Subsidi Vs Pemicuan

Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu keenam.

Meski banyak menemui dua sisi berbeda dalam kehidupan sehari-hari, namun lumayan tidak mudah untuk menentukan mau menuliskan apa. Sepertinya hal yang terdekat saat ini adalah tentang apa yang saya lakukan dalam pekerjaan saya sehari-hari.

Dengan latar belakang pendidikan teknik sipil, sebagian teman agak heran jika mendengar bahwa saya bekerja dalam bidang yang berhubungan dengan sanitasi. “kayak orang kesehatan masyarakat saja” begitu kata teman saya yang memilih serius menggeluti proyek-proyek teknik sipil.

Namun, bukan dua sisi berbeda itu yang akan saya bahas, karena menurut saya, masih tetap ada hubungannya antara teknik sipil dan sanitasi. Bukankah bicara sanitasi berarti bicara tentang sarana atau bangunan sanitasi?

Ketergantungan Pada Subsidi Sanitasi

Seperti kita ketahui bahwa di dekade akhir ini, banyak proyek atau program ke masyarakat yang memicu capaian peningkatan kesehatan masyarakat. Hal paling utama yang ramai disentuh oleh proyek dalam bidang sanitasi adalah pemenuhan sanitasi dasar berupa jamban. Baik jamban keluarga maupun MCK.

Tahun 2015 semakin dekat dan Indonesia harus mengejar angka target akses sanitasi Millenium Development Goals (MDGs). Namun hal tersebut kemudian membuat saya resah dengan dua pendekatan yang amat berbeda di jaman dulu dan sekarang.

Awalnya, sebelum kesepakatan MDGs, dan sebelum ada pendekatan CLTS (Community Led Total Sanitation), pemenuhan sanitasi dasar masyarakat berupa proyek subsidi dari pemerintah. Baik melalui Dinas Pekerjaan Umum maupun Dinas Kesehatan. Subsidi pemerintah dengan pendekatan bagi-bagi jambannya tersebut, ternyata berimbas hingga kini dan sedikit membuat saya dan teman-teman putar otak untuk mencari cara lain untuk menghapus mengurangi dampak dari pendekatan lalu itu.

Menurut saya, proyek atau program apapun yang pernah ada dan berlanjut hingga sekarang, membuat  masyarakat kita mulai memiliki ketergantungan pada subsidi. Meski ada sebagian teman berdalih bahwa masyarakat tetap berswadaya, namun swadayanya amat kecil dan terkesan hanya di atas kertas atau sekedar untuk memenuhi syarat agar bantuan yang lebih jauh lebih besar, bisa mereka peroleh.

Sekian tahun lamanya pemerintah menyalurkan subsidi jamban, tapi mengapa akses terhadap jamban masih rendah?.

Hasil diskusi dan observasi langsung di beberapa desa yang berada di beberapa kabupaten menunjukkan bahwa banyak MCK dan jamban keluarga yang dulu dibangun, tidak dimanfaatkan lagi. Bahkan ada sebuah proyek yang hanya membagi klosetnya saja beberapa tahun lalu, hingga kini belum dipasang dan hanya diletakkan di sudut halaman rumah. Saat ditanya, alasan mereka adalah menunggu bantuan berikutnya untuk memasangkan kloset tersebut menjadi sebuah jamban siap pakai. Untuk MCK-MCK yang rusak, merekapun masih menunggu ada program lain yang akan datang untuk memperbaikinya. Sambil menunggu subsidi, mereka kembali BAB sembarangan.

Pemicuan Sanitasi Di Tengah Ketergantungan Subsidi

Inilah saya, yang hadir di salah satu program yang bernama Sanitasi Total Berbasis Masyarakat, dimana prinsip program ini adalah tanpa subsidi, tanpa promosikan jamban serta masyarakat merupakan pemimpin. Sebuah program yang pendekatannya sangat berbeda dengan program-program sebelumnya.

Sebuah tantangan berat bagi saya untuk melakukan pemicuan bersama teman-teman kepada masyarakat yang sudah terbuai bertahun-tahun oleh subsidi. Saat memicu rasa jijik mereka, mereka akan berkata “wah..kotor sekali kampung kita, harus bangun jamban kalau begitu, adakah bantuan?”.

Ketika kami memicu harga diri mereka, mereka banyak yang berujar “segera bangun jamban, jadi kapan kami dibangunkan?”.

