Categories
Diary Voluntary

“Membuat Repot Itu Indah”: Di Balik Seleksi Relawan Kelas Inspirasi Makassar

Tak percaya,  jika akhirnya akan seperti ini. Kok jadi seperti kalimat sedih yah? Padahal sebaliknya.

Tertarikkah Para Profesional Makassar?

Saat awal-awal membahas rencana Kelas Inspirasi, saya bisa membaca raut wajah yang dipaksakan optimis dari teman-teman yang hadir saat itu di tribun Karebosi. Bagaimana cara menarik orang tuk mau ikut kelas inspirasi? Tertarikkah profesional  Makassar? Banyak tanya yang muncul saat itu.

“Kita ajak orang yang punya pengaruh. Biar yang lain tertarik ikut,” saran salah seorang dari kami. Entah siapa yang mengusulkan waktu itu. Yang pasti, nama-nama seperti Pak Jusuf Kalla, Pak Abraham Samad, hingga Pak Nurdin yang merupakan Bupati Bantaeng, disebut-sebut sebagai tokoh profesional yang bisa menggerakkan profesional lain tuk berminat gabung kelas inspirasi Makassar.

Rencanapun disusun. Siapa yang bertanggungjawab untuk menghubungi 3 tokoh itupun sudah ditetapkan.

Namun kenyataannya, hingga Hari Inspirasi tgl 28 Maret 2013, ketiga tokoh tersebut tidak hadir. Lalu..apakah kemudian peminat kelas inspirasi Makassar hanya terdiri dari segelintir orang saja?

Hari-H Inspirasi dan Repotnya Berburu Jusuf Kalla

Target utama kami adalah Bapak Jusuf Kalla. Dan PIC utama tuk memastikan beliau bersedia hadir di hari inspirasi adalah Ina Sabrina. Dia menawarkan diri, karena dia adalah salah seorang penggiat PMI di Makassar. Aksesnya melalui PMI, pastinya.

Ternyata bukan hanya Ina yang sibuk berburu info di PMI, Early pun ikutan sibuk mencari informasi, siapa orang terdekat beliau yang bisa dihubungi untuk bisa sekedar audience. Baik Ina, maupun Early, menyatakan hal yang sama, “Hubungi Pak Yadi, dia adalah sekretaris pribadi Pak JK.”

Perburuan yang sebenarnya pun dimulai. Early direpotkan dengan telponan dan sms-an dengan pak Yadi. Saya repot kirim email ke Pak JK via Pak Yadi. Ikes repot cek apakah pak Yadi sudah buka peluang tuk audience. Dan kamipun semua menjadi  repot.

Tetapi yang paling membuat repot adalah ketika suatu siang, saat kami sedang kopdar membahas event Say It With Books dan Kelas Inspirasi di Kantor BaKTI. Ina menerima telpon dari seorang temannya, menginfokan bahwa Pak JK sedang di Makassar.

Spontan kopdar jadi berubah materi pembahasan. Buat rencana dadakan tuk mengunjungi  kediaman beliau, saat istirahat sore beliau.

Mulai repot dan merepotkan. Dengan senyum yang dibuat semanis mungkin, saya membujuk mbak Marni BaKTI tuk mencetak prinsip Kelas Inspirasi. Untungnya mbak Marni baik dan tidak banyak tanya. #Peluk mbak Marni.

Setelah makan siang di pukul 15.30 (makan siang atau makan sore kah?), kami pun bergerak ke rumah Pak JK. Di gerbang depan, harus ngobrol dengan bapak security yang ramah, namun penuh misteri. “Bapak sedang istirahat. Tidak bisa ditemui”.  Langkah berikutnya, telpon pak Yadi. Tidak diangkat. Mungkin nomor HP ku tak dikenali. Biar cepat, saya meminta Early tuk menelpon Pak Yadi. Yeee…tidak diangkat juga.

