Categories
Diary Voluntary

Menyalakan Indonesia Kala Banjir Melanda Makassar

Semalam manusia menyerbu langit dengan petasan dan kembang api. Hari ini langit menyerang bumi dengan hujan lebatnya. Seperti itu bunyi sms iseng anak sulungku. Meski sebenarnya kami berdua dalam satu rumah yang sama di siang itu, tapi saya tahu jika ia mengirimkannya karena iseng tuk melalui hari libur yang menjemukan baginya.

Siang ini, hari pertama di tahun 2103. Saya hanya mampu memandangi langit melalui jendela dengan penuh keraguan. Langit sama sekali tak memberi sinyal bahwa hujannya akan berhenti. Pergi atau tidak yah?.  Sejak pagi tadi, hujan lebat turun tanpa jeda sama sekali.

Saya kembali memegang handphone sambil scroll layar ke atas tuk membaca obrolan teman-teman sejak semalam di whatsapp group Penyala Makassar.  Kita telah janjian untuk bertemu membahas Penyala Makassar bersama adik-adik Pengajar Muda dari Majene.

Setelah satu jam nada whatsapp tak pernah terdengar, tiba-tiba sapaan Didin pengajar muda masuk dan menyatakan bahwa ia dan teman-teman pengajar muda lainnya sudah di Mall Panakukang. Duh, saya semakin resah. “Jika saya benar-benar ingin menyalakan Indonesia, saya harus kesana meski hujan masih lebat,” batin saya.

Tak segampang itu keluar rumah dengan mengendarai motor di cuaca dingin dan lebatnya hujan. Protes keras dilemparkan oleh suami dengan sebuah pertanyaan “Hujan lebat begini ke Mall Panakukang? Sepenting apakah pertemuannya hingga tak bisa ditunda?”. Sempat bengong beberapa detik hingga kemudian saya menjawab bahwa adik-adik Pengajar Muda telah datang jauh-jauh dari Majene untuk bertemu dan membahas penyala. Meski saya tahu bahwa tujuan utama mereka datang ke Makassar adalah untuk berlibur, tapi jawaban tadi cukup ampuh tuk dapat ijin keluar rumah.

Dengan mantel yang sobek di bagian lengan kanannya, saya menyusuri jalan yang mulai tergenang air di bawah hujan yang tak mau sedikitpun berubah menjadi gerimis. Waktu tempuh yang cukup lama dari biasanya, karena macet akibat antri di jalan yang tergenang dengan ketinggian air yang lumayan. Sesusah inikah memulai tuk bergabung menjadi penyala?.

Memasuki Mall Panakukang di pukul 15.00, molor dua jam dari janjian pukul 13.00. Jalan tergesa sambil berusaha menghubungi Arya. Ah, kenapa susah sekali menghubungimu Arya?. Pasti sedang diskusi, tebakku.

Bergabung duduk dengan mereka, berkenalan dan memulai pembicaraan tentang kegiatan adik-adik Pengajar Muda. Rencana awal bertemu Pengajar Muda, sesuai dengan percakapan di whatsapp adalah identifikasi kebutuhan buku pengajar muda di Majene. Tapi otakku sempat manyun saat ada yang mempertanyakan ide pertemuan itu.

Meski sempat tersinggung tatkala ada orang Makassar sendiri yang seolah menyangsikan kepedulian orang Makassar, saya tetap menyatakan “tujuan kita sederhana, bagaimana bisa menyediakan buku bagi mereka yang di daerah terpencil”.  Hufffh, tujuan sederhana itupun masih didebat. Ya sudahlah, saya tak mau terlibat debat tanpa melakukan aksi nyata tuk menyalakan Indonesia.

Saya tak pandai tuk merangkai kata, meyakinkan semua yang hadir tentang kepedulian saya kepada anak bangsa ini. Yang saya tahu, saya menerjang hujan lebat, membelah jalan yang tergenang air, antri di macetnya jalan, tuk menuju ke pertemuan ini, tanpa sedikitpun berniat bahwa saya memilih menjadi Penyala karena alasan jadi batu loncatan tuk menjadi pengajar muda, karena  saya tidak muda lagi. Tanpa terfikir bahwa saya akan mudah mendapat kerjaan, karena saya pun sudah punya pekerjaan. Hati kecilku menerima sinyal aneh, benarkah ada hubungan yang signifikan antara status sebagai Penyala dengan kemudahan memperoleh pekerjaan?.

Sinyal aneh itu berangsur hilang saat adik-adik Pengajar Muda mulai fokus ngobrol denganku membahas kebutuhan buku mereka, tukar-tukaran kartu nama dan nomor HP. Adik-adik ini bisa menangkap niat ikhlasku dan beberapa penyala yang ingin menyalakan Indonesia.

Di akhir diskusi, suasana yang awalnya penuh tanya dalam hati, hal itu terbaca dari tatapan mereka, akhirnya menjadi cair ketika purna pengajar muda dari Makassar datang bergabung. Sungguh pertemuan awal tahun yang luar biasa.

Di hari itu, di tanggal 1 Januari 2013,  kala berita TV dan koran dipenuhi berita tentang banjir di Makassar akibat curah hujan yang tinggi, saya menobatkan diri saya sendiri sebagai penyala, dengan dua eksamplar buku, yang mampir saya beli sebelum pulang dari pertemuan. Terima kasih kepada Didin Pengajar Muda. Kamu telah menyampaikan buku tipis itu kepada adik-adik yang nun jauh di sana.

Berkali-kali saya meyakinkan diri, bahwa saya menuliskan ini bukan untuk Riya’, tapi lebih kepada bagaimana menarik aksi lebih banyak dari orang yang membacanya, tuk ikut menyalakan Indonesia.Image

Categories
Movies

A Good Day to Die Hard

Terlewat nonton Die Hard? No no no. Jangan sampai deh. Seminggu lebih teman-teman kampus sudah heboh cerocoki saya dengan info film. Teman di Kantor pun sudah mulai ngajak nobar. Tapi kerjaan menumpuk. Mana bisa nonton?.