Saat kami memicu rasa takut akan dosa, mereka dengan pelan berkata “andai pemerintah tahu bahwa kami ini berdosa jika menyebarkan penyakit ke banyak orang karena BAB sembarangan, pasti pemerintah sudah buatkan jamban”.

Pemicuan yang harusnya menimbulkan rasa jijik masyarakat yang BAB sembarangan, menimbulkan rasa takut dosa dan mengusik harga diri mereka, justru berujung dengan harapan tinggi untuk segera mendapatkan bantuan. Padahal inti dari pemicuan adalah bagaimana setelah rasa tersebut timbul, mereka langsung memutuskan bahwa bangun jamban adalah hal prioritas. Lalu karena hal tersebut adalah prioritas, maka mereka akan bangun sendiri tanpa menunggu subsidi.

Demikianlah gambaran pemicuan di tengah-tengah masyarakat yang telah terbiasa dengan subsidi. Benarkah masyarakat kita telah berdaya?.

Masih teringat cerita nenek, bagaimana sebuah jembatan kayu dibangun sendiri oleh masyarakat, dengan bahan yang berasal dari masyarakat sendiri, tanpa menunggu pemerintah.

Bagaimana sebuah masjid bisa berdiri dengan dana dan tenaga dari masyarakat sendiri tanpa subsidi. Lalu mengapa untuk sebuah jamban, masyarakat susah bergotong royong di saat sekarang ini?

Pemicuan CLTS. Petakan rumah. Petakan kebiasaan BAB secara partisipatif.

Pemicuan CLTS. Petakan rumah. Petakan kebiasaan BAB secara partisipatif.

Pemicuan CLTS. Ayo susun diagram, bagaimana tinja bisa sampai ke mulut?

Pemicuan CLTS. Ayo susun diagram, bagaimana tinja bisa sampai ke mulut?

Geng Motor iMuT tuk Indonesia

Mendengar kata “Geng Motor”, mengingatkan saya pada sekelompok laki-laki dengan jenis motor tertentu berkonvoi keliling kota di malam hari. Kesalahan saya adalah karena tak pernah cari tahu apa tujuan mereka melakukan itu dan memilih untuk menebak sendiri. Pasti tuk pamer atau memicu orang lain tuk gabung, itu yang ada di kepala saya.

Sempat beberapa kali mendengar bahwa ada geng motor yang melakukan kegiatan bakti sosial ke masyarakat atau membuat perayaan yang bersifat terbuka tuk umum, namun menurut saya, kegiatan mereka jarang yang memiliki dampak jangka panjang dan cenderung temporary serta hasilnya tak terukur. Hal ini berbeda dengan apa yang dilakukan oleh sebuah geng motor yang menamakan diri mereka dengan sebutan Geng Motor iMuT. Siapakah mereka dan apa yang telah mereka lakukan?

Sebuah email undangan diskusi inspirasi dari BaKTI tentang Insiatif Geng Motor iMuT, mendorong  saya berkendara di malam hari dalam hujan yang deras. Biasanya, saya akan menolak hadir pada event yang dilakukan pada malam hari.

Ah, inilah akibat sibuk dengan pekerjaan dan sibuk dengan diri sendiri. Geng Motor iMuT yang rupanya sudah menerima beberapa penghargaan di sana sini ini, sama sekali tak pernah saya dengar sebelumnya.

Dengan alasan itu pula lah, saya memaksakan diri untuk duduk bersama undangan lain di malam 19 April 2013 yang dingin karena hujan deras yang belum berhenti sejak siang tadi. Sempat bingung saat registrasi di security, saya ini mewakili Kelas Inspirasi Makassar atau mewakili WASH UNICEF.

Seperti biasanya, jika acara belum mulai, mata saya akan menjelajah kemana-mana untuk menikmati ruangan. Salut tuk BaKTI yang telah menyulap ruangan ini menjadi berbeda. Panggung dengan property sederhana yang dibalut kertas koran bekas,  kurungan ayam yang berbungkus kertas putih dan burung-burung kertas yang juga berwarna putih, membuatnya tidak biasa. Sebuah motor yang juga dibalut kertas koran dan dihiasi balon gas, yang berada di sebelah kanan panggung, serta lampu sorot yang ditempatkan di atas pintu masuk, membuat saya menebak bahwa diskusi kali ini pasti asyik.