Saat menunggu Early dengan upaya kerasnya menghubungi pak Yadi. Empat orang yang tadinya duduk di pos jaga rumah pak JK, beranjak pergi dengan mobil. Tiba-tiba Evi berbisik, “jangan-jangan diantara mereka itu, ada yang bernama pak Yadi”.

Benar dugaan Evi. Saat kami bertanya ke security ramah yang misterius itu, dia dengan senyum-senyum tidak manisnya menjawab, “tadi itu, pak Yadi”. Kenapa tidak bilang dari tadi? Duasaaaar.

Dan kamipun pulang dengan sebuah lirik pilu dari Sheila on 7 “Aku pulaaaaaaang…tanpa pesaaaaan”.

Haruskah kita menunda menetapkan tanggal hari-H Inspirasi?. Maju kawaaan. Kita terlalu lama menunda tuk mengumumkan hari-H Inspirasi, gara-gara menunggu beliau. Segera tetapkan tanggalnya. Mulai ajak orang banyak tuk bergabung.  Jangan tunggu pak JK.

Repotnya Gentayangan di Dunia Maya

Adakah yang belum gabung di social media dunia maya saat ini? Sebagian besar dari profesional mengenal social media. Maka marilah kita menyerbu social media dengan virus yang bernama “Kelas Inspirasi”.

Kami yang awalnya tercatat hanya beberapa orang saja, kemudian bertambah dari hari ke hari. Dan masing-masing dari kami, kompakan memakai foto profil kelas inspirasi. Maaf yah teman-teman, karena saya memaksa beberapa orang tuk ganti foto profil. hehe

Serangan teman-teman membuahkan hasil. Bukan hanya serangan dunia maya. Serangan street campaign pun ikut menghasilkan sebuah kerepotan tuk mengecek website kelas inspirasi setiap harinya.

Di luar dugaan. Jumlah pendaftar  sebanyak 212 orang. Nah looo. Sementara kami, yang sengaja menekan optimisme, hanya berani menyiapkan 15 sekolah.

Merepotkan KFC Pettarani

Hari seleksi relawan pengajar, fotografer dan videografer pun tiba. Mau ngumpul dimana yah?. Arya sudah beri sinyal bahwa untuk sementara, sekretariat Penyala sedang renovasi. Jadi kami tak bisa ngumpul di sana tuk melakukan seleksi.

Maka dipilihlah KFC Pettarani. Sebuah tempat yang adem, ada makanannya dan bisa diskusi lama.

Untuk kepentingan seleksi, penggunaan kertas plano menjadi wajib. Tapi mau pasang dimana?. Di sekitar tempat kami duduk, hanya dinding kaca. Tapi…bukan Evi kalau tidak Pede Over Dosis.

Dengan gaya seolah manajer KFC, dia dengan santainya memasang kertas plano dengan bantuan sticker penyala makassarku, sebagai ganti dari isolasi kertas yang lupa dibawa nya. Eviiiiii, itu sticker ku satu-satunya. Sense of belonging yang tidak pada tempatnya. Terlalu!

Ulah kita yang menyeleksi pengajar dengan suara lumayan heboh dengan kertas plano menempel cantik di dinding kaca, rupanya memicu manajer KFC yang asli tuk menegur. “maaf yah. Tidak boleh pasang kertas di dinding, “ sapanya dengan datar.

Evi yang manajer gadungan, malah dengan santai berkata “tidak mengotoriji, cuma ditempel pake stickerji ini pak”.  “Harus minta ijin ke atasan dulu”. “Atasannya dimana?,” ya elaaah Evi masih ngotot mau pasang.

Dengan ekspresi yang tak tak terlukiskan, saking jeleknya, Evi pun mencabut kertas planonya. “NgapamiE, ucapnya dengan bibir mencong tak beraturan.

 

Merepotkan BaKTI

Menyeleksi para relawan pengajar, fotografer dan videografer, tentunya tak cukup jika cuma sehari. Lalu..kemanakah akan melaksanakan seleksi di esok hari? Yang bisa pasang plano, yang bisa ribut, yang bisa nongkrong agak lama. Pilihanpun jatuh pada Kantor BaKTI di Jl.Mappanyukki.

