Film Kartini: Berjuang dengan Tulisan dan Bakti

Film Kartini (sumber: liputan 6.com)

“Pikiran lebih perkasa dibandingkan tubuh. Dia mampu membongkar penjara yang menjerat tubuh hingga jadi serpihan pasir” – KARTINI

Kerap membaca status di media sosial, mengapa ada Hari Kartini? Mengapa Kartini lebih dikenal dari pada Cut Nyak Dien? Mengapa hari kelahirannya diabadikan sebagai hari nasional?.

Jika kumpulan surat kartini tak mampu menjawabnya, maka saya sarankan untuk menonton Film Kartini, yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo. Sosok cerdas dan wajah sendu Dian Satro mampu menghadirkan sosok Kartini dengan sangat baik. -baca selanjutnya

Advertisements

8 Pesan Parenting untuk Para Bapak dari Super Didi

Didi berupaya melahap secepat kilat isi buku yang dititip sang istri untuknya. “Banyak juga, yah?,” ucapnya setelah melewatkan lembar pertama tentang jadwal kegiatan kedua anak mereka. Itu adalah salah satu adegan yang bisa ditonton dalam film Super Didi, karya sutradara Hadrah Daeng Ratu dan Adis Kayi Yurahmah.

Beruntung bisa menonton film ini dengan gratis bersama beberapa teman yang lain. Saat membaca judul dan sinopsisnya, saya sudah menerka-nerka seperti apa adegan per adegan film ini. Ini pasti tentang rempongnya seorang ayah dalam mengurus anaknya, tebak saya. Lalu sayapun membayangkan sederet -baca selanjutnya

Makassar in Cinema 2; nonton karya anak Makassar

Aku harus jadi penonton pertama, batinku. Maka kupilih sesi pertama untuk menonton. Karena mendengar cerita dari orang lain, sebelum aku nonton, sungguh tak enak.

Dari semua teman-teman yang sudah membeli tiket, sepertinya hanya aku seorang yang memilih sesi pertama di hari pertama, yang putar di pukul 15.30 sore, 23 April 2015. Pemutaran film pendek ini, sebenarnya berlangsung selama 3 hari, dimana setiap harinya terdiri atas 4 sesi. Setiap sesinya, akan diputar 4 film pendek.

Keempat film pendek yang ditayangkan merupakan karya dari peserta workshop Makassar in cinema 2, yang berlangsung selama 4 bulan. Total waktu untuk menonton keempatnya adalah kurang lebih 60 menit.

Pukul 15.25 wita sudah tiba di Gedung Kesenian SulSel, Societeit de Harmonie, bersama 3 orang teman yang berhasil kujebak di hari pertama ini.

Bagian depan ruang pemutaran film, terpajang poster keempat film dan sebuah banner event, Meditatif, Makassar in Cinema.

Sebagai orang awam dan tidak terlalu paham tentang film, cuma suka nonton, belum sampai tahap hobby berat, aku mencoba mengulas kesan menonton keempat film pendek tersebut.

 

Dasar Gelap

Di poster film Dasar Gelap, sebuah kalimat bertuliskan “Di bawah sana ada jawaban”, disertai beberapa gambar adegan, yang salah satunya gambar seorang laki-laki yang sedang menengok ke dasar sebuah sumur.

Pasti sumur itu, yang dimaksud dengan dasar gelap, tebakku.

Bertanya-tanya, saat adegan-adegan awal, 3 buah pot di shoot agak lama. 2 buah pot Anggrek yang tidak subur dan 1 pot Mawar yang sedang berbunga.

Seolah sengaja memberi penegasan atau clue, anak muda yang jadi pemeran utama, memutar pot bunga mawar, yang kelopak merahnya sedang mekar sempurna. Menurutku, pastilah mahkotanya sengaja diletakkan membelakangi penonton, sehingga akan ada adegan memutar pot hingga kelopaknya menghadap ke penonton.

Adegan itu membuatku lebih fokus kepada mawar merah daripada aksi pembunuhan dan penceburan mayat ke sumur di pekarangan rumah. Berusaha menebak-nebak keterkaitan mawar dan sumur berdasar gelap.

Poster film dasar gelap

Poster film dasar gelap

Film ini menggambarkan sang tokoh utama yang membunuh laki-laki yang bertamu ke rumahnya, setiap setelah menyajikan secangkir kopi. Disuguhi kopi, berarti tamu kan? aku menebak.

Nyaris tak ada dialog dalam fim ini, hingga tamu ketiga datang. Ia masuk begitu saja ke ruang tamu dan membuka pembicaraan. Ini adalah dialog pertama dalam film dasar gelap.

“Apa kabar? Ibumu dimana? Ada kopi?”

Duh, ini ayahnya yang pulang kantor atau pamannya atau tamunya? Seperti dua tamu sebelumnya, laki-laki itupun diceburkan ke dalam sumur setelah dibunuh.

Ibu. Ada seorang ibu di rumah tersebut. Apa saja yang dilakukan oleh sang Ibu, hingga tak menyadari pembunuhan dalam rumahnya?

Adegan berikutnya, menjawab. Tokoh utama yang tak kutahu namanya ini, terbangun di pagi hari dan tiba-tiba duduk tercengang menatap bunga Mawar di atas meja kamarnya.

Detik berikutnya, ia melangkah keluar kamar. Matanya mencari-cari pintu kamar mana yang akan dibuka. Terlihat sutradara ingin menggambarkan kebingungan si pemeran utama.

Sebuah pintu kamar dibukanya dan nampak seorang perempuan yang sedang duduk bersolek. Perempuan itu berbalik dan melempar senyum menyapa.

