Ajarkan Konsekuensi, Bukan Hanya Memarahi

Sabtu ini, saya menjadi Relawan Pengganti karena Atifah, Mutiah, Hendra dan Dilla, tak satupun yang bisa datang. Sebelum menuju sekolah, saya sudah dapat info dari Atifah jika hari ini kelas IVA bergabung dengan kelas IVB, belajar dalam ruangan yang sama.

Waduh, terlintas bagaimana rusuhnya kelas hari ini.

Sebelumnya, saya sudah pernah mendampingi sobat-sobat kecil di SDN Sungguminasa IV ini. Namun belum menghapal nama-nama mereka, apalagi kemajuan mereka dalam menulis.

“Saya harus mohon ijin dulu ke Guru Wali sebelum masuk kelas,” batin saya. Meski Atifah sudah menginformasikan ke Ibu Guru bahwa yang akan hadir hari ini adalah saya dan Samsir, namun penting bagi saya tuk memperkenalkan diri.

Saya tiba tepat di jam istirahat. Butuh sekitar 10 menit untuk bertanya dan menemukan ibu Guru Wali kelas IVB. Tatkala bertemu beliau di kantin sekolah, saya dikenalkan dengan wali kelas IVA. Ya, hari ini kedua kelas tersebut bergabung dalam satu ruangan. Mendadak galau saat teringat hal itu lagi.

Sangat menghargai tamu. Itu gambaran saya tentang Ibu Wali Kelas IVB yang dengan ramah menyapa saya, bahkan sampai mengantar ke ruang kelas nya. Anak-anak masih istirahat, mereka akan masuk lagi di jam 11.30, Ibu Wali menjelaskan sambil mempersilahkan duduk.

Sebenarnya saya sudah berencana berbasa basi dengan menanyakan mengapa kelas IVB digabung dengan kelas IVA, namun Ibu Wali sudah mendahului. Hari ini anak-anak dari dua kelas digabung jadi satu, karena minggu ini banyak tanggal merahnya. Saya hanya mengangguk sambil senyum dan berkata “oh begitu ya, bu”.

Mencoba bertanya dalam hati, menjurus ke protes, apa hubungannya yah antara banyak tanggal merah dan menggabungkan dua kelas menjadi satu? Tapi sudahlah. Toh, anak-anak ini sudah menatap penuh tanya ke saya, ketika saya mulai duduk di depan, di meja guru.

Ibu mau mengajar di sini?” seorang siswi maju ke depan dan bertanya. Saya mengiyakan dan mencoba mengenali wajahnya. Ah, pasti siswa kelas IVA. Seingatku, belum pernah melihat wajahnya sebelumnya.

Kak, mana temanta’ ?, sendirian jaki’ mengajar?” seorang siswi lain berlari dari luar kelas menuju ke saya. Nah, kalau yang ini, pastilah siswa kelas IVB. Salah satu yang membuatku betah ke Sekolah Dasar, baik di Takalar maupun di Gowa, kecuali sekolah anakku, adalah karena anak-anak ini memangglku dengan panggilan kakak, padahal mungkin ibu mereka seumuran dengan saya. Huu, gede rasa.

Samsir datang beberapa menit setelah saya memulai kelas. Sungguh padat kelas kami. Beberapa kali saya menegur dua orang siswa yang duduk di atas bangku. Ternyata mereka tidak kebagian kursi, jadi memilih duduk di atas bangku. Duh, pelajaran menulis hari ini, pastilah tidak maksimal.

Agar mereka fokus ke saya, saya memulai dengan menginformasikan bahwa saya akan membacakan sebuah tulisan singkat yang berjudul SAHABAT. Mereka harus menyimak dan nantinya harus menjawab pertanyaan yang akan saya ajukan.

Sepertinya cara ini berhasil karena mereka fokus mendengarkan, meski beberapa diantaranya banyak yang nyeletuk bercanda. Tingkah mereka mengingatkan saya dengan ulah saya di pelatihan-pelatihan, yang juga kadang nyeletuk tuk memancing tawa, biar suasana belajar tidak kaku. Mungkinkah siswa-siswa inipun bertujuan seperti saya?