Merepotkan adalah sebuah hobby baru tuk Penyala Makassar. Setelah merepotkan di KFC, kami merepotkan orang-orang BaKTI . Pelakunya utamanya, masih tetap Evi dooong. Yang lain cuma latah saja. Hehe

Memilih menyeleksi di halaman kantor BaKTI yang lumayan lapang, kami duduk di meja bundar. Jarak colokan lumayan jauh. Itupun cuma tersedia 2 colokan. “Pinjam ke security,” saranku.

Ikes dengan keberanian yang dipaksakan mendekati security dan mulai serangan mautnya. Pak Security memang baik deh. Tanpa banyak tanya dan tanpa merasa direpotkan, dia menyodorkan sebuah kabel roll.

Lain Ikes, lain pula Evi. Seperti biasanya, Evi pastilah datangnya telat. Dan kali ini, dia datang dengan se-kantong ubi goreng, lengkap dengan saus sambel khas-nya. Tapi, saus sambelnya mau dituang kemana?

Susah amat, kan bisa merepotkan orang. Maka dengan cara ngomong yang dibuat se-imut mungkin, Evi meminta kesediaan guard-nya BaKTI, tuk sudi meminjamkan dua buah piring dari Dapur. Ampuuun. Dari urusan kabel  sampai saus sambel, harus merepotkan orang.

Eits, tidak berhenti sampai disitu saja. Saat ingin membagi-bagi tim relawan pengajar, fotografer, dan videografer, kertas plano harus dipasang. Biar semua bisa melihat langsung pembagiannya.

Simsalabiiim…Dinding luar gedung BaKTI pun dihiasi dengan kertas plano. Papan pengumuman yang terbuat dari kaca (tiba-tiba teringat dinding kaca-nya KFC), juga dijadikan sebagai tempat menempel plano.

Kami benar-benar merepotkan. Bahkan seorang mbak Sherly pun, harus mengalah untuk kami. Padahal ini kan kantornya dia. Hehe. Mbak Sherly hanya bisa berkata dengan ekspresi bingung, “ini terpasang sampai jam berapa yah? Saya harus menuliskan pengumuman. Tapi nantilah, setelah kalian tidak memakai papan pengumuman.”

Sungguh semua kerepotan ini, adalah bukti bahwa masih banyak orang-orang di Makassar yang peduli kepada Pendidikan Anak Bangsa.

Pinjam papan pengumuman dan dindingnya yah
Pinjam papan pengumuman dan dindingnya yah
Categories
Diary Voluntary

BINCANG DUA PENYALA

29 Desember 2012

Membaca sebuah pesan dalam inbox facebookku yang rupanya dikirim oleh seorang bernama Ikes Dwiastuti, pada 28 Desember 2012 pukul 23:36.

Asslm
halo kak..

salam kenal..
confirm me please..

oh iyyah,,tadi sy di telp oleh Agung (PM IV)..
 dia cerita keinginan kakak untuk membentuk Penyala Makassar..
kebetulan,,sy dan beberapa teman bbrp bulan yang lalu sudah pernah melakukan pertemuan dgn teman2 yang memiliki kepedulian yg sama..
tp,,karena ketrbatasan kami..sehingga kami belum melaku
kan sbuah kegiatan nyata..
 bisa minta kontak kakak??biar bs cerita lebih panjang..

inbox ikes

Pesan itu langsung kubalas, dengan menanyakan sampai dimana persiapan Penyala dan apa kendala yang ditemui. Saya memberikan nomor kontak dan menawari ketemuan langsung untuk ngobrol panjang daripada via phone.

