Categories
Voluntary

Hujan dan Baju Tak Berlengan

Hujan dan Dresscode Merah Putih Nunu
Hujan dan Dresscode Merah Putih Nunu

Ini gara-gara Nunu. Saat rehat untuk sholat ashar, Ancu Lebug melempar tawa kecilnya ke Nunu, yang datang paling belakang di kelas nulis blog relawan.
“Dresscode-nya merah putih, di’?”Lebug melempar tanya

Nunu hanya bisa menjawab dengan tawa lebar. Anak satu ini,

Categories
Voluntary

Dari 50 menuju 500

Beranda Blog Uchi
Beranda Blog Uchi

Dapat tugas review blog teman sesama peserta program Nulis Bareng Sobat. Karena pemilihan blognya berdasarkan urutan peserta, maka otomatis saya dapat bagian kepo-in blognya Uchi.

Tiap berkunjung ke sebuah blog, perhatian pertama saya akan jatuh pada desain blognya. Begitu mengklik link rahmanfauziah.blogspot.co.id, saya disambut dengan theme sederhana dan wiget comel bergambar kelinci lucu.

Categories
Jejak di 100 Sekolah Voluntary

Haruskah siswi madrasah berjilbab?

Seorang siswi sedang mengerjakan tugas
Seorang siswi sedang mengerjakan tugas

Sumpah! belum juga tiba di sana, saya sudah membayangkan akan bertemu siswi-siswi berjilbab dengan wajah lugu. Tapi saya tak menemui satu orangpun yang berjjilbab, kecuali guru-gurunya. Bukankah ini madrasah?

Harus melalui sebuah punggung tanggul penahan sisi muara sungai di Paotere, untuk berkunjung ke madrasah tersebut. Meski Sultan, teman relawan, menyatakan sudah melapor ke kepala madrasah, tapi saya berupaya menahan diri untuk tidak masuk, sebelum siswa-siswa Sekolah Alam Bosowa tiba di lokasi. Ssst, alasan lainnya adalah karena saya melihat Dede dari kejauhan,

Categories
Inspiration Voluntary

Relawan?

Relawan Anak

“Bisakah seseorang berhenti menjadi relawan? Saya kira, tidak,” demikian tanya yang dilontarkan ke saya oleh seorang Relawan, Ica. Waktu itu, kami bertemu di workshop perencanaan program komunitas Sobat LemINA.

Ia memang sering menanyakan hal yang tak terduga dan kadang memaksa saya berfikir sejenak sebelum menjawab.
Riri, seorang teman, sesama relawan juga, bantu menjawab “Seperti halnya kesabaran, ada batasannya, begitupun dengan kerelawanan. Tapi bukankah menjadi relawan adalah panggilan jiwa?”

Sesungguhnya ada beberapa macam relawan yang saya ketahui. Mungkin yang dimaksud oleh teman saya ini, adalah relawan event.

Categories
Uncategorized Voluntary

Ajarkan Konsekuensi, Bukan Hanya Memarahi

Sabtu ini, saya menjadi Relawan Pengganti karena Atifah, Mutiah, Hendra dan Dilla, tak satupun yang bisa datang. Sebelum menuju sekolah, saya sudah dapat info dari Atifah jika hari ini kelas IVA bergabung dengan kelas IVB, belajar dalam ruangan yang sama.

Waduh, terlintas bagaimana rusuhnya kelas hari ini.

Sebelumnya, saya sudah pernah mendampingi sobat-sobat kecil di SDN Sungguminasa IV ini. Namun belum menghapal nama-nama mereka, apalagi kemajuan mereka dalam menulis.

“Saya harus mohon ijin dulu ke Guru Wali sebelum masuk kelas,” batin saya. Meski Atifah sudah menginformasikan ke Ibu Guru bahwa yang akan hadir hari ini adalah saya dan Samsir, namun penting bagi saya tuk memperkenalkan diri.

Saya tiba tepat di jam istirahat. Butuh sekitar 10 menit untuk bertanya dan menemukan ibu Guru Wali kelas IVB. Tatkala bertemu beliau di kantin sekolah, saya dikenalkan dengan wali kelas IVA. Ya, hari ini kedua kelas tersebut bergabung dalam satu ruangan. Mendadak galau saat teringat hal itu lagi.

Sangat menghargai tamu. Itu gambaran saya tentang Ibu Wali Kelas IVB yang dengan ramah menyapa saya, bahkan sampai mengantar ke ruang kelas nya. Anak-anak masih istirahat, mereka akan masuk lagi di jam 11.30, Ibu Wali menjelaskan sambil mempersilahkan duduk.

Sebenarnya saya sudah berencana berbasa basi dengan menanyakan mengapa kelas IVB digabung dengan kelas IVA, namun Ibu Wali sudah mendahului. Hari ini anak-anak dari dua kelas digabung jadi satu, karena minggu ini banyak tanggal merahnya. Saya hanya mengangguk sambil senyum dan berkata “oh begitu ya, bu”.

Mencoba bertanya dalam hati, menjurus ke protes, apa hubungannya yah antara banyak tanggal merah dan menggabungkan dua kelas menjadi satu? Tapi sudahlah. Toh, anak-anak ini sudah menatap penuh tanya ke saya, ketika saya mulai duduk di depan, di meja guru.

Ibu mau mengajar di sini?” seorang siswi maju ke depan dan bertanya. Saya mengiyakan dan mencoba mengenali wajahnya. Ah, pasti siswa kelas IVA. Seingatku, belum pernah melihat wajahnya sebelumnya.

Kak, mana temanta’ ?, sendirian jaki’ mengajar?” seorang siswi lain berlari dari luar kelas menuju ke saya. Nah, kalau yang ini, pastilah siswa kelas IVB. Salah satu yang membuatku betah ke Sekolah Dasar, baik di Takalar maupun di Gowa, kecuali sekolah anakku, adalah karena anak-anak ini memangglku dengan panggilan kakak, padahal mungkin ibu mereka seumuran dengan saya. Huu, gede rasa.

