Dari 50 menuju 500

Beranda Blog Uchi

Beranda Blog Uchi

Dapat tugas review blog teman sesama peserta program Nulis Bareng Sobat. Karena pemilihan blognya berdasarkan urutan peserta, maka otomatis saya dapat bagian kepo-in blognya Uchi.

Tiap berkunjung ke sebuah blog, perhatian pertama saya akan jatuh pada desain blognya. Begitu mengklik link rahmanfauziah.blogspot.co.id, saya disambut dengan theme sederhana dan wiget comel bergambar kelinci lucu. -baca selanjutnya

Advertisements

Kemanakah Guru Akan Curhat?

“Kami, guru, tidak selamanya bisa mengajar dengan tenang. Senantiasa begini-begini, “ demikian curhat Wali kelas IV, sambil kelima jarinya dikuncupkan, lalu dibuka, lalu dikucupkan dan dibuka lagi, berulang-ulang. Isyarat bahwa beliau senantiasa was-was.

Tak pernah berencana sebelumnya akan hadir di SDN Sungguminasa IV pada sabtu, 18 Oktober 2014 ini. Namun karena butuh seseorang untuk membawa beberapa perlengkapan stand Warung Sosial ke monumen Mandala, maka Relawan terdekat yang bisa dimintai tolong adalah Tim C dan D. Kebetulan mereka sedang mendampingi Nulis Bareng Sobat di sekolah yang jaraknya Cuma 500an meter dari rumah.

Aturan di kelas, guru ataupun Relawan yang bertindak sebagai pendamping, tidak boleh memakai sendal. Saya pun meminta salah seorang teman Relawan, Atifah, untuk mengambil perlengkapan di halaman sekolah, tempat motor saya di parkir.

Afli, seorang Relawan lain, ikut keluar kelas, karena saya menjanjikan sebuah gelang karet kepadanya. Hari ini ada 6 atau 7 orang Relawan yang sedang bertugas (Saya lupa jumlah tepatnya karena hanya melihat sekilas ke arah dalam kelas).

Saya terburu-buru pulang, tatkala Wali Kelas IV yang berdiri di depan pintu ruang Kepala Sekolah, melambaikan tangan ke arah Atifah. Dipanggil Ibu Kepala Sekolah, ujar beliau ke Atifah.

Terlihat agak ragu, Atifah yang berjalan menuju ruang Kepsek, membalikkan badan dan melambaikan tangan mengajak saya ikut. Karena terburu-buru, saya meminta Afli, yang berdiri dekat saya, untuk menemani Atifah bertemu ibu Kepsek.

Namun beberapa detik kemudian, Atifah kembali memanggil saya. Sepertinya saya sudah harus menemui ibu Kepsek, batin saya.

Saya menahan diri untuk tidak masuk ke ruangan tersebut, dan hanya berdiri di depan pintu sambil berusaha menunjukkan ekspresi siap mendengar penuturan ibu Kepsek. Hmm.. kenapa juga saya pake sendal ke sini. Jadi tidak enak hati.

Saya kemarin dipanggil oleh Bapak Sekretaris Dinas, itupun setelah harus kesana kemari, Ibu Kepsek membuka pembicaraan.

Awalnya saya diinformasikan bahwa saya dipanggil ke UPTD, lalu orang di UPTD menyatakan bahwa saya justru dipanggil oleh Kepegawaian di Dinas (Dinas Pendidikan), tapi ternyata bukan Kepegawaian yang memanggil, melainkan Pak Sekretaris Dinas, Ibu Kepsek melanjutkan.

Menit berikutnya, ibu Kepsek bercerita bagaimana Sekretaris Dinas Pendidikan banyak bertanya tentang kegiatan Nulis Bareng Sobat, yang ternyata sudah dimulai di minggu lalu, sebelum surat ijin dari Dinas keluar untuk LemINA.

Sekretaris Dinas rupanya menaruh curiga, atau lebih halusnya, waspada dengan kegiatan Nulis Bareng Sobat. Pertanyaan-pertanyaan umum, seperti apakah menggangu jam belajar, apakah ada pungutan ke siswa, apa manfaatnya bagi siswa, apa yang ditulis, dilontarkan kepada ibu Kepsek.

