Selamat Sore, Kupang

Aku menyalahkan workshop yang kuikuti di Pare-pare, yang jaraknya hanya berselang 1 hari dengan jadwal berangkat ke Kupang. Fokus memfasilitasi workshop tersebut membuatku tak punya cukup waktu atau lebih tepatnya lupa, untuk mencari referensi titik-titik penting yang harus kukunjungi di Kupang.

Seperti perjalanan-perjalanan sebelumnya, ke Kupang pun tetap masih untuk urusan pekerjaan. Aku dan 3 orang teman di Sulawesi Selatan, diharuskan menghadiri meeting bersama teman-teman lain dari Pusat dan 2 Propinsi lainnya.

Biasanya, sebelum berangkat ke sebuah kota, aku mencari tahu terlebih dahulu, landmark kota tersebut, lokasi masjid agungnya, kuliner khasnya, hingga pusat ole-ole nya. Dari situ, akan lebih mudah merencanakan mau kemana saja di kota tersebut.

Bagiku, perencanaan itu penting, mengingat waktu untuk berjalan-jalan di sebuah kota yang kudatangi untuk urusan pekerjaan, pastilah amat singkat.

Di April lalu, saat ke Palembang, aku benar-benar memanfaatkan 5 jam waktu luangku untuk berkunjung ke Stadion Sriwijaya, Masjid Ceng Ho, Jembatan Ampera, Musem Sultan Mahmud Badaruddin II, Titik Nol Palembang, Masjid Agung Palembang, Warung Empek-empek terkenal, hingga berburu ole-ole. Semua tempat itu kutempuh dengan naik angkot dan berjalan kaki. Perencanaan yang baik, itu kuncinya.

Ingin mengulang hal tersebut, aku memanfaatkan waktu luang di perjalanan menuju bandara dan saat di ruang tunggu keberangkatan di bandara Hasanuddin untuk browsing tentang kupang.

Angkot ajib-ajib

Waktu mepet. Teledor. Terlupa booking hotel sejak di Makassar. Hotel On the Rock, tempat meeting kami, rupanya sudah full, sehingga harus menginap di hotel lain, yang jaraknya sekitar 10-15 menit perjalanan dengan angkot.

Angkot di Kupang merupakan satu hal yang paling banyak mengundang komentar dan candaan dari teman-teman Makassar. Sepertinya angkot di sini tidak mengijinkan penumpangnya untuk ngobrol. Musik hingar bingar menghentak, laksana diskotik berjalan, membuatku memberinya nama “Angkot ajib-ajib”. Orang sini tidak terganggukah dengan musik yang sedemikian ributnya?.

20141029_091507

Angkot ajib-ajib. Musik keras. Full pernak pernik. Kaca jendela penuh dengan sticker.

Seorang teman dari Papua, pak Adiyoga, bercanda “Mbak Bunga belum pernah dengar cerita tentang bemo (istilah untuk angkot Kupang) di sini yah? Pernah ada seorang teman menunggu bemo sampai lama. Tiap bemo yang singgah, dia tidak mau naik. Begitu ditanya, kenapa tidak naik-naik? Teman itu menjawab bahwa dia menunggu bemo yang full music”. Candaan pak Adiyoga membuat kami tertawa membenarkan.

Pada malam terakhir di Kupang, saat ingin balik dari mengejar ole-ole di Pasar inpres menuju hotel, aku dan teman-teman Makassar berdebat kecil, gara-gara istilah lampu 1 dan lampu 2.

Penjaga toko tempat kami bertanya, memberi info bahwa jika ingin menuju ke arah Kota lama, harus naik lampu dua. Saat menunggu angkot, ada beberapa angkot yang di kaca depannya menempel satu lampu neon sekitar 20 cm, dengan posisi vertikal. Semua yang lewat, masih dengan satu lampu neon, sementara kami menunggu yang berlampu dua.

Saat sebuah angkot melintas dengan dua lampu neon di kaca depannya, seorang teman mengajak kita agar buru-buru naik. Namun seorang bapak yang berdiri dekat dari kami menegur “Itu bukan lampu dua”.

Ya ampun, rupanya yang dimaksud dengan lampu dua, bukan jumlah lampunya yang dua, tapi nomor angkot yang terpasang di bagian depan atas. Plangnya tidak jelas terlihat di malam hari. Dua hari sebelumnya, kami hanya menggunakan angkot satu arah dengan tempat menginap, jadi tidak paham dengan penomoran lampu.

20141027_081634

Harus mengetuk pipa besi memanjang di bagian atap angkot, dengan menggunakan koin atau benda keras, jika ingin turun. Ketukannya harus mengalahkan suara musik.

 

Taxi Kupang

Selain angkot, taxi Kupang juga agak berbeda dengan taxi di Makassar. Jika biasanya taxi menggunakan mobil sedan, di sini menggunakan mobil keluarga seperti Avansa dan sejenisnya, serta memuat maksimal 4 orang penumpang, meski masih ada kursi baris paling belakang.