Samsir datang beberapa menit setelah saya memulai kelas. Sungguh padat kelas kami. Beberapa kali saya menegur dua orang siswa yang duduk di atas bangku. Ternyata mereka tidak kebagian kursi, jadi memilih duduk di atas bangku. Duh, pelajaran menulis hari ini, pastilah tidak maksimal.

Agar mereka fokus ke saya, saya memulai dengan menginformasikan bahwa saya akan membacakan sebuah tulisan singkat yang berjudul SAHABAT. Mereka harus menyimak dan nantinya harus menjawab pertanyaan yang akan saya ajukan.

Sepertinya cara ini berhasil karena mereka fokus mendengarkan, meski beberapa diantaranya banyak yang nyeletuk bercanda. Tingkah mereka mengingatkan saya dengan ulah saya di pelatihan-pelatihan, yang juga kadang nyeletuk tuk memancing tawa, biar suasana belajar tidak kaku. Mungkinkah siswa-siswa inipun bertujuan seperti saya?

Menghadapi siswa sekitar 40-50 orang ini, lumayan menguras energi dan membuat kerongkongan kering. Kenapa juga harus digabung. Saya masih protes dalam hati.

Samsir pun terlihat stress meski masih senyum-senyum. Sesekali ia berteriak “perhatikan”, “jangan ribut”, “kenapa pukul temannya?”. Malah sempat nada bicaranya sudah mulai dibuat meninggi karena anak-anak ini sudah mulai keterlaluan. Saya mencoba menahan diri untuk tidak menampakkan kemarahan. Padahal sumpah, sudah emosi.

Proses tanya jawab berdasarkan cerita singkat yang saya bacakan, dijawab dengan baik oleh anak-anak. Jawaban mereka saya tuliskan di papan untuk memudahkan mereka mengingat point-point apa saja yang diceritakan dalam tulisan tadi.

Untuk meminimalkan gaduhnya kelas dan ulah iseng beberapa siswa, saya menyegerakan meminta mereka menulis tentang sahabatnya masing-masing.

Saat membagikan kertas, anak-anak seperti sebelumnya, rebutan. Jika yang lalu rebutan bukunya cuma sekitar 20-30 siswa, hari ini sekitar 40-50an siswa yang rebutan kertas dari tangan saya. Ya ampun. Yang sabar yah, Bunga.

Bisa panjang sekali tulisan ini, jika saya harus menuliskan detil satu persatu suasana dan ulah anak-anak saat menulis cerita.

 

Memilih Menulis di Lantai
Memilih Menulis di Lantai

Andai saja ada yang merekam peristiwa di kelas hari ini, pasti akan bisa menonton video bagaimana Samsir dan saya secara bergantian memasang wajah kesal, lalu tersenyum kecut, lalu kemudian tertawa tuk mengobati kedongkolan.

Siswa paling tinggi di kelas IVB ini, takkan pernah bisa duduk tenang di bangkunya. Saat siswi yang diganggunya berteriak, saya coba mendekatinya dan bertanya, mengapa ganggu temannya. Si tinggi ini cuma menjawab cuek “tidakji”.

Menghindari memperpanjang, sayapun menanyakan siapa sahabatnya. “Ian, eh Udo”. Duh, anak ini asli galau. “Ayo,tulis tentang sahabatmu itu, yang lain menulismi tawwa” saya berusaha mengajak dengan nada seriang mungkin. Benar saja, anak ini mulai duduk dan menulis. Namun tidak berlangsung lama. Beberapa menit kemudian dia mulai lagi bangkit dan menuju bangku teman-teman perempuannya.

Bros flanel berbentuk pita milik teman-temannya diambil paksa dan ia kenakan di seragam pramukanya. Sudahlah. Saya skip saja. Mending fokus ke siswa yang serius belajar menulis.

Si Tinggi dan Bros Pita Rampasannya
Si Tinggi dan Bros Pita Rampasannya

Seorang siswa bernama Sahrul, yang duduk paling depan, kemudian menyita perhatian saya. Ia dan teman sebangkunya, Akbar, nampaknya tidak peduli dengan teman-temannya di belakang yang sibuk bermain, saling ganggu dan teriak-teriak.

Sahrul dan Akbar menulis dan sesekali ngobrol, lalu menulis lagi. Setelah tulisan mereka berdua selesai, mereka tukaran tulisan dan membacanya bersama. Syukurlah, masih ada yang serius menulis di kelas yang sesak dengan siswa di hari ini.

Syahrul dan Akbar
Syahrul dan Akbar

Pukul 12.15. Beberapa siswa sudah mulai mengumpulkan tulisan mereka. Anak bertubuh gendut yang beberapa minggu lalu, rajin mengumpulkan tandatangan semua relawan, hari ini duduk paling belakang dan matanya mulai jelalatan mengamati temannya. Saya sengaja menunggu aksi apa yang direncanakannya.

Seperti perkiraan saya, karena ia duduknya di sebelah Si Tinggi, pastilah ia tidak menulis hari ini. Tapi, anak ini maju ke saya dan membawa sebuah tulisan. “ini punyaku” katanya sambil menyerahkan tulisan ke saya. Mencurigakan. Saya langsung meneliti kertas yang ia serahkan. Hei, ini tulisan temanmu, nama perempuan. Dia berbalik sebentar sambil tertawa dan berlari menuju bangkunya. Iseng benar anak ini.

Saat beberapa anak rebutan menyetor tulisan, Si anak bertubuh gendut itu, muncul lagi dan menyerahkan kembali selembar kertas. Duh, kali ini masih tetap saja kertas temannya yang ia setor.

Belum seberapalah tingkah iseng Si Gendut dan Si Tinggi. Terpaksa memanggilnya demikian, karena saya lalai untuk menanyakan nama keduanya.

