Categories
Diary Inspiration

Kartu Lebaran dari Anies Baswedan

Ada yang pernah berburu kartu lebaran di toko buku, saat bulan Ramadhan? Entah kapan terakhir kali saya mengirim ataupun menerima kartu ucapan ldul Fitri. Benda bernama perangko pun, rasanya sudah lama sekali tak membelinya. Pemandangan halaman kantor pos yang biasa dipadati penjual kaki lima yang jualan kartu ucapan beraneka desainpun, sudah tak pernah lagi kutemui.

Kala telpon genggam tidak lagi menjadi barang mewah, ucapan selamat Idul Fitri lebih banyak disampaikan melalui pesan singkat ataupun saling menelpon dengan kerabat dan sahabat.

Semakin murahnya berinternet, juga semakin membuat kartu lebaran bukan lagi pilihan untuk mengucapkan selamat Idul Fitri kepada siapapun. Cukup dengan pesan obrolan melalui aplikasi messenger BBM, Wahtsapp, Line, Facebook dan lain-lain, ucapan maaf lahir batin dapat terkirim dengan cepat.

Sebuah kartu ucapan Idul Fitri tiba di rumah, diantar oleh petugas Pos. Kartu dengan desain sampulnya bukan lukisan masjid, kaligrafi, bunga ataupun pemandangan alam, melainkan foto keluarga mas Anies Baswedan.

Categories
Diary Travel

Manik-manik dan syal dari Tanah leluhur

Wisata makam, ya? Demikian candaan yang sering kulontarkan, jika ada teman yang akan ke Tana Toraja. Sebagian besar objek wisata di sana, memang berupa lokasi pemakaman tua yang tidak lazim.

Februari lalu, aku melakukan perjalanan kerja ke sana. Ini adalah keempat kalinya aku mengunjungi Toraja, kabupaten yang memiliki budaya amat berbeda dari kabupaten-kabupaten lain di Sulawesi Selatan.

Dibanding upacara pernikahan, suku Toraja lebih menjunjung tinggi tradisi kematian dan pemakaman. Ini salah satu penyebab mengapa objek wisata di sana lebih dominan berupa pekuburan yang berada di tebing-tebing, diantara celah dan curukan tebing tersebut. Meski demikian, kita masih bisa menikmati objek lain berupa pemandangan pegunungan yang indah, situs megalitikum dan kerajinan khas dari tanah leluhur ini.

Lebih dikenal dengan wisata pekuburannya, tidak kemudian menjadikan Toraja menjadi tempat yang kental dengan hal mistis. Peristiwa seperti kerasukan, mendadak sakit dan yang aneh-aneh, kala mengunjungi pemakaman leluhur, nyaris tak pernah ditemui oleh wisatawan.

Sebagian besar waktuku di Toraja kali ini untuk berdiskusi dengan teman-teman Pemerintah, sehingga pilihan jalan-jalannya lebih mengarah ke pusat belanja oleh-oleh.

Tenun Toraja. Sempat kaget tatkala belanja syal dari kain tenun. Aku beli beberapa syal bermotif garis-garis di pasar tradisional, hanya Rp.20..000 perlembarnya. Tatkala pindah tempat ke salah satu toko oleh-oleh, aku menemukan begitu banyak motif, bukan hanya berupa garis-garis, seperti yang umum dijual di pasar ataupun kios-kios yang ada di sekitar objek wisata, namun dengan harga yang jauh lebih mahal. Ratusan hingga jutaan rupiah. Wow.

Penasaran, akupun menanyakan ke Anna, seorang teman yang bekerja di Toraja. Menurutnya, ada beberapa jenis tenunan di Toraja. Yang banyak dijual dan mudah diperoleh, biasanya bermotif lurik-lurik. Menjadi amat murah, selain karena motifnya yang sederhana, juga karena merupakan produksi pabrik dengan benang sintetis.

Pengrajin tenun tradisional (foto: koleksi pribadi)
Pengrajin tenun tradisional (foto: koleksi pribadi)

Syal yang ditenun secara tradisional, bukan pabrikan, namun tetap menggunakan benang sintetis, harganya sedikit lebih mahal. Lalu yang jutaan? ternyata ada bermacam-macam jenis tenunan di sini. Kain yang ditenun dengan alat tenun bukan mesin, ada yang menggunakan benang dari bahan alami, yaitu serat tanaman atau batang pohon tertentu.

Benang dari seratpun, masih terbagi dua lagi. Ada yang menggunakan pewarna sintetis, ada yang masih tetap menggunakan pewarna organik dari cabe,sabuk kepala atau lainnya. Jenis terakhir inilah yang harganya bisa mencapai jutaan.

Benang dengan pewarna organik (foto: koleksi pribadi)
Benang dengan pewarna organik (foto: koleksi pribadi)

Bagi yang ingin belanja tenunan, boleh memperoleh di Pasar Tradisional di kota Rantepao. Untuk tenun organik, bisa jalan-jalan ke toko oleh-oleh yang terkenal di Toraja Utara, toko Todi namanya.

Jika ingin benar-benar melihat proses menenun, bisa ke pusat kerajinan tenun di Sa’dan, Toraja Utara. Di sana, harga tenunnya jauh lebih murah.

Selain tenun, Toraja memiliki kerajinan lain, seperti miniatur rumah Tongkonan, tau-tau dan aksesoris manik-manik.

Aksesoris ini merupakan pelengkap pakaian adat Toraja, yang dikenakan oleh perempuan. Biasanya dikenakan sebagai pengikat kepala, hiasan bahu dan dada, serta sebagai ikat pinggang. Bagian bawah aksesoris tersebut, dibuat menjuntai hingga ke pinggang dan ke lutut.

Tak hanya untuk aksesoris, manik-manik juga dibuat menjadi hiasan rumah. Biasanya berupa corong, mirip kap lampu, yang tepinya dihiasi lagi dengan manik-manik yang menjuntai. Menurut temanku, ada mitos mistis tentang kerajinan ini.

Belanja manik-manik di Kete'kesu (foto: koleksi pribadi)
Belanja manik-manik di Kete’kesu (foto: koleksi pribadi)

Saat ini, manik-manik tidak hanya dibuat sebagai aksesoris pelengkap baju adat, namun juga sudah dibuat sebagai aksesoris sehari-hari, yang bisa dijadikan oleh-oleh para wisatawan.

Berbagai macam gelang, kalung, ikat pinggang, bahkan gantungan kunci yang terbuat dari manik-manik, bisa didapatkan dengan mudah di Toraja. Harganya amat terjangkau untuk dibeli dalam jumlah banyak sebagai oleh-oleh. Dengan Rp.5.000 sudah bisa membawa pulang gelang.

Gelang Toraja di pasar tradisional (foto: koleksi pribadi)
Gelang Toraja di pasar tradisional (foto: koleksi pribadi)

Bagi yang suka mengoleksi manik-aksesoris manik, pasti bisa melihat perbedaan motif manik-manik Toraja dengan punya daerah lain di Indonesia. Motif yang mereka gunakan, masih mempertahankan motif dari leluhur. Pilihan warnanya pun, masih tetap warna Toraja, ini istilah yang kugunakan untuk mengenali warna aksesorisnya.

Gelang khas Toraja (foto: koleksi pribadi)
Gelang khas Toraja (foto: koleksi pribadi)
Rantai etnik Toraja (foto: koleksi pribadi)
Rantai etnik Toraja (foto: koleksi pribadi)

Jangan pernah mencari akseseoris manik-manik berwarna pink, ungu atau tosca di sana. Bakalan tidak pernah menemukan, karena warna khas aksesoris di sana, didominasi oleh kuning, orange, merah, hitam, coklat dan emas. Hal ini menjadikan akseseoris manik-manik Toraja, menjadi berbeda, sekaligus amat mudah dikenali.

Rantai dengan motif khas Toraja (foto: koleksi pribadi)
Rantai dengan motif khas Toraja (foto: koleksi pribadi)

Belanja oleh-oleh ku di kunjungan kali ini, beberapa lembar syal biasa, gelang manik dan sebuah syal yang terbuat dari benang organik.

Syal dari kain tenun toraja
Syal dari kain tenun Toraja

Tak ada yang bisa memelihara tradisi serta budaya negeri kita, selain kita sendiri. Bagiku, memakai barang-barang etnik, khususnya tenun ikat dan aksesoris, menjadkan kita terlihat tampil berbeda dibanding yang lain.

Pamer gelang Toraja bersama buku 101 Travel writing
Pamer gelang Toraja bersama buku 101 Travel writing
Categories
Movies

Makassar in Cinema 2; nonton karya anak Makassar

Aku harus jadi penonton pertama, batinku. Maka kupilih sesi pertama untuk menonton. Karena mendengar cerita dari orang lain, sebelum aku nonton, sungguh tak enak.

Dari semua teman-teman yang sudah membeli tiket, sepertinya hanya aku seorang yang memilih sesi pertama di hari pertama, yang putar di pukul 15.30 sore, 23 April 2015. Pemutaran film pendek ini, sebenarnya berlangsung selama 3 hari, dimana setiap harinya terdiri atas 4 sesi. Setiap sesinya, akan diputar 4 film pendek.

Keempat film pendek yang ditayangkan merupakan karya dari peserta workshop Makassar in cinema 2, yang berlangsung selama 4 bulan. Total waktu untuk menonton keempatnya adalah kurang lebih 60 menit.

Pukul 15.25 wita sudah tiba di Gedung Kesenian SulSel, Societeit de Harmonie, bersama 3 orang teman yang berhasil kujebak di hari pertama ini.

Bagian depan ruang pemutaran film, terpajang poster keempat film dan sebuah banner event, Meditatif, Makassar in Cinema.

Sebagai orang awam dan tidak terlalu paham tentang film, cuma suka nonton, belum sampai tahap hobby berat, aku mencoba mengulas kesan menonton keempat film pendek tersebut.

 

Dasar Gelap

Di poster film Dasar Gelap, sebuah kalimat bertuliskan “Di bawah sana ada jawaban”, disertai beberapa gambar adegan, yang salah satunya gambar seorang laki-laki yang sedang menengok ke dasar sebuah sumur.

Pasti sumur itu, yang dimaksud dengan dasar gelap, tebakku.

