9 Kab/Kota Di SulSel Tertular Virus KI

Setelah pelaksanaan pertama kali di Makassar pada tahun lalu, laksana virus, Kelas Inspirasi Makassar menular ke 8 Kab/Kota lainnya di Sulawesi Selatan, yakni Kabupaten Gowa, Takalar, Bantaeng, Pinrang, Pangkep, Palopo, Enrekang dan Maros.

Pada rapat pertama di Desember 2013, untuk pelaksanaan Kelas Inspirasi SulSel yang dilaksanakan di warung Pisang Nugget, sebenarnya ada beberapa teman merasa kurang yakin untuk melaksanakan Kelas Inspirasi dalam skala SulSel. “Baru 3 atau 4 kabupaten yang menyatakan siap melaksanakan, apa tidak aneh jika kita menyebut sebagai Kelas Inspirasi SulSel dengan jumlah sedikit seperti itu?” Demikian pertanyaan seorang relawan panitia yang hadir.

Pertanyaan itu kemudian dijawab dengan optimisme oleh teman-teman yang lain. Kami semua yakin bahwa Kelas Inspirasi selalu mengandung keajaiban dalam proses persiapannya. Rapat hari itupun memutuskan pelaksanaan Kelas Inspirasi untuk tahun ini, diberi nama Kelas Inspirasi Sulawesi Selatan.

Pertemuan berikutnya untuk sosialisasi dan penyusunan relawan panitia dilaksanakan 3 hari setelah rapat pertama. Rentang waktu tiga hari sebelum rapat tersebut, ternyata teman-teman telah menebarkan virus Inspirasi ke orang-orang, baik secara langsung maupun melalui media sosial. Hasilnya, pada rapat akhri Desember 2013 di kantor BaKTI tersebut, telah ada 9 kab/kota yang menyatakan siap menyelenggarakan Kelas Inspirasi. Alhamdulillah, ketulusan itu menular hanya dalam 3 hari saja.

Di pagi hari 5 Maret 2014, sebanyak 551 orang Relawan Profesional secara serentak di 9 kab/kota SulSel menuju ke Sekolah-sekolah Dasar untuk mengajar di kelas. Mereka menemui ribuan anak-anak di ratusan kelas di SulSel. Mereka datang sebagai relawan, tanpa dilayani, membawa peralatan sendiri untuk mengajar, membawa makanan sendiri, tanpa uang transportasi, tanpa uang saku, bahkan tanpa sertifikat sekalipun.

Anak-anak itu terinspirasi oleh para profesional yang menjadi guru sehari mereka, Guru-guru terinspirasi dari para Profesional dan para Profesional pun terinspirasi oleh anak-anak yang mereka temui. Kita semua saling menginspirasi dan terinspirasi secara bersamaan.

Memindahkan Bilik Siaran ke SD~Kelas Inspirasi Bantaeng

Memindahkan Bilik Siaran ke SD~Kelas Inspirasi Bantaeng

Dari Gunung menjadi Bubuk Semen~Kelas Inspirasi Pangkep

Dari Gunung menjadi Bubuk Semen~Kelas Inspirasi Pangkep

Dokter Bedah Menginspirasi~Kelas Inspirasi Gowa

Dokter Bedah Menginspirasi~Kelas Inspirasi Gowa

Kelas Inspirasi memperkuat rasa percaya kita semua bahwa masih begitu banyak orang yang peduli kepada Pendidikan. Banyak orang yang peduli, banyak pula yang tergerak, namun tak semua bergerak untuk ambil bagian.

Berminat tuk bergabung. Ayo cek pendaftaran di Kota lain melalui http://www.kelasinspirasi.org

Langkah jadi Panutan, Ujar Jadi Pengetahuan, Pengalaman Jadi Inspirasi

Advertisements

Briefing Kelas Inspirasi Gowa-Takalar

Kelas Inspirasi untuk pertama kali akan diselenggarakan di Kab. Gowa dan Takalar. Sejak awal penyiapan Kelas Inspirasi di Januari lalu, teman-teman Relawan Panitia selalu optimis bisa mengajak para profesional untuk cuti sehari dan hadir di Sekolah-sekolah Dasar untuk bercerita tentang profesi mereka, guna menginspirasi anak-anak bercita-cita tinggi.

Kami percaya bahwa masih begitu banyak orang-orang yang peduli pada pendidikan Indonesia. Harapannya, anak-anak dapat terinspirasi dari cerita para Profesional yang turun langsung ke Sekolah-sekolah Dasar tersebut dan para Profesional pun dapat melihat langsung kondisi pendidikan dasar kita dan merasakan bagaimana menjadi guru sehari.

Hingga penutupan pendaftaran, tercatat sebanyak 67 orang relawan profesional, 12 orang relawan fotografer dan 4 orang relawan videografer yang mendaftar untuk kabupaten Gowa melalui website Kelas Inspirasi. Hasil seleksi kemudian meloloskan 64 orang Relawan Pengajar, 12 Fotografer dan 4 Videografer.

Hari Inspirasi jatuh pada 5 Maret 2014, serentak di 9 kabupaten/kota di Sulawesi Selatan. Untuk Gowa sendiri, akan diselenggarakan pada 10 Sekolah Dasar dan untuk Takalar di 5 Sekolah Dasar Kab. Takalar.

Guna persiapan hari inspirasi tersebut, kami menyelenggarakan Briefing Kelas Inspirasi pada tgl. 1 Maret 2014 . Seluruh Relawan diundang untuk menyiapkan Hari Inspirasi melalui briefing ini. Briefing ini bertujuan agar semua Relawan kembali diingatkan tentang nilai-nilai dasar yang kita jalankan dalam Kelas Inspirasi, pembagian penempatan tim pengajar berdasarkan sekolah dan diskusi menyusun rencana mengajar bersama dalam tim.

