Haruskah siswi madrasah berjilbab?

Seorang siswi sedang mengerjakan tugas

Seorang siswi sedang mengerjakan tugas

Sumpah! belum juga tiba di sana, saya sudah membayangkan akan bertemu siswi-siswi berjilbab dengan wajah lugu. Tapi saya tak menemui satu orangpun yang berjjilbab, kecuali guru-gurunya. Bukankah ini madrasah?

Harus melalui sebuah punggung tanggul penahan sisi muara sungai di Paotere, untuk berkunjung ke madrasah tersebut. Meski Sultan, teman relawan, menyatakan sudah melapor ke kepala madrasah, tapi saya berupaya menahan diri untuk tidak masuk, sebelum siswa-siswa Sekolah Alam Bosowa tiba di lokasi. Ssst, alasan lainnya adalah karena saya melihat Dede dari kejauhan, -bacaselanjutnya

Advertisements

Kemanakah Guru Akan Curhat?

“Kami, guru, tidak selamanya bisa mengajar dengan tenang. Senantiasa begini-begini, “ demikian curhat Wali kelas IV, sambil kelima jarinya dikuncupkan, lalu dibuka, lalu dikucupkan dan dibuka lagi, berulang-ulang. Isyarat bahwa beliau senantiasa was-was.

Tak pernah berencana sebelumnya akan hadir di SDN Sungguminasa IV pada sabtu, 18 Oktober 2014 ini. Namun karena butuh seseorang untuk membawa beberapa perlengkapan stand Warung Sosial ke monumen Mandala, maka Relawan terdekat yang bisa dimintai tolong adalah Tim C dan D. Kebetulan mereka sedang mendampingi Nulis Bareng Sobat di sekolah yang jaraknya Cuma 500an meter dari rumah.

Aturan di kelas, guru ataupun Relawan yang bertindak sebagai pendamping, tidak boleh memakai sendal. Saya pun meminta salah seorang teman Relawan, Atifah, untuk mengambil perlengkapan di halaman sekolah, tempat motor saya di parkir.

Afli, seorang Relawan lain, ikut keluar kelas, karena saya menjanjikan sebuah gelang karet kepadanya. Hari ini ada 6 atau 7 orang Relawan yang sedang bertugas (Saya lupa jumlah tepatnya karena hanya melihat sekilas ke arah dalam kelas).

Saya terburu-buru pulang, tatkala Wali Kelas IV yang berdiri di depan pintu ruang Kepala Sekolah, melambaikan tangan ke arah Atifah. Dipanggil Ibu Kepala Sekolah, ujar beliau ke Atifah.

Terlihat agak ragu, Atifah yang berjalan menuju ruang Kepsek, membalikkan badan dan melambaikan tangan mengajak saya ikut. Karena terburu-buru, saya meminta Afli, yang berdiri dekat saya, untuk menemani Atifah bertemu ibu Kepsek.

Namun beberapa detik kemudian, Atifah kembali memanggil saya. Sepertinya saya sudah harus menemui ibu Kepsek, batin saya.

Saya menahan diri untuk tidak masuk ke ruangan tersebut, dan hanya berdiri di depan pintu sambil berusaha menunjukkan ekspresi siap mendengar penuturan ibu Kepsek. Hmm.. kenapa juga saya pake sendal ke sini. Jadi tidak enak hati.

Saya kemarin dipanggil oleh Bapak Sekretaris Dinas, itupun setelah harus kesana kemari, Ibu Kepsek membuka pembicaraan.

Awalnya saya diinformasikan bahwa saya dipanggil ke UPTD, lalu orang di UPTD menyatakan bahwa saya justru dipanggil oleh Kepegawaian di Dinas (Dinas Pendidikan), tapi ternyata bukan Kepegawaian yang memanggil, melainkan Pak Sekretaris Dinas, Ibu Kepsek melanjutkan.

Menit berikutnya, ibu Kepsek bercerita bagaimana Sekretaris Dinas Pendidikan banyak bertanya tentang kegiatan Nulis Bareng Sobat, yang ternyata sudah dimulai di minggu lalu, sebelum surat ijin dari Dinas keluar untuk LemINA.

Sekretaris Dinas rupanya menaruh curiga, atau lebih halusnya, waspada dengan kegiatan Nulis Bareng Sobat. Pertanyaan-pertanyaan umum, seperti apakah menggangu jam belajar, apakah ada pungutan ke siswa, apa manfaatnya bagi siswa, apa yang ditulis, dilontarkan kepada ibu Kepsek.

Untunglah ibu Kepsek dapat menjawab cerdas. Khususnya menginformasikan kepada Bapak Sekretaris Dinas bahwa kegiatan tersebut telah berlangsung sejak semester lalu dan dampaknya sudah kelihatan, meski belum signifikan untuk semua siswa.

