Geng Motor iMuT tuk Indonesia

Mendengar kata “Geng Motor”, mengingatkan saya pada sekelompok laki-laki dengan jenis motor tertentu berkonvoi keliling kota di malam hari. Kesalahan saya adalah karena tak pernah cari tahu apa tujuan mereka melakukan itu dan memilih untuk menebak sendiri. Pasti tuk pamer atau memicu orang lain tuk gabung, itu yang ada di kepala saya.

Sempat beberapa kali mendengar bahwa ada geng motor yang melakukan kegiatan bakti sosial ke masyarakat atau membuat perayaan yang bersifat terbuka tuk umum, namun menurut saya, kegiatan mereka jarang yang memiliki dampak jangka panjang dan cenderung temporary serta hasilnya tak terukur. Hal ini berbeda dengan apa yang dilakukan oleh sebuah geng motor yang menamakan diri mereka dengan sebutan Geng Motor iMuT. Siapakah mereka dan apa yang telah mereka lakukan?

Sebuah email undangan diskusi inspirasi dari BaKTI tentang Insiatif Geng Motor iMuT, mendorong  saya berkendara di malam hari dalam hujan yang deras. Biasanya, saya akan menolak hadir pada event yang dilakukan pada malam hari.

Ah, inilah akibat sibuk dengan pekerjaan dan sibuk dengan diri sendiri. Geng Motor iMuT yang rupanya sudah menerima beberapa penghargaan di sana sini ini, sama sekali tak pernah saya dengar sebelumnya.

Dengan alasan itu pula lah, saya memaksakan diri untuk duduk bersama undangan lain di malam 19 April 2013 yang dingin karena hujan deras yang belum berhenti sejak siang tadi. Sempat bingung saat registrasi di security, saya ini mewakili Kelas Inspirasi Makassar atau mewakili WASH UNICEF.

Seperti biasanya, jika acara belum mulai, mata saya akan menjelajah kemana-mana untuk menikmati ruangan. Salut tuk BaKTI yang telah menyulap ruangan ini menjadi berbeda. Panggung dengan property sederhana yang dibalut kertas koran bekas,  kurungan ayam yang berbungkus kertas putih dan burung-burung kertas yang juga berwarna putih, membuatnya tidak biasa. Sebuah motor yang juga dibalut kertas koran dan dihiasi balon gas, yang berada di sebelah kanan panggung, serta lampu sorot yang ditempatkan di atas pintu masuk, membuat saya menebak bahwa diskusi kali ini pasti asyik.

Mentang-mentang ngomong tentang Geng Motor, Kak Luna Vidya yang menjadi MC malam ini, muncul dengan gaya funky. Pamer jaket kulit, kacamata, ikat di kepala, dia membuka acara dengan gaya yang santai. “Liat dong sepatu saya” kata Kak Luna sambil menunjukkan sepatunya. Membahas Geng Motor dengan MC yang funky.

MC Funky, gaya anak geng motor

MC Funky, gaya anak geng motor

Ini dia segmen yang saya suka, penampilan pembuka diskusi oleh Rizcky de  Keizer, bassist Makassar yang band-nya berhasil menjadi band pembuka pada konser NOAH. Rizcky tampil dengan lagu Anak Jalanan-nya. Keren!.

Rizcky de Keizer

Rizcky de Keizer

Noverius Nggili, koordinator Geng Motor iMuT adalah narasumber pada diskusi inspirasi malam ini. Pria dengan potongan rambut pendek dan berjanggut ini, bercerita bagaimana Geng motor iMuT bertualang ke desa-desa untuk berbagi ilmu.

Geng Motor  iMuT yang merupakan kelompok alumni muda dari fakultas Peternakan Universitas Nusa Cendana NTT ini, awalnya hanyalah kelompok diskusi. Mereka berkelana ke desa-desa dan menemukan kenyataan bahwa kondisi peternak dan petani di desa masih jauh dari sejahtera.

Dengan keyakinan yang berjudul agama appreciative Inquiry, mereka terdorong untuk mewujudkan hasil dari diskusi-diskusi panjang mereka, dengan bertumpu pada kekuatan yang ada. “modal uang bukanlah kendala bagi kami. Kami berangkat dengan dasar kekuatan dari kami, bukan dari masalah yang ada” demikian penegasan Bung Frist, panggilan akrab Noverius.

Bung Frist, koordinator Geng Motor iMuT yang tidak imut

Bung Frist, koordinator Geng Motor iMuT yang tidak imut

Di awal mereka hanya urus ternak, dengan melakukan pengolahan limbah ternak, yang kemudian menghasilkan Digester Portable Biogas. Teknologi biogas ini sebenarnya telah banyak dikenal orang, namun masih kurang dikembangkan. Melalui bengkel inovasi iMuT, mereka menciptakan Digester Portable Biogas dari bahan sederhana yang memanfaatkan bahan yang ada, yaitu drum dan ban dalam bekas.