30 Desember 2012

Sesungguhnya hari Sabtu adalah hari mencuci nasional bagi seorang Ibu seperti saya. Tapi karena hari ini saya juga harus menjemput anak saya yang pulang sekolah, maka ada waktu tuk keluar rumah. Hari ini, berangkat lebih awal tuk ngobrol singkat dengan Penyala Ikes, sebelum menjemput jagoan kecilku di sekolahnya.

Saya sudah di McD, kak. Saya pakai baju biru yah. Begitu isi pesan singkat Ikes di HP, yang menyebabkan saya mondar mandir mencari seorang perempuan berjilbab yang mengenakan baju biru. Tahu dia berjilbab, dari foto profilnya di FB. Tapi tak satupun yang berbaju biru.

Hingga  kemudian seseorang menegur saya “Kak Bunga yah?”. Sempat merasa aneh saja, orang ini sama sekali tidak memakai baju biru. Tapi sepertinya, tanya di kepala saya tertangkap olehnya, karena dengan cepat ia menyodorkan tangan untuk mengenalkan diri. “saya Arya, Ikes sedang ke kamar kecil”. Oh, rupanya temannya.

Arya adalah salah satu Penyala juga. Ia membuka pembicaraan dengan bercerita bahwa sudah menghubungi beberapa teman untuk hadir, tetapi semua sedang berhalangan. It’s Ok. Lagipula saya hanya ingin berkenalan. Tak harus hadir semua kan?, pikirku.

Pertanyaan pertama yang  saya lontarkan kepada mereka sebagai wujud keingintahuan yang besar adalah “sudah melakukan apa saja?.” Dan dijawab oleh Ikes, “baru sebatas diskusi, belum ada pengumpulan buku”. Lho…susahnya dimana yah?, saya berusaha menebak.

Kedua Penyala di depanku ini mulai bercerita tentang siapa yang terlibat dan mengapa mereka belum memiliki kegiatan. Dan jawaban paling unik yang saya dengar dari mereka adalah “kami agak khawatir mengajak sembarang orang, kak. Kadang mereka mengejar dengan pertanyaan dan kami tidak bisa jawab.”

“Tidak bisa dijawab bagaimana?,” saya bertanya sambil membayangkan kemungkinan pertanyaan yang diajukan oleh orang-orang. “Kan tinggal menjawab pertanyaan mereka. Kecuali kalian memang tidak memahami tentang Penyala, baru bakal susah menjawab.”

“Tapi susah. Bagaimana yah?,” mereka berdua mulai keliatan bingung mencari kata dan kalimat yang tepat untuk menggambarkan kesulitan mereka menjawab pertanyaan orang-orang. Untuk menghindari kebingungan yang berkelanjutan, saya pun ganti pertanyaan. Apakah ada kendala lain?

“Kami masih sedikit”, jawab Arya. Setelah itu, mulai menyebutkan nama-nama Penyala lain. “Saya juga bergabung dalam sebuah komunitas. Kami cuma berenam di dalamnya. Kami tinggal berpencar di kabupaten yang berbeda. Tapi kami bisa melakukan kegiatan-kegiatan. Jumlah orang, tidak selamanya menjadi kendala,” saya mengajak mereka berfikir.

“Kata Hendra, kita harus mengumpulkan beberapa orang dulu, kemudian membuat susunan pengurus, lalu diskusi buat kegiatan“Arya mulai menjelaskan mengapa jumlah orang menjadi kendala. Saya menimpali dengan senyum-senyum sambil mengingatkan jika mereka sudah punya group dan fanpage di FB. Di group dan fanpage tersebut, mereka sudah punya teman-teman. Mengapa tidak mulai sebar info kumpulkan buku?

Pertanyaan saya selanjutnya, “Haruskah mengajak orang untuk menjadi anggota Penyala dulu, baru kemudian mereka bisa donasi buku?. Karena banyak orang yang berminat donasi buku tapi tak ada waktu untuk ikut pertemuan-pertemuan Penyala.” Mereka berdua manggut-manggut berusaha memahami apa yang saya katakan.