Untunglah ibu Kepsek dapat menjawab cerdas. Khususnya menginformasikan kepada Bapak Sekretaris Dinas bahwa kegiatan tersebut telah berlangsung sejak semester lalu dan dampaknya sudah kelihatan, meski belum signifikan untuk semua siswa.

Wali Kelas IV yang ikut mengobrol dengan kami, menambahkan pula bahwa siswa kelas V sekarang, yang semester lalu masih duduk di kelas IV dan mengikuti kelas Nulis Bareng Sobat, masih menuntut ingin belajar menulis. Beberapa dari mereka kadang ikut masuk ke kelas IV secara diam-diam untuk ikut kelas menulis, meski sudah dilarang dan diminta kembali ke kelasnya.

Pembicaraan yang awalnya tentang ijin dari Dinas, beralih menjadi curhat Kepsek dan Wali Kelas. Kepsek meminta kami untuk bisa memahami proses birokrasi di Dinas yang terkadang terkesan menghambat. Beliau bercerita bagaimana ia sering dipanggil ke Dinas karena laporan-laporan dari pihak lain atau justru dari orangtua siswa, yang tidak memahami persoalan dan malas untuk mengkomunikasikannya dengan Kepsek sebelum melapor ke Dinas.

IMG-20141002-WA0000

“Padahal saya hampir setiap saat, ada di kantor dan bisa ditemui untuk diskusi, jika ada yang punya keluhan, baik orangtua, komite maupun pihak luar. Mereka lebih suka berprasangka dan melaporkan saya, sebelum tahu fakta di balik kebijakan yang kami ambil di sekolah,” Ibu Kepsek menjelaskan dengan ekspresi kecewa.

Sabtu itu, menurut Kepsek, di saat proses belajar berlangsung di kelas, Kepsek di ruang lain sedang memimpin Rapat Komite Sekolah. Di Rapat tersebut beliau menjelaskan kepada komite sekolah yang terdiri atas orang tua siswa, agar tidak khawatir dengan adanya program Nulis Bareng Sobat di kelas IV. Selain tidak mengganggu proses belajar di kelas, karena menyesuaikan dengan jadwal dan telah didiskusikan dengan wali kelas, juga dijamin tidak akan ada pungutan untuk kegiatan tersebut.

Selama ini, Kepsek berharap bahwa Dinas dan Komite sekolah bisa menjadi wadah baginya untuk menyampaikan dan mendapat solusi atas keluhan-keluhannya. Namun kenyataannya, justru lebih sering beliau bingung, mau mengeluh ke siapa.

Baru-baru ini, beliau ditegur lagi oleh Dinas karena laporan orangtua siswa atas kejadian yang sudah setahun lalu terjadinya. Persoalannya tentang pembelian air isi ulang untuk dispenser di kelas.

Siswa-siswa di kelas berinisiatif dan sepakat untuk mengumpulkan uang jajan mereka di hari itu, agar bisa membeli air isi ulang seharga sekitar 3000-4000 rupiah, karena dispenser belum diisi oleh sekolah. Inisiatif murni dari siswa tersebut, rupanya ditanggapi dengan kecurigaan oleh salah seorang orang tua siswa.

Untuk menghindari munculnya lagi masalah yang sama, akhirnya dispenser dikeluarkan dari kelas. Siswa tak lagi bisa minum air dalam kelas.

Wali kelas punya kisah lain lagi. Menurutnya, anak-anak sebaiknya belajar tidak terbatas dengan buku pegangan saja. Suatu ketika, ada bahan bacaan baru yang dibawa nya ke kelas, yang berupa beberapa lembaran.

Dengan harapan siswanya bisa mengetahui tentang bahan tersebut, Wali Kelas pun menawarkan kepada siswanya untuk menggandakan sendiri dengan jalan foto copy. Biayanya mungkin hanya 500 rupiah, tapi karena ada siswa yang menyampaikan ke orangtuanya bahwa uang jajannya digunakan untuk fotocopy, maka orang tua yang tidak memahami hal tersebut, serta merta protes keras dan menuduh guru melakukan pungutan uang.