Ibunya! Kali ini aku bukan menebak, tapi benar-benar yakin. Hmm, Mawar merah dan bibir sang Ibu yang berlipstik merah.

Korban terakhir adalah Ibu.

Di adegan kedua dari terakhir, pemeran utama kembali memegang pot berisi Mawar di teras rumahnya. Apakah Mawar yang sama dengan di meja kamar? Film ini membuatku menerka-nerka. Aku tahu, Ifa yang duduk di sebelahku pun pastilah berupaya keras menerka-nerka.

Aku terlalu sibuk menghubung-hubungkan antara Mawar, tamu laki-laki, kopi, pembunuhan, sumur dan Ibu. Hingga lupa menangkap keanehan dan bertanya, mengapa hanya mayat sang Ibu yang mengapung?

Kesimpulanku, sang Ibu adalah seorang yang sering didatangi tamu laki-laki dan si anak bertugas membuatkan kopi, tamu-tamu ibunya. Kupikir, si anak mulai muak dengan ulah ibu dan tamu –tamunya, hingga membunuh mereka satu persatu.

Ternyata aku salah.

Seperti kata Emi, ada banyak versi untuk mengulas film Dasar Gelap. Ya, film ini memberi kata kuncinya, namun tetap membuat penonton menerka-nerka.

Ifa yang masih bingung dengan cerita yang ingin disampaikan film ini, bertanya ke Riri. Film ini rupanya bercerita tentang seorang anak psikopat, yang membuang mayat-mayatnya korbannya ke sumur. Mayat itu tak pernah terlihat lagi di sumur, karena sang Ibu yang menyingkirkannya. Saat ibu yang menjadi korban, tak ada lagi yang melakukan itu, sehingga mayatnya nampak terapung di dalam sumur.

The Last Thread

Nah, ini dia yang paling kutunggu. Ada Riri Indah Febriany, relawan nulis bareng sobat LemINA yang turut campur tangan di film ini. Selain bertindak sebagai art direction, Riri juga ternyata menjadi producer. Ada kak Luna Vidya juga yang menjadi pemeran utama.

Karena Ia sudah menjelaskan bahwa tugasnya adalah memastikan semua property, termasuk property detil sekalipun, aku jadinya fokus memperhatikan hal tersebut sepanjang penanyangan.

Tirai jendelanya lucu. Besi gantungannya bukan dipasang di atas bingkai jendela, tapi malah melintang di bagian tengah. Menarik perhatianku karena ada adegan pemeran utama menarik tirainya. Aku harus protes ke Riri tentang tirai itu.

Kritik langsung kulemparkan saat chatting di whatsapp group di malam hari. Rupanya bukan disengaja, namun karena memang dibuat seperti itu oleh pemilik rumah.

Seperti film sebelumnya, film the last thread pun minim dialog. Satu-satunya kalimat yang bisa tertangkap oleh telingaku, yang diucapkan oleh seorang pelanggan jasa menjahit si pemeran utama, adalah kalimat

“Banyak jahitan ta’ di’, bu? Seperti anak ta,”

Jahitannya banyak ya, bu. Seperti anak, ibu.

Bagiku film ini menggambarkan tentang seorang Ibu yang mengembalikan anaknya yang hilang. Terlepas benar tidaknya cara yang ia pilih.

Foto bareng dengan Ibu tukang jahit di film the last thread

Foto bareng dengan Ibu tukang jahit di film the last thread

Seperti apakah tatkala seorang Ibu tinggal serumah dengan anak satu-satunya, namun seolah anak itu tak pernah ada? Sebagai seorang yang suka ber-monolog, kak Luna memang lihai dalam mengungkapkan rasa dalam akting tanpa perlu mengeluarkan sepatah katapun. Nontonlah! Tuk melihat bagaimana cara ia menyampaikan emosinya ke penonton.

Siapa sutradaranya? Ingin bertanya, mengapa ada adegan si Ibu memegang pisau sambil menangis? Itupun setelah sebelumnya, batal mengambil pisau yang lainnya. Seolah sedang memilih pisau yang tepat.

Jujur, adegan itu membuatku tak sabar, ingin melihat seperti apa Kak Luna akan berakting menikam anaknya sendiri. Apakah karena anaknya seorang transgender, sehingga cerita ini dibuat, tuk menunjukkan betapa tak semua ibu bisa bersabar dan menerima anaknya, hingga mampu menghujamkan pisau?

Ah, tertipu. Saat menunggu adegan pembunuhan sadis, yang ada malah sang anak meninggal saat sarapan.

Meninggalnya pun, menyebabkan aku terlibat debat kecil dengan Ifa.

“Ternyata diracuni yah?”

“Tidak kak, menelan jarum dalam minumannya. Kan last thread. Jarum terakhir”

Sempat berfikir, apakah kata thread dalam bahasa Inggris adalah jarum? Tapi karena Ifa adalah lulusan sastra Inggris, aku berhenti mencari tahu jawabnya.

Mayat kaku yang terbaring dengan mengenakan jas rapi, serta didandani layaknya laki-laki, seolah menunjukkan bahwa sang pemeran utama berhasil menemukan kembali anaknya, meski tanpa nyawa lagi.

Penasaran dengan tokoh sang anak. Suara batuknya, perempuan banget, meski saat sarapan dengan baju tidur, terlihat jelas dadanya, bagai papan.

Belakangan baru tahu, jika namaya Abdul Rahim, anak UIN Alauddin dan memang lumayan gemulai di keseharian. Duh!

Di group chatting, Riri meluruskan bahwa the last thread yang dimaksud adalah benang terakhir yang sudah berupa jas, yang dibuatkan sang Ibu untuk anak lelaki satu-satunya.

Ifa, bukan jarum, tapi benang.

