Satu Jam Jaga Stamina Bersama Anies Baswedan

“Senang sekali bisa bertemu dengan teman-teman” ucapnya begitu bergabung dengan teman-teman yang sudah menunggu di lobby Hotel Aryaduta Makassar. Karena terkesima, teman-teman agak telat ambil posisi duduk masing-masing. Dan saya amat senang bisa mendapat posisi strategis duduk berhadapan dengan tokoh yang selalu menghiasi wajahnya dengan senyum ini.

Karena tepat berhadapan dengan saya, maka seolah beliau hanya ngobrol dengan saya. Meski kenyataannya tidak seperti itu. Menyenangkan diri sendiri , boleh kan?

Ekspresi wajah pak Anies Baswedan persis sama ketika bertemu saya dan mbak Jowvy di auditorium Unismuh dua jam lalu. Masih antusias dan penuh perhatian ke kami. Mungkin beliau terkesan karena di Timur Indonesia pun, kita mulai bergerak.

Memulai pembicaraan dengan mengenalkan teman-teman yang hadir, dari relawan pengajar Kelas Inspirasi hingga ke adik-adik penyala Makassar.

Beliau membuka dengan sebuah tanya “bagaimana kelas inspirasi kemarin?”.  Lalu kamipun bercerita singkat tentang pengalaman kami terlibat di dalamnya.

Begitu banyak hal yang beliau sampaikan, yang membuat tangan saya ingin menyelinap ke ransel tuk mengambil buku dan pulpen. Tapi saya khawatir ketinggalan pembicaraan.

Satu jam bersama Pak Anies Baswedan

Satu jam bersama Pak Anies Baswedan

Ketulusan itu Menular

Kelas Inspirasi, yang dulunya hanya dilaksanakan di Jakarta, kini sudah mulai dilaksanakan di banyak kota. Salah satunya Makassar. Pak Anies menuturkan bahwa gerakan-gerakan kecil yang kita lakukan, jika dituliskan, disebarkan, maka akan menjadi pemantik bagi yang lain untuk ikut bergerak.

“Ketulusan itu menular”, ucap beliau.

Ucapan beliau mengingatkan saya ke awal-awal kelas inspirasi digagas di Makassar. Kita agak khawatir apakah para profesional akan tertarik tuk turun ke sekolah-sekolah dasar?. Ini Makassar, bukan Jakarta, yang sudah melaksanakan Kelas Inspirasi untuk kedua kalinya.

Tetapi ketulusan rupanya benar-benar menular. Bukan hanya di Kelas Inspirasi 28 Maret 2013, tapi juga bahkan setelah hari tersebut, banyak dari kita mulai bergerak. Kegiatan Pack Your Spirit Penyala Makassar adalah salah satu bukti bagaimana ketulusan itu menular. Kita menggerakkan lebih dari 100 orang tuk berdonasi buku.

Bahkan perusahaan Bosowa pun memulai kerjasama dengan kita dengan bantuan buku serta biaya pengiriman ke lokasi-lokasi sasaran Penyala Makassar.

Mengajar Itu Addictive

Masih tentang kelas inspirasi, kami semua yang duduk bersama pak Anies kembali tertawa kecil, ketika beliau bercerita kisah unik tentang  sebuah BUMN yang meniru kelas inspirasi.

Ada seorang direktur BUMN, diharuskan untuk berdiri di depan kelas, dimana dia dulunya bersekolah. Adalah merupakan kerepotan luar biasa bagi dirinya, ketika harus naik kereta, atau naik bus tuk menempuh perjalanan menuju sekolahnya.

Pak Anies memaparkan bahwa ternyata di sekolah bapak tersebut, bapak itu adalah kebanggaan. Orang sekampungnya bangga bapak itu menjadi direktur BUMN dan lucunya, bapak itu tak pernah menyadarinya.

“Dua minggu setelah itu, bapak yang awalnya tidak semangat mengajar di sekolahnya itu, datang ke kantor Indonesia Mengajar, hanya sekedar untuk mengatakan bahwa ia akan kembali lagi mengajar” Pak Anies bercerita dengan memberikan penekanan.  “Memang mengajar itu addictive” beliau berucap setengah menggumam sambil menganggguk-angguk. Sayapun ikut mengangguk-angguk.

Mengajar memang menyenangkan, bagi mereka yang memiliki ketulusan. Masih selalu terbayang, bagaimana teman-teman profesional begitu bersemangat saat mengajar di depan adik-adik sekolah dasar, yang kemudian membuat kamipun (relawan penyelenggara) menjadi lebih bersemangat menyiapkan briefing dan refleksi bagi teman-teman relawan.

Yang penting adalah mengajarnya, bukan sarananya. “Kita mungkin sudah lupa, apakah dulu kita belajar pakai kapur atau spidol, black board atau white board. Yang selalu kita ingat adalah siapa yg mengajar kita” ucap Pak Anies.

Kembali ke bulan Maret lalu, satu hal yang sempat membuat saya kesulitan saat harus menarik kesimpulan dari hasil diskusi di refleksi Kelas Inspirasi Makassar adalah ketika harus menyimpulkan hasil identifikasi teman-teman relawan. Saya khawatir jika kemudian kelas inspirasi lah yang diminta untuk menyelesaikan masalah-masalah yang diidentifikasi tersebut. Duh, mengapa harus identifikasi masalah yah? Bukan identifikasi potensi?

Seperti kata Pak Anies di siang ini “Kita-kita ini, sering berharap orang lain yang menyelesaikan masalah yang kita identifikasi”. Mungkinkah kita yang menyelesaikan masalah yang kita identifikasi sendiri? Jawabnya ada pada masing-masing teman.

Repot Itu Baik

Sumpah! Tak bosan mendengar tutur tokoh inspiratifku ini. Meski sesekali kami menjawab pertanyaan beliau atau bercerita pengalaman gerakan teman-teman di Makassar, tapi kami lebih memilih mendengar beliau bertutur.