Penting bagi kedua Penyala ini untuk diberi pertanyaan lanjutan. Biar mereka bisa mengidentifikasi sendiri, mengapa mereka belum punya kegiatan hingga saat ini, pikir saya. Dan sayapun siap-siap melontarkan pertanyaan pamungkas, “dari kalangan mana saja yang diajak jadi Penyala?”

Benar dugaan saya, kedua Penyala berjilbab yang manis-manis ini masih cenderung bermain di area kampus saja. Mengajak hanya adik-adik mahasiswa saja. Salahkah? Tentu saja tidak. Tapi perlu mengembangkan segmen pasar. Mengapa tidak melirik orang-orang yang sudah bekerja, yang lebih mampu untuk berdonasi buku?.

Rasanya, tak perlu lama berdiskusi, apalagi saya dikajr waktu untuk segera menjemput jagoanku yang sebentar lagi pulang sekolah. saya pun mengajak kedua Penyala yang tidak pernah tahu siapa yang menjadi koordinator Penyala Makassar ini, untuk menuliskan nama, nomor kontak dan alamat mereka untuk disebar jika ada yang berminat donasi buku.

Saya meyakinkan mereka berdua bahwa di luar sana, banyak orang yang mau berkontribusi tuk negeri ini. Hanya saja, mereka tak tahu caranya, mereka tak punya waktu untuk datang langsung, dan mereka pun tak mengenal Penyala Makassar.

Pertemuan berkali-kali, diskusi panjang tanpa aksi, tentulah tak ada gunanya. Melakukan hal kecil, kemudian perlihatkan kegiatan kecil kita di media sosial, akan lebih menggugah lebih banyak orang untuk bergabung.

Hari ini, saya mengantongi tiga contact person Penyala Makassar. Saya berjanji akan menunjukkan kepada dua Penyala ini bahwa saya bisa mengajak orang berdonasi buku, meski saat ini Penyala Makassar belum mengumpulkan banyak orang. Bukankah tujuan kita sederhana teman? Hanya untuk menyediakan buku-buku bermutu bagi adik-adik di sana, agar mereka bersinar dan menyalakan Indonesia.

Salam Penyala!Kontak Penyala

Categories
Diary Voluntary

Menyalakan Indonesia Kala Banjir Melanda Makassar

Semalam manusia menyerbu langit dengan petasan dan kembang api. Hari ini langit menyerang bumi dengan hujan lebatnya. Seperti itu bunyi sms iseng anak sulungku. Meski sebenarnya kami berdua dalam satu rumah yang sama di siang itu, tapi saya tahu jika ia mengirimkannya karena iseng tuk melalui hari libur yang menjemukan baginya.

Siang ini, hari pertama di tahun 2103. Saya hanya mampu memandangi langit melalui jendela dengan penuh keraguan. Langit sama sekali tak memberi sinyal bahwa hujannya akan berhenti. Pergi atau tidak yah?.  Sejak pagi tadi, hujan lebat turun tanpa jeda sama sekali.

Saya kembali memegang handphone sambil scroll layar ke atas tuk membaca obrolan teman-teman sejak semalam di whatsapp group Penyala Makassar.  Kita telah janjian untuk bertemu membahas Penyala Makassar bersama adik-adik Pengajar Muda dari Majene.

Setelah satu jam nada whatsapp tak pernah terdengar, tiba-tiba sapaan Didin pengajar muda masuk dan menyatakan bahwa ia dan teman-teman pengajar muda lainnya sudah di Mall Panakukang. Duh, saya semakin resah. “Jika saya benar-benar ingin menyalakan Indonesia, saya harus kesana meski hujan masih lebat,” batin saya.

