Hujan dan Baju Tak Berlengan

Hujan dan Dresscode Merah Putih Nunu

Hujan dan Dresscode Merah Putih Nunu

Ini gara-gara Nunu. Saat rehat untuk sholat ashar, Ancu Lebug melempar tawa kecilnya ke Nunu, yang datang paling belakang di kelas nulis blog relawan.
“Dresscode-nya merah putih, di’?”Lebug melempar tanya

Nunu hanya bisa menjawab dengan tawa lebar. Anak satu ini, -baca selanjutnya

Dari 50 menuju 500

Beranda Blog Uchi

Beranda Blog Uchi

Dapat tugas review blog teman sesama peserta program Nulis Bareng Sobat. Karena pemilihan blognya berdasarkan urutan peserta, maka otomatis saya dapat bagian kepo-in blognya Uchi.

Tiap berkunjung ke sebuah blog, perhatian pertama saya akan jatuh pada desain blognya. Begitu mengklik link rahmanfauziah.blogspot.co.id, saya disambut dengan theme sederhana dan wiget comel bergambar kelinci lucu. -baca selanjutnya

Haruskah siswi madrasah berjilbab?

Seorang siswi sedang mengerjakan tugas

Seorang siswi sedang mengerjakan tugas

Sumpah! belum juga tiba di sana, saya sudah membayangkan akan bertemu siswi-siswi berjilbab dengan wajah lugu. Tapi saya tak menemui satu orangpun yang berjjilbab, kecuali guru-gurunya. Bukankah ini madrasah?

Harus melalui sebuah punggung tanggul penahan sisi muara sungai di Paotere, untuk berkunjung ke madrasah tersebut. Meski Sultan, teman relawan, menyatakan sudah melapor ke kepala madrasah, tapi saya berupaya menahan diri untuk tidak masuk, sebelum siswa-siswa Sekolah Alam Bosowa tiba di lokasi. Ssst, alasan lainnya adalah karena saya melihat Dede dari kejauhan, -bacaselanjutnya

Relawan?

Relawan Anak

“Bisakah seseorang berhenti menjadi relawan? Saya kira, tidak,” demikian tanya yang dilontarkan ke saya oleh seorang Relawan, Ica. Waktu itu, kami bertemu di workshop perencanaan program komunitas Sobat LemINA.

Ia memang sering menanyakan hal yang tak terduga dan kadang memaksa saya berfikir sejenak sebelum menjawab.
Riri, seorang teman, sesama relawan juga, bantu menjawab “Seperti halnya kesabaran, ada batasannya, begitupun dengan kerelawanan. Tapi bukankah menjadi relawan adalah panggilan jiwa?”

Sesungguhnya ada beberapa macam relawan yang saya ketahui. Mungkin yang dimaksud oleh teman saya ini, adalah relawan event. -baca selanjutnya->

Ajarkan Konsekuensi, Bukan Hanya Memarahi

Sabtu ini, saya menjadi Relawan Pengganti karena Atifah, Mutiah, Hendra dan Dilla, tak satupun yang bisa datang. Sebelum menuju sekolah, saya sudah dapat info dari Atifah jika hari ini kelas IVA bergabung dengan kelas IVB, belajar dalam ruangan yang sama.

Waduh, terlintas bagaimana rusuhnya kelas hari ini.

Sebelumnya, saya sudah pernah mendampingi sobat-sobat kecil di SDN Sungguminasa IV ini. Namun belum menghapal nama-nama mereka, apalagi kemajuan mereka dalam menulis.

“Saya harus mohon ijin dulu ke Guru Wali sebelum masuk kelas,” batin saya. Meski Atifah sudah menginformasikan ke Ibu Guru bahwa yang akan hadir hari ini adalah saya dan Samsir, namun penting bagi saya tuk memperkenalkan diri.

Saya tiba tepat di jam istirahat. Butuh sekitar 10 menit untuk bertanya dan menemukan ibu Guru Wali kelas IVB. Tatkala bertemu beliau di kantin sekolah, saya dikenalkan dengan wali kelas IVA. Ya, hari ini kedua kelas tersebut bergabung dalam satu ruangan. Mendadak galau saat teringat hal itu lagi.

Sangat menghargai tamu. Itu gambaran saya tentang Ibu Wali Kelas IVB yang dengan ramah menyapa saya, bahkan sampai mengantar ke ruang kelas nya. Anak-anak masih istirahat, mereka akan masuk lagi di jam 11.30, Ibu Wali menjelaskan sambil mempersilahkan duduk.