Geng Motor iMuT juga berhasil menciptakan kompor sederhana sebagai komponen dari Digester Portable Biogas mereka. Kompor ini kemudian dinamakan dengan DePoBiMuT S-001 dan DePoBimuT-S-002. “Setiap inovasi baru yang kami lakukan, kami beri nama berbeda. Gunanya untuk mengingatkan dan menandai perbedaan dari produk-produk inovasi kami” kata Bung Frits.

Selain menghasilkan 25 unit digester portable biogas yang telah dipasang dan aktif digunakan pada 25 kabupaten dan 1 kota, Geng iMuT juga membuat desalinator untuk membantu masyarakat di pesisir, guna memperoleh air tawar dengan sistem penguapan air asin. Desalinator ini setiap harinya mampu menghasilkan 4 liter air tawar dari 70 liter air asin. Produk lain yang saat ini sedang diupayakan bersama masyarakat adalah pembuatan briket arang.

Hadir sebagai geng yang kini telah mengantongi penghargaan dimana-mana atas inovasinya bersama masyarakat, antara lain masuk ke dalam 50 tokoh pemecah kebuntuan Indoensia versi majalah Intisari, penghargaan sebagai Pahlawan Tuk Indonesia dari MNC TV dan lain-lain, Bung Frits mengaku tak pernah memiliki tujuan awal tuk memperoleh penghargaan tersebut. Semuanya diawali dengan tekad tuk saling berbagi ilmu. “Berbagi Ilmu sebelum Ajal” Ucap Bung Frits.

Menurut Bung Frist, komunitas Geng Motor iMuT adalah komunitas yang informal. Mereka menghindari hal-hal yang berbau formal dan ikut aturan birokrasi. Hal inilah yang menjadi kunci hingga geng motor tetap eksis dengan inovasi-inovasinya hingga kini.

Dengan pembagian tugas dan penamaan yang unik, mereka membagi-bagi divisi mereka dengan Rider Kandang dan Pucuk, Rider Inova, Rider Corond dan Prend, Rider Lapak, Rider Spionase, dan Rider Celengan.  Hal menarik lainnya adalah setiap tempat yang mereka kunjungi, harus dimulai dari visioning dan pelatihan-pelatihan peningkatan kapasitas.

Jika diawal mereka hanya terdiri atas alumni muda fakultas peternakan, maka kini tercatat 100 orang volunteer yang bergabung dalam komunitas Geng Motor iMuT, yang juga memiliki 700an konektor, 1 bengkel kayu dan 2 bengkel las. Mereka pun telah melakukan 58 petualangan di 37 Desa/Kel, 31 Kecamatan, 9 Kab/Kota, 10 Pulau di Propinsi NTT. Tak hanya di NTT, geng ini pun telah bertualang hingga ke 4 propinsi lain, dengan jumlah pemanfaat seluruhnya adalah 36.000 warga.

Pada tgl. 23-24 Februari 2013, Geng ini melakukan revisioning komunitas mereka dan dengan pertimbangan bahwa saat ini mereka telah berasal dari berbagai latar belakang serta tidak sekedar mengurusi ternak saja, maka mereka sepakat untuk mengganti nama Geng Motor iMuT yang dulunya adalah Aliansi Masyarakat Peduli Ternak menjadi Inovasi Mobilisasi Untuk Transformasi.

Presentasi Bung Frits tentang inisiatif Geng Motor iMuT diakhiri dengan tanya jawab peserta diskusi. Dan diskusi insiatif BaKTI malam ini pun ditutup dengan penampilan yang selalu apik dan interaktif dari Rizkcy de keizer dengan lagu The Way You Are-nya Bruno Mars dan Bento-nya Iwan Fals.

Peserta Diskusi Inspirasi BaKTI

Peserta Diskusi Inspirasi BaKTI

Advertisements

“Membuat Repot Itu Indah”: Di Balik Seleksi Relawan Kelas Inspirasi Makassar

Tak percaya,  jika akhirnya akan seperti ini. Kok jadi seperti kalimat sedih yah? Padahal sebaliknya.

Tertarikkah Para Profesional Makassar?

Saat awal-awal membahas rencana Kelas Inspirasi, saya bisa membaca raut wajah yang dipaksakan optimis dari teman-teman yang hadir saat itu di tribun Karebosi. Bagaimana cara menarik orang tuk mau ikut kelas inspirasi? Tertarikkah profesional  Makassar? Banyak tanya yang muncul saat itu.