Bertanya-tanya, saat adegan-adegan awal, 3 buah pot di shoot agak lama. 2 buah pot Anggrek yang tidak subur dan 1 pot Mawar yang sedang berbunga.

Seolah sengaja memberi penegasan atau clue, anak muda yang jadi pemeran utama, memutar pot bunga mawar, yang kelopak merahnya sedang mekar sempurna. Menurutku, pastilah mahkotanya sengaja diletakkan membelakangi penonton, sehingga akan ada adegan memutar pot hingga kelopaknya menghadap ke penonton.

Adegan itu membuatku lebih fokus kepada mawar merah daripada aksi pembunuhan dan penceburan mayat ke sumur di pekarangan rumah. Berusaha menebak-nebak keterkaitan mawar dan sumur berdasar gelap.

Poster film dasar gelap
Poster film dasar gelap

Film ini menggambarkan sang tokoh utama yang membunuh laki-laki yang bertamu ke rumahnya, setiap setelah menyajikan secangkir kopi. Disuguhi kopi, berarti tamu kan? aku menebak.

Nyaris tak ada dialog dalam fim ini, hingga tamu ketiga datang. Ia masuk begitu saja ke ruang tamu dan membuka pembicaraan. Ini adalah dialog pertama dalam film dasar gelap.

“Apa kabar? Ibumu dimana? Ada kopi?”

Duh, ini ayahnya yang pulang kantor atau pamannya atau tamunya? Seperti dua tamu sebelumnya, laki-laki itupun diceburkan ke dalam sumur setelah dibunuh.

Ibu. Ada seorang ibu di rumah tersebut. Apa saja yang dilakukan oleh sang Ibu, hingga tak menyadari pembunuhan dalam rumahnya?

Adegan berikutnya, menjawab. Tokoh utama yang tak kutahu namanya ini, terbangun di pagi hari dan tiba-tiba duduk tercengang menatap bunga Mawar di atas meja kamarnya.

Detik berikutnya, ia melangkah keluar kamar. Matanya mencari-cari pintu kamar mana yang akan dibuka. Terlihat sutradara ingin menggambarkan kebingungan si pemeran utama.

Sebuah pintu kamar dibukanya dan nampak seorang perempuan yang sedang duduk bersolek. Perempuan itu berbalik dan melempar senyum menyapa.

Ibunya! Kali ini aku bukan menebak, tapi benar-benar yakin. Hmm, Mawar merah dan bibir sang Ibu yang berlipstik merah.

Korban terakhir adalah Ibu.

Di adegan kedua dari terakhir, pemeran utama kembali memegang pot berisi Mawar di teras rumahnya. Apakah Mawar yang sama dengan di meja kamar? Film ini membuatku menerka-nerka. Aku tahu, Ifa yang duduk di sebelahku pun pastilah berupaya keras menerka-nerka.

Aku terlalu sibuk menghubung-hubungkan antara Mawar, tamu laki-laki, kopi, pembunuhan, sumur dan Ibu. Hingga lupa menangkap keanehan dan bertanya, mengapa hanya mayat sang Ibu yang mengapung?

Kesimpulanku, sang Ibu adalah seorang yang sering didatangi tamu laki-laki dan si anak bertugas membuatkan kopi, tamu-tamu ibunya. Kupikir, si anak mulai muak dengan ulah ibu dan tamu –tamunya, hingga membunuh mereka satu persatu.

Ternyata aku salah.

Seperti kata Emi, ada banyak versi untuk mengulas film Dasar Gelap. Ya, film ini memberi kata kuncinya, namun tetap membuat penonton menerka-nerka.

Ifa yang masih bingung dengan cerita yang ingin disampaikan film ini, bertanya ke Riri. Film ini rupanya bercerita tentang seorang anak psikopat, yang membuang mayat-mayatnya korbannya ke sumur. Mayat itu tak pernah terlihat lagi di sumur, karena sang Ibu yang menyingkirkannya. Saat ibu yang menjadi korban, tak ada lagi yang melakukan itu, sehingga mayatnya nampak terapung di dalam sumur.

The Last Thread

Nah, ini dia yang paling kutunggu. Ada Riri Indah Febriany, relawan nulis bareng sobat LemINA yang turut campur tangan di film ini. Selain bertindak sebagai art direction, Riri juga ternyata menjadi producer. Ada kak Luna Vidya juga yang menjadi pemeran utama.

Karena Ia sudah menjelaskan bahwa tugasnya adalah memastikan semua property, termasuk property detil sekalipun, aku jadinya fokus memperhatikan hal tersebut sepanjang penanyangan.

Tirai jendelanya lucu. Besi gantungannya bukan dipasang di atas bingkai jendela, tapi malah melintang di bagian tengah. Menarik perhatianku karena ada adegan pemeran utama menarik tirainya. Aku harus protes ke Riri tentang tirai itu.

Kritik langsung kulemparkan saat chatting di whatsapp group di malam hari. Rupanya bukan disengaja, namun karena memang dibuat seperti itu oleh pemilik rumah.

Seperti film sebelumnya, film the last thread pun minim dialog. Satu-satunya kalimat yang bisa tertangkap oleh telingaku, yang diucapkan oleh seorang pelanggan jasa menjahit si pemeran utama, adalah kalimat

“Banyak jahitan ta’ di’, bu? Seperti anak ta,”

Jahitannya banyak ya, bu. Seperti anak, ibu.

Bagiku film ini menggambarkan tentang seorang Ibu yang mengembalikan anaknya yang hilang. Terlepas benar tidaknya cara yang ia pilih.

Foto bareng dengan Ibu tukang jahit di film the last thread
Foto bareng dengan Ibu tukang jahit di film the last thread

Seperti apakah tatkala seorang Ibu tinggal serumah dengan anak satu-satunya, namun seolah anak itu tak pernah ada? Sebagai seorang yang suka ber-monolog, kak Luna memang lihai dalam mengungkapkan rasa dalam akting tanpa perlu mengeluarkan sepatah katapun. Nontonlah! Tuk melihat bagaimana cara ia menyampaikan emosinya ke penonton.

Siapa sutradaranya? Ingin bertanya, mengapa ada adegan si Ibu memegang pisau sambil menangis? Itupun setelah sebelumnya, batal mengambil pisau yang lainnya. Seolah sedang memilih pisau yang tepat.

Jujur, adegan itu membuatku tak sabar, ingin melihat seperti apa Kak Luna akan berakting menikam anaknya sendiri. Apakah karena anaknya seorang transgender, sehingga cerita ini dibuat, tuk menunjukkan betapa tak semua ibu bisa bersabar dan menerima anaknya, hingga mampu menghujamkan pisau?

Ah, tertipu. Saat menunggu adegan pembunuhan sadis, yang ada malah sang anak meninggal saat sarapan.

Meninggalnya pun, menyebabkan aku terlibat debat kecil dengan Ifa.

“Ternyata diracuni yah?”

“Tidak kak, menelan jarum dalam minumannya. Kan last thread. Jarum terakhir”

Sempat berfikir, apakah kata thread dalam bahasa Inggris adalah jarum? Tapi karena Ifa adalah lulusan sastra Inggris, aku berhenti mencari tahu jawabnya.

Mayat kaku yang terbaring dengan mengenakan jas rapi, serta didandani layaknya laki-laki, seolah menunjukkan bahwa sang pemeran utama berhasil menemukan kembali anaknya, meski tanpa nyawa lagi.

Penasaran dengan tokoh sang anak. Suara batuknya, perempuan banget, meski saat sarapan dengan baju tidur, terlihat jelas dadanya, bagai papan.

Belakangan baru tahu, jika namaya Abdul Rahim, anak UIN Alauddin dan memang lumayan gemulai di keseharian. Duh!

Di group chatting, Riri meluruskan bahwa the last thread yang dimaksud adalah benang terakhir yang sudah berupa jas, yang dibuatkan sang Ibu untuk anak lelaki satu-satunya.

Ifa, bukan jarum, tapi benang.

Pantaslah, ada adegan kak Luna menatap lama ke jas hitam yang tergantung di dinding. Kupikir, jas milik suaminya yang telah tiada.

 

Pencuri Mangga

Mereka bilang mangga itu manis. Ya, film ini menggambarkan bagaimana pencuri mangga tidak menikmati manisnya mangga. Tapi justru pahitnya menerima hukuman berat.

Poster film pencuri mangga
Poster film pencuri mangga

Jika di film the last thread, ada Riri yang ikut ambil bagian dalam pembuatannya, di Pencuri mangga, ada Sultan. Teman Kelas Inspirasi Gowa, yang bergabung di komunitas kamera lubang jarum, yang pernah ikut membantu saat kegiatan LemINA di pulau Sarappo.

Kata Riri, film pencuri mangga bergenre Surialisme. Sarkasme yang berbungkus komedi. Tapi sayangnya, aku jarang tertawa. Cuma senyum sesekali.

Film ini nampaknya sebagai bentuk sindiran kepada peran tokoh-tokohnya. Dandanan anehnya, menggambarkan komedi.

Pak Hakim yang memakai headset, penggambaran tuk hakim yang tak bersedia mendengar apapun dari para terdakwa atau saksi. Yang ada, hanya melempar tanya, tanpa mau tahu jawabannya.

Hakim anggotanya ada dua orang. Satu memakai penutup mata dan satunya lagi mengenakan masker mulut dari uang. Menyindir oknum penegak hukum yang menutup mata dengan fakta sebenarnya dan bisu karena mulutnya yang disumbat uang.

Jaksa penuntut, pengacara, petugas keamanan, hingga pengunjung sidang, semua didandani bak badut. Mereka yang memerankan profesi mereka laksana badut yang lucu dan palsu, ikut tersindir.

Aku tidak terlalu suka dengan genre satu ini. Tapi menurutku, tak mudah membuat film bergenre seperti ini. Semua yang terlibat dalam pembuatannya harus berfikir keras untuk menggelitik rasa dari penonton. Berbungkus komedi, namun bukan film komedi, menurutku.

 

Burassingang (Bersin)

Aku tak tahu seperti apa penentuan urutan pemutaran keempat film Cinema in Makassar ini. Apakah diurut berdasarkan kualitas filmnya atau cepat lambatnya film tersebut selesai dikerjakan atau diundi sebelumnya. Yang pasti, film terakhir ini yang kufavoritkan.