Saya hanya bisa mengangguk-angguk mendengar penuturan kedua pejuang Pendidikan di depan saya. Sepatutnya, ada aturan yang jelas tentang batasan pungutan di sekolah. Jika pun sudah ada, mungkin sebaiknya disosialisasikan ke semua pihak, agar menghindarkan kesalahpahaman.

Hanya sekitar 7 menit ngobrol dengan Kepsek dan Wali Kelas, sudah banyak keluhan yang terdengar dari keduanya. Impian beliau berdua untuk memajukan siswa-siswanya, tidak selamanya didukung oleh pihak-pihak yang justru diharapkan bisa membantu mereka.

“Selalu saja kami, guru dan sekolah, yang disalahkan,” demikian kalimat terakhir yang kudengar, sebelum buru-buru berpamitan.

Ajarkan Konsekuensi, Bukan Hanya Memarahi

Sabtu ini, saya menjadi Relawan Pengganti karena Atifah, Mutiah, Hendra dan Dilla, tak satupun yang bisa datang. Sebelum menuju sekolah, saya sudah dapat info dari Atifah jika hari ini kelas IVA bergabung dengan kelas IVB, belajar dalam ruangan yang sama.

Waduh, terlintas bagaimana rusuhnya kelas hari ini.

Sebelumnya, saya sudah pernah mendampingi sobat-sobat kecil di SDN Sungguminasa IV ini. Namun belum menghapal nama-nama mereka, apalagi kemajuan mereka dalam menulis.

“Saya harus mohon ijin dulu ke Guru Wali sebelum masuk kelas,” batin saya. Meski Atifah sudah menginformasikan ke Ibu Guru bahwa yang akan hadir hari ini adalah saya dan Samsir, namun penting bagi saya tuk memperkenalkan diri.

Saya tiba tepat di jam istirahat. Butuh sekitar 10 menit untuk bertanya dan menemukan ibu Guru Wali kelas IVB. Tatkala bertemu beliau di kantin sekolah, saya dikenalkan dengan wali kelas IVA. Ya, hari ini kedua kelas tersebut bergabung dalam satu ruangan. Mendadak galau saat teringat hal itu lagi.

Sangat menghargai tamu. Itu gambaran saya tentang Ibu Wali Kelas IVB yang dengan ramah menyapa saya, bahkan sampai mengantar ke ruang kelas nya. Anak-anak masih istirahat, mereka akan masuk lagi di jam 11.30, Ibu Wali menjelaskan sambil mempersilahkan duduk.

Sebenarnya saya sudah berencana berbasa basi dengan menanyakan mengapa kelas IVB digabung dengan kelas IVA, namun Ibu Wali sudah mendahului. Hari ini anak-anak dari dua kelas digabung jadi satu, karena minggu ini banyak tanggal merahnya. Saya hanya mengangguk sambil senyum dan berkata “oh begitu ya, bu”.

Mencoba bertanya dalam hati, menjurus ke protes, apa hubungannya yah antara banyak tanggal merah dan menggabungkan dua kelas menjadi satu? Tapi sudahlah. Toh, anak-anak ini sudah menatap penuh tanya ke saya, ketika saya mulai duduk di depan, di meja guru.

Ibu mau mengajar di sini?” seorang siswi maju ke depan dan bertanya. Saya mengiyakan dan mencoba mengenali wajahnya. Ah, pasti siswa kelas IVA. Seingatku, belum pernah melihat wajahnya sebelumnya.

Kak, mana temanta’ ?, sendirian jaki’ mengajar?” seorang siswi lain berlari dari luar kelas menuju ke saya. Nah, kalau yang ini, pastilah siswa kelas IVB. Salah satu yang membuatku betah ke Sekolah Dasar, baik di Takalar maupun di Gowa, kecuali sekolah anakku, adalah karena anak-anak ini memangglku dengan panggilan kakak, padahal mungkin ibu mereka seumuran dengan saya. Huu, gede rasa.