Seorang  teman Penyala, Dimas, menyampaikan ke beliau tentang pengalaman mengantarkan buku ke lokasi Pengajar Muda di Majene. Beliau kemudian menimpali dengan berbagi pengalaman seorang pelajar Indonesia di London yang ingin mengirimkan buku untuk anak-anak di lokasi terpencil.

Pelajar tersebut menghubungi Indonesia Mengajar untuk membantunya mengirimkan buku-buku yang akan ia sumbangkan. Tapi Indonesia mengajar tidak bisa membantu untuk mengirimkan buku itu. Ia hanya dibantu untuk dihubungkan dengan guru di sebuah desa.

“Mereka kita ajak repot. Dia yang berkomunikasi dengan guru di Indonesia, dia pula yang mengirimkannya sendiri. Repot kan? Sama seperti teman-teman yang repot-repot mengirim buku ke Majene” ucap Pak Anies.

“Repot-repot itu baik, jadi harus didorong repot-repot itu, jangan mau yang gampang aja” Pak Anies menegaskan disusul anggukan teman-teman.

Relawan itu Bukan Pekerjaan

Pak Anies menyambung ucapannya “ Ketika teman-teman repot-repot, orang di sana yang melihat, akan berkata, org itu tidak punya kerjaan lain kah? Sampai pada bawa buku kesini?”.

Kemudian beliau tiba-tiba bertanya ke Mbak Jowvy “anda bekerja dimana?” kemudian bertanya ke saya pula “kalau anda bekerja dimana?”.  Usai kami berdua menjawab, beliau lalu berkata “Nah, kita semua memiliki profesi, kita bekerja, tapi kita adalah relawan”.

Kembali, Pak Anies bercerita pengalaman seorang direktur yang menjadi relawan kelas inspirasi. Ketika sang direktur yang berperan sebagai relawan tersebut mengajak seseorang untuk ikut turun tangan, Sang direktur diminta oleh untuk ke kantor orang yang ia ajak tersebut.

Tatkala tukaran kartu nama, orang yang diajak tersebut spontan bertanya “Indonesi a Mengajarnya mana?”. Dan lebih kaget lagi ketika mengetahui bahwa yang dihadapannya adalah seorang direktur. Orang itu mengira bahwa sang direktur bekerja untuk mengajak orang-orang jadi relawan untuk Indonesia Mengajar.

“Kita adalah relawan, tapi pekerjaan kita bukan relawan, kita punya pekerjaan sendiri” beliau menutup cerita tentang sang direktur.

Jaga Stamina

Satu hal yang dipesankan oleh Pak Anies di silaturrahmi beliau bersama teman-teman relawan KI dan Penyala Makassar adalah bahwa kita semua harus jaga stamina. “Jaga staminanya dengan cara kita sering kumpul-kumpul. Karena kita akan bisa bergerak jika bersama”. Stamina yang dimaksud tentunya stamina kerelawanan dan ketulusan kita.

Saya lupa, di bagian mana beliau berucap tentang bekerja di pelosok, yang masih tertangkap di memeori saya adalah ketika beliau menyatakan bahwa ada yang pernah bertanya ke beliau, mengapa harus membantu yang jauh, sementara ada yang dekat untuk dibantu.

Beliau lalu menjawab “Jarak kita ke Indonesia semua sama. Dimanapun tempatnya. Tidaklah adil jika menghitung jarak dari kita berdiri ke tempat lain di sana”

Buku Makassar Menyala

Pak Mahmud Ghaznawie, Dekan Fakultas Kedokteran Unismuh mendekati kami dan mengangguk tersenyum, seolah beri kode bahwa sudah waktunya beliau meminta Pak Anies bergabung di acara mereka.

Jam sudah menunjukkan pukul 14.05 Wita. Pak Anies harus beranjak dari kami. Buku Makassar Menyala kami sodorkan ke beliau. Tanya dari beliau kemudian terlontar “Ada penulisnya hadir di sini? Tolong tandatangani”. Wuiih senangnya bisa beri ole-ole buku sederhana dengan tandatangan kepada orang yang menjadi inspirator bagi kami semua.

Kami mengantongi dua tawaran menarik dari beliau, ikut di festival Indonesia Mengajar di Oktober nanti dan menyelenggarakan Kelas Inspirasi Makassar di September, dan beliau akan hadir saat briefing. Hayo, mau menerima tawaran beliau?

Satu jam yang menyuntikkan energi luar biasa bagi kami, telah usai. Terima kasih atas kesediaannya bersilaturrahmi dengan kami.

Yang takkan lepas dari kepalaku adalah pernyataan beliau “Ingat teman-teman, kita sedang merancang masa depan, pendidikan adalah alatnya, bukan tujuan akhirnya”.

Sebuah pesan singkat di handphone saya terima dari beliau di malam hari, saat beliau landing di Jakarta, Let’s get it rolls bigger, stronger and wider for our nation.

Salam Inspirasi!

Bersama Pak Anies Baswedan

Bersama Pak Anies Baswedan

Pak Anies bersama Relawan Kelas Inspirasi dan Penyala Makassar

Pak Anies bersama Relawan Kelas Inspirasi dan Penyala Makassar

Advertisements

Komunitas Untuk Senyum Anak Indonesia

Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedelapan.

Tiap orang memiliki alasan-alasan berbeda ketika memutuskan bergabung dalam sebuah komunitas. Beberapa orang memiliki alasan bergabung karena memiliki visi dan tujuan yang sama, atau karena komunitas tersebut telah memiliki anggota banyak, atau telah memiliki kegiatan rutin, atau justru karena komunitas tersebut amat terkenal.

Namun pengalamanku berbeda. Saya justru ikut membentuk sebuah komunitas di awal, mengajak teman sekitar membantu kami tanpa harus bergabung dan memastikannya tetap berjalan hingga kini.