Briefing Relawan Pengajar & Dokumenter

Briefing Relawan Pengajar & Dokumenter

Lokasi briefing kami di Aula PKG SDN Limbung Puteri. Aula baru yang belum diresmikan ini, cukup luas untuk menampung semua Relawan yang hadir dari Gowa dan Takalar. Pemilihan tempat ini setelah mempertimbangkan jumlah orang yang akan hadir dan karena berada di tengah-tengah, antara Gowa dan Takalar.

Ibu Kepala SDN Limbung Puteri, sempat khawatir dan merasa serba salah ketika menyadari aula hanya dilengkapi dengan dua buah kipas angin saja. Seorang Relawan Panitia kemudian membisikkan kepada beliau bahwa para Relawan Profesional dan Dokumenter yang hadir, adalah orang-orang yang sudah terbiasa duduk dalam ruangan ber-AC. Saatnya mengajak mereka merasakan langsung ruangan yang digunakan oleh guru-guru Sekolah Dasar untuk berdiskusi merencanakan pembelajaran bagi tunas-tunas bangsa.

Pukul 09.00 wita tepat, Briefing dimulai dengan menyanyikan bersama Lagu Indonesia Raya.  Sungguh sebuah momen yang langka dan mengharukan, berdiri diantara lebih dari Seratus Relawan dari berbagai profesi, di dalam sebuah ruangan, menyanyikan Lagu Kebangsaan.

Mendidik adalah tugas orang terdidik. Para profesional yang merupakan orang-orang terdidik, nampak sangat antusias menyaksikan video pelaksanaan Kelas Inspirasi di daerah lain, yang diputar saat briefing. Video-video tersebut menggambarkan bahwa tak susah untuk ambil bagian pada pendidikan. Kita semua bisa menginspirasi anak-anak dengan bercerita tentang profesi dan mendorong mereka untuk mandiri, jujur, disiplin dan bekerja keras penuh semangat untuk menggapai cita-cita.

Relawan Panitia Kelas Inspirasi Gowa-Takalar

Relawan Panitia Kelas Inspirasi Gowa-Takalar

Hal yang menarik dari pelaksanaan Briefing Kelas Inspirasi ini adalah ketika beberapa orang Dokter Gigi datang ke lokasi briefing dan meminta didafftar sebagai Relawan Pengajar. Meski pendaftaran telah ditutup, tim pengajar telah disusun dan briefing sedang berlangsung, kami menyambut niat baik dan tulus mereka dengan mempersilahkan untuk registrasi dan ikut dalam diskusi kelompok.

Briefing ditutup pada pukul 12.00 siang,  setelah semua lesson plan dan jadwal observasi ditetapkan oleh masing-masing Tim sekolah.

Selamat menginspirasi rekan-rekan Relawan. Anak-anak di sekolah telah menanti para guru sehari mereka.

Think Big, Start Small, Act Now. Salam Inspirasi!

Bukan Guru Tersayang

Karena sudah niatan akan mengunjungi seorang guru di tgl.25 Nopember, saya iseng melempar sebuah pertanyaan di group FB sekolah. Siapakah Guru yang Paling Berkesan saat masih sekolah?. Semua mengomentari, tetapi sudah dengan kriteria berbeda. Ada yang menyebut guru yang tersayang, guru yang paling berkesan baginya, bahkan ada yang menyebutkan guru yang paling menjengkelkan. Lucunya, teman-teman tidak sekedar menyebutkan nama-nama guruberdasarkan kriteria tersebut, tetapi lengkap dengan alasan panjang lebarnya.

Membaca komentar-komentar mereka di postingan pertanyaanku, seolah baru saja melewati sebuah lorong waktu menuju ke 20 tahun lalu, saat masih duduk di bangku SMA.  Teman-teman yang telat membaca postingan itupun, tak mau kalah, mereka laksana saling pamer guru kesayangan dan cerita dibalik pemberian gelar kesayangan tersebut.

Sesuai rencana awal, saya pun memilih siapa guru yang paling banyak disebutkan oleh teman-teman. Pak Dahlan, itu nama guru kami, yang paling sering disebut di deretan komentar-komentar pada postingan itu. Tapi jangan salah, nama beliau bukan disebut sebagai guru kesayangan, melainkan sebagai guru yang menjengkelkan dan paling banyak meninggalkan kesan karena selalu terkait dengan tingkah nakal kami saat sekolah dulu.

Tak semudah yang saya bayangkan untuk mengajak teman beramai-ramai ke rumah beliau. Sebagian besar teman-teman di FB menyatakan bahwa mereka tidak di Makassar lagi, ada pula yang masih sibuk hingga malam di kantor. Ya, kami semua telah bertebaran dimana-mana.

Seorang adik kelas saya dulu, Radhy, kadang masih berkomunikasi dengan Pak Dahlan hingga sekarang. “Beliau masih tinggal di rumah yang dulu, kanda. Saya punya nomor HP beliau. Ayo kita kunjungi sepulang dari kantor”, ajakan Radhy membuat saya kegirangan.

Pukul 17.15 saya dan Radhy akhirnya bisa menginjakkan kaki di rumah beliau. Senyum khas itu telah menanti kami di teras rumah. Ternyata Beliaupun baru saja pulang dari mengajar. Rupanya Pak Dahlan tidak mengajar lagi di sekolah kami ini, tetapi telah menjadi Pembantu Dekan III di Fak. Adab Universitas Islam Negeri Makassar.

Belum lagi kami duduk, saya sudah terharu saat berjabat tangan dengan beliau, “Andi Bunga, yah?”. Senangnya , Bapak masih mengenal saya setelah 20 tahun. Pasti beliau masih kenal saya, karena saya siswa yang lumayan banyak pelanggaran saat sekolah, batin saya. Ah, tidak juga, saya kan siswa berprestasi saat SMA dulu, Pak Dahlan saja yang terlalu kreatif mencari ide untuk mengomeli saya.