Pantaslah, ada adegan kak Luna menatap lama ke jas hitam yang tergantung di dinding. Kupikir, jas milik suaminya yang telah tiada.

 

Pencuri Mangga

Mereka bilang mangga itu manis. Ya, film ini menggambarkan bagaimana pencuri mangga tidak menikmati manisnya mangga. Tapi justru pahitnya menerima hukuman berat.

Poster film pencuri mangga

Poster film pencuri mangga

Jika di film the last thread, ada Riri yang ikut ambil bagian dalam pembuatannya, di Pencuri mangga, ada Sultan. Teman Kelas Inspirasi Gowa, yang bergabung di komunitas kamera lubang jarum, yang pernah ikut membantu saat kegiatan LemINA di pulau Sarappo.

Kata Riri, film pencuri mangga bergenre Surialisme. Sarkasme yang berbungkus komedi. Tapi sayangnya, aku jarang tertawa. Cuma senyum sesekali.

Film ini nampaknya sebagai bentuk sindiran kepada peran tokoh-tokohnya. Dandanan anehnya, menggambarkan komedi.

Pak Hakim yang memakai headset, penggambaran tuk hakim yang tak bersedia mendengar apapun dari para terdakwa atau saksi. Yang ada, hanya melempar tanya, tanpa mau tahu jawabannya.

Hakim anggotanya ada dua orang. Satu memakai penutup mata dan satunya lagi mengenakan masker mulut dari uang. Menyindir oknum penegak hukum yang menutup mata dengan fakta sebenarnya dan bisu karena mulutnya yang disumbat uang.

Jaksa penuntut, pengacara, petugas keamanan, hingga pengunjung sidang, semua didandani bak badut. Mereka yang memerankan profesi mereka laksana badut yang lucu dan palsu, ikut tersindir.

Aku tidak terlalu suka dengan genre satu ini. Tapi menurutku, tak mudah membuat film bergenre seperti ini. Semua yang terlibat dalam pembuatannya harus berfikir keras untuk menggelitik rasa dari penonton. Berbungkus komedi, namun bukan film komedi, menurutku.

 

Burassingang (Bersin)

Aku tak tahu seperti apa penentuan urutan pemutaran keempat film Cinema in Makassar ini. Apakah diurut berdasarkan kualitas filmnya atau cepat lambatnya film tersebut selesai dikerjakan atau diundi sebelumnya. Yang pasti, film terakhir ini yang kufavoritkan.

Saat melihat posternya, di luar tadi, aku sama sekali tidak merasa tertarik atau penasaran. Burassingang (bersin), apa yang menarik dari kata itu? Bahkan tagline “menanti kematian yang tak diinginkan” juga sama sekali tak menarik bagiku.

Harus menontonnya terlebih dahulu, tuk tahu bahwa film ini menarik.

Mitos. Banyak film yang dibuat dengan mengangkat mitos tertentu.

Karena tidak terlalu percaya mitos, aku jadi tak pernah tahu bahwa ada mitos tentang bersin yang dikaitkan dengan kematian.

Tahu bahwa film ini bercerita tentang sebuah mitos pun, setelah ada adegan pemeran utama bersin di depan mayat dan kemudian ditegur oleh seorang nenek dalam bahasa Makassar “jangan bersin di depan mayat, nanti kamu mati”

Lha, semua orang bakal mati. Namun bagaimana seseorang merespon sebuah mitos yang terkait dengan kematian? Tentu saja berbeda-beda. Ada yang sepenuhnya menyerahkan kepada Allah, ada yang seolah menyerahkan ke Allah namun masih tetap was-was, dan ada pula yang seperti pemeran utama film ini, menanti mitos itu benar-benar terjadi pada dirinya. Tentunya karena ia meyakini benar bahwa mitos tersebut bukanlah sekedar mitos.

Justru setelah di akhir film, aku baru mencoba mencerna adegan awal, yang tadinya membuatku berbisik ke Ifa “perpindahan adegannya lambat sekali”. Kebiasaan nonton film action, kayaknya.

Adegan pertama adalah seorang anak muda yang terbangun di pagi hari atau mungkin malah siang. Karena aku menangkapnya sebagai anak muda yang malas. Matanya susah dibuka, menguap berkali-kali, sesekali mengucek-ucek wajahnya dengan tangan, malah memukul-mukul pipi, seakan berusaha keras untuk benar-benar terbangun.

Belakangan, aku bertanya sendiri dalam hati, tadi itu adegan memaksa diri bangun atau memastikan bahwa dirinya masih hidup dan bukan meninggal?

Lihat trailer film sebelum penayangan, benar-benar mengecohku. Kupikir film ini tentang geng motor atau anak muda yang suka tawuran, karena sibuk mengumpulkan semua benda tajam dalam rumahnya.

Pemeran utama digambarkan sebagai anak muda yang mengurung dirinya dalam rumah, hanya berkegiatan hanya dalam rumah, sambil menanti kematian menjemputnya. Hal itu terjadi setelah ia ikut melayat.

Saat sedang membaca Al Quran di depan mayat. Ia tiba-tiba bersin dan ditegur dengan pernyataan bahwa ia akan mati karena bersin di depan mayat. Mitos itulah yang membuat film ini jadi menarik.

Biasanya, film terkait mitos akan mengarah ke horor. Tapi film satu ini, berbeda.

Bagi yang sudah nonton, pasti akan mengingat bagaimana adegan mengumpulkan semua senjata tajam dan meletakkan dalam sebuah laci, bukanlah adegan mengerikan tapi justru menjadi lucu.

Pemeran seakan percaya bahwa mitos itu bisa membuat benda tajam mampu membunuhnya, dengan cara yang mungkin tak ia duga.