Semua diawali ketika saya dan keempat teman yang berbeda kantor, berbeda latar belakang pendidikan, bahkan berbeda kabupaten, ngobrol santai tentang kegiatan kami masing-masing. Lalu kemudian kami menyadari bahwa kami berlima memiliki kesamaan dan punya satu tanya yang sama pula, yang akhirnya menjadi alasan utama kami membentuk sebuah komunitas kecil.

Kami berlima bekerja untuk program pemberdayaan masyarakat. Meski beda program, beda lokasi kerja, tapi kesamaan kami adalah kami bekerja untuk masyarakat, memastikan masyarakat berdaya tanpa bergantung penuh kepada masyarakat dan menggalang swadaya dari masyarakat untuk membangun kampung halamannya.

Entah bagaimana, tiba-tiba muncul pertanyaan diantara kami berlima, apakah kami bisa bekerja untuk masyarakat tanpa digaji, tanpa bantuan dari sebuah lembaga besar dan pemerintah?.  Sebuah tanya yang membuat kami memulai diskusi-diskusi panjang. “Kita memiliki beban moril kepada bangsa. Bisakah kita bekerja tanpa digaji ?” seorang teman melayangkan pernyataan tersebut.

Lalu kita mau melakukan apa? Kita berlima bukanlah pengusaha yang berpendapatan tinggi dan belum berlebih. “Apakah harus jadi orang kaya dulu?” tanya itusempat muncul pula.

Kamipun memutuskan melakukan sesuatu dengan berbasis dari kekuatan yang masing-masing kami miliki. Hingga kemudian diputuskan membentuk sebuah komunitas yang bertujuan mempersiapkan generasi akan datang yang lebih baik. Ya, sebuah komunitas yang bertujuan agar Senyum Anak Indonesia selalu terkembang.

Tanpa bermimpi tinggi, kami mencoba melakukan sesuatu yang sederhana, mudah dilaksanakan, tanpa biaya besar tapi tetap memiliki manfaat  bagi anak-anak Indonesia. Khususnya mereka yang marginal, kurang mampu, dan belum tersentuh oleh Pemerintah atau pihak lain.

Salah satu kegiatan andalan kami adalah Seragam Tuk Sobatku. Kami selalu berfikir bahwa meskipun pendidikan telah gratis, namun seragam sekolah dan perlengkapannya, tentu saja tidak.

Ketika komunitas lain menyelenggarakan pendidikan dan sekolah alternatif bagi anak-anak jalan atau pekerja anak. Kami memandang bahwa anak-anak yang memiliki orangtua dengan pendapatan rendah, tetapi berpendapatan rendah dan tetap bertahan untuk bersekolah, beresiko terancam memilih untuk putus sekolah dan bekerja di jalan.

Jika komunitas lain mendorong anak-anak jalan untuk bersekolah, maka penting bagi kami untuk melakukan pencegahan agar jumlah anak jalan bertambah, dengan jalan membantu seragam dan perlengkapan bagi mereka yang kurang mampu.

"Ayo Bermain Puzzle" di Hari Anak Nasional bersama sobat-sobat Pemulung

“Ayo Bermain Puzzle” di Hari Anak Nasional bersama sobat-sobat Pemulung

Setiap tahunnya di tgl. 23 Juli, kami memperingati Hari Anak Nasional dengan mengajak anak-anak bermain. Hanya bermain saja. Mengapa bermain? Karena salah satu dari hak anak adalah bermain.

Selama ini, anak panti asuhan lebih sering diajak ikut buka puasa bersama, makan bersama, pemberian bantuan, dan lain-lain. Kami coba melakukan hal lain. Tanpa memberi bantuan apa-apa, tapi kami mengajak mereka ke lapangan, hanya untuk bermain bersama. Bukankah mereka jarang diundang untuk bermain bersama?.

Hingga saat ini, kami telah bermain bersama anak-anak panti asuhan dan anak-anak pemulung di sekitar TPA Tamangapa.

Terik Matahari pun Masih Betah Bermain

Terik Matahari pun Masih Betah Bermain

Kami juga memasuki wilayah kesehatan. Bukan pengobatan gratis, bukan bagi-bagi obat, bukan pula penyuluhan yang membosankan. Lalu apa dong?. Sebuah pesan dari rekan sejawat, biasanya lebih mengena dan lebih termonitoring, maka kamipun memilik mengajak anak-anak sekolah dasar untuk berlomba Story Telling.

Isinya bukan dongeng biasa, tapi dongeng yang mengandung pesan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat. Kami menyediakan buku yang harus dibaca, yang kemudian mereka harus ceritakan ulang. Tokoh ceritanya binatang, sehingga alur cerita nya menarik dan lucu serta ringan untuk didengar oleh anak-anak. Dengan story telling, anak-anak lah yang menyampaikan pesan kesehatan kepada teman-teman mereka.

Lalu siapa yang mendanai kegiatan-kegiatan ini?. Sumber dana kami dari teman-teman relawan sendiri dan segelintir teman-teman yang peduli. Agak sulit mengajak orang untuk peduli di saat ini. Meski kami beberapa kali share di facebook atau melalui pesan singkat, tapi jumlah yang peduli masih amat bisa dihitung jari.

Kembali lagi, mungkin karena komunitas kami tidak se-terkenal yang lain. Tapi kami selalu berprinsip, tujuan kami bukan untuk dikenal, bukan untuk menjadi besar, tetapi untuk membuat anak-anak Indonesia selalu tersenyum.

Meski kegiatan kami belum setiap bulan, tapi saya menganggap kami telah memberikan yang terbaik dari kami. Mengingat kami cuma berenam dan menetap berbeda lokasi, yaitu di Makassar, Gowa, Bantaeng dan Luwu Utara. Sebuah pengorbanan besar, ketika teman-teman yang jauh dari Makassar, datang untuk berbagi bersama sobat-sobat kecil.