Menghadapi siswa sekitar 40-50 orang ini, lumayan menguras energi dan membuat kerongkongan kering. Kenapa juga harus digabung. Saya masih protes dalam hati.

Samsir pun terlihat stress meski masih senyum-senyum. Sesekali ia berteriak “perhatikan”, “jangan ribut”, “kenapa pukul temannya?”. Malah sempat nada bicaranya sudah mulai dibuat meninggi karena anak-anak ini sudah mulai keterlaluan. Saya mencoba menahan diri untuk tidak menampakkan kemarahan. Padahal sumpah, sudah emosi.

Proses tanya jawab berdasarkan cerita singkat yang saya bacakan, dijawab dengan baik oleh anak-anak. Jawaban mereka saya tuliskan di papan untuk memudahkan mereka mengingat point-point apa saja yang diceritakan dalam tulisan tadi.

Untuk meminimalkan gaduhnya kelas dan ulah iseng beberapa siswa, saya menyegerakan meminta mereka menulis tentang sahabatnya masing-masing.

Saat membagikan kertas, anak-anak seperti sebelumnya, rebutan. Jika yang lalu rebutan bukunya cuma sekitar 20-30 siswa, hari ini sekitar 40-50an siswa yang rebutan kertas dari tangan saya. Ya ampun. Yang sabar yah, Bunga.

Bisa panjang sekali tulisan ini, jika saya harus menuliskan detil satu persatu suasana dan ulah anak-anak saat menulis cerita.

 

Memilih Menulis di Lantai

Memilih Menulis di Lantai

Andai saja ada yang merekam peristiwa di kelas hari ini, pasti akan bisa menonton video bagaimana Samsir dan saya secara bergantian memasang wajah kesal, lalu tersenyum kecut, lalu kemudian tertawa tuk mengobati kedongkolan.

Siswa paling tinggi di kelas IVB ini, takkan pernah bisa duduk tenang di bangkunya. Saat siswi yang diganggunya berteriak, saya coba mendekatinya dan bertanya, mengapa ganggu temannya. Si tinggi ini cuma menjawab cuek “tidakji”.

Menghindari memperpanjang, sayapun menanyakan siapa sahabatnya. “Ian, eh Udo”. Duh, anak ini asli galau. “Ayo,tulis tentang sahabatmu itu, yang lain menulismi tawwa” saya berusaha mengajak dengan nada seriang mungkin. Benar saja, anak ini mulai duduk dan menulis. Namun tidak berlangsung lama. Beberapa menit kemudian dia mulai lagi bangkit dan menuju bangku teman-teman perempuannya.

Bros flanel berbentuk pita milik teman-temannya diambil paksa dan ia kenakan di seragam pramukanya. Sudahlah. Saya skip saja. Mending fokus ke siswa yang serius belajar menulis.

Si Tinggi dan Bros Pita Rampasannya

Si Tinggi dan Bros Pita Rampasannya

Seorang siswa bernama Sahrul, yang duduk paling depan, kemudian menyita perhatian saya. Ia dan teman sebangkunya, Akbar, nampaknya tidak peduli dengan teman-temannya di belakang yang sibuk bermain, saling ganggu dan teriak-teriak.

Sahrul dan Akbar menulis dan sesekali ngobrol, lalu menulis lagi. Setelah tulisan mereka berdua selesai, mereka tukaran tulisan dan membacanya bersama. Syukurlah, masih ada yang serius menulis di kelas yang sesak dengan siswa di hari ini.

Syahrul dan Akbar

Syahrul dan Akbar

Pukul 12.15. Beberapa siswa sudah mulai mengumpulkan tulisan mereka. Anak bertubuh gendut yang beberapa minggu lalu, rajin mengumpulkan tandatangan semua relawan, hari ini duduk paling belakang dan matanya mulai jelalatan mengamati temannya. Saya sengaja menunggu aksi apa yang direncanakannya.