Hingga kemudian di minggu lalu, tiba-tiba saya pulang kampus agak awal. Naaah..waktunya melihat aksi Bruce wilis.

Saya tak bakal menulis alur cerita seri ke-5 dari sekuel Die Hard ini, tapi saya akan bercerita singkat pengalaman saya menonton film ini. Die Hard selalu menarik buat saya, bahkan sebelum saya menontonnya.

Alasan terkuat yang membuat saya mewajibkan diri nonton film ini (selain karena telah nonton film sebelumnya) adalah karena penasaran dengan Bruce Wilisnya. Seperti apa sih aksi dia setelah 20 thn lebih (semoga tidak salah) membintangi Die Hard hingga seri 5 ini. Sekarang dia sudah tua kan?

Aha! Bruce Wilis masih tetap saja pas dan menawan tuk film Die Hard. Meski sudah tua, keriput makin jelas, tapi masih tetap caekp, tegap dan lincah. Aksinya? Seperti biasanya, dijamin keren.

Sebuah kalimat yang paling saya suka, yang diucapkan berkali-kali oleh John McClane di Die Hard 5 ini adalah I’M in VACATION. Seolah ingin berkata “gue lagi liburan lho, bukan sedang bertugas”. Atau justru ingin berkata “gue sedang liburan aja, sudah kayak begini, gimana kalo sedang tugas”.

Film ini menggambarkan seorang John mcClane yang sedang mencari sang anak tuk memanggilnya pulang. Seperti bapak pada umumnya, John mc Clane digambarkan sebagai seorang bapak yang mencurigai anak laki2nya terlibat kriminal atau narkoba.

Sebuah kisah proses memanggil anak pulang ke rumah yang penuh aksi laga. Masih di menit-menit awal, film ini sudah menghabiskan banyak duit tuk aksi kejar-kejaran mobil. Aksi nekat di jalan demi mengejar sang anak, Jack mcClane, bikin penonton jadi tegang.

Film yang mengambil lokasi di Moskow ini, berhasil membuat saya dua kali salah tebak alur ceritanya. Busyet deh.

Meski film laga, tapi film ini agak sentimentil juga lho. Ada curhat2an dua orang tua tentang anak mereka. Ada kisah cinta unik, dua org bapak dengan anak mereka masing2. Dan serunya adalah, itu terjadi pada mcClane dan si mafia Moskow (namanya Yuri, kalo tidak salah. Dasar pelupa).

Adegan klimaksnya, ketika pasangan mcClane bersama putranya dan si Mafia bersama putrinya, mulai saling serang alias baku tembak. Seru dan menegangkan tentunya. Apa ini dikategorikan film laga keluarga yah? Emang ada kategori kayak gitu?.

Secara keseluruhan, saya menikmati 3 hal dari film ini; kalimat “I’m in Vacation” yang diulang2 di beberapa adegan dan jadinya lucu, keindahan Moskow, alur cerita yang membuat saya dua kali salah tebak.

Satu hal lagi, ketika John berkata kepada Jack, anaknya “kamu adalah mcClane Junior,” saya menangkapnya sebagai sinyal bahwa jika seri Die Hard ke-6 akan dibuat, maka sang Bruce Wilis akan pensiun dan digantikan oleh mcClane Junior.

Bagi yang penasaran, silahkan nonton dan identifikasilah, di bagian mana saya salah tebak alur cerita.Image

Categories
Diary

Tiap 45 menit Orang-orang di Kota itu berubah profesi

Beberapa hari yang lalu, Adekku memposting di Facebook, foto-foto Putri, anaknya. Foto itu diambil saat putri beserta teman-teman sekolahnya sedang berkunjung ke Kid Zania Pasifik Place. Saya berkomentar di album fotonya bahwa mirip Kid Zone, Kalau di Makassar. Adek malah balik bertanya, “emang ada di Makassar?”. Glek

Terinspirasi oleh komentar kami berdua di album itu, saya teringat kembali jalan-jalan 27 November 2011 yang lalu. Bagi yang punya anak, ponakan, sodara, anak teman atau anak tetangga, rugi kalau belum ajak mereka jalan-jalan ke KID ZONE Tanjung. Tidak harus ke Jakarta kan?.

Kira-kira seperti inilah cerita jalan-jalan saya, Fauza, Furqan dan Wandi:

KOTA DI DALAM MALL

Begitu melalui pintu masuk ke kota ini, ada yang aneh. “Mengapa kota ini terasa lengang yah?”, batin saya. Saya masih celingak celinguk berusaha mempelajari kondisi sekitar dengan cepat, namun tiga orang yang bersamaan masuk ke kota ini dengan saya, sudah nyelonong masuk ke BNI. Saya bergegas menyusul.

Kantor BNI ini layaknya kantor mini. Meja kasir, kursi tunggu, meja slip pengisian, semua nya berbentuk mini, kecuali Komputernya. Dua orang teller menyapa dengan ramah ketiga orang di depannya. “Mau mencairkan cek ya, Pak?. Silahkan”, sambil tangannya meminta kertas cek. Salah seorang dari mereka langsung protes, “masak saya dipanggil bapak?”. Petugas teller hanya tersenyum dan berkata, “semua yang masuk kota ini, dipanggil bapak dan ibu”. Spontan mereka bertiga tertawa-tawa geli.

Ketiganya kemudian antri menunggu buku tabungan dicetak. Cek mereka masing-masing berjumlah 1000 KZ. Mereka diberikan uang tunai 500 KZ dan sisanya 500 KZ ditabung. Petugas menyerahkan buku tabungan BNI beserta tas kecil selempang untuk menyimpan buku tabungan.

Berselang 5 menit kemudian mereka meninggalkan BNI dengan berlari-lari kecil, menuju ke dalam kota. Saya berusaha mengejar dengan melangkah panjang dan cepat, sambil mengamati bangunan-bangunan di sekitarnya. Jalan raya kota ini terbilang mulus dilengkapi garis batas punggung jalan. Sisi jalan dilengkapi pula dengan lampu penerangan. Ada bangunan khusus untuk photografi yang menyediakan jasa cetak foto wisuda, ada pula beauty house lengkap dengan pakaian pengantinnya. Tapi  masih saja terlihat sepi dari pengunjung.