Bapak terlihat sehat, wajahnya masih berseri-seri dan tubuhnya masih tegap. Tapi pak Dahlan, masih tetap saja pak Dahlan yang dulu. Membuka obrolan, beliau sudah mulai dengan untaian kalimat mutiara penuh nasehat. Duh, bapak kan bukan guru BP lagi, sudah jadi dosen sekarang.

Ternyata, kami didahului oleh teman-teman yang tidak bisa hadir ke rumah beliau. Beliau menginformasikan bahwa sejak pagi, beliau tiba-tiba menerima banyak SMS ucapan selamat hari guru dari siswa-siswa yang dia sudah lupa seperti apa wajahnya.20131125_180745-1

Ceritapun mengalir dari kami bertiga. Saya tak pernah bisa menahan tawa saat beliau menceritakan bagaimana beliau menyusun skenario tiap saat akan mengomeli kami di sekolah dulu. “Saya kadang merasa bersalah, jika bereaksi keras dengan kalian. Sebenarnya itu bentuk kekecewaan saya, karena saya punya harapan yang tinggi kepada kalian”, beliau berkata masih dengan tekanan yang sama di 20 tahun lalu.

Bagai memutar sebuah film lama, Pak dahlan mengenang kembali kisah lama bersama kami sambil senyum-senyum. Tentang siapa-siapa yang sering dihukum di ruang BP, siapa yang paling sering nongkrong di kantin, siapa yang cara berpakaiannya tak pernah beres, hingga siapa yang paling sering kedapatan pacaran di jam sekolah.

“Stop Bapak! cukup mengenang teman-teman yang lain saja, jangan tentang saya yah”, harap saya dalam hati. Saya dulu pernah kena tegur karena potongan rambut yang terlalu pendek untuk seorang perempuan, menurut bapak. Pernah juga kena tegur karena sepayung berdua dengan kakak kelas laki-laki saat hujan. Yaah bapak, waktu itu kan kakak kelas yang numpang di payung saya. Saya kan takut menolak. Saya mengklarifikasi ke beliau setelah 20 tahun. Lagi-lagi, pak Dahlan tetap saja pak Dahlan yang dulu. Masih saja beliau merespon dengan berkata “ah masak?’.

Kisah pertemuan kami dengan Pak Dahlan, diposting oleh Radhy di group FB. Semuanya kemudian berkomentar menanyakan hal yang sama. Salam saya disampaikan, kan? Bapak cerita apa tentang saya?. Yang bertanya begitu, biasanya teman-teman yang paling sering diomeli saat sekolah.

Malam ini, group FB sekolah yang biasanya sepi oleh postingan dan komentar, berubah ramai hingga menjelang tengah malam. Kami bernostalgia dengan berbagi cerita tentang kisah kami bersama beliau saat di sekolah. Bahkan kakak-kakak kelas saya yang lulusan 1984 pun ikut nimbrung bercerita.

Apapun cerita di sekolah dulu, kami yang kini sudah menjadi orang, adalah hasil karya dari guru-guru kami. Terlepas, apakah beliau guru kesayangan atau guru yang paling menjengkelkan.

Satu Jam Jaga Stamina Bersama Anies Baswedan

“Senang sekali bisa bertemu dengan teman-teman” ucapnya begitu bergabung dengan teman-teman yang sudah menunggu di lobby Hotel Aryaduta Makassar. Karena terkesima, teman-teman agak telat ambil posisi duduk masing-masing. Dan saya amat senang bisa mendapat posisi strategis duduk berhadapan dengan tokoh yang selalu menghiasi wajahnya dengan senyum ini.

Karena tepat berhadapan dengan saya, maka seolah beliau hanya ngobrol dengan saya. Meski kenyataannya tidak seperti itu. Menyenangkan diri sendiri , boleh kan?

Ekspresi wajah pak Anies Baswedan persis sama ketika bertemu saya dan mbak Jowvy di auditorium Unismuh dua jam lalu. Masih antusias dan penuh perhatian ke kami. Mungkin beliau terkesan karena di Timur Indonesia pun, kita mulai bergerak.

Memulai pembicaraan dengan mengenalkan teman-teman yang hadir, dari relawan pengajar Kelas Inspirasi hingga ke adik-adik penyala Makassar.

Beliau membuka dengan sebuah tanya “bagaimana kelas inspirasi kemarin?”.  Lalu kamipun bercerita singkat tentang pengalaman kami terlibat di dalamnya.

Begitu banyak hal yang beliau sampaikan, yang membuat tangan saya ingin menyelinap ke ransel tuk mengambil buku dan pulpen. Tapi saya khawatir ketinggalan pembicaraan.

Satu jam bersama Pak Anies Baswedan

Satu jam bersama Pak Anies Baswedan

Ketulusan itu Menular

Kelas Inspirasi, yang dulunya hanya dilaksanakan di Jakarta, kini sudah mulai dilaksanakan di banyak kota. Salah satunya Makassar. Pak Anies menuturkan bahwa gerakan-gerakan kecil yang kita lakukan, jika dituliskan, disebarkan, maka akan menjadi pemantik bagi yang lain untuk ikut bergerak.

“Ketulusan itu menular”, ucap beliau.

Ucapan beliau mengingatkan saya ke awal-awal kelas inspirasi digagas di Makassar. Kita agak khawatir apakah para profesional akan tertarik tuk turun ke sekolah-sekolah dasar?. Ini Makassar, bukan Jakarta, yang sudah melaksanakan Kelas Inspirasi untuk kedua kalinya.

Tetapi ketulusan rupanya benar-benar menular. Bukan hanya di Kelas Inspirasi 28 Maret 2013, tapi juga bahkan setelah hari tersebut, banyak dari kita mulai bergerak. Kegiatan Pack Your Spirit Penyala Makassar adalah salah satu bukti bagaimana ketulusan itu menular. Kita menggerakkan lebih dari 100 orang tuk berdonasi buku.