Seperti perkiraan saya, karena ia duduknya di sebelah Si Tinggi, pastilah ia tidak menulis hari ini. Tapi, anak ini maju ke saya dan membawa sebuah tulisan. “ini punyaku” katanya sambil menyerahkan tulisan ke saya. Mencurigakan. Saya langsung meneliti kertas yang ia serahkan. Hei, ini tulisan temanmu, nama perempuan. Dia berbalik sebentar sambil tertawa dan berlari menuju bangkunya. Iseng benar anak ini.

Saat beberapa anak rebutan menyetor tulisan, Si anak bertubuh gendut itu, muncul lagi dan menyerahkan kembali selembar kertas. Duh, kali ini masih tetap saja kertas temannya yang ia setor.

Belum seberapalah tingkah iseng Si Gendut dan Si Tinggi. Terpaksa memanggilnya demikian, karena saya lalai untuk menanyakan nama keduanya.

Di barisan siswa kelas IVA tiba-tiba rusuh. Mereka memukul-mukul bangku dan menyusul keributan dengan saling lempar bola kertas ke arah teman-teman perempuan dari kelas IVB. Tak mau kalah, teman-teman perempuannya pun balas melempar. Rusuh…rusuh.

Samsir mulai melarang dengan nada tinggi, tapi anak-anak ini tak mau berhenti. “Biarkan saja. Kita tunggu sampai mereka puas” kataku ke Samsir.

Saya hanya berdiri terdiam di depan sambil mengamati mereka saling lempar. Hingga ada yang menyadari dan berteriak meminta temannya menyudahi.

Lempar melempar berhenti total ketika Ibu Wali masuk ke kelas. Mereka duduk manis, meski masih tertawa-tawa kecil. “Masih ada yang mau lempar-lempar bola kertas?” saya menanyakan dengan suara keras. Ayo, sekarang lempar-lemparan dan tidak usah pulang. Saya menantang mereka, tapi tak ada yang bergeming.

Sebelum menutup pelajaran dan meminta mereka pulang, saya memamerkan 5 lembar sticker ke mereka. Semua spontan teriak, meminta sticker saya.

Sticker ini hanya untuk 5 orang yang menulis, yang duduk di kursi bukan meja, yang tidak mengganggu temannya, dan tidak lempar-lempar kertas” saya menegaskan dengan suara super keras.

Saya memilih 5 orang anak untuk mendapatkan sticker ukuran 10x10cm dari saya.

Bagi saya, mengajarkan mereka konsekuensi dari perbuatan, masih lebih penting daripada menghabiskan suara tuk teriak-teriak memarahi mereka saat ribut dan berbuat nakal di kelas. Anak-anak sebenarnya sudah pandai untuk diajak berfikir.

Mereka pasti menyadari bahwa karena perbuatannya yang tidak seharusnya, mereka tidak bisa memperoleh sticker seperti temannya yang lain. Hal ini terbukti dari seorang anak yang tidak berhenti mengekori kami saat keluar kelas hingga menuju ke motor.

Ia tak berhenti mengeluh karena tak dapat sticker. Saya sarankan untuk menulis di dua minggu depan. Meski terlihat belum puas, namun ia sepertinya bisa menerima dan kemudian berlari melalui pagar besi pekarangan sekolah.

Satu hal yang kami syukuri, karena penggabungan dua kelas ini, hanya di hari ini saja. Maka bersyukurlah sobat-sobat Relawan yang bertugas di dua minggu depan karena tidak harus berhadapan dengan begitu banyak anak.

Advertisements

Komunitas Untuk Senyum Anak Indonesia

Tulisan ini diikutkan pada 8 Minggu Ngeblog bersama Anging Mammiri, minggu kedelapan.

Tiap orang memiliki alasan-alasan berbeda ketika memutuskan bergabung dalam sebuah komunitas. Beberapa orang memiliki alasan bergabung karena memiliki visi dan tujuan yang sama, atau karena komunitas tersebut telah memiliki anggota banyak, atau telah memiliki kegiatan rutin, atau justru karena komunitas tersebut amat terkenal.