Jarak 100 meter ke depan, saya baru menemukan sebuah bangunan yang memiliki pengunjung. Dari kaca jendela depan, sy dapat melihat ke dalam, ada empat orang yang sibuk dengan kertas dan crayon nya. Salah seorang diantara mereka menjelaskan sesuatu ke orang yang lain sambil mengamati kertas-kertas mereka.

Saya rupanya tertinggal jauh dari ketiga orang yang saya temani tadi. Saya memaksakan diri berlari kecil untuk menyusul. Di ujung jalan, saya melihat ada mobil yang digunakan sebagai statiun radio swasta. Berbelok ke kiri dengan cepat, ujung mata saya masih bisa menangkap sebuah panggung di kanan jalan dengan spanduk background bergambar orang-orang mengenakan toga. Beberapa alat musik juga ditempatkan di atas panggung beserta sound system nya. Sepertinya ini panggung untuk wisuda sarjana.

Setelah melewati sebuah toko kue yang peralatan pembuat kue nya dapat terlihat dari luar, saya pun sampai ke sebuah pertigaan. Eits, pertigaan ini begitu hiruk pikuk. Mobil ambulance, mobil patroli polisi dan pemadam kebakaran hilir mudik dengan sirene nya yang cukup mengganggu telinga. Sangat kontras dengan bagian kota yang pertama kali saya temui.

Huuffh…keringat mulai bercucuran. Saya berhasil menemukan ketiga orang tadi sedang antri di dalam  gedung first aid. Mereka menjalani pemeriksaan kesehatan. Petugasnya sangat cekatan. Dalam beberapa menit, ketiga orang tadi sudah menerima surat keterangan sehat setelah membayar 100 KZ.

Ketiga orang tadi kemudian berlari ke gedung driving license yang terletak salah satu pojok pertigaan. “Kenapa meraka harus berlari yah”, saya bertanya dalam hati sambil menyeka keringat. Saya menengok ke dalam melalui jendela. Seseorang sedang berdiri di samping TV 29 inchi sambil menunjuk ke arah layar. Enam orang di depannya menyimak dengan seksama layar yang sedang menayangkan pengenalan tentang SIM dan beberapa rambu lalu lintas.

Setelah sekitar 30 menit di gedung driving license, ketiga orang tadi beranjak keluar sambil masing-masing memegang kartu SIM setelah membayar 100 KZ. Mereka ke seberang jalan raya dan kali ini saya tidak ngotot mengekori mereka. Saya memilih berdiri di samping gedung driving license untuk mengamati kesibukan di pertigaan, sambil sesekali mata saya membuntuti langkah mereka.

Empat orang polisi sedang mengawasi lalu lintas di traffic light. Tak berapa lama, salah seorang menahan sebuah truk bangunan dan meminta sopirnya untuk memperlihatkan SIM. Lucu, untuk memastikan SIM saja, sampai harus dilakukan 4 orang polisi. “keroyokan nih yee”, saya hanya tersenyum dalam hati.

Setelah sepuluh menit mengamati aktifitas di pertigaan, saya langsung menuju Army X command 10. Bangunannya terbuat dari konstruksi kayu. Rumah panggung dengan tetap menyediakan ruangan-ruangan khusus di bawahnya. “Ini seperti barak latihan tentara”, saya celingak celinguk dari jendela ke jendela. Sepi. Tak ada seorangpun, hanya tumpukan ban bekas dan drum dimana-mana.

Di sisi kiri luar bangunan, saya menemukan tangga kayu menuju lantai atas. Spontan kaki saya melangkah cepat ke atas, namun terhenti di depan pintu masuk. Begitu menengok ke dalam, beberapa orang tentara baru sedang latihan berbaris. Semuanya berseragam lengkap. Penasaran, saya pun masuk. Seorang pelatih menahan saya, sambil tersenyum dia menyilahkan saya menunggu di luar.

Dengan sedikit kecewa saya menuruni tangga. Bangku panjang di depan bangunan tersebut menjadi pilihan saya untuk duduk. Sekitar 20 meter di depan saya, sebuah kantor polisi sedang dipadati oleh orang-orang. Bagian depan kantor polisi hanya berdinding setinggi 1 meter dari lantai, sehingga dengan mudah mata saya mencari tahu dari tempat saya duduk.

Nampaknya ada seseorang yang sedang diintegorasi oleh dua orang polisi karena tidak memiliki SIM, sementara beberapa orang dari luar kantor mengamati ke dalam proses integorasinya. Saya tidak terlalu tertarik dengan momen itu.

Pandangan saya beralih ke depan kantor polisi. “Pasti polisi baru”, pikir saya sambil mengamati mereka latihan baris berbaris. Latihannya Cuma 10 menit. Seorang polisi senior maju dan memperkenalkan jenjang kepangkatan di kepolisian dengan cara yang ramah bagai sedang berbicara dengan pengunjung pameran.

Saya mulai gelisah. Khawatir jika ketiga orang tadi sudah meninggalkan tempat dan saya tak sempat melihatnya. Telinga mencoba menangkap suara dari lantai atas bangunan army X command 10. Ketiga orang tadi sepertinya masih di atas. Suara gemuruh lantai kayu karena kaki-kaki yang berlarian terdengar samar-samar. Bisa ditebak bahwa mereka sedang latihan. “Mereka latihan seperti apa yah?”, saya penasaran.

Tak cukup 10 menit, ketiga orang tersebut akhirnya berlarian menuruni tangga. Begitu bertemu saya, mereka rebutan ngomong. “Kita tadi pake seragam”. “Banyak jenis senjatanya, ada AK 47, ada roket, rompi anti peluru”. “Ada Bazooka”, yang satunya teriak tak mau kalah. “Kita tadi pake masker”, tetap semangat bercerita.