Saat adegan pemeran utama naik ke atas kursi untuk membetulkan kipas anginnya yang rusak dan kemudian terjatuh tak bergerak. Aku spontan berkata dalam hati, Ah, rupanya meninggalnya bukan karena senjata tajam, melainkan jatuh dari kursi.

Menit berikutnya, weker berbunyi, tangan pemeran utama muncul di layar, mematikan alarm. Yaah, batal meninggal lagi.

Sampai kapan ia akan mengurung diri dalam rumah dan menanti kematiannya? Nonton yuk!

Jika Saya Penulis Assalamu Alaikum Beijing

Jangan baca bukunya, sebelum nonton filmnya. Nanti kecewa. Demikian nasehat seorang teman tentang novel “Assalamu Alaikum Beijing”. Tapi saya telanjur sudah membacanya, meski filmnya belum diputar di bioskop saat itu.

Minggu lalu, baru tahu jika film ini sudah tayang, saat seorang teman teriak di group Whatsapp tuk ajak nonton bareng.

Lalu seorang teman chat personal ke saya karena tak enak menuliskannya di group.

Saya sudah nonton kemarin, kak. Not recomended. Teman saya meyakinkan saya untuk tidak memenuhi ajakan teman yang lain.

Ternyata tak bisa menghindari menonton film yang diangkat dari novel Asma Nadia tersebut. Sahabat SMA saya, Suarni, berkunjung ke Makassar untuk urusan pekerjaan. Di hari terakhir ia di Makassar, saya dipaksa menemani nonton film itu.

Tak menyangka, jika sahabat saya pun sudah pernah baca novelnya. Sepanjang film, tak henti-hentinya ia mengeluh kecewa. Ada apa dengan film ini?

 

Fungsi kontrol Penulis atas film

Meski alur ceritanya hampir sama meski tak serupa dengan novelnya, Suarni tetap tak puas. Banyak bagian yang diprotesnya.

Berbeda dengan Suarni, saya bisa memahami, tatkala Zhongwen mendadak bisa berbahasa Indonesia di Film ini. Meski menurut saya, film ini takkan berkurang nilai ceritanya jika Morgan menggunakan bahasa Inggris. Penonton pasti akan bisa mengikuti.

Kan mereka sudah biasa nonton film asing dengan bantuan teks.

Jika saya menjadi Penulis novel ini, saya akan menjadi sedikit agak berkeras di bagian-bagian tertentu. Mengapa? Karena saya ingin pesan yang ditangkap oleh pembaca novel, juga dapat tercermin dalam film.

 

Perjalanan seorang muslimah dan sejarah Islam

Film ini mampu menggambarkan dua hal tersebut dengan jelas. Walau sahabat saya tidak nyaman dengan adegan mengejutkan di masjid Niujie. Hah? Jadi pemandu pengganti? Haruskah?

Saya mencoba menebak-nebak penyebab Zhongwen dijadikan pemandu pengganti oleh penulis skenario.

Tak menemukan hubungannya, kecuali Zhongwen kemudian menemani Asmara kemana-mana dan kemudian memaksakan munculnya konflik tak terbuka antara Zhongwen dan Dewa.

Sebuah alur cerita yang membuat sahabat yang duduk di sebelah saya, menjadi geram.

 

Foto: koleksi pribadi

Foto: koleksi pribadi

 

Rasa suka yang tak terucap

Cara bertutur Morgan, pemeran Zhongwen, serta bahasa tubuhnya, jelas-jelas menunjukkan rasa sukanya pada Asma. Penonton yang belum pernah baca novelnya, pasti sudah menebak di awal film bahwa mereka berdua pastinya akan berjodoh.

Kemana rasa penasaran Zhongwen dan Asma akan hubungan pertemanan mereka, seperti dalam novel? Mengapa Zhongwen yang disulap sebagai pemandu pengganti itu, mendadak begitu mudah ngomong dengan banyak kalimat puitis? Mengapa bukan seadanya saja?

 

Lokasi

Tak terhitung berapa kali sahabatku berujar protes. Ih! Kenapa pula ikut-ikutan ke Beijing?, nada suaranya meninggi saat adegan Dewa berkunjung ke apartemen Asma.

Seolah semua dibawa ke Beijing. Sekar dan suaminya, serta Dewa, semua di Beijing. Bahkan kantor Asma pun punya cabang di Beijing

Menurut saya, bagian Dewa mencari Asmara hingga ke Beijing adalah bagian yang tidak penting. Khususnya adegan jalan bertiga Asmara, Zhongwen dan Dewa.

Jika ingin memperkuat gambaran Dewa yang masih mengejar-ngejar Asmara untuk kembali dan menikah dengannya, setelah menyakiti, tidak harus dengan cara tersebut.

Untuk memberi kesan ceriwisnya Sekarpun, tidak harus memboyong Sekar ke Beijing. Bukankah novel menggambarkan, bagaimana mereka hanya saling bercerita seru melalui telpon?.

 

Kesan yang hilang

Jujur. Saya kehilangan penggambaran sosok Zhongwen yang takjub akan etika Islam, yang tergambar dari laku Asma, yang enggan bersalaman dan bersentuhan.

Zhongwen yang saya kenal sebagai laki-laki yang tenang dan sabar untuk urusan cinta, tak kutemui dalam film.

Film inipun sama sekali tak mengggambarkan perjuangan Zhongwen, laki-laki China yang tidak begitu romantis, mengikuti kata hatinya tuk mencari-cari Asma? Mengapa begitu mudahnya mereka bertemu?. Benarkah murni karena alasan durasi semata?.

Saya sungguh membayangkan ada adegan Zhongwen dengan wajah nyaris putus asa, saat mencari Asma kemana-mana.