Saat melihat posternya, di luar tadi, aku sama sekali tidak merasa tertarik atau penasaran. Burassingang (bersin), apa yang menarik dari kata itu? Bahkan tagline “menanti kematian yang tak diinginkan” juga sama sekali tak menarik bagiku.

Harus menontonnya terlebih dahulu, tuk tahu bahwa film ini menarik.

Mitos. Banyak film yang dibuat dengan mengangkat mitos tertentu.

Karena tidak terlalu percaya mitos, aku jadi tak pernah tahu bahwa ada mitos tentang bersin yang dikaitkan dengan kematian.

Tahu bahwa film ini bercerita tentang sebuah mitos pun, setelah ada adegan pemeran utama bersin di depan mayat dan kemudian ditegur oleh seorang nenek dalam bahasa Makassar “jangan bersin di depan mayat, nanti kamu mati”

Lha, semua orang bakal mati. Namun bagaimana seseorang merespon sebuah mitos yang terkait dengan kematian? Tentu saja berbeda-beda. Ada yang sepenuhnya menyerahkan kepada Allah, ada yang seolah menyerahkan ke Allah namun masih tetap was-was, dan ada pula yang seperti pemeran utama film ini, menanti mitos itu benar-benar terjadi pada dirinya. Tentunya karena ia meyakini benar bahwa mitos tersebut bukanlah sekedar mitos.

Justru setelah di akhir film, aku baru mencoba mencerna adegan awal, yang tadinya membuatku berbisik ke Ifa “perpindahan adegannya lambat sekali”. Kebiasaan nonton film action, kayaknya.

Adegan pertama adalah seorang anak muda yang terbangun di pagi hari atau mungkin malah siang. Karena aku menangkapnya sebagai anak muda yang malas. Matanya susah dibuka, menguap berkali-kali, sesekali mengucek-ucek wajahnya dengan tangan, malah memukul-mukul pipi, seakan berusaha keras untuk benar-benar terbangun.

Belakangan, aku bertanya sendiri dalam hati, tadi itu adegan memaksa diri bangun atau memastikan bahwa dirinya masih hidup dan bukan meninggal?

Lihat trailer film sebelum penayangan, benar-benar mengecohku. Kupikir film ini tentang geng motor atau anak muda yang suka tawuran, karena sibuk mengumpulkan semua benda tajam dalam rumahnya.

Pemeran utama digambarkan sebagai anak muda yang mengurung dirinya dalam rumah, hanya berkegiatan hanya dalam rumah, sambil menanti kematian menjemputnya. Hal itu terjadi setelah ia ikut melayat.

Saat sedang membaca Al Quran di depan mayat. Ia tiba-tiba bersin dan ditegur dengan pernyataan bahwa ia akan mati karena bersin di depan mayat. Mitos itulah yang membuat film ini jadi menarik.

Biasanya, film terkait mitos akan mengarah ke horor. Tapi film satu ini, berbeda.

Bagi yang sudah nonton, pasti akan mengingat bagaimana adegan mengumpulkan semua senjata tajam dan meletakkan dalam sebuah laci, bukanlah adegan mengerikan tapi justru menjadi lucu.

Pemeran seakan percaya bahwa mitos itu bisa membuat benda tajam mampu membunuhnya, dengan cara yang mungkin tak ia duga.

Saat adegan pemeran utama naik ke atas kursi untuk membetulkan kipas anginnya yang rusak dan kemudian terjatuh tak bergerak. Aku spontan berkata dalam hati, Ah, rupanya meninggalnya bukan karena senjata tajam, melainkan jatuh dari kursi.

Menit berikutnya, weker berbunyi, tangan pemeran utama muncul di layar, mematikan alarm. Yaah, batal meninggal lagi.

Sampai kapan ia akan mengurung diri dalam rumah dan menanti kematiannya? Nonton yuk!

Categories
Movies

Jika Saya Penulis Assalamu Alaikum Beijing

Jangan baca bukunya, sebelum nonton filmnya. Nanti kecewa. Demikian nasehat seorang teman tentang novel “Assalamu Alaikum Beijing”. Tapi saya telanjur sudah membacanya, meski filmnya belum diputar di bioskop saat itu.

Minggu lalu, baru tahu jika film ini sudah tayang, saat seorang teman teriak di group Whatsapp tuk ajak nonton bareng.

Lalu seorang teman chat personal ke saya karena tak enak menuliskannya di group.

Saya sudah nonton kemarin, kak. Not recomended. Teman saya meyakinkan saya untuk tidak memenuhi ajakan teman yang lain.

Ternyata tak bisa menghindari menonton film yang diangkat dari novel Asma Nadia tersebut. Sahabat SMA saya, Suarni, berkunjung ke Makassar untuk urusan pekerjaan. Di hari terakhir ia di Makassar, saya dipaksa menemani nonton film itu.

Tak menyangka, jika sahabat saya pun sudah pernah baca novelnya. Sepanjang film, tak henti-hentinya ia mengeluh kecewa. Ada apa dengan film ini?

 

Fungsi kontrol Penulis atas film

Meski alur ceritanya hampir sama meski tak serupa dengan novelnya, Suarni tetap tak puas. Banyak bagian yang diprotesnya.

Berbeda dengan Suarni, saya bisa memahami, tatkala Zhongwen mendadak bisa berbahasa Indonesia di Film ini. Meski menurut saya, film ini takkan berkurang nilai ceritanya jika Morgan menggunakan bahasa Inggris. Penonton pasti akan bisa mengikuti.

Kan mereka sudah biasa nonton film asing dengan bantuan teks.

Jika saya menjadi Penulis novel ini, saya akan menjadi sedikit agak berkeras di bagian-bagian tertentu. Mengapa? Karena saya ingin pesan yang ditangkap oleh pembaca novel, juga dapat tercermin dalam film.

 

Perjalanan seorang muslimah dan sejarah Islam

Film ini mampu menggambarkan dua hal tersebut dengan jelas. Walau sahabat saya tidak nyaman dengan adegan mengejutkan di masjid Niujie. Hah? Jadi pemandu pengganti? Haruskah?

Saya mencoba menebak-nebak penyebab Zhongwen dijadikan pemandu pengganti oleh penulis skenario.

Tak menemukan hubungannya, kecuali Zhongwen kemudian menemani Asmara kemana-mana dan kemudian memaksakan munculnya konflik tak terbuka antara Zhongwen dan Dewa.

Sebuah alur cerita yang membuat sahabat yang duduk di sebelah saya, menjadi geram.

 

Foto: koleksi pribadi
Foto: koleksi pribadi

 

Rasa suka yang tak terucap

Cara bertutur Morgan, pemeran Zhongwen, serta bahasa tubuhnya, jelas-jelas menunjukkan rasa sukanya pada Asma. Penonton yang belum pernah baca novelnya, pasti sudah menebak di awal film bahwa mereka berdua pastinya akan berjodoh.

Kemana rasa penasaran Zhongwen dan Asma akan hubungan pertemanan mereka, seperti dalam novel? Mengapa Zhongwen yang disulap sebagai pemandu pengganti itu, mendadak begitu mudah ngomong dengan banyak kalimat puitis? Mengapa bukan seadanya saja?

 

Lokasi

Tak terhitung berapa kali sahabatku berujar protes. Ih! Kenapa pula ikut-ikutan ke Beijing?, nada suaranya meninggi saat adegan Dewa berkunjung ke apartemen Asma.

Seolah semua dibawa ke Beijing. Sekar dan suaminya, serta Dewa, semua di Beijing. Bahkan kantor Asma pun punya cabang di Beijing

Menurut saya, bagian Dewa mencari Asmara hingga ke Beijing adalah bagian yang tidak penting. Khususnya adegan jalan bertiga Asmara, Zhongwen dan Dewa.

Jika ingin memperkuat gambaran Dewa yang masih mengejar-ngejar Asmara untuk kembali dan menikah dengannya, setelah menyakiti, tidak harus dengan cara tersebut.

Untuk memberi kesan ceriwisnya Sekarpun, tidak harus memboyong Sekar ke Beijing. Bukankah novel menggambarkan, bagaimana mereka hanya saling bercerita seru melalui telpon?.

 

Kesan yang hilang

Jujur. Saya kehilangan penggambaran sosok Zhongwen yang takjub akan etika Islam, yang tergambar dari laku Asma, yang enggan bersalaman dan bersentuhan.

Zhongwen yang saya kenal sebagai laki-laki yang tenang dan sabar untuk urusan cinta, tak kutemui dalam film.

Film inipun sama sekali tak mengggambarkan perjuangan Zhongwen, laki-laki China yang tidak begitu romantis, mengikuti kata hatinya tuk mencari-cari Asma? Mengapa begitu mudahnya mereka bertemu?. Benarkah murni karena alasan durasi semata?.

Saya sungguh membayangkan ada adegan Zhongwen dengan wajah nyaris putus asa, saat mencari Asma kemana-mana.

Lalu, perjuangan Zhongwen melawan batin dan keluarga besarnya, sebelum memutuskan memeluk Islam pun, kurang tajam. Penonton lebih menanti Ia dan Asma-nya bertemu kembali. Menunggu akhir yang bahagia.

Bagaimana dengan sosok Asmara, yang dipanggil Ashima oleh Zhongwen?

Sebagai muslimah yang memegang etika bergaul dalam Islam, saya bayangkan sutradara mengarahkan Revalina untuk berakting dengan gestur gerak tubuh dan gaya ngomong yang berbda dengan di film ini, khususnya saat jalan berdua dengan Zhongwen.

Masak baca buku berdua, dengan jarak bergitu dekat? protes Suarni.

Satu-satunya sosok hilang yang bisa kupahami di film ini adalah Sekar. Ia digambarkan sebagai sahabat Asma, bertubuh besar dan berkerudung panjang. Meski Laudya Chintya Bella tak berpostur dan berpenampilan seperti itu, namun dengan mempertahankan karakternya yang ceriwis, membuat sosok Sekar tak beanr-benar berbeda di film ini.

 

Menanti adegan romantis

Mungkin saya menaruh harapan tinggi kepada Sutradara, tuk mampu menerjemahkan novel dengan baik, atau justru kepada Asma Nadia, yang bagi saya, kurang ketat dalam mengawal cerita film yang diangkat dari novelnya.

