang mengapung di permukaan kuahnya yang asem karena perasan jeruk nipis.

Karena bukan favorit saya, maka ketika ada teman dari kota lain yang kebetulan berkunjung  ke Makassar dan bertanya ke saya dimana warung Coto terbaik, maka saya butuh waktu sedikit agak lama untuk berfikir. Payah.

Sebelum menulis ini, saya coba mengingat-ingat, pernah makan Coto dimana saja yah?. Niat awalnya, mau menulis tentang warung-warung Coto yang ada di Makassar, ternyata saya kekurangan referensi.

Sebenarnya saya bisa dengan gampang mencarinya di Google, tapi tulisan saya bakal tidak hidup jika saya tak pernah merasakan makan Coto di warung tersebut. Dari semua warung Coto yang berhasil saya ingat, rupanya semuanya berada di jalur perjalanan ke kantor atau sekitar rumah Ibu atau dekat kantor Almarhum Bapak.

Coto Paraikatte di jl. Pettarani, terakhir ke sana mungkin sekitar 8 tahun yang lalu, saat mampir makan bersama Ibu. Coto Palleko di Takalar, tempat mampir sarapan saat menuju kantor, jika tak sempat sarapan di rumah. Coto Dewi  di jalan Sunu, beberapa kali mampir saat bertugas di Kel. Tallo. Coto Ranggong di Jl. Ranggong, cuma dua kali seumur hidup, saat masih Sekolah Dasar,  jika harus ikut Bapak ke kantornya. Satu lagi, warung Coto di jalan Bulukunyi. Saya menyebutnya Coto otak, karena warung ini menawarkan otak sapi, selain jeroan dan daging.

Beberapa bulan lalu, saya lupa tepatnya bulan apa. Saya dan Ibu mampir membeli kue di toko Adijaya Sungguminasa.  Ketika memilih kue, saya baru menyadari bahwa Ibu tidak ikut masuk ke dalam toko. Mengapa Ibu menunggu di luar? Di luar kan sedang terik matahari.

Seusai membeli kue, saya celingak celinguk mencari Ibu. Mata saya akhirnya menangkap sosoknya sedang sibuk ngobrol sambil berdiri dengan seorang Perempuan berumur 50an, di depan kasir warung Coto. Ibu pasti beli Coto lagi.

Ibuku yang berusia 70 tahun adalah penggemar Coto. Tekanan darah beliau sama sekali tak pernah tinggi. Kolesterolnya pun masih di angka yang aman. Asam uratnya tergolong normal juga. Ibu tergolong rajin check up ke dokter. Satu-satunya keluhan Ibu adalah telapak tangannya yang sering keram di pagi hari.

Mungkin karena tak pernah punya banyak masalah dengan kesehatan, beliau menjadi penggemar Coto. Saat ini, beliau sudah agak mengurangi makan Coto dengan alasan mencegah, sebelum terkena kolesterol.

Kali ini tebakan saya salah. Ibu tidak membeli Coto. Beliau benar-benar hanya ngobrol dengan  perempuan yang dibalut gamis dan berjilbab pink, yang ternyata pemilik warung itu. Dia bertugas sebagai kasir, sementara dua orang laki-laki, yang sepertinya adalah anaknya, duduk di belakang meja yang dipenuhi jeroan. Bersiap jika ada pelanggan yang datang.

Sepanjang perjalanan pulang dengan motor Scoopy-ku. Ibu tak pernah berhenti berceloteh tentang warung Coto yang bernama Coto Sunggu itu. “Nama pemiliknya Haji Imang. Dulu pemiliknya bernama Daeng Bantang” ibu memulai kisahnya tentang warung itu.

Sudah 8 tahun saya tinggal di Tamarunang Kab.Gowa, bersama suami dan dua orang jagoan kami. Namun tak pernah sekalipun saya makan Coto di warung Coto sunggu itu. Jalur perjalanan saya dari Tamarunang ke Takalar, memang tidak mengharuskan saya melalui warung itu. Jika ingin ke Makassar, saya pun tidak melaluinya, karena memilih lewat Hertasning Baru.

Warung Coto Sunggu, yang Sudah Setengah Abad

“Itu warung terkenal. Namanya dari dulu memang Coto Sunggu. Saya dulu sering makan disitu saat sekolah SPG” beliau tetap semangat bercerita dari belakang punggugku, meski suaranya kadang terbawa angin. Apa? Sering makan saat masih SPG?. Saya jadi tertarik dengan obrolan Ibu. “Tahun berapa?” saya penasaran. “tahun 50an tapi sudah mau masuk tahun 60an”. Mungkin maksud Ibu sekitar tahun 1958 atau 1959, saya menerka sendiri.

Sesampai di rumah. Ibu masih kembali bernostalgia dengan tetap bercerita tentang Coto Sunggu-nya. Beliau mulai menyebut nama-nama temannya saat  SPG, yang sering menemani beliau makan Coto di warung itu. Eits, ada yang aneh. Bukankah Ibu dulu tinggal di rumah tantenya, nenek sepupu saya, yang letaknya bukan di Gowa?.

Saat saya menanyakan hal itu, Ibu membenarkan bahwa beliau tinggalnya di jalan Balang Caddi dan sengaja ke kab.Gowa untuk makan Coto Sunggu. Kata Ibu Lagi, Jalan A.P.Pettarani dulunya masih termasuk kabupaten Gowa. Sedemikian jauhnya hanya untuk makan Coto?.

Ibu hanya menyayangkan, mengapa saat beliau mampir tadi, warungnya terlihat agak sepi dan suasana warung biasa-biasa saja. Tidak dibuat lebih luas atau di desain lebih Indah, seperti warung-warung Coto lain. Padahal dulunya, banyak orang yang berdomisili di Makassar, yang sengaja datang untuk makan Coto Sunggu, saking terkenalnya Coto itu di jaman lalu.

Mungkin saja Coto Sunggu masih terkenal hingga saat ini, tapi karena saya bukan penggemar Coto, maka saya yang tak pernah tahu dan tak pernah mampir. Meski sebenarnya, saya kerap kali belanja di toko kue Adijaya, yang berada di sebelahnya.

Jika mengingat usia Ibu yang sudah 70 tahun, maka bisa diperkirakan bahwa Coto Sunggu sudah ada sejak setengah Abad yang lalu. Meski tidak seramai dulu, seperti cerita Ibu, namun saya bisa merasakan betapa pemiliknya saat ini masih bertahan meneruskan bisnis orangtua mereka dulu.

Previous Older Entries Next Newer Entries