Banyak hal yang mereka bertiga nikmati di kota KID ZONE. Rental mobil dengan membayar 100 KZ, beli bensin seharga 20 KZ di pompa bensin yang benar-benar mirip aslinya. Dan memperlihatkan sim ke polisi di jalan.

Fauzan, Furqan dan Wandi benar-benar menikmati berganti-ganti profesi tiap 45 menit. Anak-anak yang lain juga turut memenuhi kota ini, terlihat bersemangat. Mereka mengenali dan merasakan langsung bagaimana ketika berperan profesi tertentu.

Tentunya bukan hanya menjadi tentara dan mengurus SIM saja yang bisa dilakukan di kota ini. KID ZONE Makassar juga menawarkan wahana lain. Untuk anak-anak yang mau belajar menjadi penyiar, mereka diharuskan memakai seragam, diajari membaca konsep berita, lengkap dengan kode kapan harus jeda membaca untuk pemutaran gambar berita, sampai dengan bagaimana menyorot kamera ke pembaca berita. Tingkah mereka bisa ditonton langsung di TV oleh orangtua yang menunggu di wahana.

Ada Fire department alias departemen pemadam kebakaran. Di sini, anak-anak menggunakan seragam khusus juga. Sebelumnya, tentunya selalu diberi pengarahan dan pengenalan tentang semua alat-alat yang fungsi seragam yang ada di departemen tersebut. Bahkan naik mobil pemadam kebakaran keliling kota, lho. Suara alarmnya dijamin menyita perhatian semua penghuni kota KZ.

Selain wahana profesi, ada juga wahana universitas. Di wahana ini, anak-anak dianggap sebagia mahasiswa. Melalui video, mereka diberi pengenalan sekitar dunia universitas. Pilihan fakultas dan jurusan yang ada. Selesai dari wahana ini, mereka dapat sertifikat lulus perguruan tinggi. hehehe

Salah satu wahana yang banyak digemari anak-anak, hingga harus ngantri, adalah wahana dokter. Yang menarik di wahana ini, mereka lagi-lagi diajak berkeliling kota, tapi kali ini pakai mobil ambulance. Seru sekali. Jalan-jalan di Kota jadi hingar bingar oleh suara ambulance.

Masih banyak pilihan wahana di KID ZONE. Datang sendiri dan nikmati semuanya bersama anak-anak. Ada wahana fotografer bagi yang suka foto. Bagi perempuan, ada wahana salon kecantikan yang dilengkapi dengan pilihan baju-baju pengantin ukuran anak-anak. Wahana untuk pelukis ada juga.

Bagi yang mau jadi pembalap, boleh mencoba wahana formula 1. Ini termasuk salah satu wahana yang panjang antriannya. Anak-anak harus menggunakan pakaian pembalap, menggunakan helm, melewati lintasan dengan berlomba dengan anak lainnya. Pemenangnya akan berdiri di sebuah stage khusus, persis kayak pembalap-pembalap betulan. Mereka bisa foto sambil pegang piala. Seru kan?

Hampir lupa, wahana apotik dan minimarket ada juga lho. DI wahana apotik, akan diajari bahan dasar daripembuat obat dan cara melayani resep dokter. Sementara di wahana minimarket, anak-anak diajari bagaimana melayani pembeli, menghitung uang di kasir, hingga mencatat semuanya.

Meski masih jarang sekali anak-anak yang bercita-cita jadi anggota MPR DPR, tapi kota Kid Zone menyediakan wahana MPR DPR, lengkap dengan seragam dan ruang sidang miniatur. Anak-anak bisa simulasi pelaksaaan sidang lho.

Butuh sekitar 5-6 jam untuk bermain dengan puas di Kid Zone. Sesi pertama selesai di pukul 15.00 sore. Jika belum semua wahana dikunjungi, maka silahkan membayar kembali atau datang lagi di waktu akan datang. Ada yang berminat merasakan banyak profesi?

Categories
Diary

Orkes Kawinan Yang Sepi Penonton

Acara kawinan tetangga kompleks ini, lebih diramaikan oleh kehadiran penjual daripada penonton orkes. Dari penjual kacang rebus, jagung, bakso gerobak, hingga semangka, sudah ramai di ujung lorong si tuan rumah yang sedang menyelenggarakan hajatan pesta kawinan anak pertamanya.

Tepat setelah barisan penjual-penjual yang rata-rata menggunakan sepeda tersebut, kecuali penjual bakso, berdiri sebuah panggung dengan ukuran yang standar. Seperti ukuran panggung orkes pesta kawinan biasanya. Saya masih sempat melirik ke samping, saat melalui panggung. Pemain alatnya sedang sibuk menyetel semua peralatan, termasuk mikrofon.

Masih jam 19.00 tepat, masih sepi tamu. Tapi biasanya, kalau ada acara kawinan di kompleks kami, yang berdekatan dengan penduduk asli setempat ini, meski tamu masih kurang, penonton orkes sudah siap siaga di depan panggung. Bukan karena saya seorang penikmat orkes dangdutan di acara kawinan, cuma aneh saja jika terlihat sepi.

Sambil menikmati makanan yang disiapkan, saya melihat tetangga-tetangga lain dari blok sekitar, sudah mulai berdatangan. Iseng, saya melirik ke arah depan panggung. Sudah ada beberapa penonton yang berdiri. Tapi masih tergolong sepi, menurut saya. Benar-benar penasaran. Padahal cuaca malam ini lumayan cerah.

Tak beberapa menit kemudian, suara musik sudah mulai terdengar. Eits…ada yang berbeda. Padatnya tamu yang memenuhi  baris di belakang, memaksa saya tuk menyengaja berdiri tuk melihat penyanyinya di kejauhan. Saya senyum-senyum tatkala menyadari bahwa kedua penyanyinya memakai jilbab dan gamis panjang. Rupanya orkes qasidah modern.

Tamu semakin banyak, mungkin ini karena kali pertama Pak Haris, tetangga kompleks saya, menyelenggarakan hajatan kawinan. Saya bersama beberapa ibu tetangga beranjak dari duduk. Saat melewati panggung orkes qasidahan, saya masih merasakan ada yang berbeda.