Di barisan siswa kelas IVA tiba-tiba rusuh. Mereka memukul-mukul bangku dan menyusul keributan dengan saling lempar bola kertas ke arah teman-teman perempuan dari kelas IVB. Tak mau kalah, teman-teman perempuannya pun balas melempar. Rusuh…rusuh.

Samsir mulai melarang dengan nada tinggi, tapi anak-anak ini tak mau berhenti. “Biarkan saja. Kita tunggu sampai mereka puas” kataku ke Samsir.

Saya hanya berdiri terdiam di depan sambil mengamati mereka saling lempar. Hingga ada yang menyadari dan berteriak meminta temannya menyudahi.

Lempar melempar berhenti total ketika Ibu Wali masuk ke kelas. Mereka duduk manis, meski masih tertawa-tawa kecil. “Masih ada yang mau lempar-lempar bola kertas?” saya menanyakan dengan suara keras. Ayo, sekarang lempar-lemparan dan tidak usah pulang. Saya menantang mereka, tapi tak ada yang bergeming.

Sebelum menutup pelajaran dan meminta mereka pulang, saya memamerkan 5 lembar sticker ke mereka. Semua spontan teriak, meminta sticker saya.

Sticker ini hanya untuk 5 orang yang menulis, yang duduk di kursi bukan meja, yang tidak mengganggu temannya, dan tidak lempar-lempar kertas” saya menegaskan dengan suara super keras.

Saya memilih 5 orang anak untuk mendapatkan sticker ukuran 10x10cm dari saya.

Bagi saya, mengajarkan mereka konsekuensi dari perbuatan, masih lebih penting daripada menghabiskan suara tuk teriak-teriak memarahi mereka saat ribut dan berbuat nakal di kelas. Anak-anak sebenarnya sudah pandai untuk diajak berfikir.

Mereka pasti menyadari bahwa karena perbuatannya yang tidak seharusnya, mereka tidak bisa memperoleh sticker seperti temannya yang lain. Hal ini terbukti dari seorang anak yang tidak berhenti mengekori kami saat keluar kelas hingga menuju ke motor.

Ia tak berhenti mengeluh karena tak dapat sticker. Saya sarankan untuk menulis di dua minggu depan. Meski terlihat belum puas, namun ia sepertinya bisa menerima dan kemudian berlari melalui pagar besi pekarangan sekolah.

Satu hal yang kami syukuri, karena penggabungan dua kelas ini, hanya di hari ini saja. Maka bersyukurlah sobat-sobat Relawan yang bertugas di dua minggu depan karena tidak harus berhadapan dengan begitu banyak anak.

Categories
Inspiration Voluntary

9 Kab/Kota Di SulSel Tertular Virus KI

Setelah pelaksanaan pertama kali di Makassar pada tahun lalu, laksana virus, Kelas Inspirasi Makassar menular ke 8 Kab/Kota lainnya di Sulawesi Selatan, yakni Kabupaten Gowa, Takalar, Bantaeng, Pinrang, Pangkep, Palopo, Enrekang dan Maros.

Pada rapat pertama di Desember 2013, untuk pelaksanaan Kelas Inspirasi SulSel yang dilaksanakan di warung Pisang Nugget, sebenarnya ada beberapa teman merasa kurang yakin untuk melaksanakan Kelas Inspirasi dalam skala SulSel. “Baru 3 atau 4 kabupaten yang menyatakan siap melaksanakan, apa tidak aneh jika kita menyebut sebagai Kelas Inspirasi SulSel dengan jumlah sedikit seperti itu?” Demikian pertanyaan seorang relawan panitia yang hadir.

Pertanyaan itu kemudian dijawab dengan optimisme oleh teman-teman yang lain. Kami semua yakin bahwa Kelas Inspirasi selalu mengandung keajaiban dalam proses persiapannya. Rapat hari itupun memutuskan pelaksanaan Kelas Inspirasi untuk tahun ini, diberi nama Kelas Inspirasi Sulawesi Selatan.

Pertemuan berikutnya untuk sosialisasi dan penyusunan relawan panitia dilaksanakan 3 hari setelah rapat pertama. Rentang waktu tiga hari sebelum rapat tersebut, ternyata teman-teman telah menebarkan virus Inspirasi ke orang-orang, baik secara langsung maupun melalui media sosial. Hasilnya, pada rapat akhri Desember 2013 di kantor BaKTI tersebut, telah ada 9 kab/kota yang menyatakan siap menyelenggarakan Kelas Inspirasi. Alhamdulillah, ketulusan itu menular hanya dalam 3 hari saja.

Di pagi hari 5 Maret 2014, sebanyak 551 orang Relawan Profesional secara serentak di 9 kab/kota SulSel menuju ke Sekolah-sekolah Dasar untuk mengajar di kelas. Mereka menemui ribuan anak-anak di ratusan kelas di SulSel. Mereka datang sebagai relawan, tanpa dilayani, membawa peralatan sendiri untuk mengajar, membawa makanan sendiri, tanpa uang transportasi, tanpa uang saku, bahkan tanpa sertifikat sekalipun.

Anak-anak itu terinspirasi oleh para profesional yang menjadi guru sehari mereka, Guru-guru terinspirasi dari para Profesional dan para Profesional pun terinspirasi oleh anak-anak yang mereka temui. Kita semua saling menginspirasi dan terinspirasi secara bersamaan.

Memindahkan Bilik Siaran ke SD~Kelas Inspirasi Bantaeng
Memindahkan Bilik Siaran ke SD~Kelas Inspirasi Bantaeng
Dari Gunung menjadi Bubuk Semen~Kelas Inspirasi Pangkep
Dari Gunung menjadi Bubuk Semen~Kelas Inspirasi Pangkep
Dokter Bedah Menginspirasi~Kelas Inspirasi Gowa
Dokter Bedah Menginspirasi~Kelas Inspirasi Gowa

Kelas Inspirasi memperkuat rasa percaya kita semua bahwa masih begitu banyak orang yang peduli kepada Pendidikan. Banyak orang yang peduli, banyak pula yang tergerak, namun tak semua bergerak untuk ambil bagian.