Samsir datang beberapa menit setelah saya memulai kelas. Sungguh padat kelas kami. Beberapa kali saya menegur dua orang siswa yang duduk di atas bangku. Ternyata mereka tidak kebagian kursi, jadi memilih duduk di atas bangku. Duh, pelajaran menulis hari ini, pastilah tidak maksimal.

Agar mereka fokus ke saya, saya memulai dengan menginformasikan bahwa saya akan membacakan sebuah tulisan singkat yang berjudul SAHABAT. Mereka harus menyimak dan nantinya harus menjawab pertanyaan yang akan saya ajukan.

Sepertinya cara ini berhasil karena mereka fokus mendengarkan, meski beberapa diantaranya banyak yang nyeletuk bercanda. Tingkah mereka mengingatkan saya dengan ulah saya di pelatihan-pelatihan, yang juga kadang nyeletuk tuk memancing tawa, biar suasana belajar tidak kaku. Mungkinkah siswa-siswa inipun bertujuan seperti saya?

Menghadapi siswa sekitar 40-50 orang ini, lumayan menguras energi dan membuat kerongkongan kering. Kenapa juga harus digabung. Saya masih protes dalam hati.

Samsir pun terlihat stress meski masih senyum-senyum. Sesekali ia berteriak “perhatikan”, “jangan ribut”, “kenapa pukul temannya?”. Malah sempat nada bicaranya sudah mulai dibuat meninggi karena anak-anak ini sudah mulai keterlaluan. Saya mencoba menahan diri untuk tidak menampakkan kemarahan. Padahal sumpah, sudah emosi.

Proses tanya jawab berdasarkan cerita singkat yang saya bacakan, dijawab dengan baik oleh anak-anak. Jawaban mereka saya tuliskan di papan untuk memudahkan mereka mengingat point-point apa saja yang diceritakan dalam tulisan tadi.

Untuk meminimalkan gaduhnya kelas dan ulah iseng beberapa siswa, saya menyegerakan meminta mereka menulis tentang sahabatnya masing-masing.

Saat membagikan kertas, anak-anak seperti sebelumnya, rebutan. Jika yang lalu rebutan bukunya cuma sekitar 20-30 siswa, hari ini sekitar 40-50an siswa yang rebutan kertas dari tangan saya. Ya ampun. Yang sabar yah, Bunga.

Bisa panjang sekali tulisan ini, jika saya harus menuliskan detil satu persatu suasana dan ulah anak-anak saat menulis cerita.

 

Memilih Menulis di Lantai

Memilih Menulis di Lantai

Andai saja ada yang merekam peristiwa di kelas hari ini, pasti akan bisa menonton video bagaimana Samsir dan saya secara bergantian memasang wajah kesal, lalu tersenyum kecut, lalu kemudian tertawa tuk mengobati kedongkolan.

Siswa paling tinggi di kelas IVB ini, takkan pernah bisa duduk tenang di bangkunya. Saat siswi yang diganggunya berteriak, saya coba mendekatinya dan bertanya, mengapa ganggu temannya. Si tinggi ini cuma menjawab cuek “tidakji”.

Menghindari memperpanjang, sayapun menanyakan siapa sahabatnya. “Ian, eh Udo”. Duh, anak ini asli galau. “Ayo,tulis tentang sahabatmu itu, yang lain menulismi tawwa” saya berusaha mengajak dengan nada seriang mungkin. Benar saja, anak ini mulai duduk dan menulis. Namun tidak berlangsung lama. Beberapa menit kemudian dia mulai lagi bangkit dan menuju bangku teman-teman perempuannya.

Bros flanel berbentuk pita milik teman-temannya diambil paksa dan ia kenakan di seragam pramukanya. Sudahlah. Saya skip saja. Mending fokus ke siswa yang serius belajar menulis.

Si Tinggi dan Bros Pita Rampasannya

Si Tinggi dan Bros Pita Rampasannya

Seorang siswa bernama Sahrul, yang duduk paling depan, kemudian menyita perhatian saya. Ia dan teman sebangkunya, Akbar, nampaknya tidak peduli dengan teman-temannya di belakang yang sibuk bermain, saling ganggu dan teriak-teriak.