Satu hal yang saya suka dari komunitasku yang kemudian diberi nama Lemina ini, adalah kami menjunjung tinggi transparansi. Baik dalam hal pelaksanaan kegiatan maupun keuangan. Untuk menjaga transparansi dan kepercayaan teman-teman yang berdonasi, maka kami memutuskan harus memiliki rekening sendiri, bukan lagi rekening pribadi anggota.

Membuka rekening atas nama komunitas tidak segampang yang dibayangkan. Harus ada akte pendirian, ada NPWP, ada stempel dan lain-lain. Akhirnya komunitas kamipun dibuatkan akte pendirian. Aneh juga rasanya, sebuah komunitas memiliki akte pendirian melalui notaris.

Biar mudah, akhirnya komunitas ini berbentuk lembaga swadaya masyarakat, meskipun dalam pengelolaannya, kami amat berbeda jauh dengan sebuah LSM. Semua semata hanya untuk pembukaan rekening saja. Kami adalah komunitas relawan. Relawan yang mengeluarkan duit dan tenaga untuk anak-anak.

Membahas anak, khususnya Balita, maka peran Ibu amat penting. Kamipun memutuskan untuk menyentuh para ibu yang memiliki Balita. Hingga kini, baru satu kegiatan kami yang pemanfaatnya adalah ibu-ibu.

Hingga kini, kami masih berusaha mengajak teman-teman untuk berdonasi. Syukur-syukur jika mereka mau bergabung sebagai relawan di Lemina, dengan mengorbankan waktu dan tenaga mereka untuk senyum anak Indonesia. Kami melembagakan komunitas kami dengan nama Lembaga Mitra Ibu dan Anak (LEmina).

Bermain bersama Sobat-Sobat Kecil Kel. RomangLompoa Gowa

Bermain bersama Sobat-Sobat Kecil Kel. RomangLompoa Gowa

Menulis untuk Buku Makassar Menyala

Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu ketujuh.

Menerbitkan sebuah buku? Oh No! Bagaimana mungkin?. Saya menggelari diri sebagai seorang blogger pemula yang pasif, karena menulis di blog saja, sudah terseok-seok. Dengan gelar seperti itu, saya hanya berangan-angan, bisa menulis dengan teratur di blog saya. Bukan ikut menyantolkan tulisan saya dalam sebuah buku.

Tidak ah! Kali ini, saya tidak bisa ikut rencana teman-teman untuk menulis bersama. Malu-maluin saja kalau tulisan saya ikut menghias sebuah buku. “Saya kan baru saja belajar menulis,” saya beralibi.

Seorang teman saya, Fathul Qorib. Seorang backpacker, blogger aktif yang sudah menggunakan domain berbayar, dan telah menerbitkan sebuah buku yang berjudul Perempuan Pejalan Kaki. Dia memaksa semua teman untuk menyetor tulisan kepadanya.

Dia punya rencana besar menerbitkan sebuah buku. Buku yang kemudian disepakati oleh teman-teman, akan diberi judul Makassar Menyala. Buku tersebut, niatnya adalah sebuah buku antologi tulisan para Penyala Makassar.

Buku Makassar Menyala.

Buku Makassar Menyala.

Saya adalah salah seorang dari sekian puluh Penyala Makassar. Penyala Makassar adalah sebutan bagi orang yang menyalakan Makassar dengan buku-buku bermutu untuk anak-anak. Mengapa menyala? Karena anak-anak yang berakal budi disebabkan membaca buku bermutu, bagaikan ribuan bahkan jutaaan lampu yang menyalakan Makassar.

Kegemaran Penyala-penyala berceloteh panjang lebar di group atau ngobrol hingga larut malam di chat room Penyala, rupanya menarik perhatian Fathul untuk membuat sebuah buku. Keinginannya itu disampaikan di group dan spontan menyebabkan dia dilempari banyak pertanyaan.

Berbagai pertanyaan muncul, mulai dari menanyakan tema apa yang harus ditulis, apakah harus mengikuti tata bahasa yang baik, apakah boleh menulis dengan gaya santai, hingga minta tolong untuk dieditkan. Dan Fathul pun dengan sabar menjawab semuanya, sambil tentunya memberi motivasi super tinggi ke teman-teman, bahwa kami semua pasti mampu menulis.

Fathul, yang akhirnya menjadi editor untuk buku Makassar Menyala, meminta teman-teman untuk menulis, seperti ketika kami semua berkomentar tentang sebuah kegiatan di Penyala, peristiwa-peristiwa lucu di kopdar, hingga gosip yang dipaksa-paksakan hangat di chat room Penyala.

Beberapa minggu setelah Fathul menyampaikan permintaan tulisan di group, baru 1-2 orang yang menyetor. Fathul sampai berteriak-teriak minta semua segera menulis. “Baru berapa halaman niiih. Belum bisa dijadikan buku” seperti itu komplain Fathul di group.

Teman-temanpun mulai memasukkan tulisan satu persatu. Fathul mengeditnya dan sekaligus rajin share hasil editannya di group. Sepertinya sengaja dishare tuk memanas-manasi teman lain yang belum setor tulisan. Termasuk saya tentunya.

Membaca tulisan teman-teman di group, saya jadi membayangkan seperti apa nantinya buku tersebut. Sepertinya ada yang kurang. Nah lho, saya mulai tergelitik. “Makanya menulis dong, ” Saya menegur diri sendiri.

Dengan modal latihan menulis di blog, saya pun memaksakan diri menulis untuk ikut meramaikan buku Makassar Menyala, yang akan segera naik cetak di Februari 2013. Pikir saya, buku itu harus dilengkapi  dengan ulasan tentang sejarah awal hadirnya gerakan Makassar Menyala. Biar yang membacanya tidak bertanya-tanya.