Sebenarnya saya sudah berencana berbasa basi dengan menanyakan mengapa kelas IVB digabung dengan kelas IVA, namun Ibu Wali sudah mendahului. Hari ini anak-anak dari dua kelas digabung jadi satu, karena minggu ini banyak tanggal merahnya. Saya hanya mengangguk sambil senyum dan berkata “oh begitu ya, bu”.

Mencoba bertanya dalam hati, menjurus ke protes, apa hubungannya yah antara banyak tanggal merah dan menggabungkan dua kelas menjadi satu? Tapi sudahlah. Toh, anak-anak ini sudah menatap penuh tanya ke saya, ketika saya mulai duduk di depan, di meja guru.

Ibu mau mengajar di sini?” seorang siswi maju ke depan dan bertanya. Saya mengiyakan dan mencoba mengenali wajahnya. Ah, pasti siswa kelas IVA. Seingatku, belum pernah melihat wajahnya sebelumnya.

Kak, mana temanta’ ?, sendirian jaki’ mengajar?” seorang siswi lain berlari dari luar kelas menuju ke saya. Nah, kalau yang ini, pastilah siswa kelas IVB. Salah satu yang membuatku betah ke Sekolah Dasar, baik di Takalar maupun di Gowa, kecuali sekolah anakku, adalah karena anak-anak ini memangglku dengan panggilan kakak, padahal mungkin ibu mereka seumuran dengan saya. Huu, gede rasa.

Samsir datang beberapa menit setelah saya memulai kelas. Sungguh padat kelas kami. Beberapa kali saya menegur dua orang siswa yang duduk di atas bangku. Ternyata mereka tidak kebagian kursi, jadi memilih duduk di atas bangku. Duh, pelajaran menulis hari ini, pastilah tidak maksimal.

Agar mereka fokus ke saya, saya memulai dengan menginformasikan bahwa saya akan membacakan sebuah tulisan singkat yang berjudul SAHABAT. Mereka harus menyimak dan nantinya harus menjawab pertanyaan yang akan saya ajukan.

Sepertinya cara ini berhasil karena mereka fokus mendengarkan, meski beberapa diantaranya banyak yang nyeletuk bercanda. Tingkah mereka mengingatkan saya dengan ulah saya di pelatihan-pelatihan, yang juga kadang nyeletuk tuk memancing tawa, biar suasana belajar tidak kaku. Mungkinkah siswa-siswa inipun bertujuan seperti saya?

Menghadapi siswa sekitar 40-50 orang ini, lumayan menguras energi dan membuat kerongkongan kering. Kenapa juga harus digabung. Saya masih protes dalam hati.

Samsir pun terlihat stress meski masih senyum-senyum. Sesekali ia berteriak “perhatikan”, “jangan ribut”, “kenapa pukul temannya?”. Malah sempat nada bicaranya sudah mulai dibuat meninggi karena anak-anak ini sudah mulai keterlaluan. Saya mencoba menahan diri untuk tidak menampakkan kemarahan. Padahal sumpah, sudah emosi.

Proses tanya jawab berdasarkan cerita singkat yang saya bacakan, dijawab dengan baik oleh anak-anak. Jawaban mereka saya tuliskan di papan untuk memudahkan mereka mengingat point-point apa saja yang diceritakan dalam tulisan tadi.

Untuk meminimalkan gaduhnya kelas dan ulah iseng beberapa siswa, saya menyegerakan meminta mereka menulis tentang sahabatnya masing-masing.

Saat membagikan kertas, anak-anak seperti sebelumnya, rebutan. Jika yang lalu rebutan bukunya cuma sekitar 20-30 siswa, hari ini sekitar 40-50an siswa yang rebutan kertas dari tangan saya. Ya ampun. Yang sabar yah, Bunga.

Bisa panjang sekali tulisan ini, jika saya harus menuliskan detil satu persatu suasana dan ulah anak-anak saat menulis cerita.

 

Memilih Menulis di Lantai

Memilih Menulis di Lantai

Andai saja ada yang merekam peristiwa di kelas hari ini, pasti akan bisa menonton video bagaimana Samsir dan saya secara bergantian memasang wajah kesal, lalu tersenyum kecut, lalu kemudian tertawa tuk mengobati kedongkolan.

Siswa paling tinggi di kelas IVB ini, takkan pernah bisa duduk tenang di bangkunya. Saat siswi yang diganggunya berteriak, saya coba mendekatinya dan bertanya, mengapa ganggu temannya. Si tinggi ini cuma menjawab cuek “tidakji”.