Berminat tuk bergabung. Ayo cek pendaftaran di Kota lain melalui www.kelasinspirasi.org

Langkah jadi Panutan, Ujar Jadi Pengetahuan, Pengalaman Jadi Inspirasi

Categories
Inspiration Voluntary

Briefing Kelas Inspirasi Gowa-Takalar

Kelas Inspirasi untuk pertama kali akan diselenggarakan di Kab. Gowa dan Takalar. Sejak awal penyiapan Kelas Inspirasi di Januari lalu, teman-teman Relawan Panitia selalu optimis bisa mengajak para profesional untuk cuti sehari dan hadir di Sekolah-sekolah Dasar untuk bercerita tentang profesi mereka, guna menginspirasi anak-anak bercita-cita tinggi.

Kami percaya bahwa masih begitu banyak orang-orang yang peduli pada pendidikan Indonesia. Harapannya, anak-anak dapat terinspirasi dari cerita para Profesional yang turun langsung ke Sekolah-sekolah Dasar tersebut dan para Profesional pun dapat melihat langsung kondisi pendidikan dasar kita dan merasakan bagaimana menjadi guru sehari.

Hingga penutupan pendaftaran, tercatat sebanyak 67 orang relawan profesional, 12 orang relawan fotografer dan 4 orang relawan videografer yang mendaftar untuk kabupaten Gowa melalui website Kelas Inspirasi. Hasil seleksi kemudian meloloskan 64 orang Relawan Pengajar, 12 Fotografer dan 4 Videografer.

Hari Inspirasi jatuh pada 5 Maret 2014, serentak di 9 kabupaten/kota di Sulawesi Selatan. Untuk Gowa sendiri, akan diselenggarakan pada 10 Sekolah Dasar dan untuk Takalar di 5 Sekolah Dasar Kab. Takalar.

Guna persiapan hari inspirasi tersebut, kami menyelenggarakan Briefing Kelas Inspirasi pada tgl. 1 Maret 2014 . Seluruh Relawan diundang untuk menyiapkan Hari Inspirasi melalui briefing ini. Briefing ini bertujuan agar semua Relawan kembali diingatkan tentang nilai-nilai dasar yang kita jalankan dalam Kelas Inspirasi, pembagian penempatan tim pengajar berdasarkan sekolah dan diskusi menyusun rencana mengajar bersama dalam tim.

Briefing Relawan Pengajar & Dokumenter
Briefing Relawan Pengajar & Dokumenter

Lokasi briefing kami di Aula PKG SDN Limbung Puteri. Aula baru yang belum diresmikan ini, cukup luas untuk menampung semua Relawan yang hadir dari Gowa dan Takalar. Pemilihan tempat ini setelah mempertimbangkan jumlah orang yang akan hadir dan karena berada di tengah-tengah, antara Gowa dan Takalar.

Ibu Kepala SDN Limbung Puteri, sempat khawatir dan merasa serba salah ketika menyadari aula hanya dilengkapi dengan dua buah kipas angin saja. Seorang Relawan Panitia kemudian membisikkan kepada beliau bahwa para Relawan Profesional dan Dokumenter yang hadir, adalah orang-orang yang sudah terbiasa duduk dalam ruangan ber-AC. Saatnya mengajak mereka merasakan langsung ruangan yang digunakan oleh guru-guru Sekolah Dasar untuk berdiskusi merencanakan pembelajaran bagi tunas-tunas bangsa.

Pukul 09.00 wita tepat, Briefing dimulai dengan menyanyikan bersama Lagu Indonesia Raya.  Sungguh sebuah momen yang langka dan mengharukan, berdiri diantara lebih dari Seratus Relawan dari berbagai profesi, di dalam sebuah ruangan, menyanyikan Lagu Kebangsaan.

Mendidik adalah tugas orang terdidik. Para profesional yang merupakan orang-orang terdidik, nampak sangat antusias menyaksikan video pelaksanaan Kelas Inspirasi di daerah lain, yang diputar saat briefing. Video-video tersebut menggambarkan bahwa tak susah untuk ambil bagian pada pendidikan. Kita semua bisa menginspirasi anak-anak dengan bercerita tentang profesi dan mendorong mereka untuk mandiri, jujur, disiplin dan bekerja keras penuh semangat untuk menggapai cita-cita.

Relawan Panitia Kelas Inspirasi Gowa-Takalar
Relawan Panitia Kelas Inspirasi Gowa-Takalar

Hal yang menarik dari pelaksanaan Briefing Kelas Inspirasi ini adalah ketika beberapa orang Dokter Gigi datang ke lokasi briefing dan meminta didafftar sebagai Relawan Pengajar. Meski pendaftaran telah ditutup, tim pengajar telah disusun dan briefing sedang berlangsung, kami menyambut niat baik dan tulus mereka dengan mempersilahkan untuk registrasi dan ikut dalam diskusi kelompok.

Briefing ditutup pada pukul 12.00 siang,  setelah semua lesson plan dan jadwal observasi ditetapkan oleh masing-masing Tim sekolah.

Selamat menginspirasi rekan-rekan Relawan. Anak-anak di sekolah telah menanti para guru sehari mereka.

Think Big, Start Small, Act Now. Salam Inspirasi!

Categories
Diary Inspiration Voluntary

Satu Jam Jaga Stamina Bersama Anies Baswedan

“Senang sekali bisa bertemu dengan teman-teman” ucapnya begitu bergabung dengan teman-teman yang sudah menunggu di lobby Hotel Aryaduta Makassar. Karena terkesima, teman-teman agak telat ambil posisi duduk masing-masing. Dan saya amat senang bisa mendapat posisi strategis duduk berhadapan dengan tokoh yang selalu menghiasi wajahnya dengan senyum ini.