Yup! Masih saja sunyi penonton. Penjual yang berdiri di pinggiran jalan sekitar panggung, terlihat santai dan tidak disibukkan oleh pembeli. Apakah karena hiburannya cuma orkes Qasidahan dengan lagu bertema Islami, bukan orkes dangdutan yang penuh goyangan maut?, yang kalau dihubung-hubungkan secara paksa pun, masih tetap tidak ada hubungannya dengan tarian daerah Bugis Makassar.  Entahlah.

Orkes Qasidah (Diambil dgn kamera HP seadanya)
Categories
Movies

Atambua 39 Derajat Celcius Vs Skyfall-nya James Bond

“Tidak semua produser dan sutradara membuat film untuk kepentingan komersial semata”, hal itu yang saya ucapkan beberapa waktu lalu kepada teman lama saya, yang kurang suka menonton tapi banyak bertanya. Semoga dia tidak kebingungan kalau nonton film Riri Riza terbaru ini.

Minggu ini, ketika orang-orang di bioskop berlomba-lomba menonton Skyfall, serial baru dari James Bond, saya memilih menonton Atambua 39o  Celcius. Teringat dengan seorang teman yang pernah bertanya ke saya, “Kamu tidak suka dengan film Indonesia yah?”. Hehehe.

Entah mengapa dia bertanya seperti itu. Padahal seingat saya, karya-karya sutradara terbaik negeri ini, sering saya tonton. Atau mungkin karena teman saya itu, tidak pernah mendengar saya bercerita tentang film ‘Suster Ngesot, Nenek Gayung, Sumpah Pocong’, dan semacamnya?. Glek

Saya sempat mengajak beberapa teman yang juga gemar nonton. “Sorry Bunga, lagi kejar setoran, sudah dekat pemilihan gubernur”. Padahal biasanya teman saya ini paling sering bolos kalau hari Jumat. “Aduuuh, saya sedang ikut pelatihan, malam saja yaah”. Ealaah mana bisa ibu rumah tangga seperti saya ngelayap malam-malam. Kayak tidak kenal saya saja. Ajak yang satunya lagi, malah dapat jawaban, “Perjalanan pulang  kampung, kodong. Sms yah seperti apa ceritanya. Kita nonton James Bond saja minggu depan”.  Plooook. Alhasil, nonton sendiri.

Atambua 39o Celcius di sutradarai oleh Riri Riza. Nama itu selalu mengingatkan saya dengan Laskar Pelangi. Menurutku, itu film terbaik dari Riri Riza. Apakah film satu ini, juga menyajikan hal yang sama. “Tentu saja, iya”, pikirku. Makanya kuputuskan menonton film ini daripada Skyfall. Si James Bond bisa menunggu kok.

Dari judulnya, saya iseng menebak kalau saya akan menonton kondisi Atambua yang panas atau kondisi yang memanas, atau film ini justru akan menggambarkan detik-detik berpisahnya Timor Timur dari Indonesia.

Menonton 5 menit pertama, saya mulai mencari-cari, mana tokoh utamanya?. Terlalu banyak pemain yang nongol di awal dan mukanya mirip semua. Hitam dan agak keriting. Mulai dari keriting kecil-kecil, berombak, hingga nyaris lurus. Kok jadi bahas keriting yah? Hehehe.

Memasuki 15 menit pertama, mulut saya spontan ngomong, “siapa sih penata musiknya? Gersang amat”.  Lima menit pertama, kayak film dokumenter. Disusul perkenalan tokoh-tokohnya, tapi kurang greget. Apakah karena musiknya telat masuk atau karena pemainnya yang asli orang Atambua, belum terasah berakting?. Sok tau, dapat info dari mana kalau mereka orang asli Atambua? Saya Cuma menebak dari kulit dan rambutnya saja.

Di 15 menit pertama inipun, saya baru sadar bahwa saya sedang nonton film dengan bahasa pengantar-nya adalah bahasa daerah. Serasa nonton film Barat, saya disibukkan baca terjemahan. Hihihi.

Menurut saya, kekuatan sebuah film terletak pada perpaduan kuatnya karakter peran yang dilakonkan oleh pemain, ceritanya sendiri, pengambilan gambar dan musik latarnya. Film ini lemah di karakter pemainnya serta kurang maksimal di musik latarnya. Musik baru masuk setelah antara menit ke 16 hingga 17. Malah memperkenalkan suara Sasando Rote nya, telat sekali. Sudah begitu, suaranya terdengar, tapi alat Sasando Rote nya tidak nongol-nongol. Mungkin Riri Riza tidak menemukan pemain alat itu di sana, yah?.  Kalau ketemu, saya coba tanya dia deh. (Kapan juga bisa ketemu dengan dia. Hehehe)

Pengambilan gambarnya film ini tidak seheboh film laskar pelangi deh. Satu-satunya yang menarik perhatian saya adalah suasana di sekitar pekuburan kakek Mathius. Saya kurang paham tentang pengambilan gambar, tapi dari nonton banyak film, khususnya film Riri Riza, kok film kali ini perpindahan dari satu adegan ke adegan berikutnya agak tidak smooth yah?

Kembali  mengulang kalimat awal di tulisan ini, “Tidak semua produser dan sutradara membuat film untuk kepentingan komersial semata”.  Keberanian Riri Riza mengajak pemain-pemain lokal yang masih minim kemampuan akting, membuat saya menangkap bahwa Riri Riza tidak berorientasi komersil. Riri Riza lebih ingin mengajak penonton mengenal Atambua dan kondisinya pasca berpisahnya Timor Timur.

Saya yakin penonton amat bisa menangkap tujuan Riri Riza itu. Cuma…, jangan berharap nonton film ini, senyaman nonton Kuldesak atau Laskar Pelangi yaaah. Untungnya Riri Riza pandai memanipulasi kekurangan pemainnya dengan mengurangi adegan yang mengharuskan dialog, dan lebih banyak ke acting. Smart.