Bahkan perusahaan Bosowa pun memulai kerjasama dengan kita dengan bantuan buku serta biaya pengiriman ke lokasi-lokasi sasaran Penyala Makassar.

Mengajar Itu Addictive

Masih tentang kelas inspirasi, kami semua yang duduk bersama pak Anies kembali tertawa kecil, ketika beliau bercerita kisah unik tentang  sebuah BUMN yang meniru kelas inspirasi.

Ada seorang direktur BUMN, diharuskan untuk berdiri di depan kelas, dimana dia dulunya bersekolah. Adalah merupakan kerepotan luar biasa bagi dirinya, ketika harus naik kereta, atau naik bus tuk menempuh perjalanan menuju sekolahnya.

Pak Anies memaparkan bahwa ternyata di sekolah bapak tersebut, bapak itu adalah kebanggaan. Orang sekampungnya bangga bapak itu menjadi direktur BUMN dan lucunya, bapak itu tak pernah menyadarinya.

“Dua minggu setelah itu, bapak yang awalnya tidak semangat mengajar di sekolahnya itu, datang ke kantor Indonesia Mengajar, hanya sekedar untuk mengatakan bahwa ia akan kembali lagi mengajar” Pak Anies bercerita dengan memberikan penekanan.  “Memang mengajar itu addictive” beliau berucap setengah menggumam sambil menganggguk-angguk. Sayapun ikut mengangguk-angguk.

Mengajar memang menyenangkan, bagi mereka yang memiliki ketulusan. Masih selalu terbayang, bagaimana teman-teman profesional begitu bersemangat saat mengajar di depan adik-adik sekolah dasar, yang kemudian membuat kamipun (relawan penyelenggara) menjadi lebih bersemangat menyiapkan briefing dan refleksi bagi teman-teman relawan.

Yang penting adalah mengajarnya, bukan sarananya. “Kita mungkin sudah lupa, apakah dulu kita belajar pakai kapur atau spidol, black board atau white board. Yang selalu kita ingat adalah siapa yg mengajar kita” ucap Pak Anies.

Kembali ke bulan Maret lalu, satu hal yang sempat membuat saya kesulitan saat harus menarik kesimpulan dari hasil diskusi di refleksi Kelas Inspirasi Makassar adalah ketika harus menyimpulkan hasil identifikasi teman-teman relawan. Saya khawatir jika kemudian kelas inspirasi lah yang diminta untuk menyelesaikan masalah-masalah yang diidentifikasi tersebut. Duh, mengapa harus identifikasi masalah yah? Bukan identifikasi potensi?

Seperti kata Pak Anies di siang ini “Kita-kita ini, sering berharap orang lain yang menyelesaikan masalah yang kita identifikasi”. Mungkinkah kita yang menyelesaikan masalah yang kita identifikasi sendiri? Jawabnya ada pada masing-masing teman.

Repot Itu Baik

Sumpah! Tak bosan mendengar tutur tokoh inspiratifku ini. Meski sesekali kami menjawab pertanyaan beliau atau bercerita pengalaman gerakan teman-teman di Makassar, tapi kami lebih memilih mendengar beliau bertutur.

Seorang  teman Penyala, Dimas, menyampaikan ke beliau tentang pengalaman mengantarkan buku ke lokasi Pengajar Muda di Majene. Beliau kemudian menimpali dengan berbagi pengalaman seorang pelajar Indonesia di London yang ingin mengirimkan buku untuk anak-anak di lokasi terpencil.

Pelajar tersebut menghubungi Indonesia Mengajar untuk membantunya mengirimkan buku-buku yang akan ia sumbangkan. Tapi Indonesia mengajar tidak bisa membantu untuk mengirimkan buku itu. Ia hanya dibantu untuk dihubungkan dengan guru di sebuah desa.

“Mereka kita ajak repot. Dia yang berkomunikasi dengan guru di Indonesia, dia pula yang mengirimkannya sendiri. Repot kan? Sama seperti teman-teman yang repot-repot mengirim buku ke Majene” ucap Pak Anies.

“Repot-repot itu baik, jadi harus didorong repot-repot itu, jangan mau yang gampang aja” Pak Anies menegaskan disusul anggukan teman-teman.

Relawan itu Bukan Pekerjaan

Pak Anies menyambung ucapannya “ Ketika teman-teman repot-repot, orang di sana yang melihat, akan berkata, org itu tidak punya kerjaan lain kah? Sampai pada bawa buku kesini?”.

Kemudian beliau tiba-tiba bertanya ke Mbak Jowvy “anda bekerja dimana?” kemudian bertanya ke saya pula “kalau anda bekerja dimana?”.  Usai kami berdua menjawab, beliau lalu berkata “Nah, kita semua memiliki profesi, kita bekerja, tapi kita adalah relawan”.

Kembali, Pak Anies bercerita pengalaman seorang direktur yang menjadi relawan kelas inspirasi. Ketika sang direktur yang berperan sebagai relawan tersebut mengajak seseorang untuk ikut turun tangan, Sang direktur diminta oleh untuk ke kantor orang yang ia ajak tersebut.

Tatkala tukaran kartu nama, orang yang diajak tersebut spontan bertanya “Indonesi a Mengajarnya mana?”. Dan lebih kaget lagi ketika mengetahui bahwa yang dihadapannya adalah seorang direktur. Orang itu mengira bahwa sang direktur bekerja untuk mengajak orang-orang jadi relawan untuk Indonesia Mengajar.

“Kita adalah relawan, tapi pekerjaan kita bukan relawan, kita punya pekerjaan sendiri” beliau menutup cerita tentang sang direktur.

Jaga Stamina

Satu hal yang dipesankan oleh Pak Anies di silaturrahmi beliau bersama teman-teman relawan KI dan Penyala Makassar adalah bahwa kita semua harus jaga stamina. “Jaga staminanya dengan cara kita sering kumpul-kumpul. Karena kita akan bisa bergerak jika bersama”. Stamina yang dimaksud tentunya stamina kerelawanan dan ketulusan kita.