Karena tepat berhadapan dengan saya, maka seolah beliau hanya ngobrol dengan saya. Meski kenyataannya tidak seperti itu. Menyenangkan diri sendiri , boleh kan?

Ekspresi wajah pak Anies Baswedan persis sama ketika bertemu saya dan mbak Jowvy di auditorium Unismuh dua jam lalu. Masih antusias dan penuh perhatian ke kami. Mungkin beliau terkesan karena di Timur Indonesia pun, kita mulai bergerak.

Memulai pembicaraan dengan mengenalkan teman-teman yang hadir, dari relawan pengajar Kelas Inspirasi hingga ke adik-adik penyala Makassar.

Beliau membuka dengan sebuah tanya “bagaimana kelas inspirasi kemarin?”.  Lalu kamipun bercerita singkat tentang pengalaman kami terlibat di dalamnya.

Begitu banyak hal yang beliau sampaikan, yang membuat tangan saya ingin menyelinap ke ransel tuk mengambil buku dan pulpen. Tapi saya khawatir ketinggalan pembicaraan.

Satu jam bersama Pak Anies Baswedan
Satu jam bersama Pak Anies Baswedan

Ketulusan itu Menular

Kelas Inspirasi, yang dulunya hanya dilaksanakan di Jakarta, kini sudah mulai dilaksanakan di banyak kota. Salah satunya Makassar. Pak Anies menuturkan bahwa gerakan-gerakan kecil yang kita lakukan, jika dituliskan, disebarkan, maka akan menjadi pemantik bagi yang lain untuk ikut bergerak.

“Ketulusan itu menular”, ucap beliau.

Ucapan beliau mengingatkan saya ke awal-awal kelas inspirasi digagas di Makassar. Kita agak khawatir apakah para profesional akan tertarik tuk turun ke sekolah-sekolah dasar?. Ini Makassar, bukan Jakarta, yang sudah melaksanakan Kelas Inspirasi untuk kedua kalinya.

Tetapi ketulusan rupanya benar-benar menular. Bukan hanya di Kelas Inspirasi 28 Maret 2013, tapi juga bahkan setelah hari tersebut, banyak dari kita mulai bergerak. Kegiatan Pack Your Spirit Penyala Makassar adalah salah satu bukti bagaimana ketulusan itu menular. Kita menggerakkan lebih dari 100 orang tuk berdonasi buku.

Bahkan perusahaan Bosowa pun memulai kerjasama dengan kita dengan bantuan buku serta biaya pengiriman ke lokasi-lokasi sasaran Penyala Makassar.

Mengajar Itu Addictive

Masih tentang kelas inspirasi, kami semua yang duduk bersama pak Anies kembali tertawa kecil, ketika beliau bercerita kisah unik tentang  sebuah BUMN yang meniru kelas inspirasi.

Ada seorang direktur BUMN, diharuskan untuk berdiri di depan kelas, dimana dia dulunya bersekolah. Adalah merupakan kerepotan luar biasa bagi dirinya, ketika harus naik kereta, atau naik bus tuk menempuh perjalanan menuju sekolahnya.

Pak Anies memaparkan bahwa ternyata di sekolah bapak tersebut, bapak itu adalah kebanggaan. Orang sekampungnya bangga bapak itu menjadi direktur BUMN dan lucunya, bapak itu tak pernah menyadarinya.

“Dua minggu setelah itu, bapak yang awalnya tidak semangat mengajar di sekolahnya itu, datang ke kantor Indonesia Mengajar, hanya sekedar untuk mengatakan bahwa ia akan kembali lagi mengajar” Pak Anies bercerita dengan memberikan penekanan.  “Memang mengajar itu addictive” beliau berucap setengah menggumam sambil menganggguk-angguk. Sayapun ikut mengangguk-angguk.

Mengajar memang menyenangkan, bagi mereka yang memiliki ketulusan. Masih selalu terbayang, bagaimana teman-teman profesional begitu bersemangat saat mengajar di depan adik-adik sekolah dasar, yang kemudian membuat kamipun (relawan penyelenggara) menjadi lebih bersemangat menyiapkan briefing dan refleksi bagi teman-teman relawan.

Yang penting adalah mengajarnya, bukan sarananya. “Kita mungkin sudah lupa, apakah dulu kita belajar pakai kapur atau spidol, black board atau white board. Yang selalu kita ingat adalah siapa yg mengajar kita” ucap Pak Anies.

Kembali ke bulan Maret lalu, satu hal yang sempat membuat saya kesulitan saat harus menarik kesimpulan dari hasil diskusi di refleksi Kelas Inspirasi Makassar adalah ketika harus menyimpulkan hasil identifikasi teman-teman relawan. Saya khawatir jika kemudian kelas inspirasi lah yang diminta untuk menyelesaikan masalah-masalah yang diidentifikasi tersebut. Duh, mengapa harus identifikasi masalah yah? Bukan identifikasi potensi?

Seperti kata Pak Anies di siang ini “Kita-kita ini, sering berharap orang lain yang menyelesaikan masalah yang kita identifikasi”. Mungkinkah kita yang menyelesaikan masalah yang kita identifikasi sendiri? Jawabnya ada pada masing-masing teman.

Repot Itu Baik

Sumpah! Tak bosan mendengar tutur tokoh inspiratifku ini. Meski sesekali kami menjawab pertanyaan beliau atau bercerita pengalaman gerakan teman-teman di Makassar, tapi kami lebih memilih mendengar beliau bertutur.

Seorang  teman Penyala, Dimas, menyampaikan ke beliau tentang pengalaman mengantarkan buku ke lokasi Pengajar Muda di Majene. Beliau kemudian menimpali dengan berbagi pengalaman seorang pelajar Indonesia di London yang ingin mengirimkan buku untuk anak-anak di lokasi terpencil.