Namun pengalamanku berbeda. Saya justru ikut membentuk sebuah komunitas di awal, mengajak teman sekitar membantu kami tanpa harus bergabung dan memastikannya tetap berjalan hingga kini.

Semua diawali ketika saya dan keempat teman yang berbeda kantor, berbeda latar belakang pendidikan, bahkan berbeda kabupaten, ngobrol santai tentang kegiatan kami masing-masing. Lalu kemudian kami menyadari bahwa kami berlima memiliki kesamaan dan punya satu tanya yang sama pula, yang akhirnya menjadi alasan utama kami membentuk sebuah komunitas kecil.

Kami berlima bekerja untuk program pemberdayaan masyarakat. Meski beda program, beda lokasi kerja, tapi kesamaan kami adalah kami bekerja untuk masyarakat, memastikan masyarakat berdaya tanpa bergantung penuh kepada masyarakat dan menggalang swadaya dari masyarakat untuk membangun kampung halamannya.

Entah bagaimana, tiba-tiba muncul pertanyaan diantara kami berlima, apakah kami bisa bekerja untuk masyarakat tanpa digaji, tanpa bantuan dari sebuah lembaga besar dan pemerintah?.  Sebuah tanya yang membuat kami memulai diskusi-diskusi panjang. “Kita memiliki beban moril kepada bangsa. Bisakah kita bekerja tanpa digaji ?” seorang teman melayangkan pernyataan tersebut.

Lalu kita mau melakukan apa? Kita berlima bukanlah pengusaha yang berpendapatan tinggi dan belum berlebih. “Apakah harus jadi orang kaya dulu?” tanya itusempat muncul pula.

Kamipun memutuskan melakukan sesuatu dengan berbasis dari kekuatan yang masing-masing kami miliki. Hingga kemudian diputuskan membentuk sebuah komunitas yang bertujuan mempersiapkan generasi akan datang yang lebih baik. Ya, sebuah komunitas yang bertujuan agar Senyum Anak Indonesia selalu terkembang.

Tanpa bermimpi tinggi, kami mencoba melakukan sesuatu yang sederhana, mudah dilaksanakan, tanpa biaya besar tapi tetap memiliki manfaat  bagi anak-anak Indonesia. Khususnya mereka yang marginal, kurang mampu, dan belum tersentuh oleh Pemerintah atau pihak lain.

Salah satu kegiatan andalan kami adalah Seragam Tuk Sobatku. Kami selalu berfikir bahwa meskipun pendidikan telah gratis, namun seragam sekolah dan perlengkapannya, tentu saja tidak.

Ketika komunitas lain menyelenggarakan pendidikan dan sekolah alternatif bagi anak-anak jalan atau pekerja anak. Kami memandang bahwa anak-anak yang memiliki orangtua dengan pendapatan rendah, tetapi berpendapatan rendah dan tetap bertahan untuk bersekolah, beresiko terancam memilih untuk putus sekolah dan bekerja di jalan.

Jika komunitas lain mendorong anak-anak jalan untuk bersekolah, maka penting bagi kami untuk melakukan pencegahan agar jumlah anak jalan bertambah, dengan jalan membantu seragam dan perlengkapan bagi mereka yang kurang mampu.

"Ayo Bermain Puzzle" di Hari Anak Nasional bersama sobat-sobat Pemulung

“Ayo Bermain Puzzle” di Hari Anak Nasional bersama sobat-sobat Pemulung

Setiap tahunnya di tgl. 23 Juli, kami memperingati Hari Anak Nasional dengan mengajak anak-anak bermain. Hanya bermain saja. Mengapa bermain? Karena salah satu dari hak anak adalah bermain.

Selama ini, anak panti asuhan lebih sering diajak ikut buka puasa bersama, makan bersama, pemberian bantuan, dan lain-lain. Kami coba melakukan hal lain. Tanpa memberi bantuan apa-apa, tapi kami mengajak mereka ke lapangan, hanya untuk bermain bersama. Bukankah mereka jarang diundang untuk bermain bersama?.