Dominasi pemeran Johanes, bapaknya si Joao, cukup bisa mengimbangi kekurangan pemain lainnya. Jujur, meski sedikit kecewa menonton film ini, karena pengambilan gambar dan suara nya, saya masih terobati dengan kejutan-kejutan dari alur cerita dan pesan-pesan yang ingin disampaikan, yang dibalut kisah cinta sepasang remaja yang tidak seperti biasanya.

Bukan Riri Riza kalau tidak menyimpan kesan seusai nonton. Setidaknya itu menurut saya. Dari sederetan kekecewaan, saya lumayan terkesima dengan serentetan adegan upacara dengan budaya kristiani yang kental, yang ditampilkan film ini. Pasti lumayan susah menyiapkan yang satu ini. Hehehe.

Atambua sebagai kabupaten di perbatasan, digambarkan memiliki warga yang terdiri dari pengungsi-pengungsi. Banyak diantara mereka yang terpisah atau melepas anaknya pergi. Film ini lebih menggambarkan bagaimana tingkat frustasi sebagian pengungsi tersebut.

Sulitnya mencari nafkah, trauma, kesedihan yang berkepanjangan karena kehilangan orangtua, semua tergambar. Bahkan tokoh utama, digambarkan sebagai seorang yang mengenali sosok ibu hanya lewat suara tape recorder, yang diputarnya berulang-ulang dengan menggunakan baterai yang harus dipanaskan di atas atap rumahnya.

Belum lagi, sosok bapak Joao yang digambarkan sebagai orang yang memegang teguh sumpahnya. Meski asli Timor, dia menolak untuk pulang karena telanjur mencintai Indonesia.  Negeri yang tidak menjanjikan kesejahteraan apa-apa buatnya.

Lumayan berfikir keras juga, saya mencoba menebak-nebak pesan yang ingin disamipaikan oleh film ini. Inti dari semuanya, ada di 10 menit terakhir film ini. Ketiga tokoh utama film ini, Joao, Nikia dan Bapak Joao mulai bertutur lewat adegan-adegan akhir, hingga film usai. Sebuah kisah cinta yang tak sampai akibat trauma pengungsian.

Ada tiga kalimat yang menggugah di film ini. Pertama, “rumah, jadi tak ada artinya bagi saya”. Kedua, “jadi semua ini dipertahankan, hanya karena kata kemerdekaan dan merah putih?”. Ketiga, “Tak ada bangsa atau negara manapun yang bisa mencabut asal usul seseorang. Dan saya orang Timor, tempat saya di Timor”.

Penasaran bagaimana kisah frustasi sebagian pengungsi dan seperti apa kisah cinta Joao dan Nikia yang rumit karena trauma-trauma yang mereka miliki ? Silahkan nonton sendiri film nya.

Categories
Diary

Sticker Paling Berani

Saya yakin, tak banyak orang yang mau memasang sticker ini di mobilnya, apalagi memasangnya di sepeda motor. Andai bisa menambahkan kalimat lain di bawah barisan tulisan di sticker tersebut, maka saya memilih kalimat “Hanya orang idealis yang boleh memasang sticker ini”. Hehehe. Mengapa hanya orang idealis yang bisa memasang?

Jumat  sore adalah waktu dimana jalur-jalur yang saya lalui sering macet. Bukan jalur Takalar-Gowa yah. Tapi jalur dari jemput bungsuku di sekolahnya, dari  Sungguminasa menuju rumah di Tamarunang.

Saat perjalanan pulang tadi sore, sepeda motor saya harus ngantri karena macet di perempatan lampu lalu lintas Sungguminasa. Sebuah mobil Kijang dengan nomor polisi DD 1114 XB yang berada tepat di depan motor saya, memasang sebuah sticker dengan tulisan panjang di kaca belakangnya.

Wuiiiih, ini dia sticker paling idealis dan paling bergengsi yang pernah saya lihat. Kalau dijadikan sebagai gaya hidup oleh kalangan mampu, maka sebagian subsidi negara bisa dialihkan ke hal lain. Siapakah pemiliknya? Mungkinkah bisa di search via google?

Konsekuensi dari memasang sticker ini adalah pemilik mobil wajib membeli  BBM Non Subsidi. Berani memasang sticker ini di mobil kamu?

Sticker Bergengsi
Categories
Diary

1 hal yang menakjubkan dari Mall Ratu Indah (MaRI) Makassar

Hobby shopping atau nongkrong, atau sekedar jalan-jalan di mall?. Pernahkah melihat satu hal yang berbeda di Mall Ratu Indah (MaRI) baru-baru ini ?. Di Makassar, jumlah mall atau pusat perbelanjaan yang besar masih bisa dihitung jari. Jika kamu tinggal di kota ini, tentunya nyaris sudah pernah mengunjungi semuanya.

Ada tiga tempat favorit saya. Mall Panakukang (MP), Mall Ratu Indah (MaRI) dan Makassar Trade Centre Karebosi (MTC). Yang paling sering saya kunjungi adalah MP, karena letaknya yang paling dekat dari rumah saya di Kabupaten Gowa. Cuma 40 menit. Selain itu, MP sering saya lalui jika dari Makassar mau balik ke rumah di Gowa.  Untuk nonton, makan, belanja dapur bulanan dan beli baju, MP-lah tempat yang paling pas buat saya.

Jika ingin membeli segala sesuatu yang berhubungan dengan komputer atau handphone, atau sekedar lihat-lihat (ssst, istilahnya operasi pasar), maka orang-orang Makassar bisa ditebak bahwa saya akan memilih MTC. Bakso goreng di sana, enak lho. Eits, bakso goreng kan bukan sesuatu yang berhubungan dengan komputer. Hehehe.

Penat dengan rutinitas, mau ngobrol santai, makan, sambil dengar live music? Pilihan saya pastinya ke MaRI.  Baik MP maupun MTC, dua-duanya tidak menyediakan fasilitas live music. Tapi….jangan salah lho, bukan ini yang menakjubkan dari MaRI.