Pelajar tersebut menghubungi Indonesia Mengajar untuk membantunya mengirimkan buku-buku yang akan ia sumbangkan. Tapi Indonesia mengajar tidak bisa membantu untuk mengirimkan buku itu. Ia hanya dibantu untuk dihubungkan dengan guru di sebuah desa.

“Mereka kita ajak repot. Dia yang berkomunikasi dengan guru di Indonesia, dia pula yang mengirimkannya sendiri. Repot kan? Sama seperti teman-teman yang repot-repot mengirim buku ke Majene” ucap Pak Anies.

“Repot-repot itu baik, jadi harus didorong repot-repot itu, jangan mau yang gampang aja” Pak Anies menegaskan disusul anggukan teman-teman.

Relawan itu Bukan Pekerjaan

Pak Anies menyambung ucapannya “ Ketika teman-teman repot-repot, orang di sana yang melihat, akan berkata, org itu tidak punya kerjaan lain kah? Sampai pada bawa buku kesini?”.

Kemudian beliau tiba-tiba bertanya ke Mbak Jowvy “anda bekerja dimana?” kemudian bertanya ke saya pula “kalau anda bekerja dimana?”.  Usai kami berdua menjawab, beliau lalu berkata “Nah, kita semua memiliki profesi, kita bekerja, tapi kita adalah relawan”.

Kembali, Pak Anies bercerita pengalaman seorang direktur yang menjadi relawan kelas inspirasi. Ketika sang direktur yang berperan sebagai relawan tersebut mengajak seseorang untuk ikut turun tangan, Sang direktur diminta oleh untuk ke kantor orang yang ia ajak tersebut.

Tatkala tukaran kartu nama, orang yang diajak tersebut spontan bertanya “Indonesi a Mengajarnya mana?”. Dan lebih kaget lagi ketika mengetahui bahwa yang dihadapannya adalah seorang direktur. Orang itu mengira bahwa sang direktur bekerja untuk mengajak orang-orang jadi relawan untuk Indonesia Mengajar.

“Kita adalah relawan, tapi pekerjaan kita bukan relawan, kita punya pekerjaan sendiri” beliau menutup cerita tentang sang direktur.

Jaga Stamina

Satu hal yang dipesankan oleh Pak Anies di silaturrahmi beliau bersama teman-teman relawan KI dan Penyala Makassar adalah bahwa kita semua harus jaga stamina. “Jaga staminanya dengan cara kita sering kumpul-kumpul. Karena kita akan bisa bergerak jika bersama”. Stamina yang dimaksud tentunya stamina kerelawanan dan ketulusan kita.

Saya lupa, di bagian mana beliau berucap tentang bekerja di pelosok, yang masih tertangkap di memeori saya adalah ketika beliau menyatakan bahwa ada yang pernah bertanya ke beliau, mengapa harus membantu yang jauh, sementara ada yang dekat untuk dibantu.

Beliau lalu menjawab “Jarak kita ke Indonesia semua sama. Dimanapun tempatnya. Tidaklah adil jika menghitung jarak dari kita berdiri ke tempat lain di sana”

Buku Makassar Menyala

Pak Mahmud Ghaznawie, Dekan Fakultas Kedokteran Unismuh mendekati kami dan mengangguk tersenyum, seolah beri kode bahwa sudah waktunya beliau meminta Pak Anies bergabung di acara mereka.

Jam sudah menunjukkan pukul 14.05 Wita. Pak Anies harus beranjak dari kami. Buku Makassar Menyala kami sodorkan ke beliau. Tanya dari beliau kemudian terlontar “Ada penulisnya hadir di sini? Tolong tandatangani”. Wuiih senangnya bisa beri ole-ole buku sederhana dengan tandatangan kepada orang yang menjadi inspirator bagi kami semua.

Kami mengantongi dua tawaran menarik dari beliau, ikut di festival Indonesia Mengajar di Oktober nanti dan menyelenggarakan Kelas Inspirasi Makassar di September, dan beliau akan hadir saat briefing. Hayo, mau menerima tawaran beliau?

Satu jam yang menyuntikkan energi luar biasa bagi kami, telah usai. Terima kasih atas kesediaannya bersilaturrahmi dengan kami.

Yang takkan lepas dari kepalaku adalah pernyataan beliau “Ingat teman-teman, kita sedang merancang masa depan, pendidikan adalah alatnya, bukan tujuan akhirnya”.

Sebuah pesan singkat di handphone saya terima dari beliau di malam hari, saat beliau landing di Jakarta, Let’s get it rolls bigger, stronger and wider for our nation.

Salam Inspirasi!

Bersama Pak Anies Baswedan
Bersama Pak Anies Baswedan
Pak Anies bersama Relawan Kelas Inspirasi dan Penyala Makassar
Pak Anies bersama Relawan Kelas Inspirasi dan Penyala Makassar
Categories
Voluntary

Komunitas Untuk Senyum Anak Indonesia

Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedelapan.

Tiap orang memiliki alasan-alasan berbeda ketika memutuskan bergabung dalam sebuah komunitas. Beberapa orang memiliki alasan bergabung karena memiliki visi dan tujuan yang sama, atau karena komunitas tersebut telah memiliki anggota banyak, atau telah memiliki kegiatan rutin, atau justru karena komunitas tersebut amat terkenal.

Namun pengalamanku berbeda. Saya justru ikut membentuk sebuah komunitas di awal, mengajak teman sekitar membantu kami tanpa harus bergabung dan memastikannya tetap berjalan hingga kini.

Semua diawali ketika saya dan keempat teman yang berbeda kantor, berbeda latar belakang pendidikan, bahkan berbeda kabupaten, ngobrol santai tentang kegiatan kami masing-masing. Lalu kemudian kami menyadari bahwa kami berlima memiliki kesamaan dan punya satu tanya yang sama pula, yang akhirnya menjadi alasan utama kami membentuk sebuah komunitas kecil.