“Kita ajak orang yang punya pengaruh. Biar yang lain tertarik ikut,” saran salah seorang dari kami. Entah siapa yang mengusulkan waktu itu. Yang pasti, nama-nama seperti Pak Jusuf Kalla, Pak Abraham Samad, hingga Pak Nurdin yang merupakan Bupati Bantaeng, disebut-sebut sebagai tokoh profesional yang bisa menggerakkan profesional lain tuk berminat gabung kelas inspirasi Makassar.

Rencanapun disusun. Siapa yang bertanggungjawab untuk menghubungi 3 tokoh itupun sudah ditetapkan.

Namun kenyataannya, hingga Hari Inspirasi tgl 28 Maret 2013, ketiga tokoh tersebut tidak hadir. Lalu..apakah kemudian peminat kelas inspirasi Makassar hanya terdiri dari segelintir orang saja?

Hari-H Inspirasi dan Repotnya Berburu Jusuf Kalla

Target utama kami adalah Bapak Jusuf Kalla. Dan PIC utama tuk memastikan beliau bersedia hadir di hari inspirasi adalah Ina Sabrina. Dia menawarkan diri, karena dia adalah salah seorang penggiat PMI di Makassar. Aksesnya melalui PMI, pastinya.

Ternyata bukan hanya Ina yang sibuk berburu info di PMI, Early pun ikutan sibuk mencari informasi, siapa orang terdekat beliau yang bisa dihubungi untuk bisa sekedar audience. Baik Ina, maupun Early, menyatakan hal yang sama, “Hubungi Pak Yadi, dia adalah sekretaris pribadi Pak JK.”

Perburuan yang sebenarnya pun dimulai. Early direpotkan dengan telponan dan sms-an dengan pak Yadi. Saya repot kirim email ke Pak JK via Pak Yadi. Ikes repot cek apakah pak Yadi sudah buka peluang tuk audience. Dan kamipun semua menjadi  repot.

Tetapi yang paling membuat repot adalah ketika suatu siang, saat kami sedang kopdar membahas event Say It With Books dan Kelas Inspirasi di Kantor BaKTI. Ina menerima telpon dari seorang temannya, menginfokan bahwa Pak JK sedang di Makassar.

Spontan kopdar jadi berubah materi pembahasan. Buat rencana dadakan tuk mengunjungi  kediaman beliau, saat istirahat sore beliau.

Mulai repot dan merepotkan. Dengan senyum yang dibuat semanis mungkin, saya membujuk mbak Marni BaKTI tuk mencetak prinsip Kelas Inspirasi. Untungnya mbak Marni baik dan tidak banyak tanya. #Peluk mbak Marni.

Setelah makan siang di pukul 15.30 (makan siang atau makan sore kah?), kami pun bergerak ke rumah Pak JK. Di gerbang depan, harus ngobrol dengan bapak security yang ramah, namun penuh misteri. “Bapak sedang istirahat. Tidak bisa ditemui”.  Langkah berikutnya, telpon pak Yadi. Tidak diangkat. Mungkin nomor HP ku tak dikenali. Biar cepat, saya meminta Early tuk menelpon Pak Yadi. Yeee…tidak diangkat juga.

Saat menunggu Early dengan upaya kerasnya menghubungi pak Yadi. Empat orang yang tadinya duduk di pos jaga rumah pak JK, beranjak pergi dengan mobil. Tiba-tiba Evi berbisik, “jangan-jangan diantara mereka itu, ada yang bernama pak Yadi”.

Benar dugaan Evi. Saat kami bertanya ke security ramah yang misterius itu, dia dengan senyum-senyum tidak manisnya menjawab, “tadi itu, pak Yadi”. Kenapa tidak bilang dari tadi? Duasaaaar.

Dan kamipun pulang dengan sebuah lirik pilu dari Sheila on 7 “Aku pulaaaaaaang…tanpa pesaaaaan”.

Haruskah kita menunda menetapkan tanggal hari-H Inspirasi?. Maju kawaaan. Kita terlalu lama menunda tuk mengumumkan hari-H Inspirasi, gara-gara menunggu beliau. Segera tetapkan tanggalnya. Mulai ajak orang banyak tuk bergabung.  Jangan tunggu pak JK.

Repotnya Gentayangan di Dunia Maya

Adakah yang belum gabung di social media dunia maya saat ini? Sebagian besar dari profesional mengenal social media. Maka marilah kita menyerbu social media dengan virus yang bernama “Kelas Inspirasi”.

Kami yang awalnya tercatat hanya beberapa orang saja, kemudian bertambah dari hari ke hari. Dan masing-masing dari kami, kompakan memakai foto profil kelas inspirasi. Maaf yah teman-teman, karena saya memaksa beberapa orang tuk ganti foto profil. hehe

Serangan teman-teman membuahkan hasil. Bukan hanya serangan dunia maya. Serangan street campaign pun ikut menghasilkan sebuah kerepotan tuk mengecek website kelas inspirasi setiap harinya.