Lalu, perjuangan Zhongwen melawan batin dan keluarga besarnya, sebelum memutuskan memeluk Islam pun, kurang tajam. Penonton lebih menanti Ia dan Asma-nya bertemu kembali. Menunggu akhir yang bahagia.

Bagaimana dengan sosok Asmara, yang dipanggil Ashima oleh Zhongwen?

Sebagai muslimah yang memegang etika bergaul dalam Islam, saya bayangkan sutradara mengarahkan Revalina untuk berakting dengan gestur gerak tubuh dan gaya ngomong yang berbda dengan di film ini, khususnya saat jalan berdua dengan Zhongwen.

Masak baca buku berdua, dengan jarak bergitu dekat? protes Suarni.

Satu-satunya sosok hilang yang bisa kupahami di film ini adalah Sekar. Ia digambarkan sebagai sahabat Asma, bertubuh besar dan berkerudung panjang. Meski Laudya Chintya Bella tak berpostur dan berpenampilan seperti itu, namun dengan mempertahankan karakternya yang ceriwis, membuat sosok Sekar tak beanr-benar berbeda di film ini.

 

Menanti adegan romantis

Mungkin saya menaruh harapan tinggi kepada Sutradara, tuk mampu menerjemahkan novel dengan baik, atau justru kepada Asma Nadia, yang bagi saya, kurang ketat dalam mengawal cerita film yang diangkat dari novelnya.

Novel “Assalamu alaikum Beijing”, menggelitik hati kecil pembaca, bahwa romantisme dari kisah cinta di buku ini, justru tatkala tak banyaknya kalimat-kalimat puitis yang terucap, namun terganti dengan sederet tingkah laku dan pengambilan keputusan oleh dua tokoh utamanya, yang lebih romantis dibanding 1000 puisi cinta.

Sungguh saya berharap, ada adegan saat-saat long distance relationship, dimana Revalina menampakkan akting penasarannya dan mencoba menebak-nebak perasaan Zhongwen ke dirinya, melalui email dan pesan singkat di telepon selularnya.

Kemana semua itu? Yang ada, seolah Asma dan Zhongwe sudah saling memahami perasaan suka mereka sejak di Beijing.

Satu lagi, Suarni dan saya tak berhenti membahas hingga berpisah, adalah mengapa Zhongwen ke Jakarta karena email balasan dari Sekar, yang memintanya menemui Asma di Indonesia?.

Mengapa bukan karena keinginan ia sendiri, akibat dari panggilan tak terbendung dari dalam hatinya?

Bukankah cinta yang seharusnya mengantarkan? Bukan karena diundang.

Kemana kisah romantisme yang tidak biasa, yang dilukiskan oleh Asma Nadia dalam bukunya?

Salahkah jika seorang Penulis ngotot kepada Sutradara atas film yang diangkat dari karyanya?

Dimensi lain dan tantangan Gravitasi di Film Interstellar

Film terakhir yang bikin aku capek nonton adalah Inception, sekitar tahun 2010 atau 2011. Siang ini, aku terjebak, tak terencana, nonton film yang benar-benar buat capek lagi menontonnya, bersama Yusti, seorang Relawan Anak.

Karena alasan demo dan mengurus berkas bank LemINA, aku pulang siang dan tak balik lagi ke kantor. Jarak Bank dan Mall yang cuma puluhan meter, menggoda kami berdua tuk melangkah ke Bioskop, setelah urusan berkas di Bank selesai.

Yusti mengajak nonton Big Hero 6, tapi aku menolaknya, ah film animasi, film yang lain saja. Entah mengapa tak tertarik, padahal aku tergolong orang yang banyak menonton film animasi.

Lalu nonton apa? tanya Yusti kemudian. Searching sinopsis di website Cinema XXI. Menemukan judul Insterstellar.

Dari judulnya, bisa ditebak jika ini film luar angkasa. Jika baca sinopsis, lalu membayangkan luar angkasa, maka Aku langsung menghubungkan dengan film Star Trek atau Avatar atau Armageddon. Masih film yang agak ringanlah tuk ditonton, pikirku.

Saat waktu di Bumi akan berakhir, sebuah tim penjelajah melakukan sebuah misi paling penting dalam sejarah manusia. Perjalanan antar galaksi ditempuh oleh Cooper (Matthew McConaughey) dan Brand (Anne Hathaway) untuk mengetahui apakah umat manusia masih memiliki masa depan. Demikian isi sinopsis film Interstellar.

Saat itu, aku langsung menebak bahwa ini adalah film heroik yang melibatkan luar angkasa, hingga akhirnya kami berdua memutuskan untuk menontonnya dan menikmati ketak terdugaan film ini.

Baru di sepuluh menit pertama, Aku dan Yusti sudah menegakkan punggung, memasang tali pengaman dan melipat meja di depan kami. Eits..ini bukan di pesawat. Tapi betulan, lho. Kami berdua duduk tegak karena harus berfikir.

Ini film maunya apa? Kenapa jadi horor? Yusti berucap protes saat adegan anak perempuan Cooper yang selalu menemui hal-hal aneh dalam kamarnya.

Bukan horor lah, mungkin perbuatan alien. Aku mencoba menghubung-hubungkan dengan luar angkasa.

Rupanya film fiksi science. Ampun. Sepanjang film harus konsentrasi memahami setiap adegan dan percakapan. Capeknya tuh di sini (sambil tunjuk kepala).

Meski kami berdua berlatar belakang ilmu pasti, pernah belajar Fisika, dan suka ngegosip, tapi tokoh-tokoh Fisika dan teorinya bukanlah masuk dalam daftar orang yang kami gosipi.

Mengulas Gravitasi, Dimensi Waktu dan Black Hole yang misterius. Tiga hal ini sudah pernah kudengar, terasa akrab dengan gravitasi, namun tidak benar-benar mendalami ilmunya.