Tarifnya tergolong mahal. Harus pintar menawar sebelum menggunakan jasa taxi, karena mereka tidak menggunakan argo meter.

Sekali angkut ke sebuah tempat, tarifnya sekitar 60.000-70.000-an. Ada juga yang sistem pembayarannya berdasarkan waktu, 1 jam dikenakan tarif 60.000 dan bisa ke beberapa tempat.

Kelebihannya, taxi tidak memasang musik keras seperti angkot, sehingga jauh lebih nyaman. Namun, jika ingin bepergian hanya ke satu tempat saja, meskipun terdiri atas 4 orang, masih jauh lebih murah menggunakan angkot. Apalagi lalu intas Kupang lumayan lancar, tidak sepadat Makassar.

Kampung Solor, mana makanan khasnya?

Meeting kami lebih panjang dari jadwal yang sudah ditentukan. Mungkin karena baru kali ini semua Fasilitator dan PO UNICEF dari 3 Propinsi duduk bersama Sekretariat WASH & WASH section UNICEF Jakarta, sehingga pembahasan menjadi sangat panjang, melewati waktu magrib.

Padatnya jadwal pertemuan di Kupang, menyebabkan aku tidak bisa merealisasikan rencana ke tempat-tempat tertentu. Patung Sonbai, Pantai Lasiana,dan daging asap bu Soekiran, ketiganya tak berhasil kukunjungi. Kecewa.

Lebih kecewa lagi, setelah dua kali berturut-turut ke tempat ole-ole di daerah kota lama, tokonya sudah tutup.

Untunglah, dekat dari tempat ole-ole kota lama, ada pusat kuliner di malam hari yang cukup ramai pengunjung, namanya Kampung Solor.

Seorang teman menginformasikan bahwa Kampung Solor adalah salah satu tempat favorit wisatawan lokal ketika berkunjung ke Kupang.

Solor adalah nama Kelurahan, tempat pusat kuliner ini berada. Kelurahan Solor sendiri disebut sebagai Kota Lama Kupang. Pembangunan membuat berpindahnya keramaian ke pusat pemerintahan dan pertokoan yang lebih besar, yang berada di sisi lain kota Kupang.

Bagian depan Kampung Solor, kita akan disambut oleh dua booth jualan VCD dan DVD, yang memutar musik dengan suara keras. Orang sini, kayaknya memang hobby dengan musik hingar bingar, aku menyimpulkan sendiri.

Bagian depan Kampung Solor

Bagian depan Kampung Solor

Gerobak-gerobak sederhana, berjejer rapi dan tidak terkesan berdesak-desakan. Sebagian besar menjual se food, dan sisanya adalah gerobak nasi goreng, gado-gado, tempe tahu penyek dan tahu tek.

Di Makassar, jika ke Paotere, Lae-lae dan Istana laut, kita kadang harus mengubek-ubek box pendingin ikan untuk memilih ikan. Di sini, ikan sudah dijejer dengan rapi di atas box atau tempat khusus, dan dialasi dengan es batu, serta dipajang di depan gerobak. Memudahkan pembeli tuk memilih.

20141026_21285220141027_20484820141026_220303

Tak hanya ikan, kita juga bisa menemukan udang, cumi-cumi dan kerang di Kampung Solor. Bisa memilih, mau digoreng atau dibakar. Satu ekor ikan, dihargai bervariasi, dari Rp. 25.000 sampai 50.000an, dan dimakan bersama nasi putih dan sayur.

Meski sama segarnya, bagiku masakan laut Makassar masih lebih enak dibanding di sini. Kurang di sambelnya.

Biasanya, makan ikan dengan 2 atau 3 jenis sambel, dabu-dabu, sambel tumis, dan sambel mentah, bahkan kadang ada juga sambel kacang dan cacahan mangga muda. Tiga malam makan ikan bakar di sini, tak menemukan hal itu.

20141027_210756

Ikan bakar dengan sambel tumis seadanya

20141027_210808

Cumi Bakar, dengan sedikit lalapan

 

Bagi yang jalan-jalan ke Kupang dan punya rencana makan di Kampung Solor, aku rekomendasikan untuk makan seafood saja, karena tempe tahu penyet nya tidak seenak di Makassar dan Jawa. Lagi-lagi kurang mantap disambel. Tahu tek nya pun, kurang nendang di lidah.

Meski semua terasa kurang klik di lidahku, namun ada satu hal yang lumayan mengobati, yaitu juice buahnya. Juice buah di sini, selain kental dan segar, juga murah. Cuma 10.000-15.000an saja, sudah bisa menikmati juice buah. Di Makassar bisa sampai 17.000-20.000an, lho. Masih membandingkan dengan Makassar.

20141026_213833

Juice buah Naga. Murah tapi enak.

20141026_213208

Penjual juice yang ramah dan sabar melayani pertanyaanku

 

Sayangnya, aku dan teman-teman tak ada kesempatan untuk menikmati kuliner di bagian lain kota Kupang. Tiga malam berturut-turut, hanya makan di Kampung Solor saja.