Mentang-mentang ngomong tentang Geng Motor, Kak Luna Vidya yang menjadi MC malam ini, muncul dengan gaya funky. Pamer jaket kulit, kacamata, ikat di kepala, dia membuka acara dengan gaya yang santai. “Liat dong sepatu saya” kata Kak Luna sambil menunjukkan sepatunya. Membahas Geng Motor dengan MC yang funky.

MC Funky, gaya anak geng motor

MC Funky, gaya anak geng motor

Ini dia segmen yang saya suka, penampilan pembuka diskusi oleh Rizcky de  Keizer, bassist Makassar yang band-nya berhasil menjadi band pembuka pada konser NOAH. Rizcky tampil dengan lagu Anak Jalanan-nya. Keren!.

Rizcky de Keizer

Rizcky de Keizer

Noverius Nggili, koordinator Geng Motor iMuT adalah narasumber pada diskusi inspirasi malam ini. Pria dengan potongan rambut pendek dan berjanggut ini, bercerita bagaimana Geng motor iMuT bertualang ke desa-desa untuk berbagi ilmu.

Geng Motor  iMuT yang merupakan kelompok alumni muda dari fakultas Peternakan Universitas Nusa Cendana NTT ini, awalnya hanyalah kelompok diskusi. Mereka berkelana ke desa-desa dan menemukan kenyataan bahwa kondisi peternak dan petani di desa masih jauh dari sejahtera.

Dengan keyakinan yang berjudul agama appreciative Inquiry, mereka terdorong untuk mewujudkan hasil dari diskusi-diskusi panjang mereka, dengan bertumpu pada kekuatan yang ada. “modal uang bukanlah kendala bagi kami. Kami berangkat dengan dasar kekuatan dari kami, bukan dari masalah yang ada” demikian penegasan Bung Frist, panggilan akrab Noverius.

Bung Frist, koordinator Geng Motor iMuT yang tidak imut

Bung Frist, koordinator Geng Motor iMuT yang tidak imut

Di awal mereka hanya urus ternak, dengan melakukan pengolahan limbah ternak, yang kemudian menghasilkan Digester Portable Biogas. Teknologi biogas ini sebenarnya telah banyak dikenal orang, namun masih kurang dikembangkan. Melalui bengkel inovasi iMuT, mereka menciptakan Digester Portable Biogas dari bahan sederhana yang memanfaatkan bahan yang ada, yaitu drum dan ban dalam bekas.

Geng Motor iMuT juga berhasil menciptakan kompor sederhana sebagai komponen dari Digester Portable Biogas mereka. Kompor ini kemudian dinamakan dengan DePoBiMuT S-001 dan DePoBimuT-S-002. “Setiap inovasi baru yang kami lakukan, kami beri nama berbeda. Gunanya untuk mengingatkan dan menandai perbedaan dari produk-produk inovasi kami” kata Bung Frits.

Selain menghasilkan 25 unit digester portable biogas yang telah dipasang dan aktif digunakan pada 25 kabupaten dan 1 kota, Geng iMuT juga membuat desalinator untuk membantu masyarakat di pesisir, guna memperoleh air tawar dengan sistem penguapan air asin. Desalinator ini setiap harinya mampu menghasilkan 4 liter air tawar dari 70 liter air asin. Produk lain yang saat ini sedang diupayakan bersama masyarakat adalah pembuatan briket arang.

Hadir sebagai geng yang kini telah mengantongi penghargaan dimana-mana atas inovasinya bersama masyarakat, antara lain masuk ke dalam 50 tokoh pemecah kebuntuan Indoensia versi majalah Intisari, penghargaan sebagai Pahlawan Tuk Indonesia dari MNC TV dan lain-lain, Bung Frits mengaku tak pernah memiliki tujuan awal tuk memperoleh penghargaan tersebut. Semuanya diawali dengan tekad tuk saling berbagi ilmu. “Berbagi Ilmu sebelum Ajal” Ucap Bung Frits.

Menurut Bung Frist, komunitas Geng Motor iMuT adalah komunitas yang informal. Mereka menghindari hal-hal yang berbau formal dan ikut aturan birokrasi. Hal inilah yang menjadi kunci hingga geng motor tetap eksis dengan inovasi-inovasinya hingga kini.

Dengan pembagian tugas dan penamaan yang unik, mereka membagi-bagi divisi mereka dengan Rider Kandang dan Pucuk, Rider Inova, Rider Corond dan Prend, Rider Lapak, Rider Spionase, dan Rider Celengan.  Hal menarik lainnya adalah setiap tempat yang mereka kunjungi, harus dimulai dari visioning dan pelatihan-pelatihan peningkatan kapasitas.