Film ini mengisahkan tentang seorang yang pernah bekerja di NASA, bernama Cooper, yang memiliki seorang anak perempuan. Anak perempuannya selalu melihat kejadian aneh di dalam kamarnya, yang diyakini sebagai ulah dari sebuah atau seorang makhluk. Entah makhluk apa.

Pertanian yang gagal dimana-mana menjadi salah satu indikasi terancamnya manusia akan kehidupan di dunia.

NASA kemudian merancang sebuah misi rahasia yang mengirimkan orang-orangnya ke luar angkasa, melalui Black Hole, menjawab sebuah formula fisika yang memasukkan notasi gravitasi di dalamnya, guna mencari planet lain yang bisa menjadi tempat hidup manusia.

Cooper diminta kembali oleh NASA untuk melakukan perjalanan luar angkasa tersebut. Sebuah tawaran yang diterimanya karena alasan ingin menyelamatkan anak-anaknya.

Rencananya, manusia akan dipindahkan ke planet baru, yang akan ditemukan tersebut. Agak gila, bukan?. Namun bukan menjadi ide gila, jika mendengar percakapan-percakapan ilmiah dari pemainnya.

Acung jempol tuk penulis skenarionya. Pasti butuh riset yang lama untuk menulisnya. Film ini, meski fiksi, tapi harus dibuat berdasarkan ilmu Fisika, agar masuk akal.

Sepanjang film, Aku dan Yusti seringkali berdiskusi. Kami bahas satuan Gravitasi, Dimensi Waktu, sampai mengaitkan dengan lama waktu di akhirat. Hingga sempat keluar pernyataan, Al Quran sesungguhnya telah memberi menjelaskan tentang hal ini. Setelah terpecahkan oleh akal dan berbentuk ilmu pengetahuan, barulah kita menyadarinya.

Film ini banyak menekankan kepada pengembangan teori gravitasi. Bagiku, seolah membandingkan gravitasi yang ada di Bumi dan gravitasi milik Black Hole. Lubang hitam di angkasa ini, mampu menarik semua yang ada di sekelilingnya. Termasuk menarik waktu?. Agak sulit aku menerjemahkan pesan ilmiah film ini.

Aku tak mungkin mengulas film ini secara ilmiah. Meski masih berkutat dengan rumus-rumus yang menggunakan angka gravitasi, tapi ilmu Fisika ku minim sekali, apalagi mau membahasnya dari sisi Al Qur’an? oh no! takut salah.

Minggu lalu, sempat nonton acara On the Spot di TV. Acara itu menampilkan 7 kejadian yang berkaitan dengan penjelajah waktu. Beberapa gambar menunjukkan kejadian berpuluh dan beratus tahun lalu. Sebuah foto, sempat menangkap gambar perempuan memakai handphone, padahal saat itu, handphone belum ditemukan. Benarkah penjelajah waktu itu ada?.

Kembali ke film Insterstellar. Film ini banyak mengulas dimensi keempat, yaitu waktu. Waktu penjelajahan mereka di angkasa luar terhitung pendek, namun waktu di bumi sudah berputar lebih lama.

Cooper yang meninggalkan puterinya yang usia belasan, setelah kembali ke bumi, si Puteri sudah lebih tua dibanding dirinya.

Satu jam perjalanan melintasi galaksi, sama lamanya dengan beberapa tahun di bumi. Itulah mengapa Yusti akhirnya bertanya, mengapa sama dengan konsep waktu di akhirat?. Apakah akhirat itu di luar angkasa?. Please, jangan tanya Aku, Yusti. Karena kisah dimensi waktu, seperti Isra’ Miraj dan Ashabul Kahfi pun, masih buat Aku bingung.

Akhir dari film ini, menunjukkan betapa dimensi keempat, yaitu waktu, bisa membuat seseorang menjadi penjelajah waktu. Makhluk tak nampak yang dirasakan kehadirannya oleh si puteri kecil Cooper adalah dirinya sendiri di masa akan datang, yang mengirimkan pesan ke anaknya.

Aku mencoba mengaitkan dengan hal yang sama kurasakan berpuluh tahun lalu. Dulu, terkadang aku merasa sudah pernah hadir di sebuah tempat, dengan setting ruangan yang persis sama, orang-orang yang yang sama, bahkan isi percakapan yang sama. Padahal kejadiannya baru hari itu.

Seorang teman pernah berkata, “Itu adalah bagian dari mimpi-mimpi yang terlupa. Terkadang kita tidur, merasa bermimpi, namun lupa apa mimpinya. Kemudian teringat, tatkala sudah terjadi”. Benarkah itu bagian dari mimpi yang hilang? atau Aku pernah menjelajah melintas waktu dalam tidur?. Entahlah.

Melihat barang elektronik seperti televisi dan handphone, mengaitkan dengan kecepatan suara dan kecepatan cahaya yang dibahas di film, menimbulkan penasaranku, “inikah bentuk dari pelibatan dimensi keempat ke kehidupan kita?”.

Ada begitu banyak tanya dari menonton film ini. Ingin merasakan sensasi penasarannya? silahkan nonton sendiri filmnya dan siap-siap mengerutkan kening sepanjang pemutarannya atau baca buku Fisika dulu sebelum nonton.

A Good Day to Die Hard

Terlewat nonton Die Hard? No no no. Jangan sampai deh. Seminggu lebih teman-teman kampus sudah heboh cerocoki saya dengan info film. Teman di Kantor pun sudah mulai ngajak nobar. Tapi kerjaan menumpuk. Mana bisa nonton?.