Menghindari memperpanjang, sayapun menanyakan siapa sahabatnya. “Ian, eh Udo”. Duh, anak ini asli galau. “Ayo,tulis tentang sahabatmu itu, yang lain menulismi tawwa” saya berusaha mengajak dengan nada seriang mungkin. Benar saja, anak ini mulai duduk dan menulis. Namun tidak berlangsung lama. Beberapa menit kemudian dia mulai lagi bangkit dan menuju bangku teman-teman perempuannya.

Bros flanel berbentuk pita milik teman-temannya diambil paksa dan ia kenakan di seragam pramukanya. Sudahlah. Saya skip saja. Mending fokus ke siswa yang serius belajar menulis.

Si Tinggi dan Bros Pita Rampasannya

Si Tinggi dan Bros Pita Rampasannya

Seorang siswa bernama Sahrul, yang duduk paling depan, kemudian menyita perhatian saya. Ia dan teman sebangkunya, Akbar, nampaknya tidak peduli dengan teman-temannya di belakang yang sibuk bermain, saling ganggu dan teriak-teriak.

Sahrul dan Akbar menulis dan sesekali ngobrol, lalu menulis lagi. Setelah tulisan mereka berdua selesai, mereka tukaran tulisan dan membacanya bersama. Syukurlah, masih ada yang serius menulis di kelas yang sesak dengan siswa di hari ini.

Syahrul dan Akbar

Syahrul dan Akbar

Pukul 12.15. Beberapa siswa sudah mulai mengumpulkan tulisan mereka. Anak bertubuh gendut yang beberapa minggu lalu, rajin mengumpulkan tandatangan semua relawan, hari ini duduk paling belakang dan matanya mulai jelalatan mengamati temannya. Saya sengaja menunggu aksi apa yang direncanakannya.

Seperti perkiraan saya, karena ia duduknya di sebelah Si Tinggi, pastilah ia tidak menulis hari ini. Tapi, anak ini maju ke saya dan membawa sebuah tulisan. “ini punyaku” katanya sambil menyerahkan tulisan ke saya. Mencurigakan. Saya langsung meneliti kertas yang ia serahkan. Hei, ini tulisan temanmu, nama perempuan. Dia berbalik sebentar sambil tertawa dan berlari menuju bangkunya. Iseng benar anak ini.

Saat beberapa anak rebutan menyetor tulisan, Si anak bertubuh gendut itu, muncul lagi dan menyerahkan kembali selembar kertas. Duh, kali ini masih tetap saja kertas temannya yang ia setor.

Belum seberapalah tingkah iseng Si Gendut dan Si Tinggi. Terpaksa memanggilnya demikian, karena saya lalai untuk menanyakan nama keduanya.

Di barisan siswa kelas IVA tiba-tiba rusuh. Mereka memukul-mukul bangku dan menyusul keributan dengan saling lempar bola kertas ke arah teman-teman perempuan dari kelas IVB. Tak mau kalah, teman-teman perempuannya pun balas melempar. Rusuh…rusuh.

Samsir mulai melarang dengan nada tinggi, tapi anak-anak ini tak mau berhenti. “Biarkan saja. Kita tunggu sampai mereka puas” kataku ke Samsir.

Saya hanya berdiri terdiam di depan sambil mengamati mereka saling lempar. Hingga ada yang menyadari dan berteriak meminta temannya menyudahi.

Lempar melempar berhenti total ketika Ibu Wali masuk ke kelas. Mereka duduk manis, meski masih tertawa-tawa kecil. “Masih ada yang mau lempar-lempar bola kertas?” saya menanyakan dengan suara keras. Ayo, sekarang lempar-lemparan dan tidak usah pulang. Saya menantang mereka, tapi tak ada yang bergeming.

Sebelum menutup pelajaran dan meminta mereka pulang, saya memamerkan 5 lembar sticker ke mereka. Semua spontan teriak, meminta sticker saya.

Sticker ini hanya untuk 5 orang yang menulis, yang duduk di kursi bukan meja, yang tidak mengganggu temannya, dan tidak lempar-lempar kertas” saya menegaskan dengan suara super keras.

Saya memilih 5 orang anak untuk mendapatkan sticker ukuran 10x10cm dari saya.

Bagi saya, mengajarkan mereka konsekuensi dari perbuatan, masih lebih penting daripada menghabiskan suara tuk teriak-teriak memarahi mereka saat ribut dan berbuat nakal di kelas. Anak-anak sebenarnya sudah pandai untuk diajak berfikir.

Mereka pasti menyadari bahwa karena perbuatannya yang tidak seharusnya, mereka tidak bisa memperoleh sticker seperti temannya yang lain. Hal ini terbukti dari seorang anak yang tidak berhenti mengekori kami saat keluar kelas hingga menuju ke motor.