Kemarin siang, saya makan siang di MaRI. Selepas itu, seperti biasanya, saya harus menunaikan kewajiban sebagai hamba Allah. Sholat. Tentunya saya sudah hapal di mana musholla, tapi rupanya sesampai di sana, jalan masuk sudah tertutup oleh papan-papan tripleks. Ada renovasi bagian depan musholla, yang dulunya adalah cafe layar.

“Pindah kemanakah mushollahnya”, tanya saya dalam hati. Mulut saya mulai manyun karena membayangkan musholla Mall Panakukang yang beberapa bulan lalu juga dipindahkan.  Yang mengecewakan, karena musholla MP dipindahkan dari dalam gedung yang ber-AC ke bagian samping luar gedung, dekat parkiran, dan tanpa AC. Untuk mencarinya, saya sampai harus bolak balik naik turun lantai 1 dan 2.

Kenapa MP jadi ikut-ikutan dengan mushollah di MTC yah?  Yang letaknya juga dekat parkiran dan panas. Bagaimana bisa khusyuk sholatnya?.

“Jangan-jangan mushollah MaRI pun dipindahkan keluar”, saya langsung menuduh. Karena sejak masuk parkiran tadi, saya melihat bagian depan bangunan mall sudah mulai direnovasi juga. Aaaah..payah. Padahal saya sudah berencana, selain sholat, juga mau merebahkan badan di musholla yang ber-AC.

Saya bertanya ke seorang petugas yang berdiri dekat eskalator turun. Dia menunjuk ke arah yang dulu. “Bukannya disitu sedang direnov?”, saya protes.

“Masih tetap di situ tempatnya, cuma harus lewat lorong samping”. Ooooh.

Baru saja menuju lorong samping, terbaca tulisan yang terbuat dari multiplek, “Masjid Babussalam”.  Masjid? Ada masjid dalam mall? Sungguh menakjubkan bagi saya. Meski mungkin mall-mall di kota lain sudah ada yang memiliki masjid dalam mall, tapi ini yang pertama di kotaku. Rupanya saya sudah lama tidak ke MaRI, hingga tidak tahu tentang ini.

Singkatnya, saya masuk melalui sebuah pintu yang terbuat dari kaca. Disambut oleh sebuah ruang tunggu, semacam lobby yang  luas & tenang. Di balik lobby, bisa ditemui ruang sholatnya. Sebuah masjid yang tergolong luas untuk ukuran mall. Rugi berapa pemilik mall dengan melepaskan space sebegini luasnya? Padahal space ini bisa saja disewakan untuk beberapa counter. Mungkinkah si pemilik lebih memburu keuntungan akhirat, yang tentunya lebih besar?

Tempat wudhunya sederhana namun amat bersih. Sebuah meja putih unik dengan beberapa Al-Qur’an di atasnya, bisa ditemui ketika memasuki area suci. Lapang, bersih, sejuk dan tenang. Sungguh ideal untuk bisa  sholat dengan khusyuk serta tidur-tiduran. Kok tiduran sih? Hehehe.

Categories
Book

My First Inspiring Book About Blog

Menginspirasi & Memotivasi

Siapa itu Ollie, saya sama sekali tak pernah mendengar namanya. Dia adalah penulis dari buku yang amat menginspirasi saya di minggu ini.

Membeli buku ini pun adalah benar-benar kebetulan. Tak pernah terlintas untuk membeli sebuah buku tentang blogging, meski 2 hari yang lalu, saya baru saja ikut pelatihan nge-blog gratis di kantor BaKTI (Bursa Pertukaran Pengetahuan Kawasan Timur Indonesia) Makassar.  Tak ada yang mau melewatkan hal yang gratis kan? Hehehe.

Buku ini mungkin sudah diresensi oleh banyak orang. Jadi saya tak perlu lagi meresensinya dengan detil, karena saya yakin orang lain meresensinya lebih bagus dari cara saya. Saya hanya ingin bercerita bagaimana proses hingga buku ini bisa saya miliki.

Alkisah,  (ceile…kayak mendongeng saja), saya sedang bingung mengerjakan tugas sekolah yang tertunda sampai 3 minggu. Ini indikasi malas atau sibuk kerja kah?. Hehehe. Tugas matematika rekayasa yang sudah menjurus ke fluida dinamis.

Sudah browsing sana sini, tapi belum puas juga, maka saya mengharuskan diri membeli buku mekanika fluida. Biar bisa kerja tugas, tentunya.

Biasanya saya membeli buku di Gramedia, tapi kali ini tidak. Untuk menghemat waktu dan menghindari godaan shopping alias belanja barang-barang yang belum mendesak, saya memutuskan beli buku di toko buku Dunia ilmu yang letaknya di Jalan Bulukunyi, Makassar.

“Rak baris ketiga, belok kanan”, ujar petugas dengan tidak ramah, saat saya tanyakan tentang buku mekanika fluida. Menurut saya, toko buku ini amat tidak nyaman. Begitu sampai di ujung barisan rak ketiga, kaki saya urung melangkah belok kanan. Sebuah buku kecil dengan ukuran A5, yang kata “Blog” pada sampulnya dibuat berwarna kuning, menyita perhatian saya.

Nah kan, saya memang gampang tergoda hal lain. Belum juga menemukan buku yang saya cari, saya sudah iseng meraih buku Creative Blog Writing yang ditulis oleh Ollie. Mungkin karena baru saja ikut pelatihan nge-blog, saya jadinya tertarik sekedar melihat-lihat buku itu. Sekedar melihat-lihat yah, belum berniat membeli.

Sebenarnya saya agak kecewa karena bukunya masih disegel dan saya tidak leluasa mengenali isi buku dari sekedar membaca daftar isi nya. Namun saya akhirnya tetap membeli buku ini, tapi bukan karena saya doyan shopping. Hehehe.

Ada dua alasan mengapa saya memutuskan membeli buku ini. Pertama, karena ukurannya A5 dan agak tipis, berarti saya tak harus menghabiskan banyak waktu untuk membacanya. Mengingat ada mekanika fluida yang siap menunggu dibaca.