Novel “Assalamu alaikum Beijing”, menggelitik hati kecil pembaca, bahwa romantisme dari kisah cinta di buku ini, justru tatkala tak banyaknya kalimat-kalimat puitis yang terucap, namun terganti dengan sederet tingkah laku dan pengambilan keputusan oleh dua tokoh utamanya, yang lebih romantis dibanding 1000 puisi cinta.

Sungguh saya berharap, ada adegan saat-saat long distance relationship, dimana Revalina menampakkan akting penasarannya dan mencoba menebak-nebak perasaan Zhongwen ke dirinya, melalui email dan pesan singkat di telepon selularnya.

Kemana semua itu? Yang ada, seolah Asma dan Zhongwe sudah saling memahami perasaan suka mereka sejak di Beijing.

Satu lagi, Suarni dan saya tak berhenti membahas hingga berpisah, adalah mengapa Zhongwen ke Jakarta karena email balasan dari Sekar, yang memintanya menemui Asma di Indonesia?.

Mengapa bukan karena keinginan ia sendiri, akibat dari panggilan tak terbendung dari dalam hatinya?

Bukankah cinta yang seharusnya mengantarkan? Bukan karena diundang.

Kemana kisah romantisme yang tidak biasa, yang dilukiskan oleh Asma Nadia dalam bukunya?

Salahkah jika seorang Penulis ngotot kepada Sutradara atas film yang diangkat dari karyanya?

Categories
Movies

Dimensi lain dan tantangan Gravitasi di Film Interstellar

Film terakhir yang bikin aku capek nonton adalah Inception, sekitar tahun 2010 atau 2011. Siang ini, aku terjebak, tak terencana, nonton film yang benar-benar buat capek lagi menontonnya, bersama Yusti, seorang Relawan Anak.

Karena alasan demo dan mengurus berkas bank LemINA, aku pulang siang dan tak balik lagi ke kantor. Jarak Bank dan Mall yang cuma puluhan meter, menggoda kami berdua tuk melangkah ke Bioskop, setelah urusan berkas di Bank selesai.

Yusti mengajak nonton Big Hero 6, tapi aku menolaknya, ah film animasi, film yang lain saja. Entah mengapa tak tertarik, padahal aku tergolong orang yang banyak menonton film animasi.

Lalu nonton apa? tanya Yusti kemudian. Searching sinopsis di website Cinema XXI. Menemukan judul Insterstellar.

Dari judulnya, bisa ditebak jika ini film luar angkasa. Jika baca sinopsis, lalu membayangkan luar angkasa, maka Aku langsung menghubungkan dengan film Star Trek atau Avatar atau Armageddon. Masih film yang agak ringanlah tuk ditonton, pikirku.

Saat waktu di Bumi akan berakhir, sebuah tim penjelajah melakukan sebuah misi paling penting dalam sejarah manusia. Perjalanan antar galaksi ditempuh oleh Cooper (Matthew McConaughey) dan Brand (Anne Hathaway) untuk mengetahui apakah umat manusia masih memiliki masa depan. Demikian isi sinopsis film Interstellar.

Saat itu, aku langsung menebak bahwa ini adalah film heroik yang melibatkan luar angkasa, hingga akhirnya kami berdua memutuskan untuk menontonnya dan menikmati ketak terdugaan film ini.

Baru di sepuluh menit pertama, Aku dan Yusti sudah menegakkan punggung, memasang tali pengaman dan melipat meja di depan kami. Eits..ini bukan di pesawat. Tapi betulan, lho. Kami berdua duduk tegak karena harus berfikir.

Ini film maunya apa? Kenapa jadi horor? Yusti berucap protes saat adegan anak perempuan Cooper yang selalu menemui hal-hal aneh dalam kamarnya.

Bukan horor lah, mungkin perbuatan alien. Aku mencoba menghubung-hubungkan dengan luar angkasa.

Rupanya film fiksi science. Ampun. Sepanjang film harus konsentrasi memahami setiap adegan dan percakapan. Capeknya tuh di sini (sambil tunjuk kepala).

Meski kami berdua berlatar belakang ilmu pasti, pernah belajar Fisika, dan suka ngegosip, tapi tokoh-tokoh Fisika dan teorinya bukanlah masuk dalam daftar orang yang kami gosipi.

Mengulas Gravitasi, Dimensi Waktu dan Black Hole yang misterius. Tiga hal ini sudah pernah kudengar, terasa akrab dengan gravitasi, namun tidak benar-benar mendalami ilmunya.

Film ini mengisahkan tentang seorang yang pernah bekerja di NASA, bernama Cooper, yang memiliki seorang anak perempuan. Anak perempuannya selalu melihat kejadian aneh di dalam kamarnya, yang diyakini sebagai ulah dari sebuah atau seorang makhluk. Entah makhluk apa.

Pertanian yang gagal dimana-mana menjadi salah satu indikasi terancamnya manusia akan kehidupan di dunia.

NASA kemudian merancang sebuah misi rahasia yang mengirimkan orang-orangnya ke luar angkasa, melalui Black Hole, menjawab sebuah formula fisika yang memasukkan notasi gravitasi di dalamnya, guna mencari planet lain yang bisa menjadi tempat hidup manusia.

Cooper diminta kembali oleh NASA untuk melakukan perjalanan luar angkasa tersebut. Sebuah tawaran yang diterimanya karena alasan ingin menyelamatkan anak-anaknya.

Rencananya, manusia akan dipindahkan ke planet baru, yang akan ditemukan tersebut. Agak gila, bukan?. Namun bukan menjadi ide gila, jika mendengar percakapan-percakapan ilmiah dari pemainnya.

Acung jempol tuk penulis skenarionya. Pasti butuh riset yang lama untuk menulisnya. Film ini, meski fiksi, tapi harus dibuat berdasarkan ilmu Fisika, agar masuk akal.

www.21cineplex.com
www.21cineplex.com

Sepanjang film, Aku dan Yusti seringkali berdiskusi. Kami bahas satuan Gravitasi, Dimensi Waktu, sampai mengaitkan dengan lama waktu di akhirat. Hingga sempat keluar pernyataan, Al Quran sesungguhnya telah memberi menjelaskan tentang hal ini. Setelah terpecahkan oleh akal dan berbentuk ilmu pengetahuan, barulah kita menyadarinya.

Film ini banyak menekankan kepada pengembangan teori gravitasi. Bagiku, seolah membandingkan gravitasi yang ada di Bumi dan gravitasi milik Black Hole. Lubang hitam di angkasa ini, mampu menarik semua yang ada di sekelilingnya. Termasuk menarik waktu?. Agak sulit aku menerjemahkan pesan ilmiah film ini.

Aku tak mungkin mengulas film ini secara ilmiah. Meski masih berkutat dengan rumus-rumus yang menggunakan angka gravitasi, tapi ilmu Fisika ku minim sekali, apalagi mau membahasnya dari sisi Al Qur’an? oh no! takut salah.

Minggu lalu, sempat nonton acara On the Spot di TV. Acara itu menampilkan 7 kejadian yang berkaitan dengan penjelajah waktu. Beberapa gambar menunjukkan kejadian berpuluh dan beratus tahun lalu. Sebuah foto, sempat menangkap gambar perempuan memakai handphone, padahal saat itu, handphone belum ditemukan. Benarkah penjelajah waktu itu ada?.

Kembali ke film Insterstellar. Film ini banyak mengulas dimensi keempat, yaitu waktu. Waktu penjelajahan mereka di angkasa luar terhitung pendek, namun waktu di bumi sudah berputar lebih lama.

Cooper yang meninggalkan puterinya yang usia belasan, setelah kembali ke bumi, si Puteri sudah lebih tua dibanding dirinya.

Satu jam perjalanan melintasi galaksi, sama lamanya dengan beberapa tahun di bumi. Itulah mengapa Yusti akhirnya bertanya, mengapa sama dengan konsep waktu di akhirat?. Apakah akhirat itu di luar angkasa?. Please, jangan tanya Aku, Yusti. Karena kisah dimensi waktu, seperti Isra’ Miraj dan Ashabul Kahfi pun, masih buat Aku bingung.

Akhir dari film ini, menunjukkan betapa dimensi keempat, yaitu waktu, bisa membuat seseorang menjadi penjelajah waktu. Makhluk tak nampak yang dirasakan kehadirannya oleh si puteri kecil Cooper adalah dirinya sendiri di masa akan datang, yang mengirimkan pesan ke anaknya.

Aku mencoba mengaitkan dengan hal yang sama kurasakan berpuluh tahun lalu. Dulu, terkadang aku merasa sudah pernah hadir di sebuah tempat, dengan setting ruangan yang persis sama, orang-orang yang yang sama, bahkan isi percakapan yang sama. Padahal kejadiannya baru hari itu.

Seorang teman pernah berkata, “Itu adalah bagian dari mimpi-mimpi yang terlupa. Terkadang kita tidur, merasa bermimpi, namun lupa apa mimpinya. Kemudian teringat, tatkala sudah terjadi”. Benarkah itu bagian dari mimpi yang hilang? atau Aku pernah menjelajah melintas waktu dalam tidur?. Entahlah.

Melihat barang elektronik seperti televisi dan handphone, mengaitkan dengan kecepatan suara dan kecepatan cahaya yang dibahas di film, menimbulkan penasaranku, “inikah bentuk dari pelibatan dimensi keempat ke kehidupan kita?”.

Ada begitu banyak tanya dari menonton film ini. Ingin merasakan sensasi penasarannya? silahkan nonton sendiri filmnya dan siap-siap mengerutkan kening sepanjang pemutarannya atau baca buku Fisika dulu sebelum nonton.

Categories
Diary

Ini Gaya Hidup! Bukan Sekedar Berbagi

Seperti apa gaya hidup orang perkotaan? Sebesar apa hal itu mempengaruhi pengeluaran keuangan?. Bagi mereka yang terbiasa merencanakan keuangan rumah tangganya dengan teliti, pastinya akan bisa menjawab pertanyaan tadi dengan cepat.

Jika anda belum terbiasa merencanakan pengeluaran, cobalah mencatat pengeluaran anda setiap harinya, selama sebulan. Buat kolom terpisah antara pengeluaran rutin, seperti listrik, air, telepon, internet, asuransi, kursus anak, tabungan haji, dengan pengeluaran dapur, transportasi, rekreasi, dan lain-lain.