Saat jam menunjukkan pukul 20.00, Kota Lama Kupang sudah tertidur. Hanya Kampung Solor dan tanggul sepanjang pantai Timur yang masih terbangun. Mencari angkotpun sudah agak susah.

Berjalan kaki dari tempat makan menuju hotel, memakan waktu 15 menit tuk tiba. Kami menelusuri toko-toko yang sudah tertutup rapat, sambil berharap di hari terakhir kami di Kupang, bisa menikmati bagian lain kota di Timur Indonesia ini.

Advertisements

Ini Indonesia Sebelah Mana?

Nyaris semua perjalananku ke luar kota adalah untuk urusan pekerjaan. Artinya, amat mudah mengingat bahwa dalam 5 tahun terakhir, hanya dua kali aku bepergian untuk wisata. Awal 2011 ke Kota Malang dan tahun lalu ke Singapura-Malaysia.

Baru dua malam aku tiba dari Pare-pare, satu-satunya kotamadya di Sulawesi Selatan, yang merupakan kota pelabuhan, guna memfasilitasi Workshop WASH in School. Pagi ini, harus berangkat lagi dan kali ini ke sebuah Kota di Indonesia Timur, yang sama sekali tak terbayangkan sebelumnya, akan bisa ke sana.

Kupang. Ibukota Nusa Tenggara Timur ini, merupakan salah satu kota di Timur Indonesia yang sering disebut-sebut oleh teman-teman, setelah Papua. Beberapa teman sudah sering ke sana, juga karena urusan pekerjaan.

Saat harus transit di sebuah bandara kecil, aku tersadar, bahwa sebenarnya aku belum mengenali Indonesia, bahkan sekedar menghapal nama-nama daerah yang ada.

Dari Makassar ke Kupang, pesawat kami harus transit di Denpasar. Tahun lalu, aku beruntung karena bisa mengendarai motor melalui jalan tol baru, yang belum diresmikan oleh Presiden, dari Kuta ke Nusa Dua. Gratis pula.

Jika di tahun lalu bandara I Ngurah Rai masih dalam proses rehabilitasi berat, maka hari ini aku harus ngos-ngosan karena melangkah cepat menyusuri bandara baru yang nyaman dan lebih megah, yang jaraknya lumayan jauh, untuk melapor ke petugas dan langsung menuju pesawat berikutnya yang akan membawaku dan 4 teman lainnya ke Kupang.

20141029_153648          Bandara Baru I NGurah Rai

Detail Tiang, berukir motif Toraja di Bandara Baru I NGurah Rai

Antri di pintu 1C, telingaku sudah mendengar nama aneh. “Kita tidak salah pesawat kan?” tanyaku ke Darwis, teman satu tim ku dari SulSel. Darwis mengiyakan, setelah kembali dari memperlihatkan boarding pass-nya ke petugas. Sekilas kulihat Pak Robby, bos kami di kantor, juga ikut menyodorkan boarding pass-nya ke petugas. Nampaknya beliaupun ragu.

“Dalam beberapa menit, kita akan mendarat di Tambolaka” demikian pengumuman petugas setelah sekitar 1 jam perjalanan di udara, yang membuat kami bertiga, yang duduk segaris, saling pandang. Pengumuman selanjutnya menyatakan bahwa kami akan transit 20 menit dan diminta tidak meninggalkan pesawat.

Tambolaka itu, dimana yah? Sudah di NTT kah kita? Aku bertanya dalam hati sambil mengaktifkan HP, ingin segera searching dimana letak Tambolaka. Evi, seorang temanku yang duduk di seat belakang, berdiri dan teriak “Sejak jaman sekolah, tidak pernah dengar nama Tambolaka. Ini dimana?”.

Bagaimana mungkin aku tidak pernah mendengar nama Tambolaka? padahal Garuda, maskapai penerbangan terbesar di negeri ini, sudah menjadikannya sebagai tujuan penerbangan.

Yaah, tidak ada sinyal internet di HP ku. Semakin penasaran dengan Tambolaka. Namun kepo-nya Evi membuatnya mendapat jawaban lebih cepat dari pramugara. “Sumba Timur Daya” teriak Evi dari belakang.

Teman Tim SulSel yang duduk di seberangku (foto: Dokumen Pribadi)

Teman Tim SulSel yang duduk di seberangku (foto: Dokumen Pribadi)

Di seberang kursiku, Darwis terlihat sibuk ambil kondisi sekitar bandara kecil ini, yang hanya terdiri dari 1 bangunan terminal penumpang.

Perjalanan panjang Makassar-Kupang yang ditempuh 6 jam, akhirnya berakhir di bandara El-Tari. Penasaran itu masih bertengger di kepala. Sampai hotel, aku harus searching tentang kamu, Tambolaka.

Bagian depan bandara El-Tari

Bagian depan bandara El-Tari

20141029_121433

Food Court di area bandara El Tari

Pajangan jualan majalah dan koran

Pajangan jualan majalah dan koran

20141029_132400