Kami berlima bekerja untuk program pemberdayaan masyarakat. Meski beda program, beda lokasi kerja, tapi kesamaan kami adalah kami bekerja untuk masyarakat, memastikan masyarakat berdaya tanpa bergantung penuh kepada masyarakat dan menggalang swadaya dari masyarakat untuk membangun kampung halamannya.

Entah bagaimana, tiba-tiba muncul pertanyaan diantara kami berlima, apakah kami bisa bekerja untuk masyarakat tanpa digaji, tanpa bantuan dari sebuah lembaga besar dan pemerintah?.  Sebuah tanya yang membuat kami memulai diskusi-diskusi panjang. “Kita memiliki beban moril kepada bangsa. Bisakah kita bekerja tanpa digaji ?” seorang teman melayangkan pernyataan tersebut.

Lalu kita mau melakukan apa? Kita berlima bukanlah pengusaha yang berpendapatan tinggi dan belum berlebih. “Apakah harus jadi orang kaya dulu?” tanya itusempat muncul pula.

Kamipun memutuskan melakukan sesuatu dengan berbasis dari kekuatan yang masing-masing kami miliki. Hingga kemudian diputuskan membentuk sebuah komunitas yang bertujuan mempersiapkan generasi akan datang yang lebih baik. Ya, sebuah komunitas yang bertujuan agar Senyum Anak Indonesia selalu terkembang.

Tanpa bermimpi tinggi, kami mencoba melakukan sesuatu yang sederhana, mudah dilaksanakan, tanpa biaya besar tapi tetap memiliki manfaat  bagi anak-anak Indonesia. Khususnya mereka yang marginal, kurang mampu, dan belum tersentuh oleh Pemerintah atau pihak lain.

Salah satu kegiatan andalan kami adalah Seragam Tuk Sobatku. Kami selalu berfikir bahwa meskipun pendidikan telah gratis, namun seragam sekolah dan perlengkapannya, tentu saja tidak.

Ketika komunitas lain menyelenggarakan pendidikan dan sekolah alternatif bagi anak-anak jalan atau pekerja anak. Kami memandang bahwa anak-anak yang memiliki orangtua dengan pendapatan rendah, tetapi berpendapatan rendah dan tetap bertahan untuk bersekolah, beresiko terancam memilih untuk putus sekolah dan bekerja di jalan.

Jika komunitas lain mendorong anak-anak jalan untuk bersekolah, maka penting bagi kami untuk melakukan pencegahan agar jumlah anak jalan bertambah, dengan jalan membantu seragam dan perlengkapan bagi mereka yang kurang mampu.

"Ayo Bermain Puzzle" di Hari Anak Nasional bersama sobat-sobat Pemulung
“Ayo Bermain Puzzle” di Hari Anak Nasional bersama sobat-sobat Pemulung

Setiap tahunnya di tgl. 23 Juli, kami memperingati Hari Anak Nasional dengan mengajak anak-anak bermain. Hanya bermain saja. Mengapa bermain? Karena salah satu dari hak anak adalah bermain.

Selama ini, anak panti asuhan lebih sering diajak ikut buka puasa bersama, makan bersama, pemberian bantuan, dan lain-lain. Kami coba melakukan hal lain. Tanpa memberi bantuan apa-apa, tapi kami mengajak mereka ke lapangan, hanya untuk bermain bersama. Bukankah mereka jarang diundang untuk bermain bersama?.

Hingga saat ini, kami telah bermain bersama anak-anak panti asuhan dan anak-anak pemulung di sekitar TPA Tamangapa.

Terik Matahari pun Masih Betah Bermain
Terik Matahari pun Masih Betah Bermain

Kami juga memasuki wilayah kesehatan. Bukan pengobatan gratis, bukan bagi-bagi obat, bukan pula penyuluhan yang membosankan. Lalu apa dong?. Sebuah pesan dari rekan sejawat, biasanya lebih mengena dan lebih termonitoring, maka kamipun memilik mengajak anak-anak sekolah dasar untuk berlomba Story Telling.

Isinya bukan dongeng biasa, tapi dongeng yang mengandung pesan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat. Kami menyediakan buku yang harus dibaca, yang kemudian mereka harus ceritakan ulang. Tokoh ceritanya binatang, sehingga alur cerita nya menarik dan lucu serta ringan untuk didengar oleh anak-anak. Dengan story telling, anak-anak lah yang menyampaikan pesan kesehatan kepada teman-teman mereka.

Lalu siapa yang mendanai kegiatan-kegiatan ini?. Sumber dana kami dari teman-teman relawan sendiri dan segelintir teman-teman yang peduli. Agak sulit mengajak orang untuk peduli di saat ini. Meski kami beberapa kali share di facebook atau melalui pesan singkat, tapi jumlah yang peduli masih amat bisa dihitung jari.

Kembali lagi, mungkin karena komunitas kami tidak se-terkenal yang lain. Tapi kami selalu berprinsip, tujuan kami bukan untuk dikenal, bukan untuk menjadi besar, tetapi untuk membuat anak-anak Indonesia selalu tersenyum.

Meski kegiatan kami belum setiap bulan, tapi saya menganggap kami telah memberikan yang terbaik dari kami. Mengingat kami cuma berenam dan menetap berbeda lokasi, yaitu di Makassar, Gowa, Bantaeng dan Luwu Utara. Sebuah pengorbanan besar, ketika teman-teman yang jauh dari Makassar, datang untuk berbagi bersama sobat-sobat kecil.

Satu hal yang saya suka dari komunitasku yang kemudian diberi nama Lemina ini, adalah kami menjunjung tinggi transparansi. Baik dalam hal pelaksanaan kegiatan maupun keuangan. Untuk menjaga transparansi dan kepercayaan teman-teman yang berdonasi, maka kami memutuskan harus memiliki rekening sendiri, bukan lagi rekening pribadi anggota.