Kedua, sinopsis singkat dan curriculum vitae penulis di bagian belakang buku, yang ditulis dengan menarik. Hmmm, seperti ini rupanya promosi diri dengan curriculum vitae singkat. Eits, rupanya bukan Cuma dua, ada alasan lain, harganya murah, cuma  Rp. 24.000. hehehe..dasar perhitungan.

Tidak butuh lama, dalam semalam saja, saya tuntaskan membaca buku ini. Amat menginspirasi serta memotivasi bagi saya yang baru saja tahu bagaimana cara nge-blog. Sebagai seorang ibu rumah tangga (baca: tanpa pembantu), pekerja dan sedang bersekolah, saya selalu merasa terlalu sibuk dan nyaris tak ada waktu untuk menulis. Buku ini menghapus semua anggapan saya bahwa menulis itu butuh waktu khusus.

Buat kamu yang sudah punya blog tapi masih belum bisa konsisten untuk menulis. Carilah inspirasi dan jadilah blogger yang kreatif dengan membaca buku ini.

Categories
Diary

Gadis Kecil di Balik Kaca

Image
Membunuh Jenuh di Pete-pete

Melintasi poros Takalar-Gowa sore ini, dengan bersepeda motor, meski hujan deras menerpa mantelku. Biasanya, kalau perjalanan jauh di bawah hujan, saya akan mudah terserang kantuk. Tapi kali ini tidak.

Seorang gadis kecil dalam pete-pete (sebutan untuk angkot di Makassar) telah membatalkan kantukku. Tingkahnya lucu, menurutku. Dia sedang duduk paling belakang dan berdiri menghadap ke arah berlawanan dengan laju pete-pete, hingga dengan mudah saya melihatnya melalui kaca belakang.

Memasuki daerah Pallangga, hujan mulai reda. Tak mau terlewatkan momen di depan, tangan saya dengan cepat menyusup di balik mantel, meraih HP. Dengan fasilitas kamera-nya yang cuma 2 megapixel, saya mengambil gambar si gadis kecil itu setelah sebelumnya harus memacu motor agak mendekat ke pete-pete. hehehe.

Sejak tadi, si gadis kecil sibuk menyapu kaca pete-pete yang berembun dengan tangannya. Saya iseng melambai-lambaikan tangan ke dia dan disambut dengan senyum malu. Dipikirnya, tak ada seorangpun yang memperhatikan tingkahnya. Sesaat kemudian, dia berusaha mengenali wajah saya yang sedikit ditutupi mantel di bagian atas. Raut wajahnya menunjukkan dia bingung, entah karena dia tidak mengenali saya, atau karena saya berkacamata hitam di tengah hujan.

Gadis kecil itu mengingatkan saya saat masih kecil dulu, Kemana-mana ibu membawa saya dengan naik pete-pete. Berbeda dengan anak-anak saya sekarang, yang saya antar dengan naik sepeda motor. Dulu, naik pete-pete dengan ibu adalah hal yang paling membosankan, apalagi jika perjalanannya cukup jauh dan sedang hujan. Mau mencari kesibukan dalam pete-pete, juga sulit bagi anak seumuran saya di waktu itu. Saya kembali tersenyum dan melambai pada gadis kecil di depan saya. “Dia pasti sedang berusaha membunuh jenuhnya dengan menyapu kaca yang berembun karena hujan”, saya mencoba menebak.

Categories
Diary Travel

Meraup Untung di Minggu Pertama

Putar-putar di area parkir Mall Panakukang untuk mencari tempat kosong. Seperti biasanya, jika awal bulan alias tanggal baru, khususnya di hari Minggu, orang-orang memadati mall-mall dan tempat rekreasi. Tidak hanya penduduk Makassar saja, penduduk luar Makassar pun, seperti saya dan kelaurga yang ikut memadati mall kali ini.

Setelah dua kali berputar-putar, ada juga mobil yang bergerak meninggalkan tempat parkirnya. Bergegas menggerakkan mobil tuk mengisi tempat tersebut.

Saya tak perlu menggambarkan disini, bagaimana suasana dalam Mall Panakukang (MP). Sudah bisa tebak padatnya dan seperti apa aktivitas di dalamnya. Saya lebih tertarik dengan pemandangan di seputaran area parkir.

Sejak melangkah melewati pintu masuk hingga keluar meninggalkan gedung, saya takjub melihat hiruk pikuknya tempat parkir dengan orang yang mendorong kereta yang penuh dengan belanjaan. Termasuk saya dan keluarga juga tentunya. hehehe.

Suara klakson silih berganti, ditambah teriakan tukang parkir, baik yang sibuk mengarahkan mobil yang keluar masuk maupun yang menegur kesal atas ulah beberapa pengendara yang masuk dari arah yang salah, semakin membuat area parkiran ini lebih ramai daripada suasana dalam mall.

Saat mobil kami bergerak keluar dan berhenti untuk membayar biaya parkir, saya sengaja melongokkan kepala melihat ke laci uang petugas. “Beuh, hari ini penyedia jasa parkiran sedang untung besar”, ucapku dalam hati sambil senyum-senyum sendiri.

Eits, jangan salah. Rupanya bukan hanya penyedia jasa parkiran saja yang meraup untung besar di hari minggu ini. Saat mobil-mobil yang keluar pagar MP hendak menyeberang, berbelok ke kanan, sekumpulan gadis-gadis berusia belasan siap menjadi joki.

“Apa mereka tidak ke sekolah?”, saya menyeringatkan kening. “Ups, bukankah hari ini hari minggu?”, saya tersenyum sendiri. Maklumlah, setiap kali saya melihat anak-anak usia sekolah di jalan, kepala saya spontan akan membayangkan mereka tidak bersekolah.

Apakah mereka menjadi joki hanya di hari Minggu saja, atau justru setiap hari, saya tak tahu pasti. Saya lebih sering naik motor jika jalan-jalan ke MP, jadi tidak melalui pos petugas parkir yang langsung ke arah jalan Adyaksa. Yang pasti, di hari ini, ada sekumpulan joki perempuan berusia belasan yang meraup untung lebih banyak daripada hari-hari biasa.