Catat hingga pengeluaran paling kecil sekalipun, seperti: beli sekaleng soft drink atau beli pulsa telepon selular.

Setelah genap sebulan, amati catatan pengeluaran anda selama sebulan itu dan temui seperti apa gaya hidup anda, dari pengeluaran tersebut.

Bagi mereka yang memilih gaya hidup sehat, cenderung membelanjakan lebih banyak uangnya untuk mendukung hal tersebut. Dalam sebulan bisa belanja bahan makanan organik, bayar fitness atau aerobik, beli sepeda, belanja minum saat perjalanan pulang jogging, beli suplemen, atau check up bulanan.

Tuk yang memilih gaya hidup sebagai pengejar ilmu, dalam sebulan kemungkinan menghabiskan uang dua kali lipat dari belanja dapur untuk beli buku, bayar seminar, kursus, transportasi bolak balik ke perpustakaan, atau bayar internet lebih besar dibandingkan orang kebanyakan.

Bisa dikatakan, setelah kebutuhan paling dasar, pangan dan sandang yang wajar, orang-orang cenderung membelanjakan lebih banyak uangnya untuk memenuhi kebutuhan gaya hidupnya.

Lalu, gaya hidup seperti apakah yang dipilih oleh orang-orang di depan saya, yang sedang mengunyah makanannya sambil mengamati anak-anaknya yang lari kecil berkeliling dan naik turun perosotan sambil tertawa ceria, tak jauh dari tempat duduk mereka?.

Memilih tidak menebak gaya hidup orang tersebut, saya kembali fokus membahas rencana kegiatan bersama teman-teman Relawan, yang siang itu sedang berkumpul bersama di McDonald.

McDonald merupakan tempat favorit teman-teman Relawan untuk rapat kecil santai membahas rencana kegiatan sosial kami. Setidaknya ada 2 gerai McD yang paling sering kami pilih sebagai tempat rapat di Makassar, yaitu di jalan Alauddin dan Mall Ratu Indah.

“Gaya banget, masak Relawan anak, memilih mcD untuk rapat?” demikian protes seorang teman saya di awal. Bagi saya, makan dan kumpul-kumpul di mcD, untuk ukuran warga kota besar seperti Makassar, masih wajar. Toh, harganya lebih murah daripada tempat lain dan masih cocok tuk kantong anak mahasiswa.

Beberapa teman menyatakan, mcD mudah dijangkau dari kampus dan kantor masing-masing (kami terdiri dari mahasiswa dan pegawai yang berasal dari kampus dan kantor berbeda-beda), ruangan ber-AC, suasananya santai, serta ada wifi dan colokan listrik untuk buka laptop. Alasan terakhir adalah yang paling kuat, karena terkadang saat rapat, harus buka beberapa file untuk mendukung pembahasan kami.

Hal lain yang membuat kami suka dari McD, karena McD sejalan dengan gaya hidup kami. Bukan gaya hidup perkotaan lho, melainkan gaya hidup berbagi.

Teman-teman menganggap budaya berbagi, tidak sekedar dipandang sebagai gerakan peduli atau karena anjuran agama.

Seperti saya ungkapkan di awal tulisan ini, bahwa orang-orang cenderung membelanjakan lebih banyak uangnya untuk memenuhi gaya hidupnya, maka tatkala “berbagi” menjadi gaya hidup, maka anda takkan segan dan berfikir panjang untuk mengeluarkan sejumlah uang tuk berbagi.

Lupa tepatnya, kapan mengenal RMHC dari kotak donasi yang diletakkan di depan meja kasir. Namun sejak bulan lalu, gara-gara penasaran dengan sticker di pintu masuk McD yang bergambar strip merah dan tidak dibuat lurus, lebih menyerupai tulisan tangan, saya bisa tahu bahwa RMHC punya program baru yang keren. Stripes for love, hope, joy, smile.

Sticker Stripes For Love di Pintu Masuk (Foto: Koleksi Pribadi)
Sticker Stripes For Love di Pintu Masuk (Foto: Koleksi Pribadi)

Menurut saya, ajakan membeli baju kaos atau payung yang bercorak Stripes for Love ini, lebih dari sekedar ajakan berbagi tuk anak-anak penderita kanker, melainkan turut memudahkan pelanggannya yang peduli, untuk menemukan cara berbagi yang lebih praktis.

Saya teringat pembicaraan dengan seorang teman kira-kira satu atau dua tahun lalu, yang kebetulan ikut rapat juga siang itu. “Bunga, andai setiap orang berlomba-lomba ingin memiliki barang-barang donasi, daripada barang branded yang harganya bisa 4 sampai 5 kali lebih mahal, mungkin banyak orang yang akan terbantu”.

Pembicaraan itu mengingatkan betapa bahagianya kami saat memakai kaos Relawan anak LemINA, atau kaos Penyala Makassar. Membayangkan teman-teman bukan lagi berlomba-lomba memakai barang branded, tetapi berkompetisi untuk memakai segala hal berbau donasi.

Cobalah anda membayangkan, saat menyetor uang untuk membayar makanan yang dipesan hari ini di sebuah restoran cepat saji, atau baju branded di mall, atau tiket untuk nonton bioskop, di luar sana, ada anak-anak Indonesia yang makan dengan lauk seadanya, ada yang sibuk mencuci seragam sekolahnya yang kusam, karena hanya warisan dari kakak-kakaknya, dan ada yang tak pernah menonton lagi karena harus terbaring di rumah sakit melawan kanker.

Jika anda tidak akan kekurangan uang karena memenuhi gaya hidup, maka percayalah anda pun takkan berkekurangan hanya karena menyisihkan uang untuk sekedar beli baju kaos donasi seharga 50 ribu tuk anak-anak kanker saat anda berkunjung ke McD, atau menyelipkan uang di kotak donasi, depan kasir, tiap beli satu baju baru, atau merelakan uang kembalian saat belanja di mart-mart.

Teliti kembali catatan pengeluaran anda bulan ini, berapa yang telah dihabiskan untuk belanja gaya hidup, yang tidak mendesak, dan berapa banyak yang dikeluarkan untuk berbagi kepada sesama.

Orang berani mengeluarkan lebih, untuk memenuhi gaya hidup guna menyenangkan hati dan membuat hidupnya lebih bahagia, maka cobalah menjadikan gaya hidup berbagi sebagai gaya hidup baru, yang menutrisi hati dan membuat hidup lebih indah.

Categories
Travel

Selamat Sore, Kupang

Aku menyalahkan workshop yang kuikuti di Pare-pare, yang jaraknya hanya berselang 1 hari dengan jadwal berangkat ke Kupang. Fokus memfasilitasi workshop tersebut membuatku tak punya cukup waktu atau lebih tepatnya lupa, untuk mencari referensi titik-titik penting yang harus kukunjungi di Kupang.

Seperti perjalanan-perjalanan sebelumnya, ke Kupang pun tetap masih untuk urusan pekerjaan. Aku dan 3 orang teman di Sulawesi Selatan, diharuskan menghadiri meeting bersama teman-teman lain dari Pusat dan 2 Propinsi lainnya.

Biasanya, sebelum berangkat ke sebuah kota, aku mencari tahu terlebih dahulu, landmark kota tersebut, lokasi masjid agungnya, kuliner khasnya, hingga pusat ole-ole nya. Dari situ, akan lebih mudah merencanakan mau kemana saja di kota tersebut.

Bagiku, perencanaan itu penting, mengingat waktu untuk berjalan-jalan di sebuah kota yang kudatangi untuk urusan pekerjaan, pastilah amat singkat.

Di April lalu, saat ke Palembang, aku benar-benar memanfaatkan 5 jam waktu luangku untuk berkunjung ke Stadion Sriwijaya, Masjid Ceng Ho, Jembatan Ampera, Musem Sultan Mahmud Badaruddin II, Titik Nol Palembang, Masjid Agung Palembang, Warung Empek-empek terkenal, hingga berburu ole-ole. Semua tempat itu kutempuh dengan naik angkot dan berjalan kaki. Perencanaan yang baik, itu kuncinya.

Ingin mengulang hal tersebut, aku memanfaatkan waktu luang di perjalanan menuju bandara dan saat di ruang tunggu keberangkatan di bandara Hasanuddin untuk browsing tentang kupang.

Angkot ajib-ajib

Waktu mepet. Teledor. Terlupa booking hotel sejak di Makassar. Hotel On the Rock, tempat meeting kami, rupanya sudah full, sehingga harus menginap di hotel lain, yang jaraknya sekitar 10-15 menit perjalanan dengan angkot.

Angkot di Kupang merupakan satu hal yang paling banyak mengundang komentar dan candaan dari teman-teman Makassar. Sepertinya angkot di sini tidak mengijinkan penumpangnya untuk ngobrol. Musik hingar bingar menghentak, laksana diskotik berjalan, membuatku memberinya nama “Angkot ajib-ajib”. Orang sini tidak terganggukah dengan musik yang sedemikian ributnya?.

20141029_091507
Angkot ajib-ajib. Musik keras. Full pernak pernik. Kaca jendela penuh dengan sticker.

Seorang teman dari Papua, pak Adiyoga, bercanda “Mbak Bunga belum pernah dengar cerita tentang bemo (istilah untuk angkot Kupang) di sini yah? Pernah ada seorang teman menunggu bemo sampai lama. Tiap bemo yang singgah, dia tidak mau naik. Begitu ditanya, kenapa tidak naik-naik? Teman itu menjawab bahwa dia menunggu bemo yang full music”. Candaan pak Adiyoga membuat kami tertawa membenarkan.

Pada malam terakhir di Kupang, saat ingin balik dari mengejar ole-ole di Pasar inpres menuju hotel, aku dan teman-teman Makassar berdebat kecil, gara-gara istilah lampu 1 dan lampu 2.

Penjaga toko tempat kami bertanya, memberi info bahwa jika ingin menuju ke arah Kota lama, harus naik lampu dua. Saat menunggu angkot, ada beberapa angkot yang di kaca depannya menempel satu lampu neon sekitar 20 cm, dengan posisi vertikal. Semua yang lewat, masih dengan satu lampu neon, sementara kami menunggu yang berlampu dua.