Hingga saat ini, kami telah bermain bersama anak-anak panti asuhan dan anak-anak pemulung di sekitar TPA Tamangapa.

Terik Matahari pun Masih Betah Bermain

Terik Matahari pun Masih Betah Bermain

Kami juga memasuki wilayah kesehatan. Bukan pengobatan gratis, bukan bagi-bagi obat, bukan pula penyuluhan yang membosankan. Lalu apa dong?. Sebuah pesan dari rekan sejawat, biasanya lebih mengena dan lebih termonitoring, maka kamipun memilik mengajak anak-anak sekolah dasar untuk berlomba Story Telling.

Isinya bukan dongeng biasa, tapi dongeng yang mengandung pesan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat. Kami menyediakan buku yang harus dibaca, yang kemudian mereka harus ceritakan ulang. Tokoh ceritanya binatang, sehingga alur cerita nya menarik dan lucu serta ringan untuk didengar oleh anak-anak. Dengan story telling, anak-anak lah yang menyampaikan pesan kesehatan kepada teman-teman mereka.

Lalu siapa yang mendanai kegiatan-kegiatan ini?. Sumber dana kami dari teman-teman relawan sendiri dan segelintir teman-teman yang peduli. Agak sulit mengajak orang untuk peduli di saat ini. Meski kami beberapa kali share di facebook atau melalui pesan singkat, tapi jumlah yang peduli masih amat bisa dihitung jari.

Kembali lagi, mungkin karena komunitas kami tidak se-terkenal yang lain. Tapi kami selalu berprinsip, tujuan kami bukan untuk dikenal, bukan untuk menjadi besar, tetapi untuk membuat anak-anak Indonesia selalu tersenyum.

Meski kegiatan kami belum setiap bulan, tapi saya menganggap kami telah memberikan yang terbaik dari kami. Mengingat kami cuma berenam dan menetap berbeda lokasi, yaitu di Makassar, Gowa, Bantaeng dan Luwu Utara. Sebuah pengorbanan besar, ketika teman-teman yang jauh dari Makassar, datang untuk berbagi bersama sobat-sobat kecil.

Satu hal yang saya suka dari komunitasku yang kemudian diberi nama Lemina ini, adalah kami menjunjung tinggi transparansi. Baik dalam hal pelaksanaan kegiatan maupun keuangan. Untuk menjaga transparansi dan kepercayaan teman-teman yang berdonasi, maka kami memutuskan harus memiliki rekening sendiri, bukan lagi rekening pribadi anggota.

Membuka rekening atas nama komunitas tidak segampang yang dibayangkan. Harus ada akte pendirian, ada NPWP, ada stempel dan lain-lain. Akhirnya komunitas kamipun dibuatkan akte pendirian. Aneh juga rasanya, sebuah komunitas memiliki akte pendirian melalui notaris.

Biar mudah, akhirnya komunitas ini berbentuk lembaga swadaya masyarakat, meskipun dalam pengelolaannya, kami amat berbeda jauh dengan sebuah LSM. Semua semata hanya untuk pembukaan rekening saja. Kami adalah komunitas relawan. Relawan yang mengeluarkan duit dan tenaga untuk anak-anak.

Membahas anak, khususnya Balita, maka peran Ibu amat penting. Kamipun memutuskan untuk menyentuh para ibu yang memiliki Balita. Hingga kini, baru satu kegiatan kami yang pemanfaatnya adalah ibu-ibu.

Hingga kini, kami masih berusaha mengajak teman-teman untuk berdonasi. Syukur-syukur jika mereka mau bergabung sebagai relawan di Lemina, dengan mengorbankan waktu dan tenaga mereka untuk senyum anak Indonesia. Kami melembagakan komunitas kami dengan nama Lembaga Mitra Ibu dan Anak (LEmina).

Bermain bersama Sobat-Sobat Kecil Kel. RomangLompoa Gowa

Bermain bersama Sobat-Sobat Kecil Kel. RomangLompoa Gowa