Ngeblog ternyata melatih saya untuk menuangkan isi kepala saya ke dalam tulisan. Meski waktu itu, saya baru 3 bulan ngeblog dengan jumlah tulisan belum cukup 20, tapi saya rupanya mampu berkontribusi 2 tulisan untuk buku Makassar Menyala dan sebuah ulasan pendek tentang apa itu Makassar Menyala dan Penyala Makassar.

“Membuat Repot Itu Indah”: Di Balik Seleksi Relawan Kelas Inspirasi Makassar

Tak percaya,  jika akhirnya akan seperti ini. Kok jadi seperti kalimat sedih yah? Padahal sebaliknya.

Tertarikkah Para Profesional Makassar?

Saat awal-awal membahas rencana Kelas Inspirasi, saya bisa membaca raut wajah yang dipaksakan optimis dari teman-teman yang hadir saat itu di tribun Karebosi. Bagaimana cara menarik orang tuk mau ikut kelas inspirasi? Tertarikkah profesional  Makassar? Banyak tanya yang muncul saat itu.

“Kita ajak orang yang punya pengaruh. Biar yang lain tertarik ikut,” saran salah seorang dari kami. Entah siapa yang mengusulkan waktu itu. Yang pasti, nama-nama seperti Pak Jusuf Kalla, Pak Abraham Samad, hingga Pak Nurdin yang merupakan Bupati Bantaeng, disebut-sebut sebagai tokoh profesional yang bisa menggerakkan profesional lain tuk berminat gabung kelas inspirasi Makassar.

Rencanapun disusun. Siapa yang bertanggungjawab untuk menghubungi 3 tokoh itupun sudah ditetapkan.

Namun kenyataannya, hingga Hari Inspirasi tgl 28 Maret 2013, ketiga tokoh tersebut tidak hadir. Lalu..apakah kemudian peminat kelas inspirasi Makassar hanya terdiri dari segelintir orang saja?

Hari-H Inspirasi dan Repotnya Berburu Jusuf Kalla

Target utama kami adalah Bapak Jusuf Kalla. Dan PIC utama tuk memastikan beliau bersedia hadir di hari inspirasi adalah Ina Sabrina. Dia menawarkan diri, karena dia adalah salah seorang penggiat PMI di Makassar. Aksesnya melalui PMI, pastinya.

Ternyata bukan hanya Ina yang sibuk berburu info di PMI, Early pun ikutan sibuk mencari informasi, siapa orang terdekat beliau yang bisa dihubungi untuk bisa sekedar audience. Baik Ina, maupun Early, menyatakan hal yang sama, “Hubungi Pak Yadi, dia adalah sekretaris pribadi Pak JK.”

Perburuan yang sebenarnya pun dimulai. Early direpotkan dengan telponan dan sms-an dengan pak Yadi. Saya repot kirim email ke Pak JK via Pak Yadi. Ikes repot cek apakah pak Yadi sudah buka peluang tuk audience. Dan kamipun semua menjadi  repot.

Tetapi yang paling membuat repot adalah ketika suatu siang, saat kami sedang kopdar membahas event Say It With Books dan Kelas Inspirasi di Kantor BaKTI. Ina menerima telpon dari seorang temannya, menginfokan bahwa Pak JK sedang di Makassar.

Spontan kopdar jadi berubah materi pembahasan. Buat rencana dadakan tuk mengunjungi  kediaman beliau, saat istirahat sore beliau.

Mulai repot dan merepotkan. Dengan senyum yang dibuat semanis mungkin, saya membujuk mbak Marni BaKTI tuk mencetak prinsip Kelas Inspirasi. Untungnya mbak Marni baik dan tidak banyak tanya. #Peluk mbak Marni.

Setelah makan siang di pukul 15.30 (makan siang atau makan sore kah?), kami pun bergerak ke rumah Pak JK. Di gerbang depan, harus ngobrol dengan bapak security yang ramah, namun penuh misteri. “Bapak sedang istirahat. Tidak bisa ditemui”.  Langkah berikutnya, telpon pak Yadi. Tidak diangkat. Mungkin nomor HP ku tak dikenali. Biar cepat, saya meminta Early tuk menelpon Pak Yadi. Yeee…tidak diangkat juga.

Saat menunggu Early dengan upaya kerasnya menghubungi pak Yadi. Empat orang yang tadinya duduk di pos jaga rumah pak JK, beranjak pergi dengan mobil. Tiba-tiba Evi berbisik, “jangan-jangan diantara mereka itu, ada yang bernama pak Yadi”.

Benar dugaan Evi. Saat kami bertanya ke security ramah yang misterius itu, dia dengan senyum-senyum tidak manisnya menjawab, “tadi itu, pak Yadi”. Kenapa tidak bilang dari tadi? Duasaaaar.

Dan kamipun pulang dengan sebuah lirik pilu dari Sheila on 7 “Aku pulaaaaaaang…tanpa pesaaaaan”.

Haruskah kita menunda menetapkan tanggal hari-H Inspirasi?. Maju kawaaan. Kita terlalu lama menunda tuk mengumumkan hari-H Inspirasi, gara-gara menunggu beliau. Segera tetapkan tanggalnya. Mulai ajak orang banyak tuk bergabung.  Jangan tunggu pak JK.

Repotnya Gentayangan di Dunia Maya

Adakah yang belum gabung di social media dunia maya saat ini? Sebagian besar dari profesional mengenal social media. Maka marilah kita menyerbu social media dengan virus yang bernama “Kelas Inspirasi”.

Kami yang awalnya tercatat hanya beberapa orang saja, kemudian bertambah dari hari ke hari. Dan masing-masing dari kami, kompakan memakai foto profil kelas inspirasi. Maaf yah teman-teman, karena saya memaksa beberapa orang tuk ganti foto profil. hehe

Serangan teman-teman membuahkan hasil. Bukan hanya serangan dunia maya. Serangan street campaign pun ikut menghasilkan sebuah kerepotan tuk mengecek website kelas inspirasi setiap harinya.