Saya lupa, di bagian mana beliau berucap tentang bekerja di pelosok, yang masih tertangkap di memeori saya adalah ketika beliau menyatakan bahwa ada yang pernah bertanya ke beliau, mengapa harus membantu yang jauh, sementara ada yang dekat untuk dibantu.

Beliau lalu menjawab “Jarak kita ke Indonesia semua sama. Dimanapun tempatnya. Tidaklah adil jika menghitung jarak dari kita berdiri ke tempat lain di sana”

Buku Makassar Menyala

Pak Mahmud Ghaznawie, Dekan Fakultas Kedokteran Unismuh mendekati kami dan mengangguk tersenyum, seolah beri kode bahwa sudah waktunya beliau meminta Pak Anies bergabung di acara mereka.

Jam sudah menunjukkan pukul 14.05 Wita. Pak Anies harus beranjak dari kami. Buku Makassar Menyala kami sodorkan ke beliau. Tanya dari beliau kemudian terlontar “Ada penulisnya hadir di sini? Tolong tandatangani”. Wuiih senangnya bisa beri ole-ole buku sederhana dengan tandatangan kepada orang yang menjadi inspirator bagi kami semua.

Kami mengantongi dua tawaran menarik dari beliau, ikut di festival Indonesia Mengajar di Oktober nanti dan menyelenggarakan Kelas Inspirasi Makassar di September, dan beliau akan hadir saat briefing. Hayo, mau menerima tawaran beliau?

Satu jam yang menyuntikkan energi luar biasa bagi kami, telah usai. Terima kasih atas kesediaannya bersilaturrahmi dengan kami.

Yang takkan lepas dari kepalaku adalah pernyataan beliau “Ingat teman-teman, kita sedang merancang masa depan, pendidikan adalah alatnya, bukan tujuan akhirnya”.

Sebuah pesan singkat di handphone saya terima dari beliau di malam hari, saat beliau landing di Jakarta, Let’s get it rolls bigger, stronger and wider for our nation.

Salam Inspirasi!

Bersama Pak Anies Baswedan

Bersama Pak Anies Baswedan

Pak Anies bersama Relawan Kelas Inspirasi dan Penyala Makassar

Pak Anies bersama Relawan Kelas Inspirasi dan Penyala Makassar

Blogger Pemula di Ajang Festival Jurnalis Warga 2013

Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu ketujuh.

Seandainya saya tidak ngeblog, maka saya tidak akan duduk di sini selama 2 hari (23-24 Mei 2013). Di Gedung Iptek Unhas, bersama 200 orang lainnya yang sedang mengikuti Festival Jurnalis Warga, dengan tema “Gaungkan Suara Kita”.

Kegiatan super keren ini, diinisiasi oleh program KINERJA-USAID dan Jurnal Celebes, bekerjasama dengan berbagai pihak, dengan tujuan untuk saling share antar sesama Jurnalis warga, Blogger dan para Jurnalis media meanstream profesional, bagaimana jurnalisme warga bisa mendorong peningkatan layanan publik.

Saya bukan berasal dari KINERJA-USAID, bukan pula seorang jurnalis warga, apalagi seorang wartawan. Saya hanyalah seorang blogger pemula. Lalu mengapa saya bisa hadir di sini?

Tanggal 16 Mei 2013, di tengah-tengah meeting revisi budget bersama teman-teman fasilitator di kantor UNICEF,  HP saya bergetar. Karena bukan giliran untuk memaparkan hasil revisi, maka dengan sigap, saya mencuri kesempatan untuk membuka HP. Sebuah email dari mbak Sherly, staff Bursa Pertukaran Pengetahuan Kawasan Timur Indonesia (BaKTI) kuterima.

Membaca subyek emailnya, Undangan. Jari dan mata saya spontan berkolaborasi lincah, mencuri waktu sambil memasang ekspresi wajah seolah tetap fokus pada meeting. Untunglah, isinya suratnya tidak panjang, bisa dilahap dalam semenit.

Seketika hatiku melonjak-lonjak. Jam makan siang terasa lama sekali. Ingin cepat-cepat mengunduh dan mengirim kembali form yang menjadi lampiran undangan ini. Ya, saya diundang sebagai sahabat BakTI, untuk ikut Festival Jurnalisme Warga.

Jika melihat tujuan email itu, hanya 10 orang yang diundang untuk mengikuti festival. 10 orang tersebut terdiri atas staff dan sahabat BaKTI. Lagi-lagi saya beruntung,  dari ratusan orang sahabat BaKTI, saya yang terpilih. Padahal saya bukan jurnalis warga. Berbeda dengan Denassa, seorang sahabat BaKTI yang juga turut diundang. Denassa adalah seorang jurnalis warga selama beberapa tahun.

Tanpa bertanya ke BaKTI, saya coba menebak-nebak sendiri, dengan tingkat keyakinan 90%. Tebakan saya, dua tulisan singkat, hasil belajar menulis saya di blog yang ada hubungannya dengan kegiatan BaKTI, sepertinya menjadi pertimbangan BakTI memilih saya untuk diundang pada festival tersebut.

Wakil Rektor IV Unhas

Wakil Rektor IV Unhas

Dan tereeeeet…inilah saya. Tertawa lepas bersama peserta lain, saat mendengar presentasi Mas Pepih Nugraha (Kompasiana) tentang jurnalis investigasi. Ngangguk-ngangguk dengar celoteh Mas Budi Putera (CEO the Jakarta Post Digital) tentang bagaimana dia yang mundur jadi wartawan di sebuah media nasional dan memilih jadi blogger, mengelola Yahoo Indonesia, hingga menjadi CEO sekarang ini. Tersenyum salut melihat seorang perempuan cerdas dan cantik, yang tak lain adalah wakil Bupati Luwu Utara, memprotes salah satu dari slide presentasinya mas Pepih. Dan termangu mendengar cerita mbak Dina dari BBC Indonesia.