Membuka rekening atas nama komunitas tidak segampang yang dibayangkan. Harus ada akte pendirian, ada NPWP, ada stempel dan lain-lain. Akhirnya komunitas kamipun dibuatkan akte pendirian. Aneh juga rasanya, sebuah komunitas memiliki akte pendirian melalui notaris.

Biar mudah, akhirnya komunitas ini berbentuk lembaga swadaya masyarakat, meskipun dalam pengelolaannya, kami amat berbeda jauh dengan sebuah LSM. Semua semata hanya untuk pembukaan rekening saja. Kami adalah komunitas relawan. Relawan yang mengeluarkan duit dan tenaga untuk anak-anak.

Membahas anak, khususnya Balita, maka peran Ibu amat penting. Kamipun memutuskan untuk menyentuh para ibu yang memiliki Balita. Hingga kini, baru satu kegiatan kami yang pemanfaatnya adalah ibu-ibu.

Hingga kini, kami masih berusaha mengajak teman-teman untuk berdonasi. Syukur-syukur jika mereka mau bergabung sebagai relawan di Lemina, dengan mengorbankan waktu dan tenaga mereka untuk senyum anak Indonesia. Kami melembagakan komunitas kami dengan nama Lembaga Mitra Ibu dan Anak (LEmina).

Bermain bersama Sobat-Sobat Kecil Kel. RomangLompoa Gowa
Bermain bersama Sobat-Sobat Kecil Kel. RomangLompoa Gowa
Categories
Book Voluntary

Menulis untuk Buku Makassar Menyala

Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu ketujuh.

Menerbitkan sebuah buku? Oh No! Bagaimana mungkin?. Saya menggelari diri sebagai seorang blogger pemula yang pasif, karena menulis di blog saja, sudah terseok-seok. Dengan gelar seperti itu, saya hanya berangan-angan, bisa menulis dengan teratur di blog saya. Bukan ikut menyantolkan tulisan saya dalam sebuah buku.

Tidak ah! Kali ini, saya tidak bisa ikut rencana teman-teman untuk menulis bersama. Malu-maluin saja kalau tulisan saya ikut menghias sebuah buku. “Saya kan baru saja belajar menulis,” saya beralibi.

Seorang teman saya, Fathul Qorib. Seorang backpacker, blogger aktif yang sudah menggunakan domain berbayar, dan telah menerbitkan sebuah buku yang berjudul Perempuan Pejalan Kaki. Dia memaksa semua teman untuk menyetor tulisan kepadanya.

Dia punya rencana besar menerbitkan sebuah buku. Buku yang kemudian disepakati oleh teman-teman, akan diberi judul Makassar Menyala. Buku tersebut, niatnya adalah sebuah buku antologi tulisan para Penyala Makassar.

Buku Makassar Menyala.
Buku Makassar Menyala.

Saya adalah salah seorang dari sekian puluh Penyala Makassar. Penyala Makassar adalah sebutan bagi orang yang menyalakan Makassar dengan buku-buku bermutu untuk anak-anak. Mengapa menyala? Karena anak-anak yang berakal budi disebabkan membaca buku bermutu, bagaikan ribuan bahkan jutaaan lampu yang menyalakan Makassar.

Kegemaran Penyala-penyala berceloteh panjang lebar di group atau ngobrol hingga larut malam di chat room Penyala, rupanya menarik perhatian Fathul untuk membuat sebuah buku. Keinginannya itu disampaikan di group dan spontan menyebabkan dia dilempari banyak pertanyaan.

Berbagai pertanyaan muncul, mulai dari menanyakan tema apa yang harus ditulis, apakah harus mengikuti tata bahasa yang baik, apakah boleh menulis dengan gaya santai, hingga minta tolong untuk dieditkan. Dan Fathul pun dengan sabar menjawab semuanya, sambil tentunya memberi motivasi super tinggi ke teman-teman, bahwa kami semua pasti mampu menulis.

Fathul, yang akhirnya menjadi editor untuk buku Makassar Menyala, meminta teman-teman untuk menulis, seperti ketika kami semua berkomentar tentang sebuah kegiatan di Penyala, peristiwa-peristiwa lucu di kopdar, hingga gosip yang dipaksa-paksakan hangat di chat room Penyala.

Beberapa minggu setelah Fathul menyampaikan permintaan tulisan di group, baru 1-2 orang yang menyetor. Fathul sampai berteriak-teriak minta semua segera menulis. “Baru berapa halaman niiih. Belum bisa dijadikan buku” seperti itu komplain Fathul di group.

Teman-temanpun mulai memasukkan tulisan satu persatu. Fathul mengeditnya dan sekaligus rajin share hasil editannya di group. Sepertinya sengaja dishare tuk memanas-manasi teman lain yang belum setor tulisan. Termasuk saya tentunya.

Membaca tulisan teman-teman di group, saya jadi membayangkan seperti apa nantinya buku tersebut. Sepertinya ada yang kurang. Nah lho, saya mulai tergelitik. “Makanya menulis dong, ” Saya menegur diri sendiri.

Dengan modal latihan menulis di blog, saya pun memaksakan diri menulis untuk ikut meramaikan buku Makassar Menyala, yang akan segera naik cetak di Februari 2013. Pikir saya, buku itu harus dilengkapi  dengan ulasan tentang sejarah awal hadirnya gerakan Makassar Menyala. Biar yang membacanya tidak bertanya-tanya.

Ngeblog ternyata melatih saya untuk menuangkan isi kepala saya ke dalam tulisan. Meski waktu itu, saya baru 3 bulan ngeblog dengan jumlah tulisan belum cukup 20, tapi saya rupanya mampu berkontribusi 2 tulisan untuk buku Makassar Menyala dan sebuah ulasan pendek tentang apa itu Makassar Menyala dan Penyala Makassar.