Di luar dugaan. Jumlah pendaftar  sebanyak 212 orang. Nah looo. Sementara kami, yang sengaja menekan optimisme, hanya berani menyiapkan 15 sekolah.

Merepotkan KFC Pettarani

Hari seleksi relawan pengajar, fotografer dan videografer pun tiba. Mau ngumpul dimana yah?. Arya sudah beri sinyal bahwa untuk sementara, sekretariat Penyala sedang renovasi. Jadi kami tak bisa ngumpul di sana tuk melakukan seleksi.

Maka dipilihlah KFC Pettarani. Sebuah tempat yang adem, ada makanannya dan bisa diskusi lama.

Untuk kepentingan seleksi, penggunaan kertas plano menjadi wajib. Tapi mau pasang dimana?. Di sekitar tempat kami duduk, hanya dinding kaca. Tapi…bukan Evi kalau tidak Pede Over Dosis.

Dengan gaya seolah manajer KFC, dia dengan santainya memasang kertas plano dengan bantuan sticker penyala makassarku, sebagai ganti dari isolasi kertas yang lupa dibawa nya. Eviiiiii, itu sticker ku satu-satunya. Sense of belonging yang tidak pada tempatnya. Terlalu!

Ulah kita yang menyeleksi pengajar dengan suara lumayan heboh dengan kertas plano menempel cantik di dinding kaca, rupanya memicu manajer KFC yang asli tuk menegur. “maaf yah. Tidak boleh pasang kertas di dinding, “ sapanya dengan datar.

Evi yang manajer gadungan, malah dengan santai berkata “tidak mengotoriji, cuma ditempel pake stickerji ini pak”.  “Harus minta ijin ke atasan dulu”. “Atasannya dimana?,” ya elaaah Evi masih ngotot mau pasang.

Dengan ekspresi yang tak tak terlukiskan, saking jeleknya, Evi pun mencabut kertas planonya. “NgapamiE, ucapnya dengan bibir mencong tak beraturan.

 

Merepotkan BaKTI

Menyeleksi para relawan pengajar, fotografer dan videografer, tentunya tak cukup jika cuma sehari. Lalu..kemanakah akan melaksanakan seleksi di esok hari? Yang bisa pasang plano, yang bisa ribut, yang bisa nongkrong agak lama. Pilihanpun jatuh pada Kantor BaKTI di Jl.Mappanyukki.

Merepotkan adalah sebuah hobby baru tuk Penyala Makassar. Setelah merepotkan di KFC, kami merepotkan orang-orang BaKTI . Pelakunya utamanya, masih tetap Evi dooong. Yang lain cuma latah saja. Hehe

Memilih menyeleksi di halaman kantor BaKTI yang lumayan lapang, kami duduk di meja bundar. Jarak colokan lumayan jauh. Itupun cuma tersedia 2 colokan. “Pinjam ke security,” saranku.

Ikes dengan keberanian yang dipaksakan mendekati security dan mulai serangan mautnya. Pak Security memang baik deh. Tanpa banyak tanya dan tanpa merasa direpotkan, dia menyodorkan sebuah kabel roll.

Lain Ikes, lain pula Evi. Seperti biasanya, Evi pastilah datangnya telat. Dan kali ini, dia datang dengan se-kantong ubi goreng, lengkap dengan saus sambel khas-nya. Tapi, saus sambelnya mau dituang kemana?

Susah amat, kan bisa merepotkan orang. Maka dengan cara ngomong yang dibuat se-imut mungkin, Evi meminta kesediaan guard-nya BaKTI, tuk sudi meminjamkan dua buah piring dari Dapur. Ampuuun. Dari urusan kabel  sampai saus sambel, harus merepotkan orang.

Eits, tidak berhenti sampai disitu saja. Saat ingin membagi-bagi tim relawan pengajar, fotografer, dan videografer, kertas plano harus dipasang. Biar semua bisa melihat langsung pembagiannya.

Simsalabiiim…Dinding luar gedung BaKTI pun dihiasi dengan kertas plano. Papan pengumuman yang terbuat dari kaca (tiba-tiba teringat dinding kaca-nya KFC), juga dijadikan sebagai tempat menempel plano.

Kami benar-benar merepotkan. Bahkan seorang mbak Sherly pun, harus mengalah untuk kami. Padahal ini kan kantornya dia. Hehe. Mbak Sherly hanya bisa berkata dengan ekspresi bingung, “ini terpasang sampai jam berapa yah? Saya harus menuliskan pengumuman. Tapi nantilah, setelah kalian tidak memakai papan pengumuman.”

Sungguh semua kerepotan ini, adalah bukti bahwa masih banyak orang-orang di Makassar yang peduli kepada Pendidikan Anak Bangsa.

Pinjam papan pengumuman dan dindingnya yah

Pinjam papan pengumuman dan dindingnya yah

BINCANG DUA PENYALA

29 Desember 2012

Membaca sebuah pesan dalam inbox facebookku yang rupanya dikirim oleh seorang bernama Ikes Dwiastuti, pada 28 Desember 2012 pukul 23:36.

Asslm
halo kak..

salam kenal..
confirm me please..

oh iyyah,,tadi sy di telp oleh Agung (PM IV)..
 dia cerita keinginan kakak untuk membentuk Penyala Makassar..
kebetulan,,sy dan beberapa teman bbrp bulan yang lalu sudah pernah melakukan pertemuan dgn teman2 yang memiliki kepedulian yg sama..
tp,,karena ketrbatasan kami..sehingga kami belum melaku
kan sbuah kegiatan nyata..
 bisa minta kontak kakak??biar bs cerita lebih panjang..

inbox ikes

Pesan itu langsung kubalas, dengan menanyakan sampai dimana persiapan Penyala dan apa kendala yang ditemui. Saya memberikan nomor kontak dan menawari ketemuan langsung untuk ngobrol panjang daripada via phone.