Mas Pepih & Jurnalisme Investigasi-nya

Mas Pepih & Jurnalisme Investigasi-nya

Bukan itu saja, saya berkenalan dengan banyak Jurnalis-jurnalis warga dari kabupaten lain di SulSel, dari Aceh, Papua dan Jurnalis Warga yang masih pelajar, yang banyak menulis tentang kesehatan reproduksi bagi remaja. Mereka semua memulai menulis dengan menjadi blogger.

Sayangnya, hal naas telah menimpa saya di festival tersebut. Hodie bag yang berisi CD, Kaos, dan catatan ku tentang proses festival di hari pertama, diminati oleh seseorang yang tak dikenal, sehingga dia membawanya pergi tanpa sepengatahuanku. Buku catatan itu adalah modalku untuk menulis di blog ini, tentang apa saja pembelajaran yang kuperoleh di sana. Hiks.

Apakah kelak saya bakal jadi Jurnalis Warga juga? Atau Pewarta Warga? Atau jadi Blogger? Yang pasti, saya mendapat kehormatan hadir di festival tersebut dan bertemu orang-orang yang inspiratif, karena saya telah memulai ngeblog.

Jurnalis Warga dari kalangan Pelajar. Diah Ayu Anggreini

Jurnalis Warga dari kalangan Pelajar. Diah Ayu Anggreini

20130523_121909

Perempuan 70 thn itu adalah Pembina Pramuka UNM

Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu ketiga.

Di awal-awal persiapan Kelas Inspirasi Makassar, sebuah gerakan yang saya ikut bergabung di dalamnya sebagai relawan, seorang adik Penyala mengirim pesan singkat ke saya. Bagaimana caranya supaya tetap fit, seperti Kakak? Saya baru 3 hari mengurus KI, selalu tepar jika sudah sampai di rumah.

Kejadian tersebut terulang lagi di minggu berikutnya, saat saya bersama seorang Penyala lain yang bernama Wiyah, mendampingi relawan pengajar. Wiyah bertanya ke saya “minum apa, supaya bisa kuat seperti  Kakak? Bisa naik motor kesana kemari, tanpa terlihat lelah”. Glek. Tanpa terlihat lelah?

Saya sama sekali tak menyangka jika saya terlihat selalu fit dan tak lelah. Padahal jika saya sudah tiba di rumah setelah seharian di luar, saya merasakan lelah yang luar biasa. Hingga kemudian saya menjawab pada diri saya sendiri, bahwa mungkin karena saya selalu bersemangat, sehingga rasa lelah itu tak terlukis di wajah saya saat bertemu orang.

Semangat Seorang Pramuka

Semangat yang besar setiap melakukan sebuah aktivitas, sebenarnya tidak datang begitu saja. Seorang perempuan yang berusia 70 tahun telah menginspirasi saya selama bertahun-tahun. Yah, saya mencontek semangatnya yang selalu membara. Beliau adalah pembina Pramuka Gudep Puteri UNM. Silahkan membayangkan, bagaimana beliau yang berumur 70 tahun diantara para Mahasiswa  yang ikut kegiatan Pramuka. Setiap mendengar kata Pramuka, maka saya membayangkan gerakan yang enerjik dan disiplin yang tinggi.

Sejak dulu, para Mahasiswa sering bertandang ke rumahnya dan berdiskusi panjang dengan beliau. Tentu saja masih tetap tentang Pramuka. Tetapi selain aktif sebagai Pembina, beliau juga aktif ikut di kegiatan majelis Taklim dan arisan-arisan.

 

Pemotongan Kue Ultah Pramuka UNM thn 2012 oleh Bunda Supiah (sumber: http://scoutnewspramukaunm.blogspot.com)

Sedekah dan Zakat itu Berbeda

Bukan hanya semangat dan motivasi tingginya yang menginspirasi saya. Hal lain yang membuat saya sangat terinspirasi adalah kebiasaan sedekahnya. Jika banyak orang terinspirasi dengan mukjizat sedekah-nya Yusuf Mansyur, maka saya terinspirasi dengan beliau. Beliau selalu berpesan ke saya untuk tidak selalu mengurungkan niat tuk bersedekah hanya karena mencurigai orang.

Saya diminta membuang jauh-jauh pikiran negatif ketika melihat orang meminta-minta di jalan, atau datang membawa selembar kertas di depan pagar rumah. Menurut beliau, meskipun orang-orang tersebut menipu atau terorganisir atau terkesan malas, akan tetapi pastilah mereka orang tidak mampu. Beliau jugalah yang mengingatkan kepada saya, betapa ada perbedaan yang nyata antara zakat penghasilan dan sedekah.

Menurut beliau, terkadang ada orang yang sudah merasa cukup dengan mengeluarkan zakat harta, zakat penghasilan. Padahal menurut beliau, itu belum termasuk kategori berbaik hati, karena zakat itu wajib alias mau tidak mau harus dikeluarkan. Jika ingin berbaik hati ke orang lain, maka keluarkan sedekah selain zakat. Beliau mengibaratkan zakat itu adalah sholat wajib 5 waktu, dan sedekah itu ibarat sholat Tahajjud dan sholat sunnat lainnya.

Tidak Percaya Tahyul

Nenek dengan tiga cucu ini, meski sudah berumur 70 tahun, tapi sama sekali tidak percaya tahyul dan amat menghindari adat kebiasaan yang terkesan ritual agama, tapi nyerempet syirik. Meski tidak ditanya, beliau akan selalu berkicau mengingatkan anak-anaknya untuk berhati-hati dalam melaksanakan suatu hal. “Awas syirik” begitu pesannya.