Sahrul dan Akbar menulis dan sesekali ngobrol, lalu menulis lagi. Setelah tulisan mereka berdua selesai, mereka tukaran tulisan dan membacanya bersama. Syukurlah, masih ada yang serius menulis di kelas yang sesak dengan siswa di hari ini.

Syahrul dan Akbar

Syahrul dan Akbar

Pukul 12.15. Beberapa siswa sudah mulai mengumpulkan tulisan mereka. Anak bertubuh gendut yang beberapa minggu lalu, rajin mengumpulkan tandatangan semua relawan, hari ini duduk paling belakang dan matanya mulai jelalatan mengamati temannya. Saya sengaja menunggu aksi apa yang direncanakannya.

Seperti perkiraan saya, karena ia duduknya di sebelah Si Tinggi, pastilah ia tidak menulis hari ini. Tapi, anak ini maju ke saya dan membawa sebuah tulisan. “ini punyaku” katanya sambil menyerahkan tulisan ke saya. Mencurigakan. Saya langsung meneliti kertas yang ia serahkan. Hei, ini tulisan temanmu, nama perempuan. Dia berbalik sebentar sambil tertawa dan berlari menuju bangkunya. Iseng benar anak ini.

Saat beberapa anak rebutan menyetor tulisan, Si anak bertubuh gendut itu, muncul lagi dan menyerahkan kembali selembar kertas. Duh, kali ini masih tetap saja kertas temannya yang ia setor.

Belum seberapalah tingkah iseng Si Gendut dan Si Tinggi. Terpaksa memanggilnya demikian, karena saya lalai untuk menanyakan nama keduanya.

Di barisan siswa kelas IVA tiba-tiba rusuh. Mereka memukul-mukul bangku dan menyusul keributan dengan saling lempar bola kertas ke arah teman-teman perempuan dari kelas IVB. Tak mau kalah, teman-teman perempuannya pun balas melempar. Rusuh…rusuh.

Samsir mulai melarang dengan nada tinggi, tapi anak-anak ini tak mau berhenti. “Biarkan saja. Kita tunggu sampai mereka puas” kataku ke Samsir.

Saya hanya berdiri terdiam di depan sambil mengamati mereka saling lempar. Hingga ada yang menyadari dan berteriak meminta temannya menyudahi.

Lempar melempar berhenti total ketika Ibu Wali masuk ke kelas. Mereka duduk manis, meski masih tertawa-tawa kecil. “Masih ada yang mau lempar-lempar bola kertas?” saya menanyakan dengan suara keras. Ayo, sekarang lempar-lemparan dan tidak usah pulang. Saya menantang mereka, tapi tak ada yang bergeming.

Sebelum menutup pelajaran dan meminta mereka pulang, saya memamerkan 5 lembar sticker ke mereka. Semua spontan teriak, meminta sticker saya.

Sticker ini hanya untuk 5 orang yang menulis, yang duduk di kursi bukan meja, yang tidak mengganggu temannya, dan tidak lempar-lempar kertas” saya menegaskan dengan suara super keras.

Saya memilih 5 orang anak untuk mendapatkan sticker ukuran 10x10cm dari saya.

Bagi saya, mengajarkan mereka konsekuensi dari perbuatan, masih lebih penting daripada menghabiskan suara tuk teriak-teriak memarahi mereka saat ribut dan berbuat nakal di kelas. Anak-anak sebenarnya sudah pandai untuk diajak berfikir.

Mereka pasti menyadari bahwa karena perbuatannya yang tidak seharusnya, mereka tidak bisa memperoleh sticker seperti temannya yang lain. Hal ini terbukti dari seorang anak yang tidak berhenti mengekori kami saat keluar kelas hingga menuju ke motor.

Ia tak berhenti mengeluh karena tak dapat sticker. Saya sarankan untuk menulis di dua minggu depan. Meski terlihat belum puas, namun ia sepertinya bisa menerima dan kemudian berlari melalui pagar besi pekarangan sekolah.

Satu hal yang kami syukuri, karena penggabungan dua kelas ini, hanya di hari ini saja. Maka bersyukurlah sobat-sobat Relawan yang bertugas di dua minggu depan karena tidak harus berhadapan dengan begitu banyak anak.