Hingga kemudian di minggu lalu, tiba-tiba saya pulang kampus agak awal. Naaah..waktunya melihat aksi Bruce wilis.

Saya tak bakal menulis alur cerita seri ke-5 dari sekuel Die Hard ini, tapi saya akan bercerita singkat pengalaman saya menonton film ini. Die Hard selalu menarik buat saya, bahkan sebelum saya menontonnya.

Alasan terkuat yang membuat saya mewajibkan diri nonton film ini (selain karena telah nonton film sebelumnya) adalah karena penasaran dengan Bruce Wilisnya. Seperti apa sih aksi dia setelah 20 thn lebih (semoga tidak salah) membintangi Die Hard hingga seri 5 ini. Sekarang dia sudah tua kan?

Aha! Bruce Wilis masih tetap saja pas dan menawan tuk film Die Hard. Meski sudah tua, keriput makin jelas, tapi masih tetap caekp, tegap dan lincah. Aksinya? Seperti biasanya, dijamin keren.

Sebuah kalimat yang paling saya suka, yang diucapkan berkali-kali oleh John McClane di Die Hard 5 ini adalah I’M in VACATION. Seolah ingin berkata “gue lagi liburan lho, bukan sedang bertugas”. Atau justru ingin berkata “gue sedang liburan aja, sudah kayak begini, gimana kalo sedang tugas”.

Film ini menggambarkan seorang John mcClane yang sedang mencari sang anak tuk memanggilnya pulang. Seperti bapak pada umumnya, John mc Clane digambarkan sebagai seorang bapak yang mencurigai anak laki2nya terlibat kriminal atau narkoba.

Sebuah kisah proses memanggil anak pulang ke rumah yang penuh aksi laga. Masih di menit-menit awal, film ini sudah menghabiskan banyak duit tuk aksi kejar-kejaran mobil. Aksi nekat di jalan demi mengejar sang anak, Jack mcClane, bikin penonton jadi tegang.

Film yang mengambil lokasi di Moskow ini, berhasil membuat saya dua kali salah tebak alur ceritanya. Busyet deh.

Meski film laga, tapi film ini agak sentimentil juga lho. Ada curhat2an dua orang tua tentang anak mereka. Ada kisah cinta unik, dua org bapak dengan anak mereka masing2. Dan serunya adalah, itu terjadi pada mcClane dan si mafia Moskow (namanya Yuri, kalo tidak salah. Dasar pelupa).

Adegan klimaksnya, ketika pasangan mcClane bersama putranya dan si Mafia bersama putrinya, mulai saling serang alias baku tembak. Seru dan menegangkan tentunya. Apa ini dikategorikan film laga keluarga yah? Emang ada kategori kayak gitu?.

Secara keseluruhan, saya menikmati 3 hal dari film ini; kalimat “I’m in Vacation” yang diulang2 di beberapa adegan dan jadinya lucu, keindahan Moskow, alur cerita yang membuat saya dua kali salah tebak.

Satu hal lagi, ketika John berkata kepada Jack, anaknya “kamu adalah mcClane Junior,” saya menangkapnya sebagai sinyal bahwa jika seri Die Hard ke-6 akan dibuat, maka sang Bruce Wilis akan pensiun dan digantikan oleh mcClane Junior.

Bagi yang penasaran, silahkan nonton dan identifikasilah, di bagian mana saya salah tebak alur cerita.Image

Atambua 39 Derajat Celcius Vs Skyfall-nya James Bond

“Tidak semua produser dan sutradara membuat film untuk kepentingan komersial semata”, hal itu yang saya ucapkan beberapa waktu lalu kepada teman lama saya, yang kurang suka menonton tapi banyak bertanya. Semoga dia tidak kebingungan kalau nonton film Riri Riza terbaru ini.

Minggu ini, ketika orang-orang di bioskop berlomba-lomba menonton Skyfall, serial baru dari James Bond, saya memilih menonton Atambua 39o  Celcius. Teringat dengan seorang teman yang pernah bertanya ke saya, “Kamu tidak suka dengan film Indonesia yah?”. Hehehe.

Entah mengapa dia bertanya seperti itu. Padahal seingat saya, karya-karya sutradara terbaik negeri ini, sering saya tonton. Atau mungkin karena teman saya itu, tidak pernah mendengar saya bercerita tentang film ‘Suster Ngesot, Nenek Gayung, Sumpah Pocong’, dan semacamnya?. Glek

Saya sempat mengajak beberapa teman yang juga gemar nonton. “Sorry Bunga, lagi kejar setoran, sudah dekat pemilihan gubernur”. Padahal biasanya teman saya ini paling sering bolos kalau hari Jumat. “Aduuuh, saya sedang ikut pelatihan, malam saja yaah”. Ealaah mana bisa ibu rumah tangga seperti saya ngelayap malam-malam. Kayak tidak kenal saya saja. Ajak yang satunya lagi, malah dapat jawaban, “Perjalanan pulang  kampung, kodong. Sms yah seperti apa ceritanya. Kita nonton James Bond saja minggu depan”.  Plooook. Alhasil, nonton sendiri.

Atambua 39o Celcius di sutradarai oleh Riri Riza. Nama itu selalu mengingatkan saya dengan Laskar Pelangi. Menurutku, itu film terbaik dari Riri Riza. Apakah film satu ini, juga menyajikan hal yang sama. “Tentu saja, iya”, pikirku. Makanya kuputuskan menonton film ini daripada Skyfall. Si James Bond bisa menunggu kok.

Dari judulnya, saya iseng menebak kalau saya akan menonton kondisi Atambua yang panas atau kondisi yang memanas, atau film ini justru akan menggambarkan detik-detik berpisahnya Timor Timur dari Indonesia.