30 Desember 2012

Sesungguhnya hari Sabtu adalah hari mencuci nasional bagi seorang Ibu seperti saya. Tapi karena hari ini saya juga harus menjemput anak saya yang pulang sekolah, maka ada waktu tuk keluar rumah. Hari ini, berangkat lebih awal tuk ngobrol singkat dengan Penyala Ikes, sebelum menjemput jagoan kecilku di sekolahnya.

Saya sudah di McD, kak. Saya pakai baju biru yah. Begitu isi pesan singkat Ikes di HP, yang menyebabkan saya mondar mandir mencari seorang perempuan berjilbab yang mengenakan baju biru. Tahu dia berjilbab, dari foto profilnya di FB. Tapi tak satupun yang berbaju biru.

Hingga  kemudian seseorang menegur saya “Kak Bunga yah?”. Sempat merasa aneh saja, orang ini sama sekali tidak memakai baju biru. Tapi sepertinya, tanya di kepala saya tertangkap olehnya, karena dengan cepat ia menyodorkan tangan untuk mengenalkan diri. “saya Arya, Ikes sedang ke kamar kecil”. Oh, rupanya temannya.

Arya adalah salah satu Penyala juga. Ia membuka pembicaraan dengan bercerita bahwa sudah menghubungi beberapa teman untuk hadir, tetapi semua sedang berhalangan. It’s Ok. Lagipula saya hanya ingin berkenalan. Tak harus hadir semua kan?, pikirku.

Pertanyaan pertama yang  saya lontarkan kepada mereka sebagai wujud keingintahuan yang besar adalah “sudah melakukan apa saja?.” Dan dijawab oleh Ikes, “baru sebatas diskusi, belum ada pengumpulan buku”. Lho…susahnya dimana yah?, saya berusaha menebak.

Kedua Penyala di depanku ini mulai bercerita tentang siapa yang terlibat dan mengapa mereka belum memiliki kegiatan. Dan jawaban paling unik yang saya dengar dari mereka adalah “kami agak khawatir mengajak sembarang orang, kak. Kadang mereka mengejar dengan pertanyaan dan kami tidak bisa jawab.”

“Tidak bisa dijawab bagaimana?,” saya bertanya sambil membayangkan kemungkinan pertanyaan yang diajukan oleh orang-orang. “Kan tinggal menjawab pertanyaan mereka. Kecuali kalian memang tidak memahami tentang Penyala, baru bakal susah menjawab.”

“Tapi susah. Bagaimana yah?,” mereka berdua mulai keliatan bingung mencari kata dan kalimat yang tepat untuk menggambarkan kesulitan mereka menjawab pertanyaan orang-orang. Untuk menghindari kebingungan yang berkelanjutan, saya pun ganti pertanyaan. Apakah ada kendala lain?

“Kami masih sedikit”, jawab Arya. Setelah itu, mulai menyebutkan nama-nama Penyala lain. “Saya juga bergabung dalam sebuah komunitas. Kami cuma berenam di dalamnya. Kami tinggal berpencar di kabupaten yang berbeda. Tapi kami bisa melakukan kegiatan-kegiatan. Jumlah orang, tidak selamanya menjadi kendala,” saya mengajak mereka berfikir.

“Kata Hendra, kita harus mengumpulkan beberapa orang dulu, kemudian membuat susunan pengurus, lalu diskusi buat kegiatan“Arya mulai menjelaskan mengapa jumlah orang menjadi kendala. Saya menimpali dengan senyum-senyum sambil mengingatkan jika mereka sudah punya group dan fanpage di FB. Di group dan fanpage tersebut, mereka sudah punya teman-teman. Mengapa tidak mulai sebar info kumpulkan buku?

Pertanyaan saya selanjutnya, “Haruskah mengajak orang untuk menjadi anggota Penyala dulu, baru kemudian mereka bisa donasi buku?. Karena banyak orang yang berminat donasi buku tapi tak ada waktu untuk ikut pertemuan-pertemuan Penyala.” Mereka berdua manggut-manggut berusaha memahami apa yang saya katakan.

Penting bagi kedua Penyala ini untuk diberi pertanyaan lanjutan. Biar mereka bisa mengidentifikasi sendiri, mengapa mereka belum punya kegiatan hingga saat ini, pikir saya. Dan sayapun siap-siap melontarkan pertanyaan pamungkas, “dari kalangan mana saja yang diajak jadi Penyala?”

Benar dugaan saya, kedua Penyala berjilbab yang manis-manis ini masih cenderung bermain di area kampus saja. Mengajak hanya adik-adik mahasiswa saja. Salahkah? Tentu saja tidak. Tapi perlu mengembangkan segmen pasar. Mengapa tidak melirik orang-orang yang sudah bekerja, yang lebih mampu untuk berdonasi buku?.

Rasanya, tak perlu lama berdiskusi, apalagi saya dikajr waktu untuk segera menjemput jagoanku yang sebentar lagi pulang sekolah. saya pun mengajak kedua Penyala yang tidak pernah tahu siapa yang menjadi koordinator Penyala Makassar ini, untuk menuliskan nama, nomor kontak dan alamat mereka untuk disebar jika ada yang berminat donasi buku.

Saya meyakinkan mereka berdua bahwa di luar sana, banyak orang yang mau berkontribusi tuk negeri ini. Hanya saja, mereka tak tahu caranya, mereka tak punya waktu untuk datang langsung, dan mereka pun tak mengenal Penyala Makassar.

Pertemuan berkali-kali, diskusi panjang tanpa aksi, tentulah tak ada gunanya. Melakukan hal kecil, kemudian perlihatkan kegiatan kecil kita di media sosial, akan lebih menggugah lebih banyak orang untuk bergabung.

Hari ini, saya mengantongi tiga contact person Penyala Makassar. Saya berjanji akan menunjukkan kepada dua Penyala ini bahwa saya bisa mengajak orang berdonasi buku, meski saat ini Penyala Makassar belum mengumpulkan banyak orang. Bukankah tujuan kita sederhana teman? Hanya untuk menyediakan buku-buku bermutu bagi adik-adik di sana, agar mereka bersinar dan menyalakan Indonesia.