Ia tak berhenti mengeluh karena tak dapat sticker. Saya sarankan untuk menulis di dua minggu depan. Meski terlihat belum puas, namun ia sepertinya bisa menerima dan kemudian berlari melalui pagar besi pekarangan sekolah.

Satu hal yang kami syukuri, karena penggabungan dua kelas ini, hanya di hari ini saja. Maka bersyukurlah sobat-sobat Relawan yang bertugas di dua minggu depan karena tidak harus berhadapan dengan begitu banyak anak.

9 Kab/Kota Di SulSel Tertular Virus KI

Setelah pelaksanaan pertama kali di Makassar pada tahun lalu, laksana virus, Kelas Inspirasi Makassar menular ke 8 Kab/Kota lainnya di Sulawesi Selatan, yakni Kabupaten Gowa, Takalar, Bantaeng, Pinrang, Pangkep, Palopo, Enrekang dan Maros.

Pada rapat pertama di Desember 2013, untuk pelaksanaan Kelas Inspirasi SulSel yang dilaksanakan di warung Pisang Nugget, sebenarnya ada beberapa teman merasa kurang yakin untuk melaksanakan Kelas Inspirasi dalam skala SulSel. “Baru 3 atau 4 kabupaten yang menyatakan siap melaksanakan, apa tidak aneh jika kita menyebut sebagai Kelas Inspirasi SulSel dengan jumlah sedikit seperti itu?” Demikian pertanyaan seorang relawan panitia yang hadir.

Pertanyaan itu kemudian dijawab dengan optimisme oleh teman-teman yang lain. Kami semua yakin bahwa Kelas Inspirasi selalu mengandung keajaiban dalam proses persiapannya. Rapat hari itupun memutuskan pelaksanaan Kelas Inspirasi untuk tahun ini, diberi nama Kelas Inspirasi Sulawesi Selatan.

Pertemuan berikutnya untuk sosialisasi dan penyusunan relawan panitia dilaksanakan 3 hari setelah rapat pertama. Rentang waktu tiga hari sebelum rapat tersebut, ternyata teman-teman telah menebarkan virus Inspirasi ke orang-orang, baik secara langsung maupun melalui media sosial. Hasilnya, pada rapat akhri Desember 2013 di kantor BaKTI tersebut, telah ada 9 kab/kota yang menyatakan siap menyelenggarakan Kelas Inspirasi. Alhamdulillah, ketulusan itu menular hanya dalam 3 hari saja.

Di pagi hari 5 Maret 2014, sebanyak 551 orang Relawan Profesional secara serentak di 9 kab/kota SulSel menuju ke Sekolah-sekolah Dasar untuk mengajar di kelas. Mereka menemui ribuan anak-anak di ratusan kelas di SulSel. Mereka datang sebagai relawan, tanpa dilayani, membawa peralatan sendiri untuk mengajar, membawa makanan sendiri, tanpa uang transportasi, tanpa uang saku, bahkan tanpa sertifikat sekalipun.

Anak-anak itu terinspirasi oleh para profesional yang menjadi guru sehari mereka, Guru-guru terinspirasi dari para Profesional dan para Profesional pun terinspirasi oleh anak-anak yang mereka temui. Kita semua saling menginspirasi dan terinspirasi secara bersamaan.

Memindahkan Bilik Siaran ke SD~Kelas Inspirasi Bantaeng

Memindahkan Bilik Siaran ke SD~Kelas Inspirasi Bantaeng

Dari Gunung menjadi Bubuk Semen~Kelas Inspirasi Pangkep

Dari Gunung menjadi Bubuk Semen~Kelas Inspirasi Pangkep

Dokter Bedah Menginspirasi~Kelas Inspirasi Gowa

Dokter Bedah Menginspirasi~Kelas Inspirasi Gowa

Kelas Inspirasi memperkuat rasa percaya kita semua bahwa masih begitu banyak orang yang peduli kepada Pendidikan. Banyak orang yang peduli, banyak pula yang tergerak, namun tak semua bergerak untuk ambil bagian.

Berminat tuk bergabung. Ayo cek pendaftaran di Kota lain melalui http://www.kelasinspirasi.org

Langkah jadi Panutan, Ujar Jadi Pengetahuan, Pengalaman Jadi Inspirasi

Briefing Kelas Inspirasi Gowa-Takalar

Kelas Inspirasi untuk pertama kali akan diselenggarakan di Kab. Gowa dan Takalar. Sejak awal penyiapan Kelas Inspirasi di Januari lalu, teman-teman Relawan Panitia selalu optimis bisa mengajak para profesional untuk cuti sehari dan hadir di Sekolah-sekolah Dasar untuk bercerita tentang profesi mereka, guna menginspirasi anak-anak bercita-cita tinggi.