Tidak Tergantung Kepada Orang Lain  

Karena seorang Pramuka, beliau sepertinya memegang teguh prinsip untuk tidak bergantung kepada orang lain. Jika ingin bepergian, beliau tidak akan memesan khusus untuk diantar oleh anak-anaknya dan memilih naik angkutan umum. Beliau hanya akan meminta diantar jika kebetulan anaknya  sedang ada rencana keluar rumah juga dan kebetulan melalui jalur yang akan beliau lalui.

Jika ditawari untuk menunggu beberapa saat agar bisa diantar, beliau akan menolak jika anaknya harus menempuh jarak jauh dan berlawanan dengan arah tujuan anaknya. Alasannya, terlalu repot jika harus sengaja menempuh jarak jauh mengantarnya, sementara beliau bisa bepergian dengan duduk manis di dalam Pete-pete. Praktis nenek satu ini, tak pernah merepotkan anak-anaknya.

Tukang becak yang mangkal dekat rumah beliau, amat senang jika bisa mengantar beliau. Soalnya, meski sempat menawar saat mau menggunakan jasa tukang becak, beliau tetap saja membayar lebih jika sudah turun. “Dilebihkan sebagai  sedekah” kata beliau.  Kadang juga, tukang becak tersebut tiba-tiba diberikan beras, baju bekas atau uang, meski beliau tidak sedang menggunakan jasanya.

Jasa Kredit

Hal lain yang patut saya contohi adalah beliau juga tidak tergantung secara finansial kepada orang lain. Amat sangat menghindari berutang kepada orang lain karena prinsipnya adalah orang kaya adalah orang yang tidak punya hutang. Berutang hanya ketika benar-benar mendesak dan secepat mungkin dibayar kembali.

Karena jarang berhutang, maka beliau menjadi tempat  meminjam uang bagi anak-anaknya yang sudah berkeluarga. Asyiknya berhutang ke beliau adalah jangka waktu pengembalian tidak terhingga, tanpa bunga dan kadang diputihkan, meski jumlahnya cukup besar.

Selain anak-anaknya, para adik sepupu beliau pun sering menjadikan beliau sebagai tempat meminjam uang dan tetap saja tanpa jangka waktu pengembalian tertentu , tanpa bunga dan kadang jika sudah kasihan, sebagain dari utang adik-adik sepupunya, diputihkan juga.

Di awal tahun 2013, nenek yang amat rajin membaca Al Quran dan jarang sakit ini, akhirnya mengundurkan diri sebagai Pembina Pramuka di UNM melalui sebuah musyawarah. Bukankah  begitu banyak orang-orang muda yang bisa menggantinya. Meski demikian, beliau tetap saja sibuk, sibuk ngaji, sibuk arisan, sibuk berkunjung ke rumah-rumah keluarganya dan sibuk mengajari  cucu-cucunya banyak hal.

Perempuan 70 tahun yang pernah menjadi pembina pramuka di UNM (dulu IKIP) sejak tahun 1978 hingga awal tahun ini, kupanggil IBU.

Ibuku dan Ketiga Cucunya

Ibuku dan Ketiga Cucunya

Geng Motor iMuT tuk Indonesia

Mendengar kata “Geng Motor”, mengingatkan saya pada sekelompok laki-laki dengan jenis motor tertentu berkonvoi keliling kota di malam hari. Kesalahan saya adalah karena tak pernah cari tahu apa tujuan mereka melakukan itu dan memilih untuk menebak sendiri. Pasti tuk pamer atau memicu orang lain tuk gabung, itu yang ada di kepala saya.

Sempat beberapa kali mendengar bahwa ada geng motor yang melakukan kegiatan bakti sosial ke masyarakat atau membuat perayaan yang bersifat terbuka tuk umum, namun menurut saya, kegiatan mereka jarang yang memiliki dampak jangka panjang dan cenderung temporary serta hasilnya tak terukur. Hal ini berbeda dengan apa yang dilakukan oleh sebuah geng motor yang menamakan diri mereka dengan sebutan Geng Motor iMuT. Siapakah mereka dan apa yang telah mereka lakukan?

Sebuah email undangan diskusi inspirasi dari BaKTI tentang Insiatif Geng Motor iMuT, mendorong  saya berkendara di malam hari dalam hujan yang deras. Biasanya, saya akan menolak hadir pada event yang dilakukan pada malam hari.

Ah, inilah akibat sibuk dengan pekerjaan dan sibuk dengan diri sendiri. Geng Motor iMuT yang rupanya sudah menerima beberapa penghargaan di sana sini ini, sama sekali tak pernah saya dengar sebelumnya.

Dengan alasan itu pula lah, saya memaksakan diri untuk duduk bersama undangan lain di malam 19 April 2013 yang dingin karena hujan deras yang belum berhenti sejak siang tadi. Sempat bingung saat registrasi di security, saya ini mewakili Kelas Inspirasi Makassar atau mewakili WASH UNICEF.

Seperti biasanya, jika acara belum mulai, mata saya akan menjelajah kemana-mana untuk menikmati ruangan. Salut tuk BaKTI yang telah menyulap ruangan ini menjadi berbeda. Panggung dengan property sederhana yang dibalut kertas koran bekas,  kurungan ayam yang berbungkus kertas putih dan burung-burung kertas yang juga berwarna putih, membuatnya tidak biasa. Sebuah motor yang juga dibalut kertas koran dan dihiasi balon gas, yang berada di sebelah kanan panggung, serta lampu sorot yang ditempatkan di atas pintu masuk, membuat saya menebak bahwa diskusi kali ini pasti asyik.

Mentang-mentang ngomong tentang Geng Motor, Kak Luna Vidya yang menjadi MC malam ini, muncul dengan gaya funky. Pamer jaket kulit, kacamata, ikat di kepala, dia membuka acara dengan gaya yang santai. “Liat dong sepatu saya” kata Kak Luna sambil menunjukkan sepatunya. Membahas Geng Motor dengan MC yang funky.