Di luar dugaan. Jumlah pendaftar  sebanyak 212 orang. Nah looo. Sementara kami, yang sengaja menekan optimisme, hanya berani menyiapkan 15 sekolah.

Merepotkan KFC Pettarani

Hari seleksi relawan pengajar, fotografer dan videografer pun tiba. Mau ngumpul dimana yah?. Arya sudah beri sinyal bahwa untuk sementara, sekretariat Penyala sedang renovasi. Jadi kami tak bisa ngumpul di sana tuk melakukan seleksi.

Maka dipilihlah KFC Pettarani. Sebuah tempat yang adem, ada makanannya dan bisa diskusi lama.

Untuk kepentingan seleksi, penggunaan kertas plano menjadi wajib. Tapi mau pasang dimana?. Di sekitar tempat kami duduk, hanya dinding kaca. Tapi…bukan Evi kalau tidak Pede Over Dosis.

Dengan gaya seolah manajer KFC, dia dengan santainya memasang kertas plano dengan bantuan sticker penyala makassarku, sebagai ganti dari isolasi kertas yang lupa dibawa nya. Eviiiiii, itu sticker ku satu-satunya. Sense of belonging yang tidak pada tempatnya. Terlalu!

Ulah kita yang menyeleksi pengajar dengan suara lumayan heboh dengan kertas plano menempel cantik di dinding kaca, rupanya memicu manajer KFC yang asli tuk menegur. “maaf yah. Tidak boleh pasang kertas di dinding, “ sapanya dengan datar.

Evi yang manajer gadungan, malah dengan santai berkata “tidak mengotoriji, cuma ditempel pake stickerji ini pak”.  “Harus minta ijin ke atasan dulu”. “Atasannya dimana?,” ya elaaah Evi masih ngotot mau pasang.

Dengan ekspresi yang tak tak terlukiskan, saking jeleknya, Evi pun mencabut kertas planonya. “NgapamiE, ucapnya dengan bibir mencong tak beraturan.

 

Merepotkan BaKTI

Menyeleksi para relawan pengajar, fotografer dan videografer, tentunya tak cukup jika cuma sehari. Lalu..kemanakah akan melaksanakan seleksi di esok hari? Yang bisa pasang plano, yang bisa ribut, yang bisa nongkrong agak lama. Pilihanpun jatuh pada Kantor BaKTI di Jl.Mappanyukki.

Merepotkan adalah sebuah hobby baru tuk Penyala Makassar. Setelah merepotkan di KFC, kami merepotkan orang-orang BaKTI . Pelakunya utamanya, masih tetap Evi dooong. Yang lain cuma latah saja. Hehe

Memilih menyeleksi di halaman kantor BaKTI yang lumayan lapang, kami duduk di meja bundar. Jarak colokan lumayan jauh. Itupun cuma tersedia 2 colokan. “Pinjam ke security,” saranku.

Ikes dengan keberanian yang dipaksakan mendekati security dan mulai serangan mautnya. Pak Security memang baik deh. Tanpa banyak tanya dan tanpa merasa direpotkan, dia menyodorkan sebuah kabel roll.

Lain Ikes, lain pula Evi. Seperti biasanya, Evi pastilah datangnya telat. Dan kali ini, dia datang dengan se-kantong ubi goreng, lengkap dengan saus sambel khas-nya. Tapi, saus sambelnya mau dituang kemana?

Susah amat, kan bisa merepotkan orang. Maka dengan cara ngomong yang dibuat se-imut mungkin, Evi meminta kesediaan guard-nya BaKTI, tuk sudi meminjamkan dua buah piring dari Dapur. Ampuuun. Dari urusan kabel  sampai saus sambel, harus merepotkan orang.

Eits, tidak berhenti sampai disitu saja. Saat ingin membagi-bagi tim relawan pengajar, fotografer, dan videografer, kertas plano harus dipasang. Biar semua bisa melihat langsung pembagiannya.

Simsalabiiim…Dinding luar gedung BaKTI pun dihiasi dengan kertas plano. Papan pengumuman yang terbuat dari kaca (tiba-tiba teringat dinding kaca-nya KFC), juga dijadikan sebagai tempat menempel plano.

Kami benar-benar merepotkan. Bahkan seorang mbak Sherly pun, harus mengalah untuk kami. Padahal ini kan kantornya dia. Hehe. Mbak Sherly hanya bisa berkata dengan ekspresi bingung, “ini terpasang sampai jam berapa yah? Saya harus menuliskan pengumuman. Tapi nantilah, setelah kalian tidak memakai papan pengumuman.”

Sungguh semua kerepotan ini, adalah bukti bahwa masih banyak orang-orang di Makassar yang peduli kepada Pendidikan Anak Bangsa.

Pinjam papan pengumuman dan dindingnya yah

Pinjam papan pengumuman dan dindingnya yah