Kami percaya bahwa masih begitu banyak orang-orang yang peduli pada pendidikan Indonesia. Harapannya, anak-anak dapat terinspirasi dari cerita para Profesional yang turun langsung ke Sekolah-sekolah Dasar tersebut dan para Profesional pun dapat melihat langsung kondisi pendidikan dasar kita dan merasakan bagaimana menjadi guru sehari.

Hingga penutupan pendaftaran, tercatat sebanyak 67 orang relawan profesional, 12 orang relawan fotografer dan 4 orang relawan videografer yang mendaftar untuk kabupaten Gowa melalui website Kelas Inspirasi. Hasil seleksi kemudian meloloskan 64 orang Relawan Pengajar, 12 Fotografer dan 4 Videografer.

Hari Inspirasi jatuh pada 5 Maret 2014, serentak di 9 kabupaten/kota di Sulawesi Selatan. Untuk Gowa sendiri, akan diselenggarakan pada 10 Sekolah Dasar dan untuk Takalar di 5 Sekolah Dasar Kab. Takalar.

Guna persiapan hari inspirasi tersebut, kami menyelenggarakan Briefing Kelas Inspirasi pada tgl. 1 Maret 2014 . Seluruh Relawan diundang untuk menyiapkan Hari Inspirasi melalui briefing ini. Briefing ini bertujuan agar semua Relawan kembali diingatkan tentang nilai-nilai dasar yang kita jalankan dalam Kelas Inspirasi, pembagian penempatan tim pengajar berdasarkan sekolah dan diskusi menyusun rencana mengajar bersama dalam tim.

Briefing Relawan Pengajar & Dokumenter

Briefing Relawan Pengajar & Dokumenter

Lokasi briefing kami di Aula PKG SDN Limbung Puteri. Aula baru yang belum diresmikan ini, cukup luas untuk menampung semua Relawan yang hadir dari Gowa dan Takalar. Pemilihan tempat ini setelah mempertimbangkan jumlah orang yang akan hadir dan karena berada di tengah-tengah, antara Gowa dan Takalar.

Ibu Kepala SDN Limbung Puteri, sempat khawatir dan merasa serba salah ketika menyadari aula hanya dilengkapi dengan dua buah kipas angin saja. Seorang Relawan Panitia kemudian membisikkan kepada beliau bahwa para Relawan Profesional dan Dokumenter yang hadir, adalah orang-orang yang sudah terbiasa duduk dalam ruangan ber-AC. Saatnya mengajak mereka merasakan langsung ruangan yang digunakan oleh guru-guru Sekolah Dasar untuk berdiskusi merencanakan pembelajaran bagi tunas-tunas bangsa.

Pukul 09.00 wita tepat, Briefing dimulai dengan menyanyikan bersama Lagu Indonesia Raya.  Sungguh sebuah momen yang langka dan mengharukan, berdiri diantara lebih dari Seratus Relawan dari berbagai profesi, di dalam sebuah ruangan, menyanyikan Lagu Kebangsaan.

Mendidik adalah tugas orang terdidik. Para profesional yang merupakan orang-orang terdidik, nampak sangat antusias menyaksikan video pelaksanaan Kelas Inspirasi di daerah lain, yang diputar saat briefing. Video-video tersebut menggambarkan bahwa tak susah untuk ambil bagian pada pendidikan. Kita semua bisa menginspirasi anak-anak dengan bercerita tentang profesi dan mendorong mereka untuk mandiri, jujur, disiplin dan bekerja keras penuh semangat untuk menggapai cita-cita.

Relawan Panitia Kelas Inspirasi Gowa-Takalar

Relawan Panitia Kelas Inspirasi Gowa-Takalar

Hal yang menarik dari pelaksanaan Briefing Kelas Inspirasi ini adalah ketika beberapa orang Dokter Gigi datang ke lokasi briefing dan meminta didafftar sebagai Relawan Pengajar. Meski pendaftaran telah ditutup, tim pengajar telah disusun dan briefing sedang berlangsung, kami menyambut niat baik dan tulus mereka dengan mempersilahkan untuk registrasi dan ikut dalam diskusi kelompok.

Briefing ditutup pada pukul 12.00 siang,  setelah semua lesson plan dan jadwal observasi ditetapkan oleh masing-masing Tim sekolah.

Selamat menginspirasi rekan-rekan Relawan. Anak-anak di sekolah telah menanti para guru sehari mereka.

Think Big, Start Small, Act Now. Salam Inspirasi!

Previous Older Entries