Jika diawal mereka hanya terdiri atas alumni muda fakultas peternakan, maka kini tercatat 100 orang volunteer yang bergabung dalam komunitas Geng Motor iMuT, yang juga memiliki 700an konektor, 1 bengkel kayu dan 2 bengkel las. Mereka pun telah melakukan 58 petualangan di 37 Desa/Kel, 31 Kecamatan, 9 Kab/Kota, 10 Pulau di Propinsi NTT. Tak hanya di NTT, geng ini pun telah bertualang hingga ke 4 propinsi lain, dengan jumlah pemanfaat seluruhnya adalah 36.000 warga.

Pada tgl. 23-24 Februari 2013, Geng ini melakukan revisioning komunitas mereka dan dengan pertimbangan bahwa saat ini mereka telah berasal dari berbagai latar belakang serta tidak sekedar mengurusi ternak saja, maka mereka sepakat untuk mengganti nama Geng Motor iMuT yang dulunya adalah Aliansi Masyarakat Peduli Ternak menjadi Inovasi Mobilisasi Untuk Transformasi.

Presentasi Bung Frits tentang inisiatif Geng Motor iMuT diakhiri dengan tanya jawab peserta diskusi. Dan diskusi insiatif BaKTI malam ini pun ditutup dengan penampilan yang selalu apik dan interaktif dari Rizkcy de keizer dengan lagu The Way You Are-nya Bruno Mars dan Bento-nya Iwan Fals.

Peserta Diskusi Inspirasi BaKTI

Peserta Diskusi Inspirasi BaKTI

Posting pertamaku di Pelatihan Blog BaKTI

Image

Seorang teman mengirim pesan singkat beberapa hari yang lalu, “Katanya mau ikut pelatihan blog di BaKTI. Sudah 24 orang yang terdaftar. Kuota cuma 30 orang. Ayo cepat kirim email konfirmasi sekarang juga”.

Spontan buyar konsentrasiku di pertemuan review penawaran sekolah-sekolah, bersama teman-teman Bappeda dan Dinas PU. Beberapa kali mencoba mengakses email lewat HP tapi tidak berhasil, sinyal benar-benar sedang lemah pagi itu. “Mungkin kah kuota sudah penuh?”, saya sudah mulai gelisah.

Tidak putus asa begitu saja, saya tinggalkan ruang pertemuan untuk segera menelpon ke teman. Memintanya untuk mendaftarkan saya menggunakan alamat emailnya. Sepuluh menit kemudian, teman saya mengirim pesan singkat, “Berhasil. Sahabat BaKTI sudah mengirimkan list peserta. Namamu terdaftar”. Lega rasanya.

Sebenarnya sudah beberapa kali diajak untuk ikut pelatihan serupa oleh teman, tapi selalu saja ada halangan. Kali ini saya tidak mau melewatkan kesempatan. Apalagi pelaksanaannya di hari libur kerja. Beruntung bisa bergabung menjadi sahabat BaKTI.

Pelatihan Blog, “Nge-Bloglah, Maka Kau Ada” diselenggarakan pada hari Sabtu, tanggal 3 November 2012 di kantor BaKTI. Dilatih oleh Ipul Daeng Gassing. Salah seorang Blogger senior dari komunitas blogger AngingMamiri.

Materinya meliputi apa itu blog, jenis-jenis blog, penyedia layanan blog, tips membuat blog, hingga praktek langsung membuat blog.

“Akhirnya bisa buat blog dan posting pertama“, batinku. Memang benar apa yang dikatakan oleh Daeng Gassing, “Buat blog itu mudah, menjaga konsistensi yang sulit”. Membuat blog tapi jarang posting tulisan, tentu membuat blog tidak efektif. “Agar bisa menjaga konsisten,  maka nge-Blog harus fun dan sesuai passion”, daeng Gassing melanjutkan.

Bukan hanya cara membuat blog dan beberapa trik yang diberikan pada pelatihan ini. Daeng Gassing juga menyampaikan beberapa etika dalam nge-blog. Salah satunya adalah tatkala kita membuat postingan yang mengundang polemik, dan ada yg komentar kontra, maka jangan sekali-kali menghapus komentar tersebut. Akan jauh lebih baik membuat postingan baru dan mengakui jika ternyata opini kita pada postingan sebelumnya salah.