Tak segampang itu keluar rumah dengan mengendarai motor di cuaca dingin dan lebatnya hujan. Protes keras dilemparkan oleh suami dengan sebuah pertanyaan “Hujan lebat begini ke Mall Panakukang? Sepenting apakah pertemuannya hingga tak bisa ditunda?”. Sempat bengong beberapa detik hingga kemudian saya menjawab bahwa adik-adik Pengajar Muda telah datang jauh-jauh dari Majene untuk bertemu dan membahas penyala. Meski saya tahu bahwa tujuan utama mereka datang ke Makassar adalah untuk berlibur, tapi jawaban tadi cukup ampuh tuk dapat ijin keluar rumah.

Dengan mantel yang sobek di bagian lengan kanannya, saya menyusuri jalan yang mulai tergenang air di bawah hujan yang tak mau sedikitpun berubah menjadi gerimis. Waktu tempuh yang cukup lama dari biasanya, karena macet akibat antri di jalan yang tergenang dengan ketinggian air yang lumayan. Sesusah inikah memulai tuk bergabung menjadi penyala?.

Memasuki Mall Panakukang di pukul 15.00, molor dua jam dari janjian pukul 13.00. Jalan tergesa sambil berusaha menghubungi Arya. Ah, kenapa susah sekali menghubungimu Arya?. Pasti sedang diskusi, tebakku.

Bergabung duduk dengan mereka, berkenalan dan memulai pembicaraan tentang kegiatan adik-adik Pengajar Muda. Rencana awal bertemu Pengajar Muda, sesuai dengan percakapan di whatsapp adalah identifikasi kebutuhan buku pengajar muda di Majene. Tapi otakku sempat manyun saat ada yang mempertanyakan ide pertemuan itu.

Meski sempat tersinggung tatkala ada orang Makassar sendiri yang seolah menyangsikan kepedulian orang Makassar, saya tetap menyatakan “tujuan kita sederhana, bagaimana bisa menyediakan buku bagi mereka yang di daerah terpencil”.  Hufffh, tujuan sederhana itupun masih didebat. Ya sudahlah, saya tak mau terlibat debat tanpa melakukan aksi nyata tuk menyalakan Indonesia.

Saya tak pandai tuk merangkai kata, meyakinkan semua yang hadir tentang kepedulian saya kepada anak bangsa ini. Yang saya tahu, saya menerjang hujan lebat, membelah jalan yang tergenang air, antri di macetnya jalan, tuk menuju ke pertemuan ini, tanpa sedikitpun berniat bahwa saya memilih menjadi Penyala karena alasan jadi batu loncatan tuk menjadi pengajar muda, karena  saya tidak muda lagi. Tanpa terfikir bahwa saya akan mudah mendapat kerjaan, karena saya pun sudah punya pekerjaan. Hati kecilku menerima sinyal aneh, benarkah ada hubungan yang signifikan antara status sebagai Penyala dengan kemudahan memperoleh pekerjaan?.

Sinyal aneh itu berangsur hilang saat adik-adik Pengajar Muda mulai fokus ngobrol denganku membahas kebutuhan buku mereka, tukar-tukaran kartu nama dan nomor HP. Adik-adik ini bisa menangkap niat ikhlasku dan beberapa penyala yang ingin menyalakan Indonesia.

Di akhir diskusi, suasana yang awalnya penuh tanya dalam hati, hal itu terbaca dari tatapan mereka, akhirnya menjadi cair ketika purna pengajar muda dari Makassar datang bergabung. Sungguh pertemuan awal tahun yang luar biasa.

Di hari itu, di tanggal 1 Januari 2013,  kala berita TV dan koran dipenuhi berita tentang banjir di Makassar akibat curah hujan yang tinggi, saya menobatkan diri saya sendiri sebagai penyala, dengan dua eksamplar buku, yang mampir saya beli sebelum pulang dari pertemuan. Terima kasih kepada Didin Pengajar Muda. Kamu telah menyampaikan buku tipis itu kepada adik-adik yang nun jauh di sana.

Berkali-kali saya meyakinkan diri, bahwa saya menuliskan ini bukan untuk Riya’, tapi lebih kepada bagaimana menarik aksi lebih banyak dari orang yang membacanya, tuk ikut menyalakan Indonesia.Image