Wali Kelas IV yang ikut mengobrol dengan kami, menambahkan pula bahwa siswa kelas V sekarang, yang semester lalu masih duduk di kelas IV dan mengikuti kelas Nulis Bareng Sobat, masih menuntut ingin belajar menulis. Beberapa dari mereka kadang ikut masuk ke kelas IV secara diam-diam untuk ikut kelas menulis, meski sudah dilarang dan diminta kembali ke kelasnya.

Pembicaraan yang awalnya tentang ijin dari Dinas, beralih menjadi curhat Kepsek dan Wali Kelas. Kepsek meminta kami untuk bisa memahami proses birokrasi di Dinas yang terkadang terkesan menghambat. Beliau bercerita bagaimana ia sering dipanggil ke Dinas karena laporan-laporan dari pihak lain atau justru dari orangtua siswa, yang tidak memahami persoalan dan malas untuk mengkomunikasikannya dengan Kepsek sebelum melapor ke Dinas.

IMG-20141002-WA0000

“Padahal saya hampir setiap saat, ada di kantor dan bisa ditemui untuk diskusi, jika ada yang punya keluhan, baik orangtua, komite maupun pihak luar. Mereka lebih suka berprasangka dan melaporkan saya, sebelum tahu fakta di balik kebijakan yang kami ambil di sekolah,” Ibu Kepsek menjelaskan dengan ekspresi kecewa.

Sabtu itu, menurut Kepsek, di saat proses belajar berlangsung di kelas, Kepsek di ruang lain sedang memimpin Rapat Komite Sekolah. Di Rapat tersebut beliau menjelaskan kepada komite sekolah yang terdiri atas orang tua siswa, agar tidak khawatir dengan adanya program Nulis Bareng Sobat di kelas IV. Selain tidak mengganggu proses belajar di kelas, karena menyesuaikan dengan jadwal dan telah didiskusikan dengan wali kelas, juga dijamin tidak akan ada pungutan untuk kegiatan tersebut.

Selama ini, Kepsek berharap bahwa Dinas dan Komite sekolah bisa menjadi wadah baginya untuk menyampaikan dan mendapat solusi atas keluhan-keluhannya. Namun kenyataannya, justru lebih sering beliau bingung, mau mengeluh ke siapa.

Baru-baru ini, beliau ditegur lagi oleh Dinas karena laporan orangtua siswa atas kejadian yang sudah setahun lalu terjadinya. Persoalannya tentang pembelian air isi ulang untuk dispenser di kelas.

Siswa-siswa di kelas berinisiatif dan sepakat untuk mengumpulkan uang jajan mereka di hari itu, agar bisa membeli air isi ulang seharga sekitar 3000-4000 rupiah, karena dispenser belum diisi oleh sekolah. Inisiatif murni dari siswa tersebut, rupanya ditanggapi dengan kecurigaan oleh salah seorang orang tua siswa.

Untuk menghindari munculnya lagi masalah yang sama, akhirnya dispenser dikeluarkan dari kelas. Siswa tak lagi bisa minum air dalam kelas.

Wali kelas punya kisah lain lagi. Menurutnya, anak-anak sebaiknya belajar tidak terbatas dengan buku pegangan saja. Suatu ketika, ada bahan bacaan baru yang dibawa nya ke kelas, yang berupa beberapa lembaran.

Dengan harapan siswanya bisa mengetahui tentang bahan tersebut, Wali Kelas pun menawarkan kepada siswanya untuk menggandakan sendiri dengan jalan foto copy. Biayanya mungkin hanya 500 rupiah, tapi karena ada siswa yang menyampaikan ke orangtuanya bahwa uang jajannya digunakan untuk fotocopy, maka orang tua yang tidak memahami hal tersebut, serta merta protes keras dan menuduh guru melakukan pungutan uang.

Saya hanya bisa mengangguk-angguk mendengar penuturan kedua pejuang Pendidikan di depan saya. Sepatutnya, ada aturan yang jelas tentang batasan pungutan di sekolah. Jika pun sudah ada, mungkin sebaiknya disosialisasikan ke semua pihak, agar menghindarkan kesalahpahaman.

Hanya sekitar 7 menit ngobrol dengan Kepsek dan Wali Kelas, sudah banyak keluhan yang terdengar dari keduanya. Impian beliau berdua untuk memajukan siswa-siswanya, tidak selamanya didukung oleh pihak-pihak yang justru diharapkan bisa membantu mereka.

“Selalu saja kami, guru dan sekolah, yang disalahkan,” demikian kalimat terakhir yang kudengar, sebelum buru-buru berpamitan.