Saat sebuah angkot melintas dengan dua lampu neon di kaca depannya, seorang teman mengajak kita agar buru-buru naik. Namun seorang bapak yang berdiri dekat dari kami menegur “Itu bukan lampu dua”.

Ya ampun, rupanya yang dimaksud dengan lampu dua, bukan jumlah lampunya yang dua, tapi nomor angkot yang terpasang di bagian depan atas. Plangnya tidak jelas terlihat di malam hari. Dua hari sebelumnya, kami hanya menggunakan angkot satu arah dengan tempat menginap, jadi tidak paham dengan penomoran lampu.

20141027_081634
Harus mengetuk pipa besi memanjang di bagian atap angkot, dengan menggunakan koin atau benda keras, jika ingin turun. Ketukannya harus mengalahkan suara musik.

 

Taxi Kupang

Selain angkot, taxi Kupang juga agak berbeda dengan taxi di Makassar. Jika biasanya taxi menggunakan mobil sedan, di sini menggunakan mobil keluarga seperti Avansa dan sejenisnya, serta memuat maksimal 4 orang penumpang, meski masih ada kursi baris paling belakang.

Tarifnya tergolong mahal. Harus pintar menawar sebelum menggunakan jasa taxi, karena mereka tidak menggunakan argo meter.

Sekali angkut ke sebuah tempat, tarifnya sekitar 60.000-70.000-an. Ada juga yang sistem pembayarannya berdasarkan waktu, 1 jam dikenakan tarif 60.000 dan bisa ke beberapa tempat.

Kelebihannya, taxi tidak memasang musik keras seperti angkot, sehingga jauh lebih nyaman. Namun, jika ingin bepergian hanya ke satu tempat saja, meskipun terdiri atas 4 orang, masih jauh lebih murah menggunakan angkot. Apalagi lalu intas Kupang lumayan lancar, tidak sepadat Makassar.

Kampung Solor, mana makanan khasnya?

Meeting kami lebih panjang dari jadwal yang sudah ditentukan. Mungkin karena baru kali ini semua Fasilitator dan PO UNICEF dari 3 Propinsi duduk bersama Sekretariat WASH & WASH section UNICEF Jakarta, sehingga pembahasan menjadi sangat panjang, melewati waktu magrib.

Padatnya jadwal pertemuan di Kupang, menyebabkan aku tidak bisa merealisasikan rencana ke tempat-tempat tertentu. Patung Sonbai, Pantai Lasiana,dan daging asap bu Soekiran, ketiganya tak berhasil kukunjungi. Kecewa.

Lebih kecewa lagi, setelah dua kali berturut-turut ke tempat ole-ole di daerah kota lama, tokonya sudah tutup.

Untunglah, dekat dari tempat ole-ole kota lama, ada pusat kuliner di malam hari yang cukup ramai pengunjung, namanya Kampung Solor.

Seorang teman menginformasikan bahwa Kampung Solor adalah salah satu tempat favorit wisatawan lokal ketika berkunjung ke Kupang.

Solor adalah nama Kelurahan, tempat pusat kuliner ini berada. Kelurahan Solor sendiri disebut sebagai Kota Lama Kupang. Pembangunan membuat berpindahnya keramaian ke pusat pemerintahan dan pertokoan yang lebih besar, yang berada di sisi lain kota Kupang.

Bagian depan Kampung Solor, kita akan disambut oleh dua booth jualan VCD dan DVD, yang memutar musik dengan suara keras. Orang sini, kayaknya memang hobby dengan musik hingar bingar, aku menyimpulkan sendiri.

Bagian depan Kampung Solor
Bagian depan Kampung Solor

Gerobak-gerobak sederhana, berjejer rapi dan tidak terkesan berdesak-desakan. Sebagian besar menjual se food, dan sisanya adalah gerobak nasi goreng, gado-gado, tempe tahu penyek dan tahu tek.

Di Makassar, jika ke Paotere, Lae-lae dan Istana laut, kita kadang harus mengubek-ubek box pendingin ikan untuk memilih ikan. Di sini, ikan sudah dijejer dengan rapi di atas box atau tempat khusus, dan dialasi dengan es batu, serta dipajang di depan gerobak. Memudahkan pembeli tuk memilih.

20141026_21285220141027_20484820141026_220303

Tak hanya ikan, kita juga bisa menemukan udang, cumi-cumi dan kerang di Kampung Solor. Bisa memilih, mau digoreng atau dibakar. Satu ekor ikan, dihargai bervariasi, dari Rp. 25.000 sampai 50.000an, dan dimakan bersama nasi putih dan sayur.

Meski sama segarnya, bagiku masakan laut Makassar masih lebih enak dibanding di sini. Kurang di sambelnya.

Biasanya, makan ikan dengan 2 atau 3 jenis sambel, dabu-dabu, sambel tumis, dan sambel mentah, bahkan kadang ada juga sambel kacang dan cacahan mangga muda. Tiga malam makan ikan bakar di sini, tak menemukan hal itu.

20141027_210756
Ikan bakar dengan sambel tumis seadanya
20141027_210808
Cumi Bakar, dengan sedikit lalapan

 

Bagi yang jalan-jalan ke Kupang dan punya rencana makan di Kampung Solor, aku rekomendasikan untuk makan seafood saja, karena tempe tahu penyet nya tidak seenak di Makassar dan Jawa. Lagi-lagi kurang mantap disambel. Tahu tek nya pun, kurang nendang di lidah.

Meski semua terasa kurang klik di lidahku, namun ada satu hal yang lumayan mengobati, yaitu juice buahnya. Juice buah di sini, selain kental dan segar, juga murah. Cuma 10.000-15.000an saja, sudah bisa menikmati juice buah. Di Makassar bisa sampai 17.000-20.000an, lho. Masih membandingkan dengan Makassar.

20141026_213833
Juice buah Naga. Murah tapi enak.
20141026_213208
Penjual juice yang ramah dan sabar melayani pertanyaanku

 

Sayangnya, aku dan teman-teman tak ada kesempatan untuk menikmati kuliner di bagian lain kota Kupang. Tiga malam berturut-turut, hanya makan di Kampung Solor saja.

Saat jam menunjukkan pukul 20.00, Kota Lama Kupang sudah tertidur. Hanya Kampung Solor dan tanggul sepanjang pantai Timur yang masih terbangun. Mencari angkotpun sudah agak susah.

Berjalan kaki dari tempat makan menuju hotel, memakan waktu 15 menit tuk tiba. Kami menelusuri toko-toko yang sudah tertutup rapat, sambil berharap di hari terakhir kami di Kupang, bisa menikmati bagian lain kota di Timur Indonesia ini.

Categories
Travel

Ini Indonesia Sebelah Mana?

Nyaris semua perjalananku ke luar kota adalah untuk urusan pekerjaan. Artinya, amat mudah mengingat bahwa dalam 5 tahun terakhir, hanya dua kali aku bepergian untuk wisata. Awal 2011 ke Kota Malang dan tahun lalu ke Singapura-Malaysia.

Baru dua malam aku tiba dari Pare-pare, satu-satunya kotamadya di Sulawesi Selatan, yang merupakan kota pelabuhan, guna memfasilitasi Workshop WASH in School. Pagi ini, harus berangkat lagi dan kali ini ke sebuah Kota di Indonesia Timur, yang sama sekali tak terbayangkan sebelumnya, akan bisa ke sana.

Kupang. Ibukota Nusa Tenggara Timur ini, merupakan salah satu kota di Timur Indonesia yang sering disebut-sebut oleh teman-teman, setelah Papua. Beberapa teman sudah sering ke sana, juga karena urusan pekerjaan.

Saat harus transit di sebuah bandara kecil, aku tersadar, bahwa sebenarnya aku belum mengenali Indonesia, bahkan sekedar menghapal nama-nama daerah yang ada.

Dari Makassar ke Kupang, pesawat kami harus transit di Denpasar. Tahun lalu, aku beruntung karena bisa mengendarai motor melalui jalan tol baru, yang belum diresmikan oleh Presiden, dari Kuta ke Nusa Dua. Gratis pula.

Jika di tahun lalu bandara I Ngurah Rai masih dalam proses rehabilitasi berat, maka hari ini aku harus ngos-ngosan karena melangkah cepat menyusuri bandara baru yang nyaman dan lebih megah, yang jaraknya lumayan jauh, untuk melapor ke petugas dan langsung menuju pesawat berikutnya yang akan membawaku dan 4 teman lainnya ke Kupang.

20141029_153648          Bandara Baru I NGurah Rai

Detail Tiang, berukir motif Toraja di Bandara Baru I NGurah Rai

Antri di pintu 1C, telingaku sudah mendengar nama aneh. “Kita tidak salah pesawat kan?” tanyaku ke Darwis, teman satu tim ku dari SulSel. Darwis mengiyakan, setelah kembali dari memperlihatkan boarding pass-nya ke petugas. Sekilas kulihat Pak Robby, bos kami di kantor, juga ikut menyodorkan boarding pass-nya ke petugas. Nampaknya beliaupun ragu.

“Dalam beberapa menit, kita akan mendarat di Tambolaka” demikian pengumuman petugas setelah sekitar 1 jam perjalanan di udara, yang membuat kami bertiga, yang duduk segaris, saling pandang. Pengumuman selanjutnya menyatakan bahwa kami akan transit 20 menit dan diminta tidak meninggalkan pesawat.

Tambolaka itu, dimana yah? Sudah di NTT kah kita? Aku bertanya dalam hati sambil mengaktifkan HP, ingin segera searching dimana letak Tambolaka. Evi, seorang temanku yang duduk di seat belakang, berdiri dan teriak “Sejak jaman sekolah, tidak pernah dengar nama Tambolaka. Ini dimana?”.

Bagaimana mungkin aku tidak pernah mendengar nama Tambolaka? padahal Garuda, maskapai penerbangan terbesar di negeri ini, sudah menjadikannya sebagai tujuan penerbangan.

Yaah, tidak ada sinyal internet di HP ku. Semakin penasaran dengan Tambolaka. Namun kepo-nya Evi membuatnya mendapat jawaban lebih cepat dari pramugara. “Sumba Timur Daya” teriak Evi dari belakang.