Menonton 5 menit pertama, saya mulai mencari-cari, mana tokoh utamanya?. Terlalu banyak pemain yang nongol di awal dan mukanya mirip semua. Hitam dan agak keriting. Mulai dari keriting kecil-kecil, berombak, hingga nyaris lurus. Kok jadi bahas keriting yah? Hehehe.

Memasuki 15 menit pertama, mulut saya spontan ngomong, “siapa sih penata musiknya? Gersang amat”.  Lima menit pertama, kayak film dokumenter. Disusul perkenalan tokoh-tokohnya, tapi kurang greget. Apakah karena musiknya telat masuk atau karena pemainnya yang asli orang Atambua, belum terasah berakting?. Sok tau, dapat info dari mana kalau mereka orang asli Atambua? Saya Cuma menebak dari kulit dan rambutnya saja.

Di 15 menit pertama inipun, saya baru sadar bahwa saya sedang nonton film dengan bahasa pengantar-nya adalah bahasa daerah. Serasa nonton film Barat, saya disibukkan baca terjemahan. Hihihi.

Menurut saya, kekuatan sebuah film terletak pada perpaduan kuatnya karakter peran yang dilakonkan oleh pemain, ceritanya sendiri, pengambilan gambar dan musik latarnya. Film ini lemah di karakter pemainnya serta kurang maksimal di musik latarnya. Musik baru masuk setelah antara menit ke 16 hingga 17. Malah memperkenalkan suara Sasando Rote nya, telat sekali. Sudah begitu, suaranya terdengar, tapi alat Sasando Rote nya tidak nongol-nongol. Mungkin Riri Riza tidak menemukan pemain alat itu di sana, yah?.  Kalau ketemu, saya coba tanya dia deh. (Kapan juga bisa ketemu dengan dia. Hehehe)

Pengambilan gambarnya film ini tidak seheboh film laskar pelangi deh. Satu-satunya yang menarik perhatian saya adalah suasana di sekitar pekuburan kakek Mathius. Saya kurang paham tentang pengambilan gambar, tapi dari nonton banyak film, khususnya film Riri Riza, kok film kali ini perpindahan dari satu adegan ke adegan berikutnya agak tidak smooth yah?

Kembali  mengulang kalimat awal di tulisan ini, “Tidak semua produser dan sutradara membuat film untuk kepentingan komersial semata”.  Keberanian Riri Riza mengajak pemain-pemain lokal yang masih minim kemampuan akting, membuat saya menangkap bahwa Riri Riza tidak berorientasi komersil. Riri Riza lebih ingin mengajak penonton mengenal Atambua dan kondisinya pasca berpisahnya Timor Timur.

Saya yakin penonton amat bisa menangkap tujuan Riri Riza itu. Cuma…, jangan berharap nonton film ini, senyaman nonton Kuldesak atau Laskar Pelangi yaaah. Untungnya Riri Riza pandai memanipulasi kekurangan pemainnya dengan mengurangi adegan yang mengharuskan dialog, dan lebih banyak ke acting. Smart.

Dominasi pemeran Johanes, bapaknya si Joao, cukup bisa mengimbangi kekurangan pemain lainnya. Jujur, meski sedikit kecewa menonton film ini, karena pengambilan gambar dan suara nya, saya masih terobati dengan kejutan-kejutan dari alur cerita dan pesan-pesan yang ingin disampaikan, yang dibalut kisah cinta sepasang remaja yang tidak seperti biasanya.

Bukan Riri Riza kalau tidak menyimpan kesan seusai nonton. Setidaknya itu menurut saya. Dari sederetan kekecewaan, saya lumayan terkesima dengan serentetan adegan upacara dengan budaya kristiani yang kental, yang ditampilkan film ini. Pasti lumayan susah menyiapkan yang satu ini. Hehehe.

Atambua sebagai kabupaten di perbatasan, digambarkan memiliki warga yang terdiri dari pengungsi-pengungsi. Banyak diantara mereka yang terpisah atau melepas anaknya pergi. Film ini lebih menggambarkan bagaimana tingkat frustasi sebagian pengungsi tersebut.

Sulitnya mencari nafkah, trauma, kesedihan yang berkepanjangan karena kehilangan orangtua, semua tergambar. Bahkan tokoh utama, digambarkan sebagai seorang yang mengenali sosok ibu hanya lewat suara tape recorder, yang diputarnya berulang-ulang dengan menggunakan baterai yang harus dipanaskan di atas atap rumahnya.

Belum lagi, sosok bapak Joao yang digambarkan sebagai orang yang memegang teguh sumpahnya. Meski asli Timor, dia menolak untuk pulang karena telanjur mencintai Indonesia.  Negeri yang tidak menjanjikan kesejahteraan apa-apa buatnya.

Lumayan berfikir keras juga, saya mencoba menebak-nebak pesan yang ingin disamipaikan oleh film ini. Inti dari semuanya, ada di 10 menit terakhir film ini. Ketiga tokoh utama film ini, Joao, Nikia dan Bapak Joao mulai bertutur lewat adegan-adegan akhir, hingga film usai. Sebuah kisah cinta yang tak sampai akibat trauma pengungsian.

Ada tiga kalimat yang menggugah di film ini. Pertama, “rumah, jadi tak ada artinya bagi saya”. Kedua, “jadi semua ini dipertahankan, hanya karena kata kemerdekaan dan merah putih?”. Ketiga, “Tak ada bangsa atau negara manapun yang bisa mencabut asal usul seseorang. Dan saya orang Timor, tempat saya di Timor”.

Penasaran bagaimana kisah frustasi sebagian pengungsi dan seperti apa kisah cinta Joao dan Nikia yang rumit karena trauma-trauma yang mereka miliki ? Silahkan nonton sendiri film nya.