MC Funky, gaya anak geng motor

MC Funky, gaya anak geng motor

Ini dia segmen yang saya suka, penampilan pembuka diskusi oleh Rizcky de  Keizer, bassist Makassar yang band-nya berhasil menjadi band pembuka pada konser NOAH. Rizcky tampil dengan lagu Anak Jalanan-nya. Keren!.

Rizcky de Keizer

Rizcky de Keizer

Noverius Nggili, koordinator Geng Motor iMuT adalah narasumber pada diskusi inspirasi malam ini. Pria dengan potongan rambut pendek dan berjanggut ini, bercerita bagaimana Geng motor iMuT bertualang ke desa-desa untuk berbagi ilmu.

Geng Motor  iMuT yang merupakan kelompok alumni muda dari fakultas Peternakan Universitas Nusa Cendana NTT ini, awalnya hanyalah kelompok diskusi. Mereka berkelana ke desa-desa dan menemukan kenyataan bahwa kondisi peternak dan petani di desa masih jauh dari sejahtera.

Dengan keyakinan yang berjudul agama appreciative Inquiry, mereka terdorong untuk mewujudkan hasil dari diskusi-diskusi panjang mereka, dengan bertumpu pada kekuatan yang ada. “modal uang bukanlah kendala bagi kami. Kami berangkat dengan dasar kekuatan dari kami, bukan dari masalah yang ada” demikian penegasan Bung Frist, panggilan akrab Noverius.

Bung Frist, koordinator Geng Motor iMuT yang tidak imut

Bung Frist, koordinator Geng Motor iMuT yang tidak imut

Di awal mereka hanya urus ternak, dengan melakukan pengolahan limbah ternak, yang kemudian menghasilkan Digester Portable Biogas. Teknologi biogas ini sebenarnya telah banyak dikenal orang, namun masih kurang dikembangkan. Melalui bengkel inovasi iMuT, mereka menciptakan Digester Portable Biogas dari bahan sederhana yang memanfaatkan bahan yang ada, yaitu drum dan ban dalam bekas.

Geng Motor iMuT juga berhasil menciptakan kompor sederhana sebagai komponen dari Digester Portable Biogas mereka. Kompor ini kemudian dinamakan dengan DePoBiMuT S-001 dan DePoBimuT-S-002. “Setiap inovasi baru yang kami lakukan, kami beri nama berbeda. Gunanya untuk mengingatkan dan menandai perbedaan dari produk-produk inovasi kami” kata Bung Frits.

Selain menghasilkan 25 unit digester portable biogas yang telah dipasang dan aktif digunakan pada 25 kabupaten dan 1 kota, Geng iMuT juga membuat desalinator untuk membantu masyarakat di pesisir, guna memperoleh air tawar dengan sistem penguapan air asin. Desalinator ini setiap harinya mampu menghasilkan 4 liter air tawar dari 70 liter air asin. Produk lain yang saat ini sedang diupayakan bersama masyarakat adalah pembuatan briket arang.

Hadir sebagai geng yang kini telah mengantongi penghargaan dimana-mana atas inovasinya bersama masyarakat, antara lain masuk ke dalam 50 tokoh pemecah kebuntuan Indoensia versi majalah Intisari, penghargaan sebagai Pahlawan Tuk Indonesia dari MNC TV dan lain-lain, Bung Frits mengaku tak pernah memiliki tujuan awal tuk memperoleh penghargaan tersebut. Semuanya diawali dengan tekad tuk saling berbagi ilmu. “Berbagi Ilmu sebelum Ajal” Ucap Bung Frits.

Menurut Bung Frist, komunitas Geng Motor iMuT adalah komunitas yang informal. Mereka menghindari hal-hal yang berbau formal dan ikut aturan birokrasi. Hal inilah yang menjadi kunci hingga geng motor tetap eksis dengan inovasi-inovasinya hingga kini.

Dengan pembagian tugas dan penamaan yang unik, mereka membagi-bagi divisi mereka dengan Rider Kandang dan Pucuk, Rider Inova, Rider Corond dan Prend, Rider Lapak, Rider Spionase, dan Rider Celengan.  Hal menarik lainnya adalah setiap tempat yang mereka kunjungi, harus dimulai dari visioning dan pelatihan-pelatihan peningkatan kapasitas.

Jika diawal mereka hanya terdiri atas alumni muda fakultas peternakan, maka kini tercatat 100 orang volunteer yang bergabung dalam komunitas Geng Motor iMuT, yang juga memiliki 700an konektor, 1 bengkel kayu dan 2 bengkel las. Mereka pun telah melakukan 58 petualangan di 37 Desa/Kel, 31 Kecamatan, 9 Kab/Kota, 10 Pulau di Propinsi NTT. Tak hanya di NTT, geng ini pun telah bertualang hingga ke 4 propinsi lain, dengan jumlah pemanfaat seluruhnya adalah 36.000 warga.

Pada tgl. 23-24 Februari 2013, Geng ini melakukan revisioning komunitas mereka dan dengan pertimbangan bahwa saat ini mereka telah berasal dari berbagai latar belakang serta tidak sekedar mengurusi ternak saja, maka mereka sepakat untuk mengganti nama Geng Motor iMuT yang dulunya adalah Aliansi Masyarakat Peduli Ternak menjadi Inovasi Mobilisasi Untuk Transformasi.

Presentasi Bung Frits tentang inisiatif Geng Motor iMuT diakhiri dengan tanya jawab peserta diskusi. Dan diskusi insiatif BaKTI malam ini pun ditutup dengan penampilan yang selalu apik dan interaktif dari Rizkcy de keizer dengan lagu The Way You Are-nya Bruno Mars dan Bento-nya Iwan Fals.

Peserta Diskusi Inspirasi BaKTI

Peserta Diskusi Inspirasi BaKTI

Next Newer Entries