Salam Penyala!Kontak Penyala

Menyalakan Indonesia Kala Banjir Melanda Makassar

Semalam manusia menyerbu langit dengan petasan dan kembang api. Hari ini langit menyerang bumi dengan hujan lebatnya. Seperti itu bunyi sms iseng anak sulungku. Meski sebenarnya kami berdua dalam satu rumah yang sama di siang itu, tapi saya tahu jika ia mengirimkannya karena iseng tuk melalui hari libur yang menjemukan baginya.

Siang ini, hari pertama di tahun 2103. Saya hanya mampu memandangi langit melalui jendela dengan penuh keraguan. Langit sama sekali tak memberi sinyal bahwa hujannya akan berhenti. Pergi atau tidak yah?.  Sejak pagi tadi, hujan lebat turun tanpa jeda sama sekali.

Saya kembali memegang handphone sambil scroll layar ke atas tuk membaca obrolan teman-teman sejak semalam di whatsapp group Penyala Makassar.  Kita telah janjian untuk bertemu membahas Penyala Makassar bersama adik-adik Pengajar Muda dari Majene.

Setelah satu jam nada whatsapp tak pernah terdengar, tiba-tiba sapaan Didin pengajar muda masuk dan menyatakan bahwa ia dan teman-teman pengajar muda lainnya sudah di Mall Panakukang. Duh, saya semakin resah. “Jika saya benar-benar ingin menyalakan Indonesia, saya harus kesana meski hujan masih lebat,” batin saya.

Tak segampang itu keluar rumah dengan mengendarai motor di cuaca dingin dan lebatnya hujan. Protes keras dilemparkan oleh suami dengan sebuah pertanyaan “Hujan lebat begini ke Mall Panakukang? Sepenting apakah pertemuannya hingga tak bisa ditunda?”. Sempat bengong beberapa detik hingga kemudian saya menjawab bahwa adik-adik Pengajar Muda telah datang jauh-jauh dari Majene untuk bertemu dan membahas penyala. Meski saya tahu bahwa tujuan utama mereka datang ke Makassar adalah untuk berlibur, tapi jawaban tadi cukup ampuh tuk dapat ijin keluar rumah.

Dengan mantel yang sobek di bagian lengan kanannya, saya menyusuri jalan yang mulai tergenang air di bawah hujan yang tak mau sedikitpun berubah menjadi gerimis. Waktu tempuh yang cukup lama dari biasanya, karena macet akibat antri di jalan yang tergenang dengan ketinggian air yang lumayan. Sesusah inikah memulai tuk bergabung menjadi penyala?.

Memasuki Mall Panakukang di pukul 15.00, molor dua jam dari janjian pukul 13.00. Jalan tergesa sambil berusaha menghubungi Arya. Ah, kenapa susah sekali menghubungimu Arya?. Pasti sedang diskusi, tebakku.

Bergabung duduk dengan mereka, berkenalan dan memulai pembicaraan tentang kegiatan adik-adik Pengajar Muda. Rencana awal bertemu Pengajar Muda, sesuai dengan percakapan di whatsapp adalah identifikasi kebutuhan buku pengajar muda di Majene. Tapi otakku sempat manyun saat ada yang mempertanyakan ide pertemuan itu.

Meski sempat tersinggung tatkala ada orang Makassar sendiri yang seolah menyangsikan kepedulian orang Makassar, saya tetap menyatakan “tujuan kita sederhana, bagaimana bisa menyediakan buku bagi mereka yang di daerah terpencil”.  Hufffh, tujuan sederhana itupun masih didebat. Ya sudahlah, saya tak mau terlibat debat tanpa melakukan aksi nyata tuk menyalakan Indonesia.

Saya tak pandai tuk merangkai kata, meyakinkan semua yang hadir tentang kepedulian saya kepada anak bangsa ini. Yang saya tahu, saya menerjang hujan lebat, membelah jalan yang tergenang air, antri di macetnya jalan, tuk menuju ke pertemuan ini, tanpa sedikitpun berniat bahwa saya memilih menjadi Penyala karena alasan jadi batu loncatan tuk menjadi pengajar muda, karena  saya tidak muda lagi. Tanpa terfikir bahwa saya akan mudah mendapat kerjaan, karena saya pun sudah punya pekerjaan. Hati kecilku menerima sinyal aneh, benarkah ada hubungan yang signifikan antara status sebagai Penyala dengan kemudahan memperoleh pekerjaan?.

Sinyal aneh itu berangsur hilang saat adik-adik Pengajar Muda mulai fokus ngobrol denganku membahas kebutuhan buku mereka, tukar-tukaran kartu nama dan nomor HP. Adik-adik ini bisa menangkap niat ikhlasku dan beberapa penyala yang ingin menyalakan Indonesia.

Di akhir diskusi, suasana yang awalnya penuh tanya dalam hati, hal itu terbaca dari tatapan mereka, akhirnya menjadi cair ketika purna pengajar muda dari Makassar datang bergabung. Sungguh pertemuan awal tahun yang luar biasa.

Di hari itu, di tanggal 1 Januari 2013,  kala berita TV dan koran dipenuhi berita tentang banjir di Makassar akibat curah hujan yang tinggi, saya menobatkan diri saya sendiri sebagai penyala, dengan dua eksamplar buku, yang mampir saya beli sebelum pulang dari pertemuan. Terima kasih kepada Didin Pengajar Muda. Kamu telah menyampaikan buku tipis itu kepada adik-adik yang nun jauh di sana.

Berkali-kali saya meyakinkan diri, bahwa saya menuliskan ini bukan untuk Riya’, tapi lebih kepada bagaimana menarik aksi lebih banyak dari orang yang membacanya, tuk ikut menyalakan Indonesia.Image

Next Newer Entries