Teman Tim SulSel yang duduk di seberangku (foto: Dokumen Pribadi)
Teman Tim SulSel yang duduk di seberangku (foto: Dokumen Pribadi)

Di seberang kursiku, Darwis terlihat sibuk ambil kondisi sekitar bandara kecil ini, yang hanya terdiri dari 1 bangunan terminal penumpang.

Perjalanan panjang Makassar-Kupang yang ditempuh 6 jam, akhirnya berakhir di bandara El-Tari. Penasaran itu masih bertengger di kepala. Sampai hotel, aku harus searching tentang kamu, Tambolaka.

Bagian depan bandara El-Tari
Bagian depan bandara El-Tari
20141029_121433
Food Court di area bandara El Tari
Pajangan jualan majalah dan koran
Pajangan jualan majalah dan koran

20141029_132400

 

Categories
Jejak di 100 Sekolah

Kemanakah Guru Akan Curhat?

“Kami, guru, tidak selamanya bisa mengajar dengan tenang. Senantiasa begini-begini, “ demikian curhat Wali kelas IV, sambil kelima jarinya dikuncupkan, lalu dibuka, lalu dikucupkan dan dibuka lagi, berulang-ulang. Isyarat bahwa beliau senantiasa was-was.

Tak pernah berencana sebelumnya akan hadir di SDN Sungguminasa IV pada sabtu, 18 Oktober 2014 ini. Namun karena butuh seseorang untuk membawa beberapa perlengkapan stand Warung Sosial ke monumen Mandala, maka Relawan terdekat yang bisa dimintai tolong adalah Tim C dan D. Kebetulan mereka sedang mendampingi Nulis Bareng Sobat di sekolah yang jaraknya Cuma 500an meter dari rumah.

Aturan di kelas, guru ataupun Relawan yang bertindak sebagai pendamping, tidak boleh memakai sendal. Saya pun meminta salah seorang teman Relawan, Atifah, untuk mengambil perlengkapan di halaman sekolah, tempat motor saya di parkir.

Afli, seorang Relawan lain, ikut keluar kelas, karena saya menjanjikan sebuah gelang karet kepadanya. Hari ini ada 6 atau 7 orang Relawan yang sedang bertugas (Saya lupa jumlah tepatnya karena hanya melihat sekilas ke arah dalam kelas).

Saya terburu-buru pulang, tatkala Wali Kelas IV yang berdiri di depan pintu ruang Kepala Sekolah, melambaikan tangan ke arah Atifah. Dipanggil Ibu Kepala Sekolah, ujar beliau ke Atifah.

Terlihat agak ragu, Atifah yang berjalan menuju ruang Kepsek, membalikkan badan dan melambaikan tangan mengajak saya ikut. Karena terburu-buru, saya meminta Afli, yang berdiri dekat saya, untuk menemani Atifah bertemu ibu Kepsek.

Namun beberapa detik kemudian, Atifah kembali memanggil saya. Sepertinya saya sudah harus menemui ibu Kepsek, batin saya.

Saya menahan diri untuk tidak masuk ke ruangan tersebut, dan hanya berdiri di depan pintu sambil berusaha menunjukkan ekspresi siap mendengar penuturan ibu Kepsek. Hmm.. kenapa juga saya pake sendal ke sini. Jadi tidak enak hati.

Saya kemarin dipanggil oleh Bapak Sekretaris Dinas, itupun setelah harus kesana kemari, Ibu Kepsek membuka pembicaraan.

Awalnya saya diinformasikan bahwa saya dipanggil ke UPTD, lalu orang di UPTD menyatakan bahwa saya justru dipanggil oleh Kepegawaian di Dinas (Dinas Pendidikan), tapi ternyata bukan Kepegawaian yang memanggil, melainkan Pak Sekretaris Dinas, Ibu Kepsek melanjutkan.

Menit berikutnya, ibu Kepsek bercerita bagaimana Sekretaris Dinas Pendidikan banyak bertanya tentang kegiatan Nulis Bareng Sobat, yang ternyata sudah dimulai di minggu lalu, sebelum surat ijin dari Dinas keluar untuk LemINA.

Sekretaris Dinas rupanya menaruh curiga, atau lebih halusnya, waspada dengan kegiatan Nulis Bareng Sobat. Pertanyaan-pertanyaan umum, seperti apakah menggangu jam belajar, apakah ada pungutan ke siswa, apa manfaatnya bagi siswa, apa yang ditulis, dilontarkan kepada ibu Kepsek.

Untunglah ibu Kepsek dapat menjawab cerdas. Khususnya menginformasikan kepada Bapak Sekretaris Dinas bahwa kegiatan tersebut telah berlangsung sejak semester lalu dan dampaknya sudah kelihatan, meski belum signifikan untuk semua siswa.

Wali Kelas IV yang ikut mengobrol dengan kami, menambahkan pula bahwa siswa kelas V sekarang, yang semester lalu masih duduk di kelas IV dan mengikuti kelas Nulis Bareng Sobat, masih menuntut ingin belajar menulis. Beberapa dari mereka kadang ikut masuk ke kelas IV secara diam-diam untuk ikut kelas menulis, meski sudah dilarang dan diminta kembali ke kelasnya.

Pembicaraan yang awalnya tentang ijin dari Dinas, beralih menjadi curhat Kepsek dan Wali Kelas. Kepsek meminta kami untuk bisa memahami proses birokrasi di Dinas yang terkadang terkesan menghambat. Beliau bercerita bagaimana ia sering dipanggil ke Dinas karena laporan-laporan dari pihak lain atau justru dari orangtua siswa, yang tidak memahami persoalan dan malas untuk mengkomunikasikannya dengan Kepsek sebelum melapor ke Dinas.

IMG-20141002-WA0000

“Padahal saya hampir setiap saat, ada di kantor dan bisa ditemui untuk diskusi, jika ada yang punya keluhan, baik orangtua, komite maupun pihak luar. Mereka lebih suka berprasangka dan melaporkan saya, sebelum tahu fakta di balik kebijakan yang kami ambil di sekolah,” Ibu Kepsek menjelaskan dengan ekspresi kecewa.

Sabtu itu, menurut Kepsek, di saat proses belajar berlangsung di kelas, Kepsek di ruang lain sedang memimpin Rapat Komite Sekolah. Di Rapat tersebut beliau menjelaskan kepada komite sekolah yang terdiri atas orang tua siswa, agar tidak khawatir dengan adanya program Nulis Bareng Sobat di kelas IV. Selain tidak mengganggu proses belajar di kelas, karena menyesuaikan dengan jadwal dan telah didiskusikan dengan wali kelas, juga dijamin tidak akan ada pungutan untuk kegiatan tersebut.

Selama ini, Kepsek berharap bahwa Dinas dan Komite sekolah bisa menjadi wadah baginya untuk menyampaikan dan mendapat solusi atas keluhan-keluhannya. Namun kenyataannya, justru lebih sering beliau bingung, mau mengeluh ke siapa.

Baru-baru ini, beliau ditegur lagi oleh Dinas karena laporan orangtua siswa atas kejadian yang sudah setahun lalu terjadinya. Persoalannya tentang pembelian air isi ulang untuk dispenser di kelas.

Siswa-siswa di kelas berinisiatif dan sepakat untuk mengumpulkan uang jajan mereka di hari itu, agar bisa membeli air isi ulang seharga sekitar 3000-4000 rupiah, karena dispenser belum diisi oleh sekolah. Inisiatif murni dari siswa tersebut, rupanya ditanggapi dengan kecurigaan oleh salah seorang orang tua siswa.

Untuk menghindari munculnya lagi masalah yang sama, akhirnya dispenser dikeluarkan dari kelas. Siswa tak lagi bisa minum air dalam kelas.

Wali kelas punya kisah lain lagi. Menurutnya, anak-anak sebaiknya belajar tidak terbatas dengan buku pegangan saja. Suatu ketika, ada bahan bacaan baru yang dibawa nya ke kelas, yang berupa beberapa lembaran.

Dengan harapan siswanya bisa mengetahui tentang bahan tersebut, Wali Kelas pun menawarkan kepada siswanya untuk menggandakan sendiri dengan jalan foto copy. Biayanya mungkin hanya 500 rupiah, tapi karena ada siswa yang menyampaikan ke orangtuanya bahwa uang jajannya digunakan untuk fotocopy, maka orang tua yang tidak memahami hal tersebut, serta merta protes keras dan menuduh guru melakukan pungutan uang.

Saya hanya bisa mengangguk-angguk mendengar penuturan kedua pejuang Pendidikan di depan saya. Sepatutnya, ada aturan yang jelas tentang batasan pungutan di sekolah. Jika pun sudah ada, mungkin sebaiknya disosialisasikan ke semua pihak, agar menghindarkan kesalahpahaman.

Hanya sekitar 7 menit ngobrol dengan Kepsek dan Wali Kelas, sudah banyak keluhan yang terdengar dari keduanya. Impian beliau berdua untuk memajukan siswa-siswanya, tidak selamanya didukung oleh pihak-pihak yang justru diharapkan bisa membantu mereka.

“Selalu saja kami, guru dan sekolah, yang disalahkan,” demikian kalimat terakhir yang kudengar, sebelum buru-buru berpamitan.

Categories
Uncategorized Voluntary

Ajarkan Konsekuensi, Bukan Hanya Memarahi

Sabtu ini, saya menjadi Relawan Pengganti karena Atifah, Mutiah, Hendra dan Dilla, tak satupun yang bisa datang. Sebelum menuju sekolah, saya sudah dapat info dari Atifah jika hari ini kelas IVA bergabung dengan kelas IVB, belajar dalam ruangan yang sama.

Waduh, terlintas bagaimana rusuhnya kelas hari ini.

Sebelumnya, saya sudah pernah mendampingi sobat-sobat kecil di SDN Sungguminasa IV ini. Namun belum menghapal nama-nama mereka, apalagi kemajuan mereka dalam menulis.

“Saya harus mohon ijin dulu ke Guru Wali sebelum masuk kelas,” batin saya. Meski Atifah sudah menginformasikan ke Ibu Guru bahwa yang akan hadir hari ini adalah saya dan Samsir, namun penting bagi saya tuk memperkenalkan diri.

Saya tiba tepat di jam istirahat. Butuh sekitar 10 menit untuk bertanya dan menemukan ibu Guru Wali kelas IVB. Tatkala bertemu beliau di kantin sekolah, saya dikenalkan dengan wali kelas IVA. Ya, hari ini kedua kelas tersebut bergabung dalam satu ruangan. Mendadak galau saat teringat hal itu lagi.

Sangat menghargai tamu. Itu gambaran saya tentang Ibu Wali Kelas IVB yang dengan ramah menyapa saya, bahkan sampai mengantar ke ruang kelas nya. Anak-anak masih istirahat, mereka akan masuk lagi di jam 11.30, Ibu Wali menjelaskan sambil mempersilahkan duduk.

Sebenarnya saya sudah berencana berbasa basi dengan menanyakan mengapa kelas IVB digabung dengan kelas IVA, namun Ibu Wali sudah mendahului. Hari ini anak-anak dari dua kelas digabung jadi satu, karena minggu ini banyak tanggal merahnya. Saya hanya mengangguk sambil senyum dan berkata “oh begitu ya, bu”.

Mencoba bertanya dalam hati, menjurus ke protes, apa hubungannya yah antara banyak tanggal merah dan menggabungkan dua kelas menjadi satu? Tapi sudahlah. Toh, anak-anak ini sudah menatap penuh tanya ke saya, ketika saya mulai duduk di depan, di meja guru.

Ibu mau mengajar di sini?” seorang siswi maju ke depan dan bertanya. Saya mengiyakan dan mencoba mengenali wajahnya. Ah, pasti siswa kelas IVA. Seingatku, belum pernah melihat wajahnya sebelumnya.

Kak, mana temanta’ ?, sendirian jaki’ mengajar?” seorang siswi lain berlari dari luar kelas menuju ke saya. Nah, kalau yang ini, pastilah siswa kelas IVB. Salah satu yang membuatku betah ke Sekolah Dasar, baik di Takalar maupun di Gowa, kecuali sekolah anakku, adalah karena anak-anak ini memangglku dengan panggilan kakak, padahal mungkin ibu mereka seumuran dengan saya. Huu, gede rasa.

Samsir datang beberapa menit setelah saya memulai kelas. Sungguh padat kelas kami. Beberapa kali saya menegur dua orang siswa yang duduk di atas bangku. Ternyata mereka tidak kebagian kursi, jadi memilih duduk di atas bangku. Duh, pelajaran menulis hari ini, pastilah tidak maksimal.

Agar mereka fokus ke saya, saya memulai dengan menginformasikan bahwa saya akan membacakan sebuah tulisan singkat yang berjudul SAHABAT. Mereka harus menyimak dan nantinya harus menjawab pertanyaan yang akan saya ajukan.

Sepertinya cara ini berhasil karena mereka fokus mendengarkan, meski beberapa diantaranya banyak yang nyeletuk bercanda. Tingkah mereka mengingatkan saya dengan ulah saya di pelatihan-pelatihan, yang juga kadang nyeletuk tuk memancing tawa, biar suasana belajar tidak kaku. Mungkinkah siswa-siswa inipun bertujuan seperti saya?

Menghadapi siswa sekitar 40-50 orang ini, lumayan menguras energi dan membuat kerongkongan kering. Kenapa juga harus digabung. Saya masih protes dalam hati.

Samsir pun terlihat stress meski masih senyum-senyum. Sesekali ia berteriak “perhatikan”, “jangan ribut”, “kenapa pukul temannya?”. Malah sempat nada bicaranya sudah mulai dibuat meninggi karena anak-anak ini sudah mulai keterlaluan. Saya mencoba menahan diri untuk tidak menampakkan kemarahan. Padahal sumpah, sudah emosi.

Proses tanya jawab berdasarkan cerita singkat yang saya bacakan, dijawab dengan baik oleh anak-anak. Jawaban mereka saya tuliskan di papan untuk memudahkan mereka mengingat point-point apa saja yang diceritakan dalam tulisan tadi.

Untuk meminimalkan gaduhnya kelas dan ulah iseng beberapa siswa, saya menyegerakan meminta mereka menulis tentang sahabatnya masing-masing.

Saat membagikan kertas, anak-anak seperti sebelumnya, rebutan. Jika yang lalu rebutan bukunya cuma sekitar 20-30 siswa, hari ini sekitar 40-50an siswa yang rebutan kertas dari tangan saya. Ya ampun. Yang sabar yah, Bunga.

Bisa panjang sekali tulisan ini, jika saya harus menuliskan detil satu persatu suasana dan ulah anak-anak saat menulis cerita.

 

Memilih Menulis di Lantai
Memilih Menulis di Lantai

Andai saja ada yang merekam peristiwa di kelas hari ini, pasti akan bisa menonton video bagaimana Samsir dan saya secara bergantian memasang wajah kesal, lalu tersenyum kecut, lalu kemudian tertawa tuk mengobati kedongkolan.

Siswa paling tinggi di kelas IVB ini, takkan pernah bisa duduk tenang di bangkunya. Saat siswi yang diganggunya berteriak, saya coba mendekatinya dan bertanya, mengapa ganggu temannya. Si tinggi ini cuma menjawab cuek “tidakji”.

Menghindari memperpanjang, sayapun menanyakan siapa sahabatnya. “Ian, eh Udo”. Duh, anak ini asli galau. “Ayo,tulis tentang sahabatmu itu, yang lain menulismi tawwa” saya berusaha mengajak dengan nada seriang mungkin. Benar saja, anak ini mulai duduk dan menulis. Namun tidak berlangsung lama. Beberapa menit kemudian dia mulai lagi bangkit dan menuju bangku teman-teman perempuannya.

Bros flanel berbentuk pita milik teman-temannya diambil paksa dan ia kenakan di seragam pramukanya. Sudahlah. Saya skip saja. Mending fokus ke siswa yang serius belajar menulis.

Si Tinggi dan Bros Pita Rampasannya
Si Tinggi dan Bros Pita Rampasannya

Seorang siswa bernama Sahrul, yang duduk paling depan, kemudian menyita perhatian saya. Ia dan teman sebangkunya, Akbar, nampaknya tidak peduli dengan teman-temannya di belakang yang sibuk bermain, saling ganggu dan teriak-teriak.

Sahrul dan Akbar menulis dan sesekali ngobrol, lalu menulis lagi. Setelah tulisan mereka berdua selesai, mereka tukaran tulisan dan membacanya bersama. Syukurlah, masih ada yang serius menulis di kelas yang sesak dengan siswa di hari ini.

Syahrul dan Akbar
Syahrul dan Akbar

Pukul 12.15. Beberapa siswa sudah mulai mengumpulkan tulisan mereka. Anak bertubuh gendut yang beberapa minggu lalu, rajin mengumpulkan tandatangan semua relawan, hari ini duduk paling belakang dan matanya mulai jelalatan mengamati temannya. Saya sengaja menunggu aksi apa yang direncanakannya.

Seperti perkiraan saya, karena ia duduknya di sebelah Si Tinggi, pastilah ia tidak menulis hari ini. Tapi, anak ini maju ke saya dan membawa sebuah tulisan. “ini punyaku” katanya sambil menyerahkan tulisan ke saya. Mencurigakan. Saya langsung meneliti kertas yang ia serahkan. Hei, ini tulisan temanmu, nama perempuan. Dia berbalik sebentar sambil tertawa dan berlari menuju bangkunya. Iseng benar anak ini.

Saat beberapa anak rebutan menyetor tulisan, Si anak bertubuh gendut itu, muncul lagi dan menyerahkan kembali selembar kertas. Duh, kali ini masih tetap saja kertas temannya yang ia setor.

Belum seberapalah tingkah iseng Si Gendut dan Si Tinggi. Terpaksa memanggilnya demikian, karena saya lalai untuk menanyakan nama keduanya.

Di barisan siswa kelas IVA tiba-tiba rusuh. Mereka memukul-mukul bangku dan menyusul keributan dengan saling lempar bola kertas ke arah teman-teman perempuan dari kelas IVB. Tak mau kalah, teman-teman perempuannya pun balas melempar. Rusuh…rusuh.

Samsir mulai melarang dengan nada tinggi, tapi anak-anak ini tak mau berhenti. “Biarkan saja. Kita tunggu sampai mereka puas” kataku ke Samsir.

Saya hanya berdiri terdiam di depan sambil mengamati mereka saling lempar. Hingga ada yang menyadari dan berteriak meminta temannya menyudahi.

Lempar melempar berhenti total ketika Ibu Wali masuk ke kelas. Mereka duduk manis, meski masih tertawa-tawa kecil. “Masih ada yang mau lempar-lempar bola kertas?” saya menanyakan dengan suara keras. Ayo, sekarang lempar-lemparan dan tidak usah pulang. Saya menantang mereka, tapi tak ada yang bergeming.

Sebelum menutup pelajaran dan meminta mereka pulang, saya memamerkan 5 lembar sticker ke mereka. Semua spontan teriak, meminta sticker saya.

Sticker ini hanya untuk 5 orang yang menulis, yang duduk di kursi bukan meja, yang tidak mengganggu temannya, dan tidak lempar-lempar kertas” saya menegaskan dengan suara super keras.

Saya memilih 5 orang anak untuk mendapatkan sticker ukuran 10x10cm dari saya.

Bagi saya, mengajarkan mereka konsekuensi dari perbuatan, masih lebih penting daripada menghabiskan suara tuk teriak-teriak memarahi mereka saat ribut dan berbuat nakal di kelas. Anak-anak sebenarnya sudah pandai untuk diajak berfikir.

Mereka pasti menyadari bahwa karena perbuatannya yang tidak seharusnya, mereka tidak bisa memperoleh sticker seperti temannya yang lain. Hal ini terbukti dari seorang anak yang tidak berhenti mengekori kami saat keluar kelas hingga menuju ke motor.

Ia tak berhenti mengeluh karena tak dapat sticker. Saya sarankan untuk menulis di dua minggu depan. Meski terlihat belum puas, namun ia sepertinya bisa menerima dan kemudian berlari melalui pagar besi pekarangan sekolah.

Satu hal yang kami syukuri, karena penggabungan dua kelas ini, hanya di hari ini saja. Maka bersyukurlah sobat-sobat Relawan yang bertugas di dua minggu depan karena tidak harus berhadapan dengan begitu banyak anak.